Tampilkan postingan dengan label danau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label danau. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Oktober 2010

[Random Snippets-AIR] Situ Gintung

Hari itu, saat bencana Situ Gintung mendominasi pemberitaan, saya ditelepon seorang rekan sesama anggota Relawan Pelangi.  Relawan Pelangi adalah suatu komunitas relawan yang anggotanya sekarang mendirikan Yayasan Sahabat Peduli Generasi Mandiri.  Saya diminta membantu di lokasi bencana Situ Gintung di daerah ciputat.  Mereka membutuhkan relawan laki-laki untuk mengangkat barang-barang katanya.  Rencana kami, kami hendak bergabung di posko relawan Aksi Cepat Tanggap.  

Saya lalu menuju meeting point di daerah Pondok Labu.  Sesudah makan siang dan sholat zuhur, kami berangkat ke lokasi sambil membawa bantuan dari pihak donatur.  Sampai di lokasi, kendaraan kami sulit untuk bisa sampai posko karena tempat itu telah menjadi lokasi "wisata bencana".  Mental "pengamat" memang sudah lama melanda negeri ini, mulai dari yang di stasiun TV sampai yang ada di lokasi bencana.



Akhirnya kami pun tiba di posko tujuan, di sana terlihat kesibukan yang luar biasa.  Kami bertugas menyingkirkan balok kayu dan benda-benda besar lainnya agar proses pembersihan berlangsung lebih mudah.  Terlihat jelas bangunan-bangunan yang tadinya kukuh saat itu telah luluh lantak tak karuan lagi bentuknya. Pemindahan reruntuhan itu dilakukan secara estafet ke tempat yang ditentukan.  Kami bekerja di lokasi dari siang menjelang sore sampai maghrib.  


Saya sendiri baru pertama kali itu mengunjungi situ gintung walaupun dari dulu sudah sering ke daerah Ciputat.  Saya seringkali hanya melihat di peta jakarta sebuah danau yang besar di daerah ciputat namun belum tahu danau apakah itu .  Memang, kawanan yang berair sering menarik perhatian saya, salah satunya waduk Pulomas.  Melihat danau besar di peta dan dekat dengan tempat yang sering kali saya kunjungi tentu membuat saya penasaran. Saat itu, saya pikir masuknya harus lewat ISCI atau International Sport Club Indonesia sedangkan saat saya lewat di depan pintu perkumpulan tersebut, tertulis yang boleh masuk hanya anggota. Namun, saat berhasil sampai di sana keadaannya sudah jauh berbeda. Sudah hancur luluh lantak hancur berantakan. Rupanya air danau itu memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga saat jebol semua bangunan yang terlanda hancur lebur.



Bencana memang bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.  Namun, kita manusia adalah pengemban amanah sebagai wakil Allah SWT di muka bumi ini.  Kita tentu tidak boleh mengabaikan tanda bencana sekecil apapun agar bencana yang lebih besar bisa dicegah.  Manusia masih cenderung zalim pada air dan unsur-unsur alam lainnya.  Pembuangan sampah sembarangan, penyedotan air tanah yang berlebihan dan sebagainya sudah lama memperparah keadaan alam.  Belum lagi sarana irigasi dan pengaturan air yang sudah tua bahkan sejak zaman Belanda.

Air memang salah satu anugerah terindah dari Allah SWT, namun apabila tidak dimanfaatkan dengan baik dan berimbang dengan pemeliharaannya maka bencanalah yang akan terjadi, seperti di Situ Gintung waktu itu.

Semoga bermanfaat,

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti dan memeriahkan Lomba menulis tentang air yang diselenggarakan ibu dokter Vina Revi

Rabu, 23 September 2009

[Cerita Pendek] Kisah pertaubatan di pinggir danau


Dia mengendap-endap, kain hitam menutup wajahnya sementara tudung jaket berwarna hitam senada menutupi kepalanya. 

tangannya meraba gagang belati yang terselip di pinggangnya, kini saatnya telah tiba, demikian terbersit dalam hatinya

berhari-hari dia mempertimbangkan aksinya kali ini, karena  baru sekali ini dia bersiap melakukan kejahatan berencana, kejahatan yang sama yang terjadi jutaan tahun yang lalu, saat keturunan awal manusia melakukan kejahatan pertama di muka bumi ini ...........

pembunuhan


Semua terjadi karena cintanya yang tak terbalas, ........ maka dia bertekad membalas dendam

Namun,

Tiba-tiba dia merasa ragu, ......... sangat ragu.  Keraguan yang menjalar perlahan di dalam dirinya ......... yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

dia pergi, menuju kendaarannya, ....

Dia membelokkan kendaraannya, pergi ke tepian sebuah danau yang luas dan dalam. 

Malam itu, bulan perak bersinar pucat ..... terpantul indah di permukaan air danau yang tenang bagaikan cermin

Perlahan udara malam yang sejuk itu mengalir masuk dan keluar paru-parunya, dia rasakan hal itu sebagai nikmat, .... yang belum pernah dia rasakan sebelumnya ........... dia rasakan udara itu menyegarkan jiwanya yang panas membara selama ini


"Tuhanku .............ampunilah aku"

katanya lirih sambil berlutut di pinggir danau

"lindungilah hambaMu yang lemah ini dari kejahatan diriku sendiri ..........

yang sangat menginginkan apa yang sesungguhnya tidak pantas aku dapatkan ........... "

sebagaimana pula tekad untuk berbuat jahat nekad perlahan tapi pasti memudar sebagaimana es batu mencair di bawah panasnya matahari

Matanya yang dibutakan oleh ambisi perlahan mulai terbuka ............ dan mulai bisa melihat kenyataan yang ada ....

Hatinya yang terbakar api dendam yang membara perlahan mulai mendingin bagai disirami air dingin  ........


Dia lemparkan belatinya yang tajam itu, simbol tekadnya untuk berbuat jahat .........

ke danau yang dalam itu, ............... sebagaimana Girflet, atas perintah King Arthur, melemparkan pedang Excalibur ke danau  
 

Tanda taubat nasuha yang dia lakukan, bersumpah untuk tidak lagi tergoda untuk melakukan perbuatan jahat dan nekat ...... untuk kembali meniti jalan yang lurus

air mata penyesalan tak henti mengalir dari matanya, .... saat dia kembali ke tempat tinggalnya ..........

Suara adzan subuh perlahan mengetuk gendang telinganya, dia pergi ke surau terdekat untuk melaksanakn kewajiban dan mohon ampun pada Rabb-nya yang Maha Pengasih Maha Penyayang, Maha Menerima Taubat siapapun yang mau bertaubat

Setelah pulang dari surau, ....... sesudah melantunkan seluruh doa yang dia bisa, terasa lega dan ringan seakan-akan beban berat sudah terangkat dari punggungnya ....

Kehangatan surya pagi menyapanya, seakan-akan sinar itu menepuk lembut bahunya, seperti suatu persetujuan akan pertaubatannya......... diapun tersenyum ......


dalam perjalanan pulang, terdengar lantunan lagu dari gang dekat tempat tinggalnya, ....

............ kau reguk habis semua doa-doa dari surau depan rumah yang kau sewa, ...... tak terasa surya duduk di kepala, .......... adzan subuh masih di telinga ...........