Tampilkan postingan dengan label lombamenulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lombamenulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2012

Audisi Menulis Buku: Indonesia Tanpa Liberalisme

http://wasathon.com/editorial/read/audisi_menulis_buku_indonesia_tanpa_liberalisme/
Liberalisme itu problematis. Banyak kekacauan yang sudah terjadi di negeri ini sebab liberalisme memasuki beragam ranah baik agama, politik, sosial, budaya maupun media. Untuk menyemarakkan argumentasi penolakan terhadap ide liberalisme, Komunitas Wasathon akan mengadakan audisi menulis buku yang berjudul “Indonesia Tanpa Liberalisme”. Buku ini akan berisi 10 Bab dengan rincian sebagai berikut:



Bab 1: Sejarah Liberalisme di Dunia

Bab 2: Sejarah Liberalisme di Indonesia

Bab 3: Potret Wajah Buruk Pemikiran Liberalisme

Bab 4: Membaca Pemikiran Tokoh-tokoh Liberal di dunia

Bab 5: Membaca Pemikiran Tokoh2 Liberal di Indonesia

Bab 6: Liberalisme di Berbagai Sektor

Bab 7: Liberalisme Era Pemerintahan SBY

Bab 8: Melawan Arus Liberalisme di Indonesia

Bab 9: Indonesia Tanpa Liberalisme

Bab 10: Solusi Islam Pasca Liberalisme



Dengan ketentuan sebagai berikut:


(1) Peserta terbuka untuk umum. Satu penulis satu bab.

(2) Naskah tiap bab minimal 10 halaman 1,5 spasi Font Time New Roman

(3) Memuat daftar pustaka kepenulisan

(4) Naskah diterima paling lambat Senin 20 Maret 2012

(5) Penulis yang naskahnya dimuat akan mendapatkan honor dan 1 buku setelah terbit

(6) Buku akan diterbitkan secara indie (cetak terbatas) dan akan di launching pada bulan April 2012

(7) Bagi peserta yang tertarik, sebelum menulis harap menghubungi nomor HP (SMS) ke 0821 2314 7969 (Yons) atau email Wasathon@gmail.com



Ayo, yang tertarik segera hubungi panitia. SALAM JIHAD PENA :-)

Senin, 18 Juli 2011

[LEBAY-nya MULTIPLY/ERS] Edit HTML

Saya mulai ber-MP ria pada tahun 2007, benar2 newbie gak tahu apa-apa, tulisan pun ala kadarnya.  Niat awalnya sih untuk promosi situs replika HPA saya, krn itulah pakai id kopiradix, nama produk HPA paling laris. 

Dulu pernah mau pasang foto di postingan blog, entah error apa gak berhasil, maklum nge-MP-nya di warnet.  Mau memasang hyperlink saat laporan kegiatan kopdar pun masih bingung gimana caranya.  Gak lucu dong kalau nge-blog isinya tulisan doang, kan kesannya jadinya garing .. walaupun tentu saja .. content is king.  

Suatu ketika, saat jalan-jalan ke toko buku, saya nemu buku tentang pembuatan blog, yagn di dalamnya termasuk bagaimana meng-edit dokumen HTML. Waaaah, ini dia solusi dari masalah saya .. he he he.  

Mula mula buku itu saya baca dulu .. ya iyalaah masak dijadiin bantal .. oh ya, pas di toko buku saya beli dan bayar dulu di kasir, kalau tidak bisa digelandang satpam dong

lalu, saya buka notepad dan saya ketik beberapa kalimat untuk percobaan.  kalimat-kalimat itu saya bubuhi tag-tag HTML yang ada di buku lalu saya save dengan extention .html, biar beda sama yang extention-nya .txt . Sesudah itu saya buka pakai internet browser Firefox daaaan Eng Ing Eeeng .. ternyata bisa sodara-sodara

Sehingga, mulailah saya tenggelam ke dalam kerepotan yang cukup menguras energi.  

Kalau mau posting yang ada fotonya, harus di-upload dulu ke situs image hosting seperti Photobucket lalu script HTML-nya dikerek ke postingan MP.  Ngereknya pakai tag <img src=""> dan link image hosting ditempatkan diantara dua tanda kutip.  
Contohnya di postingan yang ini dan yang ini.  Tanda kutip itu juga sering jadi masalah, pernah suatu ketika mau posting di warnet flashdisk ketinggalan di rumah.  Jadi terpaksa ngetik di sana dan pas di-upload koq gak sesuai keinginan, ternyata ada tanda kutip yang ketinggalan.

Bahkan ada yang posting ditempeli video Harun Yahya segala, contohnya yang ini dan yang ini.  Maklum, waktu itu karya-karya penulis berkebangsaan Turki itu lagi ngetop abiez di toko2 dan pameran2 buku.  

Kalau setiap kali saya nulis harus kerepotan dengan beragam tag HTML yang harus dimasukkan.  Misalnya, kalau mau ganti paragraf harus ketik <br> dulu.  Berhubung namanya dokumen HTML kan gak kenal spasi, ngertinya tag <br> atau <p> kalau mau pindah paragraf.  Kalau mau huruf tebal pakai tag <b> dan kalau mau italic harus pakai tag <i> dan sebagainya.

Bahkan, sesudah punya akses internet sendiri di rumah, bela-belain install progaram HTML Kit, padahal sih ngedit HTML-nya sama aja kaya di nulis di notepad, gitu-gitu aja

Tetapi, sesudah berjalannya waktu dan lebih mengenal blog engine kesayangan kita ini, apa yang terjadi saudara-saudara ...

ternyata semua sesungguhnya itu tidak perlu dilakukan ... sebab, di tempat untuk posting blog, hampir semua fasilitas tersdia, kecuali kalau mau ditempeli video tentunya.  Lagipula, kalau di bawah 10 menit kan masih bisa di-post di bagian video dari MP kita.  

Kemana aja nge-MP selama itu koq icon-icon yang ada di atas tempat postingan dicuekin abiezz

kalau mau pasang link, ya udah highlite aja text yang mau dijadikan hyperlink lalu klik icon link yang ada di online form pembuatan blog entry yang dimaksud.  Kalau mau ditambahi gambar, ya udah upload aja via MP itu sendiri, gak usah dikerek dari sana dan dari sini.  

Namun, tidak ada yang tidak mengandung hikmah tentu saja.  yang jelas, saya jadi tahu beberapa tag HTML yang cukup membantu kalau harus buat postingan di notes FB atau bagian lain dari MP seperti kotak komentar, Review, Photo dan lain sebagainya.

Lebay atau tidaknya postingan kali ini saya serahkan pada dewan juri dan rekan2 MPers yang lain, yang jelas postingan ini mengingatkan saya pada tagline sebuah iklan

Senengane koq repot ..


ditulis secara asal-asalan dan selebay mungkin untuk memeriahkan lombanya lebaynya Om Wib711  

Jumat, 20 Mei 2011

[Ultah Cambai: Kisah Nyata Ditolak] Permohonan Maaf

People will forget what you say
People will forget what you do
But, people will never forget how you made them feel

Maya Angelou

Berawal dari sebuah kegiatan sosial di sebuah desa tertinggal tak jauh dari Jakarta.  Sesudah selesai kegiatan, kami semua pulang naik bisa yang sama dengan yang memberangkatkan kami.  Saat itu, di bis yang namanya mata sudah hampir tidak bisa dibuka. Jadi pada saat ada teman yang pesan untuk membantu seseorang ya yang tertangkap sayup - sayup saja.  Namun, begitu sampai tempat kembali dan bertemu orang yang perlu dibantu, entah kenapa rasa kantuk ini hilang lenyap dan berganti kekaguman yang luar biasa.  Sesudah selesai membantu pun, sampai di rumah masih saja kepikiran orang yang tadi itu.  Selama itu pula, hubungan kami baik-baik saja walaupun tidak bisa dikatakan akrab. Namun, semua berubah saat diketahui saya naksir berat sama dia.  Benar kata Maya Angelou di atas, jangan-jangan ada kesalahan yang tidak saya sadari.  

Memang, dalam kondisi emosional yang kurang kondusif, kesalahan sangat mungkin terjadi walau kadang tidak bisa diketahui persis.  Yang jelas, saya akui sayalah yang bersalah dan saya pun berusaha minta maaf.  Namun saying, permohonan maaf yang saya harapkan diterima itu belum juga terjadi sampai saat ini.  Paling tidak sampai tulisan ini dibuat.  Hubungan pertemanan yang ala kadarnya itu pun hancur berantakan sebagaimana hancurnya hati saya.   Mungkin inilah yang dinamakan Depresi, sebuah keadaan emosional yang seringkali mengantar penderitanya ke gerbang maut dengan  cara bunuh diri.  

Saya masih beruntung belum mau menyerah untuk memperbaiki diri.  Kesadaran bahwa hidup harus dilanjutkan apapun yang terjadi masih tersisa dalam diri saya walapun sempat meredup.  Saya pun mencoba mengalihkan perhatian ke dalam tulisan dan mencoba mempelajari beberapa jenis penyembuhan seperti SEFT dan Spiritual Quantum Touch atau SQT. SQT saya pelajari dari sesama relawan saat bertugas sebagai tim Trauma Healing ber sama beberapa praktisi SEFT di Padang beberapa waktu yang lalu. Namun, walaupun demikian, masih terasa ada yang mengganjal di hati saya berkenaan dengan permohonan maaf yang belum juga diterima.  

Suatu ketika, saya mengikuti acara bedah buku yang diadakan di sebuah universitas di daerah Ciputat.  Bedah buku itu diisi oleh kang Zain, penulis ebook tersebut dan Lead Trainer di Cahaya Semesta, sebagai narasumber.  e-book tersebut berjudul "Jangan Raih Kesuksesan yang tidak Sukses".  Kang Zain menjelaskan apa yang beliau ketahui dan percayai sebagai kesuksesan sejati berdasarkan pengalamannya sebagai seorang trainer dan motivator.  Mungkin, kalau di kalangan motivator dan trainer, apa yang diajarkan oleh kang Zain bias dianggap sebagai ajaran bid’ah, meminjam bahasa agama, atau dianggap nyeleneh karena menyimpang dari mainstream ajaran motivasi.  Ketenangan dan kebahagiaan seharusnya diraih terlebih dahulu daripada kesuksesan dan penampilan.  "Apakah kita selama ini menetapkan syarat-syarat tertentu sebelum kita bisa merasakan ketenangan dan kebahagiaan?" tanya Kang Zain pada yang hadir.  Ketenangan sejati, yang diperoleh dengan hanya bergantung pada Allah SWT seharusnya menjadi fondasi bagi kebahagiaan dan kesuksesan serta penampilan kita.  

"Hati yang kotor penuh rasa dengki dan dendam akan menarik kemalangan demi kemalangan ke dalam hidup kita seperti magnet.  Maka indahkanlah masa depanmu dengan memaafkan masa lalumu dan menerima keadaanmu saat ini" demikian pesan kang Zain dalam acara bedah ebook tersebut.  Membersihkan hati salah satunya dengan banyak beristighfar agar dosa-dosa kita terampuni dan hati kita pun menjadi semakin bersih.  Kang Zain pun menambahkan bahwa salah satu rahasia kesuksesan dakawah Rasul SAW adalah mudahnya beliau memaafkan, apalgi dalam urusan pribadi.  Seorang kafir Quraisy yang hendak membunuh beliau pun dimaafkan dengan mudah.  Saat kita memaafkan orang lain yang bersalah atua bahkan zalim pada kita, sesungguhnya kita memberi energi pada orang lain untuk memaafkan kita dan membuka diri untuk kita pengaruhi.      

Semoga bermanfaat

------------------------------------------

Jumlah kata: 587

Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba memperingati ulang tahun MP-nya Uni Cambai dengan kategori Kisah Nyata: Ditolak

Kamis, 28 Oktober 2010

[Lomba Menulis Teman Maya] Belajar kerelawanan bersama Bang Gaw

Saya pertama kali mengenal Bayu Gawtama yang lebih akrab dipanggil bang Gaw dari MP beliau dan langsung suka dengan tulisan-tulisan yang diposting.  Kesempatan kopdar pertama, yaitu pada acara Lebaran bareng anak yatim, terlewatkan karena saya sakit cukup parah pada waktu menjelang Idul Fitri tahun 2008 lalu. Saya baru bisa bertemu dengan bang Gaw di masjid Al Azhar pada waktu persiapan Qurban bersama Relawan Pelangi tahun 2008 di desa Jagabita.  Desa tersebut terkenal sebagai Kampung Pesakitan karena banyak sekali orang-orang yang terserang berbagai macam penyakit seperti TBC, liver, kaki gajah dan sebagainya.  Anak-anak penderita gizi buruk di kampung-kampung di daerah itu mencapai ratusan orang. Para anggota relawan pelang sendiri sekarang mendirikan Yayasan Sahabat Peduli Generasi Mandiri. Kegiatan pertama Yayasan tersebut adalah Life Skill Camp 1 di Desa Wisata, Taman Mini. Saya sendiri berkesampatan mempraktekkan ilmu Spiritual Emotional Freedom Technique pada para peserta pelatihan tersebut, terutama yang sedang jatuh sakit. Kisahnya bisa dibaca di tulisan yang ini.  Selain itu, saya juga sempat kopdaran dengan Bang Gaw di luar Jakarta, yaitu saat gempa besar melanda kota Padang beberapa waktu yang lalu.  Saat itu kami sama-sama bertugas menjadi relawan, namun beda pekerjaan. Saya sendiri ditugasi sebagai relawan bagian recovery, yaitu tim Trauma healing dengan beberapa teman alumni pelatihan SEFT.

Bang Gaw juga pernah mengatakan bahwa "Kita tidak akan pernah kehilangan kesempatan untuk berbuat baik kepada orang lain. Dengan cara apapun yang kita bisa, sekecil apapun, selalu niatkan untuk terus meringankan beban orang-orang di sekitar kita. Sebab, kita tidak akan pernah tahu kapan kita memerlukan bantuan orang lain. Dan disaat kita benar-benar memerlukan, akan ada ‘malaikat-malaikat’ yang datang menawarkan bantuan." Hal itu terbukti saat seseorang menanyakan pada bang Gaw mengapa belum menulis lagi, padahal saya penggemar tulisan-tulisan anda. Bang Gaw bilang saat itu laptop-nya rusak karena dipermainkan anaknya.  Orang itu mengajak bang Gaw ke sebuah toko komputer dan tiba-tiba memintanya memilih sebuah laptop yang dia inginkan.  Benar-benar merupakan suatu keberuntungan yang tidak merupakan kebetulan. Bisa jadi hal itu merupakan pencairan energi positif yang sudah dikumpulkan Bang Gaw selama ini.  Selain itu, keberuntungan itu juga didukung oleh background Bang Gaw yang pernah menjadi wartawan sehingga tulisan-tulisannya dibaca dan diminati banyak orang.  

Ketrampilan Bang Gaw dalam menulis telah membuatnya mampu menghasilkan beberapa buah buku dengan judul kontemplatif, seperti Tangan Allah di seutas tali, Lelaki 11 Amanah, Berhenti Sejenak dan beberapa yang buku lain.  Buku Tangan Allah di seutas tali terinspirasi pada pengalaman Bang Gaw sendiri.  Saat itu Bang Gaw dan  beberapa relawan emergency dari ACT sedang bertugas di suatu daerah yang dilanda banjir.  Saat membawa pengungsi, perahu mereka hanyut dan hampir terbawa ke sebuah sungai yang besar dan deras sehingga kemungkinan selamat sangat kecil. Saat itulah mereka berpegangan pada tali jemuran yang tipis namun entah kenapa tali itu cukup kuat untuk menahan berat perahu karet tersbut.  Padahal arus banjir sangat kuat seakan hendak menyeret perahu itu ke sungai.  Pada keesokan harinya, tali itu putus saat digunakan beberapa anak sekolah untuk menyebrang.  Sungguh, kekuasaan Allah SWT jauh melebihi dan melampaui akal dan logika manusia.  

Menurut bapak Jamil Azzaini, seorang trainer senior dari Kubik Leadership, apabila seseorang berbuat baik, kebaikan itu akan tersimpan dalam bentuk energi positif.  Suatu saat energi positif itu akan cair dalam bentuk harta (uang/kekayaan) tahta (kedudukan), kata (ilmu pengetahuan) dan cinta (kasih sayang dari sesama). Sebaliknya, jika kita berbuat keburukan, hal itu akan tersimpan dlm bentuk energi negatif.  Suatu saat energi tersebut akan cair dalam bentuk musibah, bencana dan hal-hal buruk lainnya.

Bang Gaw juga merupakan salah satu penggagas program Universitas Kerelawanan, suatu program edukasi relawan yang diadakan oleh Aksi Cepat Tanggap.  Program ini bertujuan mengedukasi para relawan agar memiliki motivasi, spirit dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas-tugas kerelawanan di lapangan. Baik di dalam lokasi bencana ataupun di luar. Sesungguhnya, kerelawanan adalah bagian yang penting dari gaya hidup seseorang yang ingin meraih kesuksesan dan keberkahan baik di dunia dan akhirat. 

Menurut Bang Gaw, keterpanggilan adalah sarat utama menjadi relawan.  Seseorang bisa saja memiliki segudang keterampilan dan kemampuan yang lebih dari cukup dan bahkan diatas rata-rata kebanyakan orang lain.  Tetapi apabila tidak merasa tersentuh oleh keadaan sekitar, tidak merasa terpanggil oleh peristiwa kemanusiaan meskipun berlangsung di depan matanya maka takkan pernah terukir jejak kerelawanan di dirinya.  Namun, apabila keterampilan dan kemampuan yang dimilikinya minim atau bahkan tidak ada, yang terjadi adalah dia malah merepotkan para relawan yang lain. Alih-alih membantu, dia malah yang harus dibantu, bahkan mungkin sampai terpaksa harus dipulangkan.  Kekuatan emosi yang timbul dari keterpanggilan tadi harus disalurkan dengan mempelajari ketrampilan dan melatih kemampuan yang dibutuhkan oleh seorang relawan.  Tulisan lengkapnya bisa dibaca di situs ini.  Brosur Universitas Kerelawanan dapat dilihat di album yang ini.

Bang Gaw pun pernah menasihati saya saat curhat soal patah hati karena ditolak sesama anggota sebuah komunitas yang saya ikuti.  Kata Bang Gaw dengan gaya betawinya "Har, ente kalau mau pergi ke luar negeri lihat kemampuan. Mungkin ente mau ke Prancis tapi gak bisa bahasa Prancis dan gak punya cukup duit. Mungkin ente mau ke Spanyol, walaupun bisa bahasa Spanyol, tapi gak punya cukup ongkos.  Kenapa gak coba ke Malaysia, ente kan bisa bahasanya dan ongkosnya terjangkau." Suatu nasihat yang bijak dan alhamdulilah bisa saya terima dengan baik sehingga beban di hati pun terlepaskan dengan lega. Sebagai sesama penggemar Ebiet G. Ade, saya dan Bang Gaw pun akhirnya nyanyi bareng "cinta yang kuberi, sepenuh hatiku, entah yang kuterima aku tak peduli ... dst.  Belakangan, saya  baru tahu makna dalam yang terkandung dalam lagu tersebut.  Tulisan tentang makna lagu itu ada di sini.   

Berkat bang Gaw pula, saya pun semakin yakin bahwa pilihan saya untuk mengambil jalur pengabdian di bidang sosial dan kerelawan tidaklah salah, Insya Allah. Melalui pengabdian pada sesama, cinta itu pun akan mewujud dengan sendirinya.  Energi cinta yang terpancar dari luka batin patah hati mewujud dalam pekerjaan sosial kemanusiaan dalam dunia kerelawanan.  Erich Fromm, seorang filsuf, sosiolog dan ahli psikoanalisa dari Jerman pernah  mengatakan "Jika aku berkata aku mencintaimu, maka sesungguhnya aku mencintaimu dalam diri semua manusia, dalam diri semua yang hidup dan dalam diriku sendiri".  Bahwa sesungguhnya kekasihmu berada dalam diri setiap manusia dan engkau akan selalu bisa berbuat baik dan memberi kepada kekasihmu melalui diri setiap orang.  Kekasihmu mungkin tidak mengetahui kebaikan-kebaikanmu dengan sesama manusia, mungkin dia tidak akan pernah tahu.  Namun, pancaran energi kebaikan itu cepat atau lambat akan mencapainya, mengetuk lembut pintu hatinya dan bukan tidak mungkin keajaiban demi keajaiban akan terjadi.  Keajaiban yang tidak dapat dijelaskan dengan logika atau kata-kata.  Begitu banyak orang-orang yang menderita di negeri ini sehingga kita tidak akan pernah kekurangan kesempatan berbuat kebaikan. Sehingga, bukanlah penderitaan mereka yang perlu kita tangisi namun ketidakmampuan atau keengganan kita melakukan yang terbaik untuk merekalah yang seharusnya kita sesali.  Sebagaimana sering diucapkan bang Gaw, "kita memang sudah berbuat baik, tetapi masih banyak hal baik yang belum kita perbuat".

Semoga bermanfaat

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Menulis Tentang  Persahabaan di  Dunia Maya  yang diadakan oleh Mbak Dewayanie

Jangan ragu ikut lomba menulis di internet, menang atau kalah sama- sama anugerah

Posting sambil menyenandungkan lagu Ebiet G. Ade - Apakah ada bedanya

    Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
    dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
    Kucoba tuang ke dalam kanvas
    dengan garis dan warna-warni yang aku rindui

    Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
    Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
    Cintamu telah membakar jiwaku
    Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku

    Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
    Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
    Di menara langit halilintar bersabung
    Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
    Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
    Entah yang kuterima aku tak peduli,
    aku tak peduli, aku tak peduli

    Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
    dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
    Tinggal bagaimana kita menghayati
    di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
    dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka  

Jumat, 22 Oktober 2010

[Pena Lectura] Alternatif untuk berkarya sambil mencerahkan dan menebar manfaat

"kita memang sudah berbuat baik, tetapi masih banyak hal baik yang belum kita perbuat"

Bayu Gawtama

Saya pertama kali mengenal Pena Lectura, kalau tidak salah, sedang mau upload journal ke MP.  Journal itu tentang perjalanan tim Trauma Healing ke Padang pada saat gempa besar beberapa waktu yang lalu. Lalu saya menemukan link menuju journal mbak Gita tentang workshop perdana Pena Lectura di Kuningan, sayang saya lupa yang me-link siapa, he he he.  Karena tempatnya dekat sekali dengan rumah saya, maka saya putuskan untuk ikutan. Kebetulan saat itu saya sedang senang-senangnya belajar menulis demi menyembuhkan patah hati yagn saya alami ...

Alhamdulillah, di workshop tersebut saya mendapatkan pencerahan tentang Creative Non Fiction. Bahwa cerita-cerita nyata bisa dikemas dalam bentuk yang menarik seperti dalam cerpen atau novel.  Sebelum ikut workshop, saya sempat membuat tulisan berdasarkan pengalaman selama di Padang beberapa waktu sebelumnya namun tulisan itu masih berbentuk essay dan kurang memenuhi syarat untuk bisa disebut Creative non fiction.  Sehingga, pada saat pelatihan, saya memperbaiki tulisan tersebut.  Saya sendiri merasa senang karena tulisan saya pun semakin bisa dibaca orang lain dengan nyaman.  

Workshop menarik lainnya yang diadakan Pena Lectura adalah workshop tentang fotografi.  Walaupun termasuk yang agak phobia sama kamera, apalagi yang canggih dan besar serta tombolnya banyak itu, saya tetap ikutan.  Yang paling mengagumkan adlaah foto-foto yang menggambarkan kawasanan kumuh dan miskin yang ada di sekitar kita.  Tentu bukan perkara mudah untuk membawa kamera super mahal ke wilayah-wilayah tersebut.  Semoga foto-foto tersebut bisa menggugah kepedulian yang melihat pada nasib orang-orang yang miskin dan lebih menderita daripada kita.

Sayangnya waktu launching buku Happy Ramadhan with Kids saya tidak bisa datang karena ada keperluan fundrasing bersama Yayasan Sahabat Peduli pada Car Free Day di daerah Thamrin.  Kami sedang mencari dana untuk program LifeSkill Camp 2 untuk anak-anak dhuafa. Saya sendiri diamanahi menjadi terapis yang menterapi orang-orang yang membeli merchandise YSP.  Terapi itu sebagai bonus bagi para pembeli yang menyumbang untuk kegiatan yayasan.   

Untuk berpartisipasi dalam lomba ini, saya baru mampu menyumbangkan satu ide yang ada.  semoga nanti bisa dipertimbangkan dan disinergikan dengan ide-ide lainnya.

Begini idenya:

saat ber-browsing ria, saya menemukan situs nulisbuku.com.  Gak ingat sih kata kunci apa yang dimasukkan ke Google atau dapat situs itu dari link yang mana, tapi sudahlah.  Salah satu pendiri situs itu adalah mbak Aulia Halimatussadiah atau biasa dipanggil mbak Ollie.  Dalam situs yang salah satu pendirinya pernah jadi pengisi acara workshop pertama Pena Lectura itu ada layanan untuk menerbitkan buku sendiri.  Dan yang paling menarik adalah jumlah buku yang bisa diterbitkan tidak harus dalam jumlah eksemplar tertentu.  Satu eksemplar pun tetap bisa diterbitkan. Bahasa kerennya Print on Demand, alias cetak kalau ada pesanan walau cuma sebiji kata orang betawi ..

Situs di atas tentunya bisa jadi alternatif bagi para bloggers yang sudah sangat ingin ingin menerbitkan buku.  Biasanya, kalau mau menerbitkan buku sendiri kan perlu modal cukup besar berhubung percetakan maunya mencetak buku sejumlah tertentu.  Jumlah itu tentunya cukup besar biayanya kalau harus ditanggung oleh kantong pribadi si blogger tersebut.  Sedangkan kalau diterbitkan oleh penerbit, terkadang perlu ada kompromi dengan penulis buku.  Sebagian penulis merasa perlu mempertahankan idelismenya sedangkan penerbit adalah institusi bisnis yang perlu mencari keuntungan.  Sehingga, tidak setiap naskah yang masuk ke penerbit bisa diterbitkan.  Memang, menurut pak Jonru, yang namanya penerbit bukan monster jahat bin kejam pada para penulis.  Penerbit dan penulis adalah mitra kerja yang seharusnya saling menguntungkan.  Namun, tetap saja ada hal-hal tertentu yang menyebabkan naskah tidak lolos.  Salah satunya momentum.  Kalau sekarang kita menerbitkan buku tentang Piala Dunia tentu saja tidak akan laku.  Buku seperti itu hanya laku kalau diterbitkan dan dicetak menjelang dan selama piala dunia, sehingga kalaupun mau diterbitkan harus menunggu sekitar 4 tahun lagi.  Buku kiat meraih Lailatul Qodar tentu sedikit yang mau beli sekarang ini, walaupun tema itu merupakan tema favorit menjelang dan selama Ramadhan.  Lain halnya dengan buku bertema kiat memilih hewan Qurban, bisa jadi buku itu laku keras karena animo orang untuk berqurban sekarang cukup besar dan saat ini Hari Raya Idul Adha hampir tiba.

Atau, bisa jadi dalam buku yang hendak diterbitkan banyak berisi hal-hal yang memang ingin di-share oleh penulisnya di kalangan terbatas.  Misalnya, buku tentang kehidupan sehari-hari yang dikemas dengan teknik Creative Non Fiction yang pernah dibahas dalam Workshop perdana Pena Lectura.  Bisa juga untuk doorprize di acara-acara Pena Lectura. Terbayang betapa senangnya peserta mendapat buku unik yang tidak bisa ditemukan di toko-toko buku.  Walaupun, bagi yang berminat tetap bisa memesan buku tersebut.  Tentu saja alternatif di atas bukan untuk menggantikan penerbitan buku dengan melibatkan penerbit pada umumnya, namun sekedar alternatif yang bisa ditempuh. Sehingga, makin banyak orang yang bisa mendapatkan "Alternatif untuk berkarya sambil mencerahkan dan menebar manfaat" sesuai judul tulisan ini.

Maka, saya kira tema menerbitkan buku dengan cara Print on Demand seperti di atas akan menjadi tema yang menarik untuk dibahas dalam kegiatan-kegiatan Pena Lectura selanjutnya. 

Demikian yang bisa saya sumbangkan untuk Sayembara ultah pertama Pena Lectura semoga makin sukses dengan segala kegiatannya. Karena bukankah, meminjam kata-kata Mas Bayu, “Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru".

Semoga bermanfaat

Senin, 11 Oktober 2010

LOMBA KARYA TULIS PEMUDA TINGKAT NASIONAL dan PENGHARGAAN UNTUK PENULIS ARTIKEL KEPEMUDAAN

Start:     Oct 12, '10 12:00a
End:     Oct 22, '10 12:00p
Location:     dimanapun bisa menulis
Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI bekerja sama dengan ForumLingkar Pena menyelenggarakan Lomba Karya Tulis dan Penghargaan untukPenulis Artikel Kepemudaan.

Persyaratan Lomba Karya Tulis:

1. Naskah berbentuk "esai" dengan tema "Kepemimpinan Pemuda".

Peserta dapat memilih salah satu dari sub-sub tema berikut, atau tema lain

a. Pemuda di Kursi Kepresidenan Indonesia

b. Menjadi Pemimpin di Era Krisis Global.

c. Mencari Wadah Pencetak Pemimpin Bangsa.

d. Menjadi Pemimpin Lokal Berpikiran Global.

e. Jika Perempuan Menjadi Pemimpin Indonesia.

f. Budaya Baca Calon Pemimpin Bangsa.

g. Budaya Menulis Calon Pemimpin Bangsa


2. Lomba dibagi dalam 3 kategori: pelajar, mahasiswa, dan umum.

3. Lomba terbuka untuk semua WNI berusia 15-35 tahun.

4. Esai tidak bertentangan dengan SARA dan tidak mengandung unsur pornografi.

5. Naskah merupakan karya asli, bukan terjemahan, atau saduran.

6. Naskah belum pernah dipublikasikan di media massa cetak/elektronikdan tidak sedang diikutkan dalam lomba sejenis.

7. Naskah ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baik, diketik denganfont Times New Roman, 5-10 halaman, spasi 1 1/2.

8. Mencantumkan kategori lomba di subjek email atau amplop.



Persyaratan Penghargaan Penulis:

1. Artikel telah dimuat di media massa cetak antara bulan Oktober 2009sampai September 2010 yang bertema Kepemudaan.

2. Melampirkan artikel yang telah dimuat (untuk pengiriman email,discan dengan resolusi secukupnya)

3. Lomba terbuka untuk umum (tanpa batasan usia)

4. Artikel tidak bertentangan dengan SARA dan tidak mengandung unsur pornografi.

5. Mencantumkan "Penghargaan Penulis" di sudut kiri amplop.



Persyaratan Teknis :

1. Pengiriman naskah disertai dengan fotokopi identitas diri(KTP/SIM/Kartu Pelajar/Paspor dan biodata singkat: nama, alamatlengkap, nomor telepon/handphone, e-mail). Untuk pengiriman e-mail,identitas diri discan (dengan resolusi secukupnya, maksimal 300 kb).

2. Pengiriman naskah lomba esai atau penghargaan penulis dikirim viaemail ke: lomba.menpora@gmail.com. Atau via pos ke: Jl. Rasamala Raya No 20 Depok Timur 16418

3. Naskah ditunggu selambat-lambatnya tanggal 22 Oktober 2010, jam 12 siang.



HADIAH setiap kategori dan Penghargaan Penulis:

Juara I: Rp2.500.000,-

Juara II: Rp2.000.000,-

Juara III: Rp1.500.000,

3 pemenang hiburan @ Rp500.000,-

* Pengumuman pemenang dapat dilihat di http://www.forumlingkarpena.net/, http://forumlingkarpena.multiply.com,mailing/ list Forum Lingkar Pena, serta Facebook Forum Lingkar Pena,pada 25 Oktober 2010.



Acara ini diselenggarakan oleh :Deputi Bidang Pemberdayaan Kepemimpinan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga RI bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena

Keterangan lebih lanjut hubungi:

- Maryati (021) 573 8158, HP: 085813144822

- Koko 0813 67675459

- Denny 0899 9910037

Comment · UnlikeLike · Share

Kamis, 07 Oktober 2010

[Random Snippets-AIR] Situ Gintung

Hari itu, saat bencana Situ Gintung mendominasi pemberitaan, saya ditelepon seorang rekan sesama anggota Relawan Pelangi.  Relawan Pelangi adalah suatu komunitas relawan yang anggotanya sekarang mendirikan Yayasan Sahabat Peduli Generasi Mandiri.  Saya diminta membantu di lokasi bencana Situ Gintung di daerah ciputat.  Mereka membutuhkan relawan laki-laki untuk mengangkat barang-barang katanya.  Rencana kami, kami hendak bergabung di posko relawan Aksi Cepat Tanggap.  

Saya lalu menuju meeting point di daerah Pondok Labu.  Sesudah makan siang dan sholat zuhur, kami berangkat ke lokasi sambil membawa bantuan dari pihak donatur.  Sampai di lokasi, kendaraan kami sulit untuk bisa sampai posko karena tempat itu telah menjadi lokasi "wisata bencana".  Mental "pengamat" memang sudah lama melanda negeri ini, mulai dari yang di stasiun TV sampai yang ada di lokasi bencana.



Akhirnya kami pun tiba di posko tujuan, di sana terlihat kesibukan yang luar biasa.  Kami bertugas menyingkirkan balok kayu dan benda-benda besar lainnya agar proses pembersihan berlangsung lebih mudah.  Terlihat jelas bangunan-bangunan yang tadinya kukuh saat itu telah luluh lantak tak karuan lagi bentuknya. Pemindahan reruntuhan itu dilakukan secara estafet ke tempat yang ditentukan.  Kami bekerja di lokasi dari siang menjelang sore sampai maghrib.  


Saya sendiri baru pertama kali itu mengunjungi situ gintung walaupun dari dulu sudah sering ke daerah Ciputat.  Saya seringkali hanya melihat di peta jakarta sebuah danau yang besar di daerah ciputat namun belum tahu danau apakah itu .  Memang, kawanan yang berair sering menarik perhatian saya, salah satunya waduk Pulomas.  Melihat danau besar di peta dan dekat dengan tempat yang sering kali saya kunjungi tentu membuat saya penasaran. Saat itu, saya pikir masuknya harus lewat ISCI atau International Sport Club Indonesia sedangkan saat saya lewat di depan pintu perkumpulan tersebut, tertulis yang boleh masuk hanya anggota. Namun, saat berhasil sampai di sana keadaannya sudah jauh berbeda. Sudah hancur luluh lantak hancur berantakan. Rupanya air danau itu memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga saat jebol semua bangunan yang terlanda hancur lebur.



Bencana memang bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.  Namun, kita manusia adalah pengemban amanah sebagai wakil Allah SWT di muka bumi ini.  Kita tentu tidak boleh mengabaikan tanda bencana sekecil apapun agar bencana yang lebih besar bisa dicegah.  Manusia masih cenderung zalim pada air dan unsur-unsur alam lainnya.  Pembuangan sampah sembarangan, penyedotan air tanah yang berlebihan dan sebagainya sudah lama memperparah keadaan alam.  Belum lagi sarana irigasi dan pengaturan air yang sudah tua bahkan sejak zaman Belanda.

Air memang salah satu anugerah terindah dari Allah SWT, namun apabila tidak dimanfaatkan dengan baik dan berimbang dengan pemeliharaannya maka bencanalah yang akan terjadi, seperti di Situ Gintung waktu itu.

Semoga bermanfaat,

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti dan memeriahkan Lomba menulis tentang air yang diselenggarakan ibu dokter Vina Revi

[Random Snippets-AIR] Waduk Pulomas riwayatmu dulu ...

Tentu saja judul di atas bukan hendak memelesetkan lagu keroncong yang terkenal ciptaan almarhum Gesang.  Namun, itu lebih karena saya memang mempunyai kenangan yang cukup menyenangkan di waduk pulomas di daeah jakarta timur tersebut.  

dulu waktu saya masih kecil sekitar dekade awal tahun 80an, saya suka ikut ibu ke kampus ASMI di Pulomas. Ibu saya saat itu masih kuliah di sana.  Dalam perjalanan ke kampus dari jalan raya, kami naik becak untuk sampai ke kampus tersebut.  Dalam perjalanan, saya senang melihat Waduk Pulomas yang airnya berkilauan ditimpa sinar matahari.  Di seberang waduk, ada beberapa bangunan restoran panggung yang didirikan di waduk tersebut.  Saya selalu memikirkan bangunan yang berdiri di atas danau tersebut.

Akhirnya, kami pun bisa mampir ke restoran yang bernama Lingkung Lembur itu.  Restoran itu berada di area yang cukup luas dan asri.  Pada waktu hendak makan, saya tentu saja memilih makan di salah satu bangunan yang berada di atas danau.  Bangunan itu dihubungkan dengan daratan oleh sebuah jembatan kayu.  Walaupun air danau tidak betul-betul jernih, namun saat itu polusi udara dan air belum separah sekarang, terbukti dengan kehadiran ribuan capung di sana.  Capung-capung itu adalah salah satu indikasi kebersihan lingkungan, termasuk udara dan air.  Demikian yang saya ketahui.  Tanaman air eceng gondok menambah keindahan danau tersebut.  

Saya sendiri terakhir kali menyambangi daerah itu beberapa tahun yang lalu.  Karena sudah lama, saya agak lupa di mana restoran Lingkung Lembur itu berada. Saat bertanya pada tukang becak, si abang becak bertanya "maksudnya Restoran Parimas?". Mungkin ya, pikir saya dalam hati.  Lalu si abang mengantar saya ke restoran itu. Ternyata restoran tersebut bukanlah bangunan panggung di atas danau, namun merupakan bangunan biasa di atas tanah. Namun, restoran itu memang terletak dekat danau sehingga saya bisa melihat danau itu lagi.  Karena memang tidak niat makan di restoran dan hanya ada uang untuk ongkos pulang saya tidak masuk restoran itu. Si abang becak melihat dengan heran saat saya tidak masuk ke restoran dan malah melihat-lihat danau.  

Yang saya lihat saat itu adalah sebuah waduk atau danau dengan air yang tak lagi sebersih dulu.  Walaupun dulu juga tidak terlalu jernih, namun sekarang lebih parah lagi.  Dari jalan saya memandang ke arah tempat dulu pernah ada bangunan-bangunan panggung yang berfungsi sebagai restoran.  Entah ada apa dengan restoran Lingkung Lembur itu saya tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah tahu. Saat itu yang ada di seberang adalah kawasan kumuh yang sering disebut Kampung Pedongkelan.  Kawasan ini dari dulu sering dilanda berbagai macam masalah sosial, sebagaimana kawasan-kawasan kumuh lainnya di negeri tercinta Indonesia ini.

Danau itu sendiri sekarang seakan tidak berdaya untuk mencegah banjir di musim hujan.  Padahal jika dikelola dengan baik, diperluas dan diperdalam tentu danau itu akan mampu memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar.  Selain jadi penampungan air hujan, juga bisa untuk rekreasi murah meriah bagi masyarakat.  Namun, apabila keserakahan yang diperturutkan bukan tidak mungkin suatu saat akan jadi mall yang hanya bisa dinikmati kalangan menengah ke atas alias kaya.  Semoga tidak akan menambah jumlah Mall yang sudah overdosis di ibukota nan sesak ini.

Manusia cenderung kurang atau bahkan tidak menghargai segala sesuatu yang melimpah.  Kita semua pasti sepakat apabila dikatakan bahwa udara adalah sesuatu yang penting bagi kita.  Namun, adakah diantara kita yang menyempatkan diri untuk bersyukur atas nikmat udara yang kita hirup sehari-hari Mirip dengan kisah klasik ajaran Zen.  Ikan yang baru dimasukkan ke dalam sebuah kolam sangat bersyukur atas jernihnya air di kolam tersebut.  tidak henti-hentinya dia mengucap syukur dan membicarakan kejernihan air di tempatnya yang baru itu.  Namun, teman-temannya sesama ikan di kolam tersebut malah heran.  Bahkan ada yang mengejek dan bertanya, apa tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan? Demikian pula dengan banyak dari kita yang tinggal memutar tombol keran untuk mendapatkan air.  Keprihatinan penampungan air seperti waduk Pulomas itu mungkin bahkan sama sekali tidak terpikirkan.

Air adalah unsur yang sangat penting bagi estetika sebagaimana dia juga penting untuk kehidupan. Tidak mengherankan Al Quran menggambarkan surga dengan frase " ... yang mengalir sungai-sungai di dalamnya".  Keindahan air di dunia ini saja sudah cukup mengagumkan apalagi yang ada di surga nanti.  Semoga apabila kita berpartisipasi menjaga aliran air yang ada di muka bumi, kita akan dianugerahi air yang jauh lebih indah di sana nanti. Amiin

Semoga bermanfaat

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti dan memeriahkan Lomba menulis tentang air yang diselenggarakan ibu dokter Vina Revi

Jumat, 20 Agustus 2010

[Flash Fiction] Sepasang Pedang Kayu

Kedua lelaki berbeda usia itu saling berhadapan, mereka berdua masing-masing memegang sebilah pedang kayu.   Mereka seakan tak peduli deburan ombak yang menghiasi pantai malam itu.  Keduanya saling bertatap tajam,

Tiba-tiba, teriakan keras seakan memecah sunyi malam itu, mengalahkan deburan ombak pantai tersebut.  Kedua lelaki itu saling menyongsong satu sama lain dengan pedang kayu mereka.  Sekejap kemudian, suara kayu beradu terdengar silih berganti, memecah kehingan malam di pantai tersebut.  

Sang pemuda, walaupun lebih muda dan kuat, tidak bisa mengimbangi permainan lelaki tua itu.  Beberapa kali sang pemuda terpukul pedang kayu lawannya, masih untung bukan bagian yang vital.  Si tua rupanya tidak ingin menyakiti sang pemuda lebih daripada yang diperlukan.  Orang tua itu ingin mendidik si pemuda, bukan membunuhnya.  Namun, benturan pedang kayu orang tua itu sepertinya sudah cukup untuk melumpuhkan perlawanan si pemuda.  

"Jahe tua memang pedas rasanya ...." kata si pemuda sambil memuntahkan darah seraya berlutut. Gumpalan darah itu pun larut ke dalam pasir pantai.  

Si pemuda bangkit kembali walau dengan susah payah dan bersiap meneruskan pertarungan.  Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya.  

“Bangun” kata petarung yang lebih tua “kau belum siap”

“Tapi ayah …. “ protes si pemuda.  

Emotional content .. not anger” kata ayahnya “Remember that

“Apa perbedaan antara kedua hal tersebut?” kata si pemuda sambil menghapus darah di bibirnya?

“Sulit untuk dijelaskan .. kau akan mengerti saat dewasa nanti” kata sang ayah.

Si pemuda pun membisu, sehening malam di pantai itu.  

----------------------------------------------------------

Cerita ini ditulis untuk mengikuti lomba Flash Fiction di MP mbak Intan.
dengan Tema: Ayah dan Anak

Yang ingin tahu apa itu Flash Fiction, silahkan mampir ke situs ini

Cerita ini terinspirasi oleh  film silat djadoel berjudul Enter The Dragon yang dibintangi Bruce Lee dan sebuah drama Korea, judulnya lupa ...  serta komik silat karya Tony Wong, Long Hu Men alias Perguruan Naga Harimau

Senin, 01 Februari 2010

[Kiat Menulis] Lomba menulis kalah menang alhamdulillah



Terkadang kita merasa bahwa menulis adalah beban karena kita ingin tulisan kita lansung sempurna, padahal kata pak Jonru, salah satu blogger senior dan trainer penulisan, di dunia ini tidak ada tulisan yang bagus.  Bahkan tulisan seorang penulis ternama yang sudah menerbitkan puluhan judul buku juga tidak bagus.  Karena ....................
Yang bagus adalah Hasil Tulisan yang sudah diedit.  

Supaya tulisan kita bisa keluar, mungkin ada baiknya kita tidak terlalu membebani diri dengan keinginan-keinginan yang naif seperti uang, popularitas, dan sebagainya.  Hal-hal materialistik dan kepuasan psikologis seperti itu akan datang dengan sendirinya bila tulisan-tulisan kita memang bagus dan mencerahkan.  

Bahkan, terkadang tulisan yang kita anggap biasa-biasa saja malah sangat mencerahkan dan dianggap bagus oleh orang lain.  Kadang niat awal itu juga menentukan berkah atau tidaknya suatu tulisan.  Bahkan, bukan tidak mungkin energi ruhaniah sang penulis terkandung dalam suatu tulisan sehingga mampu menyentu hati para pembacanya.  

Menulis adalah ilmu, ketrampilan dan seni sekaligus.  Aspek ilmu berkaitan dengan teori, aspek ketrampilan berkaitan dengan praktek dan aspek seni berkaitan dengan rasa.  Teori bisa dipelajari, sudah banyak buku tentang teori2 menulis.  Praktek bisa dikerjakan, dengan komputer atau buku tulis, atau dengan mengikuti pelatihan2 menulis.  Aspek seni berkaitan dengan rasa, dengan bawah sadar sang penulis.  Bisa saja seorang penulis dipengaruhi oleh penulis idolanya atau buku-buku yang dia baca.  Namun, cepat atau lambat seorang penulis bisa mengembangkan gaya menulisnya sendiri yang unik.  

Bahkan saya pernah membaca kisah tentang Ibn Taimiyah, yang karena dipenjara dan tidak disediakan alat2 tulis, menulis di dinding dengan potongan arang.  Setelah disalin oleh murid-murid beliau, terbitlah Majmu' Fatawa Ibn Taimiyah.  Buya Hamka menyelesaikan Tafsir Al Azhar di penjara. Demikian pula Sayyid Quthb, beliau pun menyelesaikan Tafsir Fii Zhilalil Quran di penjara.  

Salah satu hal yang membuat kita termotivasi untuk belajar dan berlatih menulis adalah mengikuti berbagai macam lomba menulis.  Berkat kemajuan teknologi, zaman sekarang sudah ada yang namanya blog sehingga kita dapat menayangkan tulisan kita.  Orang seluruh dunia bisa membaca tulisan kita sehingga kita bisa mendapat masukan dan komentar, kritik maupun saran.  Sebagian blogger juga telah menggunakan sarana blog itu untuk mengadakan lomba menulis.  

Apabila kita ingin meningkatkan kemampuan kita mengolah kata, sangat disarankan kita mengikuti lomba-lomba seperti itu.  Jangan dulu berpikir menang atau kalah.  Masukan yang kita peroleh dari komentar-komentar yang masuk, baik kritik maupun saran, dapat memperkaya pengetahuan kita dan meningkatkan kemampuan menulis kita.  Tidak masalah apakah tulisan kita menang atau kalah dalam suatu lomba menulis.  Pengalaman dan masukan yang diperoleh selama lomba itu, selama meningkatkan kualitas diri dan tulisan kita, jauh lebih berharga dari hadiah lomba menulis itu sendiri.    

Jika kita menang dalam suatu lomba menulis, anggaplah hadiah dan kepuasan itu sebagai bonus, yang bisa memacu semangat namun tidak membuat kita lupa dan terlena.  Namun, apabila kita belum bisa meraih kemenangan, cukuplah pengalaman dan masukan selama ikut lomba jadi hadiah yang sangat bernilai bagi kita.

Semoga bermanfaat, selamat menulis ..