Tampilkan postingan dengan label gijoe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gijoe. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2009

G.I. Joe: The Rise of Cobra

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
"Whoever forget the past, are condemned to repeat it" - George Santayana

Akhirnya nonton juga nih film yang satu ini, padahal kemarin malam kehabisan tiket

kalau masalah tokoh-tokoh sih udah lumayan kenal, lantaran waktu kecil juga mainan favoritnya ya GI Joe ini, termasuk film kartunnya. Walaupun ada beberapa juga yang kurang familiar.

Awalnya saya kira gak terlalu jauh dari versi kartunnya, ya ada tembak-tembakan dan sebagainya. Standar film action Holywood deh

Baru awal-awal saya udah terperangah, Gila ini psycho banget ya. Berhubung lagi demen banget sama karya-karya Erich Fromm, ya langsung deh manteng gak bekutik kaya orang ditodong

Sejarah? Ho ho ho, baru mulai aja sudah disuguhi scene sejarah yang mengerikan (sejarah apa dan kayak apa nonton sendiri ya, ntar gw dibilang spoiler lagi). Walaupun cuma sebentar, tetapi sangat menentukan pengertian kita tentang film ini. So, jangan dilewatkan ya

Teknologi militer: super canggih pokoke, saya gak bisa jelasin soalnya, selain supaya gak spoiler, emang gak paham (secara gw gaptek gitu loh). Cuma yang saya tahu ya, kalau sampai ada benerannya, gak kebayang deh berapa milyar atau trilyun biayanya. ya mungkin kaya lagu Pesawat tempurnya Iwan Fals yang dulu pernah ngetop itu

Teori konspirasi? apalagi ini sih gak usah ditanya. Walaupun mungkin hanya bisa dideteksi oleh orang-orang tertentu yang sudah terlatih (atau memang memiliki ketertarikan terhadap bidang itu)

Bayangin gini aja deh, kalau saya punya produk dan ingin jadi kaya dengan menjual produk tersebut, maka yang saya butuh adalah Pasar, Tul gak?

Tetapi, kalau prduk saya gunanya hanya untuk membunuh, merusak dan menghancurkan, maka Pasar yang saya butuhkan adalah PERANG, lebih besar dan luas sekalanya, ya makin baik. Makin lama durasinya, ya makin baik juga. Kan supaya saya tetap kaya, perlu ada sustainable profit alias gimana caranya agar duit masuk terus. Jadi kalau bisa ya perangnya jangan berhenti, bahkan jangan pernah berhenti. kalau ada korban dari orang-orang yang tidak berdosa ya emangnya gw pikirin, just business nothing personal.

Bahkan kalau perlu, jual tuh senjata-senjata kepada kedua (atau lebih) belah pihak yang sedang bertikai. Nah, konspirasi apa yang lebih gede dari penjualan senjata kepada pihak-pihak yang saling bertikai.

demikian deh kira-kira isi kepala si James McCullen XVIII, yang udah jualan senjata dari jaman kakek buyutnya. Si kakek buyut ini udah jualan senjata sejak abad ke 17, jadi kebayang gak sih pengalaman makhluk sadis haus darah dalam urusan jualan alat-alat pembunuh.

Kalau dalam teorinya Erich Fromm, orang kaya gini disebut memiliki Hoarding Orientation, yang suka numpuk-numpuk harta gak peduli halal atau haram, merugikan orang lain atau tidak. Mungkin mirip-mirip pendusta agama yang ada dalam Surat Al Maun, yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (apalagi dia juga yang bikin banyak anak jadi yatim dan orang-orang jadi miskin, apa gak lebih gede tuh dosanya)

Yang demen action sih gak bakalan kecewa, porsinya ada kali 75 persen lebih gebuk-gebukan dan tembak-tembakan. Namun, di film ini physical fights secara mengejutkan diimbangi dengan hampir sempurna psychological inner struggle dan inter-personal conflict yang berat dan melelahkan bagi para tokohnya. Kalau di Star Wars kan (kalau gak salah) antara Luke Skywalker dan bapaknya, Darth Vader alias Anakin Skywalker. kalau di sini, konflik serupa ada lebih dari satu dan lebih kompleks. Cinta, dendam, kekecewaan, kemarahan terpendam dan sebagainya semua ada, tinggal tunggu meledaknya saja.

kalau Kisah cinta gimana? Ada, beneran deh, wong saya nonton sendiri koq. Namun, sekali lagi kisah cinta tersebut dibumbui dengan sengatan psikologis yang kental.

Yang jelas, ini salah satu film Holywood yang full psycho, bisa dibilang beda deh dengan yang lain

Yang jelas, gak usah terlalu worry kalau pada belum nonton kartunnya, gak terlalu berhubungan koq. Walaupun tentu saja ada feeling yang beda kalau udah familiar sama versi serial kartunnya, kaya saya, he he he.

Jumlah tokohnya juga lebih sedikit daripada versi mainan atau serial kartunnya (Ya iyalah, kalau tidak nanti jadi crowded alias penuh dong). Ketidakhadiran para gangster Dreadnoks juga sama sekali tidak mengurangi nilai film ini. Suatu hal yang tadinya sempat bikin kecewa, namun kekecewaan itu sudah terobati sekarang.

Namun, jika teman-teman perlu bekal sebelum nonton, saya sarankan sedikit baca-baca, googling kalau perlu tentang psychology, terutama karya-karya Erich Fromm (Erich Fromm lagi, gak ada yang lain ya? He he he, maklum idola) atau yang sejenisnya. Baca sejarah konflik di Eropa terutama Prancis dan Inggris. Biar kebayang lebih jelas bagaimana lihai dan liciknya klan McCullen dalam "menciptakan pasar" untuk produk-produk mereka (Baca: mengadu domba dan membuat macam-macam konspirasi supaya terjadi konflik atau perang). Edisi Koleksi Angkasa juga OK banget untuk dijadikan referensi.

Pelajaran moral dari film ini, menurut saya, adalah:

Manfaatkan waktu damai yang kita miliki saat ini, karena saat-saat indah ini mungkin tidak akan berlangsung lama. Selalu saja ada orang-orang yang ngiler melihat keuntungan yang bisa diperoleh dari "bisnis darah manusia" seperti si Destro. Sebagai konsekwensinya, mereka membutuhkan perang. Peperangan yang dahsyat dan panjang, yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Jangan sampai kita menyesal kenapa kita tidak beramal sholeh pada saat keadaan masih (relatif) damai.

Saya tutup review ini dengan mengutip kata-kata Erich Fromm (lagi-lagi Erich Fromm) dalam karyanya To Have or To Be.

One of the sick elements in our economy is that it needs a large armament industry. Even today, the United States, the richest country in the world, must curtail its expenses for health, welfare, and education in order to carry the load of its defense budget. The cost of social experimentation cannot possibly be borne by a state that is making itself poor by the production of hardware that is useful only as a means of suicide. Furthermore, the spirit of individualism and activity cannot live in an atmosphere where the military bureaucracy, gaining in power every day, continues to further fear and subordination.

by the way, mudah-mudahan si Destro juga ikut baca buku itu, minimal kutipan di atas.

semoga bermanfaat, buat yang mau nonton selamat nonton ya.

Insya Allah tokoh-tokoh dan aspek-aspek lain dari film ini akan saya bahas di lain kali di postingan yang lain

Jumat, 17 April 2009

[Sahabat] Persahabatan di atas Matras

Assalamualaikum, sudah lama tidak posting di Multiply nih, sekalian mau mengejar deadline menulis tentang sahabat, infonya di sini. 

Zainal Alim Murtadho namanya, saya mengenalnya sejak kelas 5 SD.  Saat itu saya baru saja pindah ke SD Negeri Menteng 03 pagi dari sekolah dasar saya  yang pertama yaitu SD Kepodang yang terletak dekat masjid Agung sunda Kelapa.  Kami cepat sekali akrab satu sama lain, mungkin karena kami punya minat dan hobby yang sama.  Maklum namanya juga anak cowok, ya gak jauh-jauh deh dari Video Games.  

Sejak masih jaman Sega Master System yang warnanya merah hitam itu, yang gambarnya masih sederhana banget, sampai yang mulai rada canggih seperti SEGA Genesis/Mega Drive atau Playstation.  Permainan favorit kami ya itu, yang bertema tentang perkelahian, baik yang bekerja sama atau satu lawan satu.  atau bermain dengan action figures GI Joe yang ternyat sama-sama merupakan mainan favorit kami.  Setiap kali saya atau dia punya yang baru, .

Mungkin karena pengaruh permainan games atau film-film action yang beredar saat itu (yang ngetop taqhun 90-an kalau gak salah Van Damme ya)     

Namun, momen-momen paling berkesan adalah saat kita sama-sama mengikuti olah raga beladiri Aikido.  Waktu itu sekitar pertengahan dekade 90-an, kami semua sudah lulus SMA.  

"Kenapa lo mau ikut Aikido, gara-gara nonton Steven Seagal ya?" tanya Mody, panggilan akrab saya pada dia.  "enggak sih, kebetulan gw lihat di satu buku, ada orang bisa ngebanting orang lain dgn cuma megang tangan lawannya, gimana tuh" kata saya.  Saat itu kami langsung praktek semampu kami di rumahnya, lumayan capek juga sih, kan saya belum siap mental tuk dibanting-banting, he he he.  

tempat latihan waktu itu kami berada di suatu gedung departemen pemerintahan di daerah Lapangan Banteng.  Sebleum berlatih, kami harus bekerja sama mengangkat matras yang lumayan banyak, tergantung pada jumlah peserta yang akan berlatih saat itu. Latihan dimulai dengan pemanasan, lalu peragaan teknik sejenak oleh pelatih.  Lalu kami berpasangan melakukan teknik yang diperagakan itu, selama beberapa saat.  Setelah itu, kami kembali ke tempat semula, sambil sebelumnya memberi penghormtan ala orang jepang kepada pasangan kami.  

Lalu, setelah teknik yang lain diperagakan, kami berganti pasangan dan melakukan teknik yang lain tersebut.  demikian berulang-ulang.  

Terkadang latihan menjadi seru saat diadakan Jiyu Waza, alias sparing bebas.  satu orang diserbu secara bergantian oleh para peserta yang lain.  Tidak ada waktu untuk berpikir, hanya bisa bereaksi dan mengantisipasi serangan lawan secepat mungkin.  

walaupun resminya kami mengikuti bela diri Aikido, namun di saat-saat matras yang sudah digelar belum digulung kembali, kami seringkali menjajal teknik-teknik beladiri yang lain.  Terutama kalau para pelatih sedang tidak hadir, he he he.

Pada saat itu, Ultimate Fighting Championship (UFC) dan sejenisnya memang sedang booming di seluruh dunia.  para penggemar bela diri tidak henti-hentinya memperbincangkan pertarungan gila-gilaan yang nyaris tanpa aturan tersebut.  hampir segala cara bertarung dihalalkan, termasuk bergumul di matras/lantai, yang bahasa kerennya Grappling.

Saat masih ada matras yang tersisa, tentu merupakan suatu godaan besar untuk berguling-guling diatasnya sambil meniru para petarung UFC bergumul.  

Pada suatu saat, saat sedang bergumul, saya mencoba menjebak dia dari posisi Guard (di bawah) sambil berusaha menyarangkan choke/cekikan, armbar atau apapun yang bisa saya lakukan untuk membuatnya menyerah.  Namun karena posisi Guard saya sangat lemah, dia justru dengan mudah meng-counter dan membalikkan keadaan dengan teknik favorit para pegulat Smackdown, Scorpion Death Lock.  tidak ada lagi pilihan, kecuali menepuk matras dengan keras tanda menyerah.  

Namun, kemenangan dan kekalsahan tentu saja silih berganti datangnya.  Suatu saat saya berhasil membanting dia ke matras dengan bantingan asal-asalan ala Judo.  Saat di matras, saya berhasil membuatnya menyerah dengan teknik kuncian tangan/armbar. Namun, karena memang dari dasarnya belum terlatih grappling, maka yang dikunci malah pergelangan tangan lawan, dengan teknik yang lazim digunakan dalam Aikido.  

Begitulah Grappling, pada saat lawan berada dalam posisi yang lebih superior atau bahkan sudah berhasil melakukan teknik submission (membuat lawan menyerah seperti kuncian atau cekikan) maka tidak ada lagi pilihan kecuali mengakui kekalahan.

Memaksakan diri untuk terus bertarung pada posisi seperti itu lebih merupakan kebodohan daripada keberanian

Grappling dan seni bela diri lainnya sesungguhnya mengajarkan kita untuk berjuang sampai batas kemampuan kita, sampai titik darah penghabisan.  Namun, pada akhirnya, jika yang datang adalah kekalahan, maka saat itulah kebesaran jiwa kita dan kelapangan dada kita diuji,  mampukah kita mengakui kekalahan kita sambil mengambil hikmah dan pelajaran sebanyak-banyaknya sebagai bekal kita menuju masa depan.  

Sayang sekali, kenangan pergumulan di atas matras itu sulit untuk diulang kembali, mungkin karena kesibukan dan memang sudah lama gak ketemu.  

Kepinginnya sih, nanti kalau film GI Joe: Rise of COBRA udah main, bisa nonton bareng sekalian mengenang masa lalu.  Pingin tahu kalau film kartun jadi orang kaya apa

Kamis, 26 Februari 2009

[Daily Life and social issues] Ponari dan The Dreadnoks



Left to right; Buzzer, Ripper, Monkeywrench, Zarana, Road Pig, Zartan, Zanya, Zandar, Thrasher, Torch


Dreadnoks adalah segerombolan gengster dalam film kartun GI Joe, yang sebentar lagi akan diangkat ke layar lebar dengan judul yang (kurang lebih)sama.  Sayangnya gerombolan ini, yang banyak anggotanya merupakan tokoh2 favorit para penggemar serial GI Joe ini menurut gosip gak bakal muncul.  Konflik utama film itu akan berkisar pada dua tokoh ninja Snake Eyes, pada pihak GI Joe dan Storm Shadow di pihak COBRA.  Rencanya sih, yang akan muncul cuma Boss mereka, Zartan (di gambar yang pakai kerudung coklat)


Sebenarnya, tidak ada yang terlalu istimewa dari gerombolan pengacau yang satu ini.  Bahkan dalam serial kartun GI JOe, mereka lebih banyak menimbulkan kekacauan daripada menyukseskan misi yang ditugaskan kepada mereka.  Namun, sebagai produk seni populer tahun 80-an, menurut Wikipedia, mereka adalah parodi satir dari berbagai fenomena sosial yang terjadi di dunia ini.



Lalu apa hubungannya dengan Ponari, dia kan anak kecil boro-boro naik motor dan menimbulkan segala macam kerusakan seperti gerombolan piaraan teroris COBRA ini?

Persamaaan yang paling mencolok adalah easy money alias uang yang mudah diperoleh. Dreadnoks adalah orang-orang yang cuma menang tampang dan bisanya hanya petantang-petenteng di hadapan yang lebih lemah daripada mereka.  Giliran para jagoan datang, yang bisa mereka lakukan hanya lari terbirit-birit.  Lalu merusak dan merusak di tempat-tempat yang lain.  

Ponari dan keluarganya sekarang juga sedang menikmati uang yand atang dengan mudah.  Bagai air mengalir deras dari bendungan jebol, uang mengalir masuk ke kantong mereka, konon sampai milyaran.  Namun, cepat atau lambat, masyarakat akan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.  Sesungguhnya, yang menentukan kesembuhan seseorang adalah Allah SWT.  Cepat atau lambat kepercayaan masyarakat pada si dukun cilik Ponari akan luntur.  Namun, yang payah kalau hal itu terjadi dalam waktu yang lama.  Apabila Ponari beranjak remaja sambil terus menerus melakukan praktek dukunnya itu, padahal dia seharusnya belajar untuk mempersiapkan diri, nanti kalau sudah tidak laku lagi mau jadi apa?

Inilah yang terkadang tidak disadari oleh orang tua dan para pasiennya.  Mereka tanpa sadar telah merusak masa depan Ponari demi uang yang dapat diperoleh dengan mudah.  Sampai saat ini.   

Beberapa hari yang lalu, tema dari sebuah tayangan dokumenter tengah malam di salah satu tV swasta sangat mengenaskan bagi saya.   Tayangan tersebut membahas investigasi pungli terhadap kendaraan umum dan truk-truk barang.  MOdus yang digunakan bermacam-macam, mulai meminta jatah saat kendaraan ngetem, memperbolehkan kendaraan yang kelebihan beban muatan lewat di jalan2 umum dan sebagainya.  Mungkin ini sebabnya kenapa jalan ke Desa Jagabita hancur total.  Debu yang beterbangan menyebabkan penyakit pernafasan dan TBC yang tidak kunjung sembuh pada warga.

Yang jadi korban ya masyarakat, baik pengemudi maupun yang lain.  

Jumlah nilai transakssi haram melalui beragam pungli tersebut secara keseluruhan tidak main-main, 18 triliyun

Suatu jumlah rupiah yang sangat banyak, yang seandainya dipergunakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat maka akan sangat besar sekali manfaatnya.  Sungguh sayang sekali

Demikianlah tulisan amburadul ini, he he he.

Sebenarnya ini hanya ungkapan kekecewaan kenapa gerombolan Dreadnoks gak muncul di film GI Joe versi layar lebar.  Padahal kan banyak gang motor di AS, tinggal minta aja utk jadi figuran. kan banyak orang mau jadi artis jaman susah gini

semoga bermanfaat ya