Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

Yip Man 2

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Saat pulang dari Jakarta Book Fair, saya mampir ke Lotte Mart Ratu Plaza karena perlu membeli sesuatu. Saat itu, di bagian elektronik, ada TV yang menyajikan film Yip Man. Yip Man adalah guru dari Bruce Lee, salah satu pendekar Kung Fu dan bintang film beladiri paling terkenal di dunia. Namun kali ini bukan sang bintang yang jadi fokus perhatian namun gurunya, Yip Man. Yip Man menguasai ilmu beladiri Cina yang bernama Wing Chun. Jika banyak jurus kungfu klasik yang mengambil gerakan -gerakan hewan seperti harimau atau naga, Wing Chun mengambil gerakan manusia. Jadi, wing chun adalah teknik berkelahi manusia. Teknik-tekniknya sederhana namun bisa digunakan secara efektif untuk membela diri.

Berhubung numpang nonton, saya nontonnya tidak lengkap. Tapi cukup untuk mengambil kesimpulan dari film tersebut. Saya akui film itu cukup bagus dan sangat menghibur, namun terlalu banyak yang didramatisir. Karena diambil dari kisah nyata, seharusnya film itu lebih mendekati kehidupan asli sang master. Namun, namanya juga film, gak seru kalau tidak didramatisir dan kurang menghibur kalau tidak ditambahi atau dibumbui. Contohnya adalah saat Yip Man hendak menolong salah satu muridnya yang ditahan para anggota perguruan lain di pasar ikan. Mula-mula Yip Man dan muridnya hanya menghadapi sedikit lawan, sehingga cukup masuk akal bila mereka menang. Namun, makin lama lawan makin banyak sehingga malah jadi seperti film-film kung fu jaman dahulu. Akhirnya, Yip Man dan muridnya malah dikeroyok ratusan orang dan tetap menang. Setidaknya mereka tetap survive karena ada seorang teman yang membantu dan berakhir kompromi. Penonton pun, setidaknya yang cerdas dan kritis, mulai bertanya tanya benar tidak sih kejadiannya seperti itu. Seperti juga saat film mendekati klimaks, ketika Yip Man berhadapan dengan Taylor "The Twister" Milos, sang petinju rasis yang benci dengan orang-orang Cina. Saat itu terjadi perkelahian super dramatis yagn sepertinya tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Mungkin banyak yang meragukan Yip Man mampu bertahan dari gempuran pukulan Twister yang mendarat telak di kepalanya. Para petinju biasanya adalah seorang "professional fighter" yang hidupnya memang untuk bertarung dan tentunya sulit dikalahkan seorang ahli beladiri yang berlatih tidak sekeras mereka. Demikian menurut sebuah artikel dari majalah Beladiri Black Belt yang pernah saya baca. Walaupun tentu saja ada pengecualian, seperti saat Royce Gracie berhasil mengalahkan Art Jimmerson di pertandingan UFC pertama.

Namun, di luar faktor-faktor tersebut, banyak adegan perkelahian yang menarik untuk disaksikan. Teknik-teknik Wing Chun disajikan dengan apik dan mengalir sangat indah. Perkelahian-perkelahian dalam film itu sangat berbeda dengan yang biasa kita saksikan dalam film-film kungfu pada umumnya. Tidak banyak tendangan, apalagi tendangan tinggi dan tendangan sambil melompat yang dilakukan. Tendangan-tendangan yang ada sebagian besar tendangan rendah yang ditujukan untuk melumpuhkan kaki lawan, terutama di sendi lutut. Tidak seperti Taek Won Do dan banyak beladiri lainnya, Wing Chun lebih banyak menggunakan serangan tangan. Pertahanan juga sebagian besar menggunakan tangan. Wing Chun lebih mengutamakan keseimbangan dan mempertahankan "garis tengah" dari tubuh sang praktisi. Adegan latihan dengan Mok Yan Jong atau orang-orangan kayu juga ditampilkan dengan sangat apik dengan suara khas yang timbul dari benturan tangan dengan alat berlatih tersebut. Selain faktor perkelahian dan beladiri, juga ditampilkan seorang polisi korup yang suka terima sogokan dan seorang editor surat kabar yang memiliki keberanian memberitakan kebenaran. Si editor membuat berita-berita tentang kecurangan orang-orang Barat dalam pertandingan tinju yang menyebabkan kematian Hung, rival Yip Man. Konferensi pers penuh basa basi juga disajikan dengan baik, menyajikan kesombongan dan kemunafikan orang-orang Barat dan keberanian orang-orang Cina, terutama Yip Man.

Pesan-pesan kemanusiaan pun disajikan dengan baik, seperti saat Yip Man mengatakan bahwa dia tidak ingin membuktikan mana yang lebih tangguh, ilmu beladiri Cina atau tinju ala Barat. Memang, saat itu HOng Kong masih berada dalam kekuasaan kolonial Inggris. Bangsa Barat, terutama Inggris, menganggap bahwa bangsa Asia lebih rendah daripada mereka. Perbedaan warna kulit membuat bangsa Inggris merasa lebih mulia dari orang -orang Asia. Bisa jadi inilah misi film ini, untuk menggambarkan betapa berat penderitaan orang-orang Cina di bawah kekuasaan kolonial Inggris. Bagaimanapun juga film ini perlu juga disaksikan, baik oleh para pemerhati sejarah atau para praktisi beladiri, apapun alirannya. Namun, nalar kritis dan pikiran terbuka tetap perlu dipertahankan karena bisa dibilang hampir tidak ada film yang tidak mengandung propaganda di dalamnya.

Semoga bermanfaat.


Rabu, 14 Maret 2012

Habiburahman El-Shirazi: Dari Novel Menjadi Film, Bagaimana Caranya?

http://wasathon.com/bincang_tokoh/read/habiburahman_elshirazi_dari_novel_menjadi_film_bagaimana_caranya/
Novelis Habiburahman El-Shirazi, siapa yang tak kenal tokoh ini. Alumnus Universitas Al- Azhar ini dikenal sebuah penulis novel diantaranya Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Bumi Cinta dan terakhir Cinta Suci Zahrana yang sekarang sedang melalui proses untuk difilmkan.



Dalam event Islamic Book Fair 2012 di Istrora Senayan Jakarta, (14/03) Kang Abik, panggilan keren tokoh ini menjadi salah satu narasumber dalam seminar ”Seni: Antara Tuntutan Masyarakat dan Tuntunan Syariat” yang diadakan oleh Komisi Seni dan Budaya Majelis Ulama Indonesia (MUI).



Dalam kesempatan tersebut, Kang Abik mengatakan bahwa sudah saatnya penulis untuk mengembangkan diri dari kontribusi produksi teks menjadi produk audio visual seperti film. Sebagai penulis yang sejatinya seorang seniman, tidak boleh bekerja sendirian, seniman mesti mau bekerja sama, kalau tidak hidupnya bakal sengsara.



Salah satunya adalah bagaimana penulis mesti bekerjasama dengan produser baik film maupun sinetron agar nilai-nilai dalam sebuah karya sastra bisa disiarkan dan dipahami secara luas dalam masyarakat. Terkait dengan bagaimana proses sebuah karya sebagai contoh novel menjadi sebuah film, tim Wasathon berhasil melakukan Wawancara walau hanya singkat (2 Menit saja) berhubung waktu solat Maghrib sudah berkumandang. Inilah petikannya: (please follow link di atas :)

Rabu, 07 Maret 2012

Negeri 5 Menara: Man Jadda Wa Jadda

http://wasathon.com/humaniora/read/negeri_5_menara__man_jadda_wa_jadda/
Sebuah cerita berlatar belakang beberapa daerah di Indonesia diantaranya Sumatera Barat, Jawa Timur dan Bandung. Yang berkisah tentang kehidupan 6 orang anak di Pesantren. Dibalut dengan keindahan alam Sumatera Barat. Cara jual beli yang unik, dengan saling memasukkan tangannya ke dalam sarung yang dipakai oleh pembeli. Dibumbui adegan-adegan yang mampu membuat semua penonton dalam bioskop tertawa.

nah, sebelum nonton, baca dulu tulisannya di Wasathon.com, biar lebih mantap

Kamis, 18 November 2010

[Bedah Film] Simbologi Yahudi dalam film Waterworld

Sudah nonton film Waterworld, yang dibintangi Om Kevin Costner? Film itu mengisahkan saat dunia tenggelam oleh lautan karena lapisan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair.  Sekelompok orang bertahan hidup di sebuah Atol atau pulau karang buatan dalam bayang-bayang teror sekelompok gangster.  Mereka menguburkan yang meninggal dari masyarakat itu ke sebuah genangan lumpur agar diserap sebuah pohon buah.  Mereka bertahan hidup dengna makan buah dari pohon itu.  Sebagian dari mereka mempercayai mitos "Dry Land" atau Tanah yang kering, tanah di mana tidak ada air menggenangi.  Namun yang lain tidak percaya, bahkan putus asa dan percaya mereka akan tinggal seumur hidup di tengah lautan maha luas tersebut.

 

Seorang pengembara datang untuk menukar barang pada mereka.  Namun, karena ada hal-hal yagn tidak bisa disetujui dan adanya salah paham, si pengembara sempat hendak dieksekusi penghuni Atol. Saat itulah, sekelompok gangster, yang dalam film itu disebut Smokers menyerang mereka.  Para Smokers hendak menculik seorang anak kecil yang memiliki tatoo di punggungnya. Tatoo tersebut bukan sembarang tatoo tapi merupakan peta petunjuk menuju Dryland.  Selebihnya, ya seperti film-film action Holywood pada umumnya.  Yang jelas sih jagoannya menang dan mereka berhasil menemukan teka-teki Dryland itu tadi.

 

Simbologi Yahudi

Tanah yang kering atau Dryland dapat diparalelkan dengan simbologi Yahudi tentang Tanah yang dijanjikan.  Tanah ini sering disebut juga dengan "a land flowing with milk and honey" atau The Promised Land.  Bangsa Yahudi, yang merupakan bagian dari Bani Israil, merindukan tanah yang dijanjikan Tuhan tersebut.  Namun, sebagian dari mereka merasa putus asa dan menyerah pada nasib menjadi budak Firaun dan kaum Mesir Kuno.  Kita bisa menyaksikan karakter Bani Israil yang sedang putus asa tersebut di film Ten Commandments, baik yang versi tahun 1956 atau yang lebih baru.


Tokoh Deacon sebagai personifikasi Dajjal

Pemimpin kaum Smokers, Deacon, adalah sesosok figur juru selamat palsu.  Dia menjanjikan Dryland atau Tanah Kering pada para pengikutnya.  Enola, si anak perempuan bertato peta, dia tunjukkan pada para pengikutnya agar mereka percaya.  Para Smokers pun mendayung kapal tanker bekas yang menjadi markas mereka dengan penuh semangat.  Padahal, misteri peta di punggung Enola belum terpecahkan dan Deacon sendiri berbohong pada para pengikutnya. 

Deacon sendiri kehilangan sebelah mata karena sebuah ledakan dalam pertempuran dengan sang Pengembara. Mirip dengan Dajjal yang disebutkan dalam suatu hadits ang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: "Dajjal itu buta matanya sebelah kiri, berambut keriting, mempunyai surga dan neraka. Maka nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka" [Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa 'ah, Bab Dzikir Ad-Dajjal 18: 60-61]
 
sumber: almanhaj

Tentang Bani Israil
 

Karena membangkang terhadap perintah Allah SWT yang diturunkan lewat Nabi Musa, Bani Israil pun ter-diaspora selama puluhan tahun sebelum mencapai kejayaan di zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Namun, kejayaan mereka pun hanya berlangsung sebentar dan kerajaan mereka terbelah dua.  Kerajaan Israil di Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan. Kedua kerajaan itu pun terbelit konflik internal dan perseteruan antar keduanya.  Bangsa pagan pun ikut berperan dalam keruntuhan kejayaan Bani Israil.  Bahkan kerajaan Israil di Utara pun sampai hancur dan kesepuluh suku yang mendukungnya lenyap sehingga disebut The Lost Tribe of Israel.


Kembali bangsa Israil yang tersisa, suku Yehuda dan Bunyamin, tercerai berai.  Mereka pun jatuh berulang kali ke dalam cengkeraman bangsa pagan seperti Babylonia, Assyiria, Persia dan Romawi.    Penderitaan dan penjajahan yang mereka alami menyebabkan mereka merindukan seorang juru selamat yang akan mengulangi kembali kejayaan mereka di zaman dahulu.  Si pengembara, yang diperankan oleh Kevin Costner, merupakan personifikasi dari juru selamat kaum Yahudi.

 

Bani Israil disebut berulang kali dalam Al Quran sehingga para sahabat pun merasa heran.  Mereka bertanya apakah Al Quran ini diturunkan untuk nabi Musa.  Al Quran menerangkan begitu banyak tentang Bani Israil agar umat Islam mengambil pelajaran dan sejarah kehidupan mereka.  Jonru, seorang trainer kepenulisan, pernah bilang bahwa kita bisa belajar dari tulisan yang bagus tapi kita bisa belajar lebih banyak dari tulisan yang jelek. Bisa jadi hal yang sama terjadi pada sejarah Bani Israil.  Kita bisa belajar banyak dari orang baik, namun kita bisa belajar lebih banyak dari orang jahat.  Jadi, sejelek-jelek film Holywood, masih ada hal-hal yang bisa kita pelajari dari sana. Namun, pikiran harus tetap kritis dan hati selalu wasapda.  Bukankah kita tahu siapa yang ada di balik film-film tersebut?

 

Semoga bermanfaat   by Muhammad Nahar

 

Referensi

Buku:
Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia, ZA Maulani

Film:

Waterworld: 1995
Ten Commandments: 1956

Situs:
 
http://www.imdb.com/title/tt0114898/
 
http://en.wikipedia.org/wiki/Kingdom_of_Israel_%28united_monarchy%29

http://en.wikipedia.org/wiki/Israelites

http://www.tragedipalestina.com/sejarah.html

http://www.almanhaj.or.id/content/2105/slash/0 

Senin, 11 Oktober 2010

[Tagged Posting] Fifteen Films You've Seen That will Always Stick with You

Kena tag dari mbak Gita Lovusa di FB, diminta menulis minimal 15 film yang berkesan dan sulit dilupakan. Sekalian untuk belajar menulis dan mengenang masa yang lalu .. :D


Kategori I:

Film-film djadoel, yang sudah dibuat sebelum yang menulis tulisan in lahir .. he he he

1. The massage:

Walaupun tokoh sahabat Hamzah dipernakan orang non muslim, yaitu Anthonny Quin, namun film ini cukup baik menggambarkan pribadi Rasulullah dan kehidupan beliau bersama para sahabat.  Adegan saat Abu Sofyan menyadari kesalahannya menyembah berhala sangat mengharukan.

2. Lion of the Desert: 1981

Sebuah film lain yang dibintangi Anthonny Quin. Berkisah tentang pahlawan Muslim Libya dalam menghadapi tentara Fasis Italia di bawah kekuasaan sang Diktator Bennito Mussolini.  Marsekal Graziani, sang komandan, menaruh hormat yang dalam pada Umar Mukhtar. Rasa hormat itu terlihat saat Graziani memerintahkan seorang penjaga melepaskan Umar Mukhtar yang hendak sholat dan memberikan penghormatan terakhir saat sang pahlawan dieksekusi dengan cara digantung.

3. The Ten Commandments: 1956

berkisah tentang kehidupan Nabi Musa di Istana Firaun.  Walaupun dibesarkan dan diasuh dengan fasilitas mewah ala mesir Kuno, sang Nabi tetap berusaha membebaskan kaumnya yang tertindas. Adengan paling mengerikan, dan cukup menjijikkan, adalah saat Bani Israil berpesta pora merayakan Tuhan mereka yang terbuat dari emas dalam bentuk patung anak sapi. Dalam versi tahun 2007, karakter kaum Bani Israil yang enggan untuk taat pada perintah syariat agama mereka digambarkan dengan lebih jelas.

4. Guns of Navarone 1961

Sekelompok pasukan khusus Sekutu ditugaskan untuk menghancurkan benteng Jerman Nazi yang dipesenjatai Flak Cannon raksasa.  Perjuangan mereka tidak hanya berhadapan dengan tentara Nazi namun juga musuh dalam selimut yang ada di dalam tim elite itu sendiri. Yang ingin tahu situasi perang dunia II perlu nonton film ini.  Adegan terakhir sangat spektakuler sehingga masih ingat sampai sekarang, bisa dicari di Youtube.

sequel Guns of Navarone masih menceritakan tim yang sama, namun mereka berusaha menghancurkan bendungan untuk meredam gerak maju pasukan Nazi Jerman.

5. Omar Khayyam: 1957

Seorang penyair yang kekasihnya dinikahi oleh Sultan.  Dalam kepedihannya, sang penyair tetap membantu kerajaan menghancurkan Sekte Assassin. Dia berhasil menyusup ke benteng kaum pembunuh tersebut dan mengetahui kelemahan benteng itu, yaitu minyak yang ada di gua di dasar benteng. Begitu disulut, api itu tidak bisa padam bahkan apabila disiram air sebanyak apapun.  Benteng kaum Assasin pun hancur. Sang penyair mendapatkan kembali kekasihnya karena sultan telah tiada dan penggantinya mengembalikan sang kekasih kepada sang penyair.

Nonton sambil begadang depan TV waktu malam tahun baru, entah tahun berapa .. :D

Note: sepengetahuan saya, dalam sejarah benteng kaum Assassin dihancurkan tentara Mongolia

Note: film Ben Hur dan Spartacus belum nonton sampai habis jadi belum bisa nulis ttg kedua film tersebut, padahal bagus sekali.

Kategori II

Film tentang sejarah

 6. Luther: kisah hidup sang pendiri Protestan. Termasuk adegan penempelan 95 thesis yang terkenal dalam sejarah.

7. Kingdom of Heaven: berkisah tentang sejarah perang salib III sebelum kedatangan Richard the Lion Heart.  Ada adegan yang tidak dimuat yaitu pertempuran Hattin atau Battle of Hattin yang merupakan titik balik kaum Muslimin menghadapi musuh mereka dalam perang besar tersebut.  Kekurangakuratan sejarah yang lain yaitu Richard de Chantion bukanlah pemimpin Templar namun salah satu sekutu terdekat mereka. 


Kategori III

 

Film yang mengandung kritik sosial dan menggambarkan kemiskinan dan kehidupan orang menengah ke bawah. Film-film ini baik untuk disaksikan oleh mereka yang ingin mengembangkan jiwa sosial di dalam diirnya.

 

8. Damai kami sepanjang hari:

Film ini diangkat dari salah satu lagu hits-nya om Iwan Fals, berkisah tentang lika liku hidup seorang pengamen yang berhasil memperbaiki kehidupannya dengan meniti karir sebagai seorang penyanyi.  Dibintangi Iwan Fals, Rima Melati dll


Indah Pagi Ini
Nada Sumbang
Enyahlah Kau
Biarkan Kami

Semoga Akan Tetap Abadi
Pagi Ini
Pagi Esok
Esok Hari
Hari Nanti

Semoga Tak Kan Pernah Berhenti
Canda Hari Pagi
Canda Pagi Hari
Damai Kami Sepanjang Hari

9. Voces Inocentes atau Innocent Voices:
 
Film berbahasa Spanyol ini mengisahkan anak-anak yang dipaksa menjadi tentara dalam perang saudara di El Salvador tahun 1980-an.  Konflik kejiwaan anak-anak tersebut dan kemiskinan yang menghimpit orang-orang di sana digambarkan dengan jelas sehingga mengharukan dan menguras air mata. Soundtrack lagu ini berkisah tentang kesedihan orang-orang yang tinggal dalam Casas de Carton atau rumah-rumah kardus

Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón
qué lejos pasa la esperanza en las casas de cartón

Kategori III

Film yang diangkat dari mainan anak-anak, komik atau video game:

10. Masters of the Universe: 1987

Diangkat dari mainan orang-orangan alias action figures yang penjualannya paling sukses di tahun 1980-an.  Berkisah tentang sekelompok jagoan dari planet Eternia yang melarikan diri dari kejaran penjahat bermuka tengkorak bernama Skeletor.  akhirnya, He Man dan para jagoan lainnya terdampar di bumi dan pertempuran pun berlanjut di planet kita tercinta ini.  Karakter yang muncul hanya segelintir dari karakter yagn ada di dalam seri action figures-nya

Cerita original Master of the Universe sendiri memang terlalu panjang untuk dimuat ke dalam film layar lebar jadi banyak yang kecewa sama film ini. Aktor Dolph Lundgren dianggap terlalu serius memerankan karakter He Man yang walaupun kuat dan jago berkelahi namun juga murah senyum dan suka bercanda.


11. The Punisher: 1999 dan 2004

Fav. Quote: Sic vic pacem para Bellum, if you want peace prepare for war

One man Army ala Marvel Comics jumps into the silver screen ... scene favorit dari versi tahun 1999, saat Frank Castle ditanya mantan atasannya tentang pembunuhan sekitar 200-an penjahat selama beberapa bulan, dijawab dgn singkat .. Progress

12. G.I.JOE The Rise of Cobra: 2009

Sebuah film lain yang diambil dari serial mainan anak-anak yang laris tahun 1980an namun kisahnya dirombak total. Sayang The Dreadnocks tidak ambil peranan, hiks

Kategori IV: film tentang atau yang mengandung Konspirasi

13. National Treasure 1 and 2: Masonic Conspiracies, what more could you expecet ..  .. .and some excellent historical scene  of course .. :D

14. The Da Vinci Code: udah baca kan bukunya .. ya filmnya mirip deh .. :D

15. 300 ... another bloodbath on the silver screen .. including a war rhino

bonus ..

16. Revenge of the Ninja: 1983, dibintangi Shô Kosugi. Salah satu film Ninja terbaik yang pernah ada. Adegan terakhir paling top masih bisa dilihat di video Youtube yang ini

17. Above The Law: film pertama Steven Seagal, nonton di rumah teman waktu sama2 masih latihan Aikido.  Teknik2 dari dojo langsung dibawa ke layar perak .. :D


Semoga bermanfaat

Untuk teman-teman yang ingin belajar menulis secara GRATIS, silahkan klik link-link berikut ini:

   1. Gratis 3 Bab Buku Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat

   2.  Newsletter Gratis Pintar Menulis dalam 9 Minggu

   3.  SMO Kelas Free Trial

   4.  Info Ebook Gratis, Langsung ke Email Anda. 100% Gratis

 

Rabu, 07 Juli 2010

[Daily Life] Empati di petang hari

Bukan kebetulan saya merasa mendapat banyak pelajaran tentang empati sore kemarin.  Pada mulanya sih karena hendak mengambil HT di Radio D FM, dari mbak Ari.  Untuk sampai ke daerah Warung Buncit, yang paling praktis walaupun tidak terlalu nyaman krn jam super sibuk, adalah dengan menggunakan Trans Jakarta alias Busway. 

Namun, walau sudah dikasih "privilege" untuk melwati jalur sendiri, terpisah ari kendaran lain, namun tetap saja jalur itu penuh.  Bukan karena armada buswaynya banyak, namunbanyak kendaraan pribadi yang ikutan nimbrung di jalur itu.  Banyak motor dan mobil yang masuk sehingga si busway pun ikut-ikutan tersendat.  Orang yang berdiri dekat saya pun berkata pada temannya "nah, berasa kan, sudah naik busway masih lambat.  Makanya, kalau naik mobil jangan masuk jalur busway... ". Yup, sebuah pelajaran yang luar biasa tentang empati.  Rela bermacet ria karena bertenggang rasa dengan para pengguna trans Jakarta mungkin bukan pilihan yang menyenangkan, namun dengan mengikuti peraturan seperti itu, semoga ketertiban dan kelancaran yang kita dambakan bersama bisa terwujud.  Kebaikan sekecil apapun tentu tidak akan disia-siakan oleh Dia Yang Maha Pemurah.  

Setelah bertemu mbak Ari dan meminjam HT, saya sempatkan untuk berkunjung ke Jakarta Book Fair di Senayan.  Dalam perjalanan, bis Kopaja yang saya tumpangi berjalan pelan, seperti biasa hendak menambah penumpang.  Namun,  bis besar yang ada di belakangnya membunyikan klakson berulang kali, tidak sabar hendak mendahului.  Mungkin karena penumpang sudah penuh atau ada keperluan lain.  Kopaja pun enggan beranjak lebih cepat, sang supir malah berteriak memaki bus yang di belakangnya.  "Kita kan sama-sama cari duit ......... bla bla bla". Makian tersebut tidka bisa diterima supir bis besar dan kondekturnya.  Makian yang tidak kalah sengit pun terlontar, hingga tidak hanya isi kebon binatang yang keluar namun, maaf, apa yang biasa dibuang ke belakang juga ikutan muncul. 

Suasana yang "chaotic" itu membuat saya bergegas keluar dan berjalan kaki ke Istora, walau masih agak jauh.  

Di bookfair saya melihat buku yang ditulis oleh teman-teman Kajian Zionisme.  Buku yang juga memuat tulisan saya tersebut ada di stand Penerbit Cakrawala, harganya sudah didiskon ... sekalian promosi ..




Buku yang berkisah tentang penjarah organ tubuh orang-orang Palestina oleh kaum Zionis itu juga dilengkapi tulisan-tulisan tentang Zionisme.  Banyak diantara tulisan tersebut yang merupakan hal-hal mendasar yang perlu diketahui siapapun yang berminat mengkaji zionisme.  Insya Allah tidak rugi apabila ada diantara sahabat sekalian yang membeli, membaca dan mempelajari isi buku tersebut.  Bicara tentang empati, Insya Allah semua tulisan dalam buku itu dapat menggugah empati.  

Pulangnya, saat hari sudah malam, saya naik kopaja lagi.  Pada saat hendak turun, saya tidak tahu apakah sudah di tempat yang tepat atau belum.  Namun, lagi-lagi ketiadaan empati dari supir membuat hati jadi tidak nyaman.  "Turun di mana pak" kata supir dengan suara keras.  Ya sudah .. Langsugn lompat saja deh, untung selamat ...

Malam, karena belum bisa tidur, saya melihat TV.  dari saluran TV luar negeri, ada film berjudul City of Life and Death.  Sebuah film yang dibuat berdasarkan "Pembantaian Nanking" yang terjadi tahun-tahun awal pada perang Dunia II.  Film tersebut memang cukup sadis, dengan penggambaran pembantaian kekerasan yang vulgar.  Namun, di luar segala kontroversi, film tadi bisa membantu kita mengasah empati dan mensyukuri betapa nyaman kehidupan kita ini.  Paling tidak, negeri ini belum dilanda perang lagi seperti yang pernah dialami para pendahulu kita dulu.  

Empati mungkin bukan segala-galanya, namun tanpa empati, tidak ada hubungan yang bisa dijalin dengan baik, dan kerusakan hubungan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan segala-galanya. 

Semoga bermanfaat

Kamis, 05 November 2009

[YouTube] Lagu Djadoel soundtrack Si Buta dari Goa Hantu




Akhirnya, lagu djadoel yang sudah lama saya cari2 ketemu juga. Lagu ini merupakan opening dari salah satu film legendaris Indonesia,

Si Buta dari Gua Hantu, tetapi film yang keberapa saya lupa :(

Film ini menampilkan tokoh legendaris komik Indonesia bernama si Badra Mandrawata dengan monyetnya yang bernama Kliwon, ciptaan Ganes TH.

Dulu pernah nonton film ini di Bioskop, entah Pasar Rumput atau Guntur, agak lupa juga :D, sekitar tahun 80-an akhir atau 90-an awal. Bayarnya murah lagi, he he he

Setelah nonton, cari-cari lagunya gak ketemu juga, maklum waktu itu belum ada internet :D. Akhirnya, setelah bertahun-tahun ketemu juga

Judulnya belum tahun, tetapi lyric-nya kira-kira begini:

tiada setitik sinar terpandang
kala surya berganti rembulan
langit lenggang tempat ku bernaung
rimba dan gunung aku berlindung

tiada setitik sinar terpandang
kala surya berganti rembulan
langit lenggang tempatku bernaung
rimba dan gunung berlindung

Kemana kan ku bawa nasibku
bumi semakin panas terbentang
penuh murka dan serakah nafsu
tiada setitik sinar terpandang

tidak kudengar dan kurasakan
sebening diri melintas bintang
tiada setitik sinar terpandang
kucari kasih datang menghadang

Selamat menikmati semoga terhibur

Sumber: Youtube

Selasa, 29 September 2009

Horsemen




pingin nonton yang satu ini, sebab ada The Four Horsemen

"These people choose The Four Horsemen as a model for a reason ..."

What is THE REASON???? .......... makanya nonton

Kamis, 13 Agustus 2009

G.I. Joe: The Rise of Cobra

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
"Whoever forget the past, are condemned to repeat it" - George Santayana

Akhirnya nonton juga nih film yang satu ini, padahal kemarin malam kehabisan tiket

kalau masalah tokoh-tokoh sih udah lumayan kenal, lantaran waktu kecil juga mainan favoritnya ya GI Joe ini, termasuk film kartunnya. Walaupun ada beberapa juga yang kurang familiar.

Awalnya saya kira gak terlalu jauh dari versi kartunnya, ya ada tembak-tembakan dan sebagainya. Standar film action Holywood deh

Baru awal-awal saya udah terperangah, Gila ini psycho banget ya. Berhubung lagi demen banget sama karya-karya Erich Fromm, ya langsung deh manteng gak bekutik kaya orang ditodong

Sejarah? Ho ho ho, baru mulai aja sudah disuguhi scene sejarah yang mengerikan (sejarah apa dan kayak apa nonton sendiri ya, ntar gw dibilang spoiler lagi). Walaupun cuma sebentar, tetapi sangat menentukan pengertian kita tentang film ini. So, jangan dilewatkan ya

Teknologi militer: super canggih pokoke, saya gak bisa jelasin soalnya, selain supaya gak spoiler, emang gak paham (secara gw gaptek gitu loh). Cuma yang saya tahu ya, kalau sampai ada benerannya, gak kebayang deh berapa milyar atau trilyun biayanya. ya mungkin kaya lagu Pesawat tempurnya Iwan Fals yang dulu pernah ngetop itu

Teori konspirasi? apalagi ini sih gak usah ditanya. Walaupun mungkin hanya bisa dideteksi oleh orang-orang tertentu yang sudah terlatih (atau memang memiliki ketertarikan terhadap bidang itu)

Bayangin gini aja deh, kalau saya punya produk dan ingin jadi kaya dengan menjual produk tersebut, maka yang saya butuh adalah Pasar, Tul gak?

Tetapi, kalau prduk saya gunanya hanya untuk membunuh, merusak dan menghancurkan, maka Pasar yang saya butuhkan adalah PERANG, lebih besar dan luas sekalanya, ya makin baik. Makin lama durasinya, ya makin baik juga. Kan supaya saya tetap kaya, perlu ada sustainable profit alias gimana caranya agar duit masuk terus. Jadi kalau bisa ya perangnya jangan berhenti, bahkan jangan pernah berhenti. kalau ada korban dari orang-orang yang tidak berdosa ya emangnya gw pikirin, just business nothing personal.

Bahkan kalau perlu, jual tuh senjata-senjata kepada kedua (atau lebih) belah pihak yang sedang bertikai. Nah, konspirasi apa yang lebih gede dari penjualan senjata kepada pihak-pihak yang saling bertikai.

demikian deh kira-kira isi kepala si James McCullen XVIII, yang udah jualan senjata dari jaman kakek buyutnya. Si kakek buyut ini udah jualan senjata sejak abad ke 17, jadi kebayang gak sih pengalaman makhluk sadis haus darah dalam urusan jualan alat-alat pembunuh.

Kalau dalam teorinya Erich Fromm, orang kaya gini disebut memiliki Hoarding Orientation, yang suka numpuk-numpuk harta gak peduli halal atau haram, merugikan orang lain atau tidak. Mungkin mirip-mirip pendusta agama yang ada dalam Surat Al Maun, yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (apalagi dia juga yang bikin banyak anak jadi yatim dan orang-orang jadi miskin, apa gak lebih gede tuh dosanya)

Yang demen action sih gak bakalan kecewa, porsinya ada kali 75 persen lebih gebuk-gebukan dan tembak-tembakan. Namun, di film ini physical fights secara mengejutkan diimbangi dengan hampir sempurna psychological inner struggle dan inter-personal conflict yang berat dan melelahkan bagi para tokohnya. Kalau di Star Wars kan (kalau gak salah) antara Luke Skywalker dan bapaknya, Darth Vader alias Anakin Skywalker. kalau di sini, konflik serupa ada lebih dari satu dan lebih kompleks. Cinta, dendam, kekecewaan, kemarahan terpendam dan sebagainya semua ada, tinggal tunggu meledaknya saja.

kalau Kisah cinta gimana? Ada, beneran deh, wong saya nonton sendiri koq. Namun, sekali lagi kisah cinta tersebut dibumbui dengan sengatan psikologis yang kental.

Yang jelas, ini salah satu film Holywood yang full psycho, bisa dibilang beda deh dengan yang lain

Yang jelas, gak usah terlalu worry kalau pada belum nonton kartunnya, gak terlalu berhubungan koq. Walaupun tentu saja ada feeling yang beda kalau udah familiar sama versi serial kartunnya, kaya saya, he he he.

Jumlah tokohnya juga lebih sedikit daripada versi mainan atau serial kartunnya (Ya iyalah, kalau tidak nanti jadi crowded alias penuh dong). Ketidakhadiran para gangster Dreadnoks juga sama sekali tidak mengurangi nilai film ini. Suatu hal yang tadinya sempat bikin kecewa, namun kekecewaan itu sudah terobati sekarang.

Namun, jika teman-teman perlu bekal sebelum nonton, saya sarankan sedikit baca-baca, googling kalau perlu tentang psychology, terutama karya-karya Erich Fromm (Erich Fromm lagi, gak ada yang lain ya? He he he, maklum idola) atau yang sejenisnya. Baca sejarah konflik di Eropa terutama Prancis dan Inggris. Biar kebayang lebih jelas bagaimana lihai dan liciknya klan McCullen dalam "menciptakan pasar" untuk produk-produk mereka (Baca: mengadu domba dan membuat macam-macam konspirasi supaya terjadi konflik atau perang). Edisi Koleksi Angkasa juga OK banget untuk dijadikan referensi.

Pelajaran moral dari film ini, menurut saya, adalah:

Manfaatkan waktu damai yang kita miliki saat ini, karena saat-saat indah ini mungkin tidak akan berlangsung lama. Selalu saja ada orang-orang yang ngiler melihat keuntungan yang bisa diperoleh dari "bisnis darah manusia" seperti si Destro. Sebagai konsekwensinya, mereka membutuhkan perang. Peperangan yang dahsyat dan panjang, yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Jangan sampai kita menyesal kenapa kita tidak beramal sholeh pada saat keadaan masih (relatif) damai.

Saya tutup review ini dengan mengutip kata-kata Erich Fromm (lagi-lagi Erich Fromm) dalam karyanya To Have or To Be.

One of the sick elements in our economy is that it needs a large armament industry. Even today, the United States, the richest country in the world, must curtail its expenses for health, welfare, and education in order to carry the load of its defense budget. The cost of social experimentation cannot possibly be borne by a state that is making itself poor by the production of hardware that is useful only as a means of suicide. Furthermore, the spirit of individualism and activity cannot live in an atmosphere where the military bureaucracy, gaining in power every day, continues to further fear and subordination.

by the way, mudah-mudahan si Destro juga ikut baca buku itu, minimal kutipan di atas.

semoga bermanfaat, buat yang mau nonton selamat nonton ya.

Insya Allah tokoh-tokoh dan aspek-aspek lain dari film ini akan saya bahas di lain kali di postingan yang lain

Sabtu, 03 Mei 2008

Nonton Freedom Writers di NEC

Freedom Writer

Nonton film Freedom Writers di NEC

Hari ini saya dapat kejutan, nonton film Freedom Writers di NEC.  Mbak Menul, tutor Poltek Bahasa di NEC, memutarkan untuk saya dan teman2 sekelas film tersebut di kelas via laptop dan LCD.  Tadinya saya kira bagian dari film seri Dangerous Mind yang pernah saya saksikan di TV.  Saya menyebut diri saya beruntung karena saya bisa mendapatkan bahan untuk meneruskan potongan posting yang belum jadi, yang tadinya ingin saya buat sebagai bagian dari posting yang berjudul refleksi hari buruh, pentingnya amanah dan empati.  Bisa dibilang, posting kali ini masih berhubungan dengan posting sebelumnya.

postingnya begini nih:

Berdasarkan pengalaman, minimal ada 3 hal yang tidak bisa dipaksakan oleh seseorang pada orang lain yaitu:

  1. SUKA : Ini biasanya berhubungan dengan kesamaan hobby, ketertarikan/interest dan kesamaan-kesamaan lainnya.  Bisa juga karena daya tarik fisik, emosional dan hal-hal seperti itu.
     
  2. HORMAT :Kalau yang ini bisaanya berhubungan dengan jabatan atau kompetensi, baik formal atau informal.  Kita sangat mungkin akan hormat sama teman yang punya suatu kompetensi tertentu, apalagi yang jarang dimiliki oleh orang-orang di sekitar kita. Kita juga bisa hormat sama orang yang memiliki otoritas lebih besar dari kita, seperti atasan, boss dll.

  3. PERCAYA: Ini dia yang paling berat, membuat orang lain percaya pada kita.  orang yang suka pada kita  dan yang hormat pada kita belum tentu percaya pada kita.  Kepercayaan ini berhubungan erat dengan karakter kita, apakah kita memiliki karakter orang yang bisa dipercaya atau tidak.
     

Saya percaya bahwa Cinta yang sejati harus memiliki ketiga komponen ini, bila salah satu yang tidak ada maka cinta tersebut tidak bisa dianggap sempurna.  Bahkan, jika cinta hanya dibangun dari rasa suka semata, cinta itu bagaikan rumah berpondasi pasir.  Film Freedom Writer ini menggambarkan ketiga hal tersebut dengan jelas sekali.


Dalam film ini, Erin terlebih dahulu mendapatkan kepercayaan dari anak-anak didik di room 203 sebelum mereka mulai menyukai dan menghormatinya.  Anak-anak tersebut merasakan bahwa Erin dapat dipercaya untuk mendidik mereka berkat usahanya yang tidak kenal lelah untuk berempati dengan mereka.   Walaupun demikian, Erin juga dapat bersikap tegas saat menemukan anak-anak tersebut melakukan hal-hal yang tidak dapat ditoleransi seperti pelecehan rasial dan etnis terhadap teman-teman mereka yang berbeda etnis.  Erin juga terlihat bersikap tegas saat menjelaskan kepada beberapa anak bahwa kematian mereka di tangan para gangster akan sia-sia belaka jika mereka tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat.  Orang-orang akan meneruskan kehidupan tanpa pernah memikirkan apakah mereka pernah ada atau tidak.  Tanpa ragu sedikitpun dia bertanya, apakah jika orang-orang berkulit hitam, orang-orang Asia, orang-orang Kolombia dan etnis-etnis yang lain tidak ada di sini, keadaan akan lebih baik? Lalu dia masuk ke penjelasan mengenai "the most famous Gang in History" -  NAZI.


Mungkin sebagian rekan-rekan ada yang keberatan menerima film ini karena tersirat adanya propaganda mengenai Holocaust yang terjadi pada Perang Dunia ke 2.  Walaupun demikian, kita perlu memahami bahwa hanya itulah referensi yang dimiliki Erin saat dia berusaha membuktikan bahwa anak-anak tersebut memiliki pilihan untuk berubah.
 

Menurut saya pribadi, apa yang dilakukan Erin kepada anak-anak di ruang 203 itu dapat dicontoh tanpa harus terjebak propaganda manapun.  Banyak orang di lingkungan kita yang membutuhkan orang seperti Ibu Guru Erin Gruwell, yang sering kali dipanggil Mrs. G. oleh anak-anaknya.  Kita bisa menjadi salah satu dari orang-orang seperti itu.  Semoga saja.

Freedom Writers

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
"In Long Beach, it's all come down to what your look at, it's all about color. If you are Latino, Asian or Black, you can get blasted anytime you walk out the door"

Eva,
Latino Student in Room 203.

Film ini bercerita tentang perjuangan seorang guru sekolah bernama Erin Gruwell menghadapi anak-anak yang sangat bermasalah di room 203. Film ini diambil dari kisah nyata pada dekade 90-an. Kelas itu ada kelas yang warna-warni, maksudnya ada anak-anak orang berkulit hitam alias Afro-Amerika; ada anak-anak orang keturunan Spanyol atau Amerika Selatan, Hispano Amerika alias Latino; anak-anak orang keturunan Asia, terutama Cina dan sebagiainya. Yang menarik, di kelas itu, orang kulit putih hanya satu orang. Entah karena faktor rasisme atau si kulit puith itu benar2 geblek.

Terus terang sudah lama saya tidak mencucurkan air mata saat menonton film tersebut. Menyaksikan betapa mudahnya diri atau orang-orang yang mereka cintai dibunuh atau terbunuh karena sebab-sebab yang sepele seperti lewat di suatu teritori yang telah diklaim oleh satu kelompok, adu mulut, salah omong dan sebagainya tentu bisa membuat orang yang paling keras sekalipun mencucurkan air mata.

Saat yang sangat mengharukan muncul saat Erin mengumpulkan anak-anak untuk memainkan permainan yang disbut Line Game. Dalam permainan itu, dia meminta setiap anak yang memiliki kesesuaian dengan pertanyaan yang diberikan untuk maju mendekat ke garis yang dibuat dengan lakban di lantai. Perntanyaan paling mengharukan adalah pada saat Erin bertanya "Siapa di sini yang memiliki teman yang terbunuh dalam pertikaian antar gang?". Hampir seluruh isi kelas mendekat ke garis. Sebagai bukti bahwa mereka semua pernah kehilangan orang-orang yang mereka cintai karena perang antar gang tersebut. Suasana haru tidak dapat dihindari dan siapapun, sekejam dan sekeras apapun akan mencucurkan air mata saat mengingat teman-teman dan orang-orang yang mereka cintai terbunuh dalam perkelahian-perkelahian antar gang yang terus menerus terjadi.

Bagian utama dari film ini adalah gagasan Erin untuk menyediakan buku-buku tulis agar anak-anak dapat menuliskan curahan hati dan pengalamman mereka. Erin meminta mereka menulis untuk diri mereka sendiri. Dia tidak memaksa mereka memperlihatkan catatan harian tersebut kepadanya, apabila mereka tidak mau. satu demi satu anak-anak tersebut akhirnya menaruh kepercayaan kepada Erin untuk membaca tulisan di diari mereka. Pada akhirnya, mereka pun bersikap terbuka kepadanya. Cuplikan-cuplikan diari yang ditayangkan sepanjang film sungguh sangat menggugah perasaan. Diary itu sudah dibukukan dan diterbitkan tahun 1999.

Perjuangan Erin bukan hanya menghadapi murid-murid itu. Dia juga harus menghadapi suaminya yang tidak mendukung perjuangan yang dia lakukan. Yang lebih buruk lagi, sekolah yang bersikap kaku dan konservatif serta guru-guru lain yang tidak mau berurusan dengan murid-murid ruang 203 tersebut.

Pendek kata, bisa dibilang film ini sangat perlu ditonton siapa saja, terutama mereka yang bergerak dan berkarir di bidang pendidikan.

Jika anda menangis saat melihat film ini, jangan kuatir dianggap cengeng. Itu artinya anda masih punya hati nurani yang hidup dan menghidupkan.

Selamat menonton

Jumat, 28 Maret 2008

Siksaan Penasaran

Udah semalaman gak tidur (beberapa malam tepatnya) disiksa rasa penasaran yang disebabkan foto-foto indah namun lokasinya enggak jelas, yang diposting salah satu rekan kita yang cantik itu, Ita alias Greyskymorning alias It alias.... (mbak yang satu itu namanya macam2).  Seumur-umur nge-MP baru sekali ini nemu poto-poto enggak ada lokasinya.
 Bolak-balik tanya oom Google, pake Fasilitas pencarian gambar di Google,  dan buka-buka peta belum ketemu juga lokasinya??????????  Eh, malah ketemu Prince Kassad dari GLA he he he (emang sih, sekalian cari info Command and Conquer General, terutama tentang my favorite faction, Global Liberation Army.
Emang sih, waktu pertama kali lihat kupikir itu sungai yang aku lihat di kereta waktu pulang dari Bandung, kalo enggak salah ngelewatin tol Cipularang juga.  Jalur kereta dan jalur tol Cipularang sebagian besar emang berdampingan, hanya aja di beberapa tempat ada yang saling bersilangan, kadang di atas kadang di bawah.  Sungai yang dikmaksud memang terletak tidak jauh dari Jakarta, sekitar Bekasi, Karawang atau Cikarang.

   

Minta ampun deh!

Minggu, 24 Februari 2008

“Expelled: No Intelligence Allowed,”

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Documentary
Membongkar Tirani Evolusionis di Layar Lebar

Selasa, 04 September 2007

Film Hollywood berjudul “Expelled: No Intelligence Allowed” diperkirakan bakal mengguncang AS. Film menguak penindasan kebebasan ilmiah oleh para evolusionis

Hidayatullah.com--Tanggal 12 Februari 2008 mendatang adalah hari bersejarah bagi evolusionis di dunia. Pasalnya, itulah hari lahir sang bapak teori evolusi, Charles Darwin. Namun di ulang tahun ke-199 Darwin itu para Darwinis boleh jadi bakal geram dan cemas lantaran aib mereka bakal dibongkar besar-besaran di depan khalayak ramai. Kali ini bukan melalui debat, konferensi, buku atau sarana biasa, melainkan melalui tayangan perdana film layar lebar Hollywood berjudul „”Expelled: No Intelligence Allowed“ (Dikeluarkan: Kecerdasan Dilarang).

Film non-fiksi ini akan dibintangi tokoh terkenal Ben Stein, yang membongkar sisi gelap para evolusionis di lembaga ilmiah dan akademis. Didasarkan pada fakta sesungguhnya yang kini terjadi, film dokumenter ini mengungkap para profesor yang menindas para ilmuwan kolega mereka yang berani mempertanyakan keabsahan teori evolusi, teori kebetulan yang menolak adanya penciptaan cerdas di alam.

Bersitus resmi di www.expelledthemovie.com, tayangan ini bukanlah sekedar komedi keluaran terakhir Hollywood. Ini adalah film dokumenter baru berdasarkan fakta nyata di lapangan. Expelled akan mengguncang siapa pun yang selama ini berpandangan bahwa semua ilmuwan memiliki kebebasan dalam meyakini kebenaran berdasarkan bukti, ke mana pun bukti itu mengarah.

Sebagaimana dipaparkan situs berita terkenal PRNewswire, 22 Agustus 2007, di balik film ini terdapat perusahaan ternama di dunia perfilman. Pemasaran film keluaran Premise Media ini, misalnya, dilakukan oleh Motive Entertainment, perusahaan yang melambungkan film terkenal The Passion of the Christ, Polar Express dan The Chronicles of Narnia. Selain itu, pendistribusiannya dilakukan oleh perusahaan Rocky Mountain Pictures, yang telah mendulang banyak sukses.

Bau Busuk di Pekarangan Evolusionis

Dikisahkan, pemeran utama film Expelled, si Ben Stein, sedang dalam petualangannya untuk menjawab salah satu pertanyaan terbesar yang pernah diajukan: Apakah kita dirancang , diciptakan? Ataukah kemunculan dan keberadaan kita sekedar hasil akhir dari kubangan lumpur purba yang tersambar petir, sebagaimana dinyatakan teori evolusi?

Selain seorang pengacara, pakar ekonomi, mantan penulis pidato presiden AS, Stein yang bersitus pribadi di http://www.benstein.com juga adalah seorang pengarang dan pengamat sosial. Dalam film itu, Stein kaget dengan apa yang tersingkap dalam petualangannya. Ia menemukan bahwa segolongan kalangan elit di lembaga-lembaga ilmiah bersikap dogmatis.

Lebih buruk lagi, Stein menyingkap bahwa kelompok elit ini menindas sederetan ilmuwan biologi, astronomi, kimia dan para filsuf. Nama baik mereka dirusak, karir mereka dihancurkan hanya karena mereka berseberangan dengan atau mempertanyakan teori evolusi. Lingkaran elit tersebut sama sekali tidak mengizinkan kritik terhadap teori mutasi acak dan seleksi alam yang menjadi tulang punggung teori evolusi Darwin.

Sisi gelap yang disingkap dalam film ini di antaranya adalah adanya para pengajar dan ilmuwan yang dilecehkan, tidak diperpanjang masa jabatannya, bahkan dipecat hanya karena mereka percaya bahwa ada „perancangan“ di alam. Dengan kata lain mereka didzalimi lantaran sekedar mempertanyakan dan menentang pemikiran bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada sebagai hasil dari peristiwa tidak sengaja, tidak diciptakan, secara kebetulan dan acak, sebagaimana doktrin evolusi.

Korban-Korban Tirani Evolusionis

Richard Sternberg, pakar biologi dengan dua gelar Doktor termasuk yang ditemui Stein dalam film itu, papar situs berita PRNewswire. Dia adalah korban kebrutalan para evolusionis dogmatis ini. Ia telah meluluskan tulisan ilmiah yang memaparkan bukti-bukti adanya kecerdasan di alam semesta untuk diterbitkan di jurnal ilmiah. Kasus ini telah menjadi buah bibir media massa. The Washington Post, misalnya, menulis di terbitannya tanggal 19 Agustus 2005: "Richard Sternberg dicerca para ilmuwan di [lembaga] Smithsonian seputar tulisan yang mempertanyakan teori evolusi.“

Tak lama setelah penerbitan tulisan ilmiah itu, para staf dari National Center for Science Education dan Smithsonian Institution, tempat Sternberg bekerja, mulai melakukan tindakan pencorengan nama baik dan pelecehan agar sang ilmuwan muda berbakat itu dipecat dari jabatannya. Kebrutalan terhadap kebebasan ilmiah ini sedemikian parah hingga memicu penyelidikan konggres.

Ilmuwan lain yang ditemui Stein dalam petualangannya adalah pakar astrobiologi Guillermo Gonzalez, yang perpanjangan masa jabatannya ditolak di Iowa State University meskipun catatan prestasinya sangat gemilang. Alasannya, Gonzalez memaparkan adanya perancangan yang ia amati di jagat raya.

Korban penganiayaan oleh evolusionis lain adalah Caroline Crocker, dosen cerdas mata kuliah biologi di George Mason University. Ia dipaksa hengkang dari universitasnya hanya karena memperbincangkan singkat tentang hal-hal bermasalah seputar teori Darwin. Alasan lainnya adalah karena sang dosen memberitahu para mahasiswanya bahwa sebagian ilmuwan yakin tentang adanya perancangan cerdas di alam semesta.

Daftar para korban tirani evolusionis ini terus bertambah. Nama para korban yang disebutkan di film ini adalah nyata dan kedzaliman itu benar-benar telah terjadi.

Menampilkan Pendapat Berseberangan

Expelled menampilkan bukan hanya orang-orang yang memiliki pendapat sepihak Film ini memunculkan pula ilmuwan evolusionis seperti pakar biologi berpengaruh PZ Myers dan Eugenie Scott, ketua lembaga terkenal pembela teori evolusi National Centerfor Science Education. Selain itu ditampilkan pula Richard Dawkins, biologiwan ateis asal Inggris sekaligus pengarang buku The God Delusion (Khayalan tentang Tuhan).

Selama 2 tahun para pembuat film Expelled melanglang buana mewawancarai banyak ilmuwan, doktor, filsuf dan para tokoh publik. Yang mereka temukan sungguh mengejutkan: kebebasan berpikir, kebebasan melakukan pemeriksaan dan penyelidikan ditindas di sekolah-sekolah tinggi, universitas-universitas dan lembaga-lembaga ilmiah yang didanai oleh uang rakyat.

Film ini layak untuk tidak dilewatkan, bagi siapa saja yang ingin melihat sisi gelap para evolusionis dogmatis di abad modern ini. Selengkapnya, saksikan informasi lebih lanjut beserta penggalan film ini di situs resminya:

http://www.expelledthemovie.com.

[cr/hid/www.hidayatullah.com]

Sumber:
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5300&Itemid=1

Expelled: No Intelligence Allowed




tahu dari mas Rifki ( http://fauzidex.multiply.com/ )

Ben Stein Features in Expelled: No Intelligence Allowed. Super Trailer, from Premise Media.
http://www.expelledthemovie.com/


Source: http://www.youtube.com/watch?v=iV8sN1UngFY

For further information, please visit:
http://fauzidex.multiply.com/video/item/2
http://www.nytimes.com/2007/09/27/science/27expelled.html?_r=3&oref=slogin&oref=slogin&oref=slogin

Ben Stein is EXPELLED: No Intelligence Allowed

http://www.expelledthemovie.com/
Situs tentang film (dokumenter?) yang akan datang dan pantas untuk dinantikan (dan ditonton tentu saja) terutama buat yang benci sama atheisme dan sejenisnya. Bisa dibayangkan hebohnya karena Richard Dawkins (high priest-nya kaum atheis) aja ampe kaget.

Senin, 13 Agustus 2007

Mengasihani diri sendiri (Kisah sedih dari Pilkada)


Unhappy, overly emotional and pessimistic people cannot appreciate the beauty and blessing of this world.  Though they may surrounded by countless examples of this beauty, they see only negative aspect of things, and become even more depressed.  However, God, in His mercy and compassion, created these blessings for the sake of human beings.  A believer keeps this idea at the forefront of his mind, and is grateful to God for His Blessings.

Harun Yahya, Romanticism: A Weapon of Satan, page 114-115

(diterjemahkan dan diterbitkan oleh Dzikra dengan Judul: Ancaman di balik Romantisisme)

 

Saya menulis artikel ini pada saat Pilkada DKI Jakarta sedang berlangsung.  Sebelumnya, saya mengikuti kampanye salah satu calon.  Di sana saya bertemu dengan orang-orang yang dapat dijadikan gambaran masyarakat Indonesia secara keseluruhan.  Salah seorang teman saya ada yang dikerubuti orang-orang yang mendapat isu bahwa partai kami menyediakan uang untuk masing-masing orang sebanyak Rp. 50.000,-.    Di lokasi kampanye, banyak orang-orang yang hanya bisa minta makanan atau hal-hal yang lain, tentunya yang bersifat material.  Baru pada saat itulah saya benar-benar melihat dengan mata kepala saya sendiri keadaan masyarakat Indonesia yang sebenarnya.  Kalau begini, siapapun pemenangnya maka rakyat tetap saja jadi pecundang, pihak yang kalah.  Mirip dengan subtitle film ”Alien versus Predator” yaitu ”Whoever wins, we lose/siapapun yang menang, kita kalah”. 

 
Apakah orang-orang ini dan banyak lagi di masyarakat tidak pernah berpikir bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini, semua ini memerlukan bayaran.  Coba bayangkan, apabila satu orang dikasih 50 ribu dan yang ikut kampanye dari suatu daerah ada 1000 orang, terus partai atau calon tersebut musti keluarin duit berapa? 50 ribu x 1000 = 50 juta! Itu baru dari satu daerah, belum lagi daerah-daerah lain.  Terus, mengembalikan modalnya darimana, kalo bukan dari korupsi? Pengusaha kaya atau Leader MLM juga tidak punya uang sebanyak itu, apalagi partai politik yang merupakan non-profit organization (organisasi yang tidak mencari keuntungan).  Saya dalam hal ini tidak memihak pada calon atau partai manapun, tapi kalo begini kapan korupsi bisa hilang dari negeri tercinta ini.  Lalu, siapa yang sesungguhnya menciptakan koruptor? Siapa yang sesungguhnya melanggengkan korupsi di negeri ini?

 

Terus saya mikir lagi, apakah kebodohan dan kemiskinan tersebut sengaja dipertahankan agar orang-orang yang sedang berkuasa bisa mempertahankan kekuasaannya? Bukankah artinya ada ”social time bomb” (bom waktu sosial) yang bisa meledak setiap saat seperti zaman Revolusi Prancis dan sebagainya.  Ingat, George Santayana mengatakan  “Whoever forget the past, are condemned to repeat it” (siapa yang melupakan sejarah, maka dia akan ditakdirkan mengulanginya).  Inilah masalah bangsa kita, melupakan sejarah. 

Sebenarnya, banyak orang-orang yang ingin menolong mereka, namun apabila masyarakat tetap mengasihani diri mereka, tetap menganggap bahwa mereka adalah orang-orang miskin yang harus selalu dibantu, ditolong dan diberi sumbangan, maka calon manapun yang jadi pemimpin, partai manapun yang menang rakyat akan tetap jadi pecundang alias pihak yang kalah. 

Kepada rekan-rekan MPers dan siapa saja yang membaca tulisan ini, yuk mari kita berusaha memberdayakan masyarakat, bukan cuma membantu dalam arti memberi bantuan tanpa memberi kesempatan mereka mengubah diri.  Semoga usaha kita semua, sekecil apapun, akan menjadi catatan amal yang memberatkan timbangan kebaikan kita di Yaumil Akhir (Hari Kiamat)  nanti.