Tampilkan postingan dengan label monas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label monas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juni 2008

Kekerasan Terselubung dalam Perbuatan MAXIAT

Untitled

Berbicara tentang FPI, tentu saja kita tidak bisa memisahkan pembicaraan kita dari yang namanya perbuatan maxiat.


Mari sejenak kita berempati pada para orang tua yang anak-anaknya hobby melakukan berbagai macam perbuatan maxiat seperti judi, mabuk, main perempuan (yang gak bener) dan sebagainya. Perbuatan-perbuatan seperti itu tentu akan melukai perasaan dan membuat malu para orang tua tersebut. Belum lagi apabila anak yang suka maxiat itu adalah pengangguran yang hanya bisa minta (nodong??) orang tuanya agar bisa terus bermaxiat. Bayangkan betapa berat beban yang ditanggung para orang tua tersebut, baik secara moral, emosional apalagi finansial. Jika para pelaku maxiat itu tidak bisa lagi dapat dari orang tua mereka, tentu saja mereka akan terjerumus untuk melakukan berbagai macam tindak kejahatan. Saya pernah membaca di suatu majalah ada orang tua yang anaknya kena Narkoba berkata pada salah satu teman sang anak "Jika anak saya mati, maka kamu juga harus mati. Saya tidak peduli walaupun saya harus masuk penjara sekalipun!!"

Para guru tentu akan merasa kecewa dan sedih apabila murid-murid tidak lagi rajin belajar dan tekun berlatih sehingga sulit menyerap pelajaran yang diberikan karena perhatian mereka terpusat pada berbagai macam hiburan di layar TV dan sebagainya. Rasanya sia-sia saja para guru tersebut lelah-lelah mengajar di sekolah, kursus dan institusi pendidikan lainnya. Belum lagi pengaruh tayangan seperti Smackdown yang beberapa waktu yang lalu makan korban beberapa anak kecil yang mencoba melakukan bantingan-bantingan tanpa berlatih terlebih dahulu.


Bagaimana dengan istri-istri dari para lelaki yang hobby bermaxiat dengan pergi ke tempat pelacuran baik yang tersebar di berbagai tempat di negeri ini? Seandainya pun mereka terpaksa menahan perasaan marah dan kecewa karena kelakuan para suami, para istri tersebut rawan terkena macam-macam penyakit kelamin sebagai "oleh-oleh" dari pasangannya.


Jangan salahkan apabila banyak orang yang sudah tidak percaya pada hukum dan sistem hukum di negeri ini. Sudah jamak beredar di sekitar kita suatu "lelucon" (sebenarnya sih tidak lucu) yang berbunyi "Apabila maling masuk penjara, maka begitu dia keluar dari penjara dia akan jadi maling yang lebih lihai". yang lebih parah tentu saja apabila penjara sudah jadi "training center" untuk para penjahat agar mereka bisa lebih hebat lagi dalam berbuat kejahatan.

Sudah lama saya berpikir bahwa orang tua, guru dan masyarakat yang resah karena perbuatan-perbuatan maxiat dan tempat-tempat maxiat yang menjamur bak cendawan di musim hujan itu seakan-akan tidak punya hak azasi untuk bisa tenang mendidik dan membesarkan anak-anak mereka tanpa dicengkram ketakutan dan rasa was-was berlebihan. Apakah hak azasi hanya milik sebagian pihak dan bukan milik pihak lain, terutama mereka yang termasuk "Silent Majority"?????

Link terkait:


Semoga bermanfaat, maaf jika tidak berkenan

Kerusuhan di Monas - pengalihan isu BBM??????

"Berikan kepada saya kewenangan untuk mencetak uang dan mengatur keuangan suatu negara, dan setelah hal itu terjadi saya tidak peduli kepada para pembuat hukum di negara tersebut"


Meyer Amschel Rothschild (1743 - 1812) pendiri dinasi Rotschild

Beberapa hari ini perhatian kita semua terpusatkan ke kejadian di monas hari ahad 1 juni 2008 yang lalu. Begitu gencarnya pemberitaan media massa baik cetak maupun elektronik, online maupun offline.

Lalu, seperti yang bisa sama-sama kita duga, ada pihak-pihak yang menginginkan agar FPI segera dibubarkan. mereka beralasan bahwa FPI selalu melakukan tindak kekerasan. namun, benarkah apabila FPI dibubarkan, kekerasan akan berhenti dengan sendirinya?


Tulisan kali ini tidak akan membahas masalah pembubaran FPI atau yang sejenisnya, namun saya hanya ingin curhat masalah yang lain namun ada hubungannya dengan masalah kerusuhan di MOnas kemarin itu.

Saya pernah baca bukunya om Robert Kiyosaki yang berjudul Cashflow Quadrant (sequel-nya Rich Dad Poor Dad). Dalam buku itu disebutkan bahwa apabila dalam suatu negara terjadi kekacauan atau perang (seperti di Indonesia sekarang ini), maka yakinlah bahwa seorang atau lebih kapitalis sudah masuk ke sana, bahkan mungkin sudah masuk duluan. Dalam keadaan damai dan tenang, kapitalis bisa meraih untung besar. Dalam keadaan perang dan penuh kekacauan, para Kapitalis bisa meraih untung lebih besar lagi.


Kalimat dalam buku inilah yang dari dulu menyebabkan saya tidak simpati dengan om Robert ini. Memang sih banyak ilmu dari beliau yang bisa berguna bagikita ,tetapi kata -kata itu sangat bikin saya sakit hati.


Nah, coba kita bandingkan kalimat di atas dengan yang ini:

"Berikan kepada saya kewenangan untuk mencetak uang dan mengatur keuangan suatu negara, dan setelah hal itu terjadi saya tidak peduli kepada para pembuat hukum di negara tersebut"


Meyer Amschel Rothschild (1743 - 1812) pendiri dinasi Rotschild (dikutip dari buku Pak Z.A. Maulani, Zionisme menaklukkan Dunia)


Maka, berdasarkan hal-hal di atas, saya mohon maaf bila saya (karena kebodohan saya, ngaku aja) cenderung percaya bahwa masalah kerusuhan di Monas dan isu pembubaran FPI serta begitu banyak kekacauan lainnya di negeri ini adalah upaya pengalihan perhatian masyarakat dari kenaikan harga BBM atau kepentingan kapitalis lainnya, minmal ada hubungannya.

Beritanya ada di sini
BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk

Penjajahan Korporasi Asing Atas Migas Indonesia

Semoga bermanfaat, mohon maaf bila tidak berkenan