Tampilkan postingan dengan label kapitalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kapitalis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

Tolak Kenaikan BBM: Lawan Badut Berlumur Minyak

http://wasathon.com/opini_anda/read/tolak_kenaikan_bbm_lawan_badut_berlumur_minyak/
POLEMIK kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi terus bergulir. Kalangan media massa, pengamat ekonomi, anggota DPR, mahasiswa dan pemerintah saling bertarung wacana. Mereka melontarkan banyak alasan sehingga menghasilkan perbedaan pandangan pro dan kontra. Kalangan pro berpendapat, kenaikan BBM tidak dapat ditunda agar tidak ada pembebanan berlebihan terhadap anggaran negara. Apalagi tensi ketegangan dunia Barat dan Islam semakin memuncak. Kalangan Barat (diwakili AS) dan islam (diwakili Iran) saling menebar ancaman yang berujung kebijakan mengembargo minyak Iran. Amerika Serikat beralasan Iran bersikap keras kepala dengan tidak mau menutup industri nuklirnya.

Selanjutnya bisa dibaca di link di atas :)

Rabu, 24 Februari 2010

[Puisi] Dan Gunung pun menangis



“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-Araf [7]: 96)


dan gunung pun menangis

seiring pohon pohon yang menjerit
saat ditebang habis
untuk proyek-proyek mafia kapitalis
yang gila harta dan doyan duit

dan gunung pun menangis

saat tak lagi bisa memeluk hujan
saat datang membawa kehidupan
hingga air yang penuh keberkahan
hanya bisa mengalir percuma ke dataran

dan gunung pun menangis

saat tak lagi bisa menahan tanahnya
yang telah digunduli pepohonannya
sehingga terjun bebas ke bawah sana
penduduk desa yang malang pun jadi korbannya

dan gunung pun menangis

saat para penduduk menjerit
karena datang tanah longsor yang menghimpit
hanya karena banyak manusia tidak lagi memegang amanah
mengolah alam dengan serakah

dan gunung pun menangis

ketika manusia tak lagi bertakwa
bahkan cenderung pada perbuatan-perbuatan durjana
padahal jika mereka beriman dan bertakwa
maka akan timbul berkah yang tiada taranya

dan gunung pun menangis

saat bencana tak bisa dihindari
hingga banyak manusia yang pergi
untuk tidak akan pernah kembali
ke dunia fana ini lagi

Aku hanya bisa terpana
mendengar tangisan gunung yang perkasa
tiada mampu berbuat apa-apa
karena aku juga korban peradaban durjana
yang tidak kenal bahasa kecuali harta benda

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. AR-Ruum [30]: 41).

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

Puisi sederhana yang didedikasikan untuk saudara2 yang tertimpa tanah longsor di Ciwidey dan sekitarnya,

semoga bermanfaat dan bisa menggugah kesadaran kita semua bahwa alam ini adalah amanah

Jumat, 18 Desember 2009

[Sosial] Infotainment, pelacur dan pembunuh

Infotainment kembali naik daun, setelah seorang selebritis memaki-maki wartawan dan menyebut infotainment lebih rendah dari pembunuh dan pelacur. Memang, dalam keadaan emosi, orang bisa saja mengungkapkan perasaanya dengan berbagai cara. Mulai dari menyebutkan seluruh isi kebun binatang sampai yang lebih mengerikan lagi. Polemik dan konflik antara artis/seleb dan infotainment sudah bukan barang baru di negeri ini.

Si artis menyebut tayangan infotainment lebih rendah daripada pelacur atau pembunuh. Menarik untuk disimak, apa benar sih infotainment itu derajatnya sama atau bahkan lebih hina daripada pelacur dan pembunuh. Pelacur adalah orang-orang yang mencari uang dengan melacurkan diri. Dia menyediakan dirinya sendiri sebagai fasilitas pemuas hawa nafsu sexual lawan (atau mungkin sesama) jenisnya. Sedangkan pembunuh adalah orang yang membunuh orang lain.

Kalau definisinya seperti itu, semua orang juga sudah tahu

Namun apakah infotainment seperti itu, melacurkan diri dan membunuh?

Sebagian orang, terutama penggemar tayang tersebut, akan protes. Mereka akan mengatkaan bahwa Infotainment adalah karya jurnalistik juga. Namun, yang lain banyak yang mengecam dan mengatakan bahwa Infotainment tidak lebih dari sampah.

Salah satu tujuan orang melacurkan diri dan membunuh adalah untuk mendapatkan "easy money" atau mendapatkan uang banyak dengan cara yang mudah, enak dan tanpa kerja keras. Membunuh pun ada yang tujuannya seperti itu, walaupun tentu membunuh lebih sulit daripada melacur. Apalagi bagi seorang pembunuh profesional atau pembunuh bayaran. Hal itu sudah jadi makanan sehari-hari bagi sang pembunuh. Infotainment, walaupun tidak membunuh orang secara langsung, juga bisa berpotensi mematikan potensi manusia. Berapa banyak orang yang waktunya tersita untuk nonton infotainment, padahal dia bisa bekerja, belajar atau melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya.

Ekses negatif lain dari infotainment adalah orang-orang jadi ngiler, ngelihat gaya hidup glamor para selebritis. kadang gak sadar tuh seleb pada kaya ya juga gara-gara masyarakat itu sendiri yang haus hiburan dan doyan sensasi. Maklum, masih tingkat eksistensi diri materi. Jadi demennya hal-hal material aja. Berbicara tentang pelacuran, saya pernah membaca review di internet dari Novel berjudul Kupu Kupu Pelangi. Suatu novel yang menggambarkan realita pahit pada masyarakat kita.



"Cerita dalam novel ini adalah fiktif, namun apa yang terjadi di dalamnya merupakan bagian dari masyarakat kita. Meskipun terdengar janggal, beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah telah menjadi daerah pemasok ABG (Anak Baru Gede) untuk dijadikan pelacur.... Kenyataan yang paling menyesakkan adalah bahwa para orang tua banyak yang tega 'menjual' anak perempuannya. Gadis-gadis suci itu dianggap sebagai aset paling berharga bagi keluarga mereka...," demikian penulis bertutur pada halaman Prolog.






Bukan tidak mungkin, dengan adanya infotainment yang gila-gilaan seperti sekarang ini, pelacuran dan pembunuhan seperti itu akan makin meluas dan menggila. Makin banyak orang yang tergiur mendapatkan uang dengan cara-cara yang mudah dan menyimpang, tanpa peduli konsekwensi jangka panjangnya. Namun, itulah manusia kapitalis, di belakang dikejar ketakutan kemiskinan, di depan tergiur melihat keuntungan yang melimpah apapun konsekwensi dan resikonya. Keadaan itu dimanfaat kembali oleh media-media kapitalis tersebut dengan menggelar berbagai tayangan-tayangan kriminal.

Manusia-manusia pengelola media kapitalis itu di dunia saja sudah dilanda kehidupan yang sempit. Mereka mungkin bukan tidak punya uang dan harta, bahkan melimpah. Namun, keberkahan bukan tidak mungkin jauh dari hidup mereka. Sehingga, rasa dahaga akan sensasi liar itu tak kunjung terpuaskan.

Saya bukan fans artis tersebut, saya juga bukan membela artis itu. saya hanya pemerhati Masalah-masalah sosial. Namun sepertinya kali ini dia berkata benar. Kebenaran tentang kebobrokan tayangan -tayangan infotainment, dan sebagian besar tayangan televisi sekarang ini. Kebenaran yang secara kebetulan terungkap lewat ucapan-ucapan si seleb itu. Atau, jika kita menganggap bahwa tidak ada sesuatu pun yang merupakan kebetulan, ..... adakah yang mengatur semua kejadian itu? Wallahualam

Namun, yang sebenar-benarnya hina adalah media kapitalis dan kapitalisasi media itu sendiri. Media yang hanya peduli pada keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa peduli dampak jangka panjang dari keuntungan itu sendiri. Yang bersumber dari peradaban masa kini yang memanjakan mereka yang punya duit dan menindas dengan kejam mereka yang miskin. Peradaban yang oleh Erich Fromm disebut dengan bahsa yang sangat sarkatis dan mengerikan. "Eksperimental Society" atau masyarakat percobaan, di mana seluruh penghuninya tidak lebih dari kelinci-kelinci percobaan. Tanpa sadar dan tidak berdaya untuk melawan.

Perababan yang memuja materi seperti bangsa-bangsa kuno penyembah berhala memuja berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Bagaikan bani Israil yang menari berputar-putar memuja patung anak sapi emas hasil tempaan mereka sendiri atas bujukan Samiri. Erich Fromm mengatakan "I have it" tends to become "it has me", berhala-berhala itu menjadikan mereka yang memujanya sebagai kepunyaannya. Padahal, mereka hanya benda mati yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Allah SWT mengingatkan kita dalam Surat Thaha ayat 124 - 127

124. Tetapi, barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan menderita hidup sempit, kemudian Kami bangkitkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta.

125. Nanti tentu dia akan berkata: "Ya Tuhanku! Mengapa Engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku melihat?".

126. Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu engkau melupakannya. Begitu pula di hari ini, engkaupun dilupakan pula.

127. Demikianlah balasan Kami terhadap orang-orang yang melampaui batas dan tidak mempercayai keterangan-keterangan Tuhannya. Sesungguhnya siksaan hari akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.

Suka tidak suka, itulah realita yang ada pada masyarakat kita. Semoga kita tidak termsuk orang-orang yang mendapat kehidupan nan sempit dan tidak berkah itu. 

Rabu, 03 Desember 2008

Measuring the World... - Baksos MPers: Kurban di Jagabita 2008

http://srisariningdiyah.multiply.com/calendar/item/10042
akhirnya...
PJ Baksos Jagabita, yaitu: mas Roel...
sudah mengeluarkan statement, bahwa baksos akan dilaksanakan 2 kali, pada:
Senin, 8 Desember 2008 dan Sabtu, 14 Februari 2009

*sambil ketok palu*

Nah, rekan MPers...
setelah Baksos Jagabita yang rencananya diadakan di bulan Ramadhan ini dibatalkan karena beberapa alasan antara lain supaya lebih maksimal upaya kita disana, karena luas-nya daerah Jagabita, juga beberapa kendala lain... maka sekarang sudah diputuskan tanggal pelaksanaan baksos tersebut.

Niat awal baksos di sini adalah ketika syukuran Ulang Tahun MP Indonesia 2008 bulan Agustus lalu, rekan-rekan memilih hendak baksos dimana? Lalu di adakan-lah survey di beberapa tempat, salah satu-nya di Jagabita ini.
Hasil survey selengkapnya ada di sini:
Hasil Survey Baksos MPID: Jagabita & TIM

Dan beberapa catatan bila kita mengadakan baksos di Desa Jagabita:
1. Ada banyak penderita yang minimal berjumlah 200 orang, untuk mengadakan baksos layanan kesehatan,
2. Puskesmas yang ada sangat terbatas layanan-nya, dengan biaya layanan Rp. 3.000,- dan di hari Sabtu-Minggu menjadi Rp. 10.000,- biaya yang cukup memusingkan ini membuat masyarakat disana malas berobat walaupun gejala sakit sudah dimulai sejak dini. Akibatnya masyarakat baru berobat bila sudah sangat parah. Akses puskesmas juga hanya dapat dicapai menggunakan ojek dengan biaya minimal Rp. 10.000,- sekali jalan. Ini sangat berat untuk mereka.
3. Tidak ada-nya oksigen di tabung yang tersedia di puskesmas sangat menyulitkan masyarakat yang datang berobat terutama yang sudah parah, jadi hal ini juga menjadi kendala utama yang harus menjadi daftar utama dalam baksos bila diadakan di sana.
4. Masyarakat disana dikenakan biaya cukup tinggi, walaupun mereka datang dari keluarga miskin, misalnya untuk kasus pemasangan alat KB, dihargai Rp. 70.000,- padahal pengendalian penduduk di sana cukup di rasa penting, dengan melihat belum adanya edukasi yang baik mengenai kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
5. Di kelurahan Parung Panjang ini hampir semua masyarakat-nya sakit dan untuk memberikan layanan kesehatan kepada mereka yang cukup layak, mereka perlu membuat surat keluarga miskin. Dan ini menjadi kesulitan tersendiri, dimana mereka datang dari keluarga buta huruf dan ketika mengurus surat GAKIN-pun harus mengeluarkan biaya tertentu.
6. Masyarakat di sini juga butuh keranda mayat, untuk digunakan sewaktu-waktu bila ada warga yang meninggal, apalagi tingkat kematian di sini akibat penyakit yang diderita cukup tinggi. Selama ini mereka hanya mengangkut mayat tetangga mereka yang meninggal hanya dengan dibungkus kain & tikar.
7. Baik dipikirkan juga untuk membuat education centre GRATIS untuk masyarakat di sana, karena dasar pemikiran masyarakat yang masih sangat kurang mengenai pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Dan ini sangat timpang dengan kenyataan daerah yang diapit oleh 3 propinsi besar dengan penduduk-nya banyak yang super mapan.
8. ...

========

Gimana? Ada gambaran bagaimana baksos yang akan kita laksanakan di sana?
Beberapa perusahaan sudah menyatakan kesediaan-nya untuk membantu kita,
jadi... mari kita laksanakan tugas ini :)

Setelah 2x rapat... dan berdasar catatan PJ Baksos Jagabita (Roel - binmustafa.multiply.com)...
maka kabar terbaru dari Baksos Jagabita adalah:

diadakan 2 kali: 8 Desember 2008 & 14 Februari 2009:
1. tgl 8 Desember 2008 pelaksanaan-nya bersamaan dengan kegiatan pemotongan hewan kurban di Desa Jagabita, bersama2 dengan beberapa komunitas lain. Untuk pemotongan hewan kurban, yang mau ikut menyumbang hewan kurban dapat menghubungi Nahar - http://kopiradix.multiply.com untuk mendaftar, atau reply di thread ini.
2. tgl 14 Februari 2009 pelaksanaan baksos merupakan lanjutan kegiatan tanggal 8 Desember 2008, setelah review apa saja kebutuhan baru yang URGENT di Desa Jagabita, antara lain: pembuatan sumur, layanan kesehatan, dll.

Rencana jangka panjang:
1. pengobatan TBC perlu waktu kurang lebih 6 bulan,
2. pembuatan sumur artritis (disana saat ini, sumur timba 30 meter aja air-nya tidak layak pakai),
3. perbaikan sekolah & tempat ibadah.

So, buat rekan2 yang sudah berkenan mendaftar untuk membantu di kegiatan ini, mohon untuk konfirmasi lagi, bisa tanggal 8 Des 2008 atau 14 Februari 2009 nanti, keikutsertaan-nya:
1. 8 Des 2008: srisariningdiyah, wiwieksulistyowati, duniaegi, photoready, sapuijux, helga134, de51, ochayank, kakrahmah, yousea1, ...
2. 14 Feb 2009: aniadami, srisariningdiyah, vhasie, wiwieksulistyowati, duniaegi, ilasyegaf, itsmearni, yudimuslim, verans, daffari, de51, kakrahmah, yousea1, pangeraniskandar, nasionalisme, ...

Juga untuk beberapa pos, sangat diperlukan bantuan sebelum Hari-H, terutama tgl 14 Feb 2009:
1. Bendahara (1 orang):
2. Pos pengumpul baju layak pakai & buku bacaan anak2 (4 orang): srisariningdiyah, izoel04, cahayarumah, helga134...
3. Sie Konsumsi (3 orang): aniadami, r4inbow , ...
4. Sie Transportasi (3 orang): duniaegi, pangeraniskandar, ...
5. Sie Medis (5 orang) - untuk tanggal 14 Februari 2009: de51, kakrahmah, ...
ada lagi yang bisa bantu?


Oya, buat yang belum dapat bantu secara fisik,
info sumbangan tunai sementara ini:
==================================
Update sumbangan Baksos Jagabita:
1. Hasil royalti I buku OGOL: Rp. 4.507.074,-
2. Hasil Royalti II buku OGOL: Rp. 702.000,-
3. Hasil pengumpulan di Halal Bihalal MPID: Rp. 155.000,-
4. RIN (Jakarta): Rp. 150.000,-
5. AR (Jakarta): Rp. 200.000,-
6. Hasil penjualan kalender: ... (belum final)... ada yang masih mau beli?
==================================
TOTAL: Rp. 5.709.074,-

Rekening baksos MPers:
1. Bank Mandiri Depok, No. 129-00-0496405-8
2. BCA Depok, No.421-232-6813


Pos Bantuan (baju & buku bacaan):
1. Izoel: Jl. Kecak 2 No. 238, Depok 2 Tengah. HP: 0812.8786077
2. Ari: Radio DFM, Jl. Mimosa I No. A7, Buncit Indah, Pejaten, Jakarta Selatan 12510. HP. 0818 848499
3. Bunda Qori: Tangerang
4. ...
5. ...

.
.
.

Mohon bantuan-nya ya rekans.........
trimsss...... !!!

TETAP SEMANGAAAAAATTTT!!!

Daftar panitia tambahan sementara (butuh banyaaaakkkk):
1. ghaya,
2. nasionalisme,
3. vhasie,
4. windageulis,
5. greenpensieve,
6. menhariq,
7. kopiradix,
8. djokocimahi,
9. hayat,
10. gawtama,
11. itsmearni,
12. duniaegi,
13. pu3solo,
14. tumpass,
15. diazty,
16. hippeastrum,
17. ilasyegaf,
18. niepuss,
19. kenami,
20. helga134,
21. daffari,
22. ratu165,
23. de51,
24. fetryz,
25. farranasir,
26. aniadami,
27. nerspuri,
28. opsidiumbali,
29. kakrahmah,
30. dapurmeranti,
31. photoready,
32. pinkq,
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40. ...


Links:
1. http://kopiradix.multiply.com/calendar/item/10026
2. http://gawtama.multiply.com/journal/item/414
3. http://kopiradix.multiply.com/journal/item/102
4. http://binmustafa.multiply.com/journal/item/171/tetap_semangat.._masih_ttg_jagabita
5. http://warnaislam.com/rubrik/sahabat/2008/11/27/32400/Laporan_Survey_Jagabita.htm
6.
7. ...

Update: Selasa, 2 Desember 2008 - 15.00

Minggu, 30 November 2008

[LIRIK LAGU] Nasihat Pengemis - menyambut Hotel Atlantis Palm di Dubai


Nasehat Pengemis Untuk Istri - Ebiet G. Ade

Istriku,
Marilah kita tidur
Hari telah larut malam
Lagi sehari kita lewati
Meskipun nasib semakin tak pasti


semanggi, pengemis

Lihat,
anak kita tertidur menahankan lapar
Erat memeluk bantal dingin
Pinggiran jalan
Wajahnya kurus, pucat
Matanya dalam


Istriku,
marilah kita berdoa
Sementara biarkan lapar terlupa
Seperti yang pernah ibu ajarkan


Tuhan bagi siapa saja
Meskipun kita pengemis pinggiran jalan
Doa kita pun pasti dia dengarkan
Bila kita pasrah diri, tawakkal


railroad
Gambar dari sini

Esok hari perjalanan kita
Masih sangatlah panjang
Mari tidurlah, lupakan sejenak
Beban derita, lepaskan


La la la la la la la dengarkanlah nyanyi
La la la la la la la dari seberang jalan
La la la la la la la usah kau tangisi
La la la la la la la nasib kita hari ini


atlantis, dubai, hotel
Gambar dari sini

Tuhan, selamatkanlah istri dan anakku
Hindarkanlah hati mereka
Dari iri dan dengki
Kepada yang berkuasa dan kenyang
Di tengah kelaparan

jagabita, ayu

Oh! hindarkanlah mereka dari iri dan dengki
Kuatkanlah jiwa mereka
Bimbinglah di jalanMu
Bimbinglah di jalanMu.


Posting spesial untuk menyambut dibukanya Hotel Altantis Palm di Dubai, semoga Alloh SWT membuka hati mereka yang selama ini keras membeku karena terlena gaya hidup mewah yang berasal dari Barat

Senin, 03 November 2008

[SOSIAL] Ojek Payung siapa peduli?












Ojek payung siapa peduli?




Casas de carton - Javier Alvarez



Tadi sore, setelah mengambil kwitansi dan amplop dari Bunda Ardanti di BI, saya mampir ke Plaza Indonesia untuk sholat Ashar dan lihat-lihat buku. Saat menjelang maghrib, ternyata di luar hujan deras. Anak-anak penjaja jasa sewa payung, alias ojek payung sudah berkumpul di sana menanti datangnya setetes rezeki untuk mereka.




Maka, muncullah perbedaan yang kontras dari kesenjangan sosial yang ada di negeri ini. Para ojek payung yang berpakaian lusuh seadanya serta bertelanjang kaki berjuang meraih rezeki yang ada hari itu. Sambil menggigil kedinginan serta menahan lapar, mereka menawarkan jasa ojek payung.




Saya tidak tahu apakah mereka tadi pagi sekolah atau tidak.

Saya tidak tahu apakah tadi siang mereka sudah makan atau belum.

Saya tidak tahu apakah mereka masih sempat istirahat atau tidak.





Bisa jadi dalam hati mereka terbersit rasa iri melihat anak-anak orang lain bisa naik turun mobil, bisa berpakaian bagus. Mereka juga ingin membeli mainan dan makanan yang mereka lihat ditenteng anak-anak orang kaya yang baru keluar dari Mall.




Entah apa lagi perasaan yang ada dalam hati mereka, yang seharusnya juga bisa kita rasakan jika kita punya kepekaan dan empati yang baik.




Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?

Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi?

Kalau bukan kita yang memberdayakan mereka, siapa lagi?





Saya hanya bisa merenungkan hal tersebut sambil menyanyikan lagunya Javier Alvarez berikut ini






Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué triste vive mi gente en las casas de cartón





Viene bajando el obrero casi arrastrando sus pasos

por el peso del sufrir,

mira que mucho ha sufrido, mira que pesa el sufrir





Arriba deja la mujer preñada

abajo está la ciudad y se pierde en su maraña

hoy es lo mismo que ayer, es un mundo sin mañana





Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué triste vive mi gente en las casas de cartón





Niños color de mi tierra, con sus mismas cicatrices

millonarios de lombrices, y por eso

qué triste viven los niños en las casas de cartón





Qué alegres viven los perros en casa del explotador





Usted no lo va a creer pero hay escuelas de perros

y les dan educación pa' que no muerdan los diarios

pero el patrón hace años, muchos años

que está mordiendo al obrero





Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué lejos pasa la esperanza en las casas de cartón




Selasa, 30 September 2008

Menjelang Tengah Malam di Malam Takbiran

Menjelang tengah malam di malam takbiran

Akhirnya malam takbiran yang dinantikan pun datang

masyarakat seakan berpesta pora penuh kemenangan

Lupa Daratan


Sementara, maksiat justru kian merajalela

yang pacaran asyik nonton TV di rumah saja

yang ditayangkan berisi hal sia-sia

buatan setan kapitalis Durjana

yang haus materi dan gila harta


Takbir keliling disertai musik yang menggila

knalpot digeber gak kira-kira

uang dan dana habis sia-sia

fitrah ternoda dan malah menambah dosa


kemenangan yang disangka di depan mata

mungkin sebenarnya sudah menguap sia-sia

"Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi hanya mendapat lapar dan haus saja"

Demikian kata Rasul Tercinta


Sementara itu, di tempat-tempat yang luput dari pengamatan

terdengar gemerincing rantai yang mengikat para setan

mulai terlepas dan berjatuhan

sehingga yang tadinya diikat pun jadi kegirangan


Iblis mempersiapkan bala tentara

setan-setan meregangkan ototnya

siap memulai pertempuran baru dengan manusia

agar mendapat sebanyak mungkin pendamping ke dalam Neraka


Namun yang paling berbahaya

Dajjal telah berkurang lagi rantai ikatannya

dia memang belum bebas sempurna

namun getaran energi fitnahnya sudah terasa

sehingga ke seluruh dunia


Kalau begitu, masihkah kita bangga pada Ramadhan yang telah berlalu?

bila ternyata saat Syawal tiba kita seakan bertingkah tidak tahu malu

Ramadhan bagaikan bayi yang mati dalam kandungan

tinggal dipendam dan diberi batu nisan



Kamis, 25 September 2008

Baksos MPers di Desa Jagabita, Parung Panjang, Tanggerang

Start:     Sep 25, '08 05:00a
End:     Dec 8, '08 08:00a
Location:     Desa Jagabita alias Kampung Pesakitan
Forward dari MP mbak Ari:

akhirnya...
PJ Baksos Jagabita, yaitu: mas Roel...
sudah mengeluarkan statement (cieh), bahwa baksos akan dapat dilaksanakan pada:
Sabtu, 6 Desember 2008

*sambil ketok palu*

Nah, rekan MPers...
setelah Baksos Jagabita yang rencananya diadakan di bulan Ramadhan ini dibatalkan karena beberapa alasan antara lain supaya lebih maksimal upaya kita disana, karena luas-nya daerah Jagabita, juga beberapa kendala lain... maka sekarang sudah diputuskan tanggal pelaksanaan baksos tersebut.

Niat awal baksos di sini adalah ketika syukuran Ulang Tahun MP Indonesia 2008 bulan Agustus lalu, rekan-rekan memilih hendak baksos dimana? Lalu di adakan-lah survey di beberapa tempat, salah satu-nya di Jagabita ini.
Hasil survey selengkapnya ada di sini:
Hasil Survey Baksos MPID: Jagabita & TIM

Dan beberapa catatan bila kita mengadakan baksos di Desa Jagabita:
1. Ada banyak penderita yang minimal berjumlah 200 orang, untuk mengadakan baksos layanan kesehatan,
2. Puskesmas yang ada sangat terbatas layanan-nya, dengan biaya layanan Rp. 3.000,- dan di hari Sabtu-Minggu menjadi Rp. 10.000,- biaya yang cukup memusingkan ini membuat masyarakat disana malas berobat walaupun gejala sakit sudah dimulai sejak dini. Akibatnya masyarakat baru berobat bila sudah sangat parah. Akses puskesmas juga hanya dapat dicapai menggunakan ojek dengan biaya minimal Rp. 10.000,- sekali jalan. Ini sangat berat untuk mereka.
3. Tidak ada-nya oksigen di tabung yang tersedia di puskesmas sangat menyulitkan masyarakat yang datang berobat terutama yang sudah parah, jadi hal ini juga menjadi kendala utama yang harus menjadi daftar utama dalam baksos bila diadakan di sana.
4. Masyarakat disana dikenakan biaya cukup tinggi, walaupun mereka datang dari keluarga miskin, misalnya untuk kasus pemasangan alat KB, dihargai Rp. 70.000,- padahal pengendalian penduduk di sana cukup di rasa penting, dengan melihat belum adanya edukasi yang baik mengenai kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
5. Di kelurahan Parung Panjang ini hampir semua masyarakat-nya sakit dan untuk memberikan layanan kesehatan kepada mereka yang cukup layak, mereka perlu membuat surat keluarga miskin. Dan ini menjadi kesulitan tersendiri, dimana mereka datang dari keluarga buta huruf dan ketika mengurus surat GAKIN-pun harus mengeluarkan biaya tertentu.
6. Masyarakat di sini juga butuh keranda mayat, untuk digunakan sewaktu-waktu bila ada warga yang meninggal, apalagi tingkat kematian di sini akibat penyakit yang diderita cukup tinggi. Selama ini mereka hanya mengangkut mayat tetangga mereka yang meninggal hanya dengan dibungkus kain & tikar.
7. Baik dipikirkan juga untuk membuat education centre GRATIS untuk masyarakat di sana, karena dasar pemikiran masyarakat yang masih sangat kurang mengenai pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Dan ini sangat timpang dengan kenyataan daerah yang diapit oleh 3 propinsi besar dengan penduduk-nya banyak yang super mapan.
8. ...

========

Gimana? Ada gambaran bagaimana baksos yang akan kita laksanakan di sana?
Beberapa perusahaan sudah menyatakan kesediaan-nya untuk membantu kita,
jadi... mari kita laksanakan tugas ini :)

Satu lagi...
nanti tanggal 8-9 November 2008 akan ada acara Indonesian Consumunity Expo 2008 dimana komunitas Multiply Indonesia diundang turut serta & disediakan stand untuk memajang hasil2 kegiatan komunitas selama ini.

Menurut rekan2, ajang ini tepat untuk dijadikan kesempatan antara lain menjual buku komunitas kita, yaitu: One Gigabyte Of Love, juga sekaligus memberitahukan kegiatan baksos akbar kita di Desa Jagabita, yang memang benar2 perlu banyak sekali resources.

Siap???
TETAP SEMANGAT!!!
.
.
.
foto di sini

http://kopiradix.multiply.com/photos/album/12/Foto-foto_hasil_Survey_ke_Parung_Panjang_-_Desa_Jagabita_desa_pesakitan

Rabu, 30 Juli 2008

RYAN bawa Rezeki?????


Tentunya kita sudah mendengar peristiwa pembunuhan menghebohkan yang dilakukan seorang pembunuh berantai.  Namun, tadi sesudah sholat isya berjamaan di masjid, saya mendengar orang-orang membicarakan perkara tersebut. Yang menarik sekaligus memprihatinkan adalah fenomena sosial berita yang mengatakan bahwa si Ryan ini membawa rezeki.  Orang-orang banyak yang datang ke tempat penimbunan mayat hasil pembunuhan berantai tersebut sehingga muncullah pasar kaget di sana.  Ada penjual minuman, makanan, tukang parkir, bahkan ada kereta api mini untuk anak-anak.  Orang-orang datang dan berkata, "Oh, ini lobangnya" sambil membeli makanan dan minuman, sementara itu anak-anak mereka main kereta api mini.

Bahkan ada yang sampai keceplosan bicara " Untung ada si Riyan ini ya, kita dapat 1.5 juta sehari", Astagfirullah!

Ini sih namanya menari di atas penderitaan orang lain.  Dalam hati saya cuma bisa beristighfar dan menangisi kegilaan bangsa saya yang tercinta ini

Kultur menonton dalam masyarakat kita memang sudah sangat sulit untuk diperbaiki.  Mulai dari TV, kereta api lewat, sampai kerusuhan dan kebakaran.  Sering kali petugas pemadam kebakaran kesulitan mencapai lokasi kebakaran gara-gara warga berkerumun mau melihat kebakaran tersebut. 

Saya pernah mendengar salah satu editorial radio SMART FM.
Dalam editorial tersebut dikatakan bahwa:
  1. Masyarakat yang terus menerus disuguhi tontonan tidak bermutu akan hilang minat bacanya. 
  2. Masyarakat yang kehilangan minat baca akan bodoh jadinya. 
  3. Masyarakat yang bodoh akan miskin. 
  4. Masyarakat yang miskin akan lemah daya belinya dan tidak bisa beli apa-apa. 
  5. Masyarakat yang lemah daya belinya tentu tidak akan mampu membeli produk-produk yang dipromosikan melalui iklan-iklan di TV.  
  6. Apabila masyarakat tidak bisa membeli produk-produk tersebut, perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk-produk tersebut tentu akan mengalami kesulitan keuangan. 
  7. Apabila perusahaan-perusahaan itu mengalami kesulitan keuangan, bisa-bisa ada PHK massal dan yang paling dahulu kena adalah buruh dan para pekerja kasar.  Mereka pada umumnya kurang berpendidikan dan miskin, sehingga mudah jadi sasaran empuk PHK.
  8. Banyaknya PHK akan menimbulkan lebih banyak pengangguran.
  9. Lebih banyak penggangguran artinya akan lebih banyak tindak kejahatan merajalela di lingkungan kita.
  10. Pada akhirnya kualitas hidup masyarakat akan menurun secara keseluruhan, termasuk penyakit yang merajalela karena sulit bagi masyarakat miskin untuk memelihara kebersihand an menjaga kesehatan, contohnya di  Desa Jagabita, Parung Panjang Tanggerang, alias Kampung Pesakitan.  Foto-fotonya bisa dilihat di sini
  11. Bukan tidak mungkin semua hal yang disebutkan di atas akan memicu krisis yang lebih besar lagi, mungkin seperti Revolusi Prancis atau peristiwa-peristiwa lainnya yang serupa dengan itu.
     

Nauzubillah min dzalik, semoga Alloh SWT melindungi kita semua, Amiiiin

Terlepas dari segala kontroversi yang terjadi, saya merasa yakin bahwa penyebab utama dari semua masalah ini adalah kemiskinan



Beberapa hari sebelumnya, saya mendapat informasi dari Blog Sang Teroris yang pernah mampir di MP saya tentang film dokumenter karya John Pilger yang berjudul The New Rulers of the World.
Setelah itu, saya cari Videonya dengan bantuan Om Google, he he he.  Dapat dan langsung nonton di internet, sebab kalau pinjam gak tahu musti pinjam sama siapa.

Begini ceritanya (kutip dari Wikipedia)

Pilger's central thesis is that the "New Rulers" alluded to in the title are, in fact, the old rulers in new clothes. To Pilger, the colonialism of the 19th and early 20th centuries has experienced a return to grace following World War II (when it was realised that Nazism was a form of imperialism) in the form of globalisation. In this respect, his arguments are similar to those of left-wing critics of Western foreign policy. He also shares the view that the moral underpinnings for Western action are false, but are largely believed by the media. He states in the introduction, "The War on Terrorism' is terrorism" (italics his). His focus, however, is on the human side, and his impassioned descriptions of the victims of violence and injustice sit side by side with critiques of national policies, along with the media response.



Cerita yang lebih lengkap ada di Blognya Pak Zainal Abidin alias Jay the Terorist, tepatnya di jurnal yang ini.  
Sebagai tambahan referensi, mungkin kita bisa lihat Bukunya Pak Amien Rais yang berjudul Selamatkan Indonesia, Agenda mendesak bangsa

saya sendiri sih belum baca, tetapi saya sudah bisa menebak apa isinya, ya gak jauh beda dari filmnya si John Pilger itu tadi.


Semoga bermanfaat

Kamis, 24 Juli 2008

36 Tokoh Iklan Freedom Institute | Berita Tokoh Indonesia

http://www.tokohindonesia.com/berita/berita/2005/01/freedom.shtml
berita tentang

36 Tokoh Iklan Kenaikan Harga BBM

[ARTIKEL] Daftar Nama Pendukung Kenaikan Harga BBM

Rating:
Category:Other
Berikut nama-nama pendukung kenaikan harga BBM tahun 2005 yang mencapai 125%. Mereka memasang iklan dukungan kenaikan harga BBM di berbagai media massa. Bahkan LPEM FEUI membuat “studi Ilmiah” yang menyatakan kemiskinan berkurang jika harga BBM dinaikkan.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang berulangkali menaikan harga BBM ternyata di zaman Megawati juga menaikan harga BBM.

Semoga intelektual kita lebih memihak kepada rakyat. Berikan BBM dengan harga yang terjangkau kepada rakyat. Bukan harga Internasional.

Dukung Pemerintah

36 Tokoh Iklan Kenaikan Harga BBM

Jakarta 8/3/2005: Sebanyak 36 tokoh diiklankan Freedom Institute sebagai pendukung pemerintah mengurangi subsidi BBM (menaikkan harga BBM). Sebagian mereka mempertaruhkan kredibilitas yang sebelumnya sudah sangat diakui oleh masyarakat sebagai tokoh intelektual yang berpihak kepada kepentingan umum dalam profesinya masing-masing.

Mereka di antaranya berprofesi sebagai akademisi, peneliti, pemerhati sosial, rohaniwan, seniman, pengusaha, advokat, ekonom, politisi dan wartawan. Tampilnya nama-nama sebagian tokoh diiklan Freedom Institute ini menjadi sorotan publik yang dinilai sebagai kurang pantas dilakukan oleh tokoh intelektual yang tadinya dianggap berpihak kepada kepentingan umum. Namun rupanya, para tokoh itu mempunyai alasan sendiri bersedia ditampilkan sebagai tokoh iklan kenaikan harga BBM itu.

Iklan untuk mendukung kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM itu diterbitkan di media massa tanggal 26 Februari 2005, beberapa hari sebelum pemerintah menaikkan harga BBM dalam negeri rata-rata 29 persen tanggal 1 Maret 2005. Kebijakan menaikkan harga BBM ini mendapat penolakan dari berbagai pihak yang dampaknya dirasakan sangat memberatkan rakyat kecil.

Nama-nama tokoh yang tampil sebagai bintang iklan pendukung kenaikan harga BBM bersama-sama dengan Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal, itu antara lain rohaniwan Franz Magnis Suseno, tokoh pers dan pendiri Tempo Gunawan Muhammad dan Fikri Jufrie, pengacara kondang pembela hak-hak asasi manusia Todung Mulya Lubis, dan tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar-Abdalla.

Nama-nama lain yang menjadi bintang iklan Freedom Institute, itu adalah Agus Sudibyo, Anggito Abimanyu (ekonom), Anton Gunawan, Ayu Utami (senimawati), Bimo Nugroho (praktisi televisi), Dana Iswara (praktisi televisi), Dodi Anbardi, Hadi Soesastro (ekonom), Hamid Basyaib, Ichsan Loulembah (anggota DPD dari Sulawesi Tengah), dan Jeffrie Geovanie (Direktur Kampanye Calon Presiden HM Amien Rais).

Juga Jeannette Sdjunadi, Lin Che Wei (ekonom), Luthfi Assyaukenie, M. Chatib Basri (ekonom), M Ikhsan (ekonom), M Sadli (ekonom), Mohammad S Hidayat (pengusaha, Ketua Kadin 2004-2008), Nirwan Dewanto (pengusaha), Nong Darol Mahmada, Nono Anwar Makarim (advokat senior), Raden Pardede (ekonom), Rahman Tolleng (politisi Golkar dari Bandung), Rizal Mallarangeng (adik Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Andi Mallarangeng), Rustam F Mandayun, Saiful Mujani (peneliti pada sejumlah polling-polling), Sofyan Wanandi (pengusaha), Sugiarto Chandra dan Thee Kian Wie.

Iklan full-colour satu halaman penuh itu memuat data, bahwa dengan harga minyak dunia saat ini, subsidi BBM akan mencapai Rp 70 trilyun. Artinya, negara harus menghabiskan Rp 200 miliar setiap hari hanya untuk menyangga harga BBM.

ôBerapa sekolah dan puskesmas yang dapat kita bangun setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan, dengan dana sebesar itu? petikan iklan Freedom Institute, institusi yang disebut independen dan pendiriannya diprakarsai Aburizal Bakrie itu.

Ditampilkan pula grafik hasil perhitungan LPEM-FEUI, yang jika diiringi dengan program kompensasi tertentu pengurangan subsidi BBM justru mengurangi jumlah kaum miskin. Menurut LPEM-FEUI itu, dampak kenaikan BBM dari jumlah penduduk miskin Indonesia kondisi awal adalah sejumlah 16,25%, dengan kenaikan BBM 30% jumlah penduduk miskin Indonesia menjadi 16,43%. Dan sesudah kompensasi jumlah penduduk miskin menurut LPEM-FEUI akan turun menjadi hanya 13,87%.

Program kompensasi ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti beasiswa pendidikan, perbaikan sarana kesehatan, dan bantuan beras murah. ôKita harus berani memilih: bersembunyi dibalik kekeliruan masa lalu, atau menghadapi persoalan sekarang untuk menyiapkan masa depan bersama yang lebih baik,ö demikian bunyi terakhir iklan yang akhirnya menuai beragam kontroversi di masyarakat, bahkan mempertanyakan ketokohan para bintang iklan yang selama ini kredibiltasnya sesungguhnya sudah pernah diakui oleh masyarakat sebagai tokoh yang baik-baik. *ti/ht

http://www.tokohindonesia.com/berita/berita/2005/01/freedom.shtml

Nama Pendukung Kenaikan Harga BBM Berdasarkan Abjad

Agus Sudibyo

Andi Mallarangeng

Anggito Abimanyu

Anton Gunawan

Ayu Utami

Bimo Nugroho

Dana Iswara

Dino Patti Djalal

Dodi Anbardi

Fikri Jufrie

Franz Magnis Suseno

Gunawan Muhammad

Hadi Soesastro

Hamid Basyaib

Ichsan Loulembah

Jeannette Sdjunadi

Jeffrie Geovanie

Lin Che Wei

Luthfi Assyaukanie

M Ikhsan

M Sadli

M. Chatib Basri

Mohammad S Hidayat

Nirwan Dewanto

Nong Darol Mahmada

Nono Anwar Makarim

Raden Pardede

Rahman Tolleng

Rizal Mallarangeng

Rustam F Mandayun

Saiful Mujani

Sofyan Wanandi

Sugiarto Chandra

Thee Kian Wie

Todung Mulya Lubis

Ulil Abshar-Abdalla

Sumber: http://infoindonesia.wordpress.com/2008/07/24/daftar-nama-pendukung-kenaikan-harga-bbm-tahun-2005/#comment-554

Minggu, 20 Juli 2008

Hari Tanpa TV - Berhasilkah???

UntitledAssalamualaikum,

bagaimana hari tanpa TV kemarin, sukses enggak, he he he

Saat saya lihat pro dan kontra dari ajakan tersebut di situs detiknews dot com, kayaknya koq lebih banyak yang kontra ya.  Tanya kenapa??????????????

Sebagaimana kita ketahui, ketergantungan masyarakat pada hiburan, terutama TV sudah sampai tahap yang mengkhawatirkan.  Hal ini sudah berlangsung lama sekali, mengingat pengalaman saya waktu SD dan SMP seringkali bolos sekolah dan pura-pura sakit agar bisa nonton film kartun yang berseri-seri.  Obrolan di sekolah pada waktu itu juga berkisar tentang film-film kartun di televisi, bukan masalah pelajaran, he he he.

Kekhawatiran orang tua dan guru tentu saja dapat dimengerti dan dipahami.  Mereka tidak ingin anak-anak dan murid-muridnya tidak berhasil dalam menempuh pendidikan sehingga tidak dapat membina masa depan dengan baik.  Acara televisi sering kali sambung menyambung sehingga tidak memberi kesempatan pada anak-anak untuk melakukan hal-hal lain.  Mungkin stasiun TV A saat melihat jadwal siaran Stasiun TV B berpikir, "kalau film kartun ini saya setel jam sekian, pasti bentrok sampa punya TV B dan bisa kalah rating.  Kalau gitu saya setel setengah jam sesudahnya aja deh."

Pemsukan stasiun TV memang dari Iklan, jadi bagaimanapun hancur lebur acaranya, apabila ratingnya tinggi ya akan tetap dipertahankan mati-matian.  Namun, saya pernah dengar bahwa pada rating itu  sendiri terjadi salah kaprah, yang di-rating kan acara TV-nya bukan iklannya.  Kalau orang-orang yang suka nonton TV ditanya, "Bapak-bapak, ibu-ibu, mas, mbak, adik dll kalau pas ada iklan, channel TV-nya diganti enggak" Kemungkinan 90 sekian persen akan menjawab "Digantiiiiiiiiiiiiii". Jadi, bisa dibilang persis dengan apa yang dikatakan Bapak Tung Desem Waringin, para pemasang iklan itu menyebarkan uang di kawah gunung berapi.  Alias buang-buang duit :(

Padahal, bukankah Alloh SWT sudah menjanjikan bahwa Dia akan menjamin rezeki setiap makhluk ciptaan-Nya? Coba kita baca Surat Hud Ayat 6. (Dan tidak ada suatu binatang melata dimuka bumi ini melainkan Allah yang memberi rizqinya).  Tuh, benar kan?
  
Selama manusia belum yakin bahwa Alloh SWT menjamin rezeki setiap hamba-hamba dan makhluk-makhluk ciptaanNya, maka hal-hal seperti itu akan terus terulang sampai kapanpun.  Namun, saya pernah mendengar salah satu editorial radio SMART FM.  Dalam editorial tersebut dikatakan bahwa:
  1. Masyarakat yang terus menerus disuguhi tontonan tidak bermutu akan hilang minat bacanya. 
  2. Masyarakat yang kehilangan minat baca akan bodoh jadinya. 
  3. Masyarakat yang bodoh akan miskin. 
  4. Masyarakat yang miskin akan lemah daya belinya dan tidak bisa beli apa-apa. 
  5. Masyarakat yang lemah daya belinya tentu tidak akan mampu membeli produk-produk yang dipromosikan melalui iklan-iklan di TV.  
  6. Apabila masyarakat tidak bisa membeli produk-produk tersebut, perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk-produk tersebut tentu akan mengalami kesulitan keuangan. 
  7. Apabila perusahaan-perusahaan itu mengalami kesulitan keuangan, bisa-bisa ada PHK massal dan yang paling dahulu kena adalah buruh dan para pekerja kasar.  Mereka pada umumnya kurang berpendidikan dan miskin, sehingga mudah jadi sasaran empuk PHK.
  8. Banyaknya PHK akan menimbulkan lebih banyak pengangguran.
  9. Lebih banyak penggangguran artinya akan lebih banyak tindak kejahatan merajalela di lingkungan kita.
  10. Pada akhirnya kualitas hidup masyarakat akan menurun secara keseluruhan, termasuk penyakit yang merajalela karena sulit bagi masyarakat miskin untuk memelihara kebersihand an menjaga kesehatan, contohnya di  Desa Jagabita, Parung Panjang Tanggerang, alias Kampung Pesakitan.  Foto-fotonya bisa dilihat di sini
  11. Bukan tidak mungkin semua hal yang disebutkan di atas akan memicu krisis yang lebih besar lagi, mungkin seperti Revolusi Prancis atau peristiwa-peristiwa lainnya yang serupa dengan itu.
     

Nauzubillah min dzalik, semoga Alloh SWT melindungi kita semua, Amiiiin


Nah, apakah kita masih meremehkan dampak negatif Televisi dalam kehidupan kita??

Semoga bermanfaat, maaf jika tidak berkenan.

 

Jumat, 18 Juli 2008

Hari Tanpa TV - 20 Juli 2008

Rating:★★★★★
Category:Other
Ajakan Koalisi Nasional HTT:
Ikuti "HARI TANPA TV 2008"
"Sebagian besar anak Indonesia menonton TV sekitar 1.600 jam setahun, padahal hanya 740 jam mereka belajar di bangku sekolah"

TV memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. TV dapat menjadi sumber informasi dan edukasi yang sangat handal. Namun TV juga dapat menjadi sumber hiburan yang tiada henti. Aktivitas menonton telah TV memangkas waktu interaksi dalam keluarga, menimbulkan dampak negatif berupa peniruan dan penanaman nilai pada anak-anak dan remaja, berkontribusi pada gaya hidup yang tidak sehat, konsumtif, dsb.

Fungsi siaran TV sebagai hiburan jauh lebih menonjol dibanding dengan fungsi yang seharusnya bisa diperankan berupa informasi dan edukasi. Keluarga yang mengalokasikan waktu yang lebih sedikit untuk menonton TV, akan mempunyai lebih banyak waktu untuk aktivitas-aktivitas yang lebih posistif, interaktif dan mempererat hubungan kekeluargaan.

Penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game. Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja. Dalam setahun, jumlah jam menonton TV ini mencapai lebih dari 1.600 jam. Bandingkan dengan jumlah jam belajar di sekolah dasar negeri selama setahun yang hanya sekitar 740 jam untuk kelas rendah.

Secara umum dapat dikatakan bahwa ketergantungan anak pada tayangan TV sudah sangat tinggi dan mencapai titik yang mengkhawatirkan. Ada beberapa fakta yang dapat menggambarkan betapa mengkhawatirkannya ketergantungan itu:

Pertama, belum terbentuk pola kebiasaan menonton TV yang sehat. TV masih menjadi hiburan utama keluarga yang dikonsumsi setiap hari dalam waktu yang panjang tanpa seleksi yang ketat terhadap pilihan acara yang mereka tonton.

Kedua, kebanyakan isi acara TV kita tidak aman dan tidak sehat untuk anak. Banyak acara TV dengan kandungan materi untuk orang dewasa yang ditayangkan pada jam-jam anak biasa menonton dan kemudian disukai dan ditiru oleh anak-anak. Contoh yang ekstrim, peniruan adegan laga dalam tayangan TV oleh anak telah menimbulkan beberapa korban jiwa.

Ketiga, lemahnya peraturan bidang penyiaran dan penegakannya. Sejak indutri televisi berkembang pesat, permasalahan yang terkait dengan isi tayangan makin membesar. Hingga kini masalah tersebut belum dapat diatasi dengan efektif.

Oleh karena itu, Koalisi Nasional HARI TANPA TV 2008 menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk mematikan pesawat televisi selama sehari penuh pada hari MINGGU 20 JULI 2008.

Dengan mematikan TV selama sehari penuh dan mengajak anak-anak untuk memiliki kegiatan lain selain menonon TV, dapat menjadi langkah awal kita untuk mengurangi ketergantungan anak pada televisi. Dengan bersedia mematikan TV seharian, maka hal itu menjadi bukti bahwa kita sadar mengenai perlunya pengaturan dalam menonton TV bagi anak-anak kita.

Selain itu, perlu dilakukan upaya bersama seluruh komponen masyarakat untuk mendesak dan mempengaruhi industri penyiaran agar lebih memperhatikan isi tayangan dan pola penyiaran yang memperhatikan perlindungan terhadap anak. Tekanan yang paling efektif bagi industri televisi adalah apabila masyarakat secara bersama-sama tidak menonton TV sama sekali, atau secara selektif tidak menonton acara tertentu dalam waktu yang panjang.

Dukungan masyarakat akan disampaikan kepada industri penyiaran, Komisi Penyiaran Indonesia, Departemen Komunikasi dan Informatika, Komisi I DPR-RI, dan berbagai pihak terkait.
Sampaikan dukungan anda melalui e-mail ke haritanpatv@kidia.org;
SMS ke nomor 0812-1002.4009;
dan fax: 021-8690.5680; website http://www.kidia.org

Jakarta, 11 Juli 2008

Guntarto,
Ketua SC Koalisi Nasional HTT 2008

Senin, 30 Juni 2008

Foto-foto hasil Survey ke Parung Panjang - Desa Jagabita (desa pesakitan)








Untitled



Casas de Carton - Los Guaraguaos




temans, ini sedikit foto dari saya..
maaf kalau belum menambahkan keterangan,
diwakilkan dengan tulisan Ari disini yah



Hasil Survey Baksos MPID Tim Jagabita



More photos, please visit



desa_Jagabita_desa_pesakitan_parung_panjang




dibawah ini info dari mas Bayu



Sedikit cerita tentang desa Jagabita



Pernah dengar Kampung Pesakitan? Pasti belum. Karena nama kampung ini memang tidak ada dalam wilayah manapun di negeri ini. Sebutan Kampung Pesakitan bukan nama sebenarnya, hanya sebuah nama yang dilabeli oleh relawan ACT yang Selasa lalu (8/4) lalu mendatangi beberapa kampung dan desa di Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.



Sebagai contoh adalah Desa Jagabita. Perekonomian yang carut marut membuat masyarakat sangat tak berdaya untuk sekadar bertahan hidup secara normal. Yang dimaksud normal disini yakni makan tiga kali sehari, pendidikan berjalan lancar, dan kesehatan terjaga. Jika tiga hal ini menjadi patokan standar kehidupan normal, maka nyaris seluruh warga di desa ini bisa dibilang berkehidupan tak normal.



Ella misalnya, gadis 18 tahun ini menderita sakit kaki gajah sejak usianya masih sekitar dua tahun. Ukuran kakinya saat ini sudah benar-benar seukuran kaki gajah dan tak pernah diobati sama sekali. Hanya sekali dibawa ke puskesmas untuk mendapat pemeriksaan, yakni pada saat Ella berusia dua tahun. Sejak saat itu Ella tidak lagi mendapat pengobatan, padahal kakinya terus membesar.



Usan (47 tahun), Ayah Ella, mengaku tidak punya uang untuk mengobati penyakit anaknya. Sehari-harinya Usan hanya bekerja sebagai buruh serabutan membuat anyaman topi pramuka dari bambu. Setiap hasil anyaman topi itu Usan hanya mendapat upah lima ratus rupiah, dan dalam sepekan ia hanya sanggup membuat tidak lebih dari 20 topi. Itu artinya, penghasilan Usan hanya berkisar sepuluh ribu rupiah. Dengan uang sekecil itulah ia menghidupi isteri dan ketujuh anaknya. “Buat makan saja nggak ada pak, apalagi buat ke dokter”, aku Usan kepada relawan ACT.



Ibu Uun, relawan ACT yang menemani tim ACT ke desa tersebut pun menjelaskan, bahkan untuk ongkos ojeg ke puskesmas pun mereka tidak punya. Kini Ella sudah tidak bersekolah, selain karena terlalu berat membawa-bawa kakinya yang membesar, ia juga malu karena sering diejek teman-temannya. Gadis yang bercita-cita masuk pesantren agar bisa menjadi guru ngaji itu sehari-harinya berdiam diri di kamar dan malu keluar rumah.



Selain Ella, ada juga Rohilah, siswi kelas 2 SD yang mulai terkena kaki gajah. Kaki kanan gadis kecil berusia sepuluh tahun ini memang belum terlihat besar karena baru beberapa bulan menderita kaki gajah. Tetapi dari waktu ke waktu kakinya akan terus membesar jika tidak diobati.



Tidak jauh dari rumah Ella, Mas’ud, 50 tahun, sudah tiga tahun tidak bisa berjalan karena ada benjolan di lututnya. Ia tidak pernah memeriksakan kakinya ke puskesmas karena tidak punya biaya. “Jauh pak, harus naik ojeg. Pulang pergi naik ojeg tidak cukup sepuluh ribu…,” keluhnya.



Gizi Buruk


Tim relawan ACT juga menemui banyak kasus gizi buruk di desa itu. Sebut saja Mamay, 3,5 tahun yang hanya memiliki bobot 8,5 kilogram. Perutnya buncit, matanya sayu serta kulitnya yang layu. Anak-anak seusianya sudah mampu berlari, sedangkan Mamay masih digendong ibunya, Linda (22 tahun) karena belum sanggup berdiri. Ternyata, Mamay masih punya adik yang berusia enam bulan. Total anak Linda berjumlah enam, sementara suami Linda hanya bekerja sebagai guru ngaji.



“Mamay dikasih makan apa bu?” tanya relawan ACT. “Nggak mau makan, paling-paling ASI bareng sama adiknya. Soalnya saya nggak punya uang buat beli susu pak,” ujar Linda.




Rafli, 2 tahun, bobotnya hanya 8 kg. Ikrima, anak kelima dari lima bersaudara berusia 2,5 tahun, berat badannya pun tak lebih dari 9,5 kg. Adalagi Khaerul, bocah berusia tujuh tahun, selain bongkok, ia pun menderita gizi buruk karena berat badannya tidak lebih dari 13 kg. Anak yatim ini tidak terurus karena ayahnya sudah meninggal sedangkan ibunya hanya berdagang asongan di pasar. Khairul yang bongkok ini pun sering menjadi bahan olok-olok teman-temannya.



Tidak berbeda nasib dengan yang lain adalah Anisa. Ketika ditemui gadis berusia dua tahun ini sedang bermain di kubangan lumpur. Eli, sang ibu yang buta sejak kecil, tidak tahu kalau anaknya bergelimang lumpur. Berat badan Anisa hanya 5,5 kg dengan perut membuncit. Anisa tidak pernah mengenal Ayahnya, karena sang Ayah kabur saat gadis itu baru dilahirkan.



Hari sudah gelap, padahal menurut ibu Uun masih banyak yang harus dikunjungi. Selain jumlah balita gizi buruk yang sudah didata sampai diangka 100, anak-anak dan warga dengan penyakit lainnya pun sangat banyak. Ada yang sakit hernia, cacat mental, tumor kulit, TBC paru-paru, dan masih banyak lagi sehingga cukup pantas menamakan wilayah ini sebagai kampung pesakitan.



Ketidakberdayaan ekonomi, ketidaktahuan (baca: kebodohan), juga ketidakadilan sistem kehidupan menjadi penyebab utama kondisi memprihatinkan beberapa desa di wilayah Parung Panjang ini. Bahkan, sebagian warga di Parung Panjang harus tinggal di atas tanah yang bukan milik mereka sendiri, karena tanah-tanah itu sudah menjadi milik orang kota.



Beberapa desa di kecamatan ini bisa dikategorikan sebagai desa tertinggal, untuk bertahan hidup pun mereka harus bersusah payah mengurangi frekuensi makan yang biasanya tiga kali menjadi dua kali, bahkan sekali makan dalam sehari. Kesehatan seperti mimpi terindah yang takkan pernah mereka rasakan, sebab untuk membuat kartu GASKIN (keluarga miskin) pun mereka harus mengeluarkan sejumlah uang yang tak sedikit. Padahal kartu GASKIN inilah satu-satunya harapan mereka bisa mendapat perawatan kesehatan secara gratis. Adakah yang masih peduli?



Kampung Pesakitan, pasti bukan hanya di Parung Panjang. Di banyak wilayah di negeri ini terdapat kampung sejenis, dengan ketidakberdayaan ekonomi, ketertinggalan akses informasi, keterbatasan pengetahuan, serta ketidakadilan system yang mengkerangkeng kehidupan masyarakat bangsa ini. Lihatlah, berapa banyak anak-anak menderita gizi buruk di negeri ini? (Gaw)



Informasi: Bayu Gawtama, 02132855165, 085219068581





Sabtu, 14 Juni 2008

[PUISI] Layar Raksasa

Layar raksasa

di layar raksasa para peragawati memperagakan adibusana
di jalanan para pengemis berpakaian seadanya

di layar raksasa ditampilkan iklan kamar mandi mewah
di sungai di belakangnya, orang mandi dan mencuci dengan air limbah

di layar raksasa tampillah iklan mobil-mobil mewah
dalam angkutan umum, para penumpang berkeluh kesah

di layar raksasa, tampillah rumah-rumah serba megah
di belakang gedung-gedung, gang-gang sempit dengan kemiskinan yang parah

di sekitar layar raksasa, pertokoan mewah mengelilingnya
di depan pertokoan, para pengemis meminta-minta

di layar raksasa, iklan barang-barang mahal dan mewah silih berganti
di sekitarnya, banyak masyarakat miskin makin menjerit dari hari ke hari

di hotel-hotel di sekitar layar raksasa, para tamu dimanja dan dilayani
di jalanan sekitarnya para tunawisma tidak tahu bagaimana nasibnya di esok hari

Inilah kisah yang pernah terjadi,
saat Layar Raksasa pernah berdiri
di daerah Bundaran HI
tempat yang sering jadi ajang demonstrasi
Namun, walaupun kini Layar Raksasa telah tiada
bersama berbagai kenangan bersamanya
namun keadaannya masih relatif sama
dan semakin bertambah parah setiap harinya







Jumat, 06 Juni 2008

Kekerasan Terselubung dalam Perbuatan MAXIAT

Untitled

Berbicara tentang FPI, tentu saja kita tidak bisa memisahkan pembicaraan kita dari yang namanya perbuatan maxiat.


Mari sejenak kita berempati pada para orang tua yang anak-anaknya hobby melakukan berbagai macam perbuatan maxiat seperti judi, mabuk, main perempuan (yang gak bener) dan sebagainya. Perbuatan-perbuatan seperti itu tentu akan melukai perasaan dan membuat malu para orang tua tersebut. Belum lagi apabila anak yang suka maxiat itu adalah pengangguran yang hanya bisa minta (nodong??) orang tuanya agar bisa terus bermaxiat. Bayangkan betapa berat beban yang ditanggung para orang tua tersebut, baik secara moral, emosional apalagi finansial. Jika para pelaku maxiat itu tidak bisa lagi dapat dari orang tua mereka, tentu saja mereka akan terjerumus untuk melakukan berbagai macam tindak kejahatan. Saya pernah membaca di suatu majalah ada orang tua yang anaknya kena Narkoba berkata pada salah satu teman sang anak "Jika anak saya mati, maka kamu juga harus mati. Saya tidak peduli walaupun saya harus masuk penjara sekalipun!!"

Para guru tentu akan merasa kecewa dan sedih apabila murid-murid tidak lagi rajin belajar dan tekun berlatih sehingga sulit menyerap pelajaran yang diberikan karena perhatian mereka terpusat pada berbagai macam hiburan di layar TV dan sebagainya. Rasanya sia-sia saja para guru tersebut lelah-lelah mengajar di sekolah, kursus dan institusi pendidikan lainnya. Belum lagi pengaruh tayangan seperti Smackdown yang beberapa waktu yang lalu makan korban beberapa anak kecil yang mencoba melakukan bantingan-bantingan tanpa berlatih terlebih dahulu.


Bagaimana dengan istri-istri dari para lelaki yang hobby bermaxiat dengan pergi ke tempat pelacuran baik yang tersebar di berbagai tempat di negeri ini? Seandainya pun mereka terpaksa menahan perasaan marah dan kecewa karena kelakuan para suami, para istri tersebut rawan terkena macam-macam penyakit kelamin sebagai "oleh-oleh" dari pasangannya.


Jangan salahkan apabila banyak orang yang sudah tidak percaya pada hukum dan sistem hukum di negeri ini. Sudah jamak beredar di sekitar kita suatu "lelucon" (sebenarnya sih tidak lucu) yang berbunyi "Apabila maling masuk penjara, maka begitu dia keluar dari penjara dia akan jadi maling yang lebih lihai". yang lebih parah tentu saja apabila penjara sudah jadi "training center" untuk para penjahat agar mereka bisa lebih hebat lagi dalam berbuat kejahatan.

Sudah lama saya berpikir bahwa orang tua, guru dan masyarakat yang resah karena perbuatan-perbuatan maxiat dan tempat-tempat maxiat yang menjamur bak cendawan di musim hujan itu seakan-akan tidak punya hak azasi untuk bisa tenang mendidik dan membesarkan anak-anak mereka tanpa dicengkram ketakutan dan rasa was-was berlebihan. Apakah hak azasi hanya milik sebagian pihak dan bukan milik pihak lain, terutama mereka yang termasuk "Silent Majority"?????

Link terkait:


Semoga bermanfaat, maaf jika tidak berkenan

Kamis, 01 Mei 2008

Refleksi Hari Buruh - Pentingnya Amanah dan Empati

sehubungan dengan hari buruh nasional, saya mau posting ini aja deh:

Sebenarnya ini reply utk siarannya Ibu Presiden MP alias Mbak Ari Wijaya, tetapi gak ada salahnya kan di-share di MP:

Selengkapnya ada di sini

http://ariwijaya.multiply.com/journal/item/47/Proaktivita_-_Kamis_1_Mei

Kontribusi saya waktu itu disini
Saya pernah baca brosurnya Dynamic Consulting-nya Gede Prama

Hubungan antara Buruh atau Pegawai dan Majikan, menurut DC, bisa dibagi menjadi 4 kategori

1. Buruh dan Majikan/Perusahaan sama2 puas, ini disebut The Company of Joy

2. Buruh tidak puas, Majikan/Perusahaan puas, ini disebut The Company of Exploitation

3. Buruh puas, Majikan/Perusahaan tidak puas, ini disebut The Company of Strike --> buruh bisa mengancam perusahaan dengan cara mogok dll

4. Buruh dan Majikan sama-sama tidak puas, ini disebut The Company of Destruction, perusahaan yang ancur-ancuran, yang rugi semua pihak, bukan hanya buruh dan majikan/perusahaan, tapi juga konsumen, pemegang saham, keluarga para buruh dan majikan/perusahaan serta masyarakat secara keseluruhan. Kategori 2 dan 3 bisa berakhir di kategori 4 ini.

Dalam posting kali ini, saya hanya mau nambah yang kelupaan, maklum bukan ahli sosiologi, he he he:

Kategori pertama, The Company of Joy hanya dapat dicapai dengan memperkuat sikap amanah sehingga baik buruh dan majikan  mendapatkan predikat dapat dipercaya.  Dalam agama Islam predikat dapat dipercaya disebut Amanah

Sesungguhnya, Kata kuncinya adalah amanah dan rasa saling percaya antara buruh dan majikan.  Kepercayaan tentu saja tidak bisa dipaksakan.  Kita tidak bisa memaksa orang percaya pada kita demikian pula tidak ada orang lain yang bisa memaksa kita pecaya pada kita.  

Bahaya menyelewengkan amanah dinyatakan dalam Alquran, "Barang siapa yang berkhianat, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatinya itu." (QS Ali Imran: 161).

Tingginya tingkat keseriusan agama memandang masalah amanah ini terlihat dari riwayat ketika seorang penduduk Arab pegunungan datang bertanya kepada Rasulullah SAW. "Apakah yang paling berat dalam agama dan yang paling ringan?

Rasulullah SAW memberi jawaban, "Yang paling ringan ialah mengucapkan dua kalimat syahadat, asyhadu anlaa ilaaha Illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Sedangkan yang paling berat ialah amanah. Tidak sempurna agama seseorang yang tidak menjaga amanah, tidak diterima shalat dan zakatnya." (HR Al Bazar dari Ali bin Abi Thalib).

Amanah merupakan urat nadi kehidupan masyarakat dan negara. Sayid Jamaluddin al Afghani, pelopor kebangkitan Muslimin abad ke20 berkata, "Manakala sifat amanah telah rusak, maka rusaklah segala ikatan dan tata kehidupan yang ada di masyarakat."

Bayangkan, buruh mana yang tidak mau bekerja pada pengusaha yang selalu menepati janjinya.  Upah dibayar tepat waktu, kesejahteraan diperhatikan, hak-hak buruh dipenuhi dan sebagainya.  Sebaliknya, pengusaha mana yang tidak ingin punya buruh yang rajin bekerja, mau mengerti keadaan perusahan, tidak banyak menuntut dan sebagainya.  Sehingga kita akhirnya mendapat kata kunci kedua yaitu empati.  Baik buruh maupun majikan/perusahaan berusaha saling memahami sehingga timbul rasa saling percaya.  Betapa idealnya bila buruh juga menghemat anggaran kesehatan perusahan untuk para buruh dengan cara tidak merokok misalnya, dan pengusaha memelihara perasaan para buruh dengan tidak bermewah-mewah.  Lebih luar biasa lagi baik buruh atau pengusaha sama-sama suka sedekah sehingga keberkahan mengalir deras ke dalam perusahaan.  

Ah, mungkin semua itu hanya mimpi seorang blogger di siang bolong, namun, dengan pertolongan dan kekuasaan Alloh SWT, apa sih yang tidak mungkin?????

Semoga bermanfaat  

Sebagian isi posting diambil dari sini: http://www.pkpu.or.id/artikel.php?id=18&no=17

Jumat, 18 Januari 2008

http://ubuntume.com/

http://ubuntume.com/
Ini situs untuk men-download sistem operasi yang cocok untuk kalangan muslim, terutama yang sudah benci sama kapitalis. Dapat informasi dari Mas Nurdi (http://nurdi.multiply.com)