Tampilkan postingan dengan label santayana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label santayana. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juni 2008

Hati-hati pinjam meminjam barang - Pengalaman masa kecil

Unhappy, overly emotional and pessimistic people cannot appreciate the beauty and blessing of this world. Though they may surrounded by countless examples of this beauty, they see only negative aspect of things, and become even more depressed. However, God, in His mercy and compassion, created these blessings for the sake of human beings. A believer keeps this idea at the forefront of his mind, and is grateful to God for His Blessings.

Harun Yahya, Romanticism: A Weapon of Satan, page 114-115


(diterjemahkan dan diterbitkan oleh Dzikra dengan Judul: Ancaman di balik Romantisisme)

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang tukang minuman yang biasa menjual dagangannya di depan masjid dekat rumah saya. Dia mengatakan anaknya akan masuk sekolah SMP dan harus membayar uang sekolah sekitar 2 juta rupiah. Dia juga mengeluh kepada saya calon kepala daerah yang menang di dareahnya tersebut memang menjanjikan bahwa di daerah tersebut sekolah akan gratis. Saya sendiri tidak bisa menjawab karena saya sendiri sudah lama tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan partai tersebut, sejak pilkada DKI kemarin bulan Agustus 2007.

Saya sendiri tetap berkhusnudzon alias berprasangka baik pada partai tersebut sebab menurut pengetahuan saya segala sesuatu memerlukan proses. Banyak sekali manusia di dunia ini yang tidak mau melalui proses yang sesuai dengan syariat dan sunatullah. Tentu sulit bagi kita untuk mengubah sesuatu yang sudah lama rusak menjadi baik kembali dalam waktu singkat betapapun besar tekad dan keinginan kita.

Kejadian di atas mengingatkan saya pada pengalaman yang tidak menyenangkan yang terjadi saat saya masih duduk di bangku suatu Sekolah Menengah Pertama di Jakarta.


Pada waktu itu saya dan teman-teman sedang gandurng sekali main Video Game. Walaupun saat itu Video games masih sangat sederhana, tetapi bagi kami sudah cukup menghibur dan bikin ketagihan. Namun, karena pada waktu itu software video games tersebut masih dikemas dalam bentuk cartridge, maka harganya sangat mahal. Tidak seperti CD yang sangat mudah dibajak sehingga harganya jadi sangat murah. Nah, salah satu cara mengantisipasi kebosanan akibat main game yang itu-itu saja adalah dengan saling meminjam cartridge video games milik teman. Namun, ternyata rasa tanggung jawab anak-anak SMP pada waktu itu sangat kurang. Bukan saja masalah disiplin belajar atau membuat pekerjaan rumah alias PR, tetapi juga dalam rangka menjaga amanah barang-barang milik teman-teman mereka. Salah satu contohnya adalah meminjamkan cartridge game milik orang lain ke teman yang lain tanpa izin yang punya.

Pada saat itus aya punya seorang teman bernama X (laki-laki, bukan nama sebenarnya). Kami sama-sama suka main game sehingga kami cepat sekali dekat satu sama lain. Pulang sekolah bareng, main bareng. Saya juga senang sih karena si X ini kayaknya orangnya baik, terlalu baik malah. Lama-lama saya jadi tidak nyaman sendiri.

Pernah suatu hari, pulang dari sekolah, kami mampir ke sebuah tempat permainan ding-dong (bahasa kerennya Arcade, tempat main game dengan koin atau uang logam). Nah, pada saat itu saya, yang sedang membawa cartridge game milik teman adik saya. Dan, saat saya memeriksa tas, Astaghfirullah, ternyata cartridge game tersebut hilang. Akhirnya dengan berat hati dan setelah melalui pertengkaran yang cukup hebat, orang tua saya terpaksa mengganti cartridge game yang lumayan mahal itu.

Namun, terus terang saya belum pernah punya teman sebrengsek si X ini. Dia juga pernah menipu saya sehingga mainan action figures (orang-orangan favorit saya) entah bagaimana bisa dia ambil dan bawa pulang dengan sukses. Lalu dia membuat saya stress berat saat dia menekan saya saat saya tanpa sengaja menghilangkan kalkulator scientific yang saat itu masih mahal harganya. Saat itu saya dipaksa mengumpulkan uang untukmengganti kalkulator tersebut tetapi saya tidak boleh bilang orang tua, alasannya saya sudah cukup membebani orang tua selama ini.  Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu apakah kalkulator itu hilang karena saya atau karena dia atau karena orang lain. Bisa jadi saya dijebak. Dia juga sering menakut-nakuti saya dengan ancaman bahwa dia tahu gang yang ada disekitar tempat tinggal saya. Untunglah kedua orang tua saya masih membela saya mati-matian dan bahkan memperkarakan hal ini ke sekolah. Saya lihat dia takut juga.

Terakhir dia minta saya meminjamkan gitar saya, gitar satu-satunya. Saat itu entah dari mana saya punya keberania untuk menolak. Walaupun dia marah-marah, saya tidak peduli. Setelah itu, saya tidak pernah bertemu dengan dia sampai hari ini. Semoga Alloh SWT memberinya hidayah dan membuat dia kembali ke jalan yang benar. Namun, saya juga yakin bahwa di negeri ini masih banyak X yang lain, yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan selalu berusaha mengambil keuntungan dari orang lain tanpa memikirkan akibat jangka panjang yang ditimbulkan.

Kisah pengalaman saya di atas bisa jadi hanya merupakan suatu fragment kecil dari kebodohan dan kemiskinan yang melanda bangsa ini. Masyarakat yang sudah susah, miskin, bodoh dan sakit-sakitan ini malah dikasih hiburan yang berlebihan, bukannya dididik dan dilatih agar siap menghadapi tantangan. Hiburan yang akhirnya malah membuat amanah, yaitu barang pinjaman, malah jadi awal dari hancurnya persahabatan dan konflik yang berkepanjangan.

Terus saya berpikir lagi, apakah kebodohan dan kemiskinan tersebut sengaja dipertahankan agar orang-orang yang sedang berkuasa bisa mempertahankan kekuasaannya? Bukankah artinya ada ”social time bomb” (bom waktu sosial) yang bisa meledak setiap saat seperti zaman Revolusi Prancis dan sebagainya. Ingat, George Santayana pernah mengatakan “Whoever forget the past, are condemned to repeat it” (siapa yang melupakan sejarah, maka dia akan ditakdirkan mengulanginya). Inilah masalah bangsa kita, melupakan sejarah baik sejarah bansanya sendiri apalagi sejarah dunia. Mereka juga tidak melihat bahwa banyak sekali karunia dari Alloh SWT di sekitar mereka dan kenyataan bahwa banyak orang yang bisa keluar dari kemiskinan. Menyedihkan sekali.





Kamis, 24 April 2008

KONSEP RAS UNGGUL

Those who cannot learn from history are doomed to repeat it.
George Santayana



Tulisan ini terinspirasi oleh film “300” yang saya lihat sekitar setahun yang lalu di Ciwalk, Bandung.  Tadinya ragu mau posting yang kayak gini, namun atas nama amar ma'ruf nahi munkar saya posting juga.  Selamat membaca.

Konsep Ras Unggul

Photobucket

Konsep “Ras Unggul” sudah ada pada bangsa-bangsa penyembah berhala atau bangsa-bangsa pagan, sejak berabad-abad yang lalu.  Contoh bangsa-bangsa tersebut diantaranya, bangsa Mesir Kuno, Babilonia, Persia-Media, Kartago/Carthage, Sparta, Romawi, bangsa-bangsa barbar Eropa seperti bangsa Hun, Visigoth, Goth dan bangsa Viking di Eropa Utara, bangsa Indian Aztec dan Inca di Amerika Selatan, bangsa Tartar dan Mongolia di Asia Tengah dan sebagainya, termasuk bangsa Arab Jahiliyah sebelum datangnya Islam.  Konsep ini menyatakan bahwa bangsa yang berasal dari ras tersebut adalah bangsa yang lebih unggul dari bangsa-bangsa lain, sehingga merasa berhak melakukan penjajahan dan penindasan.  Keunggulan itu, menurut kepercayaan mereka, adalah karena mereka lebih berhasil dalam perjuangan mempertahankan hidup daripada bangsa-bangsa yang lain.  Kepercayaan seperti ini menimbulkan rasa saling curiga dan tingkat kepercayaan yang rendah.  Permusuhan dan pertempuran dapat terjadi setiap saat.

Photobucket

Al Qur’an dalam Surat Toha ayat 24 menegaskan bahwa orang-orang yang berpaling dari peringatan Alloh SWT, seperti bangsa-bangsa pagan tersebut, akan berada dalam kehidupan yang sempit di dunia ini.  Kehidupan yang sempit bukan berarti tidak memiliki kekayaan karena banyak dari bangsa-bangsa tersebut bisa membangun bangunan-bangunan besar dan kota-kota yang megah serta mengumpulkan harta benda berharga yang luar biasa banyaknya.  Namun, karena paradigma ras unggul tadi menimbulkan sikap sombong dan permusuhan, muncul rasa tidak suka pada bangsa-bangsa lain.  Dengan demikian, bangsa tersebut memiliki banyak musuh.  Rasa aman dan keberkahan telah diangkat oleh Alloh SWT dari kehidupan mereka sehingga mereka selalu dirundung ketakutan akan diserang oleh musuh-musuh mereka dan mereka  seakan-akan hidup di atas bom waktu yang bisa meledak setiap saat.

Dari manakah sesungguhnya konsep Ras Unggul ini muncul? Siapakah yang pertama kali memproklamirkan diri sebagai makhluk yang berasal dari Ras Unggul? Pada saat penciptaan manusia, Alloh SWT memerintahkan para malaikat dan jin bersujud kepada Nabi Adam AS, manusia pertama yang diciptakan olehNya.  Semuanya bersujud kecuali Iblis, dia membangkang terhadap perintah tersebut karena merasa dirinya lebih tinggi derajatnya sebab diciptakan dari api sedangkan Nabi Adam dari tanah.  Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa Iblislah yang pertama kali menggagas konsep paganisme dan ras unggul ini.

 

Berkembangnya ajaran agama Kristen di Eropa ternyata tidak bisa menghapus seluruh ajaran-ajaran paganisme, termasuk konsep Ras Unggul.  Ketika kekuasaan Gereja mulai melemah, ajaran-ajaran pagan, yang sesungguhnya masih ada di bawah tanah, mulai muncul kembali.  Ajaran-ajaran tersebut muncul dalam bentuk humanisme, materialisme, naturalisme dan  sekularisme.  Mulai muncul orang-orang berpaham atheis-materialistik, terutama para filosof/ahli filsafat yang tidak percaya adanya Tuhan.  Teori-teori yang bersifat materialistik, yang menyatakan bahwa alam semesta ada dengan sendirinya dan tidak ada yang menciptakan serta akan tetap ada selama-lamanya, mulai terbentuk.  Kepercayaan pada Ras Unggul, yang merupakan ciri utama paganisme penyembah berhala juga ikut muncul kembali, bagaikan hantu yang bangkit dari dalam kubur.  Charles Darwin, memberi sub-judul bukunya “The Origin of Species”, dengan kata-kata sebagai berikut ”Survival to the fittest by means of natural selection or preservation of favoured races in struggle for life”, Nietsche menggagas konsep Ubermensch atau Manusia Super yang mirip dengan Konsep Ras Unggul bangsa pagan.  Konsep-konsep Pagan gaya baru ini membuahkan hasilnya pada abad ke 20 dalam bentuk Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua.

 

Hitler menggunakan konsep-konsep dan ajaran-ajaran tersebut untuk membangkitkan mitos Ras Arya (Aryan Master Race) pada bangsa Jerman yang pada saat itu sangat menderita karena kekalahan pada perang dunia I, sementara Mussolini membangkitkan nostalgia Romawi Kuno pada bangsa Italia.  Orang-orang yang tidak mendapat cukup pendidikan di Jerman dan Italia, karena negaranya hancur akibat perang, termakan hasutan kedua diktator tersebut.  Hasilnya adalah peristiwa-peristiwa yang mengerikan yang mengubah Eropa dan seluruh dunia menjadi lautan darah pada masa Perang Dunia II.

Keunggulan sesungguhnya bukan ditentukan oleh ras, suku bangsa, warna kulit dan lain sebagainya.  Di dunia ini, orang-orang yang berprestasi ada yang berasal dari macam-macam keturunan, ras, suku bangsa, warna kulit dsb.  Apapun keturunan, warna kulit atau rasnya, apabila dia punya kemauan kuat untuk menjadi manusia unggul dan berprestasi, maka dia bisa mewujudkan impian tersebut.

 

Islam memang mewajibkan para penganutnya membangun kekuatan.  Namun, kekuatan yang dibangun tersebut bukan merupakan suatu tujuan atau digunakan sekehendak hawa nafsu.  Kekuatan itu harus dianggap sebagai amanah dan digunakan sebagai sarana membangun dunia ini menjadi tempat yang diridhoi dan diberkahi oleh Alloh SWT.  Kekuatan itu harus dipakai membela sesama manusia yang terzalimi atau mencegah kezaliman terjadi, bukan untuk berbuat kezaliman.

   

Referensi:

Buku dan VCD

  1. Harun Yahya; Menyingkap Tabir Fasisme, Dzikra
  2. Harun Yahya; Ancaman Global Freemasonry, Dzikra
  3. Harun Yahya; di balik Dua Perang Dunia (VCD); GlobalMedia
  4. Harun Yahya; Bencana Kemanusiaan akibat Darwinisme (Buku + VCD); Global Media
    

Websites:

  1. Fasisme: Ideologi Berdarah Darwinisme
  2. Situs Harun Yahya
  3. Situs Harun Yahya TV 
  4. Situs Islamic Research Foundation
  5. Situsnya Pakdenono"

                     

       

Film diambil dari Situs ini

         

Senin, 13 Agustus 2007

Mengasihani diri sendiri (Kisah sedih dari Pilkada)


Unhappy, overly emotional and pessimistic people cannot appreciate the beauty and blessing of this world.  Though they may surrounded by countless examples of this beauty, they see only negative aspect of things, and become even more depressed.  However, God, in His mercy and compassion, created these blessings for the sake of human beings.  A believer keeps this idea at the forefront of his mind, and is grateful to God for His Blessings.

Harun Yahya, Romanticism: A Weapon of Satan, page 114-115

(diterjemahkan dan diterbitkan oleh Dzikra dengan Judul: Ancaman di balik Romantisisme)

 

Saya menulis artikel ini pada saat Pilkada DKI Jakarta sedang berlangsung.  Sebelumnya, saya mengikuti kampanye salah satu calon.  Di sana saya bertemu dengan orang-orang yang dapat dijadikan gambaran masyarakat Indonesia secara keseluruhan.  Salah seorang teman saya ada yang dikerubuti orang-orang yang mendapat isu bahwa partai kami menyediakan uang untuk masing-masing orang sebanyak Rp. 50.000,-.    Di lokasi kampanye, banyak orang-orang yang hanya bisa minta makanan atau hal-hal yang lain, tentunya yang bersifat material.  Baru pada saat itulah saya benar-benar melihat dengan mata kepala saya sendiri keadaan masyarakat Indonesia yang sebenarnya.  Kalau begini, siapapun pemenangnya maka rakyat tetap saja jadi pecundang, pihak yang kalah.  Mirip dengan subtitle film ”Alien versus Predator” yaitu ”Whoever wins, we lose/siapapun yang menang, kita kalah”. 

 
Apakah orang-orang ini dan banyak lagi di masyarakat tidak pernah berpikir bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini, semua ini memerlukan bayaran.  Coba bayangkan, apabila satu orang dikasih 50 ribu dan yang ikut kampanye dari suatu daerah ada 1000 orang, terus partai atau calon tersebut musti keluarin duit berapa? 50 ribu x 1000 = 50 juta! Itu baru dari satu daerah, belum lagi daerah-daerah lain.  Terus, mengembalikan modalnya darimana, kalo bukan dari korupsi? Pengusaha kaya atau Leader MLM juga tidak punya uang sebanyak itu, apalagi partai politik yang merupakan non-profit organization (organisasi yang tidak mencari keuntungan).  Saya dalam hal ini tidak memihak pada calon atau partai manapun, tapi kalo begini kapan korupsi bisa hilang dari negeri tercinta ini.  Lalu, siapa yang sesungguhnya menciptakan koruptor? Siapa yang sesungguhnya melanggengkan korupsi di negeri ini?

 

Terus saya mikir lagi, apakah kebodohan dan kemiskinan tersebut sengaja dipertahankan agar orang-orang yang sedang berkuasa bisa mempertahankan kekuasaannya? Bukankah artinya ada ”social time bomb” (bom waktu sosial) yang bisa meledak setiap saat seperti zaman Revolusi Prancis dan sebagainya.  Ingat, George Santayana mengatakan  “Whoever forget the past, are condemned to repeat it” (siapa yang melupakan sejarah, maka dia akan ditakdirkan mengulanginya).  Inilah masalah bangsa kita, melupakan sejarah. 

Sebenarnya, banyak orang-orang yang ingin menolong mereka, namun apabila masyarakat tetap mengasihani diri mereka, tetap menganggap bahwa mereka adalah orang-orang miskin yang harus selalu dibantu, ditolong dan diberi sumbangan, maka calon manapun yang jadi pemimpin, partai manapun yang menang rakyat akan tetap jadi pecundang alias pihak yang kalah. 

Kepada rekan-rekan MPers dan siapa saja yang membaca tulisan ini, yuk mari kita berusaha memberdayakan masyarakat, bukan cuma membantu dalam arti memberi bantuan tanpa memberi kesempatan mereka mengubah diri.  Semoga usaha kita semua, sekecil apapun, akan menjadi catatan amal yang memberatkan timbangan kebaikan kita di Yaumil Akhir (Hari Kiamat)  nanti.