Tampilkan postingan dengan label dzikra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dzikra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2009

[Kisah dan Hikmah] Petani dan Kuda

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang petani yang hidup sederhana.  Sang petani terkenal sebagai orang yang suka menolong orang lain.  

Walaupun tidak memiliko banyak harta benda, dia memiliki seorang anak lelaki yang tampan dan patuh.  Anak ini sangat berbakti pada orang tuanya.  Petani ini juga memiliki seekor kuda yang sangat bagus.  Kuda sang petani terkenal di seluruh negeri, tidak hanya di desanya.

Pada suatu hari, kuda petani ini hilang.  Rupanya, si kuda berhasil menendang pintu kandang yang sudah lapuk karena panas dan hujan hingga hancur berantakan.  Para tetangga, terutama mereka yang sudah pernah merasakan pertolongan dan kebaikan budi sang petani, berdatangan ke rumah beliau.  Mereka menyatakan perasaan turut bersedih atas kehilangan yang dialami sang petani.  namun, yang aneh sang petani justru tenang-tenang saja.  Dia berkata "saudara2 jangan sdih, belum tentu hal ini merupakan kemalangan bagi saya.  kita lihat saja nanti apa hikmah di balik semua ini".  para tetangga sang petani pun pulang dengan gelengan kepala keheranan.  

Beberapa waktu kemudian, si kuda kembali ke rumah sang petani.  Si kuda tidak sendiri, namun dia juga membawa beberapa kuda liar dari jenis yang serupa ke rumah sang petani.  Para tetanggapun terheran-heran.  Mereka berkata "beruntung sekali sang petani, memang orang baik seringkali mendapat rezeki yang tidak terduga-duga".  

Namun, jawaban sang petani kembali membuat para tetangga terheran-heran.  Sang petani malah berkata "jangan senang dulu saudara-saudara, kita tidak tahu apakah kedatang kuda-kuda liar ini merupakan kebaikan bagi saya atau bukan.  Kita lihat saja nanti, semoga semua ini baik adanya".   

Beberapa hari kemudian, anak lelaki sang petani mencoba menaiki salah satu kuda liar tersebut.   Entah karena kurang berhati-hati atau si kuda yang memang belum cukup jinak, anak itu terjatuh dengan keras.  Walaupun nyawanya masih bisa diselamatkan, si anak menderita patah kaki yang parah.  Dia menjadi cacat seumur hidup dan harus menggunakan tongkat.  Para penduduk desa berdatangan ke rumah sang petani.  Mereka ingin menghibur keluarga petani yang sedang berduka itu. Tetapi apa jawab sang petani? Dia kembali berkata "saudara2 jangan sedih, belum tentu hal ini merupakan kemalangan bagi saya.  kita lihat saja nanti apa hikmah di balik semua ini".  para tetangga tentu saja  hanya bisa geleng-geleng kepala keheranan.  
 
Waktu berlalu tanpa terasa.  Pada suatu hari, utusan dari kerajaan datang ke desa tersebut.  Mereka membawa pesan bahwa kerajaan itu dalam keadaan bahaya dan para pemuda diminta mendaftarkan diri sbagai prajurit perang. 

 Para penduduk harus merelakan anak-anak muda mereka berperang di garis depan, kecuali tentu saja si petani yang anaknya sekarang cacat itu.  

Setelah peperangan mereda, para penduduk desa itu berusaha mencari kabar putra-putra mereka.  Duka cita yang mendalam tidak dapat terhindarkan saat mereka mengetahui bahwa para pemuda dari desa mereka semuanya gugur di medan laga.  

Sehingga di desa itu, hanya tersisa satu pemuda cacat, anak dari sang petani.  

Memang terkadang, banyak diantara kita mengalami kesulitan mengambil hikmah dari kejadian-kejadian yang terjadi pada diri kita, baik yang buruk atau yang baik.  Kita hanya melihat bentuk luar dari kejadian itu, bukan esensi atau hikmah di baliknya.  Ada baiknya kita simak pesan Harun Yahya berikut ini


Unhappy, overly emotional and pessimistic people cannot appreciate the beauty and blessing of this world.  Though they may surrounded by countless examples of this beauty, they see only negative aspect of things, and become even more depressed.  However, God, in His mercy and compassion, created these blessings for the sake of human beings.  A believer keeps this idea at the forefront of his mind, and is grateful to God for His Blessings.

Harun Yahya, Romanticism: A Weapon of Satan, page 114-115

(diterjemahkan dan diterbitkan oleh Dzikra dengan Judul: Ancaman di balik Romantisisme)

Sebuah nasihat bagi diri sendiri, semoga bermanfaat untuk siapapun yang membaca 

Senin, 13 Agustus 2007

Mengasihani diri sendiri (Kisah sedih dari Pilkada)


Unhappy, overly emotional and pessimistic people cannot appreciate the beauty and blessing of this world.  Though they may surrounded by countless examples of this beauty, they see only negative aspect of things, and become even more depressed.  However, God, in His mercy and compassion, created these blessings for the sake of human beings.  A believer keeps this idea at the forefront of his mind, and is grateful to God for His Blessings.

Harun Yahya, Romanticism: A Weapon of Satan, page 114-115

(diterjemahkan dan diterbitkan oleh Dzikra dengan Judul: Ancaman di balik Romantisisme)

 

Saya menulis artikel ini pada saat Pilkada DKI Jakarta sedang berlangsung.  Sebelumnya, saya mengikuti kampanye salah satu calon.  Di sana saya bertemu dengan orang-orang yang dapat dijadikan gambaran masyarakat Indonesia secara keseluruhan.  Salah seorang teman saya ada yang dikerubuti orang-orang yang mendapat isu bahwa partai kami menyediakan uang untuk masing-masing orang sebanyak Rp. 50.000,-.    Di lokasi kampanye, banyak orang-orang yang hanya bisa minta makanan atau hal-hal yang lain, tentunya yang bersifat material.  Baru pada saat itulah saya benar-benar melihat dengan mata kepala saya sendiri keadaan masyarakat Indonesia yang sebenarnya.  Kalau begini, siapapun pemenangnya maka rakyat tetap saja jadi pecundang, pihak yang kalah.  Mirip dengan subtitle film ”Alien versus Predator” yaitu ”Whoever wins, we lose/siapapun yang menang, kita kalah”. 

 
Apakah orang-orang ini dan banyak lagi di masyarakat tidak pernah berpikir bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini, semua ini memerlukan bayaran.  Coba bayangkan, apabila satu orang dikasih 50 ribu dan yang ikut kampanye dari suatu daerah ada 1000 orang, terus partai atau calon tersebut musti keluarin duit berapa? 50 ribu x 1000 = 50 juta! Itu baru dari satu daerah, belum lagi daerah-daerah lain.  Terus, mengembalikan modalnya darimana, kalo bukan dari korupsi? Pengusaha kaya atau Leader MLM juga tidak punya uang sebanyak itu, apalagi partai politik yang merupakan non-profit organization (organisasi yang tidak mencari keuntungan).  Saya dalam hal ini tidak memihak pada calon atau partai manapun, tapi kalo begini kapan korupsi bisa hilang dari negeri tercinta ini.  Lalu, siapa yang sesungguhnya menciptakan koruptor? Siapa yang sesungguhnya melanggengkan korupsi di negeri ini?

 

Terus saya mikir lagi, apakah kebodohan dan kemiskinan tersebut sengaja dipertahankan agar orang-orang yang sedang berkuasa bisa mempertahankan kekuasaannya? Bukankah artinya ada ”social time bomb” (bom waktu sosial) yang bisa meledak setiap saat seperti zaman Revolusi Prancis dan sebagainya.  Ingat, George Santayana mengatakan  “Whoever forget the past, are condemned to repeat it” (siapa yang melupakan sejarah, maka dia akan ditakdirkan mengulanginya).  Inilah masalah bangsa kita, melupakan sejarah. 

Sebenarnya, banyak orang-orang yang ingin menolong mereka, namun apabila masyarakat tetap mengasihani diri mereka, tetap menganggap bahwa mereka adalah orang-orang miskin yang harus selalu dibantu, ditolong dan diberi sumbangan, maka calon manapun yang jadi pemimpin, partai manapun yang menang rakyat akan tetap jadi pecundang alias pihak yang kalah. 

Kepada rekan-rekan MPers dan siapa saja yang membaca tulisan ini, yuk mari kita berusaha memberdayakan masyarakat, bukan cuma membantu dalam arti memberi bantuan tanpa memberi kesempatan mereka mengubah diri.  Semoga usaha kita semua, sekecil apapun, akan menjadi catatan amal yang memberatkan timbangan kebaikan kita di Yaumil Akhir (Hari Kiamat)  nanti.