Tampilkan postingan dengan label kemiskinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemiskinan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Agustus 2012

Satanic Finance: Bikin Umat Miskin

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Business & Investing
Author:DR. A. Riawan Amin, M.Sc.
Judul Buku: Satanic Finance
Sub Judul: Bikin Umat Miskin
Penulis: DR. A. Riawan Amin, M.Sc.
Penerbit: Zaytuna
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 124 halaman
Kategori: Agama
Sub Kategori: Panduan
Harga: Rp. 29.900,-

Apakah anda ingin memahami mengapa dunia seakan menjadi tempat yang tidak adil bagi banyak manusia, terutama mereka yang miskin? Mengapa harga-harga kebutuhan pokok seakan tidak pernah turun dan selalu meningkat? Apakah teori-teori ekonomi yang selama ini dipelajari di fakultas-fakultas ekonomi di berbagai universitas memang dapat menyelesaikan masalah ekonomi dan sosial di dunia ini? Jika itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering terlintas di benak kita, maka buku ini sungguh layak kita baca dan kita pahami isinya.

Buku yang ditulis oleh Direktur Bank Muamalat Indonesia (BMI), DR. A. Riawan Amin, M.Sc. ini mengupas habis kelicikan dan tipu daya yang terkandung dalam sistem ekonomi kapitalistik yang berlaku sekarang ini. Buku yang ditulis oleh Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) disajikan dengan ringan dan penuh makna sehingga mudah dicerna dan dipahami, bahkan oleh orang-orang yang paling awam sekalipun.

Yang menarik, pembaca diajak memahami persoalan yang dibahas dalam buku ini dari sudut pandang para Setan. Yah, musuh-musuh manusia sejak zaman penciptaan Nabi Adam hingga hari Kiamat. Itulah sesungguhnya aktor intelektual dari semua kekacauan dan kekisruhan ekonomi yang terus menerus melanda dunia. Kita seakan mendapat pengakuan langsung dari para setan tentang modus operandi dan sepak terjang agen-agen mereka dalam menggoda manusia, agar terus menerus memperturutkan keserakahannya menguasai harta.

Sepak terjang agen-agen setan tersebut diilustrasikan dalam kisah dua orang agen mereka bernama Gago dan Sago. Mereka mendatangi dua buah kepulauan yang para penduduknya ada yang bertransaksi dengan emas dan ada juga yang masih memakai sistem barter. Kedua agen setan itu memperkenalkan uang kertas pada para penduduk kedua kepualauan tersebut. Para penduduk dengan mudah mereka tipu dan kedua agen itu pun segera mendirikan bank di kepulauan tersebut sebagai basis operasi terkutuk mereka. Cerita pun bergulir dan bagi mereka yang mengikuti kisah itu dengan seksama akan dengan mudah menemui persamaan-persamaan antara penduduk kedua kepulauan tersebut dengan kehidupan kita sehari-hari.

Memang, bagi sebagian orang buku ini hanyalah salah satu buku yang hanya berisi sensasi teori konspirasi semata. Apalagi cover-nya yang berwarna merah gelap dan simbol Pentagram yang menghiasinya menimbulkan suasana konspirasi yang kental. Walaupun demikian, porsi konspirasi seperti yang digandrungi oleh para conspiracy theorists itu justru sangat sedikit. Peran Knight Templars yang konon mempelopori penggunaan kertas-kertas bersandi sebagai alat penukaran emas para peziarah, justru tidak masuk dalam pembahasan. Padahal, banyak orang yang menganggap kertas-kertas buatan para ksatria yang pernah berlaga di Perang Salib itulah cikal bakal uang kertas yang kita pakai sekarang ini.

Pesan utama dalam buku ini adalah UANG KERTAS ADALAH ILUSI. Mungkin pembaca akan dibuat terkaget-kaget dan terbelalak tidak percaya, bahwa selama ini kerja kerasnya hanya dibayar dengan kertas yang sebenarnya tidak ada nilai riil-nya. Hanya kepercayaan pada pemerintahan yang berkuasa sajalah yang menjamin kertas-kertas itu bisa dipakai dalam perdagangan dan transaksi sehari-hari.

Jika pemerintahan yang berkuasa runtuh, maka runtuh pulalah kepercayaan pada uang kertas dan nilainya. Bisa jadi uang kertas simpanan kita baik yang ada di bank, di dompet atau di bawah bantal bakal sama nilainya dengan kertas bekas pembungkus nasi atau gorengan. Tangan-tangan jahat berlumuran darah para pesulap itu telah membuat kertas-kertas tak berharga itu menjadi bernilai setara dengan emas. Those papers are now as good as gold, kertas-kertas itu sekarang dianggap setara dengan logam mulia, emas dan perak. Namun sekali lagi, semua itu hanyalah ILUSI. (Muhammad Nahar/Wasathon.com)

Semoga bermanfaat

Resensi ini sudah dimuat di situs wasathon.com

Rabu, 08 Agustus 2012

[Peduli] Kebakaran di Karet Tengsin

Selasa siang, tanggal 7 Agustus,  saya mendapat informasi dari mbak Yanti Apong, salah satu anggota komunitas School of Life. Dia bilang ada kebakaran besar di daerah Karet Tengsin dan salah satu teman kami, mbak Yosi Martini, yang juga anggota komunitas itu rumahnya habis terbakar. Saya pun mengajukan diri untuk ikut datang ke sana dan disetujui oleh mbak Yanti. Patokannya, Pom Bensin Pejompongan. Untunglah saat itu ada yang bisa mengantar saya ke pom bensin tersebut dari rumah. Selanjutnya saya naik angkot ke rumah susun dekat lokasi kebakaran. Setelah beberapa kali menelepon mbak Yosi, saya pun sampai ke dekat poskamling RT 02 yang sudah habis terbakar. Mbak Yosi, yang saat itu sedang bersama keluarganya yang mengungsi di kuburan Karet Bivak, menjemput saya dan membawa saya menemui keluarganya. Sebelum menuju pemakaman tempat mengungsi tersebut, saya sempat mengunjungi rumah mbak Yosi dan keluarganya yagn sudah habis terbakar.


Kebakaran besar itu dimulai dari sebuah rumah di RT 01. Saat itu sebagian besar warga sedang shalat tarawih sehingga kebakaran terlambat diantisipasi serta semakin meluas. Kebakaran yagn sangat besar itu menghanguskan 4 RT yaitu RT 01 sampai 04. Padatnya lokasi serta sempitnya jalan membuat petugas pemadam kebakaran kesulitan untuk memadamkan api. Ditambah lagi saat itu kali yang melintasi pemukiman tersebut sedang surut airnya hingga sulit untuk dipakai memadamkan api. Kencangnya angin malam itu membuat api semakin membesar dan menyebar. Bahkan, pasar yang berada di dekat lokasi pun terkena dampaknya. Banyak kios-kios pedagang yang hangus terbakar. Kebakaran itu sendiri terjadi sekitar jam 19:30 dan baru bisa diantisipasi jam 23:00. Bisa dibayangkan betapa lamanya kebakaran besar itu terjadi dan betapa banyaknya kerugian moril dan materil yagn diderita masyarakat di sana. Di sana sini banyak orang yang berusaha mencari apa saja yang masih bisa diselamatkan. Namun hal itu tetap tidak dapat menutupi fakta bahwa mereka sudah mengalami kerugian yang luar biasa.


Penderitaan warga yang sudah tertimpa musibah itu masih ditambah lagi dengan adanya tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Terkadang mereka menggunakan modus berpura-pura menjadi orang yang akan membantu mengangkat barang. Namun, sesudah barang seperti televisi atau radio diangkat oleh mereka, mereka pun melarikan diri beserta barang-barang tersebut. Bisa dibayangkan betapa mudahnya kejahatan seperti itu terjadi saat kepanikan melanda warga. Bencana memang seringkali membuka peluang yang lebar untuk terjadinya beragam kejahatan. Belum lagi kondisi pengungsian yang buruk sehingga membuat para pengungsi, terutama anak-anak, rentan terkena berbagai macam penyakit.


Padatnya pemukiman seperti yang terbakar di daeah Karet Tengsin itu adalah contoh dari apa yang disebut sebagai kerentanan sosial. Pemukiman yang padat seperti itu sangat tidak kondusif dan bukan merupakan tempat yang nyaman bagi para penghuninya untuk bisa tinggal, bekerja,  beristirahat ataupun beribadah dengan nyaman. Udara yang pengap dan lembab juga sangat tidak baik untuk kesehatan para penduduknya, terutama bagi anak-anak. Belum lagi apabila ada bencana besar yang diakibatkan keteledoran kecil seperti ponsel yang meledak atau korsleting listrik, terutama listrik colongan.


Sudah saatnya bagi kita semua untuk bekerjasama mengatasi, minimal mengurangi, kerentanan sosial yang menghantui kita selama ini. Bahkan, sekarang ini pun sebenarnya sudah sangat terlambat bagi kita untuk bertindak dan bekerja sama karena bencana akibat kerentanan sosial itu sudah terjadi di mana mana. Sudah banyak korban jiwa yang jatuh dan sudah tak terhitung lagi kerugian moril dan materil yang diderita masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. JIka bukan kita, siapa lagi, jika bukan sekarang, kapan lagi.

Semoga bermanfaat, foto-foto Insya Allah menyusul

Temans, jika kita sedih, marah dan kecewa kehilangan rumah virtual kita di Multiply, tidak ada salahnya kita melihat yang lebih malang dari kita, yaitu mereka yang kehilangan rumah sebenarnya di dunia nyata dan terpaksa mengungsi ke pemakaman dengan tenda seadanya. Bantuan dpt melalui BSMI Jakarta Dr.Gatut 08119915402,atau posko stempat Suhendra 083876454847..

Sabtu, 14 Juli 2012

Orang Miskin Tidak Selalu Malas


"Orang miskin itu karena salahnya sendiri dia malas bekerja. Jadi bukan salah siapapun kalau ada orang miskin,"
Marzuki Ali, Ketua DPR-RI
berita dari situs ini

Pagi itu masih gelap pekat, walaupun adzan subuh sudah berlalu dan orang-orang yang shalat berjamaah di masjid-masjid sudah bubar. Saya, sesudah sholat berjamaah di masjid, tidak langsung pulang. Saya masih menikmati segarnya udara pagi di kota kembang Bandung saat itu. Dari arah yang berlawanan, tampak beberapa orang ibu-ibu yang akan berjualan sayuran di pasar dekat Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Pasar itu terletak di dataran yang lebih tinggi daripada tempat di mana saya berpapasan dengan mereka. Jarak dari tempat tersebut dengan pasar tujuan mereka masih cukup jauh dan mereka harus melalui jalan mendaki yang cukup curam. Terbayang oleh saya, betapa beratnya perjuangan mereka saat menyambung hidup hari ke hari. Setiap hari harus berjalan sambil membawa dagangan yang banyak dan berat serta harus melalui jalan terjal mendaki. Bagaimana mungkin orang-orang seperti itu bisa dibilang malas?

Para ibu penjual sayuran itu hanya sedikit contoh dari banyaknya orang-orang menengah ke bawah yang harus berjuang menghidupi diri dan keluarga mereka hari demi hari. Kehidupan rakyat di negeri makmur dan kaya ini seakan tidak pernah membaik sedikitpun. Dari sebelum terbit matahari hingga terbenamnya kembali, jutaan rakyat negeri ini bekerja keras membanting tulang memeras keringat di berbagai sektor pekerjaan. Ada yang dari tengah malam buta sampai pagi menyapu jalanan, ada pula yang sudah menggelar dagangannya sebelum matahari bersinar. Namun, kehidupan mereka tak juga membaik karena sistem sosial yang zalim menguasai mereka. Kemiskinan di negeri ini sebagian besar memang kemiskinan struktural. Bisa jadi, diantara orang-orang miskin itu memang ada yagn malas untuk bekerja dan berusaha. Mereka lebih suka tinggal dan bersantai-santai di rumah tanpa peduli pada masa depannya. Namun, sebagian besar rakyat Indonesia menjadi miskin karena kezaliman para penguasanya. Para penguasa lebih suka menyerahkan pengelolaan sumber daya alam pada perusahaan-perusahaan asing ketimbang memberdayakan anak bangsanya sendiri. Mereka lebih percaya kemampuan orang asing daripada bangsanya sendiri. Bahkan, mereka tidak ragu mengeluarkan uang demi membantu IMF, sebuah lembaga keuangan asing yang kerjanya hanya menyengsarakan negera-negara berkembang, termasuk negaranya sendiri. Padahal, akan jauh lebih bermanfaat apabila uang itu dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. IMF seharusnya dibiarkan saja bangkrut agar tidak lagi merusak perekonomian negara-negara berkembang dan membunuh rakyatnya pelan-pelan dengan kelaparan dan pencabutan subsidi.
 
Memang, terkadang saat berkuasa, orang suka lupa diri dan berbuat seenaknya saja. Lidah yang tidak bertulang itu seakan mudah saja melontarkan kata kata yang seharusnya dipikir dahulu sebelum diucapkan. Kini, ucapan itu sudah terlanjur dikatakan. Hati dan perasaan masyarakat yang mendengar atau membaca ucapan itu kini sudah terluka dan berdarah. Mereka, orang-orang kecil itu, mungkin tidak akan bisa membalas perkataan menyakitkan tersebut. Namun, akan ada yang membalas dengan balasan yang adil setimpal. Yaitu Dia yang tidak akan menyia-nyiakan doa hamba-hambaNya yang terzalimi, meskipun mereka hanya rakyat kecil yang lemah dan miskin. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW telah mengutus Mu’adz ke Yaman dan Beliau berkata kepadanya : “Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, karena doa tersebut tidak adah hijab (penghalang) diantara dia dengan Allah”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Semoga bermanfaat

Related Links:

Otak Bung Karno dan Otak Marzuki Alie

Pernyataan Marzuki Alie Sungguh Menyakiti Warga Miskin, Cerminan Penguasa Yang Tidak Melayani Masyarakat

Marzuki Alie dan Kemiskinan

Marzuki Ali: Orang Miskin karena Malas Kerja

Kamis, 12 Juli 2012

Bedah Rumah ala DAAI TV

Menyaksikan program-program inspiratif dari DAAI TV memang bisa membuat kita lebih mengenal lingkungan dan orang-orang yang kurang beruntung daripada kita. Walaupun berbeda keyakinan dengan mereka, kita tetap bisa mengambil pelajaran dari acara-acara tersebut. Kita juga harus berbesar jiwa untuk mengakui bahwa kaum muslimin termasuk yang kalah dalam berkompetisi dalam bidang sosial dengan mereka. Pada program kali ini, ada dua orang penerima program "Bedah Rumah" ala Yayasan Budha Tzu Chi. Mereka masing-masing berprofesi sebagai Tukang bubur dan pekerja bengkel meubeul. Mereka, sebelum menerima bantuan yayasan tersebut, hidup dalam rumah yang sangat buruk keadaannya. Sanitasi yang tidak memadai, ventilasi yang tidak lancar dan atap yang selalu bocor jika musim hujan tiba. Anak-anak mereka sampai ada yagn sakit karena kelembaban yang diakibatkan kondisi buruk tersebut. Mereka terlihat sangat bersyukur saat tim DAAI TV mewawancarai mereka.

Bahkan, yang lebih mengagumkan lagi, kedua penerima bantuan tersebut bersedia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk Yayasan tersebut. Mereka menabung dalam celengan-celengan bambu yang diberikan relawan yayasan Tzu Chi kepada mereka. Sesudah celengan-celengan itu penuh, para penerima bantuan tersebut dengan sukarela menyerahkannya ke kantor penghubung yang terdekat. Isi celengan-celengan bambu itu memang uang recehan dengan jumlah nominal yang sangat kecil, bahkan ada yang berupa koin yang jika dibawa ke warung rokok mungkin hanya dapat beberapa butir permen. Namun, jika orang-orang yang menyerahkan celengan bambu penuh uang receh itu ke Yayasan Tzu Chi semakin banyak, yayasan tersebut akan mendapatkan pemasukan yang lumayan. Walaupun tentu saja masih jauh di bawah donatur-donatur besar mereka.

Pendidikan yang menyadarkan orang untuk memberi kepada sesama, walaupun hanya dalam bentuk recehan yang terkumpul dalam celengan bambu, patut diapresisasi. Kaum muslimin seharusnya lebih mampu lagi berpacu dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dalam bidang sosial kemasyarakatan. Namun, yang kita saksikan justru sebaliknya. Saat Ramadhan tiba, konsumerisme justru semakin meningkat di dalam tubuh umat Islam. Orang-orang muslim yang punya uang lebih malah lebih banyak belanja barang yang katanya untuk kebutuhan lebaran. Sementara itu, di beberapa tempat malah kita saksikan banyak pengemis bermunculan. Mereka ingin memanfaatkan momen bulan suci ini untuk mengais rezeki dengan cara yang gampang tanpa perlu keluar keringat. Cukup sisihkan harga diri, pasang muka memelas dan recehan pun jatuh ke tangan mereka. Saatnya umat Islam bercermin, baik pada sesamanya atau orang-orang di luar keyakinannya yang ternyata lebih berprestasi di bidang sosial kemasyarakatan. Semoga kita cukup berjiwa besar untuk belajar dari sesama, karena "Jika setiap tempat adalah sekolah, maka semua orang adalah guru"

Semoga bermanfaat

Minggu, 08 Juli 2012

[Renungan] Bangunan Tinggi



Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Ad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.

(QS AL Fajr: 6-8).

Banyak penguasa mendirikan bangunan-bangunan besar dan megah untuk mengagungkan dan mengabadikan kehebatan mereka. BAik saat mereka maish hidup dan bekruasa atau saat mereka sudah meninggal dunia. Para Firaun membangun piramida-piramida raksasa untuk memakamkan jasad mereka dan mengabadikan keagungan kekuasaannya. Sebagian kaisar Cina ada yang membangun makam raksasa yang dijaga patung-patung prajurit terakota bersenjata lengkap. Penguasa pagan Babylonia dan sebagainya juga seringkali membuat bangunan-bangunan yang kurang lebih sama jenis dan fungsinya. Bangunan yang tampak megah itu justru menjadi saksi intrik politik, peperangan dan pertumpahan darah para penghuninya. Baik karena serangan musuh dari luar ataupun konflik diantara para penghuninya sendiri.

Di saat para penguasa berlomba memperindah bangunan-bangunan mereka, kaum muslimin terdahulu justru berlomba-lomba memperindah qalbu dan kehidupan spiritual mereka dengan dzikir dan amal-amal sholeh. Bisa jadi itulah sebabnya para penerus Rasulullah SAW tidak mendirikan bangunan-bangunan megah dan besar. Mereka bukannya tidak mampu, Imperium Persia dan Romawi sudah mereka taklukkan dan wilayah kekuasaan mereka sudah sangat luas. Hasil bumi dan harta kekayaan duniawi mengalir deras ke dalam kekuasaan mereka. Tentu sangat mudah kiranya jika mereka mendirikan istana-istana raksasa. Namun, dari sejarah, kita ketahui bahwa keempat Khulafaur Rasyidin bersama para pembantu mereka hidup sangat sederhana. Mereka memberi teladan kesederhanaan pada pejabat dan rakyatnya sehingga hampir tidak ada yang hidupnya mewah bergelimang harta meskipun tetap ada yang kaya. Hati-hati mereka sudah seperti istana megah yang mereka merasa nyaman berada di dalamnya sehingga mereka tidak lagi perlu menambah kemewahan di luar dirinya.

Namun kini, sejarah kelam bangunan-bangunan megah itu terulang kembali. Bangunan-bangunan besar yang seolah tegak menantang Sang Penguasa Alam Semesta yang Hakiki kini dibangun di mana-mana. Menara-menara pencakar langit dan gedung-gedung perbelanjaan memenuhi setiap inci lahan kota. Semua itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang tebal kantongnya, entah haram entah halal. Dan orang-orang miskin pun terpuruk di sudut-sudut kehidupan, tanpa masa depan yang pasti dan bisa diharapkan.

Terhimpit gedung gedung tinggi
wajah murung yang hampir mati
biarlah mereka iri
wajar bila mencaci-maki

Berikan Pijar Matahari by Iwan Fals

Semoga bermanfaat, gambar dari wikipedia

Kamis, 05 Juli 2012

[Sosial] Kesolehan sosial yang terlupakan

"Kehidupan sehari-hari kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya."
Khalil Gibran.

Masyarakat kita pada umumnya masih menganggap tujuan dari ibadah ritual adalah mengumpulkan pahala sebanyak mungkin. Oleh karena itu, dalam banyak pengajian, para ustadz pengajar seringkali ditanya kalau sholat Duha pahalanya bagaimana, kalau sholat ini atau sholat itu pahala berapa dan sebagainay. Banyak juga diantara mereka yang mudah tergiur oleh amalan-amalan yang dianggap berpahala besar walaupun berdasarkan hadits-hadits yang masih diragukan kesahihannya. Bahkan para ulama banyak yang mengatakan bahwa hadits-hadits yang mendasari amalan-amalan itu adalah maudhu atau palsu adanya. Sehingga tidak layak untuk dijadikan dalil pelaksanaan suatu amalan. Akibatnya, setelah amalan selesai dilaksanakan, mereka pun pulang dengan penuh kepuasan karena merasa sudah berbuat kebaikan yagn banyak.

Akibat dari kesalahan pemahaman seperti itu, kemiskinan seakan tidak bisa dihapuskan dari negeri-negeri kaum muslimin, terutama yang ada di benua Asia. Kesenjangan sosial antara yang kaya dan yamg miskin seakan tak pernah terjembatani. Pemahaman itu membuat orang-orang yang miskin merasa tidak perlu menambah upaya mereka agar bisa keluar dari kemiskinan. Mereka sudah merasa bahwa mereka tidak akan bisa meraih penghidupan lebih baik lagi di masa depan. Kehidupan mereka sampai kapanpun, dari generasi ke generasi, akan tetap miskin seperti itu. Pemahaman seperti itu juga membuat banyak orang yang sesungguhnya mampu enggan bersedekah dan berbagi lebih banyak. Mereka mengira bahwa pahala mereka beribadah siang dan malam sudah menjamin mereka akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti. Kalaupun mereka mengeluarkan harta, mereka sekedar menunaikan kewajiban zakat atau sekedar menyumbang ala kadarnya.  

Padahal, sekitar 70-75% kandungan Alquran berbicara tentang kehidupan sosial ekonomi, bahkan melebihi tentang kandungan Alquran soal ibadah (mahdhah). Al Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengabdi kepada Allah SWT dalam arti ayng seluas-luasnya. Termasuk bagaimana mendistribusikan harta kekayaan kepada sebanyak mungkin manusia agar mereka bisa merasakan manfaatnya. ” Agar supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kalian saja “ demikian disebutkan dalam Al Quran Surat Al-Hasyr : 7. Rasulullah pun bersabda "Barangsiapa yang sedang memenuhi kebutuhan saudaranya, berarti Allah tengah memenuhi kebutuhannya, Barangsiapa memudahkan kesulitan seorang Muslim, berarti Allah akan memudahkan Kesulitan di hari Kiamat" (HR. Bukhari, Muslim). Dalam hadits yang lain, beliau bersabda "Barangsiapa yang sedang memenuhi kebutuhan saudaranya, berarti Allah tengah memenuhi kebutuhannya, Barangsiapa memudahkan kesulitan seorang Muslim, berarti Allah akan memudahkan Kesulitan di hari Kiamat" (HR. Bukhari, Muslim). Ayat dan hadits-hadits diatas, serta masih banyak yang lain, dapat kita anggap sebagai indikasi betapa pentingnya kesalehan sosial dalam Islam.

Kesalehan sosial itu pada akhirnya akan memunculkan kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial dapat didefinisikan sebagai kepekaan dan kemampuan merespon terhadap masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat. Dalam buku berjudul Social Enterprise yang ditulis Bapak Ahmad Juwaini, disebutkan bahwa "Semakin tinggi kecerdasan sosial yang dimiliki oleh seseorang, semakin banyak pula wujud tindakan social entrepreneurship yang dijalankan dalam kehidupannya" (halaman 65). Orang dengan kesolehan dan kecerdasan sosial yagn tinggi akan menjadi rahmat bagi sesama manusia di sekitarnya. Dia tidak akan bisa merasa tenang dan senang apabila masih ada orang-orang yang hidupnya sengsara, baik oleh karena kemiskinan atau sistem sosial yang zalim. Sebagaimana dicontohkan oleh pendiri Grameen Bank di Bangladesh, Muhammad Yunus.

Alangkah indahnya apabila orang-orang kaya lebih memprioritaskan sedekah dan berbagi pada sesama yang membutuhkan daripada membeli barang-barang mewah. Dan akan lebih indah lagi apabila orang-orang miskin tetap memelihara harga dirinya dari meminta-minta dan selalu semangat untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan mereka. Itulah sesungguhnya fungsi harta dalam Islam, untuk dimanfaatkan seadil-adilnya dan sebanyak-banyaknya demi kepentingan hajat hidup manusia sebanyak mungkin. Sehingga, kita sebenarnya berpeluang lebih besar meraih pahala melimpah justru dari interaksi sosial dan amal sholeh kita sehari-hari, baik moril maupun materil.

Semoga bermanfaat

Minggu, 10 Juni 2012

[Sosial] Mas, uang rokoknya mana?

"Mas, uang rokoknya mana?" kata si pengirim kepada Syamsudin, si penerima paket. "Emangnya harus pakai uang rokok ya?" tanya Syamsudin dengan nada tinggi dan pandangan tajam ke arah si pengirim. "Ya, enggak sih, kalau ada boleh" kata si petugas pengirim salah tingkah. Syamsudin sendiri terlihat bimbang, di satu sisi dia tidak ingin melewatkan setiap kesempatan sedekah namun di sisi lain dia juga tidak ingin orang jadi pengemis yang suka meminta-minta, rokok lagi. Pemahaman agama Syamsudin memang cukup baik sehingga dia menganggap pemberian seperti itu tidak mendidik. Syamsudin pun hanya diam sambil terus memandangi si petugas pengirim. Petugas itu pun pergi dengan menahan kejengkelan dalam hatinya. Sambil memandangi si petugas yang hilang di belokan jalan, Syamsudin merasakan kesedihan dan kekecewaan yang dalam. Dia sedih dan kecewa terhadap mentalitas bangsanya yang seakan tidak pernah bisa berhenti dari segala macam kerusakan dan kemunafikan.

Selain bon kosong, uang rokok juga salah satu modus mencari tambahan uang yang sering dilakukan orang, terutama kalangan menengah ke bawah. Memang, ada perusahaan-perusahaan tertentu yang memperbolehkan para pegawainya menerima tips, uang rokok atau apapun namanya. Intinya, jika konsumen merasa puas dengan pelayanan yang diterima, mereka boleh saja memberi uang tips. Namun, tentu saja hal ini tidak untuk dipaksakan. Meminta tips, apalagi dengan memaksa, adalah sebuah perbuatan yang sangat buruk dinilai dari sisi etika dan profesionalisme. Dari sudut pandang agama Islam, hal itu bisa dianggap sebagai kezaliman. Konsumen yang tidak memberi uang tips memang bukan lantas berarti tidak puas atas pelayanan yang diberikan. Mungkin mereka tidak terbiasa melakukan hal tersebut atau ada sebab lain yang belum kita ketahui. Yang penting adalah mereka sudah membayar lunas kewajiban pembayaran mereka atas pelayanan yang diterima. Uang yang dibayar konsumen tersebut pada gilirannya akan menjadi gaji yang diterima para pegawai. Kebiasaan buruk tersebut juga sesungguhnya membahayakan mentalitas si pegawai sendiri. Dia akan terbiasa menganggap dirinya miskin dan serba kekurangan. Dia merasa bahwa dirinya harus senantiasa dikasihani, termasuk selalu diberi uang tambahan untuk membeli rokok. Uang tambahan itu sendiri sudah menjadi semacam candu yang tidak kalah berbahayanya dengan rokok bahkan narkotika. Kalau mentalitasnya sudah seperti ini, bagaimana mungkin manusia sepert itu akan bisa meraih kemajuan berarti di masa depan?

Meskipun tidak selalu, uang rokok memang seringkali digunakan untuk membeli rokok. Rokok memang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebagaiman dikutip dari detikHealth.com, Indonesia menempati urutan ketiga dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia setelah China dan India karena pertumbuhan jumlah perokok generasi baru di Indonesia meningkat dengan cepat. YLKI, dalam beberapa situs pemberitaan online, menyatakan bahwa 70 persen perokok berasal dari kalangan keluarga miskin. Banyak diantara mereka yang lebih memilih menggunakan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk memperbaiki gizi dan pendidikan keluarganya. Ada juga yang anaknya sampai tidak sekolah lagi. Ketika mereka ditanya kenapa tidak gunakan uang rokoknya untuk biaya sekolah si anak? banyak yang menjawab, “Lebih baik anak saya tidak sekolah dari pada saya berhenti merokok,”. Tidak mengherankan apabila uang rokok seakan menjadi semacam keharusan dalam berbagai urusan di negeri ini.

Uang rokok, uang tips, uang lelah atau apapun namanya adalah gambaran buram dari mentalitas hedonis dan materialistik dari bangsa Indonesia ini. Bangsa yang penduduknya lebih suka mengeluarkan uang untuk berfoya-foya menikmati hiburan semu hampa makna. Bangsa yang sebagian penduduknya rela mengorbankan etika bisnis dan profesionalisme demi memperoleh sedikit uang tambahan untuk memuaskan kecanduan rokoknya. Melepaskan diri dari mentalitas uang rokok ini memang tidak mudah. Perlu upaya keras, cerdas, ikhlas, sinergis, terstruktur dan sistematis dari semua pihak yang berkepentingan seperti masyarakat, para da'i dan ulama serta aparat pemerintah. Namun, kita bisa memulainya dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita. Sekecil apapun, Insya Allah harapan ke arah yang lebih baik akan selalu ada dengan izinNya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aamiin.

Semoga bermanfaat

dipersembahkan oleh distromuslim dot net

Banyak cara untuk menginspirasi banyak orang baik secara langsung atau tidak langsung.  Salah satu cara mudah untuk menginspirasi orang lain berbagi adalah dengan mengenakan kaos yang berisi tulisan atau citra insiparatif seperi Kaos Sedekah. Kaos ini berisi kata-kata motivasi untuk bersedekah dan berbagi pada sesama dengan cara yang halus dan tidak menggurui. Baik juga untuk hadiah atau souvenir bagi yang dicintai dan dikasihi.  Kaos ini dapat diperoleh di situs distromuslim dot net.

Kamis, 29 Maret 2012

[Kultwit] Gadis Penjual Risol by mbak Fitri Nurlela

Berikut kultwit dari mbak Fitri Nurlaela, anggota Komunitas Lebah

(1) Gerimis, br makan sih, tp telinga tergelitik olh suara #gadiskecilpenjualrisoles yg sudh 2 mggu trahir lewat d dpn rmah.

(2) Krna kasian dan iseng pengen tau,sy panggil sj si #gadiskecilpenjualrisoles. Dia pun semangat mmbuka pagar rmh sy dan duduk d teras.

(3) Belinya sih cm 2 aj, tp sy tdk menyia2kan wktu utk "mewawancara" si #gadiskecilpenjualrisoles.

(4) Sdh lma sy pnya kbiasaan brtny2 pd pdgng,playan warng,pnarik ojek,pmulung pun sy ajk ngbrol,kali ini giliran #gadiskecilpenjualrisoles

(5) Balik ke si #gadiskecilpenjualrisoles trnyta dia stiap hari brjualan keliling perumahan sy mulai jam 5 sore dan dagangannya sllu habis

(6) Setiap hari #gadiskecilpenjualrisoles mmbwa 4mcm jajanan (risoles dkk), @ 25bh jd total 100buah jajanan yg dijual perbuah rp 1500.

(7) Jd hsil pnjualan #gadiskecilpenjualrisoles ini sehari klo habis smua (dan sllu hbis) adlh 150rb, dg komisi dr 1 yg laku terjual rp 300

(8) Rp 300x100bh adlh 30rb, hasil si #gadiskecilpenjualrisoles berjualan dr jam 5 sore smpe paling malam (katanya) jam 9.

(9) Siang hari si #gadiskecilpenjualrisoles sekolah di SMP dkt perumahan, dan uang hasil berjualan dia pakai membiayai kbtuhan skolahnya.

(10) Waah Subhanalloh, hebat yah, sy benar2 salut dan bnyk belajar dr #gadiskecilpenjualrisoles berusia 12thn ini.

(11) Ketekunan, kesabaran dan semangatnya mmbuat sy malu. "Sebenarnya maunya nnton sinetron Bu" ucap #gadiskecilpenjualrisoles ini pd sy.

(12) Tp krna dia ingin terus sekolah #gadiskecilpenjualrisoles ini ttp semangat berjualan. "Nnti klo udh lulus kn ga jualan lg Bu" ktnya lg

(13) Sungguh terguran dariNya yg disampaikn lwt seorg #gadiskecilpenjualrisoles kpd sy yg srngkali mngeluh&patah semangat. Alhamdulillah.

(14) Mungkn kta tdk suka keadaan kita skrg,tp yakinlah smua adlh btu pijakan mnju ksuksesan d ms depan. Makasih #gadiskecilpenjualrisoles


sumber twitter mbak @FitriDream

Selasa, 27 Maret 2012

Imam Abu Hanifah Bicara Kesederhanaan

http://wasathon.com/humaniora/read/imam_abu_hanifah__bicara_kesederhanaan/
Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Janganlah meminta pendapat kepada orang yang gandum pun tidak ada di rumahnya.” Sebagai seorang mujtahid mutlak dan imam mahzab, beliau pasti mengerti benar kedudukan harta dalam Islam. Ucapan beliau tentang tidak meminta pendapat pada orang yang tidak ada gandum di rumahnya bermakna bertanyalah pada orang yang tepat. Ketiadaan gandum merupakan simbol dari kemiskinan yang melanda kehidupan seseorang.

selanjutnya sila klik link di atas

Kamis, 23 Februari 2012

[Kultwit] Anissa Azzahra by Sedekah Rombongan


1. Anissa Azzahra , 2,5th , retinablastoma, tumor ganas, anak mungil dr Wonogiri #SedekahRombongan pic.twitter.com/yNd1Lv8P

2. Anissa anak pertama , dri seorang buruh serabutan, yg berjuang sejak usia anaknya 4bln, #SedekahRombongan

3. Kami bertemu dengan anak ini 3 hari lalu, saat itu jg kami putuskan utk mmbwa Anisa ke RS khss Mata #SedekahRombongan

4. Kondisi Anisa trnyata sudah sangat lemah, sangat tdk mngkn utk operasi pengangkatan tumor dlm waktu dekat. #SedekahRombongan

5. Dokter menyarankan utk membawa Anisa ke RS.Sarjito, utk penanganan lebih detail, #SedekahRombongan

6. Setelah melihat hasil CTscan dan cek lab, ternyata keadaan Anisa benar2 sdh terlambat. #SedekahRombongan

7. Kanker di matanya sudah sampai ke otak besar, badan sebelah kirinya sdh mulai bengkak2, #SedekahRombongan

8. Anisa dlm posisi sangat dilematis skrg, tumor di mata kirinya sangat cepat membesar, pembesarannya 100% per 10 hari. #SedekahRombongan

9. Saat ini dokter memutuskan utk melihat konsisi Anisa trlebih dahulu, kemoterapi utk memgecilkan tumor di mata kirinya. #SedekahRombongan

10. Jika kondisi Anisa tidak memungkinkan, hanya keajaiban yg bisa menyelamatkannya. Harapan kt semua #SedekahRombongan

11. Dalam perkiraan dokter jk kondisi Anisa baik, kemoterapi sktr 120-150 kali,.... Baru bs membaikkkan #SedekahRombongan

12. Kt semua tau apa efek dr kemoterapi, wallahualam, apakah Anisa akan kuat, .... Kt sama2 berdo'a #SedekahRombongan

13. Dalam hitungan manusia Anisa sdh terlambat di tangani, kanker menyebar sangat cepat. #SedekahRombongan

14. Dalam hitungan langit, Tuhan memungkinkan segalanya, dia Sang Maha Penyembuh. #SedekahRombongan

15. Ikhtiar terbaik dr kluraganya, dari kami Insya Allah sdh dilakukan, #Sedekaholics pun ikut berikhtiar dgn dahsyat #SedekahRombongan

16. KehendakNya lah yag terbaik utk Anisa, apapun itu, ikhlas kt berikhtiar utk Anisa, Allah-lah pemilik segalaNya #SedekahRombongan

more info please visit situs blog Sedekah Rombongan

Selasa, 21 Februari 2012

[Sosial] Kemiskinan dan Paham tak berTuhan

Karena warnet tempat saya bekerja sebagai operator berdekatan dengan sebuah rumah yang dijadikan markas oleh sebuah komunitas yang berpaham kiri, maka sesekali saya pun berinteraksi dengan mereka.  Tidak terlalu intens memang, namun sedikit banyak saya bisa memahami pemikiran yang mereka anut.  Kebutuhan emosional tertinggi manusia, menurut Arvan Pradiansyah, adalah DIPAHAMI.  Bahkan, Steven Covey, penulis buku laris The 7 Habits of Highly Effective People, menggambarkan kebutuhan itu bagaikan kebutuhan tubuh akan oksigen.  Sehingga, bisa dipahami mengapa banyak anak muda dan orang miskin tertarik pada paham tersebut.  Bisa jadi, kaum miskin itu merasa lebih dipahami dan dihargai oleh para aktifis yang menyebarkan paham tersebut.  Bukan tidak mungkin, banyak orang-orang miskin yang merasakan hal yang sama dengan para aktifis tersebut. Maka tidak mengherankan paham ke-kiri-kirian yang anti Tuhan dan anti agama itu menjadi cukup populer di kalangan masyarakat miskin menengah ke bawah.  Sebaliknya, agama dan orang-orang beragama dianggap oleh mereka sebagai penindas yang tidak mau memahami mereka.  Mereka menganggap bahwa para ustadz, dai dan kaum agamawan sebagai orang-orang yang hanya bisa "melangit" dan tidak "membumi".  Hanya bisa berkhutbah dan berdoa tanpa bisa membantu menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhan mereka, baik fisik maupun emosional, secara real dalam bentuk yang nyata.  

Paham-paham seperti itu pun bisa hadir karena negara dan para pemimpin hanya sekedar ada namun tidak dirasakan hadir mengayomi rakyatnya.  Rakyat seakan dibiarkan sendiri menghadapi masalah-masalah mereka tanpa ada kepedulian dari para pemimipinnya.  Hampir setiap hari kita disuguhi berita-berita betapa banyaknya para petinggi yang terjerat kasus-kasus korupsi.  Betapapun rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, mereka masih punya nurani dan perasaan.  Mereka pun bisa merasakan kalau para pemimpinnya hanya memikirkan diri, keluarga dan partainya saja.  Rakyat merasa bahwa mereka hanya penting saat Pemilu tiba.  Saat suara mereka diperlukan untuk menggapai kekuasaan atau untuk kembali berkuasa, setelah itu dilupakan begitu saja.   

Bagi saya sendiri, dibandingkan para bocah yang suka main games online berjam-jam tanpa henti, pemahaman para aktivis berpaham kiri ini lebih membuat hati sangat pedih dan miris.  Bocah-bocah itu mungkin saja ada harapan untuk menjadi orang yang baik dan benar di kemudian hari.  Namun, bagaimana dengan mereka sudah tidak beragama dan sudah terang-terangan memusuhi agama serta menolaknya sebagai jalan hidup yang ditetapkan Tuhan pada manusia? Bahkan sudah mendeklarasikan kekecewaan dan kemarahannya pada agama dan orang-orang beragama seperti di blog yang satu ini.  Tentu akan sulit sekali mendakwahi mereka, karena persepsi mereka tentang agama sudah sedemikian buruk. Mungkin sama buruknya dengan orang-orang di Abad Pencerahan / Enlightenment di Eropa.  Agama bagi mereka sudah identik dengan Inkuisisi atau Inquisition, sebuah institusi kejam yang melakukan segala macam penyiksaan sadis dan mengerikan.  Hampir bisa dipastikan, akar pemahaman seperti itu berasal dari zaman tersebut.  Agama identik dengan dogma-dogma yang membatasi kebebasan berpikir umat manusia.

Namun, sebagaimana pepatah yang berkata tidak ada api jika tidak ada asap, maka paham tersebut tentu tidak muncul dengan sendirinya.  Padang rumput memang tidak mungkin akan terbakar sendiri, namun mengapa padang rumput itu bisa terbakar itu lain lagi persoalannya.  Paham sosialis kiri tersebut bisa ditelusuri akarnya dari zaman Revolusi Industri di Inggris abad ke 18.  Saat itu terjadi transisi antara pekerjaan yang didominasi tenaga manusia ke dominasi tenaga mesin.  Sehingga, lebih banyak barang yang bisa diproduksi dan dijual.  Orang pun berbondong-bondong datang ke kota dan mencari pekerjaan di sana.  Pabrik-pabrik pun banyak didirikan.  Namun, keserakahan membuat banyak pengusaha saling bersaing untuk mendapatatkan lebih banyak keuntungan.  Mereka pun menggunakan segala cara untuk menggenjot produksi.  Sehingga, buruh anak banyak ditemukan pada masa Revolusi Industri, walaupun sebelum masa Revolusi Industri telah berkembang. Anak - anak dipaksa bekerja dengan gaji yang kecil dan pendidikan yang minim. Beberapa jenis kekerasan juga terjadi di tambang batu bara dan industri tekstil. Kejadian ini terus terjadi hingga terbentuknya undang - undang pabrik Factory Acts di tahun 1234 yang melarang anak dibawah 9 tahun untuk bekerja, anak dilarang bekerja pada malam hari dan jam kerja 12 jam per hari untuk anak dibawah 18 tahun.  Tempat tinggal pada masa Revolusi Industri beraneka ragam dari kondisi rumah yang sangat baik dan pemilik yang makmur hingga perumahan sempit di daerah perkumuhan. Rumah kumuh ini menggunakan toilet bersama serta keadaan lingkungan yang kurang bersih. Berbagai macam penyakit juga kerap terjadi seperti wabah kolera, cacar air dan sebagainya.  Sehingga, bisa dipahami jika paham sosialisme yang menentang semua jenis kepemilikan pribadi menjadi berkembang dan digemari di kalangan buruh dan rakyat miskin.  



Tidak jauh berbeda dengan keadaan di negeri kita sekarang ini.  Seakan-akan sejarah kelam Revolusi Industri berulang kembali di negeri ini.  John Pilgers, seorang jurnalis dan pembuat film dokumenter, pernah membuat film dokumenter berjudul The New Rulers.  Film itu berkisah tentang para buruh di pabrik di Indoneisa, yang hanya digaji minim dan seringkali berada dalam kondisi kerja yang sangat memprihatinkan tanpa penghargaan yang cukup.  Pilgers sendiri sampai terjangkit malaria saat shooting di sebuah pemukiman padat tempat tinggal para buruh tersebut.  Imam Syafii, seorang tukang sampah yang difilmkan oleh BBC di acara "The Toughest Place to be a Binman" tinggal di rumah gubuk berdindign tripleks di kawasan Kawi Buntu, Guntur.  Ratusan pemulung hidup dari mengais dan memunguti sampah di TPA Bantar Gebang dan TPA-TPA lainnya.  Sementara itu, ratusan warga hidup dengan berbagai macam penyakit di desa Jagabita alias Kampung Pesakitan dan desa-desa lainnya di daerah Parung Panjang, Bogor.  Sedikit sekali perhatian dan bantuan yang diberikan secara serius kepada mereka.  Sehingga, apapun agama dan ideologinya, jika ada orang yang datang dan memberikan perhatian dan bantuan yang tulus atau dirasakan tulus pada mereka, mereka akan menerimanya.  



Semua itu seharusnya menjadi tamparan keras bagi kaum muslimin yang seharusnya menjadi rahmatan lil alamin.  Apalagi, Indonesia ini adalah negeri dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.  Keberhasilan mereka mempengaruhi banyak orang seharusnya merupakan otokritik dan motivasi bagi kaum muslimin untuk memperbaiki cara mereka berdakwah dan meningkatkan kepedulian pada sesama.  Jangan sampai kita sibuk sendiri di berbagai forum diskusi, seminar, majelis taklim atau di masjid-masjid namun kita lupakan orang-orang Islam yang ada di sekitar kita, terutama yang hidupnya terhimpit oleh kemiskinan.  Mereka adalah saudara-saudara kita juga dan ladang amal bagi kita semua.  Seperti dalam salah satu editorial majalah online Wasathon, kita ambil peran negara yang kita mampu tanpa ada niatan untuk memberontak atau memisahkan diri.  Semoga bermanfaat.

Bila masih mungkin kita menorehkan batin
Atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas
Mumpung masih ada kesempatan buat kita
Mengumpulkan bekal perjalanan abadi
hoo..oo..du..du...du..ouoo...ouoo

Kita pasti ingat tragedi yang memilukan
kenapa harus mereka yang tertimbun tanah
Tentu ada hikmah yang harus kita petik
Atas nama jiwa mari heningkan cipta

Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu
Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung
Hanya atas kasihNya hanya atas kehendaknya kita masih bertemu matahari
Kepada rumpun ilalang kepada bintang gemintang
kita dapat mencoba meminjam catatanNya

Sampai kapankah gerangan
waktu yang masih tersisa
Semuanya menggeleng semuanya terdiam semuanya menjawab tak mengerti
Yang terbaik hanyalah segera bersujud mumpung kita masih di beri waktu

Ebiet G.Ade - Masih Ada Waktu

Gambar dari sini dan dari sini

Senin, 20 Februari 2012

Minggu, 05 Februari 2012

Social Enterprise

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Business & Investing
Author:Ahmad Juwaini
Judul: Social Enterprise
Penulis: Ahmad Juwaini
Penerbit: Expose (Mizan Group)
Cetakan: I (Juni 2011)
Jumlah Halaman: 260 hal
Kategori: Ekonomi

"Semakin tinggi kecerdasan sosial yang dimiliki oleh seseorang, semakin banyak pula wujud tindakan social entrepreneurship yang dijalankan dalam kehidupannya"
Social Enterprise
halaman 65

Buku ini diawali dengan pembahasan mengenai nilai-nilai inti yang menjiwai seorang pebisnis sosial. Nilai-nilai inti yang harus dianut seorang pebisnis sosial antara lain swadaya atau mandiri, peduli, antieksploitasi, kemitraan dan sinergi. Tiap sikap nilai yang dibutuhkan seorang pebisnis sosial dijelaskan dengan gamblang dalam buku ini. Walaupun, tentu saja, siapa saja dan apapun profesinya dapat menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Nilai-nilai itu laksana bibit tanaman yang akan tumbuh menjadi pohon besar nan rindang, teduh dan banyak buahnya. Nilai-nilai itu dapat ditanamkan pula pada anak-anak. Bahkan, semakin dini penanaman akan semangat kepedulian tersebut, akan semakin baik hasilnya. Di halaman 209 ada kisah seorang gadis kecil bernama Alisa. Suatu ketika, si gadis kecil berkata pada ayahnya "Yah, bolehkah Alisa puasa Senin Kamis, namun setiap kali Alisa puasa, ayah memberi Alisa uang yang akan Alisa sumbangkan ke Palestina". Memang, saat itu tragedi Gaza sedang berkecamuk karena serangan brutal kaum Zionist.

Bisnis sosial adalah bisnis yang bukan bertujuan mencari keuntungan / profit. bisnis sosial juga mengelola modal untuk mencari keuntungan, namun keuntungan itu bukan untuk mmeperkaya si pemilik bisnis namun untuk kebaikan sosial mereka yang terlibat dalam bisnis tersebut. Si pemilik boleh mengambil keuntungan sebatas balik modal saja. Selebihnya, digunakan untuk pengmenbangan bisnis itu sendiri. Tujuan utama bisnis sosial adalah untuk membebaskan orang miskin dari kemiskinan yang melingkupinya. Bisnis sosial adalah kombinasi sinergis dari Bisnis kapitalistik pengeruk keuntungan material dengan sumbangan amal atau charity.

Bisnis sosial hanya akan berjalan baik jika dilaksanakan oleh orang-orang dengan kecerdasan sosial yang tinggi. Kecerdasan sosial di sini merujuk pada kemampuan seseorang mengetahui, merasakan dan mampu mengatasi persoalan-persoalan sosial di lingkungan tempatnya berada. "Semakin tinggi kecerdasan sosial yang dimiliki oleh seseorang, semakin banyak pula wujud tindakan social entrepreneurship yang dijalankan dalam kehidupannya" demikian kutipan menarik dalam buku Social Enterprise ini di halaman 65. Bisnis sosial sangat berbeda dengan amal atau sedekah walaupun keduanya memiliki persamaan sama sama memberi kepada orang miskin. Bedanya, sedekah memberi hasil sedangkan bisnis sosial memberikan kesempatan pada kaum miskin untuk menempuh proses keluar dari kubangan lumpur kemiskinan.

Bisnis sosial hadir tidak untuk menyaingi apalagi memerangi bisnis yang berorientasi pada pemaksimalan profit. Bisnis sosial justru akan menghadirkan pasar baru yang berisi orang -orang yang baru terbebas dari kemiskinan. Para pebisnis yang berorientasi profit akan dapat mendapatkan keuntungan dari orang-orang tersebut. Bisnis sosial hadir untuk melengkapi kekurangan kapitalisme yang cenderung menafikan dan menganaktirikan orang-orang miskin.

Bisnis sosial akan lebih efektif apabila dijalankan oleh orang-orang yang mengerti dan memahami serta mempercayai potensi kebaikan yang ada dalam diri setiap manusia. Muhammad Yunus, seorang professor dari Universitas Chittagong, Bangladesh adalah salah satu dari orang-orang tersebut. Sehingga, walaupun mungkin bukan yang pertama, namun bisnis sosial seringkali identik dengan nama beliau. Pendiri Grameen Bank ini seakan sudah menjadi icon dari bisnis sosial. Hasil pembelajaran sang profesor ekonomi yang berguru pada rakyat miskin Bangladesh ini seringkali mewarnai banyak wacara tentang bisnis sosial. Termasuk dalam buku ini.

Selebihnya, buku ini berisi portfolio unit-unit bisnis Dompet Dhuafa yang dapat dijadikan model untuk pengembangan bisnis sosial. Pembahasan tentang unit-unit bisnis tersebut dijabarkan dengan cukup mendetail sehingga mereka yang mau memulai bisnis sosial dapat mempelajarinya dengan baik. Walaupun tentu saja tidak harus persis sama. Pendek kata, buku ini sangat layak dibaca oleh siapapun yang peduli pada kaum miskin. Buku Social Enterprise karya Pak Ahmad Juwaini ini akan menyadarkan kita betapa pentingnya memberdayakan kaum miskin agar mereka mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri. Semoga suatu saat nanti, dunia yang benar-benar bebas dari kemiskinan akan terwujud, Insya Allah. Aamiin

Sabtu, 17 Desember 2011

[Sosial] Dilema Superblok Ibu Kota

Suatu ketika saat berada di sebuah perkampungan padat, saya melihat beberapa selebaran yagn ditempel di tembok.  Selebaran itu  berisi fotokopi artikel tentang sebuah Mega Proyek pembangunan sentra bisnis terpadu yang sedang dikerjakan di dekat perkampungan tersebut.  Selain artikel, selebaran itu juga berisi ajakan agar warga yang tanahnya akan dijual menahan harga, jangan sampai dilepas dengan harga terlalu murah.  Pihak penyebar selebaran itu mungkin merasa prihatin dengan ketidakmampuan masyarakat mengakses informasi sehingga tidak mengetahui berapa sebenarnya nilai proyek yang akan dibangun di tanah mereka.  

Mega Proyek itu sangat luar biasa, terdiri dari gedung dan aparement serta sarana-saran penunjang lainnya.  Proyek itu bertujuan memadukan tempat tinggal, tempat kerja dan kegiatan bisnis serta rekreatsi keluarga dalam satu kawasan. Sehingga, para penghuninya akan terhindar dari kemacetan Ibu Kota yang sampai hari ini belum juga teratasi.  Sehingga, banyak waktu yang bisa dihemat dan efisiensi kerja serta bisnis bisa ditingkatkan.  Di situs Vivanew.com dapat kita temukan sebuah artikel yang mengulas profil para pengembang superblock seperti proyek itu.

Namun, tentu saja kita tahu siapa saja yang bisa membeli apartement di sana.  Tentu bukan pegawai-pegawai rendahan yang gajinya pas-pasan, yang untuk hidup sehari-hari masih kerepotan. Kalau bukan level manager ke atas ya orang asing.  Merekalah yang mampu secara finansial menikmati semua fasilitas tersebut demi kenyamanan dan gaya hidupnya. Rakyat kecil yang miskin mungkin hanya bisa berjalan - jalan di sekitar kompleks tersebut tanpa bisa menikmati lebih banyak lagi.

Jika informasi yang ada di selebaran itu benar, maka ganti rugi yang diterima masyarakat tidak seimbang dengan nilai mega proyek yang sedang dikerjakan.  Selebaran itu sepertinya dibuat oleh mereka yang peduli dan prihatin akan besarnya ganti rugi yang diterima masyarakat.  Artikel yang disertakan dalam selebaran itu digunakan untuk memberi informasi agar masyarakat sadar siapakah sesungguhnya yang hendak membeli tanah yang mereka tempati.  Sehingga, mereka menyadari hak mereka untuk mendapat ganti rugi yang layak.  Jangan sampai sesudah mereka rela melepaskan tempat tinggal mereka, ternyata mereka tidak bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak.  Sudah merupakan rahasia umum bahwa penggusuran seringkali melibatkan banyak kepentingan, mulai dari pengusaha, penguasa, pekerja sampai penduduk yang tanahnya digusur.  Sehingga, persoalan penggusuran menjadi salah satu masalah sosial paling kompleks di negeri ini. 

Satu hal yang seringkali terlupakan adalah bahwa orang-orang miskin juga manusia.  Mereka berhak mendapat tempat tinggal yang layak dan berhak pula mendapat kesempatan untuk hidup layak.  Mereka juga perlu makan, pakaian dan tempat tinggal yang layak.  Seharusnya, tidak boleh ada manusia yang tinggal di tempat yagn tidak layak ditempati sperti emperan toko, jembatan penyebarangan atau kolong jembatan.  Rumah-rumah kumuh yang terletak di gang-gang sempit pun seharusnya tidak ada.  Degnan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, baik dalam bentuk bahan tambang atau hasil pertanian, rakyat Indonesia seharusnya tidak ada yang miskin.  "This country shouldn't be poor" begitu kata John Perkins dalam film dokumenter The New Rulers.

Modal utama untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia adalah adanya kemauan dan keberanian.  HS Dillon pernah mengatakan "Untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia, kita tidak perlu mengemis hutang kepada IMF atau memerlukan bantuan dari lembaga asing.Jika 10% orang terkaya di Indonesia memberikan 20% penghasilannya (bukan harta atau asetnya) maka tidak ada lagi orang miskin di Indonesia pada tahun itu."  (H.S. Dillon, KOMPAS; Selasa, 17 Oktober 2006).  Sehingga, asalkan penduduk negeri ini, terutama yang kaya, tidak begitu serakah, maka kemiskinan akan dengan mudah teratasi.  Minimal kaum miskin bisa bertahan hidup dan bisa memenuhi kebututan hidup mereka yang paling mendasar. 

Namun sayang, peradaban kita sekarang ini adalah peradaban yang memanjakan yang kaya serta menindas yang miskin.  Peradaban yang mengedepankan ego, kepentingan duniawi serta kekayaan materi.  Bukan agama, spiritualitas dan kepedulian pada sesama, terutama mereka yang membutuhkan.  Sehingga, mimpi mewujudkan peradaban yang peduli, beradab dalam lindungan keridhoan Allah subhawataala masih jauh dari kenyataan. 

Semgoa bermanfaat


Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana
Demi serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Di depan masjid
Samping rumah wakil pak lurah
Tempat dulu kami bermain
Mengisi cerahnya hari

Namun sebentar lagi
Angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi
Dan tak kan pernah kembali

Ujung Aspal Pondok Gede - Iwan Fals

Jumat, 25 November 2011

[Peduli] Rp 12 ribu yang bikin merinding

apa sih artinya uang 12 ribu. masih untugn kalau dapat buku tipis di toko buku atau semangkok mie ayam.  Namun, uang yang dalam ukuran masyarakat moderen itu tidak seberapa ternyata bisa bikin merinding.  Apa sebab? karena uang sejumlah itu disedekahkan seseorang yang duitnya pas-pasan.  Namun, keinginan kuat untuk bersedekah mengalahkan rasa takut akan kemiskinan.  

Begitulah yang dirasakan oleh Pak Saptuari, sang pengggas Sedekah Rombongan.  Beliau mengungkapkan perasaan gembira bercampur haru itu dalam akun twitter-nya. Perasaan tersebut pun menjalar mempengaruhi para follower-nya hingga semakin besar keinginan mereka untuk bersedekah, termasuk lewat Sedekah Rombongan.  

Secara kuantitas, jumlah 12 ribu memang tidak seberapa.  Namun, energi ketulusan dari yang bersedekah sejumlah itu bisa membuat orang merinding.  Memang tidak semua, ada juga yang bebal karena sudah terlalu banyak mengkonsumsi uang haram dan hiburan sensasional hampa makna. Hanya mereka yang lembut hatinya dan halus perasaannya sajalah yang akan merasakan getaran energi ketulusan itu.   

Mungkin, sebagaimana saya sampaikan dalam tulisan terdahulu, ladang amal membantu dhuafa memang diperuntukkan bagi mereka yang tulus, sungguh-sungguh dan bersemangat dalam membantu. Meski jumlahnya hanya 12 ribu.

Selamat beraktifitas di akhir pekan yang berkah dan indah ini temans, jangan lupa berikan sedekah kita yang terbaik hari ini karena ladang amal ini telah diberikan pada kita.  Bukan mereka yang keras dan tertutup hatinya sehingga enggan melihat dan tidak mau peduli pada penderitaan sesama. 

Semoga bermanfaat

Sabtu, 19 November 2011

[Opini] SEA Games vs Point Blank

Selama SEA Games di Palembang berlangsung, beberapa sekolah meliburkan murid-muridnya.  Namun, tujuan diliburkannya para siswa itu sepertinya kurang maksimal tercapai, jika tidak ingin dikatakan gagal atau sia-sia belaka.  Anak-anak itu lebih memanfaatkan kesempatan libur itu untuk kepentingan dan kesenangan mereka sendiri. Salah satunya adalah dengan bermain games online di warnet-warnet yang menyediakan.  

Memang, mereka tidak sepenuhnya libur.  Ada juga yang mendapat tugas yagn berkaitan dengan SEA Games.  Ada yang mengerjakan dengan baik namun ada juga yang sekedar copy paste dari internet.  Selesai copas, edit sedikit lalu tinggal print.  Bahkan terkadang perlu dibantu orang lain yang lebih paham komputer.  Nilai pun sudah di tangan sehingga waktu libur bisa dinikmati dengan kesenangan, termasuk main games online seperti Point Blank.  Lebih seru dan menghibur, demikian mungkin menurut mereka.  Point Blank memang salah satu games online paling top saat ini.  Permainan tembak-tembakan dengan sudut pandang orang pertama itu menyajikan grafis yang kinclong, beragam senjata dan lingkungan 3D yang dinamis.  Tidak hanya melawan manusia, ada juga yang sampai lawan dinosaurus.  Daripada nonton pertandingan yang bahkan mereka tidak pahami aturan mainnya, enakan main Point Blank yang sesuai dengan selera mereka.  Entah apakah nanti di sekolah otak mereka ikutan blank atau tidak.

Tidak bisa sepenuhnya disalahkan ke mereka memang.  Seperti yang pernah dikatakan salah seorang pengurus Komunitas Anak Langit di Tangerang, "Kita usahakan agar mereka tidak merasa terjajah, baik secara pemikiran maupun tingkah laku.  Sehingga, satu saaat mereka akan sadar uang dan sadar waktu".  Seringkali, tugas-tugas sekolah dirasakan lebih sebagai beban dan pemaksaan dibandingkan proses pendidikan dan pembelajaran.  Anak pun merasa terjajah dan terbebani.  Sehingga, boro-boro mendukung atlet SEA Games, mendingan main Point Blank atau permainan-permainan lainnya.  Sepintas terkesan egois, namun kalau ditelaah lebih dalam bisa jadi karena sejak awalnya SEA Games ini sudah bermasalah.  Terlebih adanya tayangan sinetorn korupsi yang melibatkan para petinggi partai penguasa.  Sehingga, tidak mengherankan apabila masyarakat, termasuk anak-anak, banyak menganggap bahwa SEA Games ini tak lebih dari ajang korupsi ramai-ramai.  Tidak lebih dari itu.

Harga diri sebuah bangsa terletak pada kemampuan para pemimpinnya menyejahterakan rakyatnya.  Pada gelandangan yang mati karena sakit dan kelaparan dekat Pejaten Village, pada tukang becak yang meninggal karena lelah dan lapar, pada sosok alm. Ibu Marhumah di Jagabita, terkuaklah aib dan kelalaian penguasa.  Para penguasa yang bermewah-mewah di saat rakyatnya melarat, yang kaya raya sementara rakyatnya miskin dan kenyang saat rakyatnya lapar.   Teringat kembali akan kata-kata sang Maestro Manajemen, Peter F. Drucker, "Tidak ada negara yang miskin, yang ada adalah negara salah urus".  


Seorang anak kecil bertubuh dekil

Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan

Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja


Reff I:
Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata....... Yang sudah terbiasa

Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaaan yang ada

Reff II:
Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah di atas tubuh yang resah
Ribuan jerit di depan hidungmu
Namun yang ku tau.... Tak terasa terganggu


Kembali ke: reff I & reff II

Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi si kecil siang tadi
Dia berjalan malas melangkahkan kaki
Di raihnya mimpi di genggam tak di letakkan...
Lagi...

Siang Seberang Istana, Iwan Fals

 

 

Senin, 01 Agustus 2011

Pertengkaran di awal Ramadhan dan hikmah pelajaran di baliknya

Malam itu adalah malam terakhir bulan Syaban tahun 1432 Hijriyah.  Saat itu ummat Islam Indonesia mulai menunaikan sholat tarawih di masjid-masjid.  Malam itu saya tidak dapat menunaikan sholat tarawih di masjid dekat rumah karena sedang dalam perjalan pulang dari daerah Depok.  Saat berada di daerah Pancoran, hari sudah malam dan saat itu sudah memasuki waktu Isya. Saya pun turun dari Metromini dan menunaikan sholat Isya dan tarawih di salah satu masjid.  Sesudah menunaikan sholat Isya dan tarawih, saya pun pulang kembali ke arah Manggarai.

Dalam perjalanan pulang, Metromini yang saya tumpangi berhenti di antara jalan Raya Pasar Minggu dengan jalan Saharjo.  Saat itulah, entah kenapa, terjadi pertengkaran antara supir dan kernet Metromini yang saya tumpangi dengna Metromini yang lain dengan nomor dan jurusan sama.  Mungkin mereka sedang berebut penumpang karena mereka harus memenuhi target setoran hari itu.  Saat metromini yang saya tumpangi hendak meninggalkan areal dekat Patung Pancoran tersebut, Metromini lawannya selalu menghalang-halangi.  Akhirnya, metromini yang saya tumpangi ber sama penumpang lain yang cukup banyak jumlahnya itu pun mundur agak jauh ke belakang, dan tiba-tiba berbelok ke jalan lalu langsung ngebut ke arah jalan Saharjo.  Supir dan kernet metromini lawannya pun memaki-maki, namun semua itu tidak dihiraukan oleh metromini yang langsung pergi itu.  Entahlah apa yang akan terjadi kalau mereka bertemu lagi, baik di pangkalan atau di jalanan.  

Memang memprihatinkan keadaan jalan-jalan di ibukota Jakarta dan berbagai kota lainnya di Indonesia ini.  Seakan hukum tidak lagi berlaku di sana dan digantikan hukumnya sendiri, yang lebih mirip hukum rimba. Hampir setiap hari kita dengar berita-berita tentang kejahatan yang terjadi di jalanan.  Baik pencopetan, penodongan atau bahkan yang sampai merenggut korban jiwa.  Kemiskinan sudah membutakan mata hati banyak manusia sehingga menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.  Ego kebinatangan manusia pun terusik hingga manusia jatuh ke tingkat kecerdasan EGO yang merupakan kecerdasan terendah dalam konsep Se7en Energy Intelligence.  Suatu kecerdasan yang tingkatannya sama dengan binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi hingga manusia tidak bisa menggunakan telinga, mata dan hatinya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.  "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al A'raf ayat 179)

Yang lebih memperihatinkan lagi adalah saat itu akan memasuki bulan mulia nan penuh berkah bernama Ramadhan.  Bulan nan suci itu seakan tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap perbaikan akhlaq dan moral para pengemudi tersebut.  Setoran pada pemilik kendaraan adalah yang utama, yang harus didapatkan bagaimanapun caranya walaupun harus berseteru dengan kawan sendiri.  Setoran tersebut, bagi mereka, adalah perkara hidup dan mati sehingga harus diperjuangkan mati-matian.  

Sebagai penumpang, tentu saja saya merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti itu.  Saya yakin para penumpang lain pun juga merasakan ketidaknyamanan yang sama.  Namun, saya pun mungkin akan berlaku seperti mereka apabila saya merasakan tekanan yang sama.  Betapa uang setoran harus mencapai target karena berhubungan dengan operasional perusahaan secara keseluruhan.  Target setoran yang tidak tercapai tentu akan menyebabkan pemilik kendaraan tidak senang dan mungkin akan marah pada si pengemudi.  Jika si pengemudi sering menunggak setoran, bukan tidak mungkin dia dipecat dan bakal kesulitan mencari pekerjaan lain.  

Memang selama ini, dengan tidak mengecilkan hasil dan perbaikan yang sudah dilakukan, peran pemerintah dalam membina akhlak dan moral masyarakat masih rendah efektifitasnya.  Solusi-solusi dan program-program yang dibuat seringkali masih bersifat instruksional dan masih kurang dipahami oleh masyarakat.  Masyarakat sendiri pun masih belum merasakan kehadiran pemerintah yang memahami, melindungi dan mengayomi mereka.  Masyarakat bagaikan orang-orang yang tersesat di hutan belantara buas yang dipenuhi serigala-serigala lapar yang bisa memangsa mereka setiap saat.    

Padahal, menurut pak Masril Koto, sebagaiman dirangkum mas Eko BS di jurnalnya yang ini,  membantu masyarakat harus mengenal mereka, tidur bersama mereka, hidup bersama mereka untuk mengetahui apa tantangan yang mereka hadapi. Tidak bisa kita melihat suatu masyarakat, lalu membantu dengan solusi-solusi yang top-down.  Solusi harus disusun oleh mereka sendiri ... dengan kita membantu merealisasikannya.  Membawa program-program pemberdayaan ke masyarakat secara top-down, tidak akan menjadikan program-program tersebut sustainable, berkelanjutan ... Begitu dana untuk program tersebut habis, program akan layu dengan sendirinya.

Ladang amal pemberdayaan masyarakat masih terbentang luas.  Semua itu menjadi bisa peluang emas bagi kita yang mau menggarapnya dengan baik dan benar serta penuh kesungguhan.  Namun, semua itu bisa juga berubah menjadi hutan belantara liar yang dipenuhi makhluk-makhluk buas apabila dibiarkan begitu saja tanpa perbaikan yang berarti.  Dan, kita sendirilah sebagai bagian dari masyarakat yang akan menanggung akibat pembiaran itu, baik di dunia maupun di akhirat.  Semoga Ramadhan kali ini bukan hanya dimaknai sebagai ajang pengumpulan pahala sebanyak-banyaknya, tetapi juga dimaknai sebagai bagian dari motivasi kita untuk lebih peduli pada sesama, mengasah empati dan memberi lebih banyak lagi semaksimal mungkin yang kita mampu.  

Semoga bermanfaat.      

Related posts

KULTUM 10 - HAL YANG MENYEBABKAN MANUSIA MASUK NERAKA

Siapa bilang orang miskin dilarang puasa Ramadhan

Pak Masril Koto, William Easterly dan Irwan Prayitno

Mengenal Se7en Energy Intelligence

Siapa bilang orang miskin dilarang puasa Ramadhan

Sebuah tulisan dengan judul provokatif muncul di blog platform Kompasiana.  Tulisan itu berjudul Kenapa Orang Miskin Dilarang Puasa Ramadhan?.  Intinya sih, si penulis mempertanyakan apakah orang miskin masih perlu puasa di bulan Ramadhan, padahal hampir setiap bulan dalam setahun mereka terus menerus puasa.  Tulisan itu memang lebih dari cukup untuk membuat orang yang punya ghirah / kecemburuan pada agamanya walau hanya sedikit mendidih dalam emosi.  Nmaun, bila kita cermati lebih jauh, ada kritik membangun yang bisa kita manfaatkan walaupun penulisnya memang sudah mengakui bahwa dirinya adalah setan.  Mungkin salah satu setan yang ada dalam Al Quran yang berwujud manusia yang disebutkan dalam surat ke 114, An Naas.

Puasa atau shaum Ramadhan adalah kewajiban kaum muslimin, baik miskin ataupun kaya.  Jadi tentu tidak ada alasan bagi kita untuk melarang orang miskin puasa.  Yang harus diperbaiki adalah paradigma kita tentang puasa itu sendiri. Sebagaimana ibadah-ibadah yang lain, puasa pun telah terdegradasi menjadi ritual hampa makna yang datang setahun sekali.  Apabila sudah mampu menahan lapar dan haus dari pagi sampai adzan maghrib berkumandang, sudah dianggap lunas hutang, gugur kewajiban dan pahala sudah di tangan.  Sehingga, sudah entah berapa kali Ramadhan bertandang setiap tahun, hampir tidak ada perubahan berarti yang terjadi di negeri ini.  

Di sisi lain, kemiskinan adalah masalah umat Islam yang tidak bisa dipandang sebelah mata.  Meskipun ghirah untuk berbagi dan bersedekah sudah mulai menggema, namun semua masih jauh dari harapan pengentasan kemiskinan. Masih banyak diantara jamaah dan organisasi Islam yang kurang memperhatikan masalah kemiskinan umat ini.  Pak AM Waskito, penulis buku Republik Bohong, menyebutkan hal itu dalam blog beliau di bagian pemikiran.   Padahal, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 2, salah satu ciri orang bertaqwa adalah suka membagi rezeki yang diperoleh dengan jalan halal kepada mereka yang membutuhkan.  Tentu yan dimaksud dalam ayat tersebut termasuk pula ijtihad untuk menentukan ke mana harta tersebut disalurkan agar pembagiannya efektif.  Islam sangat mengecam orang-orang yang bakhil dan mengangkangi harta mereka sehingga peredarannya menjadi terbatas.   Dalam as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi menuturkan pernyataan tegas Ali bin Abi Thalib ra, “Allah telah mewajibkan kepada orang-orang kaya agar memberikan hartanya sebanyak yang dapat mencukupi kebutuhan orang-orang miskin. Karena itu, jika orang-orang miskin itu kelaparan, tidak berpakaian dan menderita, maka penyebabnya adalah orang-orang kaya itu enggan memberi. Allah pasti akan menghisab dan mengazab mereka karena sikapnya itu.”  Namun, seringkali orang mengatakan bahwa ancaman adzab itu sebagai omong kosong dan dongengan belaka.  Sebagaimana kaum-kaum terdahulu mengatakan kepada para nabi mereka "Datangkanlah adzab itu jika engkau termasuk orang yang benar".    

Persoalan kemiskinan diperparah lagi dengan kinerja lembaga-lembaga keuangan international yang lemah kinerjanya.  Banyak pihak yang mencurigai bahwa lembaga-lembaga itu adalah perpanjangan tangan pengusaha kapitalis dan imprealis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya di negeri-negeri dunia III yang miskin.  Salah satu pihak yang mengkritik kinerja lembaga-lembaga tersebut adalah Muhammad Yunus dalam buku autobiografinya, Bank Kaum Miskin.  Yunus menganggap lembaga-lembaga keuangan interational itu terlalu sombong untuk belajar dari orang-orang miskin agar dapat memberi solusi yang efektif dari permasalahan mereka.  Tepat sekali sesuai dalam buku 'THE WHITE MAN'S BURDEN' karya William Easterly, profesor di New York University yang juga mengatakan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat harus tumbuh dari SEARCHER yang mencari solusi yang membumi, yang sesuai dengan keadaan di lapangan bukan dari PLANNER yang menyusun program, cetak biru berdasarkan teori-teori yang sudah ada.   

Namun, terkadang orang miskin pun memanfaatkan kelemahan mereka untuk memperoleh apa yang mereka inginkan secara gratis.  Mereka lebih suka meminta-minta daripada berusaha untuk memenuhi kebutuha mereka sendiri.  Banyak orang yang masih sehat lebih suka meminta-minta di jalanan daripada mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan mereka.  Bahkan saat bencana melanda sekalipun, para relawan yang akan membantu malah dibebani oleh mereka sendiri.  Mereka malah minta upah saat diminta membantu para relawan mengangkat mayat atau menurunkan barang bantuan dari kendaaraan.  Saat menjelang pemilu dan pilkada, mendadak uang dibagi-bagikan kepada masyarakat untuk mempengaruhi mereka agar memilih partai atau calon tertentu.  Tidak mengherankan apabila yang naik ke panggung kekuasaan di negeri ini adalah orang-orang yang gila harta dan haus kekuasaan.

Dalam salah satu hadits, diriwayatkan bahwa Malaikat Jibril pernah mengatakan kepada Rasulullah SAW tentang kehidupan ini.  Dari Sahal bin Sa’ad r.a., ia berkata, “Malaikat Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW. lalu berkata, ‘Wahai Muhamad, hiduplah sebebas-bebasnya, akhirnya pun kamu akan mati. Berbuatlah semaumu, pasti akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau, pasti kamu akan berpisah. Kemuliaan orang mukmin dapat diraih dengan melakukan shalat malam, dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak (terlalu sering) minta-minta pertolongan orang lain.’”

Allah SWT menegaskan bahwa shaum Ramadhan diwajibkan agar kaum muslimin menjadi orang-orang yagn bertaqwa.  Hahkan dalam hadits qudsi, Allah SWT menegaskan bahwa balasan pahala seseorang yang berpuasa ditentukan sendiri oleh Allah SWT. Bisa jadi, sesudah berpuasa seseorang mendapat balasan yang luar biasa dan dihapuskan dosanya hingga kembali pada fitrahnya sebagai seorang manusia. Bisa juga dia tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan haus semata. Hal itu hanya dapat diketahui saat semua manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar saat semua amalnya diperiksa dan apa saja yang dilakukan saat hidup di dunia dipertanggungjawabkan.  Namun, masih jauhnya hasil dari pengentasan kemiskinan dari harapan bisa dijadikan indikasi betapa rendahnya kualitas puasa Ramadhan kita selama ini.  Maka, tidak mengherankan apabila orang-orang seperti penulis tulisan di atas seakan bebas menulis dan menerbitkan tulisan-tulisannya tanpa ada keseganan pada kaum muslimin Indonesia.  Mereka seakan-akan bebas menghujat dan menghina keyakinan kaum muslimin tanpa ada konsekwensi hukum sama sekali.  

Ghirah boleh saja mendidih, bahkan memang seharusnya seperti itu.  Orang yang tidak merasakan gejolak emosi saat keyakinannya diobok-obok orang lain, seperti penulis tulisan menyakitkan itu, tentu perlu diragukan keimannannya.  Tetapi, yang namanya kepala harus tetap dingin dan harus tetap mampu berpikir.  Seperti quote yang disebutkan Bruce Lee dalam filmnya, Enter the Dragon, yang dirilis tahun 1973 "I said Emotional Content, not Anger".  Orang yang bijak adalah orang yang bisa menjadikan semua orang, bahkan orang yang memusuhinya, sebagai guru-gurunya.  Sebagaimana digagas dalam motto School of Life, "Jika semua tempat adalah sekolah, maka semua orang adalah guru".  Jadi, siapa bilang orang miskin dilarang puasa.  Yang harus dilakukan adalah perbaikan kualitas puasa dari orang-orang yang berpuasa itu sendiri, baik yang miskin ataupun kaya.  

Referensi

Bank Kaum Miskin, autobiografi Muhammad Yunus, terbitan Marjin Kiri

situs

Kenapa orang miskin dilarang puasa Ramadhan

Mengentaskan kekayaan

Manhaj Pemahaman

Pak Masril Koto, William Easterly dan Irwan Prayitno

Kamis, 14 Juli 2011

[Flash Fiction] Apartement

Di sebuah ruang tamu sebuah suite suatu apartemen mewah, beberapa anak muda berusia belasan tahun tampak sedang berkumpul.  "Begini nih hidup di apartemen.  Security-nya terjaga selama 24 jam penuh, aman.  Gak kaya di kawasan kumuh di belakang sekolah kita tuh, yang banyak kejahatan kaya pengedar narkoba, tukang palak dan lain - lain" kata Roy, anak seorang direktur utama yang menyewa sebuah suite di apartemen mewah tersebut pada teman-temannya.  Dia pun mengambil remote untuk menyalakan televisi multimedia canggih berlayar lebar yang ada di ujung ruangan.

Seorang pembaca berita pun muncul di layar TV dan membacakan berita:

Polisi telah berhasil menangkap beberapa buronan yang selama dicari-cari di sebuah apartemen mewah yang banyak disewa warga negara asing.  Mereka ditengarai sebagai bagian dari sindikat narkoba international yang sering menggunakan apartemen-apartemen mewah di ibukota ini sebagai basis operasi mereka.     

Jumat, 08 Juli 2011

[Kiat Menulis] Menulis Feature di Blog

Secara kasar karya jurnalistik bisa dibagi menjadi tiga, pertama stright/spot News berisi materi penting yang harus segera dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news).  Kedua, news feature, memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat terjadi atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif) melalui interpretasi.Dan ketiga, feature bertu-juan untuk menghibur melalui penggunaan materi yang menarik tapi tidak selalu penting.  Penjelasan tersebut dikutip dari blog yang ini.
 
Saya mulai mampu memasukkan unsur-unsur feature ke dalam blog sesudah mengikuti workshop perdana Pena Lectura di gedung perfileman Usmar Ismail, di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.  Dalam workshop yang diisi oleh mbak Ollie dan mbak Imazahra itu, diajarkan bahwa pengalaman pribadi atau kejadian sehari-hari bisa digambarkan dengan sangat indah dan menggugah perasaan bagaikan cerita fiksi.  Kreatifitas merangkai kata pun tidak hanya bisa diaplikasikan pada tulisan-tulisan sastra.  Sebuah kejadian sederhana bisa  digambarkan dalam banyak sekali sudut padang hingga menghasilkan tulisan yang menggugah dan mencerahkan.  Tulisan-tulisan tersebut antara lain, Tangan Kecil dan Sekerat Daging, Pak Tua Pemungut Sampah dan lain sebagainya. 

Saya melihat cukup banyak persamaan dalam tulisan creative non fiction itu dengan tayangan-tayangan dokumenter yang ada di Elshinta TV.  Sebagian dari tayangan tersebut adalah film dokumenter lama yang pernah ditayangkan oleh Indosiar, sebagian lainnya relatif baru.  Script dari film-film dokumenter lama itu pun masih bisa kita temukan di rubrik Ragam di situs Indosiar.  Walaupun sudah lama, namun tetap bisa dinikmati dan tetap relevan dengan keadaan sekarang ini.  Hanya saja, saat itu saya belum menemukan perbedaan signifikan antara penulisan blog dengan teknik creative non fiction dengan penulisan feature

Baru sesudah melihat dua bocah bermain bola dengan botol air mineral, yang saya tuangkan di tulisan yang ini, saya menyadari ada perbedaan penting diantara dua jenis tulisan tersebut.  Dalam tulisan tentang dua bocah itu, saya menempatkan diri sebagai sosok pengamat yang netral.  Saya tidak memasukkan diri saya ke dalam tulisan tersebut.  Jadi, dalam tulisan tersebut, hasrat untuk narsis dan menonjolkan perlu diredam terlebih dahulu. 
Hal yang membedakan antara blog yang ditulis dengan teknik creative non fiction dengan tulisan feature adalah sudut pandangnya.  Biasanya, seorang blogger mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan yang bersifat pribadi.  Me, myself and I jika masih single atau tentang keluarga apabila sudah berkeluarga.  Yang jelas, si blogger inilah yang jadi pemeran utama, yang lain hanya sebagai pemeran pendukung atau pembantu.  Sehingga, tulisan - tulisan di blog cenderung dilihat dari sudut pandang orang pertama.
 
Untuk melatih diri menulis feature di blog, pertama-tama si blogger harus rela menuliskan tulisannya dari sudut pandang orang lain.  Tiba saatnya si blogger bermain di belakang layar.  Jika diumpamakan film, si blogger yang tadinya jadi bintang dalam blognya, kini berperan menjadi sutradara atau produser.  Tulisan-tulisan yang dibuat lebih menonjolkan apa yang dirasakan orang yang menjadi subyek dalam tulisannya.   Kebanyakan wartawan kawakan memakai pedoman ini: ‘’Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.’’

Menulis feature memang bukan sekedar mendeskripsikan keadaan.  Namun lebih dari itu, sang penulis perlu menampilkan sisi sisi yang menggugah emosi dari yang dia tuliskan.  Sehingga, sekedar mengamati tidaklah cukup. Perlu ada interaksi antar manusia di sana, antar si penulis dengan orang yang menjadi subjek tulisannya.  Sehingga, muatan emosi dari orang-orang yang menjadi subyek dalam tulisan tersebut akan mempengaruhi pembacanya.   

Contoh tulisan feature yang cukup menggugah ada di rubrik Ragam dalam situs Indosiar.  Sebenarnya, tulisan-tulisan itu merupakan script dari acara dokumenter yang sudah tidak lagi ditayangkan oleh Indosiar.  Sebagian dari acara-acara tersebut sekarang ditayangkan oleh stasiun tv favorit saya, yaitu Elshinta TV.  Kisah yang ditayangkan antara lain tentang para penyelam tradisional di Pulau Tidung yang seringkali terserang kram karena mereka belum memahami pentingnya dekompresi.  Mereka menganggap kram yang mereka rasakan hanya gejala masuk angin belaka.  Atau kisah para petani garam di Cirebon yang pendapatannya sangat tidak menentu karena sangat tergantung cuaca.  Masih banyak lagi script tayangan feature yang bisa kita baca di sana. 

Semoga bermanfaat