Tampilkan postingan dengan label apheresis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apheresis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Mei 2012

[Donor Darah Apheresis] First Time Donor


Sambungan dari posting yang ini

Sesudah mendapatkan nikmat karunia Allah SWT yang luar biasa yaitu lulus dari screening apharesis, saya mendapat pesan singkat dari mbak Deffi untuk donor pada keesokan harinya. Pesan itu masuk sekitar pukul 20:30 malam dan saya pun langsung menyanggupi untuk melakukan donor darah apheresis untuk pertama kalinya. Kegiatan donor darah itu akan dilaksanakan di PMI Lenteng Agung jam 08:30 pagi, tempat yang sama dengan saat dilakukan screening apheresis.  

Saat saya tiba, ada orang lain yang sudah datang juga namun belum ikut screening sehingga sayalah yang harus melakukan donor darah saat itu.  Saya pun diukur tekanan darahnya dan saat itu alhamdulillah normal.  Namun, karena waktu itu saya belum sarapan, petugas yang berwenang pun menganjurkan saya sarapan dulu sambil menunggu dokter.  Para petugas pun harus mempersiapkan mesin Hemodialisis dan memasang kit atau peralatan penampung darah yang terdiri dari sebuah tabung, beberapa kantong dan banyak selang-selang. Saya lihat pemasangan itu cukup rumit dan pastinya harus dilakukan seseorang yang sudah terlatih untuk melakukannya.  Saya pun sarapan di kantin dekat tempat donor darah aphresis itu berlangsung dan saya juga menyempatkan diri ke belakang agar tidak repot saat donor berlangsung. Donor darah apheresis ini memang berlangsung cukup lama, sekitar satu setengah sampai dua jam. Satu kali donor terdiri dari beberapa siklus yang terdiri dari pengeluaran darah, ekstrasi trombosit dan pengembalian darah ke tubuh pendonor. Tiga tahap tersebut dihitung satu siklus dan sesudah satu siklus selesai maka mesin akan bekerja kembali untuk melanjutkan siklus kedua dan seterusnya.

Pengambilan darah dilakukan dengan penusukan pembuluh darah vena dengan jarum berongga yang cukup besar. Oleh karena itu, saat screening, salah satu yang diperiksa adalah pembuluh vena.  Seorang donor darah apheresis harus memiliki pembuluh vena yang cukup besar dan tidak bengkok agar proses donor darah tidak terganggu. Tangan kanan pendonor direntangkan, dililit alat kompresi yang seperti pada alat pengukur tekanan darah dan dia menganggam sebuah bola karet agar terjaga posisi tangannya.  Saat proses pengambilan darah berlangsung, alat kompresi menekan pembuluh darah agar darah bisa keluar.  Sesudah darah keluar, terjadi pemerosesan dalam mesin dan trombosit yang dibutuhkan anak-anak penderita kanker pun diekstraksi dan ditampung di sebuah kantong.  Saat proses pengembalian darah berlangsung, alat kompresi dikendurkan dan darah pun kembali masuk ke tubuh pendonor. Terasa cukup nyaman memang saat darah itu kembali ke dalam tubuh. Aliran darah itu memang sempat sedikit terganggu karena posisi tangan saya yang berubah tanpa sengaja, maklum kan masih pemula. Namun Alhamdulillah keseluruhan proses dapat berlangsung dangan baik dan lancar tanpa banyak gangguan.  Sesudah selesai, saya pun  diberi makanan untuk memulihkan tubuh dan trombosit hasil donor darah tersebut dibawa ke RS Dharmais untuk diberikan kepada anak yang membutuhkan, yang sedang menderita Leukumia.

Berikut beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari donor darah apheresis yang pertama tersebut:

1. Mempersiapkan fisik dan mental dengan baik. Donor darah apheresis berlangsung cukup lama tergantung kuantitas dan kualitas trombosit pendonor.  Biasanya berlangsung antara satu sampai dua jam.  

2. Sarapan atau makan yang kenyang sebelum donor darah agar tidak terlalu lemas.

3. Malam sebelum donor darah jangan bergadang karena jika saat mendonorkan darah pendonor tertidur tanpa sadar posisi tangan bisa berubah.  Donor darah apheresis pun bisa gagal karena aliran darah di pembuluh vena terganggu.

4. Saat donor darah berlangsung, jaga agar tubuh dan pikiran tetap relaks.  Untuk para pendonor yang muslim bisa membaca dzikir-dzikir yang bisa menenangkan jiwa seperti istighfar, tasbih, tahmid, tahlil dan sebagainya.  Faktor psikologis sangat menentukan keberhasilan donor darah apheresis

5. Rasa sakit akibat pengeluaran jarum saat donor darah selesai bisa dikurangi dengan menarik napas panjang saat jarum ditarik keluar. Sakit sedikit tidak ada artinya dibandingkan amal shaleh yang baru saja dilakukan pendonor.

6. Seseorang yang sudah berkomitmen menjadi pendonor darah apheresis harus menjaga kesehatan tubuhnya.  Jumlah ideal trombosit bisa dijaga dengan mengonsumsi buah, sayur dan banyak minum air putih. Dianjurkan pula melakukan olah raga cardiovascular, seperti lari, jalan cepat atau berenang, agar aliran darah di tubuh pendonor selalu lancar.

Perlu kita ketahui bahwa donor darah apheresis ini tidaklah murah. Harga kit yang terdiri dari tabung, kantung dan selang bisa mencapai sekitar dua juta rupiah per paket dan semua itu hanya bisa dipakai sekali. Sesudah dipakai kit tersebut harus dibuang semuanya. Padahal banyak sekali anak-anak penderita kanker yang sangat membutuhkan trombosit hasil ekstraksi mesin Hemodialisis itu. Mereka membutuhkan "emas cair" atau trombosit itu untuk mempertahankan kehidupan mereka. Memang sebuah ironi yang menyedihkan, di sebuah negara yang penuh hasil bumi dan sumber daya alam melimpah ruah seperti Indonesia ini. Entah sudah berapa banyak ahli dan pakar yang menyampaikan pendapatnya sehingga mungkin kita perlu bertanya pada rumput yang bergoyang.

Saya sendiri baru mampu mengingatkan diri sendiri dan para pembaca sekalian untuk menyadari bahwa PEDULI, BERBAGI dan MEMBERI adalah salah satu KEBUTUHAN kita yang utama sebagai manusia. Sebelum memperturutkan keinginan, hobby dan membeli barang-barang mewah yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan, ada baiknya melihat ke sekitar kita adakah yang masih lebih memerlukan lembaran-lembaran rupiah yang ada di tangan kita sekarang? Jangan sampai langkah kita menuju surgaNya harus terhalang kesaksian-kesaksian orang yang secara tidak langsung kita zalimi.  Yaitu mereka yang sebenarnya bisa kita pedulikan kita beri dan kita bantu namun kita enggan melakukannya hanya karena ada barang-barang mahal yang lebih menarik bagi ego kita.   
 
Semoga bermanfaat dan semakin banyak orang terinspirasi untuk berkomitmen menjadi pendonor darah apheresis.

 

Senin, 28 Mei 2012

[Donor Darah Siaga Apheresis] Alhamdulillah Lolos Screening

Sebenarnya tulisan ini sambungan dari postingan yang ini

Pagi-pagi ditelepon dan diminta datang ke PMI Lenteng Agung untuk screening dan donor darah apheresis.  Saya pun langsung ke Lenteng Agung naik kereta dan dari stasiun naik ojek ke sana.  Di PMI, saya pun menemui petugas yang berwenang dan diminta menunggu. Setelah tidak terlalu lama saya pun di-screening, yaitu diperiksa pembuluh vena-nya dan diambil darahnya untuk diperiksa. Sambil menunggu hasil screening, saya pun menikmati teh manis yang sudah disediakan.  Alhamdulillah saya lulus screening dan mulai hari ini siap jadi donor darah siaga apheresis.

Namun, karena sudah ada donor lain yang juga sudah siap dan anak penderita kanker yang membutuhkan baru perlu 1 kantong, saya pun tidak donor saat itu.  Mbak Deffi, salah satu pegiat donor darah aphreresis dan relawan, menelepon saya dan bilang "Mas, mungkin minggu ini kalau diperlukan siap ya.  Kondisi anak yang memerlukan tidak begitu baik sehingga mungkin masih perlu satu kantong lagi".  Saya jawab "Insya Allah saya siap sedia jika diperlukan".

Donor Darah Apheresis memang tidak sama denagn donor darah biasa yang disebut PRC (Packed Red Cells) atau WH (Whole Blood). Donor Darah PRC / WH diperuntukkan untuk transfusi darah dan penanganan kecelakaan sedangkan Apheresis untuk penanganan penderita kanker, terutama anak-anak.  Jika anak yang terkenan kanker, sel kankernya ada yang mengganas, maka trombosit si anak akan turun drastis dengan cepat.  Sehingga, untuk menaikkan kadar trombosit dalam darah anak itu, perlu donor darah apheresis.  Dalam prosedur Donor Darah Apheresis, darah pendonor hanya diambil bagian yang diperlukan saja dan sisanya dikembalikan ke tubuh pendonor sehingga donor darah seperti ini dapat dilakukan dua minggu sekali.  Lengkapnya, klik aja situs yang ini.

Memang harus pilih salah satu, kalau sudah jadi pendonor darah siaga Apheresis tidak bisa lagi jadi pendonor darah PRC.  Sementara, pendonor darah PRC kalau mau donor darah Apheresis ya harus menunggu 3 bulan dari donor darah PRC yang terakhir.  Namun, Insya Allah keduanya tetap bisa jadi amal shaleh dan bermanfaat bagi sesama manusia dan kemanusiaan.  Jika seseorang tidak lolos screening donor darah Apheresis, masih bisa menjadi pendonor darah PRC / WH. Kedua pilihan itu sama sama penting dalam memelihara kehidupan manusia.  Memelihara kehidupan manusia adalah amal shaleh berpahala luar biasa besar sebagaimana tersebut dalam Al Quran “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Ma`idah: 32)

Mohon doa teman-teman sekalian agar saya tabah dan istiqomah dalam menjalani peran sebagai seorang pendonor darah Apheresis ini.  Dan semoga tulisan sederhana ini bisa menginspirasi dan memotivasi pembacanya untuk mendaftarkan diri menjadi pendonor darah siaga apheresis.

Referensi:

Antara Kerja dan Kegiatan Sosial

Apakah Apheresis itu?

Islam Menunjung Tinggi Hak Azasi Manusia

Semoga bermanfaat