Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Oktober 2012

[Eagle Eye] Teknis pembuatan Video

Berikut sedikit catatan dari rapat tim Eagle Eye di foodcourt Giant Bekasi Sabtu tanggal 13/10/2012 dengan sedikit tambahan

Peralatan boleh apa saja asal bisa merekam, seperti HP, Blackberry, kamera digital atau handycam. Memang sih, handycam lebih disarankan karena memiliki durasi yang lebih panjang sehingga tidak terlalu beresiko kehilangan moment. Bisa dibayangkan betapa "bete"-nya apabila saat narasumber menungkapkan hal penting tiba-tiba habis durasinya hingga harus take ulang, kasihan kan

Usulan dari Mas Wib, sebaiknya setiap video ada intronya dan durasinya tidak terlalu panjang. Contoh: jika durasi keseluruhan 7 menit, maka bisa dibagi sebagai berikut

option 1: intro 30 detik, konten utama 6 menit, penutup 30 detik
option 2: intro 30 detik, konten utama 1: 3 menit, konten utama 2: 3 menit, penutup 30 detik
dsb

Jika narasumber lebih dari satu orang, bisa divariasikan lagi, baik perpanjangan durasi atau pengaturan konten.

Usulan dari mas Wiku, perlu ditentukan sejak awal, apakah di Muara Angke nanti kita hanya akan bikin video terus sudah atau masih ada lanjutannya. Jika masih ada lanjutan, bentuknya seperti apa? apakah video itu bisa dipergunakan untuk bahan presentasi ke lembaga-lembaga ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf) atau untuk keperluan yang lain? Perlu dipikirkan.

Jika ada yang mau menambahkan dipersilakan

Semoga bermanfaat



Kamis, 11 Oktober 2012

[Eagle Eye] Tutorial Interview

Setelah berbincang-bincang dengan mas Eko dari Mosquelife, saya pun menyatakan diri bersedia menjadi bagian dari tim proyek Eagle Eye yang akan diselenggarakan untuk pertama kalinya di Muara Angke.

Proyek Eagle Eye sendiri akan berisi hal-hal sebagai berikut:

1. pelatihan membuat video menggunakan mobile phone
2. latihan, praktik merekam video di Muara Angke, Jakarta Utara
3. menyusun sebuah film bersama dari video-video yg terekam

Jadwalnya belum ditentukan, Insya Allah akhir bulan ini

Kebetulan, dulu saya pernah melakukan interview dengan mbak Novi Khansa dari MP4 Palestine saat acara Solidarity of Al Quds tahun 2011 yang lalu.

Berikut sedikit Tutorial interview yang bisa saya sharing-kan di sini

1. Menunjukkan rasa hormat yang wajar pada narasumber.  

Misalnya, jangan mentang-mentang narasumbernya hanya seorang marbot atau pengurus masjid kecil di pelosok kampung yang untuk mencapainya harus keluar masuk gang lalu dipandang sebelah mata.

2. Orang yang diinterview perlu dibuat merasa nyaman dulu agar bisa kooperatif / mau bekerja sama saat interview berlangsung.

Perlu diingat bahwa manusia menyimpan sebagian besar informasi yang diketahuinya di bawah sadarnya. Bawah sadar manusia baru akan berfungsi optimal jika orang itu dalam keadaan nyaman. Nyaman di sini artinya tidak merasa tertekan, terpaksa apalagi terancam.

3. Seorang pewawancara bertugas menggali informasi dan bukan mendebat narasumber.

Jangan sampai narasumber merasa dipojokkan. Misalnya, jangan sampai kita menanyakan pada narasumber "Pak, kok kayaknya masjid ini tidak ada kontribusinya bagi masyarakat sekitar, tuh buktinya masih banyak orang miskin di sekitar sini?. Atau "masjid ini koq ramainya hanya pada saat-saat tertentu seperti saat Idul Fitri, Idul Adha atau Maulid Nabi?"

4. Memposisikan narasumber sebagai guru saat wawancara berlangsung.

Bagaimanapun juga, kita telah menganggap bahwa narasumber lebih mengetahui dari kita atas persoalan yang kita tanyakan padanya. Kita harus mampu memposisikan diri sebagai murid yang siap menerima pelajaran. Dalam pepatah klasik Zen dikatakan "kosongkan dulu cangkirmu, baru kau isi dengan teh yang baru." Artinya, simpan dulu pengetahuan yang kita punya dan siapkan wadah yang kosong untuk menerima informasi dan ilmu yang baru dari narasumber kita.

5. Dalam wawancara yang akan kita lakukan, kita tidak perlu terpaku pada macam-macam teori namun yang penting adalah unsur 5W + 1H (What, Why, Who, When, Where and How) tetap ada dalam wawancara itu.

6. Ada baiknya ktia membuat daftar apa saja yang hendak kita tanaykan pada narasumber, namun tidak perlu terpaku pada daftar tersebut. Jawaban atas pertanyaan kita pada narasumber dapat kita olah menjadi pertanyaan baru untuk menggali informasi lebih banyak dan lebih dalam.

7. Pertanyaan sebaiknya singkat, padat dan jelas namun tetap dalam koridor kesopanan, kesantunan dan saling menghormati seperti beberapa poin pertama di atas.

8. Pertanyaan-pertanyaan sebaiknya difokuskan hanya pada masalah-masalah sosial yang mereka hadapi, jadi masalah politik, termasuk parpol dan sebagainya, sebaiknya disimpan dulu. Jika ada peran pemerintah yang kurang berkenan, misalnya, biarlah narasumber yang mengungkapkan jika memang mereka bersedia, bukan dari kita.

Semoga bermanfaat 

Senin, 17 September 2012

Daily Emergency Response by Yayasan Sahabat Peduli

Start:     Sep 30, '12 08:00a
End:     Sep 30, '12 4:00p
Location:     Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan

Minggu, 16 September 2012

Ketika Hubungan terlanjur Retak

Interaksi antar manusia biasanya memang lebih diwarnai emosi daripada logika. Kekuatan "rasa" terkadang lebih dalam dan dominan daripada kekuatan pikiran. Sehingga, interaksi antar manusia tidak selalu dirasakan nyaman oleh kedua belah pihak, bahkan seringkali keadaan menjadi tegang, melelahkan dan menyakitkan.

Banyak sekali penyebab kerusakan hubungan yang semuanya membuat orang tidak nyaman secara emosional. Janji yang tidak ditepati, amanah yang tidak ditunaikan atau kurang sempurna, keputusan yang diambil mendadak dan lain sebagainya. Apapun yang membuat orang merasa tidak nyaman secara emosional berpotensi merusak hubungan.

Dengan rentannya sebuah hubungan menjadi rusak, maka apakah yang harus dilakukan seseorang apabila hubungannya dengan orang tertentu, seperti pasangan hidup (suami/istri), anak, orang tua, rekan kerja dan lain sebagainya? Apakah cukup hanya dengan meminta maaf? terkadang iya, namun seringkali tidak. Perasaan yang terluka dan ego yang mendominasi seringkali menghalangi orang untuk memperbaiki suatu hubungan.

Jarang kita menyadari betapa rapuhnya emosi itu. Betapa rentannya emosi menjadi liar tak terkendali bagai api yang melahap hutan atau perumahan atau malah membeku bagai padang es yang dingin menggigit.

Note: Berhubung MP mau ditutup ya nulisnya singkat2 ajah

Selasa, 28 Agustus 2012

Memfungsikan Masjid Sebagai Sarana Pemberdayaan Umat


http://wasathon.com/humaniora/read/memfungsikan_masjid_sebagai_sarana_pemberdayaan_umat
Mungkin salah satu penyebab sepinya masjid-masjid kita adalah karena masjid belum berfungsi sebagai pusat komunitas dari orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Masjid hanya dianggap sebagai tempat menunaikan ibadah ritual semata. Terkadang hanya sesekali diadakan pengajian dan para pesertanya pun terbatas sehingga terkesan ekslusif. Selebihnya, masjid seperti bangunan kosong yang tidak menampakkan dinamika kehidupan.

Selanjutnya sila ke link :)

Jumat, 24 Agustus 2012

Keselamatan Pemudik, Tanggung Jawab Siapa?


http://wasathon.com/humaniora/read/keselamatan_pemudik_tanggung_jawab_siapa/#.UDg2B_fwKQI.twitter
Saat Ramadhan mendekati akhir dan Bulan syawal sudah berada di depan mata, kita kembali berhadapan dengan rutinitas yang selalu terjadi setiap tahun, yaitu mudik. Menurut Wikipedia, Mudik adalah kegiatan perantau/ pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik berasal dari bahasa jawa "Mulih Dhisik" yang artinya pulang dulu. Mudik, oleh banyak penduduk negeri ini, dianggap sesuatu yang paling penting dan hampir-hampir tidak boleh ditinggalkan.

Selanjutnya sila ke link :)

Kamis, 09 Agustus 2012

Berita :: Monorel Mulai Dibangun Akhir 2012 | berita99


http://www.berita99.com/berita/1054/monorel-mulai-dibangun-akhir-2012
JAKARTA - Monorel akan mulai dibangun akhir tahun ini. PT Adhi Karya Tbk akan mengerjakan tahap pertama pembangunan monorel sepanjang 13 km yang diperkirakan menelan biaya Rp 3,7 triliun.

Menurut Direktur Utama Adhi Karya, Kiswodarmawan di Jakarta, Rabu (8/8), kebutuhan dana pembangunan monorel diperoleh dari kas internal 30 persen atau Rp 1,117 triliun dan pinjaman perbankan sebesar 70 persen atau Rp 2,608 triliun. Perseroan pun telah memilih bank BUMN sebagai kreditur.

Selanjutnya sila ke link, semoga kali ini benar2 dibangun monorelnya

Kamis, 12 Juli 2012

Bedah Rumah ala DAAI TV

Menyaksikan program-program inspiratif dari DAAI TV memang bisa membuat kita lebih mengenal lingkungan dan orang-orang yang kurang beruntung daripada kita. Walaupun berbeda keyakinan dengan mereka, kita tetap bisa mengambil pelajaran dari acara-acara tersebut. Kita juga harus berbesar jiwa untuk mengakui bahwa kaum muslimin termasuk yang kalah dalam berkompetisi dalam bidang sosial dengan mereka. Pada program kali ini, ada dua orang penerima program "Bedah Rumah" ala Yayasan Budha Tzu Chi. Mereka masing-masing berprofesi sebagai Tukang bubur dan pekerja bengkel meubeul. Mereka, sebelum menerima bantuan yayasan tersebut, hidup dalam rumah yang sangat buruk keadaannya. Sanitasi yang tidak memadai, ventilasi yang tidak lancar dan atap yang selalu bocor jika musim hujan tiba. Anak-anak mereka sampai ada yagn sakit karena kelembaban yang diakibatkan kondisi buruk tersebut. Mereka terlihat sangat bersyukur saat tim DAAI TV mewawancarai mereka.

Bahkan, yang lebih mengagumkan lagi, kedua penerima bantuan tersebut bersedia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk Yayasan tersebut. Mereka menabung dalam celengan-celengan bambu yang diberikan relawan yayasan Tzu Chi kepada mereka. Sesudah celengan-celengan itu penuh, para penerima bantuan tersebut dengan sukarela menyerahkannya ke kantor penghubung yang terdekat. Isi celengan-celengan bambu itu memang uang recehan dengan jumlah nominal yang sangat kecil, bahkan ada yang berupa koin yang jika dibawa ke warung rokok mungkin hanya dapat beberapa butir permen. Namun, jika orang-orang yang menyerahkan celengan bambu penuh uang receh itu ke Yayasan Tzu Chi semakin banyak, yayasan tersebut akan mendapatkan pemasukan yang lumayan. Walaupun tentu saja masih jauh di bawah donatur-donatur besar mereka.

Pendidikan yang menyadarkan orang untuk memberi kepada sesama, walaupun hanya dalam bentuk recehan yang terkumpul dalam celengan bambu, patut diapresisasi. Kaum muslimin seharusnya lebih mampu lagi berpacu dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dalam bidang sosial kemasyarakatan. Namun, yang kita saksikan justru sebaliknya. Saat Ramadhan tiba, konsumerisme justru semakin meningkat di dalam tubuh umat Islam. Orang-orang muslim yang punya uang lebih malah lebih banyak belanja barang yang katanya untuk kebutuhan lebaran. Sementara itu, di beberapa tempat malah kita saksikan banyak pengemis bermunculan. Mereka ingin memanfaatkan momen bulan suci ini untuk mengais rezeki dengan cara yang gampang tanpa perlu keluar keringat. Cukup sisihkan harga diri, pasang muka memelas dan recehan pun jatuh ke tangan mereka. Saatnya umat Islam bercermin, baik pada sesamanya atau orang-orang di luar keyakinannya yang ternyata lebih berprestasi di bidang sosial kemasyarakatan. Semoga kita cukup berjiwa besar untuk belajar dari sesama, karena "Jika setiap tempat adalah sekolah, maka semua orang adalah guru"

Semoga bermanfaat

Minggu, 08 Juli 2012

[Renungan] Bangunan Tinggi



Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Ad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.

(QS AL Fajr: 6-8).

Banyak penguasa mendirikan bangunan-bangunan besar dan megah untuk mengagungkan dan mengabadikan kehebatan mereka. BAik saat mereka maish hidup dan bekruasa atau saat mereka sudah meninggal dunia. Para Firaun membangun piramida-piramida raksasa untuk memakamkan jasad mereka dan mengabadikan keagungan kekuasaannya. Sebagian kaisar Cina ada yang membangun makam raksasa yang dijaga patung-patung prajurit terakota bersenjata lengkap. Penguasa pagan Babylonia dan sebagainya juga seringkali membuat bangunan-bangunan yang kurang lebih sama jenis dan fungsinya. Bangunan yang tampak megah itu justru menjadi saksi intrik politik, peperangan dan pertumpahan darah para penghuninya. Baik karena serangan musuh dari luar ataupun konflik diantara para penghuninya sendiri.

Di saat para penguasa berlomba memperindah bangunan-bangunan mereka, kaum muslimin terdahulu justru berlomba-lomba memperindah qalbu dan kehidupan spiritual mereka dengan dzikir dan amal-amal sholeh. Bisa jadi itulah sebabnya para penerus Rasulullah SAW tidak mendirikan bangunan-bangunan megah dan besar. Mereka bukannya tidak mampu, Imperium Persia dan Romawi sudah mereka taklukkan dan wilayah kekuasaan mereka sudah sangat luas. Hasil bumi dan harta kekayaan duniawi mengalir deras ke dalam kekuasaan mereka. Tentu sangat mudah kiranya jika mereka mendirikan istana-istana raksasa. Namun, dari sejarah, kita ketahui bahwa keempat Khulafaur Rasyidin bersama para pembantu mereka hidup sangat sederhana. Mereka memberi teladan kesederhanaan pada pejabat dan rakyatnya sehingga hampir tidak ada yang hidupnya mewah bergelimang harta meskipun tetap ada yang kaya. Hati-hati mereka sudah seperti istana megah yang mereka merasa nyaman berada di dalamnya sehingga mereka tidak lagi perlu menambah kemewahan di luar dirinya.

Namun kini, sejarah kelam bangunan-bangunan megah itu terulang kembali. Bangunan-bangunan besar yang seolah tegak menantang Sang Penguasa Alam Semesta yang Hakiki kini dibangun di mana-mana. Menara-menara pencakar langit dan gedung-gedung perbelanjaan memenuhi setiap inci lahan kota. Semua itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang tebal kantongnya, entah haram entah halal. Dan orang-orang miskin pun terpuruk di sudut-sudut kehidupan, tanpa masa depan yang pasti dan bisa diharapkan.

Terhimpit gedung gedung tinggi
wajah murung yang hampir mati
biarlah mereka iri
wajar bila mencaci-maki

Berikan Pijar Matahari by Iwan Fals

Semoga bermanfaat, gambar dari wikipedia

Senin, 25 Juni 2012

Risfi Aditya : Penggagas Komunitas Hijabers Bekasi

http://wasathon.com/komunitas/read/risfi_aditya__penggagas_komunitas_hijabers_bekasi/
Siapa sangka gadis manis berjilbab modis ini sebagai penggagas berdirinya Komunitas Hijabers Bekasi (KHB). Dalam usianya yang masih tergolong muda, ia mampu merekrut muslimah-muslimah yang ada di sekitar bekasi untuk peduli dengan berhijab dan bergabung dengan komunitas yang dibentuknya.

selanjutnya sila ke link :)

Saatnya Untuk Berubah

http://wasathon.com/kisah_inspirasi/read/saatnya_untuk_berubah/
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (QS 13:11)

“ Setiap waktu kita memilih, setiap waktu kita menerima akibat yang kita pilih. Yang memilih beranjak akan berbeda nasibnnya dengan yang memilih tak bergerak. Yang memilih bersegera akan berbeda nasibnya dengan yang memilih menunda. Yang memilih optimis dan bersangka baik pada Tuhan akan berbeda nasib hatinya dengan yang memilih pesimis dan bersangka buruk. Pilihlah segala sesuatu yang baik sekarang, agar kita memperoleh keberuntungan di masa mendatang. Semoga Tuhan menggembirakan hidup orang-orang baik yang cenderung pada kebaikan.”

Banda Bening

selanjutnya sila ke link :)

Minggu, 17 Juni 2012

Membiarkan Papua merdeka?

Berita mengejutkan tayang di situs Indonesia Today. Ulil Abshar Abdalla bilang "Biarkan Saja Papua Merdeka". Tokoh yang pernah menjadi orang nomor satu dan icon Jaringan Islam Liberal ini dengan enteng mengatakan "biar saja Papua meredeka". Seakan pengorbanan para pahlawan yang berjuang merebut Irian Barat (sebagaimana disebut saat itu) tidak ada arti dan harganya sama sekali dalam pandangan orang tersebut.

Siapapun yang pernah mempelajari sejarah kemerdekaan Indonesia pasti tahu, minimal secara umum, perjuangan merebut Irian Barat. Betapa banyak pahlawan yang gugur dalam beberapa operasi militer seperti operasi Trikora dan Pertempuran Laut Aru yang mengakibatkan hancurnya KRI Matjan Tutul. Apakah layak seorang liberal dengan enteng melontarkan pendapat "biarkan saja Papua lepas dari Indonesia" tanpa memperhitungkan pengorbanan para pahlawan tersebut?

Permasalahan Papua memang rumit, namun akarnya sudah jelas, ketidakadilan di berbagai bidang terutama ekonomi. Perusahaan-perusahaan penambangan asing dengan enaknya mengeruk kekayaan alam Papua sementara rakyat di sana masih berbaku hantam dalam bentuk Perang Antar Suku. Rakyat Papua hingga hari ini masih banyak yang terbelakang, miskin dan primitif. Mungkin tradisi perang antar suku itu memang sengaja dipelihara agar kekayaan alam Papua bisa dikeruk dengan mudah. Ketidakadilan itu sendiri berawal dari lemahnya ketegasan pemerintah dalam menghadapi intervensi asing, terutama dari Barat khususnya Amerika Serikat. Ditambah lagi dengan merajalelanya korupsi di berbagai bidang, termasuk di tubuh partai si Ulil sendiri. Semua itu semakin membenarkan kebenaran pepatah lama di Indonesia, "Kuman di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak tampak". Orang-orang liberal yang mulutnya berbusa-busa menyerukan kebebasan ternyata malah menjerumuskan Indonesia ke dalam penjajahan moderen yang jauh lebih mengerikan daripada penjajahan era kolonial. Jika benar Papua merdeka dan lepas dari NKRI, apakah rakyatnya bakal sejahtera? Belum tentu. Bahkan mungkin malah semakin menderita karena kapitalis pengeruk sumber daya alam di sana jelas bukan kaum filantropis yang peduli pada sesama. Mereka hanya peduli pada kepentingan ekonominya sendiri, masa bodo pada kesejahteraan dan kepentingan orang lain.

Entah kenapa sepertinya salah satu ciri khas orang liberal adalah menggampangkan masalah dan meremehkan orang lain. Betapa pedihnya perasaan para pahlawan yang sudah berjuang berdarah-darah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari bangsa-bangsa penjajah jika mereka tahu betapa entengnya lisan orang liberal melecehkan dan menghinakan perjuangan mereka. Lontaran-lontaran pendapat khas orang-orang liberal itu memang sangat pas dengan definisi Rasulullah tentang kesombongan. “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)


Semoga bermanfaat

Senin, 11 Juni 2012

Inilah Dampak Salah Gaul Generasi Muda Masa Kini

http://wasathon.com/humaniora/read/inilah_dampak_salah_gaul_generasi_muda_masa_kini/
Secara tak sengaja, saya menemukan sebuah gambar bayi yang dibuang di selokan, di wall FB saya. Bayi ini terbaring kaku dengan ari-ari bersama tali pusar yang masih menempel di anggota tubuhnya. Saat itu hati saya miris, antara sedih, marah, dan ingin rasanya memaki orang yang tega membuang bayi tersebut. Tidakkah ada rasa kasihan sama sekali dengan makhluk mungil ini? . Membuang bayi karena takut miskin, atau untuk menutupi dosa? Bisa jadi salah satu diantaranya. Akan tetapi tetap saja, perbuatan ini adalah sama-sama dosa besar.

selanjutnya sila ke link

Minggu, 10 Juni 2012

[Sosial] Mas, uang rokoknya mana?

"Mas, uang rokoknya mana?" kata si pengirim kepada Syamsudin, si penerima paket. "Emangnya harus pakai uang rokok ya?" tanya Syamsudin dengan nada tinggi dan pandangan tajam ke arah si pengirim. "Ya, enggak sih, kalau ada boleh" kata si petugas pengirim salah tingkah. Syamsudin sendiri terlihat bimbang, di satu sisi dia tidak ingin melewatkan setiap kesempatan sedekah namun di sisi lain dia juga tidak ingin orang jadi pengemis yang suka meminta-minta, rokok lagi. Pemahaman agama Syamsudin memang cukup baik sehingga dia menganggap pemberian seperti itu tidak mendidik. Syamsudin pun hanya diam sambil terus memandangi si petugas pengirim. Petugas itu pun pergi dengan menahan kejengkelan dalam hatinya. Sambil memandangi si petugas yang hilang di belokan jalan, Syamsudin merasakan kesedihan dan kekecewaan yang dalam. Dia sedih dan kecewa terhadap mentalitas bangsanya yang seakan tidak pernah bisa berhenti dari segala macam kerusakan dan kemunafikan.

Selain bon kosong, uang rokok juga salah satu modus mencari tambahan uang yang sering dilakukan orang, terutama kalangan menengah ke bawah. Memang, ada perusahaan-perusahaan tertentu yang memperbolehkan para pegawainya menerima tips, uang rokok atau apapun namanya. Intinya, jika konsumen merasa puas dengan pelayanan yang diterima, mereka boleh saja memberi uang tips. Namun, tentu saja hal ini tidak untuk dipaksakan. Meminta tips, apalagi dengan memaksa, adalah sebuah perbuatan yang sangat buruk dinilai dari sisi etika dan profesionalisme. Dari sudut pandang agama Islam, hal itu bisa dianggap sebagai kezaliman. Konsumen yang tidak memberi uang tips memang bukan lantas berarti tidak puas atas pelayanan yang diberikan. Mungkin mereka tidak terbiasa melakukan hal tersebut atau ada sebab lain yang belum kita ketahui. Yang penting adalah mereka sudah membayar lunas kewajiban pembayaran mereka atas pelayanan yang diterima. Uang yang dibayar konsumen tersebut pada gilirannya akan menjadi gaji yang diterima para pegawai. Kebiasaan buruk tersebut juga sesungguhnya membahayakan mentalitas si pegawai sendiri. Dia akan terbiasa menganggap dirinya miskin dan serba kekurangan. Dia merasa bahwa dirinya harus senantiasa dikasihani, termasuk selalu diberi uang tambahan untuk membeli rokok. Uang tambahan itu sendiri sudah menjadi semacam candu yang tidak kalah berbahayanya dengan rokok bahkan narkotika. Kalau mentalitasnya sudah seperti ini, bagaimana mungkin manusia sepert itu akan bisa meraih kemajuan berarti di masa depan?

Meskipun tidak selalu, uang rokok memang seringkali digunakan untuk membeli rokok. Rokok memang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebagaiman dikutip dari detikHealth.com, Indonesia menempati urutan ketiga dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia setelah China dan India karena pertumbuhan jumlah perokok generasi baru di Indonesia meningkat dengan cepat. YLKI, dalam beberapa situs pemberitaan online, menyatakan bahwa 70 persen perokok berasal dari kalangan keluarga miskin. Banyak diantara mereka yang lebih memilih menggunakan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk memperbaiki gizi dan pendidikan keluarganya. Ada juga yang anaknya sampai tidak sekolah lagi. Ketika mereka ditanya kenapa tidak gunakan uang rokoknya untuk biaya sekolah si anak? banyak yang menjawab, “Lebih baik anak saya tidak sekolah dari pada saya berhenti merokok,”. Tidak mengherankan apabila uang rokok seakan menjadi semacam keharusan dalam berbagai urusan di negeri ini.

Uang rokok, uang tips, uang lelah atau apapun namanya adalah gambaran buram dari mentalitas hedonis dan materialistik dari bangsa Indonesia ini. Bangsa yang penduduknya lebih suka mengeluarkan uang untuk berfoya-foya menikmati hiburan semu hampa makna. Bangsa yang sebagian penduduknya rela mengorbankan etika bisnis dan profesionalisme demi memperoleh sedikit uang tambahan untuk memuaskan kecanduan rokoknya. Melepaskan diri dari mentalitas uang rokok ini memang tidak mudah. Perlu upaya keras, cerdas, ikhlas, sinergis, terstruktur dan sistematis dari semua pihak yang berkepentingan seperti masyarakat, para da'i dan ulama serta aparat pemerintah. Namun, kita bisa memulainya dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita. Sekecil apapun, Insya Allah harapan ke arah yang lebih baik akan selalu ada dengan izinNya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aamiin.

Semoga bermanfaat

dipersembahkan oleh distromuslim dot net

Banyak cara untuk menginspirasi banyak orang baik secara langsung atau tidak langsung.  Salah satu cara mudah untuk menginspirasi orang lain berbagi adalah dengan mengenakan kaos yang berisi tulisan atau citra insiparatif seperi Kaos Sedekah. Kaos ini berisi kata-kata motivasi untuk bersedekah dan berbagi pada sesama dengan cara yang halus dan tidak menggurui. Baik juga untuk hadiah atau souvenir bagi yang dicintai dan dikasihi.  Kaos ini dapat diperoleh di situs distromuslim dot net.

Rabu, 06 Juni 2012

Tips Mengelola Ego

Indahnya hidup bukan dinilai dari berapa banyak orang mengenal kita. Tapi berapa banyak orang bahagia karena telah mengenal kita. Semoga Allah SWT menjadikan kita cahaya dimanapun kita berada.

Bayu Gawtama

Mengelola ego memang tidak mudah, karena itulah ego yang terkendali akan memberikan pada kita banyak kemudahan.  Ego adalah suatu mekanisme psikologis manusia. Ego berfungsi melindungi manusia dari segala hal yang mengancamnya secara psikologis seperti pelecehan, hinaan dan caci maki. Namun terkadang ego menjadi sedemikian liar sehingga sulit untuk dikendalikan. Orang yang egonya terlalu besar akan mudah menjadi orang yang sombong dan takabur, apalagi jika wawasannya sempit dan terbatas. Kebaikan-kebaikan seperti memaafkan, memberi dan berkorban untuk sesama sangat sulit diharapkan dari orang seperti ini.

Tips mengelola ego

1. Sungguh sungguh bertaubat, atau dalam terminologi akidah Islam, taubatan nasuha serta menyucikan diri, banyak berzikir dan istighfar.  "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al Baqarah: 222). Tentang tuntunan taubat dapat dibaca di tulisan yang ini.

2. Secara jujur berkontemplasi dan merenungkan perjalanan hidup kita selama ini. Kita perlu berusaha menemukan pola-pola mental yang membuat kita sulit mengendalikan egoisme pribadi kita. Jika tidak mampu menemukannya sendiri, kita bisa berkonsultasi pada mereka yang ahli di bidang penanganan kejiwaan.

3. Membaca kisah-kisah para nabi, sahabat-sahabat mereka dan orang-orang besar yang pernah mempengaruhi banyak orang dan bahkan mengubah dunia. Kebesaran mereka akan mengecilkan ego kita hingga lebih mudah dikendalikan. Kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan dan keruntuhan berbagai bangsa dan peradaban. Akan terlihat bahwa banyak bangsa-bangsa yang jatuh ke dalam jurang kehancuran sesudah mereka memperturutkan egonya melebihi batas kewajaran. Ego berlebihan membuat mereka terjebak dalam pola hidup hedonis materialistik penuh kesombongan.

4. Mempraktekkan pola hidup zuhud. Ibnu Abi Ad-Dunia, seorang tabiin, pernah mengatakan "Umat terdahulu selamat (jaya) karena teguhnya keyakinan dan zuhud. Dan umat terakhir kelak akan binasa karena kekikiran (harta dan jiwa) dan cita-cita kosong." Zuhud bukanlah sepenuhnya menolak dunia, namun menjadikan dunia hanya dalam genggaman tangan dan bukan di dalam hati.   

5. Mempelajari ilmu syariah dengan sungguh-sungguh, minimal untuk kebutuhan ibadah sehari-hari.  "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. Al-Baqarah : 208). Mustahil kita bisa masuk Islam secara kaafah jika kita enggan belajar ilmu-ilmu syariah.

6. Melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial untuk mengasah kepedulian dan mendidik diri berkorban untuk orang lain. Salah satu sebab ego jadi tidak terkendali adalah karena kurang merasakan penderitaan orang lain. Di luar sana, masih banyak yang lebih susah hidupnya daripada kita.  Mereka harus tidur di emperan toko atau di pinggiran jalan, makan dari apa yang mereka temukan dan hidup tidak menentu arahnya.

7. Mengingat kematian dan segala kejadian sesudahnya. Kematian mengungkapkan betapa lemahnya seorang manusia. Kesadaran akan lemahnya diri kita membuat ego kita lebih bisa dikendalikan.

Semoga bermanfaat


Banyak cara untuk menginspirasi banyak orang baik secara langsung atau tidak langsung.  Salah satu cara mudah untuk menginspirasi orang lain berbagi adalah dengan mengenakan kaos yang berisi tulisan atau citra insiparatif seperi Kaos Sedekah. Kaos ini berisi kata-kata motivasi untuk bersedekah dan berbagi pada sesama dengan cara yang halus dan tidak menggurui. Baik juga untuk hadiah atau souvenir bagi yang dicintai dan dikasihi.  Kaos ini dapat diperoleh di situs distromuslim dot net.