Tampilkan postingan dengan label miras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label miras. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

[Opini] Xenia maut, cukupkah dengan tugu?

Ketika seorang pengamat tata kota mengajukan usul pembangunan tugu peringatan peristiwa Xenia maut di halte depan Tugu Tani, pro dan kontra pun bermunculan.  Ada yang setuju dengan alasan agar orang tidak mudah melupakan peristiwa tragis tersebut.  Ada pula yang mengatakan bahwa tugu itu akan menjadi peringatan agar orang lebih waspada terhadap bahaya miras dan narkoba.  Namun tidak sedikit pula yang menolak.  Pihak yang menolak beralasan bahwa tugu adalah cikal bakal penyembahan berhala.  Ada juga yang mengatakan bahwa jika setiap tempat terjadi kecelakaan dibangun tugu, maka entah akan ada berapa banyak tugu di ibu kota ini.  

Alasan agar orang tidak mudah melupakan peristiwa penabrakan tragis itu pun diragukan banyak pihak.  Terbukti nama-nama para pahlawan yang dijadikan nama jalan pun tidak banyak membawa kebaikan dan perbaikan di negeri ini.  Tidak sedikit orang di negeri ini yang tidak mengerti, memahami apalagi menghayati sejarah perjuangan para pahlawan tersebut.  Ditambah lagi sejarah yang kita ketahui sekarang ini seringkali merupakan produk yang sudah dimanipulasi pihak penguasa demi kepentingan kekuasaan.  Sehingga, banyak orang yang tidak banyak tahu sejarah bangsa ini yang sesungguhnya. 

Bangsa yang besar, kata Bung Karno, adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.  Menghargai jasa para pahlawan tentu bukan dengan mendirikan tugu atau patung mereka, tetapi dengan mengisi kemerdekaan ini dengan usaha dan karya-karya terbaik yang kita mampu.  Insya Allah, perjuangan para pahlawan tersebut benar-benar ikhlas dan tulus demi kemerdekaan bangsa ini.  Mereka telah berjuang dan telah mengorbankan segala yang mereka miliki.  Mereka tidak ingin dibuatkan tugu, patung atau diabadikan dalam nama jalan-jalan di kota-kota.  Yang mereka harapkan hanya agar hasil perjuangan mereka tidak disia-siakan.  Mereka pasti berharap generasi yang hidup di alam kemerdekaan ini akan memanfaatkan anugerah maha besar ini dengan sebaik-baiknya. 

Namun, kenyataan yang kita saksikan saat ini sungguh bertolak belakang dengan idealisme tersebut.  Kemerdekaan yang dianugerahkan Allah SWT berkat perjuangan para pahlawan yang berurai air mata, berpeluh keringat dan bersimbah darah seakan tidak ada artinya lagi.  Hampir di seluruh tempat di negeri ini kita saksikan fenomena generasi instant yang hanya memuja kesenangan sesaat belaka.  Baik mereka yang masih bergantung pada kedua orang tuanya atau yang sudah bisa mandiri dalam mencari nafkah.  Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu dan harta demi kepuasan pribadi tanpa berempati pada orang lain.  Mulai dari yang sekedar makan-makan di berbagai restoran cepat saji, keluyuran di mall-mall atau bermain games online di rumah atau warnet sampai dengan mereka yang berfoya-foya dengan miras dan narkoba di tempat-tempat hiburan.  Kecelakaan tragis di depan Tugu Tani beberapa waktu yang lalu hanya puncak dari gunung es kesemrawutan dan kerusakan peradaban.  Suatu kerusakan yang merajalela bagai kanker ganas yang menggerogoti bangsa ini. 

Bercermin dari paparan di atas, adalah suatu kenaifan apabila kita hanya membangun tugu untuk mengenang para korban kecelakaan itu.  Tugu raksasa sebesar Monas saja tidak mampu menggugah bangsa ini untuk lebih baik dalam mengisi kemerdekaan yang dianugerahkan kepadanya.  Tugu itu, jika pun jadi dibangun, hanya akan menjadi monumen mati hampa makna yang hanya bisa diam seribu bahasa.  Tugu tersebut lebih tepat dimaknai sebagai sebuah batu nisan di atas kuburan kematian hati nurani sebuah bangsa bernama INDONESIA.  

Semoga bermanfaat, mohon maaf bagi yang kurang berkenan

M. Nahar

http://wasathon.com

 

Related article: Xenia maut dan pencabutan perda miras 

Senin, 23 Januari 2012

Mobil Xenia maut dan Pencabutan Perda Miras

Tabrakan maut kembali terjadi, tidak tanggung-tanggung 9 orang kehilangan nyawa. Mobil bermerek Xenia yang dikemudikan seorang perempuan yang sedang mabuk menabrak orang-orang yang sedang berada di halte bis dekat Tugu Petani di daearah Jakarta Pusat.  Menurut beberapa sumber berita, pengemudi mobil dan ketiga kawannya mengonsumsi minuman keras dan obat-obat terlarang.  Hasil test di kepolisian menunjukkan bahwa tubuh mereka positif mengandung metamphetamine .  Malam sebelum kejadian, mereka berpesta minuman keras dan obat-obat terlarang dan saat menyetir mobil, si pengemudi dan ketiga temannya belum tidur.  Bahkan, menurut situs kompas.com, mobil tersebut bahkan dilarikan dengan kecepatan 100 km per jam .

Beberapa waktu sebelum kejadian tragis tersebut, perhatian masyarakat tertuju pada pro dan kontra Pencabutan Perda Miras.  Beberapa lembaga Negara pun saling tuding satu sama lain karena kerasnya reaksi sebagian masyarakat beserta tokoh-tokoh dan ormas-ormasnya.  Ormas Islam yang memprotes pencabutan perda Miras itu pun dituding beberapa pihak sebagai orang-orang yang anarkis dan mau menang sendiri serta memakasakan kehendak.  Para anggota Ormas-Ormas Islam itu dianggap sering melakukan pengerusakan dan pelanggaran HAM karena sering menuntut penutupan kafe atau tempat-tempat hiburan yang menjual minuman keras.

Mungkinkah kejadian tabrakan maut itu adalah peringatan dari Allah SWT atas arogansi manusia menghalalkan miras / khamar? Sebagian orang mungkin akan mengatakan bahwa kejadian tabrakan maut itu hanya kebetulan belaka.  Apa hubungannya pencabutan peraturan-peraturan yang melarang miras dan sejenisnya dengan tabrakan? Pakai bawa-bawa nama Tuhan lagi.  Apalagi menurut mereka yang sudah terlanjur menganggap Tuhan sebagai sosok khayalan, atau jikapun ada, tidak terlalu banyak berperan dalam kehidupan manusia.  Bukankah manusia punya akal yang dapat dia pergunakan untuk menyelesaikan masalah-masalahnya.  Untuk apa Tuhan  dan agama dibawa-bawa.  Bukankah agama hanya urusan spiritual dan pribadi masing-masing orang yang tidak seharusnya dibawa-bawa ke ruang public?  Mereka belum paham bahwa Islam memiliki aturan-aturan yang jelas dan tegas mengenai zat-zat yang memabukkan, yang dalam terminology syariat disebut Khamr.  

Dalam Islam, definisi khamr adalah segala sesuatu yang memabukkan, baik mengandung alkohol atau tidak.  Saat Rasulullah SAW masih berada di tengah-tengah ummat, untuk mengetahui apakah suatu minuman atau apapun bersifat khamar atau tidak, yang dipakai metode langsung .   Yaitu jika minuman itu diminum oleh orang yang tidak pernah mabuk (bukan pemabuk) apakah dia akan mabuk atau tidak.  Jika mabuk, maka itulah khamar yang haram untuk dikonsumsi, didistribusikan dan diperjual belikan kepada siapapun.  Suatu definisi yang jelas, sederhana dan mudah untuk dipahami manusia selugu dan sebodoh apapun.  Asalkan akalnya masih waras dan hati nuraninya masih hidup.  

Ajaran Islam mencegah segala pintu kerusakan agar tidak terbuka.  Islam pun memberikan solusi untuk mengatasi kejahatan dan memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi baik di tingkat personal, inter-personal ataupun social kemasayarakatan.  Solusi perbaikan personal terletak pada taubatan nasuha atau taubat yang sunggu-sungguh.  Solusi perbaikan inter-personal terletak pada permintaan maaf dan pemberian maaf serta penghalalan dari mereka yang pernah dizalimi hingga silaturahim yang terputus bisa terjalin kembali.  Namun, jika solusi tersebut belum bisa menyelesaikan masalah dan memperbaiki kerusakan yang ada, maka huddud atau hukum syariat seperti hukum cambuk, qisash, rajam dan sejenisnya pun harus ditegakkan seadil-adilnya.  Sayangnya, karena kurangnya pengetahuan tentang ilmu syariah, hukum yang tegas dan keras namun efektif untuk membuat jera para pemabuk itu enggan diterapkan di negeri Indoensia ini.  Padahal, Indonesia adalah engera dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.  Sungguh merupakan suatu ironi yang menyedihkan sekaligus memalukan.     
 
Selain itu, system ekonomi yang bersifat kapitalistik serta cenderung memihak pada pemilik modal pun ikut berperan.  Ekonomi kapitalisme dengan segala keserakahannya hanya peduli pada pengerukan keuntungan sebanyak-banyaknya.  Mereka tidak peduli berkah atau tidak, halal atau haram, manfaat atau mudharat.  Yang penting, barang yang dijual laku dan uang pun  masuk sebanyak banyaknya.  Walaupun yang dijual minuman keras dan bahan-bahan yang mengandung zat-zat yang memabukkan dan mengancam kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain. 

Tragedi tabrakan maut mobil Xenia yang menewaskan 9 orang itu seakan mengingatkan kita akan besarnya bahaya zat-zat memabukkan yang dalam Islam disebut khamar tersebut.  Entah sudah berapa kali terjadi dan entah sudah berapa banyak korban yang jatuh, baik yang meninggal dunia atau terluka dan trauma.  Tidak tahu pula, berapa banyak lagi korban yang harus jatuh sebelum akhirnya manusia sadar akan kesalahan, kesombongan dan keserakahannya selama ini.  Saya, anda, mereka dan kita semua bisa jadi korban kecelakaan-kecelakaan maut seperti itu.  Orang-orang yang sangat kita cintai bisa jadi terluka atau terbunuh karena para pengemudi mabuk yang tidak bertanggung jawab itu.  Namun, apakah mereka yang berkepentingan akan bisnis haram tersbut juga akan merasaakn perignatan itu, entahlah.  Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. 

Semoga bermanfaat