Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2012

Berjiwa Besar dalam Komunikasi

"We cannot not to communicate" demikian kata Paul Watzlawick, seorang psikolog dan filosof Austria - Amerika.  Komunikasi memang suatu hal yang kita lakukan sehari-hari, baik pada diri kita sendiri, orang lain maupun lingkungan kita.  Saking seringnya, kita sampai tidak menaydari komunikasi yang kita lakukan.  Sehingga, denagn mudah kita menyakiti orang lain atua diri sendiri.  Komunikasi mencakup komunikator atau pengirim pesan, komunikan atau penerima pesan dan media yang digunakan untuk komunikasi itu sendiri.  Terkadang, ada hambatan dalam proses komunikasi tersebut.  Hambatan tersebut bisa berasal dari pihak penyampai, media atau penerima pesan. Hambatan-hambatan komunikasi yang tidak teratasi seringkali menimbulkan konflik, ketidakpercayaan bahkan sampai permusuhan dan dendam.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi dewasa ini ternyata tidak diimbangi dengan kebesaran jiwa dan keyakinan diri para pemakainya dalam berkomunikasi. Dalam banyak forum di internet, kita bisa temukan caci maki dan kata-kata kasar yang dilontarkan para penggunanya. Masing masing pihak ingin mempertahankan egonya dan berusaha menjatuhkan dan mematahkan argumentasi lawan diskusinya dengan segala cara tanpa peduli moral dan etika. Yang penting ego saya terpuaskan, demikian yang ada dalam hati dan pikiran mereka. Dalam kehidupan nyata, sering kita saksikan orang-orang yang lebih suka main ancam, main peras dan main sikut kiri-sikut kanan daripada berkomunikasi dengan efektif penuh kesabaran dan kasih sayang.

Lalu, apakah yang membuat seseorang mampu berkomunikasi dengan efektif? Apakah diperlukan keterampilan dan bakat tertentu agar komunikasi dengan efektif?. Ada memang yang berpendapat seperti itu, namun sejatinya komunikasi adalah masalah kebesaran jiwa dan keyakinan diri seseorang. Stephen Covey, penulis buku laris The 7 Habits of Highly Effective People, mengatakan bahwa jiwa yang besar adalah jiwa yang independent atau mandiri. Ketika 2 orang berjiwa besar bertemu, maka timbul hubungan atau relationship yang interdependent atau saling bergantung. Komunikasi dua atau lebih orang-orang yagn berjiwa besar akan menghasilkan transformasi emosional yang menghasilkan sinergi yang lebih besar daripada energi masing-masing orang. Sebaliknya, komunikasi yang dilakukan orang-orang berjiwa kerdil hanya akan menghasilkan pemerasan emosional yang akan melelahkan pihak pihak yang terlibat dalam komunikasi tersebut, baik secara fisik, mental dan emosional. Mereka yang terlibat komunikasi seperti itu bagaikan berjalan di ladang ranjau di mana sedikit kesalahan bisa mengakibatkan ledakan yang besar. Pada akhirnya, komunikasi yang tidak efektif akan menyebabkan timbulnya lingkaran setan sebagai berikut: Komunikasi yang tidak efektif dapat menyebabkan pemahaman yang salah. Pemahaman yang salah akan menyebabkan persepsi tidak akurat. Persepsi tidak akurat akan menyebabkan prasangka buruk. Prasangka buruk akan menyebabkan Ketidak percayaan, ketidakpercayaan menyebabkan permusuhan dan permusuhan akan membuat komunikasi tidak efektif.

Komunikasi bukanlah hal yang sepele atau mudah. Stephen Covey, penulis buku laris Tujuh Kebiasaan manusia yang sangat efektif, menyayangkan betapa sedikitnya kita berlatih dan belajar mendengarkan dan memahami. Sehingga, komunikasi kita hanyalah komunikasi yang dangkal dan ala kadarnya saja. Kebutuhan emosional kita untuk dipahami, didengarkan dan dihargai jarang bisa terpenuhi. Padahal, masih menurut Covey, kebutuhan itu bagi jiwa manusia adlah bagaikan oksigen bagi tubuhnya. Tidak mengherankan apabila zaman sekarnag ini manusia begitu mudah curiga, emosi dan marah kepada sesamanya. Jiwa-jiwa yang kering kerontang secara emosi akan mudah tersulut kemarahan bagaikan rumput kering yang sudah terbakar matahari. Hanya orang-orang yang benar-benar berjiwa besarlah yang masih mampu menjalin komunikasi dalam keadaan seperti itu.


Kamis, 07 Juni 2012

[Renungan] Semua Orang Penting

Sesudah Narcissus terjatuh ke danau dan meninggal dunia, danau itu pun menangis dan airnya menjadi asin. Tumbuh-tumbuhan layu dan meranggas dan seluruh penghuni danau itu pun mati satu demi satu. Para peri hutan pun mendatangi sang danau dan bertanya "Wahai Danau, apakah kau menangisi kematian Narcissus?". "Tidak" jawab Danau. "Lalu apa yang membuatmu menangis?" tanya para peri hutan lebih lanjut. "Aku menangis karena aku tidak lagi bisa melihat keindahan diriku terpantulkan pada kedua bola matanya" jawab Danau.



Legenda Narcissus dan Danau yang merupakan bagian dari mitologi Yunani itu seakan menggambarkan betapa besarnya hasrat manusia untuk dianggap penting. Bahkan, Abraham Maslow menempatkan self actualization atau aktualisasi diri sebagai hierarki tertinggi dalam teorinya tentang motivasi. Sudah menjadi fitrah bagi manusia untuk membuat dirinya merasa penting, disukai dan dibutuhkan. Sebagaimana Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri dan Danau yang menikmati keindahan dirinya di bola mata pemuda tersebut, begitu pulalah kiranya manusia menikmati sensasi puja dan puji dari sesamanya. Di saat semua sirna, manusia pun terpuruk dalam jurang kehancuran yang tidak terhingga dalamnya. Kecewa, depresi dan putus asa pun menjadi teman sehari-hari dan bahkan ada yang sampai mengantar ke gerbang maut dengan cara bunuh diri. Nauzubillah min dzalik.

Legenda Narcissus dan Danau di atas memang sering dijadikan penggambaran tentang ego manusia.  Ego manusia bagaikan tanah liat yang dibakar hingga menjadi tembikar atau gerabah. Barang-barang dari tembikar memang terlihat kuat dan keras namun sesungguhnya rapuh. Tidak mengherankan jika kita mengunjungi toko yang menjual barang-barang seperti itu, kita seringkali melihat peringatan yang berbunyi "Pecah berarti Membeli". Demikian pula ego manusia, yang terlihat angkuh, keras dan arogan namun sesungguhnya rapuh dan mudah pecah berkeping-keping. Materialisme dan hedonisme adalah api membakar ego tersebut hingga menjadi keras seperti tembikar dibakar dalam tungku. Maka, tidak mengherankan apabila ada manusia yang sangat sulit untuk memaafkan dan memperbaiki hubungan-hubungan yang telah rusak.  Mereka sangat enggan menyambung kembali silaturahim yang terputus. Maya Angelou, seorang penulis dan penyair dari Amerika, pernah mengatakan "People will forget what you say, people will forget what you do but people will NEVER forget how you made them FEEL".

Jarang sekali ada manusia yang menyadari bahwa semua manusia itu penting. Tidak ada satupun manusia yang tercipta sia-sia sebagaimana dinyatakan oleh Sang Penciptanya “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (Q.S. Ali Imran [3]: 191)”. Bahkan orang-orang paling kejam, jahat dan menjengkelkan pun sesungguhnya punya sesuatu untuk dipelajari. Di balik setiap ego yang mengeras dan membatu tersebut terdapat perasaan yang lembut dan halus.  Perasaan itu menanti kedatangan dan sentuhan orang-orang yang tepat untuk membuatnya menyadari keindahan yang terdapat di dalamnya. Dengan meminjam motto dari sebuah komunitas Life Sharing (berbagi kisah kehidupan) bernama School of Life, kita bisa mengatakan bahwa "Jika setiap tempat adalah sekolah, maka semua orang adalah guru".

Semoga bermanfaat :)

Referensi:
Kecerdasan Ruhaniah, Toto Tasmara, Gema Insani Press
Situs Wikipedia

Sumber gambar: artikel Wikipedia tentang Laut Mati

Banyak cara untuk menginspirasi banyak orang baik secara langsung atau tidak langsung.  Salah satu cara mudah untuk menginspirasi orang lain berbagi adalah dengan mengenakan kaos yang berisi tulisan atau citra insiparatif seperi Kaos Sedekah. Kaos ini berisi kata-kata motivasi untuk bersedekah dan berbagi pada sesama dengan cara yang halus dan tidak menggurui. Baik juga untuk hadiah atau souvenir bagi yang dicintai dan dikasihi.  Kaos ini dapat diperoleh di situs distromuslim dot net.

Senin, 30 Januari 2012

[Opini] Xenia maut, cukupkah dengan tugu?

Ketika seorang pengamat tata kota mengajukan usul pembangunan tugu peringatan peristiwa Xenia maut di halte depan Tugu Tani, pro dan kontra pun bermunculan.  Ada yang setuju dengan alasan agar orang tidak mudah melupakan peristiwa tragis tersebut.  Ada pula yang mengatakan bahwa tugu itu akan menjadi peringatan agar orang lebih waspada terhadap bahaya miras dan narkoba.  Namun tidak sedikit pula yang menolak.  Pihak yang menolak beralasan bahwa tugu adalah cikal bakal penyembahan berhala.  Ada juga yang mengatakan bahwa jika setiap tempat terjadi kecelakaan dibangun tugu, maka entah akan ada berapa banyak tugu di ibu kota ini.  

Alasan agar orang tidak mudah melupakan peristiwa penabrakan tragis itu pun diragukan banyak pihak.  Terbukti nama-nama para pahlawan yang dijadikan nama jalan pun tidak banyak membawa kebaikan dan perbaikan di negeri ini.  Tidak sedikit orang di negeri ini yang tidak mengerti, memahami apalagi menghayati sejarah perjuangan para pahlawan tersebut.  Ditambah lagi sejarah yang kita ketahui sekarang ini seringkali merupakan produk yang sudah dimanipulasi pihak penguasa demi kepentingan kekuasaan.  Sehingga, banyak orang yang tidak banyak tahu sejarah bangsa ini yang sesungguhnya. 

Bangsa yang besar, kata Bung Karno, adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.  Menghargai jasa para pahlawan tentu bukan dengan mendirikan tugu atau patung mereka, tetapi dengan mengisi kemerdekaan ini dengan usaha dan karya-karya terbaik yang kita mampu.  Insya Allah, perjuangan para pahlawan tersebut benar-benar ikhlas dan tulus demi kemerdekaan bangsa ini.  Mereka telah berjuang dan telah mengorbankan segala yang mereka miliki.  Mereka tidak ingin dibuatkan tugu, patung atau diabadikan dalam nama jalan-jalan di kota-kota.  Yang mereka harapkan hanya agar hasil perjuangan mereka tidak disia-siakan.  Mereka pasti berharap generasi yang hidup di alam kemerdekaan ini akan memanfaatkan anugerah maha besar ini dengan sebaik-baiknya. 

Namun, kenyataan yang kita saksikan saat ini sungguh bertolak belakang dengan idealisme tersebut.  Kemerdekaan yang dianugerahkan Allah SWT berkat perjuangan para pahlawan yang berurai air mata, berpeluh keringat dan bersimbah darah seakan tidak ada artinya lagi.  Hampir di seluruh tempat di negeri ini kita saksikan fenomena generasi instant yang hanya memuja kesenangan sesaat belaka.  Baik mereka yang masih bergantung pada kedua orang tuanya atau yang sudah bisa mandiri dalam mencari nafkah.  Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu dan harta demi kepuasan pribadi tanpa berempati pada orang lain.  Mulai dari yang sekedar makan-makan di berbagai restoran cepat saji, keluyuran di mall-mall atau bermain games online di rumah atau warnet sampai dengan mereka yang berfoya-foya dengan miras dan narkoba di tempat-tempat hiburan.  Kecelakaan tragis di depan Tugu Tani beberapa waktu yang lalu hanya puncak dari gunung es kesemrawutan dan kerusakan peradaban.  Suatu kerusakan yang merajalela bagai kanker ganas yang menggerogoti bangsa ini. 

Bercermin dari paparan di atas, adalah suatu kenaifan apabila kita hanya membangun tugu untuk mengenang para korban kecelakaan itu.  Tugu raksasa sebesar Monas saja tidak mampu menggugah bangsa ini untuk lebih baik dalam mengisi kemerdekaan yang dianugerahkan kepadanya.  Tugu itu, jika pun jadi dibangun, hanya akan menjadi monumen mati hampa makna yang hanya bisa diam seribu bahasa.  Tugu tersebut lebih tepat dimaknai sebagai sebuah batu nisan di atas kuburan kematian hati nurani sebuah bangsa bernama INDONESIA.  

Semoga bermanfaat, mohon maaf bagi yang kurang berkenan

M. Nahar

http://wasathon.com

 

Related article: Xenia maut dan pencabutan perda miras 

Senin, 02 Januari 2012

[Renungan] Tangan

Malam malam nyimak tweet-nya Ust Yusuf Mansur, kaget juga baca kontent tweet-tweet tersebut.  Gak nyangka bakal nemu yang beginian (note: kebawa sama ustadz Yusuf Mansur, jadi pakai gaya bahasa kaya begini deh)

Intinya sih, ada orang yang tangannya senantiasa dipakai untuk kebaikan, ngasih sedekah, membelai rambut anak yatim.  Kalaupun memegang, yang dipegang harta yang halal, kalaupun membelai yang dibelai istri sendiri yang emang udah sah dan halal baginya.  Gak pernah tuh tangan dipakai untuk yang haram dan maksiat serta dosa.  Eh, ternyata masih aja tuh tangan bisa terkilir bahkan sampai ada yang bahunya sampai patah.  Ada juga yang semalaman gak bisa tidur saking sakitnya.  

Nah, kata ustadz Yusuf Mansur lebih lanjut, (nih pake bahasa sendiri ya, intinya sih kurang lebih sama)

- bagaimana dengan tangan yang suka tanda tangan surat atau kwitansi palsu?
- bagaimana dengan tangan yang suka ketok palu, padahal kasusnya memenangkan yang salah?
- bagaimana dengan tangan yang suka main gaple, banting kartu, kocok dadu bahkan yang sampai benar2 berjudi?
- bagaimana dengan tangan yang suka nyopet, megang pisau untuk nodong dan kejahatan sejenis lainnya?
- bagaimana dengan tangan yang suka megang atau membelai yang tidak halal baginya, kekasih gelap, selingkuhan, dan sejenisnya, eh sama pasangan yang sah malah suka main pukul, main tabok, main gampar, main tempeleng sembarangan?
- bagaimana dengan tangan yang suka nunjuk-nunjuk sambil disertai kata-kata kasar nan nyakitin, mentang-mentang sama bawahan?
- bagaimana dengan tangan yang suka nyekek botol minuman keras, baik yang lokal, impor atau oplosan? baik yang merek bir, vodka, topi miring, cap tikus dan entah apa lagi merek dan namanya.
- bagaimana dengan tangan yang suka nyuntikin narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya?
- bagaimana dengan tangan yang entah ngapain lagi, ngeri deh bayanginnya

Padahal sering kali orang-orang kaya gini belum sepenuhnya kena adzab di dunia, kalaupun kena masuk penjara malah ketagihan gak kapok-kapok.  Bahkan udah jadi rahasia umum, penjara malah jadi semacam "training center" buat para penjahat pemula.  Mereka malah bergaul dengan para bromocorah, residivis dan yang lebih pengalaman dalam dunia kejahatan.  Sehingga, keluar dari penjara banyak yang malah jadi penjahat kambuhan.  Kalau udah gini, untuk membalas kezaliman tangan tangan tadi, terpaksa diselesaikan di alam sesudah alam dunia, yaitu di dalam kubur dan di akhirat. Siksaannya kayak apa, entahlah.  Yang pasti sih bakal mengerikan dan seimbang dengan kejahatan dan kezaliman mereka di dunia ini.  

Nauzubillah min dzalik kalau sampai kita kena yang kaya gitu, baik di dunia apalagi di akhirat

Semoga bermanfaat,




Sabtu, 31 Desember 2011

[Renungan] Tidak ada yang baru di tahun baru

Apa sih makna pergantian tahun? Pesta pora, hura-hura atau bergembira ria? atau mungkin ada hal-hal lain yang lebih positif untuk dilakukan? Seperti pada tahun tahun sebelumnya, pergantian tahun kali ini pun tidak terlalu berbeda.  Kembang api menggelar memecah gelapnya malam sementara orang-orang berbondong bondong pergi ke keramaian.  Baik di tengah kota, di pantai atau di mana pun. Sesudah itu, saat pagi menjelang, para petugas pun membersihkan sisa sisa pesta semalam.  Tidak lama kemudian, jalanan dan tempat bekas pesat pun kembali bersih.  Seakan-akan tidak terjadi apa-apa.  Begitulah yang terjadi setiap kali pergantian tahun.  Hanya kemasan yang berubah-ubah, isinya tidak ada yang berubah sedikitpun.  Pesta pora, hura-hura dan sejenak melepaskan penatnya beban kehidupan, hanya itu saja.  Sholat dan sedekah? entah apakah kedua hal yang penting itu masih terpikir dalam benak mereka.  Yang penting bersenang-senang dan menghabiskan malam yang datangnya hanya setahun sekali itu.  

Peringatan Tahun Baru Masehi memang pernah terasa berbeda. Yaitu pada saat Tsunami melanda Aceh beberapa tahun yang lalu.  Suasana yang bisanya gegap gempita penuh kmeriahan tiba-tiba mendadak sunyi senyap penuh kesedihan mendalam.  Terasa dekat para korban Tsumani itu pada diri, terasa benar kepergian mereka sehingga tidak tega rasanya berhura-hura merayakan tahun baru yang saat itu datang.  Namun setelah itu, semua seakan terlupakan.  Pada saat perayaan tahun baru berikutnya, nafsu untuk berhura-hura tak lagi bisa dibendung.  Perayaan yang sama gilanya dan sama borosnya, jika tidak mau dikatakan melebihi, kembali terjadi.  Seakan tidak ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kejadian Tsunami beberapa tahun sebelumnya.  Apakah perlu bencana sebesar Tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya itu terulang kembali? Entahlah.

Pada tahun baru kali ini, perayaan itu pun ditambah aksi sensasional lainnya.  Seorang pesulap, master, mentalist atau apapun namanya menantang maut dengan membiarkan diriinya ditimbun hidup-hidup dalam semen cor seberat 2 ton.  Dia dikubur selama beberapa jam dalam timbunan semen tersebut.  Pada saat malam menjelang, para petugas pun membongkar cor semen tersebut dan mengeluarkan si mentalist.  Sesudah itu, yang dilakukan sama saja dengan tahun-tahun yang telah berlalu.  Count down, hura-hura, maksiat dan lain sebagainya.  Hampir tidak ada nilai positifnya sama sekali.  

Si mentalist boleh saja bangga atas keberhasilannya bertahan hidup dalam timbunan semen dan beton.  Dia juga bisa saja menerima sejumlah uang dan penghargaan lain dari pihak sponsor dan mendapat perhatian dari masyarakat luas.  Namun, mungkin dia tidak sadar bahwa beban yang ditanggung masyarakat miskin jauh lebih berat.  Jika si mentalist terhimpit beton selama beberapa jam, maka banyak rakyat miskin negeri ini yang terhimpit kapitalisme dan kepentingan pemilik modal.  Tanah yang tergusur, tempat tinggal yang terampas serta kehidupan yang penuh ketidakpastian jelas merupakan himpitan yang jauh lebih berat.   Dan bukan hanya untuk beberapa belas jam namun entah sudah berapa tahun atau bahkan entah berapa generasi.

Belum lagi jika kita berbicara tentang penderitaan para saudara kita di Palestina.  Mereka tiap hari harus berhadapan dengan tentara-tentara Zionis yang selalu menghina, melecehkan dan bahkan tidak jarang membunuh dan menyiksa mereka.  Sekedar pertanyaan iseng, apakah si mentalist dapat membawa bantuan makanan dan obat-obatan kepada rakyat Gaza yang masih di bawah penjajahan kaum Zionist? Tentu kita semua sudah tahu jawaban dari pertanyaan retorist ini.  Dan sudah pertanyaan iseng tadi lebih dari cukup untuk menguji mutu dari tayangan sensasional si mentalist itu.    

Sekali lagi, sungguh tidak ada yang baru di tahun 2012 ini, semua masih sama seperti dulu.  Sehingga, sungguh tidak layak pergantian tahun yang tidak ada maknanya sama sekali itu dirayakan besar-besaran.  Apalagi jika harus dengan biaya yang luar biasa besarnya.  

Semoga bermanfaat, mohon maaf bagi yang tidak berkenan

Minggu, 22 Mei 2011

[Renungan] Indonesia vs Bani Israil

Survey Indobarometer mengindikasikan bahwa sebagian, mungkin sebagian besar masyarakat, menginginkan kembalinya orde baru.  Mereka mengingkan kehidupan yang relatif mudah untuk mendapatkan sandang pangan, yang penting dapur ngebul.  Keinginan tersebut dapat dipahami dengan baik, masyarakat memang sudah muak dengan kehidupan pasca reformasi yang tak kunjung memberi mereka kesejahteraan material yang baik.  Harga-harga terus merambat naik sehingga masyarakat, terutama yang miskin, seakan tak bisa berhenti mengencangkan ikat pinggang.  

Namun, banyak yang lupa atau pura-pura lupa bahwa kesuksesan pembangunan ekonomi di era orde baru sesungguhnya adalah sesuatu yang semu.  Ekonomi berbasis utang luar negeri yang sebanarnya merupakan bom waktu yang bisa meledak setiap saat.  Tumpukan mesiu itu pun meledak saat Indonesia dihantam krisis ekonomi tahun 1997.  Nilai tukar dollar pun melonjak gila-gilaan sampai belasan ribu rupiah per dollar.  Akhirnya, proyek-proyek pembangunan pun mandeg serta banyak orang kehilangan pekerjaan.  Kerusuhan Mei 1998, walaupun oleh banyak pihak dituding sebagai rekayasa Orde Baru untuk bertahan, hakikatnya adalah ledakan dari akumulasi kekecewaan masyarakat atas kemiskinan mereka selama berada di lapisan bawah.  Jadi, klaim bahwa Orde Baru menyejahterakan masyarakat adalah kebohongan belaka.  Kerusakan moral dan akhlaq serta kemiskinan saat ini adalah stadium lanjutan dari kebobrokan dan kebohongan di era Orde Baru.   

Keinginan sebagian masyarakat untuk kembali ke era Orde Baru mengingatkan kita akan tingkah bani Israil yang justru ingin kembali kepada Firaun di Mesir Kuno.  Walaupun mereka sudah lepas dari perbudakan oleh Firaun, namun ternyata jiwa mereka belum lepas dari perbudakan oleh diri mereka sendiri.  Kehidupan di gurun pasir yang berat itu malah melemahkan jiwa mereka, bukan memperkuat.  Padahal, kemerdekaan dan kebabasan mereka dari perbudakan Firaun adalah anugerah besar yang tidak terhingga dari Allah SWT kepada Bani Israil.  

Allah SWT pun telah menganugerahi mereka dengan makanan berupa Manna dan Salwa, sebagaimana tersebut dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat (57) Dan telah Kami teduhi atas kamu dengan awan dan telah Kami turunkan kepada kamu manna dan salwa. Makanlah dari  yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kamu. Dan tidaklah mereka yang menganiaya Kami, akan tetapi adalah mereka menganiaya diri mereka sendiri.  Namun, nikmat Allah SWT berupa makanan Manna dan Salwa tidak juga memuaskan hawa nafsu rendah mereka yang cenderung pada kesenangan dunia.  Mereka merindukan kehidupan di Mesir Kuno, yang walaupun diperbudak, namun cukup terjamin sandang pagannya.  "Dan (ingatlah) seketika kamu berkata : Wahai Musa, tidakiah kami akan tahan atas makanan hanya semacam. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya dikeluarkan untuk kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, dari sayur-sayurannya, dan mentimunnya, dan bawang putihnya, dan kacangnya dan bawang-merahnya. Berkata dia : Adakah hendak kamu tukar yang amat hina dengan yang amat baik ? Pergilah ke satu kota besar, maka sesungguh­nYa di sana akan dapatlah apa yang kamu minta itu ! Dan dipukulkanlah atas mereka kehinaaan dan kerendahan, dan sudah layaklah mereka ­ditimpa kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu ialah karena mereka kufur kepada perintah- perintah Allah dan mereka bunuh Nabi-nabi dengan tidak patut. Yang demikian itu ialah karena mereka telah durhaka dan mereka telah melewati batas." Surat Al Baqarah ayat 60.  Tafsir ayat-ayat tersebut dapat dilihat di situs Tafsir Al Azhar

Kini, sejarah kelam Bani Israil terulang lagi pada bangsa dengan umat Islam terbanyak di dunia, Indonesia.  Orang-orang yang lebih rela diperbudak asal perutnya kenyang dan hidupnya nyaman daripada menderita dalam perjuangan menegakkan kebenaran. George Santayana, seorang filsuf pernah mengatakan "Those who forget the past are condemned to repeat it".  Bung Karno pun mencanangkan semboyan Jas Merah yang artinya "Jangan sekali-kali melupakan sejarah".  Sejarah bukanlah untuk dilupakan tapi juga bukan untuk menghantui kehidupan kita saat ini. Sejarah adalah pelajaran yang harus dipetik hikmahnya, bukan sekedar dihafalkan atau dijadikan monumen bisu tidak bisa berbicara.

Hadits yang diucapkan beberapa abad yang lalu oleh Rasulullah SAW pun terbukti kebenarannya. Umat Islam, termasuk di Indonesia, kini bagaikan hidangan di atas meja makan.  Musuh-musuh mereka siap menyerbu dari berbagai arah.  Penyakit Bani Israil berabad-abad yang lalu kini menjangkiti umat Islam Indonesia, cinta dunia takut pada kematian.  Dan penyakit itu pun melemahkan umat yang seharusnya mengemban amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi.  Padahal Allah sWT telah mengingatkan kepada kaum Bani Israil dan juga kita semua agar senantiasa bersyukur.  "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim:7).  

Lawan dari syukur adalah kufur, meskipun tidak selalu berarti sudah keluar dari agama Islam.  Bisa jadi, kita pun meruapakan bagian dari orang-orang yang tidak bersyukur, yang merupakan kezaliman.  Sebagaimana nabi Yunus berdoa saat berada dalam perut ikan besar yang menelannya, begitu pulalah kita harus kembali kepada Allah SWT mengakui keslaahan dan kezaliman kita selama ini dan kembali ke jalan yang diridhoiNya.  “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88),   

Astaghifirullahal Adzim.  

Referensi

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8434738

http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3224-mustajabnya-doa-dzun-nuun-nabi-yunus.html

http://tafsiralazhar.net46.net/myfile/S-Al-Baqoroh/al-baqoroh_ayat_57-61.htm

Senin, 16 Mei 2011

[Renungan] Ikhlas = BAB?

Entah siapa yang memulai, namun kita sering mendengar bahwa perumpamaan ikhlas adalah seperti, maaf, BAB.  Sesudah dikeluarkan, tidak perlu lagi dilihat atau dipikirkan.  Mungkin itulah sebabnya banyak diantara kita yang amalnya sperti orang kebelet untuk ke belakang.  Seperti sholat, saat salam terakhir diucapkan dan kepala ditengokkan ke kiri, saat itu timbul perasaan lega yang luar biasa. Alhamdulillah, sudah selesai.  Itu pun terkadang dikerjakan di menit-menit terakhir, sekitar 30 menit sebelum waktu sholat yang bersangkutan berakhir dan masuk waktu sholat yang baru. Puasa pun demikian, yang penting tidak makan, minum atau berhubungan intim di siang hari.  Sesudah adzan Maghrib berkumandang, rasa lega pun datang, kewajiban sudah tertunaikan.  Sambil menghela nafas panjang, kita pun seperti terlepas dari beban yang sangat berat.  

Paradigma ikhlas yang seperti itu membuat kita beramal dan beribadah secara asal-asalan.  Ibadah ritual tidak kita perhatikan aspek rukun dan sunnahnya.  Sementara amal sholeh kita kerjakan seenak hati kita.   Mirip dengan Qabil, anak nabi Adam yang durhaka.  Dia mempersembahkan qurbannya dengan tanam-tanaman yang sudah membusuk dan tidak layak dimakan.  Pada akhirnya, bukan hanya kepada Allah kita durhaka namun juga kepada sesama manusia dan alam sekitar kita.  Betapa banyak orang yagn seharusnya mendapat manfaat dari amal-amal yang kita lakukan dengan baik, namun kita lakukan dengan asal-asalan.  Kita pun kehilangan kesempatan meraih kebaikan dari orang lain, baik dalam bentuk balasan pertolongan atau doa-doa yang tulus.  

Kalau kita merujuk kepada penjelasan Ibnul Qayyim tentang syarat diterimanya amal, maka sudah semestinya kita memikirkan ulang paradigma ikhlas tadi.  Ibnul Qayyim, mengatakan bahwa amalan itu dikerjakan karena:

1. Ada kecintaan kepada Allah ta'ala.  
2. Ada rasa takut karena azabNya yang Maha Pedih
3. Ada rasa harap, agar amal itu diterima Allah (lebih kita kenal, dengan konsep khauf dan roja).

Maka, ikhlas sesungguhnya adalah seperti kita mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada orang yang kita cintai, raja yang kita hormati atau kepada majikan yg mempekerjakan kita.  Allah SWT adalah Raja, Kekasih sekaligus Majikan kita dalam kehidupan di dunia ini.  Apakah kita rela dan tega mempersembahkan sesuatu yang seharusnya kita buang ke belakang kepada kekasih kita? Apakah kita berani memberikan sesuatu yang serupa dengan yang kitapun jijik melihatnya kepada Raja atau Penguasa yang kita hormati dan takuti? Apakah layak kita menjual sesuatu yang merupakan limbah dari tubuh kita sendiri kepada pembeli barang dagangan yang kita jual?

Al Quran sendiri mengumpamakan Ikhlas seperti susu yang mengalir di antara kotoran dan darah dalam tubuh sapi.  Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS 16 : 66)".  Mungkin kita bisa membayangkan kita berada di sebuah restoran untuk memesan segelas susu murni.  Betapa gusarnya kita apabila saat disuguhi susu murni yang kita pesan, ternyata ada kotoran dan darah di dalamnya.  Bisa jadi kita marah dan komplain kepada pelayan restoran tersebut, atau bahkan kita tidak pernah lagi memesan susu di sana.  Bisa jadi, susu sebelanga yang ada dalam hati kita telah ternodai kotoran dan darah sehingga tidak layak lagi untuk dijual dan dikonsumsi.  Padahal pahala hasil amal sholeh kita, yang dianalogikan sebagai susu itulah bekal kita di akhirat nanti.  Betapa meruginya kita apabila ternyata bekal kita sudah tidak berharga lagi saat perhitungan akhir dilaksanakan di sana.   "... Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu...." (QS. Az Zumar: 65).
 
Seorang sufi mencari penghidupannya dengan menenun kain.  Suatu saat, di pasar, seorang pembeli yang sangat ahli tentang kain mendatanginya.  Sang pembeli menunjukkan kekurangan-kekurangan yang ada pada kain tersebut.  Sang sufi terkejut dan menangis.  "Mengapa anda menangis" tanya si pembeli "Aku akan tetap membeli kain ini".  Sang sufi menjawab "Ketahuilah saudaraku, bukan kain ini yang kutangisi.  Namun, aku takut akan ibadah dan amalanku selama ini. Jika engkau saja bisa mengetahui kekurangan hasil kerja dan amalku, apalagi Dia yang Maha Mengetahui". Hari Moekti, seorang mantan rocker yang sekarang menjadi dai pernah berkata: "Orang yang ikhlas itu tidak takut kaya dan tidak takut miskin. Tidak takut terkenal dan tidak takut tidak terkenal. Saya sering dihina dengan pilihan saya, tetapi saya berbahagia, karena dengan dihina dosa saya terhapus". Pernyataan Kang Hari itu dikutip dari buku Menjadi Pemenang Kehidupan terbitan Leutika Publisher.

Ikhlas adalah rahasia terdalam antara hamba pelaku dengan Allah SWT. Malaikat pencatat dan setan penggoda pun tidak mengetahui tingkat keikhlasan kita.  Bahkan, Allah SWT lebih mengetahui keikhlasan kita dibandingkan diri kita sendiri.  Ikhlas adalah proses belajar yang panjang, bahkan mungkin merupakan pelajaran tersulit dan terberat dari segala pelajaran yang harus kita lalui dalam kehidupan.  Belajar untuk ikhlas adalah dengan beramal itu sendiri, beramal dengan sebaik-baiknya tanpa mengharap apapun dari manusia.  Kita memohon kepada Allah agar bisa beribadah dengan ikhlas untuk-Nya semata, sebagaimana doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam: "... Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat." (QS. al An'aam: 77).

Related links

Ringkasan buku Ikhlas Syarat diterimanya Ibadah

Inginkah anda menjadi orang yang ikhlas

ikhlas itu, ibarat buang air besar (maaf)?
 

Rabu, 04 Mei 2011

[Renungan] Sebuah ruang bernama Hati

Hati adalah cermin
Tempat pahala dan dosa bertarung

Demikian syair lagu yang didendangkan oleh Bimbo. Hati manusia memang arena pertarungan yang idak ada habisnya, antara pahal dan dosa, antara nurani dan ego. Hati bisa menjadi sebuah “sanctuary” tempat berteduh dari segala macam masalah, tapi hati itu sendiri bisa jadi sumber masalah. Terutama bila hati itu dikotori beraneka ragam keinginan. Jika hati itu penuh syukur, maka seluruh tubuh akan merasakan nikmatnya. Bahkan mungkin banyak orang yang akan merasakan manfaatnya. Bukan tidak boleh punya keinginan, yang tidak boleh adalah diperbudak keinginan. Terkadang, keinginan untuk segera mewujudkan keinginan itu malah menghambat kemampuan kita untuk mampu mewujudkan keinginan itu. Rasa syukur membuat hati menjadi ringan dan tenang. Rasa syukur membuat hati menjadi bersih dan hati yang bersih adalah hati yang penuh rasa syukur. Sebaliknya, kurangnya rasa syukur membuat hati menjadi gelap dan pekat. Di sisi lain, hati yang gelap dan pekat membuat pemiliknya sulit mensyukuri segala nikmat yang diberikan kepadanya.

Bayangkanlah sebuah ruang yang lapang dan luas, putih bersih tiada setitik debu pun di dalamnya. Langit-langitnya lebih tinggi dari langit dunia, ujung ruangan itu lebih jauh dari pandangan mata. Udara yang segar mengalir ke dalamnya dan kilauan lantainya bercahaya putih lembut, terang benderang namun tidak menyilaukan mata. Begitulah gambaran hati manusia yang bersih dari segala macam keinginan duniawi. Hanya rahmat dan keridhoan Allah sajalah yang diharapkan hadir di ruang itu. Ruang bersih, rapih dan sejuk. Sebuah ruangan yang udara segar mengalir di dalamnya dan membuat siapapun merasa senang dan betah berada di sana.

Rasa syukur membuat hati bagaikan ruangan yang lapang tersebut. Mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT setiap hari bagaikan menjaga kebersihan sebuah ruangan. Sampah dan debu yang mengotori setiap hari disapu dan dikeluarkan sehingga kebersihan ruangan tetap terpelihara. Terkadang kelalaian pemilik hati menjaga kebersihan hatinya membuat kotoran emosional sampai berkerak dan terpendam. Sedikit ketersinggungan sudah lebih dari cukup untuk memicu reaksi emosional yang berlebihan.

Hati orang yang tak terjaga akan menjadi kotor, penuh rasa dengki serta dendam. Hati itu bagaikan gua bawah tanah yang mengerikan. Lahar panas bergejolak dan mengalir membentuk sungai-sungai mengerikan sementara makhluk - makhluk serupa naga berwarna hitam beterbangan sambil menyemburkan api. Atau bagaikan pembuangan sampah yang berantakan dan tidak terawat dimana sampah organik dan non organik bercampur menimbulkan bau busuk yang menyengat. Akankah rahmat dari Allah SWT yang merupakan bekal kita menuju surga akan kita simpan di ruang hati yang seperti itu? Layakkah kita masuk ke surgaNya padahal ruang hati kita bagaikan neraka yang menyiksa jiwa kita dan orang lain terus menerus siang dan malam?

Ruang hati ada pada setiap manusia, miskin ataupun kaya, berpendidikan ataupun tidak, dari suku bangsa manapun dia berasal. Allah SWT menciptakan ruang hati sebagai tempat penilaian akankah seseorang layak masuk dan menikmati sajian Surga yang penuh kenikmatan dariNya. Ataukah lebih pantas disiksa di Neraka yang bergolak mengerikan, sama dengan pergolakan ruang hatinya saat hidup di dunia?

Semoga bermanfaat

Referensi: Ebook Tragedi Impian by Kang Zain, bisa didonlot di situs ini

Repost dari blog yang ini

Selasa, 03 Mei 2011

[Renungan Cinta] Ada apa di balik patah hati

Seorang sahabat pernah mengingatkan bahwa "Hati seorang mukmin terlalu lembut untuk bisa patah".  Hati yang lembut itu karena mencintai Zat yang Abadi, yang tidak akan pernah mengecewakan para pencintaNya.  

Hati yang mengeras adalah bagaikan air yagn tercampuri banyak bahan-bahan kimia sehingga menjadi beracun dan tidak bisa diminum.  Hati itu bagaikan batu yang keras bagai tanah yang diaspal sehingga air hujan tidak bisa masuk ke dalamnya.  Hati bisa menjadi keras apabila dia dibalut berbagai pengalaman yang memiliki tingkat emosi tinggi. seperti dendam, kekecawaan, kemarahan dan sebagainya.  Semua itu berpangkal dari keinginan dan keinginan berawal dari pikiran kita sendiri.  

Menurut para ahli tafsir, jauh sebelum masa diutusnya Nabi Nuh kepada umatnya, hiduplah 5 orang shaleh yang sangat dihormati dan dicintai para pengikutnya.  Mereka bernama Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nashr.  Sesudah kelima orang shaleh itu meninggal dunia, para pengikutnya mendirikan patung untuk mengenang mereka.  Patung-patung tersebut, oleh generasi yang datang sesudah para pendirinya, mulai disembah perlahan-lahan.  Upaya Nabi Nuh untuk mengingatkan mereka agar kembali menyembah Allah SWT tidak diindahkan oleh mereka dan mereka saling mengingatkan agar tetap menyembah kelima berhala itu.  Hal ini dijelaskan dalam Al Quran Surat Nuh ayat 23: Dan mereka berkata, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr."(QS. Nuh: 23).  Jadi, dosa syirik itu dimulai dari kultus, baik individu, kelompok ataupun negara.  Ciri orang yang mengkultuskan sesuatu atau seseorang adalah timbulnya ghirah atau kemarahan apapbila sesuatu yang dikutuskan itu dikritik atau dicela. Demikian pembahasa tentang asal muasal dosa syirik yang pernah dibahas di pengajian Ar Rahman.  

Jatuh cinta adalah sejenis pengultusan terhadap orang yang dicintai.  Seseorang yang mencintai orang lain akan memperlakukan orang yang dicintai itu seakan-akan manusia setengah dewa.  Apa saja yang diminta oleh orang yang dicintai itu akan dipenuhi walaupun habis harta dan terkuras energi hingga tak tersisa.  Bahkan terkadang dia menghalalkan segala cara demi menyenangkan orang yang dicintainya tersebut. Yang pasti hilang dari orang yang patah hati adalah ketenangan.  Padahal ketenangan adalah fondasi kebahagiaan, kebahagiaan adalah fondasi dari kesuksesan dan kesuksesan adalah fondasi dari penampilan.  Unsur utama dalam membina ketenangan yang hakiki adalah keberkahan dan kesederhanaan.  Keberkahan bagaikan semen yang mengikat batu kali dan pasir dalam sebuah fondasi sebuah bangunan.  Sedangkan kesederhanaan adalah bagaikan batu kali dan pasir itu sendiri.  

Orang yang patah hati itu seharusnya mensyukuri nikmat tersebut.  Dia justru terhindar dari pengultusan sang kekasih sehingga mengalahkan penghambaanya pada Allah SWT, Rabb semesta alam yang menciptakan, mengatur dan memelihara segalanya, termasuk dirinya sendiri.   Orang yang patah hati itu justru berpeluang mendapatkan ketenangan sejati yang bersumber dari Kasih SayangNya yang tak terbatas.  Dia seharusnya mampu membangun kembali kehidupannya dari puing-puing hatinya yang hancur berantakan itu agar bisa bangkit kembali menatap masa depan yang indah, baik di dunia maupun akhirat.

Semoga bermanfaat

Referensi

Ebook "Jangan raih kesuksesan yang tidak sukses"

Ebook "Tragedi Impian"

Terapi Istighfar

http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1139257561

http://v4.e-arrahman.com/

Selasa, 11 Januari 2011

[Renungan] Arti Seorang Sahabat

Everyone needs a shoulder to cry on,

Everyone needs a friend to rely on,

When the whole world is gone,

You won't be alone,

Cause I'll be there,

I'll be your shoulder to cry on,

I'll be there,

I'll be your friend to rely on,

 

A shoulder to cry on

Tommy Page,

 

Sebagaimana lagu tersebut di atas, setegar apapun seseorang dia suatu saat memerlukan sahabat untuk menangis di bahunya.  Tidak harus diartikan harfiah memang, namun pada hakikatnya semua orang memerlukan "tempat curhat" untuk meringankan beban yang dipikulnya sehari-hari.  Seseorang yang menyediakan kedua telinganya untuk mendengar dan hatinya untuk berempati tanpa menasihati atau menghakimi.  Hidup memang terkadang tidak bersahabat sehingga kita memerlukan sahabat untuk menjalani dan menghadapi kehidupan itu.  Seorang sahabat yang menyediakan energi untuk kita agar mampu bangkit dan bersemangat kembali. Bahkan Rasulullah SAW saat menerima wahyu untuk pertama kalinya, beliau sedemikian takut hingga menggigil berkeringat dingin sampai perlu ditenangkan dan diselimuti istrinya, Khadijah R.A.

 

Namun sahabat kita itu bukanlah malaikat-malaikat bersayap yang tidak pernah berbuat salah atau tidak pernah merasa lelah.  Mereka adalah manusia yang tercipta dari tanah lumpung yang sama dengan diri kita.  Tidaklah bijaksana apabila kita memaksakan kehendak kita kepada mereka setiap saat.  Adalah suatu kesalahan besar apabila kita menuntut para sahabat kita untuk mendampingi dan menemani kita stiap waktu.  Mereka juga punya kepentingan sendiri yang menuntut kehadiran dan kemampuan terbaik mereka.  Mereka pun perlu memiliki waktu-waktu tertentu yang dapat mereka nikmati tanpa kehadiran orang lain.


Persahabatan sejati adalah persahabatan yang saling mengisi dan saling meningkatkan kualitas diri dalam berbagai bidang kehidupan.  Kekurangan seorang sahabat adalah ladang amal bagi kita dan kelebihan seorang sahabat adalah ladang ilmu bagi kita.  Dalam tingkatan yang lebih tinggi, kedua sahabat saling bercermin pada sahabatnya agar bisa melihat kekurangan dan kelebihan dirinya secara jujur, tanpa menjadi minder atau sombong.


Pada hakikatnya persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang "Menjadi" bukan persahabatan yang sekedar "memiliki" seorang sahabat.  "Menjadi" di sini adalah menjadikan sang sahabat sebagai guru dan murid sekaligus.  Ada kalanya kita mengajari, mengkritik dan memberi saran pada sang sahabat dan ada kalanya kitalah yang menerima semua hal tersebut.  Sebagaimana disebutkan dalam sebuah pepatah Arab "Sahabat yang baik adalah yang menunjukkan kepada kebaikan. Sahabat itu yang dapat membuatmu menangis akan hakikat kehidupan, bukan membuatmu tertawa." Semua itu hanya bisa terjalin dengan adanya komunikasi yang baik dan efektif. Komunikasi yang baik bukan berati tanpa hambatan atau kesalahpahaman.  Namun, dalam komunikasi yang sehat dan baik, konflik bisa segera diatasi dan persahabatan tetap dapat terjalin kembali dengan baik.

 
Kemudahan akses komunikasi yang dihasilkan oleh perkembangan pesat teknologi informasi tidak lantas menjamin bahwa persahabatan akan terbina dengan baik.  Kecepatan peralihan informasi justru sering kali membuka peluang yang besar untuk salah paham sehingga merusak atau bahkan menghancurkan persahabatan.  Pesatnya kemajuan teknologi informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan dan ketrampilan manusia berkomunikasi dengan sesamanya. Terkadang kata - kata atau canda yang tidak tepat bisa merusak, minimal mengurangi, tingkat kepercayaan seseorang pada sahabatnya.

 

Persahabatan terjalin karena kepedulian, kepedulian terbentuk karena pengertian, pengertian diperoleh dengan komunikasi yang baik dan efektif.  Sebaliknya, komunikasi yang tidak efektif menghasilkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman menghasilkan prasangka buruk. Prasangka buruk menghasilkan ketidakpercayaan. Dan pada akhirnya, ketidakpercayaan menghasilkan permusuhan.  Apabila permusuhan sudah terjadi, sangat sulit untuk kembali menjalin komunikasi.  Sungguh merupakan sebuah kerugian besar apabila persahabatan, apalagi yang sudah terbina dalam waktu yang lama, harus terputus dan hancur begitu saja.   

 

Semoga bermanfaat, 

Sabtu, 01 Januari 2011

[Posting pertama 2011] Hanya sebuah renungan

5 .. 4 .. 3 .. 2 .. 1 .. orang-orang berteriak ramai - ramai

DONG ... DONG .. DONG ..
Jarum pun menunjukkan pukul 00.00

Hari pun berganti, tahun yang lama pun berlalu

DUAR ... DUAR .. DUAR

Kembang api pun menerangi langit malam dan petasan membahana mengaungkan suara yang menggelegar

Orang - orang pun bergembira menyambut tahun baru yang baru saja tiba di dunia ini, mereka hilir mudik ke sana ke mari, ada yang bergoyang mengikuti alunan lagu ada juga yang hanya duduk mengamati situasi.  Hampir semua orang bergembira menikmati malam pergantian tahun itu. Karena rasa adalah segalanya, mungkin demikian semboyan hidup mereka.  

Keesokan paginya, saat pesta berakhir, hanya tampak segelintir manusia yang bertugas menjaga kebersihan kota.  Mereka memunguti sampah dan menyapu jalanan agar jalan itu segera bersih dan bisa digunakan lagi keesokan harinya.  

Beberapa hari kemudian, kita akan menyaksikan jalan tersebut kembali dilalui berbagai kendaraan dengan tujuan masing-masing.  Tidak ada sedikitpun bekas pesta di sana.  Mungkin, jika ada orang baru yang datang ke Jakarta, mungkin tidak tahu bahwa tempat itu suka dibuat hura-hura di tahun baru dengan kesia-siaan yang melampaui batas.  

Demi sebuah sensasi rasa, apapun dilakukan, sejauh apapun didatangi ...

Sungguh disayangkan memang, banyak yang tidak menyadari bahwa bergantinya tahun adalah berkurangnya jatah kontrak hidup di dunia ini.  Manusia hidup di dunia ini tidaklah selamanya, akan ada masanya dia meninggalkan dunia fana.  Entah kematian yang penuh keindahan dan keharuan walaupun tetap meninggalkan kesedihan bagi yang ditinggalkan.  Atau berakhir sebagai sebuah kematian yang mengerikan pertanda habisnya suatu kehidupan yang penuh dosa dan keingkaran.  

Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau tahun telah berganti, namun apakah kita sudah menajdi manusia baru yang lebih baik dari sebelumnya?

Semoga ...


Kamis, 11 November 2010

Hikmah di balik bencana dan aksi kerelawanan

Bencana demi bencana datang silih berganti melanda negeri ini.  Disamping menghasilkan penderitaan dan duka cita mendalam, juga membuka ladang amal yang luar biasa besarnya bagi segenap rakyat negeri ini.  Bencana menyadarkan kita bahwa di luar sana masih banyak mereka yang menderita.  Walau mungkin ada yang merupakan peringatan atau bahkan Adzab dariNya, namun hal itu tidak boleh menyurutkan kita dari membantu mereka.  Bencana juga mendidik kita untuk tidak terlalu mudah marah terhadap hal-hal kecil yang menjengkelkan dalam hidup, baik dalam keluarga, di kantor atau tempat kerja, perjalanan dan sebagainya.  Terkadang, masalah-masalah sepele seperti channel TV, ballpoint atau bahkan sendal jepit sudah cukup membuat kita marah-marah tidak karuan.  Di mana rasa syukur kita terhadap apa yang masih ada pada diri kita, paling tidak kita masih hidup dan masih sehat.  Masih bisa berbuat banyak bagi sesama, terutama yang  terkena bencana.  Bang Gaw, seorang relawan senior, pernah bilang "kita memang sudah berbuat baik, tetapi masih banyak hal baik yang belum kita perbuat".

 

Aksi Kerelawanan
 

Di sisi lain, bencana memberi kesempatan pada manusia untuk menabung pahala dan energi kebaikan sebanyak mungkin.  Penanganan bencana bukanlah proses sekali jadi namun perlu banyak tahapan seperti emergency, recovery dan sebagainya.  Banyak diantara para relawan adalah orang-orang yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Mereka tentu tidak bisa bersedekah sebanyak orang-orang kantoran atau pengusaha kaya berpenghasilan besar.  Mereka pun tidak punya ilmu agama yang cukup untuk berdakwah di mimbar-mimbar.  Ibadah harian mereka pun mungkin sangat terbatas, sekedar bisa menggugurkan ritual-ritual yang wajib saja sudah bagus.  Mereka mungkin hanya punya kekuatan fisik untuk mengevakusi korban ataupun membantu mengangkat barang-barang di posko atau pengungsian.  Bisa jadi, kesempatan mereka untuk mengumpulkan sebanyak mungkin kebaikan ada di dalam lokasi-lokasi bencana.  Setiap kali manusia berbuat kebaikan, maka kebaikan itu akan terseimpan dalam bentuk energi positif. Apabila perbuatan yang dilakukan sebaliknya, maka dia pun akan tersimpan dalam bentuk energi negatif.  Kedua macam energi itu bisa mencair dan kembali pada pemiliknya.  Energi positif dalam bentuk 4TA (harta, tahta, kata dan cinta) dan energi negatif dalam bentuk bencana dan kemalangan.

 

Terkadang ada yang membanding-bandingkan antara mereka yang terjun langsung ke lokasi bencana dengan yang hanya menyumbang dana, bahan pangan atau barang-barang.  Mereka beranggapan bahwa yang terjun ke lokasi bencana amal sholehnya lebih besar daripada yang sekedar menyumbang donasi.  Sesungguhnya, kita tidaklah mampu mengukur pahala orang lain.  Yang terbaik adalah mengetahui apa yang kita dapat lakukan dan melakukannya, walau dalam pandangan manusia tidaklah besar.  Bantuan sekecil apapun sangat berarti dalam kondisi seperti sekarang ini.  Namun penghargaan atas sekecil apapun kebaikan bukan alasan untuk hanya menyumbang lebih sedikit daripada yang kita mampu.

 

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl:97)

 

Sesungguhnya, apapun yang kita lakukan dan sumbangkan kepada para korban bencana alam tersebut adalah tindakan kerelawanan.  Kerelawanan seharusnya menjadi bagian penting dari gaya hidup kita.  Dari depan komputer kita yang tersambung ke jaringan internet saja sudah tak terhitung banyaknya aksi kerelawanan yang bisa kita lakukan.  Sekedar memberi tahu teman-teman kita mana komunitas, lembaga dan yayasan terpercaya yang bisa menyalurkan bantuan kita pun merupakan aksi kerelawanan.  Di kota-kota besar, banyak sekali orang yang sudah tergerak hatinya untuk peduli pada sesama, namun belum tahu kemana harus menyalurkan bantuan.  Mari kita bantu mereka dan sesungguhnya perbandingan yang paling akurat hanya ada pada pada Allah SWT yang Maha Mengetahui .   "A laisallahu bi ahkamil haakimiin" Bukankah Allah seadil-adilnya hakim? (Qs. At Thiin 8)

 

"Relawan yang baik adalah yang tahu persis apa yang akan dan bisa dikerjakannya. Ketika berada di lokasi bencana ia tidak bingung dan tidak banyak bertanya apa yang mesti dikerjakan, ia bisa melihat kemampuannya sendiri dan menempatkan dirinya secara tepat sesuai kemampuannya itu. Dalam hal ini termasuk para dermawan yang secara ikhlas dan sadar diri tidak terjun langsung ke lokasi bencana lantaran khawatir justru merepotkan tim yang tengah bekerja." Kutipan dari tulisan Bayu Gawtama itu menyadarkan kita bahwa tidaklah terlalu penting di posisi mana kita berada. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana tanggung jawab dan peranan kita dalam posisi tersebut.  Biarpun kita berada jauh dari lokasi bencana namun apabila kita terus bekerja dan menyumbangkan segala yang kita mampu dan punya, maka sesungguhnya kita pun bagian dari para relawan itu.  Semoga Allah SWT yang Maha mengetahui lagi Maha Menilai diri kita membalas dengan balasan yang terbaik dunia dan akhirat. Amiin

 

--------------------------------

 

Kehidupan sering berlaku

dengan cara yang sulit kita mengerti

maksudnya.

 

Tetapi, jika hati kita ikhlas,...

kita akan melihatnya sebagai

CARA TUHAN MENUNTUN KITA

MENUJU JALAN YANG LURUS,

jalan yang diberkati nikmatnya kedamaian

dan kesejahteraan,

dan nikmatnya kewenangan

memimpin kehidupan yang bernilai.

 

Karena ini semua

adalah atas kehendak Tuhan,

marilah kita berlaku lebih patuh.


Mario Teguh

untuk teman-teman yang ingin belajar menjadi seorang Relawan, silahkan menuju album yang satu ini

Selasa, 27 Juli 2010

[Renungan] Tabrak Lari dan kezaliman

Al-Qashah, 28:77. … berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Sore ini saya mendengar kabar duka, seorang supir dari tetangga meninggal dunia karena tabrak lari.  Sebagaimana namanya, tabrak lari adalah suatu tindakan yang tidak bertanggung jawab.  Semua orang yang mendengar kata tabrak lari tentu menyalahkan si pengendara kendaraan tersebut, baik roda dua, empat atau berapapun rodanya.

Namun, sebenarnya apakah ada orang yang sengaja ingin melakukan tabrak lari? Memang, mungkin metode ini bisa jadi merupakan teknik membunuh yang cukup baik karena semua orang pasti akan menganggapnya sebagai kecelakaan.  Tetapi tentu saja sebagian besar pengguna kendaraan di, mulai dari jalan tol sampai jalan kampung bukankah pembunuh sadis berdarah dingin.  Mereka adalah manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan.  Sama-sama manusia berjasad dan memiliki jiwa dan emosi.  Bisa saja saat mengendarai mobil, mereka dalam keadaan lelah, tertekan dan sibuk dengan pekerjaan yang tidak mengenal waktu dan perasaan.

Terkadang, korban atau keluarga korban itulah yang menzalimi pelaku penabrakan secara berlebihan.  Karena merasa diri sebagai korban, mereka menuntut pelaku penabrakan secara berlebihan.  Pengendara kendaraan pelaku penabrakan bisa jadi memang bersalah.  Pelaku memang harus mengganti kerugian dan kerusakan yang timbul akibat perbuatannya. Namun, ganti rugi yang tidak proporsional dan tidak memperhitungkan kondisi dan kemampuan pelaku juga merupakan kezlaiman tersendiri.  

Memang, orang-orang yang terbentuk dari peradaban dengan sistem sosial yang zalim akan cenderung menzalimi sesama.  Segala kejadian diekspoitasi agar menguntungkan diri sendiri walaupun dalam jangka pendek semata.  

Sesungguhnya, kezaliman apapun pasti akan kembali kepada yang melakukannya.  Islam mengajarkan penganutnya apabila dizalimi untuk membalas seadil-adilnya dan/atau memaafkan.  Islam mengajarkan bahwa di atas kebaikan yang setara ada kebaikan yang lebih tinggi.  Kebaikan ini disebut ihsan, artinya berbuat kebaikan kepada mereka yang tidak pantas diberi kebaikan, bahkan yang menzalimi kita.  

Bisa jadi timbul pertanyaan, apakah itu artinya kita memberi terlalu banyak pada mereka yang zalim pada kita? Mungkin sepintas terlihat seperti itu, namun sesungguhnya semua kebaikan kembali kepada yang melakukannya.  Dan yang paling penting, kita tentu ingin agar Allah SWT berbuat Ihsan pada kita. Apabila Dia menegakkan keadilanNya dengan seadil-adilnya, bukan tidak mungkin peluang kita untuk masuk surga selamat dari neraka akan tertutup rapat bagai pintu besi yang dilas sehingga hampir tidak bisa dibuka.

Dari Jarir bin Abdullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah tak bakalan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi manusia." (HR. Bukhari)

Al-Baqarah, 2:224. Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Semoga bermanfaat dan kita terhindar dari kezaliman dan menzalimi orang lain

Related post: Berbuat baiklah sebagaimana Allah SWT telah berbuat baik kepadamu

Minggu, 06 Desember 2009

[Creative Non Fiction] Pak Tua pemungut sampah

Sore itu jalan di kawasan Rasuna Said terlihat agak lengang.  Hari libur membuat jalanan tidak terlalu dipadati kendaraan, tidak seperti hari-hari kerja.  

Aku berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan tersebut.  Langkahku lesu tak bersemangat, dibebani oleh kantong yang hanya terisi sedikit uang.  Yah, uang memang sudah jadi raja saat ini.  Walaupun bukan segala-galanya, namun segala-galanya perlu uang saat ini.  Inilah uniknya kantong, makin sedikit isinya ........ malah makin berat bebannya.

Tiba-tiba mataku bertatapan langsung dengan seorang bapak tua. 

Di tangan kanannya ada sebatang kayu pendek yang dilengkapi besi yang melengkung.  sementara di pundak kirinya, ia memanggul sebuah kantong sampah besar berwarna hitam.  Hitam ...... mungkin sehitam suasana hatinya.

Dia mendekatiku perlahan, dan kuulurkan uang ala kadarnya kepadanya.  Dia lalu bercerita kepadaku, dengan suara yang tidak jelas dan terbata-bata.  Kepedihan tak terkira tergambar di wajahnya.  

"Tuan, ........ minta uang untuk berobat.  kaki perlu diinjek (mungkin maksudnya disuntik) .... uang dari mana tuan?" katanya terbata-bata dibebani emosi yang bergejolak.  Dia lalu memperlihatkan isi kantongnya.  Penuh sampah hasil limbah peradaban moderen seperti gelas pelastik, botol, bungkus rokok dan sebagainya. Peradaban kapitalistik yang memanjakan segelintir mereka punya uang.  Peradaban yang sama, yang menindas dengan kejam orang-orang tersingkirkan, termasuk si bapak yang kutemui saat itu.  

Dia lalu memperlihatkan kepadaku kakinya yang dibalut kain.  Terlihat kain itu tidak lagi steril, lebih mirip baju yang sudah lama tidak dicuci.  "Kata dokter harus dibelek (dioperasi mungkin), ntar gak usah bayar, uang buat obat aja" ceritanya.  "uang dari mana tuan ........" katanya terisak, menyayat hati siapapun yang mendengarnya.  Jika si pendengar masih punya hati yang hidup tentunya.  Yang masih bisa berempati pada sesama manusia, apalagi mereka yang menderita.  

Aku tak kuasa mendengar cerita itu.  Kepedihan hatiku tidak bisa membantu si bapak mungkin tidak seberapa dibandingkan penderitaannya.  Kembali kubuka tas kecilku, pemberian dari sebuah perusahaan pertambangan ternama pada acara Volunteer Gathering yang pernah kuhadiri.  Kuambil lagi sejumlah kecil uang, yang kupunya, kepada si bapak.  Wajah si bapak terlihat lebih baik, walaupun belum cerah.  Dia lalu pergi degan tertatih-tatih, ditopang oleh kedua kakinya.  Kaki yang sebelah sakit dan belum sembuh.  Mungkin tidak akan pernah sembuh.  

Kelelahan dan kelesuanku lenyap sudah.  berganti penyesalan akan betapa lemahnya jiwa ini.  Patah hati yang kualami sesunggunya tidaklah seberapa sakit dibandingkan penderitaan si bapak tua itu.  Tetapi, mengapa begitu mudahnya aku terpukul oleh penolakan gadis yang kuharapkan jadi kekasihku itu? Sungguh suatu kekufuran akan nikmat yang luar biasa.  Semoga Allah SWT masih berkenan mengampuni pengingkaranku tersebut.    

Semoga si bapak diberi ketabahan, dan jikapun kematian datang menjemputnya, itu adalah tanda kasih sayang dari Allah SWT untuk beliau.  Agar mendapat tempat yang layak di sisiNya.  

Kemiskinan memang masih merupakan penyakit kronis yang melanda masyarakat negeri ini.  Negeri yang begitu memanjakan mereka yang kaya raya dan menindas tanpa ampun orang-orang tak berduit.  Seperti bapak tua yang kutemui sore itu.  


Kamis, 01 Oktober 2009

[Renungan] Adakah semua bencana ini kesalahan kita?

dalam satu bulan, dua kali gempa besar : Tasikmalaya (2 September) dan Padang (30 September). Lindungi kami Yaa Allah..

Sahabat,
mari kita membayangkan seorang atasan yang begitu peduli pada kemajuan anak buahnya.  Beliau mengikutsertakan para anak buahnya untuk mengikuti suatu pelatihan yang mahal dan dalam jangka waktu satu bulan, bayangkan pelatihan selama satu bulan.

Sang atasan tidak segan-segan mengeluarkan uang dari kantong pribadinya agar semua anak buahnya bisa ikut pelatihan tersbut.

Nah, mari kita bayangkan apabila ada diantara mereka yang tidak mengikuti pelatihan dengan serius.  Hanya sekedar menganggap acara pelatihan itu tidak ada bedanya dengan piknik atau jalan-jalan, sekedar berlibur lepas dari rutinitas pekerjaan kantor.  Selesai pelatihan, tidak ada peningkatan kinerja pada sejumlah oknum tersebut.  Sungguh, dapat dibayangkan kekecewaan sang atasan atas sikap dan karakter para oknum yang ada diantara anak buanya tersebut.  Bukan tidak mungkin para anak buah yang menyia-nyiakan kesempatan pelatihan itu akan menerima hukuman yang berat dari sang atasan atau institusi tempat mereka bekerja.

Sahabat,

Bulan Ramadhan adalah bulan pelatihan bagi semua kaum muslimin di dunia ini, namun berapa persenkah dari mereka yang benar-benar jadi alumni Ramadhan? Berapa banyakkah dari kaum muslimin ini, yang seharusnya menjadi khalifah di muka bumi, yang berhasil menerapkan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan mereka?

Sahabat,
Bencana-bencana yang datang silih berganti pasca Ramadhan kali ini mungkin merupakan teguran bagi kita semua, yang mungkin belum pantas disebut alumni Ramadhan.  Yang menyia-nyiakan kesempatan training selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan yang baru saja berlalu.  

Sahabat,
Mungkin semua bencana ini adalah teguran bagi kita semua, teguran bagi kita yang performa ibadahnya (baik ibadah ritual atau non-ritual) bukan menunjukkan orang yang pantas masuk bulan Syawal yang bermakna peningkatan, yang ternyata malah menunjukkan kinerja "saya awal" alias sama bahkan lebih buruk daripada sebelum mengikuti pelatihan.

Mari kita ingat kembali firman-firman Allah SWT:

“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”

(QS Ar-Rahman [55]: 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61,

“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya),”

(QS An-Nahl [16]: 53).63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77).
 
Sekali lagi, jangan sampai nikmat fitrah pasca pelatihan Ramadhan ini kita dustai, ingkari dan sia-siakan karena belum tentu kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan. 

Sahabat,
tidak perlu menunggu bencana untuk bertaubat, tidak perlu menunggu Ramadhan tahun depan untuk meningkatkan prestasi ibadah kita.  Mulailah dari yang kita mampu, mulailah dari diri kita sendiri dan mulailah dari sekarang. 

Selalu ada hikmah di balik musibah, selalu ada amanah di balik setiap nikmat dan anugerah.

Semoga bermanfaat

Turut berduka cita atas bencana yang menimpa saudara2 kita di baik di Padang, Tasikmalaya dan di tempat-tempat lainnya.  Semoga mereka yang meninggal dunia diterima amal ibadah serta diampuni dosa-dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat.  Serta bagi yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan oleh Allah SWT

related links

Let's go to Padang dan jurnal yang ini
 

Selasa, 29 September 2009

[Renungan Cinta] Blog Perenungan Cinta

http://perenungancinta.blogspot.com/
Sekedar mengumpulkan tulisan serial Renungan Cinta, yaitu apa yang saya tahu dan bisa renungkan tentang cinta

Semoga bisa menjadi Taman Virtual yang menyejukkan dan menyegarkan bagi siapapun yang sedang jatuh cinta atau kecewa karena cinta

Selamat berkunjung, Semoga bermanfaat

Senin, 28 September 2009

[Renungan] Bulan Syawal atau bulan "saya awal"?

Sahabat sekalian,

Belum lama kita semua merayakan hari raya Idul Fitri, suatu hari yang seringkali dianggap hari kemenangan, hari di mana ktia semua Insya Allah kembali kepada fitrah kita yang sesungguhnya, ........

Kegembiraan kita di hari raya idul fitri memang sesuatu yang wajar, bahkan kegembiraan itu adalah nikmat yang harus disyukuri.  Kegembiraan kita di hari raya tersebut adalah bagaikan wisuda atau kelulusan kita dari sekolah atau perguruan tinggi, begitu besar kebahagiaan kita saat itu telah melalui hari-hari yang panjang penuh perjuangan.   Sekali lagi, tidak ada yang salah dari semua kegembiraan itu, ...

Namun, semua itu bukanlah akhir, ... perjuangan dan perjalanan kita masih panjang dan berat. jangan sampai kita seperti orang-orang yang merayakan kemenangan sebelum perang berakhir.  

Sesudah kelulusan itu, mari kita bertanya pada diri sendiri:

Apa yang sudah kau pelajari selama Ramadhan, apa yang dapat kau jadikan bekal untuk jihadmu di masa yang akan datang.  Akankah kau jadikan bulan Syawal ini benar-benar menjadi bulan peningkatan kualitas dirimu atau malah kembali seperti semula, bulan "saya awal" alias "aku masih seperti yang dulu"

Sahabat,

mari kita jaga nilai-nilai Ramadhan kita pada sebelas bulan setelah itu.  Jangan sampai semangat ibadah kita hanya pada bulan Ramadhan, itupun terkadang hanya malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir di dalamnya.  Kita adalah manusia yang dianugerahi kemampuan berlatih dan belajar dari Allah SWT.  

Iqro bismirabbika ladzi khalaq ........ bacalah dengan nama Rabb-mu yang menciptakan, demikianlah wahyu pertama yang diterima oleh Nabi kita tercinta, Nabi Muhammad Sallalahu alaihi wassalam, yang hakikatnya pelajaran bagi kita juga.  Membaca bukan hanya buku tetapi kehidupan kita sendiri, merenung dan bertanya apa yang telah saya lakukan dan mengapa saya melakukan hal tersebut.  Bila qolbu kita masih hidup, sungguh pertanyaan itu akan membuat air mata kita berlinang.

Air mata penyesalan yang hangat seraya menyucikan jiwa.  

Semua ibadah dalam Islam mengandung nilai-nilai pendidikan, bukan sekadar mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya atau sekedar menggugurkan kewajiban.  Nilai pendidikan dalam ritual ibadah itulah sebenarnya ruh tarbiyah dalam Islam agar umat pemeluknya menjadi khalifah yang berkarakter agung mewakili Rabbnya di muka bumi ini.  Nilai pendidikan itulah yang menjaga jiwa kita dari segala macam kemungkaran dan kejahatan yang hawa nafsu manusia, tanpa kecuali, cenderung kepadanya.    

Sahabat,

jika kita beribadah tanpa menyerap nilai-nilai pendidikan di dalamnya, bukan tidak mungkin pahala yang kita kumpulkan habis sudah untuk membayar kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang kita perbuat, baik karena sengaja atau tidak, baik yang disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan atau kurangnya kekuatan jiwa kita.  

Rasullah pernah mengingatkan para sahabat beliau, yang hakikatnya mengingatkan kita juga, bahwa orang yang muflis atau bangkrut sesungguhnya adalah mereka yang memiliki banyak pahala namun habis untuk membayar dosa-dosanya, terutama dosa pada sesama manusia. 

Apabila pahalanya sudah habis namun masih banyak pihak yang menuntut keadilan pada orang tersebut, maka dosa orang2 yang dia zalimi akan dialihkan kepadanya.  

Nauzubillah min dzalik

Bagi mereka yang pada waktu Ramadhan kemarin kurang maksimal ibadahnya, tidak ada alasan untuk berputus asa karena rahmat Allah Insya Allah akan selalu meliputi kehidupan kita.  Allah SWT sendiri selalu mengingatkan hamba-hambaNya agar tidak pernah berputus asa dari rahmatNya.  

"Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
QS Az Zumar ayat 53

Baik di dalam ataupun di luar Ramadhan, mari kita jadikan setiap saat menjadi saat-saat yang indah, saat kita mencintai Allah SWT, memberkahi sesama dan memperbaiki diri terus-menerus (Loving God, Blessing Others, Self Improvement) agar jangan sampai kita menjadi orang-orang yang merugi dunia dan akhirat.

Insya Allah

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
(QS. Al Ashar 103:1 - 3)

Sekali lagi, mari kita jadikan bulan ini benar-benar bulan Syawal, .......... bukan bulan "saya awal"

Semoga bermanfaat, mohon dimaafkan atas segala kesalahan  

Selasa, 14 Juli 2009

[Renungan Cinta] Hikmah Patah Hati



Ya Tuhanku yang Maha Pengasih
Engkau sahaja pemeliharaku
Dengarkan rintahan hambaMu ini
jangan Kau biarkan ku sendiri
Agar ku dapat bahagia walau tanpa bersamanya
gantikanlah yang hilang tumbuhkan yang telah patah
kuinginkan bahagia di dunia dan akhirat
padaMu Tuhan kumohon segala

InTeam, Doa Seorang kekasih

Sahabat,

Sungguh, di dunia ini tidak ada kata terindah selain cinta.  Namun, sudah tidak terhitung berapa banyak yang menderita karena kata tersebut.  Bahkan ada yang memilih sakit gigi daripada sakit hati karena putus cinta alias patah hati.  

Patah hati bisa jadi adalah anugerah tersembunyi yang diberikan olehNya agar hati kita yang telah mengeras dan membeku menjadi lembut dan peka pada tanda-tanda kekuasaanNya.  Musim dingin tersebut adalah kesempatan bagi kita "berhibernasi" dan berkontemplasi dengan relaks sebagai bekal menghadapi kehidupan yang akan datang.  

Bukan tidak mungkin, orang yang menyebabkan kita patah hati sehingga menderita, nelangsa dan sebagainya adalah "utusan"Nya yang bertugas memaksa kita kembali ke jalan yang benar, jalan yang Dia kehendaki.  setelah tugasnya selesai, biarlah sang "utusan" pergi meninggalkan kita, tidak perlu kita mengejarnya.  Kita tinggal meneruskan perjalanan di jalan yang Dia kehendaki, di mana kebahagiaan yang dijanjikan untuk kita menanti jika kita sabar meniti jalan lurus tersebut.  

Mungkin yang perlu diperbaiki adalah pemahaman kita tentang kesenangan dan ksedihan, yang bagaikan musim semi dan musim dingin.  Sehingga kita menerima datangnya musim dingin kesedihan di hati kita sebagaimana kita menerima kedatangan musim dingin di ladang pertanian kita.  Saat kita tidak bisa menanam apapun di ladang tersebut.

Jika suatu saat kita menemukan cinta yang lain, mudah-mudahan saat itu kita telah menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa.  Suatu pribadi yang lebih siap untuk mencintai dengan Cinta yang lebih banyak mendengarkan, memahami, menghargai dan memberi.  Cinta yang jauh lebih sabar dan penuh kasih sayang.  Cinta yang menghasilkan tabungan emosi positif yang jumlahnya tak terkira.   Cinta yang terpatrikan integritas di dalamnya, yang akan menjadi benteng yang kukuh dan rumah yang nyaman bagi jiwa orang yang dicintai.  Cinta yang benar-benar bisa dipercaya, tidak akan memanipulasi atau berbohong.  

Jikapun kita menuntut sesuatu dari yang kita cintai, yang kita tuntut tersebut bukanlah demi kepentingan atau kesenangan pribadi namun sesungguhnya untuk kebaikan yang dicintai juga.  Tuntutan yang lebih merupakan dorongan rasa tanggung jawab sebagai seorang pencinta yang menjaga kekasihnya dari segala mara bahaya.  Tuntutan yang tidak disertai paksaan, yang tetap dalam koridor penghormatan kepada yang dicintai.  

"The deeper that sorrow carves into your being, the more joy you can contain" demikian kata Kahlil Gibran.  Kepedihan yang kita alami sesungguhnya merupakan petunjuk akan datangnya bahagia.  

When God wants to give you His Wisdom and His Guidance and He finds the door of your heart locked, then He sends you an angel to break your heart so the wisdom and guidance can enter.  The problem is that you chase the angel and you forget and ignore the wisdom and guidance God has given.  

Sungguh, cinta adalah hal teragung yang ada di muka bumi ini dan hanya pantas untuk diberikan kepada Dia yang Kekal Abadi, yang tidak akan pernah mengecewakan para pencintaNya, disertai rasa takut dan harapan padaNya.  

Sebuah nasihat untuk diri sendiri yang sedang patah hati. 

Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membaca  

Inspired by: The Art of Loving, Erich Fromm dan The Prophet, Kahlil Gibran
 
Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49 

Senin, 12 Januari 2009

[Daily Life] Nikmatnya makan kala Hujan



Ahad kemarin, sekitar pukul 2 siang, saya pulang dari tempat teman.  karena di perjalanan Hujan dan perut terasa lapar, saya mampir ke restoran terdekat, kebetulan Restoran Padang (namanya lupa, he he he)

Sambil menunggu hujan yang deras itu reda.  saya membuat merenung  sendiri, sambil makan tentunya, he he he

kapankah manusia bisa puas dengan makanan apa yang ada dihadapannya dan tidak lagi mengingkan milik orang lain untuk dirampas

Kapankah saat hujan deras seperti ini, semua manusia bisa menikmati hidangan mereka masing-masing yang lezat dan bergizi walaupun murah dan sederhana.  

tidak ada lagi yang meringkuk di sudut-sudut kota, tanpa bisa melindungi diri dari derasnya curahan air dari langit dan hawa dingin yang menggigit.  tidak ada lagi yang terpaksa tinggal di pengungsian karena banjir bandang melanda, dimana penyakit bisa merajalela

Tidak ada lagi anak-anak yang jadi ojek payung, menggigil kedinginan sambil menahan lapar saat mencari lembaran-lembaran rupiah yang sudah sangat menurun nilainya akibat inflasi yang tidak berkesudahan. 

contohnya seperti di foto-foto yang ini dan yang ini. 

Hujan, yang sebenarnya merupakan berkat dan rahmat Alloh SWT bagi makhluk-makhlukNya, tentu bisa membuat tempratur menjadi menurun, walaupun di negara tropis seperti Indonesia ini. siapapun yang merasakan hal itu pasti lapar, dan apa yang lebih nikmat apabila sudah lapar selain makanan, walaupun makanan yang murah dan sederhana.  

mungkin bagi banyak diantara kita antar makan dan hujan tidak ada hubungannya, tetapi apabila diteliti dan direnungi lebih mendalam, ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil

Semoga bermanfaat,

btw, mohon maaf kalau fotonya piring kosong.  mau motret makanannya lupa, karena sudah lapar