http://beranibangkit.wordpress.com/2012/02/19/haruskah-selalu-disebabkan-oleh-ketiadaan-khilafah/
banyak sebab lain yang mungkin tdk terpikirkan oleh kita
Tampilkan postingan dengan label syariat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syariat. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 Mei 2012
Minggu, 29 April 2012
SURAT TERBUKA UNTUK WAPRES
Pak Wapres yang terhormat, saya sudah membaca berita tentang pernyataan Bapak mengenai volume suara adzan. Mungkin pak Wapres menyamakan antara adzan dengan puisi atau karya seni sastra yang disampaikan dengan bahasa lembut mendayu-dayu hingga membuat pendengarnya terlena. Sehingga, menurut logika dan nalar pak Wapres, orang akan tersentuh hati sanubarinya dan akan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga saya tidak salah menduga arah pembicaraan pak Wapres.
Pak Wapres, Adzan adalah bagian dari syariat Islam yang sudah jelas ketentuannya. Tujuan Adzan adalah menyeru dan memanggil kaum muslimin untuk melaksanakan sholat wajib lima waktu. Adzan bukan puisi yang ditujukan untuk menyentuh hati sanubari manusia agar terenyuh perasaannya sampai meneteskan air mata, bukan itu. Walaupun bisa saja ada orang yagn tersentuh hatinya dan mendapat hidayah dan petunjuk dengan perantaraan adzan. Tidak ada ketentuan syariat yang mengatur keras atau lemahnya volume adzan. Adzan justru harus diteriakkan dengan lantang sebagai bagian dari ghirah dan izzah kaum muslimin aga emreka bagnkit dan melaksanakan sholat yagn telah tiba waktunya. Perlu pak Wapres ketahui, izzah dan ghirah inilah yang dibenci musuh-musuh Islam, termasuk yang sekarang sedang giat-giatnya mengeruk kekayaan alam negeri kaya raya ini.
Jika kita ingin menyentuh hati manusia, terlebih dahulu kita harus memahami apa yang ada dalam pikrian dan perasaan mereka. Mungkin ada puisi atau karya -karya sastra yang bisa dipergunakan untuk keperluan tersebut, tapi yang jelas bukan Adzan. Lagipula, apakah pak Wapres memahami seperti apa isi hati sanubari sebagian besar anggota masyarakat kita? Banyak yang sudah apatis dan tidak peduli lagi dengan masa depan bangsa ini. Yang penting, apa yang ada di depan mata sikat saja jangan sampai keduluan yagn lain. Maka tidak mengherankan apabila ada orang-orang yang senang minta dibuatkan bon kosong untuk memark-up jumlah uang yang akan digantikan oleh bagian keuangan dari tempat kerja mereka. Ada juga yang minta dibuatkan sertifikat palsu agar bisa mendapat pekerjaan, padahal yang bersangkutan tidak kompeten sama sekali di bidang itu. Masih banyak lagi contoh-contoh yang lain, Pak Wapres.
Jadi pak Wapres, suara adzan yang keras itu masih terlalu lemah untuk mendobrak hati sanubari Bangsa Indonesia yang kotor seperti pembuangan sampah dan keras seperti batu karang. Apatah lagi kalau harus diperkecil volumenya, makin tidak tersentuh lagi hati-hati sanubari tersebut. Yang benar-benar harus dilakukan kini adalah penegakan Hukum yang tegas dan seadil-adilnya. Jika sudah memungkinkan, kenapa tidak sekalian ditegakkan hukum yang telah digariskan dalam Al Quran dan Sunnah Rasul. Jika ada yang mencuri, termasuk mark up anggaran atau pakai bon kosong, dan bukan karena terpaksa karena tidak makan beberapa hari, maka tidak usah ragu pak Wapres, POTONG SAJA TANGANNYA. Jika ada pembunuh yang membunuh dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan syariat dan tidak mendapat pengampunan dari keluarga korban, kenapa tidak DIPENGGAL SAJA KEPALANYA? Jika ada yang berzina padahal sudah menikah, kenapa tidak DIRAJAM SAJA SAMPAI MATI? ketimbang mengurusi adzan yang sudah jelas ketentuannya dalam syariat.
Saya sebagai rakyat biasa hanya bisa berdoa agar pak Wapres selalu dalam lindungan Allah SWT dan tidak sedang menari dengan irama gendang tabuhan musuh-musuh Islam dan ummat Islam, yang pak Wapres sendiri juga bagian dari umat tersebut. Pak Wapres, ummat ini sudah sangat menderita, lahir dan batin. Keinginan untuk memeluk agama yang mereka yakini, yaitu Islam, dengan sepenuh hati seringkali berbenturan dengan peraturan dan perundang-undangan negara dan kepentingan kapitalis tak berbudi dan tanpa hati nurani. Apalagi bagi mereka yang sudah sangat memahami Islam, baik aqidah maupun hukum-hukum syariat di dalamnya, jauh lebih berat lagi tekanan batinnya.
Hanya tulisan ini yang bisa saya buat, semoga Allah SWT yang Maha Kuasa atas segala sesuatu berkenan menyampaikan isi surat ini, entah bagaimana caranya, kepada pak Wapres yang terhormat.
Semoga bermanfaat
Pak Wapres, Adzan adalah bagian dari syariat Islam yang sudah jelas ketentuannya. Tujuan Adzan adalah menyeru dan memanggil kaum muslimin untuk melaksanakan sholat wajib lima waktu. Adzan bukan puisi yang ditujukan untuk menyentuh hati sanubari manusia agar terenyuh perasaannya sampai meneteskan air mata, bukan itu. Walaupun bisa saja ada orang yagn tersentuh hatinya dan mendapat hidayah dan petunjuk dengan perantaraan adzan. Tidak ada ketentuan syariat yang mengatur keras atau lemahnya volume adzan. Adzan justru harus diteriakkan dengan lantang sebagai bagian dari ghirah dan izzah kaum muslimin aga emreka bagnkit dan melaksanakan sholat yagn telah tiba waktunya. Perlu pak Wapres ketahui, izzah dan ghirah inilah yang dibenci musuh-musuh Islam, termasuk yang sekarang sedang giat-giatnya mengeruk kekayaan alam negeri kaya raya ini.
Jika kita ingin menyentuh hati manusia, terlebih dahulu kita harus memahami apa yang ada dalam pikrian dan perasaan mereka. Mungkin ada puisi atau karya -karya sastra yang bisa dipergunakan untuk keperluan tersebut, tapi yang jelas bukan Adzan. Lagipula, apakah pak Wapres memahami seperti apa isi hati sanubari sebagian besar anggota masyarakat kita? Banyak yang sudah apatis dan tidak peduli lagi dengan masa depan bangsa ini. Yang penting, apa yang ada di depan mata sikat saja jangan sampai keduluan yagn lain. Maka tidak mengherankan apabila ada orang-orang yang senang minta dibuatkan bon kosong untuk memark-up jumlah uang yang akan digantikan oleh bagian keuangan dari tempat kerja mereka. Ada juga yang minta dibuatkan sertifikat palsu agar bisa mendapat pekerjaan, padahal yang bersangkutan tidak kompeten sama sekali di bidang itu. Masih banyak lagi contoh-contoh yang lain, Pak Wapres.
Jadi pak Wapres, suara adzan yang keras itu masih terlalu lemah untuk mendobrak hati sanubari Bangsa Indonesia yang kotor seperti pembuangan sampah dan keras seperti batu karang. Apatah lagi kalau harus diperkecil volumenya, makin tidak tersentuh lagi hati-hati sanubari tersebut. Yang benar-benar harus dilakukan kini adalah penegakan Hukum yang tegas dan seadil-adilnya. Jika sudah memungkinkan, kenapa tidak sekalian ditegakkan hukum yang telah digariskan dalam Al Quran dan Sunnah Rasul. Jika ada yang mencuri, termasuk mark up anggaran atau pakai bon kosong, dan bukan karena terpaksa karena tidak makan beberapa hari, maka tidak usah ragu pak Wapres, POTONG SAJA TANGANNYA. Jika ada pembunuh yang membunuh dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan syariat dan tidak mendapat pengampunan dari keluarga korban, kenapa tidak DIPENGGAL SAJA KEPALANYA? Jika ada yang berzina padahal sudah menikah, kenapa tidak DIRAJAM SAJA SAMPAI MATI? ketimbang mengurusi adzan yang sudah jelas ketentuannya dalam syariat.
Saya sebagai rakyat biasa hanya bisa berdoa agar pak Wapres selalu dalam lindungan Allah SWT dan tidak sedang menari dengan irama gendang tabuhan musuh-musuh Islam dan ummat Islam, yang pak Wapres sendiri juga bagian dari umat tersebut. Pak Wapres, ummat ini sudah sangat menderita, lahir dan batin. Keinginan untuk memeluk agama yang mereka yakini, yaitu Islam, dengan sepenuh hati seringkali berbenturan dengan peraturan dan perundang-undangan negara dan kepentingan kapitalis tak berbudi dan tanpa hati nurani. Apalagi bagi mereka yang sudah sangat memahami Islam, baik aqidah maupun hukum-hukum syariat di dalamnya, jauh lebih berat lagi tekanan batinnya.
Hanya tulisan ini yang bisa saya buat, semoga Allah SWT yang Maha Kuasa atas segala sesuatu berkenan menyampaikan isi surat ini, entah bagaimana caranya, kepada pak Wapres yang terhormat.
Semoga bermanfaat
Minggu, 25 Maret 2012
Rumah Fiqih Indonesia
http://www.rumahfiqih.com/
Tempat bagi yang mau belajar fiqih
Tempat bagi yang mau belajar fiqih
Rabu, 19 Januari 2011
Menunggu Wikileaks membongkar pengemplang pajak
Pajak telah lama dijadikan alat untuk memeras rakyat terutama di negara jajahan. Koloni-koloni Inggris yang menjadi cikal bakal Amerika Serikat sekarang pernah melemparkan berpeti - peti teh yang akan dikirim ke Inggris. Dengan menyamar sebagai suku Indian, mereka memprotes pajak yang dibebankan pada mereka dengan cara melempar peti-peti tersbut ke dalam laut di pelabuhan di Boston. Peristiwa itu dikenal dalam sejarah dengan Boston Tea Party.
Contoh lain penerapan pajak yang sangat zalim terjadi di Prancis saat masih berbentuk kerajaan monarki. Pada masa pemerintahan Raja Louis XIV, Prancis banyak berperang dengan negara - negara tetangganya. Biaya peperangan dan tentara diambil dari pajak yang dibebankan pada rakyat yang sudah terhimpit kemiskinan. Para bangsawan dan keluarga kerajaan Prancis waktu itu malah bermewah -mewah di atas penderitaan rakyat. Pajak - pajak yang menghimpit dan membebani jauh di luar batas kemampuan menyebabkan Prancis terbakar Revolusi yang berdarah darah.
Zaman sekarang pun banyak orang yang membayar pajak dengan setengah hati. Mereka seakan tidak rela hasil kerja keras bercucuran keringat mereka harus dipotong pajak yang harus diserahkan kepada nagera. Apalagi dengan terungkapnya berbagai kasus mafia pajak dengan aktornya yang terkenal itu. Orang yang seharusnya dipenjara namun ternyata leluasa berpesiar ke luar negeri. Betapa kecewanya para pembayar pajak yang akhirnya mengetahui bahwa ternyata uang pajaknya hanya terpakai untuk menghidupi para mafia yang hidup bergelimang kemewahan. Sehingga tidak mengherankan apabila ada ulama Islam yang menghukumi pajak sebagai sesuatu yang haram.
Wikileaks
Seakan belum puas menelanjangi aib, kejahatan dan kekejaman negara adikuasa AS dan para sekutunya, situs pembocor berita kontroversial Wikileaks kembali membuat sensasi baru. Mereka berencana membocorkan para pengemplang pajak dari kalangan pemerintahan, korporasi dan selebriti. Situs tersebut juga sedang bersiap - siap mengoyak tabir yang selama ini meliputi sebuah tempat penyimpanan uang haram terkokoh di dunia: SWISS BANK. Pembocornya adalah mantan pegawai salah satu bank di negara yang selalu netral dalam setiap konflik tersebut. Berita selengkapnya ada di situs yang ini
Bank-bank di Swiss sudah lama menjadi rahasia umum dikenal sebagai tempat penyimpanan harta dan uang yang haram, tidak jelas sumbernya atau bahkan berdarah-darah. Bahkan, dalam salah satu adegan film Street Fighter, yang diambil dari sebuah permainan perkelahian yang sangat terkenal di er 90, ada penyebutan bank Swiss. Saat itu Jendral Bison, si diktator yang sadis dan kejam, bertanya pada salah satu anteknya Dee Jay, "apakah mereka sudah men-transfer uang yang diminta ke rekening bankku di Swiss?" begitu kira-kira dialognya.
Z.A. Maulani, dalam buku Zionisme, Gerakan Menaklukkan Dunia, menjelaskan tentang penjualan aset-aset negara oleh para pejabat keuangan. Dalam buku tersebut, ZA Maulani mengutip perkataan Joseph Stiglitz sebagai berikut:
“Kita bisa melihat bagaimana mata para pejabat keuangan di negara penerima bantuan itu terbelalak, tatkala mengetahui prospek ‘pemberian’ 10% komisi beberapa milyar dolar yang akan dibayarkan langsung ke rekening pribadi yang bersangkutan di suatu bank Swiss, yang diambilkan dari harga penjualan aset nasional mereka tadi”. Hal. 199
10 persen dari uang trilyunan memang bukan jumlah yang kecil. Tidak mengherankan apabila Joseph Stiglitz menyebut program Privatisasi itu sebagai Program Penyuapan.
Knight Templars dan Swiss
Harun Yahya dalam bukunya, Knight Templars, menyebutkan bahwa cikal bakal negara Swiss adalah kaum Templars yang melarikan diri dari Prancis saat Raja dan Paus beserta pasukan mereka melancarkan serangan mendadak pada tanggal 13 Oktober 1307. Meskipun sebagian besar ksatria Templars tertangkap dan terbunuh, termasuk Grand Master Jacques de Molay, namun cukup banyak dari mereka yang berhasil melarikan diri. Pengetahuan dan keterampilan kaum templars dalam perbankan, ekonomi dan keuangan sangat mempengaruhi cikal bakal pendirian bank-bank di Swiss. Kemampuan mereka mengelola keuangan para bangsawan Eropa dan segala rahasia yang ada di baliknya adalah cetak biru yang sempurna untuk sebuah benteng penyimpanan harta benda yang kukuh.
Dalam salah satu edisi majalah Eramuslim Digest disebutkan bahwa penggunaan kertas sebagai alat tukar dipelopori para penerus ksatria-ksatria Templars tersebut. Karena didorong oleh keserakahan yang tak kenal batas, para bankir tersebut tergoda untuk mencetak bukti kepemilikan emas lebih banyak daripada jumlah emas yang ada. Toh para pemilik emas itu tidak akan mengambil emasnya sekaligus dalam satu waktu, demikian menurut pemikiran mereka. Begitulah cikal bakal uang kertas yang kita kenal sekarang, yang tidak lebih dari bukti kepemilikan. Kalau zaman dahulu surat itu merupakan bukti kepemilikan emas yang dititipkan di bank-bank warisan para ksatria Templars, uang zaman sekarang benar-benar merupakan ilusi, hanya angkanya saja yang besar. Bahkan nilainya terus menerus digerus inflasi sehingga nilai intrisiknya hampa belaka. Tidak mengherankan apabila banyak orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh dan menumpuk lembaran-lembaran hampa makna tersebut.
Kesimpulan
Sambil menunggu Wikileaks mengeluarkan data-data tentang para pengemplang pajak yang selama ini merusak dan memiskinkan dunia, kita hanya bisa kembali pada diri kita sendiri. Pada akhirnya semua kembali pada pilihan kita masing-masing. Akankah masih menggunakan sistem yang ternyata telah lama direkaya musuh-musuh Allah SWT dan RasulNya atau kembali pada ajaran SyariatNya, termasuk dalam hal keuangan dan muamalah. Kita bebas untuk memilih namun kita tidak bebas untuk memilih konsekwensi dari pilihan kita tersebut.
yang terbaik hanyalah
segeralah bersujud
mumpung kita masih
diberi waktu
du du du du ..
Semoga bermanfaat
Contoh lain penerapan pajak yang sangat zalim terjadi di Prancis saat masih berbentuk kerajaan monarki. Pada masa pemerintahan Raja Louis XIV, Prancis banyak berperang dengan negara - negara tetangganya. Biaya peperangan dan tentara diambil dari pajak yang dibebankan pada rakyat yang sudah terhimpit kemiskinan. Para bangsawan dan keluarga kerajaan Prancis waktu itu malah bermewah -mewah di atas penderitaan rakyat. Pajak - pajak yang menghimpit dan membebani jauh di luar batas kemampuan menyebabkan Prancis terbakar Revolusi yang berdarah darah.
Zaman sekarang pun banyak orang yang membayar pajak dengan setengah hati. Mereka seakan tidak rela hasil kerja keras bercucuran keringat mereka harus dipotong pajak yang harus diserahkan kepada nagera. Apalagi dengan terungkapnya berbagai kasus mafia pajak dengan aktornya yang terkenal itu. Orang yang seharusnya dipenjara namun ternyata leluasa berpesiar ke luar negeri. Betapa kecewanya para pembayar pajak yang akhirnya mengetahui bahwa ternyata uang pajaknya hanya terpakai untuk menghidupi para mafia yang hidup bergelimang kemewahan. Sehingga tidak mengherankan apabila ada ulama Islam yang menghukumi pajak sebagai sesuatu yang haram.
Wikileaks
Seakan belum puas menelanjangi aib, kejahatan dan kekejaman negara adikuasa AS dan para sekutunya, situs pembocor berita kontroversial Wikileaks kembali membuat sensasi baru. Mereka berencana membocorkan para pengemplang pajak dari kalangan pemerintahan, korporasi dan selebriti. Situs tersebut juga sedang bersiap - siap mengoyak tabir yang selama ini meliputi sebuah tempat penyimpanan uang haram terkokoh di dunia: SWISS BANK. Pembocornya adalah mantan pegawai salah satu bank di negara yang selalu netral dalam setiap konflik tersebut. Berita selengkapnya ada di situs yang ini
Bank-bank di Swiss sudah lama menjadi rahasia umum dikenal sebagai tempat penyimpanan harta dan uang yang haram, tidak jelas sumbernya atau bahkan berdarah-darah. Bahkan, dalam salah satu adegan film Street Fighter, yang diambil dari sebuah permainan perkelahian yang sangat terkenal di er 90, ada penyebutan bank Swiss. Saat itu Jendral Bison, si diktator yang sadis dan kejam, bertanya pada salah satu anteknya Dee Jay, "apakah mereka sudah men-transfer uang yang diminta ke rekening bankku di Swiss?" begitu kira-kira dialognya.
Z.A. Maulani, dalam buku Zionisme, Gerakan Menaklukkan Dunia, menjelaskan tentang penjualan aset-aset negara oleh para pejabat keuangan. Dalam buku tersebut, ZA Maulani mengutip perkataan Joseph Stiglitz sebagai berikut:
“Kita bisa melihat bagaimana mata para pejabat keuangan di negara penerima bantuan itu terbelalak, tatkala mengetahui prospek ‘pemberian’ 10% komisi beberapa milyar dolar yang akan dibayarkan langsung ke rekening pribadi yang bersangkutan di suatu bank Swiss, yang diambilkan dari harga penjualan aset nasional mereka tadi”. Hal. 199
10 persen dari uang trilyunan memang bukan jumlah yang kecil. Tidak mengherankan apabila Joseph Stiglitz menyebut program Privatisasi itu sebagai Program Penyuapan.
Knight Templars dan Swiss
Harun Yahya dalam bukunya, Knight Templars, menyebutkan bahwa cikal bakal negara Swiss adalah kaum Templars yang melarikan diri dari Prancis saat Raja dan Paus beserta pasukan mereka melancarkan serangan mendadak pada tanggal 13 Oktober 1307. Meskipun sebagian besar ksatria Templars tertangkap dan terbunuh, termasuk Grand Master Jacques de Molay, namun cukup banyak dari mereka yang berhasil melarikan diri. Pengetahuan dan keterampilan kaum templars dalam perbankan, ekonomi dan keuangan sangat mempengaruhi cikal bakal pendirian bank-bank di Swiss. Kemampuan mereka mengelola keuangan para bangsawan Eropa dan segala rahasia yang ada di baliknya adalah cetak biru yang sempurna untuk sebuah benteng penyimpanan harta benda yang kukuh.
Dalam salah satu edisi majalah Eramuslim Digest disebutkan bahwa penggunaan kertas sebagai alat tukar dipelopori para penerus ksatria-ksatria Templars tersebut. Karena didorong oleh keserakahan yang tak kenal batas, para bankir tersebut tergoda untuk mencetak bukti kepemilikan emas lebih banyak daripada jumlah emas yang ada. Toh para pemilik emas itu tidak akan mengambil emasnya sekaligus dalam satu waktu, demikian menurut pemikiran mereka. Begitulah cikal bakal uang kertas yang kita kenal sekarang, yang tidak lebih dari bukti kepemilikan. Kalau zaman dahulu surat itu merupakan bukti kepemilikan emas yang dititipkan di bank-bank warisan para ksatria Templars, uang zaman sekarang benar-benar merupakan ilusi, hanya angkanya saja yang besar. Bahkan nilainya terus menerus digerus inflasi sehingga nilai intrisiknya hampa belaka. Tidak mengherankan apabila banyak orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh dan menumpuk lembaran-lembaran hampa makna tersebut.
Kesimpulan
Sambil menunggu Wikileaks mengeluarkan data-data tentang para pengemplang pajak yang selama ini merusak dan memiskinkan dunia, kita hanya bisa kembali pada diri kita sendiri. Pada akhirnya semua kembali pada pilihan kita masing-masing. Akankah masih menggunakan sistem yang ternyata telah lama direkaya musuh-musuh Allah SWT dan RasulNya atau kembali pada ajaran SyariatNya, termasuk dalam hal keuangan dan muamalah. Kita bebas untuk memilih namun kita tidak bebas untuk memilih konsekwensi dari pilihan kita tersebut.
yang terbaik hanyalah
segeralah bersujud
mumpung kita masih
diberi waktu
du du du du ..
Semoga bermanfaat
Langganan:
Postingan (Atom)