http://myshant.multiply.com/journal/item/652/
menyebarluaskan rencana lelang utk kesembuhan mbak Imazahra
Senin, 30 April 2012
[Copy Paste] Pidato Presiden Bullshit, eh Bush

PIDATO PRESIDEN BUSH TENTANG INDONESIA ~
Sifat : Rahasia
Waktu : Rahasia
Tempat : Rahasia
Ehm ehm...
Kepada yang terhormat Direktut CIA, FBI, Direktur Bank Dunia, ADB, IMF, CEO Haliburton, Exxon Mobil, Freeport, Bangkir2 Internasional, dan semua yang telah membantu kami membiayai perang Irak, Afganistan, serta menyebarluaskan kakuasaan Imperium global, Direktur media dan televisi CNN, ABC, NBC, yang telah membantu propaganda kita, kami ucapkan terima kasih.
Hari ini adalah hari yang sangat penting karena pada hari ini saya akan melaporkan keadaan Indonesia, negeri yang mayoritas penduduknya islam, yang dulu kita takuti itu, sekarang sama sekali tak berdaya di hadapan kita.
Karena kini tak ada satupun yang perlu kita takutkan dari negeri itu, laporan Intelejen mengatakan bahwa tak ada satupun bahaya potensial yang akan menggangu kepentingan kita di negeri itu.
Kita tidak perlu takut kepada angkatan bersenjata mereka, karena senjata yang mereka gunakan adalah kiriman dari negeri kita, lihatlah ketika kita jatuhkan embargo senjata, tentara- tentara mereka seperti maung ompong ha ha ha ha (penonton tertawa), yang lebih lucu lagi kemarin presidennya sendiri yang memelas pada kita untuk menghentikan embargo itu ha haha. (penonton tertawa).. kasihan-kasihan.
Tak perlu takut pada generasi mudanya, rupanya faham materialisme, budaya konsumtif, hedonisme, individualisme, yang kita ajarkan itu lewat iklan-iklan kita, tayangan-tayangan televisi kita, film- film kita, propaganda-propaganda kita, sudah tertanam pada hati dan pikiran sebagian besar dari mereka, jangankan memikirkan negeri atau umatnya lebih- lebih agamanya, kini mereka hanya memikirkan kesenangan diri mereka sendiri, bayangkan saja Negara semiskin itu penduduknya menempati urutan tertinggi dalam urusan berbelanja baju ke Singapura, mengalahkan jepang, australia, dan cina sekalipun. ha ha ha (penonton tertawa ).
Tak perlu takut tentang pelajar- pelajarnya, karena mahasiswa- mahasiswa terbaiknya selalu kita rekrut dan kita pekerjakan di perusahaan- perusahaan minyak atau tambang kita, dan kita menyuap mereka dengan gaji yang besarnya sama dengan loper koran di negeri kita ha ha ha. ( penonton tertawa ).
Bayangkan orang-orang terbaiknya hadirin. Tak perlu takut kepada pemimpin politik dan pejabatnya, karena sebagian besar dari mereka adalah orang yang gila jabatan dan sangat mudah untuk di suap, untuk uang dan jabatan, mereka bisa kita minta untuk
melakukan apa saja sesuai keinginan
kita. ha ha ha ha ( penonton tertawa ).
Tunggu,tunggu, Ada kabar yang lebih menggembirakan lagi, menurut laporan Intelejen yang saya terima, bahwa umat islam di sana telah terkotak-kotak menjadi banyak kelompok dan golongan. Tiap-tiap kelompok menjatuhkan yang lain dan mengganggap kelompoknya yang lebih baik dari yang lain, ada bibit kebencian yang besar di antara mereka yang dapat kita manfaatkan. sangat mudah bagi Intelejen kita yang berpengalaman untuk mengadu domba diantara mereka.
Hutang mereka sudah sangat besar dan hampir mustahil bisa mereka bayar, 22% APBN mereka habis untuk membayar hutang kepada kita, sehingga mengurangi anggaran pendidikan mereka, kesehatan mereka, dan pelayanan sosial mereka. Sehingga di negeri itu banyak penduduknya yang kelaparan, miskin, sakit dan tak mampu berobat, ini merupakan keuntungan bagi kita. Karena semakin lama jika kondisi tidak berubah, maka akan tercipta generasi yang lemah dari negeri itu. Yang tidak akan mampu melawan kita, seperti yang selama ini kita harapkan.
Kekayaan negeri mereka hampir semuanya kita kuasai, lebih dari 96 % ladang minyak mereka telah kita miliki, tambang batu-bara, tembaga, emas, yang beroperasi di negeri itu hampir semuanya adalah milik kita. Lebih dari itu mimuman-minuman, makanan- makanan, buku-buku, walau banyak yang ngopi, komputer-komputer, software-soffware mereka, walau
banyak yang ngebajak, bahkan odol dan sabun yang mereka gunakan adalah produksi perusahaan2 kita. Ha ha ha (penonton tertawa),
Indonesia merupakan ladang dollar kita yang harus tetap kita pertahankan bagaimanapun caranya, 200 juta lebih penduduk negeri itu merupakan konsumen bagi produk-produk perusahaan kita.
Singkat kata Indonesia telah kalah dari kita baik dari segi Ekonomi, militer, politik, budaya, teknologi, dan lain-lain.
Untuk menjaga agar kondisi ini tetap berlangsung, maka saya sarankan agar lebih mengefektifkan promosi budaya konsumtif dan hedonisme kepada mereka, kepada agen-agen CIA agar
memecah belah umat islamnya, tebarkan kecurigaan dan fitnah di antara mereka, biar mereka terus
berkelahi dan tidak punya waktu untuk melawan Imperialisme kita, terus rekrut generasi muda terbaiknya agar bekerja untuk perusahaan-perusahaan kita, sehingga tidak akan banyak gerakan yang menentang kita.
Sebelum mengakhiri pidato ini, saya ucapkan terima kasih atas kerja sama yang luar biasa ini, kepada seluruh pihak yang telah ikut serta membantu usaha kita, perusahaan-perusahaan Multinasional, Televisi dan Media masa, Bank Dunia, IMF, CGI, Negara-Negara sekutu, Economic Hit Man, Mafia
Berkeley, yang terhormat pejabat korup indonesia. Dan lain-lain, dan lain-lain.
Sekian dan terima kasih.
NB : sifat sangat rahasia, boleh di buka
kepada publik 25 tahun yang akan
datang.
tidak tahu kebenarannya juga masih diRAHASIAkan!!
Sumber : Rahasia juga, eh facebook ding
Minggu, 29 April 2012
Korean Pop (K-pop) Penjajahan Budayakah?
http://wasathon.com/gaya_hidup/read/korean_pop_kpop_penjajahan_budayakah/
Ada apa di balik K-Pop, penjajahan budayakah atau?
silakan menuju link di atas
semoga bermanfaat
SURAT TERBUKA UNTUK WAPRES
Pak Wapres yang terhormat, saya sudah membaca berita tentang pernyataan Bapak mengenai volume suara adzan. Mungkin pak Wapres menyamakan antara adzan dengan puisi atau karya seni sastra yang disampaikan dengan bahasa lembut mendayu-dayu hingga membuat pendengarnya terlena. Sehingga, menurut logika dan nalar pak Wapres, orang akan tersentuh hati sanubarinya dan akan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga saya tidak salah menduga arah pembicaraan pak Wapres.
Pak Wapres, Adzan adalah bagian dari syariat Islam yang sudah jelas ketentuannya. Tujuan Adzan adalah menyeru dan memanggil kaum muslimin untuk melaksanakan sholat wajib lima waktu. Adzan bukan puisi yang ditujukan untuk menyentuh hati sanubari manusia agar terenyuh perasaannya sampai meneteskan air mata, bukan itu. Walaupun bisa saja ada orang yagn tersentuh hatinya dan mendapat hidayah dan petunjuk dengan perantaraan adzan. Tidak ada ketentuan syariat yang mengatur keras atau lemahnya volume adzan. Adzan justru harus diteriakkan dengan lantang sebagai bagian dari ghirah dan izzah kaum muslimin aga emreka bagnkit dan melaksanakan sholat yagn telah tiba waktunya. Perlu pak Wapres ketahui, izzah dan ghirah inilah yang dibenci musuh-musuh Islam, termasuk yang sekarang sedang giat-giatnya mengeruk kekayaan alam negeri kaya raya ini.
Jika kita ingin menyentuh hati manusia, terlebih dahulu kita harus memahami apa yang ada dalam pikrian dan perasaan mereka. Mungkin ada puisi atau karya -karya sastra yang bisa dipergunakan untuk keperluan tersebut, tapi yang jelas bukan Adzan. Lagipula, apakah pak Wapres memahami seperti apa isi hati sanubari sebagian besar anggota masyarakat kita? Banyak yang sudah apatis dan tidak peduli lagi dengan masa depan bangsa ini. Yang penting, apa yang ada di depan mata sikat saja jangan sampai keduluan yagn lain. Maka tidak mengherankan apabila ada orang-orang yang senang minta dibuatkan bon kosong untuk memark-up jumlah uang yang akan digantikan oleh bagian keuangan dari tempat kerja mereka. Ada juga yang minta dibuatkan sertifikat palsu agar bisa mendapat pekerjaan, padahal yang bersangkutan tidak kompeten sama sekali di bidang itu. Masih banyak lagi contoh-contoh yang lain, Pak Wapres.
Jadi pak Wapres, suara adzan yang keras itu masih terlalu lemah untuk mendobrak hati sanubari Bangsa Indonesia yang kotor seperti pembuangan sampah dan keras seperti batu karang. Apatah lagi kalau harus diperkecil volumenya, makin tidak tersentuh lagi hati-hati sanubari tersebut. Yang benar-benar harus dilakukan kini adalah penegakan Hukum yang tegas dan seadil-adilnya. Jika sudah memungkinkan, kenapa tidak sekalian ditegakkan hukum yang telah digariskan dalam Al Quran dan Sunnah Rasul. Jika ada yang mencuri, termasuk mark up anggaran atau pakai bon kosong, dan bukan karena terpaksa karena tidak makan beberapa hari, maka tidak usah ragu pak Wapres, POTONG SAJA TANGANNYA. Jika ada pembunuh yang membunuh dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan syariat dan tidak mendapat pengampunan dari keluarga korban, kenapa tidak DIPENGGAL SAJA KEPALANYA? Jika ada yang berzina padahal sudah menikah, kenapa tidak DIRAJAM SAJA SAMPAI MATI? ketimbang mengurusi adzan yang sudah jelas ketentuannya dalam syariat.
Saya sebagai rakyat biasa hanya bisa berdoa agar pak Wapres selalu dalam lindungan Allah SWT dan tidak sedang menari dengan irama gendang tabuhan musuh-musuh Islam dan ummat Islam, yang pak Wapres sendiri juga bagian dari umat tersebut. Pak Wapres, ummat ini sudah sangat menderita, lahir dan batin. Keinginan untuk memeluk agama yang mereka yakini, yaitu Islam, dengan sepenuh hati seringkali berbenturan dengan peraturan dan perundang-undangan negara dan kepentingan kapitalis tak berbudi dan tanpa hati nurani. Apalagi bagi mereka yang sudah sangat memahami Islam, baik aqidah maupun hukum-hukum syariat di dalamnya, jauh lebih berat lagi tekanan batinnya.
Hanya tulisan ini yang bisa saya buat, semoga Allah SWT yang Maha Kuasa atas segala sesuatu berkenan menyampaikan isi surat ini, entah bagaimana caranya, kepada pak Wapres yang terhormat.
Semoga bermanfaat
Pak Wapres, Adzan adalah bagian dari syariat Islam yang sudah jelas ketentuannya. Tujuan Adzan adalah menyeru dan memanggil kaum muslimin untuk melaksanakan sholat wajib lima waktu. Adzan bukan puisi yang ditujukan untuk menyentuh hati sanubari manusia agar terenyuh perasaannya sampai meneteskan air mata, bukan itu. Walaupun bisa saja ada orang yagn tersentuh hatinya dan mendapat hidayah dan petunjuk dengan perantaraan adzan. Tidak ada ketentuan syariat yang mengatur keras atau lemahnya volume adzan. Adzan justru harus diteriakkan dengan lantang sebagai bagian dari ghirah dan izzah kaum muslimin aga emreka bagnkit dan melaksanakan sholat yagn telah tiba waktunya. Perlu pak Wapres ketahui, izzah dan ghirah inilah yang dibenci musuh-musuh Islam, termasuk yang sekarang sedang giat-giatnya mengeruk kekayaan alam negeri kaya raya ini.
Jika kita ingin menyentuh hati manusia, terlebih dahulu kita harus memahami apa yang ada dalam pikrian dan perasaan mereka. Mungkin ada puisi atau karya -karya sastra yang bisa dipergunakan untuk keperluan tersebut, tapi yang jelas bukan Adzan. Lagipula, apakah pak Wapres memahami seperti apa isi hati sanubari sebagian besar anggota masyarakat kita? Banyak yang sudah apatis dan tidak peduli lagi dengan masa depan bangsa ini. Yang penting, apa yang ada di depan mata sikat saja jangan sampai keduluan yagn lain. Maka tidak mengherankan apabila ada orang-orang yang senang minta dibuatkan bon kosong untuk memark-up jumlah uang yang akan digantikan oleh bagian keuangan dari tempat kerja mereka. Ada juga yang minta dibuatkan sertifikat palsu agar bisa mendapat pekerjaan, padahal yang bersangkutan tidak kompeten sama sekali di bidang itu. Masih banyak lagi contoh-contoh yang lain, Pak Wapres.
Jadi pak Wapres, suara adzan yang keras itu masih terlalu lemah untuk mendobrak hati sanubari Bangsa Indonesia yang kotor seperti pembuangan sampah dan keras seperti batu karang. Apatah lagi kalau harus diperkecil volumenya, makin tidak tersentuh lagi hati-hati sanubari tersebut. Yang benar-benar harus dilakukan kini adalah penegakan Hukum yang tegas dan seadil-adilnya. Jika sudah memungkinkan, kenapa tidak sekalian ditegakkan hukum yang telah digariskan dalam Al Quran dan Sunnah Rasul. Jika ada yang mencuri, termasuk mark up anggaran atau pakai bon kosong, dan bukan karena terpaksa karena tidak makan beberapa hari, maka tidak usah ragu pak Wapres, POTONG SAJA TANGANNYA. Jika ada pembunuh yang membunuh dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan syariat dan tidak mendapat pengampunan dari keluarga korban, kenapa tidak DIPENGGAL SAJA KEPALANYA? Jika ada yang berzina padahal sudah menikah, kenapa tidak DIRAJAM SAJA SAMPAI MATI? ketimbang mengurusi adzan yang sudah jelas ketentuannya dalam syariat.
Saya sebagai rakyat biasa hanya bisa berdoa agar pak Wapres selalu dalam lindungan Allah SWT dan tidak sedang menari dengan irama gendang tabuhan musuh-musuh Islam dan ummat Islam, yang pak Wapres sendiri juga bagian dari umat tersebut. Pak Wapres, ummat ini sudah sangat menderita, lahir dan batin. Keinginan untuk memeluk agama yang mereka yakini, yaitu Islam, dengan sepenuh hati seringkali berbenturan dengan peraturan dan perundang-undangan negara dan kepentingan kapitalis tak berbudi dan tanpa hati nurani. Apalagi bagi mereka yang sudah sangat memahami Islam, baik aqidah maupun hukum-hukum syariat di dalamnya, jauh lebih berat lagi tekanan batinnya.
Hanya tulisan ini yang bisa saya buat, semoga Allah SWT yang Maha Kuasa atas segala sesuatu berkenan menyampaikan isi surat ini, entah bagaimana caranya, kepada pak Wapres yang terhormat.
Semoga bermanfaat
Sabtu, 28 April 2012
Jumat, 27 April 2012
Demokrasi itu MAHAL, Jendral!!
Dalam sebuah talkshow di stasiun TV Swasta, salah satu narasumber menyatakan bahwa demokrasi itu sangat mahal. Kita bisa bayangkan betapa besar biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kampanye seorang calon / kandidat yang hendak menduduki kursi kekuasaan, apakah itu legislatif, executive atau yang lainnya (jika ada). Apakah itu tingkat RT / RW, kabupaten, propinsi hingga negara. Entah berapa rim kertas habis hanya untuk mencetak poster dan pamflet berisi foto si calon beserta visi misinya serta hal-hal lain yang perlu disampaikan. Tidak cukup hanya di atas kertas, di TV dan radio pun iklan si calon juga muncul. Itu yang jujur saja sudah makan biaya yang luar biasa besarnya. Apalagi kalau sudah masuk ke wilayah abu-abu yang berpotensi melanggar ketetapan syariat seperti pembagian uang dan barang dengna tujuan meraih simpati, meningkatkan popularitas dan mempengaruhi rakyat untuk memberikan pilihan pada diri si calon. 
Namun yang seringkali kita saksikan sesudah pemimpin baru terpilih atau incumbent berkuasa kembali, tidak banyak perubahan yang kita saksikan. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, persis seperti lirik lagu.
Satu hal yang mugnkin dilupakan banyak orang adalah bahwa demokrasi memang hanya mementingkan kuantitas dan bukan kualitas. Di kertas suara yang sudah dicontreng atau dicoblos, kita tidak bisa menentukan seberapa tinggi tingkat pendidikan yabng memilih. Apakah dia adalah seorang profesor doktor dengan wawasan yang luas dan ilmu yang dalam atau orang sekelas hanya preman pasar yang gak tahu apa-apa soal politik negeri ini. Apakah dia seorang yang sudah lulus S3 alias doktor atau S3 yang satu lagi, yaitu SD - SMP - SMA. Apakah dia seorang dewasa yang bisa mengendalikan emosi atau ABG labil yang masih mudah dipengaruhi orang lain, apalagi tokoh2 idola yang lagi ngentrend macam girls band atau boys band itu. Masih banyak kemungkinan lain.
Sehingga, untuk memperkenalkan dan mempromosika partai atau calon yang diusung dan digadang-gadang, tim sukses harus menyesuaikan dengan bahasa yang dimengerti banyak orang. Talkshow di TV mungkin efektif buat yang melek politik dan ekonomi, tapi untuk rakyat miskin tentu dangdutan lebih bisa diterima. Urusan yang nyanyi dangdut berpakaian ketat, mengumbar aurat atau berdandan menor itu urusan lain. Apalagi untuk kalangan ABG labil, hadiah tiket gratis nonton boyband asal luar negeri tentu lebih disukai daripada diskusi tentang bagaimana si calon kalau udah kepilih nantinya.
Sedikit ilustrasi di atas tentu sudah cukup untuk memberi gambaran bagi kita betapa mahalnya harga sebuah sistem bernama Demokrasi. Lalu, darimana duit untuk meng-cover semua itu? Kurang tahu juga sih, mungkin dari KORUPSI atau dari pengusaha-pengusaha yang berkolusi dengan pihak-pihak berkuasa atau dengan para kandidat yang sudah punya persetujuan sebelumnya. Darimanapun asalanya, tetap saja tidak membuat harga yang harus dibayar untuk menjalankan demokrasi jadi murah. Dan yang jadi korbannya siapa lagi kalau bukan rakyat miskin, lagi lagi rakyat miskin.
Memang, apapun yang berasal dari peradaban Barat memang mahal. Tidak mengherankan jika negara dunia ketiga yang latah mengikuti Barat tertatih tatih bagai orang yang sudah terluka kakinya tapi dipaksa terus berlari. Rakyat makin lama makin miskin, hanya dibelai sesekali dengan BLT atau dihibur dengan pertunjukan monkey politic alias politik Topeng Monyet yang terus ditayangkan di TV.
Akhrinya, yang bisa saya ingat adalah tulisan dari guru saya, ustadz Ahmad SArwat Lc yang membandingkan antara pesta demokrasi dengan permainan anak-anak jaman dulu, yaitu hompimpa. Biar sajalah para calon yang bersaing itu saling berhompimpa dan yang menang biar saja memimpin. Toh kurang lebih sama saja kan, dipilih mayoritas rakyat yang gak kenal sama pemimpinnya sama dipilih dengan metode hompimpa tadi?
Semoga bermanfaat, mohon maaf untuk yang kurang berkenan
Namun yang seringkali kita saksikan sesudah pemimpin baru terpilih atau incumbent berkuasa kembali, tidak banyak perubahan yang kita saksikan. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, persis seperti lirik lagu.
Satu hal yang mugnkin dilupakan banyak orang adalah bahwa demokrasi memang hanya mementingkan kuantitas dan bukan kualitas. Di kertas suara yang sudah dicontreng atau dicoblos, kita tidak bisa menentukan seberapa tinggi tingkat pendidikan yabng memilih. Apakah dia adalah seorang profesor doktor dengan wawasan yang luas dan ilmu yang dalam atau orang sekelas hanya preman pasar yang gak tahu apa-apa soal politik negeri ini. Apakah dia seorang yang sudah lulus S3 alias doktor atau S3 yang satu lagi, yaitu SD - SMP - SMA. Apakah dia seorang dewasa yang bisa mengendalikan emosi atau ABG labil yang masih mudah dipengaruhi orang lain, apalagi tokoh2 idola yang lagi ngentrend macam girls band atau boys band itu. Masih banyak kemungkinan lain.
Sehingga, untuk memperkenalkan dan mempromosika partai atau calon yang diusung dan digadang-gadang, tim sukses harus menyesuaikan dengan bahasa yang dimengerti banyak orang. Talkshow di TV mungkin efektif buat yang melek politik dan ekonomi, tapi untuk rakyat miskin tentu dangdutan lebih bisa diterima. Urusan yang nyanyi dangdut berpakaian ketat, mengumbar aurat atau berdandan menor itu urusan lain. Apalagi untuk kalangan ABG labil, hadiah tiket gratis nonton boyband asal luar negeri tentu lebih disukai daripada diskusi tentang bagaimana si calon kalau udah kepilih nantinya.
Sedikit ilustrasi di atas tentu sudah cukup untuk memberi gambaran bagi kita betapa mahalnya harga sebuah sistem bernama Demokrasi. Lalu, darimana duit untuk meng-cover semua itu? Kurang tahu juga sih, mungkin dari KORUPSI atau dari pengusaha-pengusaha yang berkolusi dengan pihak-pihak berkuasa atau dengan para kandidat yang sudah punya persetujuan sebelumnya. Darimanapun asalanya, tetap saja tidak membuat harga yang harus dibayar untuk menjalankan demokrasi jadi murah. Dan yang jadi korbannya siapa lagi kalau bukan rakyat miskin, lagi lagi rakyat miskin.
Memang, apapun yang berasal dari peradaban Barat memang mahal. Tidak mengherankan jika negara dunia ketiga yang latah mengikuti Barat tertatih tatih bagai orang yang sudah terluka kakinya tapi dipaksa terus berlari. Rakyat makin lama makin miskin, hanya dibelai sesekali dengan BLT atau dihibur dengan pertunjukan monkey politic alias politik Topeng Monyet yang terus ditayangkan di TV.
Akhrinya, yang bisa saya ingat adalah tulisan dari guru saya, ustadz Ahmad SArwat Lc yang membandingkan antara pesta demokrasi dengan permainan anak-anak jaman dulu, yaitu hompimpa. Biar sajalah para calon yang bersaing itu saling berhompimpa dan yang menang biar saja memimpin. Toh kurang lebih sama saja kan, dipilih mayoritas rakyat yang gak kenal sama pemimpinnya sama dipilih dengan metode hompimpa tadi?
Semoga bermanfaat, mohon maaf untuk yang kurang berkenan
Langganan:
Postingan (Atom)