Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2012

Demokrasi itu MAHAL, Jendral!!

Dalam sebuah talkshow di stasiun TV Swasta, salah satu narasumber menyatakan bahwa demokrasi itu sangat mahal.  Kita bisa bayangkan betapa besar biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kampanye seorang calon / kandidat yang hendak menduduki kursi kekuasaan, apakah itu legislatif, executive atau yang lainnya (jika ada).  Apakah itu tingkat RT / RW, kabupaten, propinsi hingga negara.  Entah berapa rim kertas habis hanya untuk mencetak poster dan pamflet berisi foto si calon beserta visi misinya serta hal-hal lain yang perlu disampaikan.  Tidak cukup hanya di atas kertas, di TV dan radio pun iklan si calon juga muncul.  Itu yang jujur saja sudah makan biaya yang luar biasa besarnya.  Apalagi kalau sudah masuk ke wilayah abu-abu yang berpotensi melanggar ketetapan syariat seperti pembagian uang dan barang dengna tujuan meraih simpati, meningkatkan popularitas dan mempengaruhi rakyat untuk memberikan pilihan pada diri si calon.  

Namun yang seringkali kita saksikan sesudah pemimpin baru terpilih atau incumbent berkuasa kembali, tidak banyak perubahan yang kita saksikan.  Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, persis seperti lirik lagu.  

Satu hal yang mugnkin dilupakan banyak orang adalah bahwa demokrasi memang hanya mementingkan kuantitas dan bukan kualitas.  Di kertas suara yang sudah dicontreng atau dicoblos, kita tidak bisa menentukan seberapa tinggi tingkat pendidikan yabng memilih.  Apakah dia adalah seorang profesor doktor dengan wawasan yang luas dan ilmu yang dalam atau orang sekelas hanya preman pasar yang gak tahu apa-apa soal politik negeri ini.  Apakah dia seorang yang sudah lulus S3 alias doktor atau S3 yang satu lagi, yaitu SD - SMP - SMA.  Apakah dia seorang dewasa yang bisa mengendalikan emosi atau ABG labil yang masih mudah dipengaruhi orang lain, apalagi tokoh2 idola yang lagi ngentrend macam girls band atau boys band itu.  Masih banyak kemungkinan lain.  

Sehingga, untuk memperkenalkan dan mempromosika partai atau calon yang diusung dan digadang-gadang, tim sukses harus menyesuaikan dengan bahasa yang dimengerti banyak orang.  Talkshow di TV mungkin efektif buat yang melek politik dan ekonomi, tapi untuk rakyat miskin tentu dangdutan lebih bisa diterima.  Urusan yang nyanyi dangdut berpakaian ketat, mengumbar aurat atau berdandan menor itu urusan lain.  Apalagi untuk kalangan ABG labil, hadiah tiket gratis nonton boyband asal luar negeri tentu lebih disukai daripada diskusi tentang bagaimana si calon kalau udah kepilih nantinya.  

Sedikit ilustrasi di atas tentu sudah cukup untuk memberi gambaran bagi kita betapa mahalnya harga sebuah sistem bernama Demokrasi.  Lalu, darimana duit untuk meng-cover semua itu? Kurang tahu juga sih, mungkin dari KORUPSI atau dari pengusaha-pengusaha yang berkolusi dengan pihak-pihak berkuasa atau dengan para kandidat yang sudah punya persetujuan sebelumnya.  Darimanapun asalanya, tetap saja tidak membuat harga yang harus dibayar untuk menjalankan demokrasi jadi murah.  Dan yang jadi korbannya siapa lagi kalau bukan rakyat miskin, lagi lagi rakyat miskin.  

Memang, apapun yang berasal dari peradaban Barat memang mahal.  Tidak mengherankan jika negara dunia ketiga yang latah mengikuti Barat tertatih tatih bagai orang yang sudah terluka kakinya tapi dipaksa terus berlari.  Rakyat makin lama makin miskin, hanya dibelai sesekali dengan BLT atau dihibur dengan pertunjukan monkey politic alias politik Topeng Monyet yang terus ditayangkan di TV.

Akhrinya, yang bisa saya ingat adalah tulisan dari guru saya, ustadz Ahmad SArwat Lc yang membandingkan antara pesta demokrasi dengan permainan anak-anak jaman dulu, yaitu hompimpa.  Biar sajalah para calon yang bersaing itu saling berhompimpa dan yang menang biar saja memimpin. Toh kurang lebih sama saja kan, dipilih mayoritas rakyat yang gak kenal sama pemimpinnya sama dipilih dengan metode hompimpa tadi?

Semoga bermanfaat, mohon maaf untuk yang kurang berkenan

Minggu, 01 April 2012

Cara Islami Melawan Panguasa Dholim

http://wasathon.com/humaniora/read/cara_islami_melawan_panguasa_dholim/
Beberapa hari ini, begitu marak aksi-aksi demonstrasi terkait dengan rencana kenaikan harga BBM. Tak hanya di Jakarta, aksi-aksi tersebut juga berlangsung di berbagai kota atau daerah di Indonesia. Tak hanya BBM yang disorot, tetapi juga kepemimpinan dari presiden SBY yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil.



Terkait dengan kritik terhadap pemimpin yang dholim, dalam artian tidak berpihak kepada rakyat kecil, bahkan cenderung menyengsarakan rakyatnya sendiri tentu banyak ragamnya. Sebagai seorang muslim, tentu kita mesti melihat yang demikian ini dengan benar. Bagaimana cara yang Islami dalam melawan penguasa yang dholim. Terkait dengan hal ini, setidaknya ada tiga cara yang bisa dilakukan:

selengkapnya sila ke link

Minggu, 13 November 2011

[Opini] Sebuah keprihatinan terhadap Internet di Indonesia

Internet telah merevolusi cara manusia berkomunikasi dan menyebarkan informasi.  Sebuah pesan yang dahulu memerlukan waktu lama untuk disampiakan kini hanya perlu waktu beberapa menit saja.  Penyebaran informasi yang bisa dilakukan dengan cepat dan mudah ini ternyata tidak mampu diikuti oleh masyarakat penerimanya.  Masih banyak anggota masyarakat yang gaptek dan sama sekali awam terhadap teknologi.  Kemauan untuk belajar menggunakan komputer, meski hanya hal-hal yang paling mendasar, juga hampir bisa dibilang tidak ada.  

Akibatnya, teknologi yang sedemikian canggih dan bermanfaat itu tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk pengembangan pribadi dan kemaslahatan masyarakat.  Sebagian besar penggunaan internet di Indonesia masih berupa hal-hal yang sia-sia seperti bermain games online, berinteraksi berlebihan di jejaring sosial atau browsing tanpa tujuan yang jelas.  Untuk games online, alokasi waktu dan biaya yang disisihkan tidak main-main.  Ada yang bisa bermain sekitar 3 sampai 5 jam sehari dengan menghabiskan uang antara 8.000 sampai 20.000 sekali main. Informasi yang dicari hanya yang bersifat hiburan yang dangkal dan hampa makna.  Hal-hal seperti itu masih dominan dalam penggunaan internet di Indonesia.  Sangat tidak berimbang antara waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk online dengan hasil yang bisa didapatkan. 

Yang lebih memperihatinkan lagi, dalam dunia pendidikan dan sekolah, tugas yang dicari dari internet masih berupa copy paste.  Konten digital di internet memang mudah dicopy paste dan di-print untuk diserahkan pada guru.  Murid sendiri hanya sedikit belajar dari tugas tersebut.  Yang penting, nilai sudah di tangan.  Bahkan terkadang, konten atau gambar yang mencari petugas atau penjaga warnet.  Sehingga, yang bertambah pintar adalah yang jaga warnet, bukan murid yang mendapat tugas.   

Jika dalam mencari informasi saja para penggunana sudah tidak bisa membuat prioritas yang benar, apalagi untuk menjadi pengolah dan penyampai informasi.  Tidak mengherankan saat kemunculan Facebook, banyak blog-blog yang tidak lagi di-update oleh para pemiliknya.  Bahkan ada juga yang sudah lupa password login ke blognya sendiri, seperti orang kehilangan kunci rumah. 

Situs situs di Indonesia pun banyak yang sudah tidak di-update lagi.  Saat dibuka hari ini dengan beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun yang lalu masih sama.  Saat ditanya tentang boleh tidaknya meng-hack situs-situs milik Zionis Israel, ustadz Ahmad Sarwat pernah mengatakan bahwa sebaiknya difokuskan pada pemeliharaan situs-stus kaum muslimin sendriri.   Banyak situs Islam yang jarang atau bahkan tidak pernah di-update lagi oleh para adminnya.  Alasannya sangat klasik sekaligus memalukan, tidak ada cukup dana untuk menjaga kelangsungan hidup situs-situs tersebut.

Padahal, dalam dunia internet, banyak sekali terdapat situs-situs yang menyajikan manfaat yang luar biasa besarnya.  Banyak pakar dan ahli di berbagai bidang telah bekerja keras menyajikan hasil penelitian dan pengalaman mereka.  Banyak pula situs-situs yang berisi beragam artikel dan konten multimedia yang bermanfaat bagi mereka yang mengunjunginya.  Bahkan, para pengguna internet tidak saja bisa menjadi penerima informasi, tapi juga bisa menjadi penyedia informasi.  Munculnya situs-situs yang menyedikan layanan blogging secara gratis, seperti blogger.com, wordpress.com, multiply.com dan sebagainya memungkinkan hal itu terjadi.  Sungguh sangat disayangkan memang.  Sebagian besar dari masyarakat kita tidak siap untuk menghadapi gelombang luapan informasi yang dahsyat ini.  Bukannya menjadi peselancar lautan informasi dunia maya yang sigap, malah seperti korban tsunami yang tergulung ombak tanpa daya dan kekuatan.   

Suka tidak suka, mau tidak mau, internet telah hadir dalam kehidupan kita.  Semua terpulang kembali pada diri ktia sendiri akankah teknologi yang tidak terbayangkan beberapa puluh tahun yang lalu itu akan menjadi manfaat atau mudaharat bagi kita.   

Semoga bermanfaat
 
Referensi
 

http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1197859017

Sabtu, 30 Juli 2011

Pelatihan Menulis Opini

Start:     Aug 14, '11 08:00a
End:     Aug 14, '11 11:30a
Location:     Masjid Al Ghifari, IPB, Bogor
Dapat Info dari Mas Tris semoga bermanfaat

Mencermati aneka permasalahan yang terjadi, kerap mendorong kita untuk menuangkan opini mengenai hal tersebut dan mempublikasikannya di media. Sayangnya, tak jarang opini yang ingin disuarakan tak menjelma menjadi sebuah tulisan yang baik, sehingga tulisa...n-tulisan tersebut hanya menjadi penghuni arsip pribadi saja. Jangan sampai demikian terjadi berkepanjangan. Jangan biarkan opini-opini brilian tak terkemas dalam tulisan yang layak dimuat di media.Inilah kesempatan yang baik di bulan baik, untuk mengasah pena, menajamkan opini, mewujudkan tulisan bernas.. bersama Tim Jurnalistik "Pesta Gagasan" dalam acara yang bertajuk:

P E L A T I H A N M E N U L I S O P I N I

Hari/Tanggal : Ahad/14 Agustus 2011
Waktu : 08.00 - 12.00
Tempat : Masjid Al-Ghifari IPB
Biaya : Rp. 200.000
Fasilitas :
- Kit Pelatihan
- Sertifikat
- Pendampingan menulis hingga tulisan peserta dimuat di media cetak terkemuka

Materi :
a. Mengenal dan menembus media cetak
b. Menulis opini di media cetak
c. Praktek menulis bersama Tim Pesta Gagasan
d. Meraup rupiah dengan menulis opini

Cara Pendaftaran : Transfer biaya pendaftaran ke rekening Bank Syariah Mandiri dengan no.rekg. 1427009939 a.n. Sri Rahmaila. Lalu konfirmasi ke 085694662355 dengan menyebutkan nama, alamat, dan tanggal transfer.

Mari bergegas menuju kebaikan.. !

Rabu, 29 Juni 2011

Mungkinkah meng-EMBARGO DIRI SENDIRI?

Give control over nation economy and I don't care who write its law

Rotschild

Tulisan EMBARGO DIRI SENDIRI yang beredar luas di berbagai blog, situs dan forum internet seakan kembali menyentakkan kesdaran kita akan amanah dan anugerah yang diberiakn Allah SWT keapda bangsa Indonesia.  Sebuah gugugsan kepualauan yang menghiasi katulistiwa bagaikan untaian jamrud yang sangat indah dan berharga.  Belum lagi hasil bumi yagn terkadung di dlaamnya.  Sudah sepantasnya, seluruh rakyat Indonesia hidupa laksana surga di dunia ini.  Kaum muslimin Indonesia memiliki kemampuan besar untuk membantu saudaranya sesama muslim di Palestina dan  tempat-tempat lainnya di dunia ini.  Dengan memandirikan dirinya sendiri, Indonesia akan memiliki kekuatan untuk menekan negara-negara lain baik secara politis ataupun ekonomi.  Sehingga, negara-negara lain pun tidak ada yang berani kurang ajar terhadap kaum muslimin di negara-negara tersebut.  

Namun demikian, masih begitu banyak rakyat negeri ini yang hidupnya sengsara, jauh dari sejahtera apalagi bahagia.  Penduduk Indonesia, terutama kaum musliminnya, terlena oleh berbagai macam hiburan sensasional mulai dari sinetron lebay sampai film-film impor, baik di bioskop atau DVD bajakan.  Mereka yang mampu lebih mengutamakan keinginannya daripada membantu sesama yang membutuhkan.  Sehingga, perbedaan dan kesenjangan antara yang miskin dan kaya seakan sejauh bumi dan langit.  Ada orang miskin yang sampai mati kelaparan dan ada pula yang bisa menghambur-hamburkan urang untuk pesta mewah, rumah megah, kendaraan mengkilap dan lain sebagainya.   Belum lagi para TKI yang terpaksa mengadu nasib di negara-negara orang dengna resiko penghinaan, penyiksaan bahkan pemancungan seperti yang terjadi baru-baru ini.  Sebagian lain ditunjukkan oleh Film dokumenter karya John Pilger, The New Rulers.  Film tersebut memperlihatkan betaapa jauh kesenjangan antara yang kaya dan miskin.  Buruh yang hanya dibayar sedikit untuk setiap produk seperti celana pendek atau sepatu olah raga yang dihasilkan, sementara seorang pegolf profesional dibayar lebih mahal daripada akumulasi gaji para buruh tadi.  Buruh-buruh tersebut tinggal di rumah-rumah petak dengan sanitasi seadanya, di dekat got mampet dan genangan air yang bisa jadi sarang nyamuk.  Bahkan, Pilger sendiri sampai sakit malaria gara gara shooting film di sana.  

Sebuah negara kecil di ujung semenanjung Malaya adalah salah satu pihak yang secara zalim turut menikmati kekayaan aalam Indonesia.  Negara bersimbol singa itu seakan akan jadi surga di dunia untuk para koruptor dan penjahat ekonomi Indonesia.  belum lagi mereka yang membelajankan banyak uang di sana.  Hingga terdenagar seloroh bahwa income terbesar Singapore adalah uang yang dibelanjakan oleh para koruptor Indonesia,  baik dari hasil shopping, rumah sakit, penginapan dan sebagainya.  Singapore bisa terus bertumbuh karena makan uang haram para koruptor, terutama dari Indonesia.  Dalam acara Postcard from Meulborne di radio Lite FM, Nuim Khaiyyat pernah menceritakan bahwa ada orang Singapore yang cerita bahwa mereka bisa menggaji PM dan para menterinya ratusan juta dollar per tahun karena uang hasil korupsi di Indonesia.  Tidak mengherankan pula jika negara Zionis yang sekarang masih menjajah dan menindas kaum muslimin di Palestina seakan-akan kebelet dan ngotot membuka hubungan dengan Indonesia, baik hubungan diplomatik ataupun bisnis.  Manusia-manusia terkutuk yang sudah dilaknat oleh Allah SWT sejak zaman Bani Israil itu tentu saja tergiur untuk mendapatkan kekayaan bumi nusantara ini untuk memperkuat kekuatan mereka agar lebih mampu lagi menguasai dunia.  

Indonesia memang punya peluang besar untuk menjadi negara yang mampu menentukan nasib dunia dengan melimpahnya kekayaan alam yang ada di dalam buminya.  Masalahnya adalah, apakah kekayaan itu benar-benar dikelola sesuai keinginan yang memberi ataukah mau dikantongi tanpa peduli sesama anak negeri.  Sehingga ada yang memelesetkan sebuah lagu nasional menjadi suatu lagu penuh ironi yang menyedihkan

Kulihat ibu pertiwi
saat aku korupsi
air matanya berlinang
aku tidak peduli

Hutan, gunung, sawah lautan
masuk kantong sendiri
biarlah ibu berduka
yang penting aku kaya

EMBARGO DIRI SENDIRI hanya akan menjadi mimpi jika masyarakat negeri ini, baik yang miskin maupun yang kaya, belum mau beranjak kelaur dari zona nyaman mereka.  Yang kaya masih menikmati belanja dan berobat ke luar negeri, sementara yang miskin masih juga belum mandiri.  Yang kaya masih suka menghamburkan harta untuk kesenangan pribadi sementara yang miskin masih saja meminta ke sana dan ke sini.  Padahal Rasul SAW sudah pernah mengingatkan dalam salah satu hadits beliau yang  diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Jami`ul Awshat, Abu Nu`aim di dalam kitab Al-Hilyah dan juga Al-Hakim di dalam Kitab Mustadroknya meriwayatkan, Dari Ali RA, ia berkata : telah bersabda Rosululloh SAW : “Jibril mendatangiku dan berkata : Ya Muhammad hiduplah sesukamu karena engkau akan mati,cintailah siapa yang kamu mau karena engkau akan meninggalkannya, beramallah sesukamu karena engkau akan dibalas dan ketahuilah bahwa kemulyaan seorang mu`min pada qiyamul-lail dan Izzahnya pada kemandiriannya“.



Semoga bermanfaat, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan  

Jumat, 10 Juni 2011

[Opini] Hormat Bendera setengah hati

Penghormatan terhadap bendera sudah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan sudah terlaksana selama beberapa dekade.  Upacara tersebut diadakan dalam rangka menanamkan kecintaan pada negera dan bangsa pada pesertanya, mulai dari anak -anak sekolah sampai pegawai negeri.  Diharapkan, kecintaan pada negera dan bangsa akan terefleksikan pada kehidupan sehari hari, baik di level personal, interpersonal, sosial maupun profesional.  

Namun, entah kenapa sepertinya upacara-upacara yang seringkali diselenggarakan itu hanya sedikit berdampak pada kehidupan masyarakat, kalau tidak mau dikatakan tak bermanfaat.  Prestasi murid sekolah banyak yang buruk, sementara rasa tanggung jawab banyak pelajar seakan tidak terbentuk.  Silakan berkunjung ke warnet terdekat yang ada game online-nya, perhatikanlah tingkah laku dan bahasa yang digunakan anak-anak di sana.  Nama-nama penghuni kebun binatang mungkin tidak ada yang luput untuk diabsen, dengan intonasi yang keras dan kasar.  Mulut memang seperit moncong  teko, apa yang ada di dalam hatinya, itula yang akan keluar dari mulutnya.  Para pegawai banyak yang kinerjanya tidak memuaskan bahkan tidak sedikit yang  terlibat kasus korupsi.  Baik korupsi uang atau korupsi waktu.  Empati dan kepedulian seakan barang langka yang sulit dicari, dilibas nafsu ingin membangun geudng baru atua beli pesawat pribadi.  Sementara itu, kekayaan negeri ini bagaikan hidangan di atas meja makan yang diperebutkan korporasi-korporasi serakah yang berusaha mengeruk keuntungan dengan bahan baku melimpah dan tenaga kerja murah.  Sebagian fakta itu ditunjukkan oleh John Pilgers dalam film dokumenternya, The New Rulers.  

Walaupun demikian, pengkultusan terhadap simbol-simbol tetap saja terus dilakukan walaupun seakan "gak ngefek" pada kinerja dan prestasi baik akademis maupun profesional.  Upacara-upacara penghormatan bendara, yang terkadang diikuti setengah hati oleh para pesertanya, tetap saja diselenggarakan.  Dahulu, saat masih duduk di bangku SMP, saya termasuk yang seringkali berharap agar Sabtu sore hujan turun, agar tidak ada upacara bendera di lapangan yang diselenggarakan setiap Sabtu sore.

Maka, ketika ada sekolah yang enggan menyelenggarakan penghormatan terhadap bendera, para birokrat pun seperti kebakaran jenggot.  Bahkan ada yang bilang bahwa penghormatan terhadap bendera adalah kewajiban bagi siapapun yang tinggal di tanah ini, meminum airnya, menghirup udaranya dan makan dari hasil buminya.  namun, sepertinya Pak Pajabat yang satu ini lupa bahwa di negeri yang salah urus ini, banyak rakyat yang kelaparan dan terjerat kemiskinan.  Bahkan, di situs kompas, diberitakan seorang pemulung ditemukan meninggal dunia karena kelaparan.  Beberapa waktu sebelumnya, seorang tukang becak ditemukan meninggal di becaknya juga karena kelaparan.  Mereka yang melihat tadinya mengira si tukang becak tidur karena kelelahan, padahal memang sudah tak bernyawa.  Apakah mereka meninggal karena tidak menghormati bendera hingga tidak berhak makanan makanan hasil bumi negeri ini atau memang tidak kebagian, kita tahu jawabannya.

Apalah artinya penghormatan pada simbol-simbol negera kalau negaranya bak Neraka bagi rakyatnya yang sudah apatis dan tak bisa berbuat apa-apa.  Apalah artinya penghormatan pada bendera apabila hak-hak rakyat untuk memperoleh kehidupan yang layak tidak dihormati.  Apalah artinya mencintai bangsa dan negara, apabila negera itu sendiri bagaikan ayah yang zalim atau ibu tiri yang kejam untuk anak-anak bangsanya sendiri.  Jangan salahkan rakyat apabila hanya mencintai bangsa dan negara secara setengah hati karena memang pengurus negaranya banyak yang memperlakukan rakyat setengah hati pula.    

Simbol tinggallah simbol, sesuatu yagn indah terlihat dari luar, agung dan gagah terlihat oleh orang lain.  Namun, apabila esensinya hanya dihayati setengah hati, maka simbol akan menjadi sesuatu yang mati.  Monumen kematian sebuah bangsa yang tidak menghargai rakyatnya sendiri.  Negeri yang bahkan membiarkan sbagian dari mereka mati perlahan-lahan di tengah kekayaan alam yang luar biasa melimpah. Bagai ayam mati di lumbung padi.  

Kamis, 18 Februari 2010

[Opini] Untuk apa mengkaji Zionisme?

Salah satu subjek kajian paling kontroversial, rumit dan mengerikan adalah Zionisme. Terkadang ada orang yang mempertanyakan untuk apa subjek seperti itu dikaji habis-habisan. Hari-hari weekend seperti Sabtu dan Ahad yang semestinya untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga malah digunakan untuk mengkaji hal tersebut. Pag-pagi sudah rela untuk ke Masjd atau temapt2 lain untuk mendengarkan ceramah, diskusi, bedah buku atau bahkan demonstrasi untuk mengkaji zionisme.

saya teringat pada suatu saat dalam kesempatan chatting ada yg bilang, mengapa tidak difokuskan ke fiqh dulu. Bisa jadi perkataan ini karena kurangnya pengertian yang bersangkutan pada pentingnya kajian zionsime. Mengkaji fiqh memang kewajiban setiap muslim, minimal sampai dia bisa mengerti dan melakukan hal-hal yang sifatnya individual seperti wudhu, sholat, zakat dan sebagainya. Tidak mungkin semua muslim mengkaji fiqih sampai bisa berfatwa, hal itu adalah kewajiban sebagian dari mereka. Dalam Islam hal itu dikenal dengan istilah Fardhu Khifayah.

Namun, selain mengkaji fiqih, kita juga perlu mewaspadai fenomena yang terjadi di dunai saat ini. Mengapa kaum Yahudi, terutama kalangan zionis, begitu mudah mengendalikan dunia sekehendak hati mereka. Ada apa sesungguhnya dengan mereka, bagaimana mereka bisa sebegitu powerfull seakan-akan tidak ada lagi kekuatan yang bisa membendung apalagi mengalahkan mereka.

Tentu ada yang salah di sini. Mungkinkah bukan mereka yang kuat, namun kitalah yang lebih lemah dari mereka. Sebegitu mudahnya kita dikalahkan oleh diri kita sendiri bahkan sebelum mereka menyerang kita. Bukankah pemilik kekuatan hakiki hanya Allah SWT dan tiada daya dan kekuatan melainkan atas izin dan kehendakNya.

Mengkaji zionisme mungkin bukan merupakah hobby setiap orang namun sepertinya hal itu sudah jadi fardhu khifayah. Apa jadinya umat ini apabila tidak ada yang memperingatkan mereka tentang bahaya infiltrasi dan konspirasi dari kaum zionis.



Mungkin fokus paling penting dalam pengkajian zionisme adalah melihat ke dalam diri sendiri. apakah sifat-sifat mereka, sejak zaman Bani Israil dulu hingga kaum zionis saat ini melekat pada diri kita. Akhlaq buruk dan kedegilan mereka, mulai dari yang dijelaskan dalam Al Quran hingga yang bisa kita saksikan di berbagai media, adakah masih terkandung dalam diri kita ini. Apabila kita belum melihat cerminan sifat dan akhlak kita sendiri saat kita mengkaji zionisme, maka mungkin kita belum mengkaji subjek tersebut cukup dalam.

Zionisme mungkin merupakan subjek yang tidak akan pernah selesai dikaji sampai hari kiamat. Topik-topik seperti simbolisme, Freemasonry, Kabbalah, Illuminati, Protokol of Zion, Holocaust, Orientalisme, Knight Templars hingga yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari seperti kesehatan, pekerjaan, keuangan, olah raga, lifestyle (Food, Fashion, Film dan sebagainya) mungkin akan menjadi sumber kajian yang tidak akan pernah habis dibahas.

Walaupun buku-buku tetnang hal2 tersbut di atas telah banyak beredar, namun jika kita mengkaji subjek itu cukup dalam maka akan selalu ada saja hal2 baru yang kita temukan..... dan percayalah ......... akan banyak kejutan yang sangat mengerikan.


Maka, sudah selayaknya kita menggunakan sebagian waktu dan tenaga kita untuk mengkaji zionisme ini demi keselamatan dan kemaslahatan orang-orang yang kita cintai, yang mungkin sudah masuk ke dalam jaring perangkap konspirasi zionisme yang sudah ditebar sejak zaman dahulu kala.

Semoga bermanfaaat

Untuk mengetahui lebih banyak tentang zionisme, sahabat-sahabat sekalian bisa menyimak kajian Zionisme on air yang disiarkan di radio Islam Sabili 1530 AM setiap Rabu malam jam 20.00 - 22.00

Rabu, 23 September 2009

[Opini] Ngeblog, fesbukan dan LOGOS Spirit

A well-executed blog campaign is not rocket science. It is, however, an act of love. That's what gets in the way for some people. Love is scary stuff.

    * Hugh Mcleod

dikutip dari Wikiquote tentang Blogging

Ada dua kata baru yang tiba-tiba muncul dalam bahasa Indonesia, yaitu ngeblog dan fesbukan.  Namun, apabila kita cari kedua kata itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijamin gak akan ketemu, minimal belum.

Nge-blog itu kegiatan seseorang dalam mengisi atau meng-update blog pribadinya (bisa juga blog orang lain atau blog bersama/group/kelompok, tergantung kepentingan ybs).

Nah, saat blog itu lagi anget-angetnya, eh datang nih saingan yang namanya facebook alias FB (di sini banyak yang nyebut dengan fesbuk).  Ya sudah, banyak blogger yang beralih atau "berselingkuh" ke FB, dan blog-nya jadi kaya rumah kosong.  Namun, yang menyebabkan blog jadi ditinggalkan tentu bukan cuma facebook, masih banyak yang lain, seperti yang ada di tulisan Mas Wib yang satu ini.  Apalagi di Facebook banyak mainan, seperti Mafia War, FarmVille dan macam-macam quiz, mulai dari yang bener sampai yang ngawur-ngauwr. 

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti workshop penulisan yang diisi oleh mbak Helvy Tiana Rosa dan mas Agung "Mbot" Nugroho.  Mbak Helvy sempat mengungkapkan concern beliau akan fenomena facebook yang "membunuh" keinginan orang untuk nge-blog (menulis di blog masing2).  Padahal, yang namanya nge-blog itu kan latihan yang sangat baik bagi mereka yang ingin bisa menulis, bahkan bukan tidak mungkin bisa jadi buku.  Sudah banyak blogger yang isi blognya dijadikan buku, bahkan bukunya laris.

Memang, yang namanya nge-blog lebih perlu effort atau usaha daripada sekedar update status di facebook.  kalau di FB sih tinggal 1 atau 2 kalimat jadi.  kalau nge-blog kan minimal satu paragraf.  Agak repot mungkin mengingat kesibukan kita yang kadang tidak kenal waktu.  Bahkan kadang karena blog engine-nya lagi sepi dan gak banyak komentar masuk, wah tambah malas deh nge-blog.  Mending fesbukan deh, sedikit kalimat kadang komennya banyak.

Walhasil, saya kembalikan saja kepada pribadi masing-masing, yang mau nge-blog silakan, yang mau fesbukan aja juga silahkan, yang mau dua-duanya ya monggo.   

Memang, yang namanya nge-blog dan fesbukan itu memang banyak gunanya namun jangan sampai nge-blog itu sendiri jadi beban, apalagi kalau sampai kecanduan.  Jangan sampai deh

Nge-blog dengan LOGOS Spirit

Logos Spirit adalah kualitas diri yang diharapkan ada terutama pada setiap SEFTer (praktisi Spiritual Emotional Freedom Technique) dan manusia pada umumnya.  Spirit ini terdiri dari 3 hal, yaitu:

1. mencintai Allah SWT (Loving God)
2. memberkahi sesama (Blessing others)
3. memperbaiki diri terus menerus (Self Improvement)

Nah, bila anda sudah cinta sama yang namanya nge-blog alias nulis di blog, maka teruskanlah dengan sepenuh hati, buatlah tulisan2 yang mencerahkan, baik secara spiritual (Loving God) dan emosional (Blessing others).  Jadikan pula blog anda sebagai pemicu perbaikan diri, gak lucu kan kalau tulisan2 di blog anda begitu mencerahkan namun dalam kehidupan nyata, karakter anda tidak seindah yang ada di dalam blog (Self Improvement).     

Jangan lupa, masih banyak kewajiban lain selain nge-blog ya

Namun, apabila anda berhenti nge-blog, setahu saya sih enggak ada dosanya, bahkan lebih baik anda tidak nge-blog tetapi anda menunjukkan hasil pembelajaran anda melalui tingkah laku, karakter dan kompetensi anda sehingga anda tetap bisa "Loving God" atau mencintai dan terus merasa diawasi oleh Allah SWT, "Blessing others" atau memberkahi sesama dan "Self Improvement" atau terus menerus memperbaiki diri, seperti yang diajarkan dalam Logos Spirit-nya SEFT.

Menulis bagi sebagian orang memang bisa menjadi sarana ekspresi dan terapi yang ampuh, namun bagi sebagian yang lain bisa jadi malah jadi beban yang memberatkan (contohnya mungkin seperti jaman SD disuruh mengarang).  Semua manusia memiliki keunikan sendiri-sendiri dan sarana ekspresi mereka tentu saja berbeda-beda.  Namun, selama masih dalam koridor keimanan dan ketaqwaan dan dijiwai oleh Logos Spirit itu tadi, Insya Allah semua akan menjadi berkah bagi sesama.

Semoga bermanfaat

Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49

Jumat, 02 Januari 2009

[Dari Milis] Palestina, Masalah Kaum Muslimin

Assalamualaikum, ada artikel bagus dari milis nih:

PALESTINA MASALAH KAUM MUSLIMIN

 

Musuh-musuh Islam senantiasa berusaha menjadikan masalah Palestina sebagai masalah rakyat Palestina dan bukannya permasalahan kaum muslimin sedunia. Diantaranya dengan mengeluarkan dan menyebarkan opini umum bahwa Permasalahan Palestina merupakan permasalahan rakyat Palestina. Ungkapan ini jika dilihat sekilas, terkesan tidak ada yang aneh. Ungkapan ini memang ungkapan yang sesuai dengan fakta, ungkapan yang benar adanya. Jika masyarakat hanya berkesimpulan seperti ini, maka itu berarti mereka sudah masuk perangkap. Mengapa? Karena ungkapan ini disebarkan agar ungkapan bahwa Permasalahan Palestina merupakan permasalahan kaum muslimin sedunia tidak tersebar menjadi opini umum dunia.

            Hal ini merupakan salah satu strategi bangsa Israel. Pada tanggal 18 Maret 1978, surat kabar "Yadiut Ahronut" mengeluarkan tulisan yang berisi antara lain, "Media Massa Israel hendaknya tidak melupakan hakikat penting yang merupakan bagian dari strategi Israel dalam memerangi orang-orang Arab. Hakikat itu adalah menjauhkan Islam dari pertikaian kita dengan Arab selama 30 tahun. Kita wajib tetap menjadikan Islam dijauhkan dari medan pertikaian itu selama-lamanya.

            David Ben Gurion, Perdana Mentri Israel pertama dan pendiri negara Israel mengatakan, "Kami tidak takut kepada Sosialisme, Revolusionerisme dan Demokrasi di wilayah ini. Kami hanya takut kepada Islam. Kaum muslimin adalah orang-orang yang baru bangkit dari tidur panjangnya."

            Simon Perez, mantan PM Israel mengatakan pada saat kampanye di Israel tahun 1978, "Perdamaian di wilayah ini tidak mungkin terwujud selama Islam masih mengangkat pedangnya. Pada masa depan, kita tidak akan tenang sampai Islam menyarungkan pedangnya selama-lamanya. "

            Coba perhatikan surat kabar saat ini! Konflik antara Hamas dan Israel, bukan konflik Palestina melawan Israel lagi (perhatikan Kompas, Selasa 30 Desember 2008).

            Kalau sudah begini, ruang lingkupnya lebih kecil lagi. Berita ini ingin membentuk opini bahwa konflik bukan lagi antara rakyat Palestina melawan Israel. Berita ini juga mengisyaratkan bahwa eksistensi negara Palestina sudah tidak ada dan yang ada eksistensi Israel.

            Untuk itu, marilah kita juga sebarkan opini bahwa masalah Palestina adalah masalah kaum muslimin. Bukan masalah bangsa Arab, bangsa Palestina apalagi Hamas.

           
arnabgaizir. blogspot. com
arnab20.multiply. com

Semoga bermanfaat ya