Tampilkan postingan dengan label beladiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beladiri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

Yip Man 2

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Saat pulang dari Jakarta Book Fair, saya mampir ke Lotte Mart Ratu Plaza karena perlu membeli sesuatu. Saat itu, di bagian elektronik, ada TV yang menyajikan film Yip Man. Yip Man adalah guru dari Bruce Lee, salah satu pendekar Kung Fu dan bintang film beladiri paling terkenal di dunia. Namun kali ini bukan sang bintang yang jadi fokus perhatian namun gurunya, Yip Man. Yip Man menguasai ilmu beladiri Cina yang bernama Wing Chun. Jika banyak jurus kungfu klasik yang mengambil gerakan -gerakan hewan seperti harimau atau naga, Wing Chun mengambil gerakan manusia. Jadi, wing chun adalah teknik berkelahi manusia. Teknik-tekniknya sederhana namun bisa digunakan secara efektif untuk membela diri.

Berhubung numpang nonton, saya nontonnya tidak lengkap. Tapi cukup untuk mengambil kesimpulan dari film tersebut. Saya akui film itu cukup bagus dan sangat menghibur, namun terlalu banyak yang didramatisir. Karena diambil dari kisah nyata, seharusnya film itu lebih mendekati kehidupan asli sang master. Namun, namanya juga film, gak seru kalau tidak didramatisir dan kurang menghibur kalau tidak ditambahi atau dibumbui. Contohnya adalah saat Yip Man hendak menolong salah satu muridnya yang ditahan para anggota perguruan lain di pasar ikan. Mula-mula Yip Man dan muridnya hanya menghadapi sedikit lawan, sehingga cukup masuk akal bila mereka menang. Namun, makin lama lawan makin banyak sehingga malah jadi seperti film-film kung fu jaman dahulu. Akhirnya, Yip Man dan muridnya malah dikeroyok ratusan orang dan tetap menang. Setidaknya mereka tetap survive karena ada seorang teman yang membantu dan berakhir kompromi. Penonton pun, setidaknya yang cerdas dan kritis, mulai bertanya tanya benar tidak sih kejadiannya seperti itu. Seperti juga saat film mendekati klimaks, ketika Yip Man berhadapan dengan Taylor "The Twister" Milos, sang petinju rasis yang benci dengan orang-orang Cina. Saat itu terjadi perkelahian super dramatis yagn sepertinya tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Mungkin banyak yang meragukan Yip Man mampu bertahan dari gempuran pukulan Twister yang mendarat telak di kepalanya. Para petinju biasanya adalah seorang "professional fighter" yang hidupnya memang untuk bertarung dan tentunya sulit dikalahkan seorang ahli beladiri yang berlatih tidak sekeras mereka. Demikian menurut sebuah artikel dari majalah Beladiri Black Belt yang pernah saya baca. Walaupun tentu saja ada pengecualian, seperti saat Royce Gracie berhasil mengalahkan Art Jimmerson di pertandingan UFC pertama.

Namun, di luar faktor-faktor tersebut, banyak adegan perkelahian yang menarik untuk disaksikan. Teknik-teknik Wing Chun disajikan dengan apik dan mengalir sangat indah. Perkelahian-perkelahian dalam film itu sangat berbeda dengan yang biasa kita saksikan dalam film-film kungfu pada umumnya. Tidak banyak tendangan, apalagi tendangan tinggi dan tendangan sambil melompat yang dilakukan. Tendangan-tendangan yang ada sebagian besar tendangan rendah yang ditujukan untuk melumpuhkan kaki lawan, terutama di sendi lutut. Tidak seperti Taek Won Do dan banyak beladiri lainnya, Wing Chun lebih banyak menggunakan serangan tangan. Pertahanan juga sebagian besar menggunakan tangan. Wing Chun lebih mengutamakan keseimbangan dan mempertahankan "garis tengah" dari tubuh sang praktisi. Adegan latihan dengan Mok Yan Jong atau orang-orangan kayu juga ditampilkan dengan sangat apik dengan suara khas yang timbul dari benturan tangan dengan alat berlatih tersebut. Selain faktor perkelahian dan beladiri, juga ditampilkan seorang polisi korup yang suka terima sogokan dan seorang editor surat kabar yang memiliki keberanian memberitakan kebenaran. Si editor membuat berita-berita tentang kecurangan orang-orang Barat dalam pertandingan tinju yang menyebabkan kematian Hung, rival Yip Man. Konferensi pers penuh basa basi juga disajikan dengan baik, menyajikan kesombongan dan kemunafikan orang-orang Barat dan keberanian orang-orang Cina, terutama Yip Man.

Pesan-pesan kemanusiaan pun disajikan dengan baik, seperti saat Yip Man mengatakan bahwa dia tidak ingin membuktikan mana yang lebih tangguh, ilmu beladiri Cina atau tinju ala Barat. Memang, saat itu HOng Kong masih berada dalam kekuasaan kolonial Inggris. Bangsa Barat, terutama Inggris, menganggap bahwa bangsa Asia lebih rendah daripada mereka. Perbedaan warna kulit membuat bangsa Inggris merasa lebih mulia dari orang -orang Asia. Bisa jadi inilah misi film ini, untuk menggambarkan betapa berat penderitaan orang-orang Cina di bawah kekuasaan kolonial Inggris. Bagaimanapun juga film ini perlu juga disaksikan, baik oleh para pemerhati sejarah atau para praktisi beladiri, apapun alirannya. Namun, nalar kritis dan pikiran terbuka tetap perlu dipertahankan karena bisa dibilang hampir tidak ada film yang tidak mengandung propaganda di dalamnya.

Semoga bermanfaat.


Senin, 18 Juli 2011

Ilmu Kebal ditinjau perspektif Energi Kehidupan

Sungguh merupakan suatu keperihatinan yang mendalam saat mengetahui suatu ormas Islam mempersiapkan dan mengorganisir anggotanya dalam suatu laskar yang dibekali ilmu-ilmu kekebalan.  Menurut mereka, laskar dipersiapkan untuk menjaga keutuhan negera Indonesia serta melawan apa yang selama ini dikenal dengan istilah Terorisme.  Sungguh terasa adanya aroma adu domba di dalam keadaan ini berhubung mereka yang dituduh sebagai teroris pun sebenarnya orang Islam juga.    

Manusia, sebagaimana disebutkan dalam surat At Tiin, telah diciptakan dalam bentuk yang terbaik.  Artinya, manusia memiliki aliran dan keseimbangan energi yang telah dirancang sedemikian rupa oleh penciptanya.  Ilmu kedokteran Cina kuno telah memetakan jalur-jalur energi tersebut dalam ilmu akupuntur, yang disebut Meridian.  Bila dalam saluran energi tersebut ada penyumbatan, maka akan timbul berbagai gangguan baik fisik maupun emosi.  Gary Craig, sang founder Emotional Freedom Technique pernah menyatakan bahwa semua gangguan emosi dan fisik disebabkan oleh terganggunya sistem energi tubuh.  

Ilmu kebal tak ubahnya memadatkan molekul-molekul yang ada di dalam tubuh, serta menghambat sirkulasi energi kehidupan di dalamnya.  Semakin padat suatu benda berarti semakin kecil sirkulasi energi yang berlangsung pada benda itu. Semakin padat suatu benda, berarti semakin terpenjara gerakan energi yang ada di benda itu. Bila pemadatan ini terjadi pada
tubuh manusia, maka sirkulasi energi yang ada di dalamnya akan terganggu.  Timbulnya berbagai macam gangguan fisik dan emosi tinggal menunggu waktu.  Belum lagi gangguan yang terjadi antar manusia karena, walaupun terpisah secara fisik, sesungguhnya semua manusia terhubung satu sama lain dalam bentuk energi.  Seperti sinyal wifi atau handphone atau gelombang radio yang tak terlihat tapi sesungguhnya ada.  

Ilmu kebal tidak pernah dipraktekkan oleh Nabi SAW dan para sahabat.  Dalam berbagai pertempuran, mereka pun banyak yang  terluka, bahkan terbunuh sebagai syuhada.  Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang memang telah dipersiapkan untuk menjadi uswatun hasanah atau teladan yang baik bagi manusia.  Sungguh tidak dapat diterima apabila para manusia tauladan itu ternyata mengalami berbagai gangguan fisik dan emosi yang diakibatkan ketidakseimbangan dan penyumbatan pada sistem energi mereka.  Pilihan ada di tangan kita, teladan manakah yang akan kita ikuti.  

Semoga bermanfaat 

Minggu, 20 Juli 2008

Berlatih Beladiri Praktis Sambil Rekreasi (16-17 Agustus 2008)

Start:     Aug 16, '08 06:00a
End:     Aug 17, '08 3:00p
Location:     Serang, Banten


Untitled


Berlatih Sambil Rekreasi (16-17 Agustus 2008)NEW!


Oleh : BPI Pusat (2008-05-17 11:29:19)


Paket Pelatihan Liburan kali ini akan sangat berbeda dari sebelumnya, pemandangan bumi serang Banten yang indah, sejuk dan natural akan memanjakan mata peserta pelatihan kali ini.Lokasi yang jauh dari keramaian serta simulasi2 petualangan yang menantang seakan-akan siap menyapa semua peserta.

TRAINING:

Self Defense Training
Tujuan : "Ancaman hanya dapat diatasi dengan ketenangan, Ketenangan timbul karena mengetahui apa yg harus diperbuat (Ilmu), sehingga semakin terlatih dan terbiasa seseorang akan tumbuh dengan sendirinya Rasa Percaya Diri yang kemudian melahirkan keberanian untuk melawan".

Adventure Training


Simulasi2 diatas ditujukan untuk menunjang tujuan dari Pelatihan Self Defence.

Biaya Perorangan: Rp.130.000,-

Dgn Fasilitas:


  • Bus, Trainer, Makan 4x, Tiket Lokasi, Pondok & Tenda.


Tambahan


  • VCD Kegiatan(10.000,-)


  • Swimming Pool(10.000)


  • T-Shirt (30.000)


  • Paint Ball (80.000)

Pendaftaran Paling Lambat tanggal:30 Juli 2008


biaya dapat ditransfer melalui Bank Muamalat Cab.Mampang atau jaringan ATM Prima/ ATM BCA/ATM Bersama A/N:DIKI PURNAMA No.Rek:9104900899


Untuk keterangn lebih lanjut, silahkan klik di sini




Minggu, 11 Mei 2008

Pembodohan oleh Video Game???

Pembodohan oleh Game Retro 90-an

Posting kali ini masih ada hubungannya dengan acara nonton bareng Freedom Writers di NEC beberapa waktu yang lalu, namun kali ini tentang hobby lama saya, bermain video game.  Jenis video game yang saya sukai pada saat itu adalah jenis Beat 'em up.  Kisah-kisah game kaya gini biasanya simpel aja, misal ada gerombolan gangster merampok dan menguasai suatu kota.  Pacar sang jagoan diculik dan dia bersama para jagoan lainnya, 2 atau 3 orang berusaha membebaskan sang pacar dan mengembalikan kedamaian di kota tersebut.  Enggak jauh-jauh dari situ.
 

Contohnya seperti game klasik yang ngetop tahun 80-an dan 90-an Double Dragon beserta game-game sequel atau lanjutannya, Double Dragon 2 dst.  Yang juga ngetop diantara para penggemar game seperti itu adalah Final Fight.  Game-game seperti itu biasanya dimainkan di Ding-dong atau di Video Game Console.  Enggak heran apabila pada waktu itu tawuran antar pelajar sekolah menengah (SMP atau SMA) sangat marak di berbagai kota di Indonesia.

Double Dragon

video game

video game

video game

Final Fight

video game

video game

Mengapa saya memberi perhatian lebih kepada dua jenis game ini? Karena yang lain kebanyakan setting-nya di negeri antah berantah seperti Dungeons & Dragons: Shadow over Mystara, The King of Dragons dan Golden Axe atau jauh di masa lalu seperti Warriors of Fate.  Namun, yang dua ini mengambil setting sekitar tahun 80-an atau 90-an di dunia nyata.  Permasalahan Gangster saat itu di Amerika memang sedang menggila, sebagaimana digambarkan dalam film Freedom Writers.  Namun, sang Ibu Guru Erin Gruwell mampu mengatasi masalah tersebut di sekolah tempat dia mengajar dan mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari murid-muridnya.  Erin Gruwell jelas bukan tipe tukang berantem atau berkelahi.  Namun, sebagaimana digambarkan dalam film tersebut, dia mampu memberi solusi kepada para muridnya agar mereka mampu keluar dari keadaan mereka yang memperihatinkan itu.  Usaha Ibu Erin Gruwell atau Mrs. G dan para muridnya terdokumentasikan dalam buku The Freedom Writers Diary: How a Teacher and 150 Teens Used Writing to Change Themselves and the World Around Them   Jadi jelaslah sudah, kekerasan bukan solusi dari masalah gangster tersebut.  Cara yang digunakan Mrs. G tentunya dapat juga dipergunakan di negeri tercinta kita ini, Indonesia.  Tentu perlu disesuaikan dengan keadaan masyarakat kita ini.

 

Terus, siapa sih yang punya ide bahwa 1, 2 atau 3 orang jago beladiri bisa langsung turun ke jalan dan menghajar para gangster tersebut, setelah itu selesai persoalan?? Tentunya kaum Kapitalis yang ingin segera menangguk keuntungan di air keruh tanpa peduli pembodohan yang mereka lakukan kepada para pemain game tersebut.  Mungkin masih segar dalam ingatan kita bagaimana anak-anak saling banting membanting tanpa berlatih terlebih dahulu gara-gara nonton acara gulat bohong-bohongan (mereka mana tahu bahwa gulat itu cuma bohong-bohongan dan udah ada script-nya) yang namanya Smackdown itu.  Di Tempo Interaktif, ada berita yang menceritakan bahwa Komnas Perlindungan Anak  sudah minta tanggung jawab World Wrestling Entertainment (WWE) yang ngadain acara Smackdown itu tadi.  Namun, dasar kapitalis, mereka menolak bertanggung jawab dan, melalui jubirnya, berdalih bahwa masih banyak acara-acara dan hiburan-hiburan lain yang juga mengandung kekerasan.  Emang banyak sih, termasuk juga  yang gambarnya ada di bawah ini nih *nunjuk ke bawah*

video game

Gambar di atas adalah seri terbaru Game Final Fight yang saya bahas di atas barusan, Final Fight: Streetwise (Streetwise artinya hati-hati di jalan, jangan macam-macam).  Tokohnya memang sudah beda sih, namun ceritanya masih nyambung.  Hal ini membuktikan bahwa game jenis Beat 'em up belum mati.  Jadi, kita harus hati-hati, terutama bagi rekan-rekan MPers yang punya anak atau adik laki-laki. Mungkin melarang 100% belum mungkin, tetapi minimal ada beberapa hal yang bisa dicoba, diantaranya:

  1. Mendisiplinkan anak-anak agar bila main game jangan berlebihan.(mungkin gak ya, saya pernah lihat anak kecil nangis-nangis karena, menurut perkiraan saya, gak bole main game online di warnet).

  2. Menumbuhkan kepedulian sosial anak-anak dengan mengajaknya ikut kegiatan baksos, misalnya, agar mereka bisa melihat orang-orang yang lebih menderita dari mereka dan timbul rasa empati dalam hati mereka.

  3. Mengikutsertakan anak-anak dalam latihan bela diri, bukan untuk jadi jagoan, tetapi untuk mengetahui kelemahan diri sendiri, sehingga mereka tidak sombong dan tahu kebohongan dalam game-game di atas.  Tentunya yang Islami seperti Beladiri Praktis Indonesia

  4. Mengajari anak-anak anatomi tubuh manusia, sehingga mereka tahu bahwa gerakan-gerakan tertentu dalam perkelahian bisa menimbulkan cedera yang serius, kecacatan bahkan kematian (hati-hati, jangan sampai nanti malah disalah gunakan)

Sebenarnya masih banyak kiat-kiat membentengi anak-anak dari media yang berpotensi merusak kehidupan dan masa depan mereka. jika rekan-rekan memiliki kritk, saran atau kiat-kiat yang bisa dibagi, dipersilahkan me-reply di kotak yang sudah disediakan (oleh Multiply dot com, he he he).
Semoga bermanfaat, terutama bagi yang sudah diamanahi oleh Alloh SWT calon-calon generasi penerus dakwah dan pembela agama, bangsa dan negara Indonesia.

 

Selasa, 08 April 2008