Tampilkan postingan dengan label infaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label infaq. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Agustus 2010

[Renungan Kemerdekaan] Merdeka dari Mall, mungkinkah?

Jakarta telah berkembang menjadi salah satu kota metropolitan yang sangat bsar.  Nuansa hiruk pikuk kapitalisme menyelimuti keseharian warga penghuninya setiap hari.  Konsumerisme adalah bahan bakar mesin ideologis bernama kapitalisme.  Iklan-iklan dan promosi-promosi seakan menjadi minyak pelumas dari mesin ideologis tersebut.  Segala hal tersebut menjejali bawah sadar para penghuni Kota Jakarta tanpa hentai setiap hari.  Para perodusen bertarung mati-matian untuk memperebutkan kue bernama keuntungan material yang berasal dari kantong para konsumen. Harta yang diperoleh dengan kerja keras habis ludes tak bersisa akibat terbuai bujuk rayu para produsen barang dan jasa pengekor ideologi kapitalisme tersebut.  Promosi dan iklan seakan janji suci yang tak terbantahkan akan kesejahteraan dan kenyamanan hidup duniawi yang fana dan sementara ini.  

Untuk mendistribusikan sekaligus memasarkan barang-barang itu, dibuatlah berbagai tempat perbelanjaan yang membuat para pengunjungnya betah berlama-lama.  Selama berada di mall-mall tersebut, pikiran dan jiwa mereka terus menerus dipengaruhi oleh segala macam promosi yang ada.  Pendingin udara yang memenuhi seluruh Mall seakan melindungi para pengunjungnya dari sengatan terik mentari yang membakar bumi di luar sana.  Perbandingan antara Mall dengan taman kota sudah sulit untuk diperhitungkan lagi.  Taman-taman kota di Jakarta mungkin bisa dihitung dengan jari, sedangkan jumlah mall mungkin harus dihitung menggunakan kalkulator atau komputer yang canggih.  Taman kota hanya fragemen-fragmen kecil dari keseluruhan ruang di ibukota ini sedangkan Mall sudah memenuhi sekian puluh persen tanah yang ada.  Padahal, taman kota adalah tempat wisata yang murah meriah.  Bagaikan ibu yang memeluk anak-anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa membeda-bedakan status sosial, kekayaan, ras dan sebagainya.  Sedangkan Mall adalah seorang pesolek angkuh yang hanya mau melayani mereka yang berstatus sosial tinggi atau yang berkantung tebal entah uangnya halal atau haram.   Sementara itu, tidak jauh dari pusat-pusat perbelanjaan tersebut, anak-anak jalanan mencoba mengais-ngais sedikit remah-remah peradaban.  Mereka menjadi ojek payung bila hujan tiba, ada pula yang mengemis sekedar meminta belas kasihan para pengunjung mall yang tentunya punya uang banyak itu.  

Ciri orang-orang yang sudah terjajah peradaban materialistik adalah lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan.  Mereka lebih senang menggunakan harta hasil kerja keras mereka untuk memenuhi keinginan hawa nafsu duniawi mereka.  Padahal, menurut Kang Zen, Keinginan" yang terpenuhi seringkali justru menghadirkan banyak masalah baru, sedangkan "Kebutuhan" yang terpenuhi akan menyelesaikan banyak permasalahan. Boleh jadi, jika 30% saja terpenuhi dari semua keinginanmu maka bersiap2lah mendapatkan masalah 3 kali lipat lebih berat dari biasanya. Allah SWT berfirman: "Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu.. (Q.S. 2:216)".  Banyak dari mereka juga enggan membantu orang lain memenuhi kebutuhan hidup orang lain.  

Sebaliknya, salah satu ciri orang-orang yang sudah terlepas dari belenggu materialisme adalah kesungguhan mereka dalam ber-shadaqoh, walaupun tidak selalu berwujud pengeluaran harta.  Shadaqoh berasal dari kata sadaq yang berarti membenarkan.  Maksud dari istilah tersebut adalah orang-orang yang mengeluarkan hartanya untuk membuktikan kebenaran janji Allah SWT dalam Al Quran.  Mereka juga bershadaqoh dengan waktu, tenaga dan segala yang mereka miliki.  Salah satu faktor pembebas mereka dari penjajahan materialisme adalah pemahaman yang benar tentang infaq. Infaq berasal dari kata nafaqa yang berarti mengeluarkan, infaq berarti pengeluaran atau belanja.  Pengeluaran atau belanja untuk diri sendiri disebut nafaqa yang menjadi kata serapan dalam bahasa Indonesia menjadi nafkah.  Sedangkan, pengeluaran harta untuk membantu orang-orang yang membutuhkan disebut Infaq.  

Para penjajah asing mungkin secara formal sudah tidak ada lagi di negeri kaya raya ini. Namun, penjajahan yang dilakukan sesama bangsa seakan langsung muncul sesudah para penjajah asing itu pergi.  Kemerdekaan yang sudah dianugerahkan oleh Allah SWT melalui darah, keringat  dan air mata para pahlawan seakan-akan tidak berharga sama sekali.  Kemerdekaan itu seakan-akan legitimasi untuk memperturutkan segala macam yang diinginkan hawa nafsu dan ego manusia.  Selama manusia Indonesia masih terjajah oleh paham kapitalisme materialistik itu, maka "kamp-kamp konsenterasi" bernama Mall itu akan terus ada dan memenuhi mungkin sebagian besar tanah di Jakarta dan kota-kota lainnya di bumi nusantara tercinta ini.

Memang, negara yang terjajah oleh bangsa lain saat ini mungkin hanya Palestina dan Iraq. Palestina dijajah kaum Zionist Laknatullah dan Iraq dijajah Amerika, si Polisi Dunia.  Namun, hampir semua bangsa di dunia ini sebetulnya sedang dijajah saudara sebangsanya sendiri.  Penjajahan tersebut berwujud ketidakpedulian dan keegoisan serta memperturutkan hawa nafsu pribadi.  Penjajahan memang tidak selamanya tidak menyenangkan.  Para penduduk Gaza dan wilayah-wilayah lain di Palestina malah bisa lebih dekat pada Allah SWT selama dijajah Zionis sedangkan di negeri kita banyak yang berpaling dari agama karena dijajah Mall dan kapitalisme


Semoga siapapun yang membaca tulisan ini tergerak untuk memerdekakan minimal dirinya sendiri dari penjajahan yang enak itu serta memutuskan rantai ketidakpedulian pada sesama, minimal yang membelenggu dirinya sendiri.  

Referensi:

Jumlah Mall di Jakarta sudah tidak ideal

Menyikapi Kebutuhan Keinginan dan Tawakkal


Note: untuk yang ingin segera infad dan bersedekah, silahkan catat nomor berikut, pasti diperlukan kalau lagi niat infak atau sedekah: 021-7414482 atau SMS 0813 15 6000 78 (ACT), Insya Allah siap dijemput. atau langsung ke rekening BCA 676 030 3818 - Permata Syariah 0971 001 224 atas nama Yayasan Aksi Cepat Tanggap

Ladang Amal Ramadhan 2010:

Baksos Multiply Indonesia 2010 di LP Wanita Pondok Bambu, dengan tema: MULTIPLY INDONESIA GOES TO LAPAS, info klik di sini

Pesantren Kilat Edufasting by Komunitas Lebah di PESANTREN KILAT KOMUNITAS LEBAH (EDUFASTING) tgl 28-29 agustus 2010 di hostel Pradana SMK 57 & Jl Margasatwa, Ragunan, Jaksel. Info klik di sini

LEBAY (Lebaran Bareng Anak Yatim) bersama Aki Nini pemetik daun teh di Desa Tugu, Bogor by Yayasan Sahabat Peduli Generasi Mandiri.  Insya Allah akan dilaksanakan tanggal 12 September 2010, H+3 Lebaran. Info klik di sini


Semoga bermanfaat,  

Minggu, 08 Februari 2009

[Daily Life and Social Issues] Renungan setelah ditegur petugas keamanan

All human beings have an innate skill — survival skill. The fact that poor are still alive is a proof of their ability to survive. We do not need to teach them how to survive. They know this already.

Muhammad Yunus

(Profile at North American Bangladesh Info Center )


Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke suatu pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Pusat.  Di satu tempat di mall tersebut, ada sekelompok orang sedang membongkar hiasan-hiasan yang mewah.  Karena bawa HP berkamera, saya iseng memotret.  Yang membuat saya tertarik untuk memotret adalah karena keluarga tersebut menyewa sepertinya menyewa tempat yang lumayan luas di sebuah mall di Jakarta.  

Memang, entah kenapa hampir tidak ada hal yang menarik bagi saya selain perbedaan antara kaum aghniya/kaya dan kaum dhuafa/miskin.  Mungkin pengaruh lagu-lagu Iwan Fals yang saya gemari saat masih duduk di bangku SMP dulu.  

Namun, aksi paparazi yang saya lakukan itu ternyata tidak sukses.  Seorang petugas keamanan yang berbadan tinggi dan tegap menghampiri saya.  Dengan ramah namun tegas beliau bertanya "Bapak siapa? ada perlu apa memotret di sini?".  

Beliau lalu mengatakan bahwa apabila kita ingin memotret untuk kenang-kenangan keluarga atau yang lain, diminta terlebih dahulu melapor ke petugas keamanan.  Saya hanya bisa mengakui kesalahan saya dan terus terang mengatakan bahwa saya tidak tahu bahwa ada peraturan seperti itu.  Untung masalahnya tidak berkepanjangan.  

Sambil pulang ke rumah, saya merenungi kejadian tadi.  Memang kurang etis memotret sembarangan seperti itu, bukankah semua orang punya privacy yang harus dihargai?

Namun, perbedaan antara kaum kaya dan kaum miskin itu tetap terpatri di pikiran saya.  Tidak jauh dari pusat perbelanjaan tadi, ada kehidupan lain yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di dalam mall tadi.  

Satu hadits yang muncul dari alam bawah sadar saya saat itu adalah:   

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)

Hadits saya copas dari situs ini

Hadits di atas menggambarkan orang-orang yang banyak beramal sholeh tetapi juga membawa dosa-dosa yang terjadi dalam interaksi sosial sesama manusia seperti menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain.  Hal itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat kita bergidik ngeri membayangkan akibatnya.  

Bagaimana lagi dengan orang-orang yang amal sholehnya bisa dibilang hampir tidak ada dan menghabiskan masa hidup mereka yang hanya beberapa waktu saja di dunia ini dengan berfoya-foya, menghamburkan umur, harta dan sebagainya tanpa mau berbagi pada sesama.  Tentu akan jauh lebih mengerikan lagi akibatnya.  

Bayangkan perasaan orang-orang miskin tersebut saat ada orang yang berkata "Ibu-ibu, Bapak-bapak sekalian, maaf saya belum bisa membantu meringankan beban penderitaan anda sekalian.  Kami ingin terlebih dahulu memuaskan hawa nafsu kami untuk bermewah-mewah.  Kami ingin merayakan terlebih dahulu ulang tahun anak-anak kami atau pernikahan kami dengan pesta-pesta yang megah terlebih dahulu.  Ibu bapak sekalian bersabar dulu saja ya.  Kalau ada yang mati kelaparan, yah anggap aja sudah waktunya"

Tentu saja tidak ada orang yang cukup sinting untuk mengatakan kata-kata menyakitkan itu tepat di depan muka orang-orang miskin, jika tidak mau kehilangan nyawa.  

Namun, kata-kata seperti itu seakan-akan diucapkan melalui kemewahan biasa yang dipertontonkan orang-orang kaya, baik secara langsung atau melalui saluran penyedia informasi seperti TV atau internet.  Gedung-gedung tinggi menjulang angkuh sementara disekitarnya orang-orang miskin melihat dengan pandangan mata nanar sampai menahan lapar melihat orang-orang kaya berlalu lalang dengan atau tanpa sadar memamerkan kemewahan yang mereka miliki.

dalam sejarah kita mengenal dua peristiwa yang mengerikan, Revolusi Perancis atau Revolusi Rusia.  Memang benar kedua revolusi itu tidak akan terjadi tanpa campur tangan secret societies yang mendominasi percaturan politik di kedua negara tersebut.  Namun, tanpa adanya jurang pemisah yang luar biasa besar antara kaum kaya dan kaum miskin, sulit membayangkan kedua revoulsi itu akan terjadi.  

Kemewahan memang melumpuhkan empati, kenyamanan memang melenakan jiwa.  Jarang sekali ada orang yang mau benar-benar belajar dari orang-orang miskin dan benar-benar memahami mereka seperti Muhammad Yunus.  Muhammad Yunus mempercayai bahwa manusia memiliki kemampuan inheren untuk mempertahankan kehidupannya.  Fakta bahwa orang miskin masih ada sudah cukup bagi beliau untuk percaya bahwa kaum miskin memiliki kekuatan yang cukup untuk mempertahankan hidup mereka.  

Lebih jauh, Muhammad Yunus dengan tegas menyatakan bahwa kemiskinan tidak diciptakan oleh orang-miskin.  Jadi kita tidak boleh menuduh mereka.  Kemiskinan sesungguhnya diciptakan oleh sistem sosial dan ekonomi yang kita desain untuk dunia ini.  Institusi-institusi yang telah kita buat dan kita banggakan itulah yang menciptakan kemiskinan.

(Here is my explanation. Poverty is not created by people who are poor. So we shouldn't give them an accusing look. They are the victims. Poverty has been created by the economic and social system that we have designed for the world. It is the institutions that we have built, and feel so proud of, which created poverty.)

ELIMINATING POVERTY THROUGH MARKET-BASED SOCIAL ENTREPRENEURSHIP by Muhammad Yunus

Apapun sistem politik dan pemerintahan yang ada di suatu negera, apabila masih ada jurang pemisah yang lebar antara kaum kaya dan kaum miskin, sungguh kerusuhan dan kehancuran tinggal menunggu waktu untuk terjadi.   

Semoga bermanfaat

Kata-kata Muhammad Yunus diambil dari situs ini



Then said a rich man, "Speak to us of Giving."

And he answered:

You give but little when you give of your possessions.

It is when you give of yourself that you truly give.

For what are your possessions but things you keep and guard for fear you may need them tomorrow?

And tomorrow, what shall tomorrow bring to the over prudent dog burying bones in the trackless sand as he follows the pilgrims to the holy city?

And what is fear of need but need itself?

Is not dread of thirst when your well is full, thirst that is unquenchable?


By Kahlil Gibran in The Prophet