Tampilkan postingan dengan label masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masyarakat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juli 2012

Orang Miskin Tidak Selalu Malas


"Orang miskin itu karena salahnya sendiri dia malas bekerja. Jadi bukan salah siapapun kalau ada orang miskin,"
Marzuki Ali, Ketua DPR-RI
berita dari situs ini

Pagi itu masih gelap pekat, walaupun adzan subuh sudah berlalu dan orang-orang yang shalat berjamaah di masjid-masjid sudah bubar. Saya, sesudah sholat berjamaah di masjid, tidak langsung pulang. Saya masih menikmati segarnya udara pagi di kota kembang Bandung saat itu. Dari arah yang berlawanan, tampak beberapa orang ibu-ibu yang akan berjualan sayuran di pasar dekat Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Pasar itu terletak di dataran yang lebih tinggi daripada tempat di mana saya berpapasan dengan mereka. Jarak dari tempat tersebut dengan pasar tujuan mereka masih cukup jauh dan mereka harus melalui jalan mendaki yang cukup curam. Terbayang oleh saya, betapa beratnya perjuangan mereka saat menyambung hidup hari ke hari. Setiap hari harus berjalan sambil membawa dagangan yang banyak dan berat serta harus melalui jalan terjal mendaki. Bagaimana mungkin orang-orang seperti itu bisa dibilang malas?

Para ibu penjual sayuran itu hanya sedikit contoh dari banyaknya orang-orang menengah ke bawah yang harus berjuang menghidupi diri dan keluarga mereka hari demi hari. Kehidupan rakyat di negeri makmur dan kaya ini seakan tidak pernah membaik sedikitpun. Dari sebelum terbit matahari hingga terbenamnya kembali, jutaan rakyat negeri ini bekerja keras membanting tulang memeras keringat di berbagai sektor pekerjaan. Ada yang dari tengah malam buta sampai pagi menyapu jalanan, ada pula yang sudah menggelar dagangannya sebelum matahari bersinar. Namun, kehidupan mereka tak juga membaik karena sistem sosial yang zalim menguasai mereka. Kemiskinan di negeri ini sebagian besar memang kemiskinan struktural. Bisa jadi, diantara orang-orang miskin itu memang ada yagn malas untuk bekerja dan berusaha. Mereka lebih suka tinggal dan bersantai-santai di rumah tanpa peduli pada masa depannya. Namun, sebagian besar rakyat Indonesia menjadi miskin karena kezaliman para penguasanya. Para penguasa lebih suka menyerahkan pengelolaan sumber daya alam pada perusahaan-perusahaan asing ketimbang memberdayakan anak bangsanya sendiri. Mereka lebih percaya kemampuan orang asing daripada bangsanya sendiri. Bahkan, mereka tidak ragu mengeluarkan uang demi membantu IMF, sebuah lembaga keuangan asing yang kerjanya hanya menyengsarakan negera-negara berkembang, termasuk negaranya sendiri. Padahal, akan jauh lebih bermanfaat apabila uang itu dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. IMF seharusnya dibiarkan saja bangkrut agar tidak lagi merusak perekonomian negara-negara berkembang dan membunuh rakyatnya pelan-pelan dengan kelaparan dan pencabutan subsidi.
 
Memang, terkadang saat berkuasa, orang suka lupa diri dan berbuat seenaknya saja. Lidah yang tidak bertulang itu seakan mudah saja melontarkan kata kata yang seharusnya dipikir dahulu sebelum diucapkan. Kini, ucapan itu sudah terlanjur dikatakan. Hati dan perasaan masyarakat yang mendengar atau membaca ucapan itu kini sudah terluka dan berdarah. Mereka, orang-orang kecil itu, mungkin tidak akan bisa membalas perkataan menyakitkan tersebut. Namun, akan ada yang membalas dengan balasan yang adil setimpal. Yaitu Dia yang tidak akan menyia-nyiakan doa hamba-hambaNya yang terzalimi, meskipun mereka hanya rakyat kecil yang lemah dan miskin. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW telah mengutus Mu’adz ke Yaman dan Beliau berkata kepadanya : “Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, karena doa tersebut tidak adah hijab (penghalang) diantara dia dengan Allah”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Semoga bermanfaat

Related Links:

Otak Bung Karno dan Otak Marzuki Alie

Pernyataan Marzuki Alie Sungguh Menyakiti Warga Miskin, Cerminan Penguasa Yang Tidak Melayani Masyarakat

Marzuki Alie dan Kemiskinan

Marzuki Ali: Orang Miskin karena Malas Kerja

Rabu, 30 Mei 2012

Mengapa Aku Tobat Dari Islam Liberal?

http://filsafat.kompasiana.com/2012/05/30/mengapa-aku-tobat-dari-islam-liberal/
kutipan:

Ya, sekarang aku lebih suka dengan generasi muda Islam yang mempraktekan Islam secara nyata daripada anak muda Islam yang kutu buku tapi diam saja melihat tetanganya kerja bakti. Aku lebih respek dengan generasi muda Islam yang bersih bersih got daripada anak muda Islam yang bangga paham berbagai teori teori tentang ajaran Islam tapi penampilannya dekil karena jarang mandi.

Minggu, 01 April 2012

Belajar Kesetiaan dari Pak Wajat

http://wasathon.com/kisah_inspirasi/read/belajar_kesetiaan_dari_pak_wajat___/
Suatu sore, ada seorang ibu yang berkunjung ke ruang kerja saya. Ibu Ade namanya. Kebetulan sekali, ia sedang ada keperluan dengan atasan saya. Setelah urusannya selesai. Ia ingin pamit pulang. Tiba-tiba langkahnya terhenti, karena hujan deras. Lalu, Ia menghampiri saya dan terjadilah percakapan diantara kami.



Entah apa awalnya, hingga kami saling menceritakan keluarga masing-masing. Ia bertanya kepada saya, “orang tua mu masih lengkap kan?” katanya pada saya. Tinggal ibu, jawab saya pada beliau. Ayah saya sudah meninggal, sejak saya di sekolah menengah pertama. Lanjut saya.

selengkapnya sila ke link

Senin, 19 Maret 2012

Bahaya Budaya Konsumtif

http://wasathon.com/gaya_hidup/read/bahaya_budaya_konsumtif/
Seberapapun pendapatan yang kita punya, kalau hidup konsumtif yang kita terapkan, semua gaji kita punya tetap tidak mencukupi. Mengikuti handphne merek terbaru, baju-baju keluaran terbaru, sepatu, artistic rumah,atau apapun yang sedang digembar-gemborkan oleh kaum pemilik modal yang dapat menyihir mata.


Kita mungkin masih ingat peristiwa tahun lalu (25/11), ribuan massa mengatre untuk pembelian telepon seluar Blackberry seri terbaru dengan potongan harga tertinggi di Lobi Utara Pasific Place, SCBD, Jakarta Selatan. Massa rela mengantre dengan iming-iming harga murah, sehingga terjadilah aksi berdesak-desakan, aksi dorong-mendorong yang mengakibatkan beberapa orang pingsan, dan satu pengunjung menderita patah tulang (Republika.co.id)

selanjutnya sila ke link di atas :)

Kamis, 01 Maret 2012

Bahaya Penggunaan Istilah Islam KTP

http://wasathon.com/humaniora/read/bahaya_penggunaan_istilah_islam_ktp/
Tak asing bagi masyarakat Indonesia mendengar suatu istilah yang di belakangnya dibubuhi kata “Islam atau islami”. Ironisnya, cukup banyak kalangan yang menggunakan embel-embel tersebut yang kemudian memberikan penilaian negatif kepada saudaranya yang Islam dengan istilah yang juga baru, Islam KTP. Istilah Islam KTP, pun semakin ramai begitu salah satu stasiun televisi di Indonesia menampilkan tayangan sinetron ‘Islam KTP’.

selanjutnya, silakan klik link di atas :)

Minggu, 19 Februari 2012

[Sosial] Ferrari dan hujan caci maki

Hasrat untuk bermwah-bermwah sepertinya belum juga hilang dari bangsa kita ini.  Walaupun sudah dilanda krisis tak berujung dan beragam bencana, baik alam maupun social, masih saja ada yang memperlihatkan kekayaannya secara moncolok.  Sebuah mobil Ferarri berwarna merah belum lama ini melintas di sebuah jalan padat kendaraan lengkap dengan pengawalan polisi.  Kejadian menarik namun membuat miris itu diberitakan oleh situs berita detik.com.

Tidak perlu menunggu lama, situs berita tersebut langsung kebanjiran caci maki dan hujatan serta kecaman di kolom komentarnya.  Kicauan-kicauan di situs burung biru alias Twitter pun tak kalah hebatnya, rata-rata menghujat si pemilik mobil mewah tersebut.  Memang, sebagaimana dikutip dari situs detik.com, saudara si pemilik mengatakan bahwa pemilik mobil itu tidak punya niat pamer.  Mereka terpaksa pakai Ferarri karena ada keperluan mendadak.  Namun, klarifikasi itu tidak juga bisa meredakan badai caci maki dan hujatan yang ditujukan pada mereka.
      
Pihak kepolisian pun ikut kena caci maki dan hujatan.  Para komentator itu rata-rata menyayangkan kesediaan polisi yang memberi pengawalan pada mobil mewah tersebut.  Kejadian itu memang semaki memperkeruh dan merusak citra polisi di mata masyarakat.  Polisi yang selama ini dianggap sebagai salah satu institusi paling korup semakin terpuruk citranya karena cenderung mengutamakan kepentingan orang-orang kaya.  Pengawalan special bagi orang-orang tertentu, kata seorang pengamat kepolisian, akan menimbulkan kecemburuan dan iri hati pada masyarakat.  Bisa dibayangkan betapa pedihnya perasaan mereka yang sedang berdesakan di kendaraan-kendaraan umum melihat mobil mewah yang meluncur di dekat mereka dengan pengawalan special dari pihak kepolisian. 

Fenomena munculnya mobil mewah di tengah kemacetan Jakarta yang berisi beragam kendaraan itu hanyalah puncak gunung es ketimpangan social yang ada di negeri ini.  Ketimpangan yang merupakan konsekwensi logis dari peradaban materalistik yang memanjakan segelintir orang berduit dan menindas mereka yang tipis kantongnya.  Kalau sudah seperti ini, apa lagi yang mau dibanggakan? Mobil mewah yang tadinya disangka bakal mengangkat citra dan kehormatan, malah jadi sumber hujatan dan kecaman, caci maki dan umpatan.  Entah kapan manusia Indonesia akan sadar bahwa nilai seorang manusia bukan dari apa yang dia miliki tapi pengabdian apa yang dia lakukan pada Allah SWT dan apa yang berikan pada sesame manusia.  Bukan pada apa yang memberikan sensasi psikologis palsu tak bermakna untuk memuaskan egonya semata.

Yang terbaik hanyalah
Segeralah bersujud
Mumpung kita masih diberi waktu

Masih ada waktu by Ebiet G. Ade
 
 

Sabtu, 17 Desember 2011

[Sosial] Dilema Superblok Ibu Kota

Suatu ketika saat berada di sebuah perkampungan padat, saya melihat beberapa selebaran yagn ditempel di tembok.  Selebaran itu  berisi fotokopi artikel tentang sebuah Mega Proyek pembangunan sentra bisnis terpadu yang sedang dikerjakan di dekat perkampungan tersebut.  Selain artikel, selebaran itu juga berisi ajakan agar warga yang tanahnya akan dijual menahan harga, jangan sampai dilepas dengan harga terlalu murah.  Pihak penyebar selebaran itu mungkin merasa prihatin dengan ketidakmampuan masyarakat mengakses informasi sehingga tidak mengetahui berapa sebenarnya nilai proyek yang akan dibangun di tanah mereka.  

Mega Proyek itu sangat luar biasa, terdiri dari gedung dan aparement serta sarana-saran penunjang lainnya.  Proyek itu bertujuan memadukan tempat tinggal, tempat kerja dan kegiatan bisnis serta rekreatsi keluarga dalam satu kawasan. Sehingga, para penghuninya akan terhindar dari kemacetan Ibu Kota yang sampai hari ini belum juga teratasi.  Sehingga, banyak waktu yang bisa dihemat dan efisiensi kerja serta bisnis bisa ditingkatkan.  Di situs Vivanew.com dapat kita temukan sebuah artikel yang mengulas profil para pengembang superblock seperti proyek itu.

Namun, tentu saja kita tahu siapa saja yang bisa membeli apartement di sana.  Tentu bukan pegawai-pegawai rendahan yang gajinya pas-pasan, yang untuk hidup sehari-hari masih kerepotan. Kalau bukan level manager ke atas ya orang asing.  Merekalah yang mampu secara finansial menikmati semua fasilitas tersebut demi kenyamanan dan gaya hidupnya. Rakyat kecil yang miskin mungkin hanya bisa berjalan - jalan di sekitar kompleks tersebut tanpa bisa menikmati lebih banyak lagi.

Jika informasi yang ada di selebaran itu benar, maka ganti rugi yang diterima masyarakat tidak seimbang dengan nilai mega proyek yang sedang dikerjakan.  Selebaran itu sepertinya dibuat oleh mereka yang peduli dan prihatin akan besarnya ganti rugi yang diterima masyarakat.  Artikel yang disertakan dalam selebaran itu digunakan untuk memberi informasi agar masyarakat sadar siapakah sesungguhnya yang hendak membeli tanah yang mereka tempati.  Sehingga, mereka menyadari hak mereka untuk mendapat ganti rugi yang layak.  Jangan sampai sesudah mereka rela melepaskan tempat tinggal mereka, ternyata mereka tidak bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak.  Sudah merupakan rahasia umum bahwa penggusuran seringkali melibatkan banyak kepentingan, mulai dari pengusaha, penguasa, pekerja sampai penduduk yang tanahnya digusur.  Sehingga, persoalan penggusuran menjadi salah satu masalah sosial paling kompleks di negeri ini. 

Satu hal yang seringkali terlupakan adalah bahwa orang-orang miskin juga manusia.  Mereka berhak mendapat tempat tinggal yang layak dan berhak pula mendapat kesempatan untuk hidup layak.  Mereka juga perlu makan, pakaian dan tempat tinggal yang layak.  Seharusnya, tidak boleh ada manusia yang tinggal di tempat yagn tidak layak ditempati sperti emperan toko, jembatan penyebarangan atau kolong jembatan.  Rumah-rumah kumuh yang terletak di gang-gang sempit pun seharusnya tidak ada.  Degnan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, baik dalam bentuk bahan tambang atau hasil pertanian, rakyat Indonesia seharusnya tidak ada yang miskin.  "This country shouldn't be poor" begitu kata John Perkins dalam film dokumenter The New Rulers.

Modal utama untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia adalah adanya kemauan dan keberanian.  HS Dillon pernah mengatakan "Untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia, kita tidak perlu mengemis hutang kepada IMF atau memerlukan bantuan dari lembaga asing.Jika 10% orang terkaya di Indonesia memberikan 20% penghasilannya (bukan harta atau asetnya) maka tidak ada lagi orang miskin di Indonesia pada tahun itu."  (H.S. Dillon, KOMPAS; Selasa, 17 Oktober 2006).  Sehingga, asalkan penduduk negeri ini, terutama yang kaya, tidak begitu serakah, maka kemiskinan akan dengan mudah teratasi.  Minimal kaum miskin bisa bertahan hidup dan bisa memenuhi kebututan hidup mereka yang paling mendasar. 

Namun sayang, peradaban kita sekarang ini adalah peradaban yang memanjakan yang kaya serta menindas yang miskin.  Peradaban yang mengedepankan ego, kepentingan duniawi serta kekayaan materi.  Bukan agama, spiritualitas dan kepedulian pada sesama, terutama mereka yang membutuhkan.  Sehingga, mimpi mewujudkan peradaban yang peduli, beradab dalam lindungan keridhoan Allah subhawataala masih jauh dari kenyataan. 

Semgoa bermanfaat


Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana
Demi serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Di depan masjid
Samping rumah wakil pak lurah
Tempat dulu kami bermain
Mengisi cerahnya hari

Namun sebentar lagi
Angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi
Dan tak kan pernah kembali

Ujung Aspal Pondok Gede - Iwan Fals

Jumat, 08 Juli 2011

[Kiat Menulis] Menulis Feature di Blog

Secara kasar karya jurnalistik bisa dibagi menjadi tiga, pertama stright/spot News berisi materi penting yang harus segera dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news).  Kedua, news feature, memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat terjadi atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif) melalui interpretasi.Dan ketiga, feature bertu-juan untuk menghibur melalui penggunaan materi yang menarik tapi tidak selalu penting.  Penjelasan tersebut dikutip dari blog yang ini.
 
Saya mulai mampu memasukkan unsur-unsur feature ke dalam blog sesudah mengikuti workshop perdana Pena Lectura di gedung perfileman Usmar Ismail, di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.  Dalam workshop yang diisi oleh mbak Ollie dan mbak Imazahra itu, diajarkan bahwa pengalaman pribadi atau kejadian sehari-hari bisa digambarkan dengan sangat indah dan menggugah perasaan bagaikan cerita fiksi.  Kreatifitas merangkai kata pun tidak hanya bisa diaplikasikan pada tulisan-tulisan sastra.  Sebuah kejadian sederhana bisa  digambarkan dalam banyak sekali sudut padang hingga menghasilkan tulisan yang menggugah dan mencerahkan.  Tulisan-tulisan tersebut antara lain, Tangan Kecil dan Sekerat Daging, Pak Tua Pemungut Sampah dan lain sebagainya. 

Saya melihat cukup banyak persamaan dalam tulisan creative non fiction itu dengan tayangan-tayangan dokumenter yang ada di Elshinta TV.  Sebagian dari tayangan tersebut adalah film dokumenter lama yang pernah ditayangkan oleh Indosiar, sebagian lainnya relatif baru.  Script dari film-film dokumenter lama itu pun masih bisa kita temukan di rubrik Ragam di situs Indosiar.  Walaupun sudah lama, namun tetap bisa dinikmati dan tetap relevan dengan keadaan sekarang ini.  Hanya saja, saat itu saya belum menemukan perbedaan signifikan antara penulisan blog dengan teknik creative non fiction dengan penulisan feature

Baru sesudah melihat dua bocah bermain bola dengan botol air mineral, yang saya tuangkan di tulisan yang ini, saya menyadari ada perbedaan penting diantara dua jenis tulisan tersebut.  Dalam tulisan tentang dua bocah itu, saya menempatkan diri sebagai sosok pengamat yang netral.  Saya tidak memasukkan diri saya ke dalam tulisan tersebut.  Jadi, dalam tulisan tersebut, hasrat untuk narsis dan menonjolkan perlu diredam terlebih dahulu. 
Hal yang membedakan antara blog yang ditulis dengan teknik creative non fiction dengan tulisan feature adalah sudut pandangnya.  Biasanya, seorang blogger mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan yang bersifat pribadi.  Me, myself and I jika masih single atau tentang keluarga apabila sudah berkeluarga.  Yang jelas, si blogger inilah yang jadi pemeran utama, yang lain hanya sebagai pemeran pendukung atau pembantu.  Sehingga, tulisan - tulisan di blog cenderung dilihat dari sudut pandang orang pertama.
 
Untuk melatih diri menulis feature di blog, pertama-tama si blogger harus rela menuliskan tulisannya dari sudut pandang orang lain.  Tiba saatnya si blogger bermain di belakang layar.  Jika diumpamakan film, si blogger yang tadinya jadi bintang dalam blognya, kini berperan menjadi sutradara atau produser.  Tulisan-tulisan yang dibuat lebih menonjolkan apa yang dirasakan orang yang menjadi subyek dalam tulisannya.   Kebanyakan wartawan kawakan memakai pedoman ini: ‘’Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.’’

Menulis feature memang bukan sekedar mendeskripsikan keadaan.  Namun lebih dari itu, sang penulis perlu menampilkan sisi sisi yang menggugah emosi dari yang dia tuliskan.  Sehingga, sekedar mengamati tidaklah cukup. Perlu ada interaksi antar manusia di sana, antar si penulis dengan orang yang menjadi subjek tulisannya.  Sehingga, muatan emosi dari orang-orang yang menjadi subyek dalam tulisan tersebut akan mempengaruhi pembacanya.   

Contoh tulisan feature yang cukup menggugah ada di rubrik Ragam dalam situs Indosiar.  Sebenarnya, tulisan-tulisan itu merupakan script dari acara dokumenter yang sudah tidak lagi ditayangkan oleh Indosiar.  Sebagian dari acara-acara tersebut sekarang ditayangkan oleh stasiun tv favorit saya, yaitu Elshinta TV.  Kisah yang ditayangkan antara lain tentang para penyelam tradisional di Pulau Tidung yang seringkali terserang kram karena mereka belum memahami pentingnya dekompresi.  Mereka menganggap kram yang mereka rasakan hanya gejala masuk angin belaka.  Atau kisah para petani garam di Cirebon yang pendapatannya sangat tidak menentu karena sangat tergantung cuaca.  Masih banyak lagi script tayangan feature yang bisa kita baca di sana. 

Semoga bermanfaat 

Kamis, 07 Juli 2011

[Feature] Sepak Botol Air Mineral

Malam telah mengurung Jakarta dengan sayap sayap hitamnya.  Para jamaah sholat Isya di masjid Al Bina yang terletak di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, telah selesai melaksanakan ibadah yang diwajibkan bagi mereka itu dan beranjak pulang ke kediaman masing-masing.  Tinggal sedikit manusia yang tersisa di masjid yang terletak di kawasan prestisius yang super sibuk di pusat kota Jakarta itu.  Para pedagang pun mengemasi dagangan mereka dan para marbot pun membereskan kembali kotak amal untuk disimpan di tempat yang aman. Beberapa orang pun menyempatkan diri untuk beristirahat, mengumpulkan tenaga dan menarik nafas sejenak.    

Diantara kesibukan tersebut, dua orang anak tampak bersemangat menendang botol bekas minuman air mineral yang sudah kosong.  Mereka bermain di pelataran masjid yang ditutupi ubin keramik.  Botol itu diisi pasir sedikit agar cukup berat untuk bisa ditendang.  Bak pemain bola profesional, kedua anak itu saling beradu untuk memasukkan bola ke gawang lawan.  Gerak lincah kaki - kaki kecil saat menendang dan mengejar bola beriringan dengan tawa riang kedua bocah itu saat mereka beraksi.  Tak jarang, salah satu atau keduanya terjatuh karena semangat olah raga dan kegembiraan yang tak terbendung lagi.  Bola yang terbuat dari botol air mineral itu pun meluncur bergesekan dengan lantai ubin hingga menghasilkan bunyi yang khas. Walaupun mungkin mengganggu bagi sebagian orang, namun bunyi-bunyian itu seakan tak peduli.  Dia terus melepaskan energi kegembiraan ke sekelilingnya.   

Beberapa pemuda pun turut menyemangati kedua bocah.  Mereka berteriak dan tertawa-tawa seraya menyebut nama seorang pemain bola profesional yang diidolakan banyak penggemar sepak bola.  Kedua bocah pun bertambah senang bermain, seakan semangat sang idola menyatu dalam diri mereka.  Lampu sorot yang menerangi pelataran masjid pun terlihat seperti lampu-lampu stadion sepak bola, mengiringi mimpi mereka saat itu untuk menjadi pemain bola profesional.  Seakan mereka diangkat sejenak dari kehidupan mereka yang miskin dan jauh dari segala fasilitas yang penuh kenyamanan.  

Salah satu pemuda yang lebih tua pun ikut bermain.  Terkadang si pemuda berperan sebagai wasit bagi kedua bocah, terkadang dia mengajari mereka.  Tentunya sebatas pengetahuan yang dia ketahui tentang sepak bola.  Namun, semua itu tidaklah penting.  Betapapun terbatasnya pengetahuan si pemuda, namun sama sekali tidak mengurangi kegembiraan mereka.  Mereka sangat menikmati permainan sederhana tersebut.  Tidak sedikitpun terlihat ketidakpuasan mereka atas permainan itu.  Walaupun permainan itu bukan permainan-permainan elektronik yang harus dimainkan dengan komputer canggih berkoneksi internet.  Meskipun bukan permainan canggih ada di berbagai pusat perbelanjaan yang tak jauh dari tempat para bocah bermain.    

Manusia yang ada di sana pun semakin berkurang.  Kedua bocah dan para pemuda itu pun menyadari bahwa kesenangan yang mereka sedang nikmati itupun harus berakhir.  Larutnya malam membuat mereka harus kembali.  Bola mereka yang terbuat dari botol air mineral itu pun dilemparkan ke tempat sampah, tempat di mana seharusnya benda itu berada.  Lalu sambil tak henti tertawa mereka pun meninggalkan pelataran Masjid Al Bina.  Kembali ke kehidupan nyata yang penuh pahit getir kemiskinan yang selama ini membelenggu mereka.  Entah sampai kapan.

Note: ditulis untuk belajar menulis Feature, semoga bermanfaat 

Selasa, 07 Juni 2011

[Komunitas Lebah] Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Start:     Jun 25, '11 08:00a
End:     Jun 25, '11 1:00p
Location:     Desa Kemang, Parung Panjang, Bogor
Copas dari notesnya Teh Fifi

Miris mengetahui ada Desa yang masih berstatus Desa Terpencil, padahal hanya satu setengah jam dari Jakarta, lebih miris lagi desa tersebut berada tepat di belakang satu kompleks perumahan terkenal di daerah Sawangan Bogor, tepatnya Desa Tegal, Kecamatan Kemang, sangat jauh berbeda dari Kemang Jakarta.

Desa dengan kurang lebih 500 KK ini adalah korban perubahan dari masyarakat agraris ke modern. Sebelum hadirnya Komplek Perumahan tersebut, lahan yang ada merupakan perkebunan karet, rata-rata warga bekerja sebagai penyadap karet. Setelah pohon karet berubah menjadi rumah-rumah mewah , mereka menjadi buruh harian lepas yang tidak ada pendapatan tetap. Belakangan ini untuk kaum ibu ada kegiatan memasang payet untuk taplak atau kerudung, itu pun hanya mendapatkan, maksimal, Rp.20.000 /minggu.

Dengan melihat kondisi demikian dan tempat yang jauh dari PUSKESMAS, yang hanya bisa dicapai dengan ojek, biaya transport Rp.10.000 , yang tentunya cukup besar bagi warga di sana. Komunitas Lebah akan mengadakan kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis, yang Insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 2011, bertempat di SDN Tegal 02 dan SDN Tegal Jaya 01.

Barangkali ada yang ingin berpartisipasi atau menginfaqkan sebagian rizkinya, dapat disalurkan kepada kami melalui rek BCA 5540368459 a.n Fitriana Damayanti atau Bank Mandiri 1020004636863 a.n Rossy Dwi Wiryanti. Mohon konfirmasinya bila telah transfer melalui inbox FB.

Semoga segalanya dimudahkan Allah SWT..



Minggu, 22 Mei 2011

[Renungan] Indonesia vs Bani Israil

Survey Indobarometer mengindikasikan bahwa sebagian, mungkin sebagian besar masyarakat, menginginkan kembalinya orde baru.  Mereka mengingkan kehidupan yang relatif mudah untuk mendapatkan sandang pangan, yang penting dapur ngebul.  Keinginan tersebut dapat dipahami dengan baik, masyarakat memang sudah muak dengan kehidupan pasca reformasi yang tak kunjung memberi mereka kesejahteraan material yang baik.  Harga-harga terus merambat naik sehingga masyarakat, terutama yang miskin, seakan tak bisa berhenti mengencangkan ikat pinggang.  

Namun, banyak yang lupa atau pura-pura lupa bahwa kesuksesan pembangunan ekonomi di era orde baru sesungguhnya adalah sesuatu yang semu.  Ekonomi berbasis utang luar negeri yang sebanarnya merupakan bom waktu yang bisa meledak setiap saat.  Tumpukan mesiu itu pun meledak saat Indonesia dihantam krisis ekonomi tahun 1997.  Nilai tukar dollar pun melonjak gila-gilaan sampai belasan ribu rupiah per dollar.  Akhirnya, proyek-proyek pembangunan pun mandeg serta banyak orang kehilangan pekerjaan.  Kerusuhan Mei 1998, walaupun oleh banyak pihak dituding sebagai rekayasa Orde Baru untuk bertahan, hakikatnya adalah ledakan dari akumulasi kekecewaan masyarakat atas kemiskinan mereka selama berada di lapisan bawah.  Jadi, klaim bahwa Orde Baru menyejahterakan masyarakat adalah kebohongan belaka.  Kerusakan moral dan akhlaq serta kemiskinan saat ini adalah stadium lanjutan dari kebobrokan dan kebohongan di era Orde Baru.   

Keinginan sebagian masyarakat untuk kembali ke era Orde Baru mengingatkan kita akan tingkah bani Israil yang justru ingin kembali kepada Firaun di Mesir Kuno.  Walaupun mereka sudah lepas dari perbudakan oleh Firaun, namun ternyata jiwa mereka belum lepas dari perbudakan oleh diri mereka sendiri.  Kehidupan di gurun pasir yang berat itu malah melemahkan jiwa mereka, bukan memperkuat.  Padahal, kemerdekaan dan kebabasan mereka dari perbudakan Firaun adalah anugerah besar yang tidak terhingga dari Allah SWT kepada Bani Israil.  

Allah SWT pun telah menganugerahi mereka dengan makanan berupa Manna dan Salwa, sebagaimana tersebut dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat (57) Dan telah Kami teduhi atas kamu dengan awan dan telah Kami turunkan kepada kamu manna dan salwa. Makanlah dari  yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kamu. Dan tidaklah mereka yang menganiaya Kami, akan tetapi adalah mereka menganiaya diri mereka sendiri.  Namun, nikmat Allah SWT berupa makanan Manna dan Salwa tidak juga memuaskan hawa nafsu rendah mereka yang cenderung pada kesenangan dunia.  Mereka merindukan kehidupan di Mesir Kuno, yang walaupun diperbudak, namun cukup terjamin sandang pagannya.  "Dan (ingatlah) seketika kamu berkata : Wahai Musa, tidakiah kami akan tahan atas makanan hanya semacam. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya dikeluarkan untuk kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, dari sayur-sayurannya, dan mentimunnya, dan bawang putihnya, dan kacangnya dan bawang-merahnya. Berkata dia : Adakah hendak kamu tukar yang amat hina dengan yang amat baik ? Pergilah ke satu kota besar, maka sesungguh­nYa di sana akan dapatlah apa yang kamu minta itu ! Dan dipukulkanlah atas mereka kehinaaan dan kerendahan, dan sudah layaklah mereka ­ditimpa kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu ialah karena mereka kufur kepada perintah- perintah Allah dan mereka bunuh Nabi-nabi dengan tidak patut. Yang demikian itu ialah karena mereka telah durhaka dan mereka telah melewati batas." Surat Al Baqarah ayat 60.  Tafsir ayat-ayat tersebut dapat dilihat di situs Tafsir Al Azhar

Kini, sejarah kelam Bani Israil terulang lagi pada bangsa dengan umat Islam terbanyak di dunia, Indonesia.  Orang-orang yang lebih rela diperbudak asal perutnya kenyang dan hidupnya nyaman daripada menderita dalam perjuangan menegakkan kebenaran. George Santayana, seorang filsuf pernah mengatakan "Those who forget the past are condemned to repeat it".  Bung Karno pun mencanangkan semboyan Jas Merah yang artinya "Jangan sekali-kali melupakan sejarah".  Sejarah bukanlah untuk dilupakan tapi juga bukan untuk menghantui kehidupan kita saat ini. Sejarah adalah pelajaran yang harus dipetik hikmahnya, bukan sekedar dihafalkan atau dijadikan monumen bisu tidak bisa berbicara.

Hadits yang diucapkan beberapa abad yang lalu oleh Rasulullah SAW pun terbukti kebenarannya. Umat Islam, termasuk di Indonesia, kini bagaikan hidangan di atas meja makan.  Musuh-musuh mereka siap menyerbu dari berbagai arah.  Penyakit Bani Israil berabad-abad yang lalu kini menjangkiti umat Islam Indonesia, cinta dunia takut pada kematian.  Dan penyakit itu pun melemahkan umat yang seharusnya mengemban amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi.  Padahal Allah sWT telah mengingatkan kepada kaum Bani Israil dan juga kita semua agar senantiasa bersyukur.  "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim:7).  

Lawan dari syukur adalah kufur, meskipun tidak selalu berarti sudah keluar dari agama Islam.  Bisa jadi, kita pun meruapakan bagian dari orang-orang yang tidak bersyukur, yang merupakan kezaliman.  Sebagaimana nabi Yunus berdoa saat berada dalam perut ikan besar yang menelannya, begitu pulalah kita harus kembali kepada Allah SWT mengakui keslaahan dan kezaliman kita selama ini dan kembali ke jalan yang diridhoiNya.  “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88),   

Astaghifirullahal Adzim.  

Referensi

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8434738

http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3224-mustajabnya-doa-dzun-nuun-nabi-yunus.html

http://tafsiralazhar.net46.net/myfile/S-Al-Baqoroh/al-baqoroh_ayat_57-61.htm

Kamis, 19 Agustus 2010

[Renungan Kemerdekaan] Merdeka dari Mall, mungkinkah?

Jakarta telah berkembang menjadi salah satu kota metropolitan yang sangat bsar.  Nuansa hiruk pikuk kapitalisme menyelimuti keseharian warga penghuninya setiap hari.  Konsumerisme adalah bahan bakar mesin ideologis bernama kapitalisme.  Iklan-iklan dan promosi-promosi seakan menjadi minyak pelumas dari mesin ideologis tersebut.  Segala hal tersebut menjejali bawah sadar para penghuni Kota Jakarta tanpa hentai setiap hari.  Para perodusen bertarung mati-matian untuk memperebutkan kue bernama keuntungan material yang berasal dari kantong para konsumen. Harta yang diperoleh dengan kerja keras habis ludes tak bersisa akibat terbuai bujuk rayu para produsen barang dan jasa pengekor ideologi kapitalisme tersebut.  Promosi dan iklan seakan janji suci yang tak terbantahkan akan kesejahteraan dan kenyamanan hidup duniawi yang fana dan sementara ini.  

Untuk mendistribusikan sekaligus memasarkan barang-barang itu, dibuatlah berbagai tempat perbelanjaan yang membuat para pengunjungnya betah berlama-lama.  Selama berada di mall-mall tersebut, pikiran dan jiwa mereka terus menerus dipengaruhi oleh segala macam promosi yang ada.  Pendingin udara yang memenuhi seluruh Mall seakan melindungi para pengunjungnya dari sengatan terik mentari yang membakar bumi di luar sana.  Perbandingan antara Mall dengan taman kota sudah sulit untuk diperhitungkan lagi.  Taman-taman kota di Jakarta mungkin bisa dihitung dengan jari, sedangkan jumlah mall mungkin harus dihitung menggunakan kalkulator atau komputer yang canggih.  Taman kota hanya fragemen-fragmen kecil dari keseluruhan ruang di ibukota ini sedangkan Mall sudah memenuhi sekian puluh persen tanah yang ada.  Padahal, taman kota adalah tempat wisata yang murah meriah.  Bagaikan ibu yang memeluk anak-anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa membeda-bedakan status sosial, kekayaan, ras dan sebagainya.  Sedangkan Mall adalah seorang pesolek angkuh yang hanya mau melayani mereka yang berstatus sosial tinggi atau yang berkantung tebal entah uangnya halal atau haram.   Sementara itu, tidak jauh dari pusat-pusat perbelanjaan tersebut, anak-anak jalanan mencoba mengais-ngais sedikit remah-remah peradaban.  Mereka menjadi ojek payung bila hujan tiba, ada pula yang mengemis sekedar meminta belas kasihan para pengunjung mall yang tentunya punya uang banyak itu.  

Ciri orang-orang yang sudah terjajah peradaban materialistik adalah lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan.  Mereka lebih senang menggunakan harta hasil kerja keras mereka untuk memenuhi keinginan hawa nafsu duniawi mereka.  Padahal, menurut Kang Zen, Keinginan" yang terpenuhi seringkali justru menghadirkan banyak masalah baru, sedangkan "Kebutuhan" yang terpenuhi akan menyelesaikan banyak permasalahan. Boleh jadi, jika 30% saja terpenuhi dari semua keinginanmu maka bersiap2lah mendapatkan masalah 3 kali lipat lebih berat dari biasanya. Allah SWT berfirman: "Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu.. (Q.S. 2:216)".  Banyak dari mereka juga enggan membantu orang lain memenuhi kebutuhan hidup orang lain.  

Sebaliknya, salah satu ciri orang-orang yang sudah terlepas dari belenggu materialisme adalah kesungguhan mereka dalam ber-shadaqoh, walaupun tidak selalu berwujud pengeluaran harta.  Shadaqoh berasal dari kata sadaq yang berarti membenarkan.  Maksud dari istilah tersebut adalah orang-orang yang mengeluarkan hartanya untuk membuktikan kebenaran janji Allah SWT dalam Al Quran.  Mereka juga bershadaqoh dengan waktu, tenaga dan segala yang mereka miliki.  Salah satu faktor pembebas mereka dari penjajahan materialisme adalah pemahaman yang benar tentang infaq. Infaq berasal dari kata nafaqa yang berarti mengeluarkan, infaq berarti pengeluaran atau belanja.  Pengeluaran atau belanja untuk diri sendiri disebut nafaqa yang menjadi kata serapan dalam bahasa Indonesia menjadi nafkah.  Sedangkan, pengeluaran harta untuk membantu orang-orang yang membutuhkan disebut Infaq.  

Para penjajah asing mungkin secara formal sudah tidak ada lagi di negeri kaya raya ini. Namun, penjajahan yang dilakukan sesama bangsa seakan langsung muncul sesudah para penjajah asing itu pergi.  Kemerdekaan yang sudah dianugerahkan oleh Allah SWT melalui darah, keringat  dan air mata para pahlawan seakan-akan tidak berharga sama sekali.  Kemerdekaan itu seakan-akan legitimasi untuk memperturutkan segala macam yang diinginkan hawa nafsu dan ego manusia.  Selama manusia Indonesia masih terjajah oleh paham kapitalisme materialistik itu, maka "kamp-kamp konsenterasi" bernama Mall itu akan terus ada dan memenuhi mungkin sebagian besar tanah di Jakarta dan kota-kota lainnya di bumi nusantara tercinta ini.

Memang, negara yang terjajah oleh bangsa lain saat ini mungkin hanya Palestina dan Iraq. Palestina dijajah kaum Zionist Laknatullah dan Iraq dijajah Amerika, si Polisi Dunia.  Namun, hampir semua bangsa di dunia ini sebetulnya sedang dijajah saudara sebangsanya sendiri.  Penjajahan tersebut berwujud ketidakpedulian dan keegoisan serta memperturutkan hawa nafsu pribadi.  Penjajahan memang tidak selamanya tidak menyenangkan.  Para penduduk Gaza dan wilayah-wilayah lain di Palestina malah bisa lebih dekat pada Allah SWT selama dijajah Zionis sedangkan di negeri kita banyak yang berpaling dari agama karena dijajah Mall dan kapitalisme


Semoga siapapun yang membaca tulisan ini tergerak untuk memerdekakan minimal dirinya sendiri dari penjajahan yang enak itu serta memutuskan rantai ketidakpedulian pada sesama, minimal yang membelenggu dirinya sendiri.  

Referensi:

Jumlah Mall di Jakarta sudah tidak ideal

Menyikapi Kebutuhan Keinginan dan Tawakkal


Note: untuk yang ingin segera infad dan bersedekah, silahkan catat nomor berikut, pasti diperlukan kalau lagi niat infak atau sedekah: 021-7414482 atau SMS 0813 15 6000 78 (ACT), Insya Allah siap dijemput. atau langsung ke rekening BCA 676 030 3818 - Permata Syariah 0971 001 224 atas nama Yayasan Aksi Cepat Tanggap

Ladang Amal Ramadhan 2010:

Baksos Multiply Indonesia 2010 di LP Wanita Pondok Bambu, dengan tema: MULTIPLY INDONESIA GOES TO LAPAS, info klik di sini

Pesantren Kilat Edufasting by Komunitas Lebah di PESANTREN KILAT KOMUNITAS LEBAH (EDUFASTING) tgl 28-29 agustus 2010 di hostel Pradana SMK 57 & Jl Margasatwa, Ragunan, Jaksel. Info klik di sini

LEBAY (Lebaran Bareng Anak Yatim) bersama Aki Nini pemetik daun teh di Desa Tugu, Bogor by Yayasan Sahabat Peduli Generasi Mandiri.  Insya Allah akan dilaksanakan tanggal 12 September 2010, H+3 Lebaran. Info klik di sini


Semoga bermanfaat,  

Senin, 09 Agustus 2010

[Sosial] Tangan Kecil dan Sekerat Daging

Hari telah malam saat saya berjalan di sebuah jalan yang banyak dipenuhi penjual makanan dan minuman. Saat melewati seorang pedagang kebab, saya memutuskan untuk makan di sana. Pada saat si pedagang sedang mempersiapkan makanan pesanan saya, tiba-tiba beberapa anak-anak lewat di sana. Beberapa diantara mereka berkerumun dekat si penjual kebab. Tiba-tiba, sebuah tangan mungil terulur dan mengambil sekerat daging yang sedang dipersiapkan si penjual. Rupanya, daging lezat nan berasap itu membuat si anak tidak bisa menahan diri. Suatu kelezatan yang menggoda siapapun yang melihat dan mencium aromanya. Anak-anak yang lain, sambil bercanda, berseru pada si pengambil daging dan menyuruhnya mengembalikan keratan tersebut. Apalagi ditambah teguran keras si penjual sehingga nyali anak itu menciut dan terpaksa mengambilkan keratan daging yang diambilnya. Lalu, dia bergabung kembali dengan teman-temannya dan pergi sambil bercanda ria, menghibur hati yang kecewa karena gagal merasakan sedikit kelezatan duniawi yang menawan itu.

Teringat kembali akan kuliah kerelawanan yang pernah disampaikan  Pak Ahyudin, Presiden ACT, tentang orang-orang di beberapa daerah yang terserang gizi buruk. Apabila kita makan coklat di daerah tersebut, bungkus bekas coklat itu akan jadi rebutan anak-anak. Demikian pula makanan lainnya. Fenomena ini sangat membahayakan. Bisa menjadi ancaman loss generation. Sebuah taruhan bagi harga diri dan eksistensi masa depan bangsa. Apalagi jumlah masyarakat miskin saat ini sangat banyak, tidak kurang dari 60 juta jiwa. Sementara penderita gizi buruk sudah mencapai 13 juta jiwa (WFP, dikutip dari artikel di situs ACT).

Sekelebat kejadian yang mungkin terlihat biasa bagi kebanyakan manusia. Seorang anak miskin yang mengambil makanan yang bukan haknya karena terdorong rasa lapar dan tekanan ekonomi.

Hidup telah menjadi sedemikan berat bagi sebagian besar anak bangsa penghuni zamrud katulistwa ini. Rentangan pulau-pulau yang dipenuhi hasil bumi melimpah dan tanah pertanian nan subur ternyata dihuni jutaan orang miskin yang harus mengerat sisa-sisa peradaban. Peradaban yang sama dengan peradaban yang memanjakan segelintir orang berduit dengan kemewahan, pemborosan dan ketidakpedulian.

Betapa sejarah menunjukkan bahwa manusia hampir tidak pernah belajar dari sejarah itu sendiri. Begitu banyak peristiwa-peristiwa mengerikan, yang berawal dari ketiadaan empati pada sesama, hanya menjadi catatan tanpa ruh yang menggugah dan menggentarkan. Begitu banyak darah yang tertumpah sia-sia seraya membentuk catatan hitam berbau anyir tentang penindasan manusia atas sesamanya. Baik dalam bentuk penjajahan atas bangsa lain maupun penindasan terhadap bangsa sendiri. Revolusi Prancis hanya salah satu diantara kejadian-kejadian tersebut, termasuk juga kerusuhan bulan Mei 1998, seakan lenyap dari ingatan. Sebagaimana lenyapnya rasa kepedulian dan empati pada sesama.

Entah kapan manusia akan menyadari bahwa bisa jadi sebagian bear orang lain adalah anugerah baginya. Sesama manusia adalah kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk menambah timbangan amal kebaikan di akhirat dan energi positif keberuntungan di dunia. Tidak selalu sebagai lawan yang harus dibenci atau musuh yang harus dimusnahkan.

Mungkinkah kita perlu mengikuti saran Om Ebiet G. Ade, yaitu bertanya pada rumput yang bergoyang.

Mungkin Tuhan mulai bosan
melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Semoga bermanfaat

Mari kita jadikan momentum Ramadhan 2010 ini sebagai momen pembentukan pribadi dan pengembangan kepedulian pada sesama. Mohon dimaafkan atas segala kekurangan dan kekhilafan yang terjadi atas kelemahan saya sebagai manusia biasa.

Minggu, 06 Juni 2010

Pengalihan Isu dari Mavi Marmara ke Video Porno, cermin masyarakat sakit

Demonstrasi demi demonstrasi yang dilakukan berbagai elemen masyarakat ternyata mampu menarik perhatian dunia akan isu Mavi Marmara.  Oleh karena itu, Zionis dan pihak-pihak yang pro mereka tentu saja berusaha mengalihkan perhatian dan sorotan dunia pada mreka.  Untuk mengalihkan perhatian masyarakat di negara-negara maju, mereka harus bekerja keras dan merancang strategi jitu.  Masyarakat di negera-negara maju jelas bukan kumpulan orang tolol pendek ingatan yang mudah ditipu dan dibodoh-bodohi.  Namun, tidak demikian dengan masyarakat Indonesia, negeri dengan jumlah umat Islam terbanyak di dunia.  Mereka tahu persis bahwa masyarakat Islam Indonesia tak ubahnya buih di atas lautan.  Mereka sangat mengetahui bahwa  masyarakat Indonesia ini enggan untuk memikirkan hal-hal yang berat.  Orang2 Indonesia susah diajak berpikir mendalam.  Orang-orang negeri ini sudah terlalu tertekan oleh beratnya beban hidup akibat kemiskinan yang menghimpit.

Kemunculan video porno dua selebritis yang pernah jadi sorotan media massa adalah pengalih isu paling efektif. Isu Mavi Marmara yang sempat mendominasi pemberitaan media, baik cetak, elektronik ataupun online, seakan tertutupi oleh kemunculan video tidak senonoh itu.  Siapapun pelakunya, seleb atau non seleb, video seperti itu seharusnya hanya beredar di ruang privat.  Bahkan, hubungan suami istri tidak seharusnya direkam di video.  Kegiatan seperti itu adalah kegiatan yang bersifat sangat pribadi, bahkan Rasul SAW melarang pasangan suami istri menceritakan apa saja yang mereka lakukan kepada orang lain.  Apalagi dalam masyarakat sakit jiwa yang dipenuhi "otak-otak ngeres" dan "nafsu syahwat" seperti masyarakat kita ini.

Sebenarnya, tidak penting apakah video itu beneran kedua artis itu atau bukan.  Siapapun pelakunya, video seperti itu sama sekali bukanlah konsumsi publik.  Apalagi kalau dilakukan di luar pernikahan yang sah, tentu sudah termasuk zina.  Namun, di dunia selebritis yang serba bebas, liberal dan glamour, kelakuan seperti itu sangat mungkin sudah dianggap biasa.

Tragedi Mavi Marmara adalah momentum yang sangat tepat untuk membuka hati umat manusia, tanpa pandang ras, bangsa, agama atau keyakinan.  Betapa penyerangan brutal nan kejam pada para relawan kemanusiaan adalah salah satu kejahatan kemanusiaan terkejam saat ini.  Kedok Negara Israel (yang dengan tanpa hak mencatut gelar mulia seorang Nabi) sebagai negara demokratis terkuak sudah.  Kebijakan-kebijakan negara kaum zionis itu ternyata tidak ada bedanya dengan Jerman zaman pemerintahan Nazi dan Hitler, Italia zaman Fasis Mussolini dan Soviet zaman Stalin. Sama sekali tidak ada bedanya.  Wajah Iblis nan penuh kebusukan menjijikkan kini terbuka dan telanjang.  Tidak mengherankan apabila mereka berusaha menutupi terkuaknya aib mereka dengan segala cara, termasuk menyebarkan video porno.

Entah kapan media-media kapitalis serakah itu akan sadar bahwa masyarakat sakit hanya menghasilkan individu-individu sakit jiwa dan sebaliknya.  Media-media yang justru melakukan pengkhianatan dan mengambil keuntungan tak seberapa dari sakitnya masyarakat ini.  Mungkin menunggu sampai masyarakat sakit ini berubah menjadi zombie-zombie tak berakal dan tak berjiwa, yang berjalan, berbicara dan bernafas namun hakikatnya sudah meninggal sebelum ajal.  Kerusuhan Mei 1998, yang pada hakikatnya merupakan ledakan bom waktu kemiskinan, seakan berlalu lenyap tanpa pernah diingat lagi apalagi diambil pelajaran dan hikmahnya.  

Jika demikian adanya, terlalu naif kiranya apabila kita berharap bahwa Tragedi Mavi Marmara akan menjadi tragedi kemanusiaan terakhir.  Pengalihan isu dengan cara-cara kotor dan murahan seperti video porno selebritis seharusnya menjadi peringatan bagi kita bahwa kejahatan dan tragedi kemanusiaan pasti akan berulang kembali di masa depan.  Selama akar permasalahan dari tragedi-tragedi kemanusiaan, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang, belum terselesaikan dengan tuntas.

"Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan .. WASPADALAH, WASPADALAH!!"

Bang Napi


----- semoga bermanfaat ------------


Kamis, 24 Desember 2009

Komunitas GreenLifestyle: tips untuk hemat air, energi, kertas, bikin kompos, lingkungan hidup

http://www.greenlifestyle.or.id/
GreenLifestyle adalah sebuah komunitas masyarakat perkotaan di Indonesia yang bertujuan untuk saling berbagi informasi dan berdiskusi mengenai hal-hal praktis yang bisa dilakukan oleh setiap individu untuk bergaya hidup ramah lingkungan.

Rabu, 17 Desember 2008

Kebingungan dan kesedihan jelang 2009, ikutan gak ya?



Gambar dari sini


Berikan Pijar Matahari.mp3 - Iwan FalsTerhimpit gelak tertawa
Diselah meriah pesta
Seribu gembel ikut menari
Seribu gembel terus bernyanyi


Keras melebihi lagu tuk berdansa
Keras melebihi gelegar halilintar
Yang ganas menyambar


Kuyakin pasti terlihat
Dansa mereka begitu dekat
Kuyakin pasti terdengar
Nyanyi mereka yang hingar bingar


Seolah kita tidak mau mengerti
Seolah kita tidak mau perduli
Pura buta dan pura tuli


Mari kita hentikan
Dansa mereka
Dengan memberi pijar matahari
Dengan memberi pijar matahari


Terkurung gedung gedung tinggi
Wajah murung yang hampir mati
Biarkan mereka iri
Wajar bila mencaci maki


Napas terasa sesak bagai terkena asma
Nampak merangkak degup jantung keras berdetak
Setiap detik sepertinya hitam


Tak sanggup aku melihat
Lukamu kawan dicumbu lalat
Tak kuat aku mendengar
Jeritmu kawan melebihi dentum meriam


Sekarang pasti lagi banyak yang bingung, tahun depan bulan April nyoblos/nyontreng gak ya?

ada yang bilang Golput haram ada yang bilang Demokrasi haram :(

nah, tulisan ini sih gak ingin bahas masalah halal-haramnya golput, saya bukan pakarnya :D

pada posting sebelum tulisan ini, yang berisi transkrip acara Mutiara Pagi - The Power of life, ada ringkasan kisah nabi SAW.
 

Nabi melangkah dengan sabar sehingga beliau dijuluki Al Amin (orang yang benar-benar bisa dipercaya) oleh penduduk Makkah pada waktu itu.  suatu akar yang sangat kuat dan dalam.  Sehingga pada saat beliau melakukan lompatan besar, yaitu memulai dakwah kepada kaum kafir Quraisy secara terang-terangan, beliau sudah siap dengan tantangan yang akan diterima. 


Tingginya angka Golput bisa jadi merupakan indikasi bahwa partai-partai yang ada sekarang di republik tercinta ini tidak mengakar kuat di masyarakat.  Mereka bisa jadi tidak cukup memberikan setoran rekening bank emosional (istilahnya Steven Covey dalam the 7 Habits of Highly Effective People) kepada masyarakat yang akan memilih mereka. 

Masyarakat kita sudah seperti tanah yang keras, yang sudah tidak lagi bisa menyerap air.  Hati mereka sudah terlalu sakit dengan permainan politik yang tidak mereka mengerti namun dapat mereka rasakan akibatnya.  Kemiskinan, kebodohan, penyakit dan sebagainya merajalela di berbagai tempat di negeri ini.  Bahkan di tempat-tempat yang tidak jauh dari Ibu Kota seperti desa Jagabita, Parung Panjang. 

Kerasnya hati tersebut pada gilirannya membuat mereka mencari pelarian sesaat seperti rokok dan sebagainya.  Sehingga jadi mangsa empuk penebar money politic. 

Memberi perhatian pada masyarakat menjelang pemilu saja sebenarnya sama dengan menyapu kotoran ke bawah karpet.  Persoalan yang sehari-hari dihadapi rakyat seperti tingginya harga bahan pokok, pengobatan yang terjangkau dan sebagainya tidak juga terselesaikan. 

Lingkaran setan yang akut sudah terbentuk dan akan semakin bertambah parah.
 

Masyarakat kita, apalagi yang tidak berpendidikan, banyak yang terjebak pada sikap mengasihani diri sendiri.  Siapa aja yang ngasih duit paling banyak, itulah yang dipilih.  Jadi pertimbangan memilih berdasarkan pemberian hal-hal yang bersifat material semata :(


Coba bayangkan, apabila satu orang dikasih 50 ribu dan yang ikut kampanye dari suatu daerah ada 1000 orang, terus partai atau calon tersebut musti keluarin duit berapa? 50 ribu x 1000 = 50 juta! Itu baru dari satu daerah, belum lagi daerah-daerah lain.  Terus, mengembalikan modalnya darimana, kalo bukan dari korupsi? Pengusaha kaya atau Leader MLM juga tidak punya uang sebanyak itu, apalagi partai politik yang merupakan non-profit organization (organisasi yang tidak mencari keuntungan).  Saya dalam hal ini tidak memihak pada calon atau partai manapun, tapi kalo begini kapan korupsi bisa hilang dari negeri tercinta ini.  Lalu, siapa yang sesungguhnya menciptakan koruptor? Siapa yang sesungguhnya melanggengkan korupsi di negeri ini?


(pengalaman pilkada 2007, ceritanya bisa dibaca di tulisan yang ini)

Sebenarnya bukan cuma masalah golput yang perlu simpanan rekening emosional.  Kalau kita nonton infotainment, isu paling mendominasi adalah nikah cerai para artis.  Padahal terkadang mereka pacaran sedemikian heboh dan lengketnya.  Namun sayang pernikahan mereka seringkali tidak bertahan lama.  Jadi selama pacaran ngapain aja???

maka, jangan pernah berharap melakukan lompatan besar (misal: menang pemilu 2009) bila tidak merakyat (mengakar pada rakyat) dengan kuat, kalau tidak mau "nyungsep" alias gagal total dalam jangka panjang.

Mungkin kita harus menunggu lebih lama lagi sampai kita bisa mendapati orang-orang yang bersedia dengan tulus mengukur tingkat kematangan karakter dan kompetensi mereka sebelum berkata:

PILIHLAH AKU

Semoga bermafaat dan mohon maaf bila ada yang tidak berkenan

Minggu, 20 Juli 2008

Hari Tanpa TV - Berhasilkah???

UntitledAssalamualaikum,

bagaimana hari tanpa TV kemarin, sukses enggak, he he he

Saat saya lihat pro dan kontra dari ajakan tersebut di situs detiknews dot com, kayaknya koq lebih banyak yang kontra ya.  Tanya kenapa??????????????

Sebagaimana kita ketahui, ketergantungan masyarakat pada hiburan, terutama TV sudah sampai tahap yang mengkhawatirkan.  Hal ini sudah berlangsung lama sekali, mengingat pengalaman saya waktu SD dan SMP seringkali bolos sekolah dan pura-pura sakit agar bisa nonton film kartun yang berseri-seri.  Obrolan di sekolah pada waktu itu juga berkisar tentang film-film kartun di televisi, bukan masalah pelajaran, he he he.

Kekhawatiran orang tua dan guru tentu saja dapat dimengerti dan dipahami.  Mereka tidak ingin anak-anak dan murid-muridnya tidak berhasil dalam menempuh pendidikan sehingga tidak dapat membina masa depan dengan baik.  Acara televisi sering kali sambung menyambung sehingga tidak memberi kesempatan pada anak-anak untuk melakukan hal-hal lain.  Mungkin stasiun TV A saat melihat jadwal siaran Stasiun TV B berpikir, "kalau film kartun ini saya setel jam sekian, pasti bentrok sampa punya TV B dan bisa kalah rating.  Kalau gitu saya setel setengah jam sesudahnya aja deh."

Pemsukan stasiun TV memang dari Iklan, jadi bagaimanapun hancur lebur acaranya, apabila ratingnya tinggi ya akan tetap dipertahankan mati-matian.  Namun, saya pernah dengar bahwa pada rating itu  sendiri terjadi salah kaprah, yang di-rating kan acara TV-nya bukan iklannya.  Kalau orang-orang yang suka nonton TV ditanya, "Bapak-bapak, ibu-ibu, mas, mbak, adik dll kalau pas ada iklan, channel TV-nya diganti enggak" Kemungkinan 90 sekian persen akan menjawab "Digantiiiiiiiiiiiiii". Jadi, bisa dibilang persis dengan apa yang dikatakan Bapak Tung Desem Waringin, para pemasang iklan itu menyebarkan uang di kawah gunung berapi.  Alias buang-buang duit :(

Padahal, bukankah Alloh SWT sudah menjanjikan bahwa Dia akan menjamin rezeki setiap makhluk ciptaan-Nya? Coba kita baca Surat Hud Ayat 6. (Dan tidak ada suatu binatang melata dimuka bumi ini melainkan Allah yang memberi rizqinya).  Tuh, benar kan?
  
Selama manusia belum yakin bahwa Alloh SWT menjamin rezeki setiap hamba-hamba dan makhluk-makhluk ciptaanNya, maka hal-hal seperti itu akan terus terulang sampai kapanpun.  Namun, saya pernah mendengar salah satu editorial radio SMART FM.  Dalam editorial tersebut dikatakan bahwa:
  1. Masyarakat yang terus menerus disuguhi tontonan tidak bermutu akan hilang minat bacanya. 
  2. Masyarakat yang kehilangan minat baca akan bodoh jadinya. 
  3. Masyarakat yang bodoh akan miskin. 
  4. Masyarakat yang miskin akan lemah daya belinya dan tidak bisa beli apa-apa. 
  5. Masyarakat yang lemah daya belinya tentu tidak akan mampu membeli produk-produk yang dipromosikan melalui iklan-iklan di TV.  
  6. Apabila masyarakat tidak bisa membeli produk-produk tersebut, perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk-produk tersebut tentu akan mengalami kesulitan keuangan. 
  7. Apabila perusahaan-perusahaan itu mengalami kesulitan keuangan, bisa-bisa ada PHK massal dan yang paling dahulu kena adalah buruh dan para pekerja kasar.  Mereka pada umumnya kurang berpendidikan dan miskin, sehingga mudah jadi sasaran empuk PHK.
  8. Banyaknya PHK akan menimbulkan lebih banyak pengangguran.
  9. Lebih banyak penggangguran artinya akan lebih banyak tindak kejahatan merajalela di lingkungan kita.
  10. Pada akhirnya kualitas hidup masyarakat akan menurun secara keseluruhan, termasuk penyakit yang merajalela karena sulit bagi masyarakat miskin untuk memelihara kebersihand an menjaga kesehatan, contohnya di  Desa Jagabita, Parung Panjang Tanggerang, alias Kampung Pesakitan.  Foto-fotonya bisa dilihat di sini
  11. Bukan tidak mungkin semua hal yang disebutkan di atas akan memicu krisis yang lebih besar lagi, mungkin seperti Revolusi Prancis atau peristiwa-peristiwa lainnya yang serupa dengan itu.
     

Nauzubillah min dzalik, semoga Alloh SWT melindungi kita semua, Amiiiin


Nah, apakah kita masih meremehkan dampak negatif Televisi dalam kehidupan kita??

Semoga bermanfaat, maaf jika tidak berkenan.