Tampilkan postingan dengan label kahlilgibran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kahlilgibran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2011

[Opini] Hari Ibu di Era Digital

Terlepas dari pro dan kontra perayaan Hari Ibu yang jatuh tanggal 22 Desember, besarnya kasih sayang seorangibu pada anaknya tentu tidak perlu di ragukan lagi.  Sejak berjuang untuk melahirkan si anak ke dunia sampai mendidik dan membesarkannya, sungguh tak terbalas jasa seorang ibu.  Sehingga, berbakti pada orang tua, apalagi pada seorang ibu, menjadi sebuah amal sholeh yang besar balasannya dan merupakan kewajiban seoerang anak yang beriman pada Allah dan RasulNya.  

Namun terkadang, banyak anak yang tidak menyadari hal itu dan enggan berterima kasih pada orang tua, terutama ibunya.  Ibu yang melahirkannya ke dunia dan berkorban apapun yang mampu dia korbankan disia-siakan begitu saja.  Bahkan, salah satau ciri akhir zaman menjelang kiamat adalah ketika budak-budak melahirkan tuannya.  Artinya, banyak sekali di zaman kita sekarang ini, anak-anak yang hampir bisa dibilang memperbudak orang tuanya, terutama ibunya.   Banyak dari mereka yang mendapat makanan, uang jajan dan berbagai fasilitas lain dari orang tuanya namun hanya untuk memuaskan hawa nafsu dan egonya semata.  Seakan-akan, para orang tua adalah rakyat yang membayar pajak untuk membiayai kemewahan hidup para raja dan bangsawan di masa lampau.  

Ketika teknologi digital dan internet hadir di dunia, tontonan, hiburan dan permainan pun berubah.  Permainan-permainan elektronik yang mengandalkan jaringan internet hadir mewarnai kehidupan anak-anak muda.  Banyak anak muda yang menghabiskan waktu berjam-jam tanpa henti dalam permainan-permainan elektronik tersebut.  Orang tua pun kesulitan mengendalikan dan mendidik anak-anak mereka. Sedikit saja terganggu saat bermain games online, banyak anak yang langsung marah-marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya.  Seringkali, ayah atau ibu mereka ada yang sampai terpaksa menyambangi warnet-warnet dan pusat-pusat persewaan permainan elektronik itu untuk mencari anak-anak mereka.  Tidak mengherankan apabila Anak-anak seperti itu oleh Marc Prensky disebut Digital Natives atau penduduk asli negeri digital.  Sebuah negeri dimana pertukaran informasi berlangsung serba cepat, serba artifisial dan serba gemerlapan.  Sebuah dunia yang dipenuhi dengan konten Multimedia yang sensasional.  Sebuah dunia yang menjanjikan kenikmatan bagi mereka yang haus akan segala macam sensasi dan kesenangan palsu nan semu.  Jurang pemisah antar generasi muda yang melek digital dan generasi tua yang buta digital makin lebar dan makin sulit untuk dijembatani.  

Sebagaimana sang Penyair Libanon Kahlil Gibran pernah mengatakan "Engkau dapat rumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya, karena jiwa mereka berada di rumah masa depan yang tak dapat kau sambangi bahkan dalam mimpi-mimpimu".  Bukan tidak mungkin, rumah masa depan yang dimaksud Kahlil Gibran telah terwujud dalam dunia yang dilahirkan teknologi digital online yang ada sekarang ini.  Banyak orang tua, terutama Ibu, seakan tak lagi dianggap penting oleh anak-anak yang dilahirkannya sendiri.  Sebagian kaum ibu seakan tertinggal jauh oleh anak-anak mereka.  Kehangatan pelukan dan kasih sayang para ibu pada anak-anaknya seolah tergantikan oleh dahsyatnya gelombang informasi dan hiburan yang dibawa oleh teknologi digital tersebut.  

Kini, apalah artinya hari ibu diperingati dengan berbagai acara dan diabadikan di berbagai situs dan jejaring sosial di internet? Ketika pada saat bersamaan teknologi yang sama telah menyebabkan kasih sayang ibu tercabut dan terpisah dari anak-anaknya yang telah menjadi penduduk sebuah negeri bernama Dunia Digital.  

Jumat, 26 Februari 2010

[Karya pemula] Poster Motivasi




mencoba menggabungkan gambar2 yg public domain dari wikipedia commons dengan kata-kata (kutipan atau kata2 sendiri) dgn situs bighugelabs

Please enjoy ........... :D

Selasa, 14 Juli 2009

[Renungan Cinta] Hikmah Patah Hati



Ya Tuhanku yang Maha Pengasih
Engkau sahaja pemeliharaku
Dengarkan rintahan hambaMu ini
jangan Kau biarkan ku sendiri
Agar ku dapat bahagia walau tanpa bersamanya
gantikanlah yang hilang tumbuhkan yang telah patah
kuinginkan bahagia di dunia dan akhirat
padaMu Tuhan kumohon segala

InTeam, Doa Seorang kekasih

Sahabat,

Sungguh, di dunia ini tidak ada kata terindah selain cinta.  Namun, sudah tidak terhitung berapa banyak yang menderita karena kata tersebut.  Bahkan ada yang memilih sakit gigi daripada sakit hati karena putus cinta alias patah hati.  

Patah hati bisa jadi adalah anugerah tersembunyi yang diberikan olehNya agar hati kita yang telah mengeras dan membeku menjadi lembut dan peka pada tanda-tanda kekuasaanNya.  Musim dingin tersebut adalah kesempatan bagi kita "berhibernasi" dan berkontemplasi dengan relaks sebagai bekal menghadapi kehidupan yang akan datang.  

Bukan tidak mungkin, orang yang menyebabkan kita patah hati sehingga menderita, nelangsa dan sebagainya adalah "utusan"Nya yang bertugas memaksa kita kembali ke jalan yang benar, jalan yang Dia kehendaki.  setelah tugasnya selesai, biarlah sang "utusan" pergi meninggalkan kita, tidak perlu kita mengejarnya.  Kita tinggal meneruskan perjalanan di jalan yang Dia kehendaki, di mana kebahagiaan yang dijanjikan untuk kita menanti jika kita sabar meniti jalan lurus tersebut.  

Mungkin yang perlu diperbaiki adalah pemahaman kita tentang kesenangan dan ksedihan, yang bagaikan musim semi dan musim dingin.  Sehingga kita menerima datangnya musim dingin kesedihan di hati kita sebagaimana kita menerima kedatangan musim dingin di ladang pertanian kita.  Saat kita tidak bisa menanam apapun di ladang tersebut.

Jika suatu saat kita menemukan cinta yang lain, mudah-mudahan saat itu kita telah menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa.  Suatu pribadi yang lebih siap untuk mencintai dengan Cinta yang lebih banyak mendengarkan, memahami, menghargai dan memberi.  Cinta yang jauh lebih sabar dan penuh kasih sayang.  Cinta yang menghasilkan tabungan emosi positif yang jumlahnya tak terkira.   Cinta yang terpatrikan integritas di dalamnya, yang akan menjadi benteng yang kukuh dan rumah yang nyaman bagi jiwa orang yang dicintai.  Cinta yang benar-benar bisa dipercaya, tidak akan memanipulasi atau berbohong.  

Jikapun kita menuntut sesuatu dari yang kita cintai, yang kita tuntut tersebut bukanlah demi kepentingan atau kesenangan pribadi namun sesungguhnya untuk kebaikan yang dicintai juga.  Tuntutan yang lebih merupakan dorongan rasa tanggung jawab sebagai seorang pencinta yang menjaga kekasihnya dari segala mara bahaya.  Tuntutan yang tidak disertai paksaan, yang tetap dalam koridor penghormatan kepada yang dicintai.  

"The deeper that sorrow carves into your being, the more joy you can contain" demikian kata Kahlil Gibran.  Kepedihan yang kita alami sesungguhnya merupakan petunjuk akan datangnya bahagia.  

When God wants to give you His Wisdom and His Guidance and He finds the door of your heart locked, then He sends you an angel to break your heart so the wisdom and guidance can enter.  The problem is that you chase the angel and you forget and ignore the wisdom and guidance God has given.  

Sungguh, cinta adalah hal teragung yang ada di muka bumi ini dan hanya pantas untuk diberikan kepada Dia yang Kekal Abadi, yang tidak akan pernah mengecewakan para pencintaNya, disertai rasa takut dan harapan padaNya.  

Sebuah nasihat untuk diri sendiri yang sedang patah hati. 

Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membaca  

Inspired by: The Art of Loving, Erich Fromm dan The Prophet, Kahlil Gibran
 
Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49 

Senin, 16 Februari 2009

[Social Issues] Firaun di Jagabita?

Sedemikian akrabkah warga desa Jagabita dengan kematian?

Saya sendiri belum menanyakan hal ini pada Ibu Uun atau teman2 relawan lokal yang lain di desa tersebut.  Saya juga belum bertanya kepada warga desa itu.  Namun, mengingat keadaan di sana yang sangat jauh dari berbagai fasilitas dan sarana penunjang kebersihan dan kesehatan, hal itu mungkin saja. 


Hari ini saya mendapat kabar duka dari Mas Roel bahwa Pak Hasan, seorang warga desa Jagabita, tepatnya Kampung jawiyah yang terletak 3 km dari tempat dilaksanakannya baksos Multiply Indonesia.  Beliau menderita penyakit yang berat, yaitu kanker tulang.

Sebelumnya, beberapa hari sebelum baksos, Ibu Marhumah, salah seorang warga yang juga menderita penyakit berat, meninggal dunia.  Ceritanya bisa dibaca di tulisan yang ini.

Penyakit, kemiskinan dan kebodohan bagaikan Fir'aun, Hamman dan Qorun yang menindas kaum Bani israil berabad-abad yang lalu di zaman mesir kuno.  mereka ditugasi oleh Allah SWT membawa kaum Bani Israil keluar dari Mesir untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik dalam keadaan merdeka.  

Namun, tantangan yang dihadapi oleh kedua nabi tersebut ternyata bukan hanya dari luar, yaitu Fir'aun dan pasukannya, tetapi juga dalam diri kaum itu sendiri.  Bani Israil yang sudah lama sekali diperbudak Fir'aun dan penduduk Mesir, enggan untuk menempuh perjuangan untuk hidup merdeka dan terhormat secara mandiri.

Suatu tantangan yang lebih berat daripada menghadapi Firaun dan bala tentaranya

Maka, siapakah diantara kita yang siap untuk berperan menjadi nabi Musa dan Harun bagi mereka, membimbing mereka melalui perjalanan melalui gurun pasir perubahan yang berat, dalam bayang-bayang pasukan Fir'aun yang mengejar dan laut Merah yang menghadang.  

Tantangan yang dihadapi tentu saja bukan saja dari luar orang-orang miskin tersebut.  Sikap mengasihani diri sendiri yang menjangkiti mereka sangat menyulitkan orang-orang yang berperan sebagai Nabi Musa untuk mereka.  Para "juru selamat" itu tidak akan mampu menyelamatkan diri kaum miskin papa itu apabila mereka membangkitkan semangat dalam diri mereka sendiri.

Orang-orang yang mengasihani diri sendiri menganggap diri mereka sebagai korban.  Mereka cenderung menyalahkan segala hal di luar mereka sebagai penyebab kemiskinan hidup mereka.  Sulit sekali membangkitkan jiwa mereka untuk mempersiapkan diri meraih masa depan yang gemilang.  Kira-kira seperti itulah dahulu Nabi Musa menghadapi Bani Israel di Mesir Kuno.  

memang, mungkin tidak semua manusia di dunia ini memiliki keinginan yang kuat menjadi relawan yang dengan suka rela berkorban demi sesama manusia.  Mungkin hanya sebagian kecil manusia di dunia ini yang rela mengorbankan sebagian besar hidupnya membantu orang lain.

Mungkin tidak semua manusia memiliki kemampuan memberi seperti yang digambarkan Kahlil Gibran dalam The Prophet berikut ini

Then said a rich man, "Speak to us of Giving."

And he answered:

You give but little when you give of your possessions.

It is when you give of yourself that you truly give.

For what are your possessions but things you keep and guard for fear you may need them tomorrow?

And tomorrow, what shall tomorrow bring to the over prudent dog burying bones in the trackless sand as he follows the pilgrims to the holy city?

And what is fear of need but need itself?

Is not dread of thirst when your well is full, thirst that is unquenchable?


By Kahlil Gibran in The Prophet

Semoga mereka yang telah memilih jalan hidupnya sebagai relawan, baik sepenuh waktu atau paruh waktu, diberkahi oleh Allah SWT dan diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan mereka. 

Semoga bermanfaat

Untuk teman-teman relawan, ada acara yang bermanfaat pada hari hari Sabtu, 21 Februari 2009.  Info lebih lanjut, silahkan mampir ke jurnal yang satu ini

Minggu, 08 Februari 2009

[Daily Life and Social Issues] Renungan setelah ditegur petugas keamanan

All human beings have an innate skill — survival skill. The fact that poor are still alive is a proof of their ability to survive. We do not need to teach them how to survive. They know this already.

Muhammad Yunus

(Profile at North American Bangladesh Info Center )


Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke suatu pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Pusat.  Di satu tempat di mall tersebut, ada sekelompok orang sedang membongkar hiasan-hiasan yang mewah.  Karena bawa HP berkamera, saya iseng memotret.  Yang membuat saya tertarik untuk memotret adalah karena keluarga tersebut menyewa sepertinya menyewa tempat yang lumayan luas di sebuah mall di Jakarta.  

Memang, entah kenapa hampir tidak ada hal yang menarik bagi saya selain perbedaan antara kaum aghniya/kaya dan kaum dhuafa/miskin.  Mungkin pengaruh lagu-lagu Iwan Fals yang saya gemari saat masih duduk di bangku SMP dulu.  

Namun, aksi paparazi yang saya lakukan itu ternyata tidak sukses.  Seorang petugas keamanan yang berbadan tinggi dan tegap menghampiri saya.  Dengan ramah namun tegas beliau bertanya "Bapak siapa? ada perlu apa memotret di sini?".  

Beliau lalu mengatakan bahwa apabila kita ingin memotret untuk kenang-kenangan keluarga atau yang lain, diminta terlebih dahulu melapor ke petugas keamanan.  Saya hanya bisa mengakui kesalahan saya dan terus terang mengatakan bahwa saya tidak tahu bahwa ada peraturan seperti itu.  Untung masalahnya tidak berkepanjangan.  

Sambil pulang ke rumah, saya merenungi kejadian tadi.  Memang kurang etis memotret sembarangan seperti itu, bukankah semua orang punya privacy yang harus dihargai?

Namun, perbedaan antara kaum kaya dan kaum miskin itu tetap terpatri di pikiran saya.  Tidak jauh dari pusat perbelanjaan tadi, ada kehidupan lain yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di dalam mall tadi.  

Satu hadits yang muncul dari alam bawah sadar saya saat itu adalah:   

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)

Hadits saya copas dari situs ini

Hadits di atas menggambarkan orang-orang yang banyak beramal sholeh tetapi juga membawa dosa-dosa yang terjadi dalam interaksi sosial sesama manusia seperti menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain.  Hal itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat kita bergidik ngeri membayangkan akibatnya.  

Bagaimana lagi dengan orang-orang yang amal sholehnya bisa dibilang hampir tidak ada dan menghabiskan masa hidup mereka yang hanya beberapa waktu saja di dunia ini dengan berfoya-foya, menghamburkan umur, harta dan sebagainya tanpa mau berbagi pada sesama.  Tentu akan jauh lebih mengerikan lagi akibatnya.  

Bayangkan perasaan orang-orang miskin tersebut saat ada orang yang berkata "Ibu-ibu, Bapak-bapak sekalian, maaf saya belum bisa membantu meringankan beban penderitaan anda sekalian.  Kami ingin terlebih dahulu memuaskan hawa nafsu kami untuk bermewah-mewah.  Kami ingin merayakan terlebih dahulu ulang tahun anak-anak kami atau pernikahan kami dengan pesta-pesta yang megah terlebih dahulu.  Ibu bapak sekalian bersabar dulu saja ya.  Kalau ada yang mati kelaparan, yah anggap aja sudah waktunya"

Tentu saja tidak ada orang yang cukup sinting untuk mengatakan kata-kata menyakitkan itu tepat di depan muka orang-orang miskin, jika tidak mau kehilangan nyawa.  

Namun, kata-kata seperti itu seakan-akan diucapkan melalui kemewahan biasa yang dipertontonkan orang-orang kaya, baik secara langsung atau melalui saluran penyedia informasi seperti TV atau internet.  Gedung-gedung tinggi menjulang angkuh sementara disekitarnya orang-orang miskin melihat dengan pandangan mata nanar sampai menahan lapar melihat orang-orang kaya berlalu lalang dengan atau tanpa sadar memamerkan kemewahan yang mereka miliki.

dalam sejarah kita mengenal dua peristiwa yang mengerikan, Revolusi Perancis atau Revolusi Rusia.  Memang benar kedua revolusi itu tidak akan terjadi tanpa campur tangan secret societies yang mendominasi percaturan politik di kedua negara tersebut.  Namun, tanpa adanya jurang pemisah yang luar biasa besar antara kaum kaya dan kaum miskin, sulit membayangkan kedua revoulsi itu akan terjadi.  

Kemewahan memang melumpuhkan empati, kenyamanan memang melenakan jiwa.  Jarang sekali ada orang yang mau benar-benar belajar dari orang-orang miskin dan benar-benar memahami mereka seperti Muhammad Yunus.  Muhammad Yunus mempercayai bahwa manusia memiliki kemampuan inheren untuk mempertahankan kehidupannya.  Fakta bahwa orang miskin masih ada sudah cukup bagi beliau untuk percaya bahwa kaum miskin memiliki kekuatan yang cukup untuk mempertahankan hidup mereka.  

Lebih jauh, Muhammad Yunus dengan tegas menyatakan bahwa kemiskinan tidak diciptakan oleh orang-miskin.  Jadi kita tidak boleh menuduh mereka.  Kemiskinan sesungguhnya diciptakan oleh sistem sosial dan ekonomi yang kita desain untuk dunia ini.  Institusi-institusi yang telah kita buat dan kita banggakan itulah yang menciptakan kemiskinan.

(Here is my explanation. Poverty is not created by people who are poor. So we shouldn't give them an accusing look. They are the victims. Poverty has been created by the economic and social system that we have designed for the world. It is the institutions that we have built, and feel so proud of, which created poverty.)

ELIMINATING POVERTY THROUGH MARKET-BASED SOCIAL ENTREPRENEURSHIP by Muhammad Yunus

Apapun sistem politik dan pemerintahan yang ada di suatu negera, apabila masih ada jurang pemisah yang lebar antara kaum kaya dan kaum miskin, sungguh kerusuhan dan kehancuran tinggal menunggu waktu untuk terjadi.   

Semoga bermanfaat

Kata-kata Muhammad Yunus diambil dari situs ini



Then said a rich man, "Speak to us of Giving."

And he answered:

You give but little when you give of your possessions.

It is when you give of yourself that you truly give.

For what are your possessions but things you keep and guard for fear you may need them tomorrow?

And tomorrow, what shall tomorrow bring to the over prudent dog burying bones in the trackless sand as he follows the pilgrims to the holy city?

And what is fear of need but need itself?

Is not dread of thirst when your well is full, thirst that is unquenchable?


By Kahlil Gibran in The Prophet