Tampilkan postingan dengan label lsc. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lsc. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2009

[SEFT] Praktek terapi SEFT di acara Life Skill Camp 1 - 2009

Cinta yang kuberi
sepenuh hatiku,
entah apa yang kuterima,
aku tak peduli,  
aku tak peduli,
aku tak peduli

Ebiet G. Ade - Apakah ada bedanya


Sebagai salah satu panitia acara LSC kemarin, saya termasuk orang yang dapat banyak berkah.  Saya mendapat banyak kesempatan untuk memperaktekkan teknik SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang saya pelajari beberapa waktu yang lalu.  Para peserta dan sesama panitia banyak yang mengalami gangguan kesehatan yang biasa terjadi saat terselenggaranya acara yang cukup padat, seperti kelelahan, capek, pusing, mual atau sakit perut dan sebagainya.  Aktifitas SEFTing tersebut saya lakukan di mushalla, barak para peserta dan tempat-tempat lain yang memungkinkan.  Alhamdulillah, hasilnya lumaya buat pemula, ada penurunan rasa sakit walau belum hilang 100 persen

Yang menarik, ada rekan panitia yang sesudah pusingnya diterapi malah keliyengan kaya orang baru bangun tidur.  Saya sendiri sempat bingung mau ngapain.

Untung saya segera ingat cerita seorang ibu polwan yang phobia duren.  saat dia keliyengan hampir pingsan, Mas Faiz langusng menyuruhnya berdiri.  Langsung rekan itu saya minta berdiri pelan-pelan.  Alhamdulillah hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi

benar kata Mas Faiz, little bit learning is dangerous

Dalam training SEFT, masalah ini dibahas dalam bagian "Handling the excessive intensity".  

Memang saya akui bahwa terapi SEFT yang saya lakukan masih kurang efektif dan menemui banyak kendala.  Namun, itu semua adalah pelajaran agar bisa membuat "Art of delivery" dari terapi SEFT yang saya lakukan makin baik. saya juga mendapat kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang membuat terapi SEFT menjadi kurang efektif.  

Hal-hal tersebut antara lain:

1.  Ada unsur unsur yang kurang terpenuhi baik dari unsur energy psychology atau spiritual

Unsur-unsur spiritual dalam SEFT antara lain:

A. Yakin: Yakin bukan pada terapis atau SEFT atau diri sendiri, namun pada kekuasaan Allah SWT yang Maha Menyembuhkan.  

B. Khusuk: Konsentrasi, memusatkan perhatian pada rasa sakit.  Energi tubuh manusia mengikuti jalan pikiran, jika pikiran diarahkan ke arah rasa sakit, ke sanalah energi mengalir.  

C. ikhlas: menerima bahwa sakit itu adalah ketentuan Allah dan membiarkan yang lalu biarlah berlalu

D. pasrah: membiarkan apa yang akan terjadi, sembuh atau tidak kepadaNya.

E. syukur: dari satu hal yang tidak beres atau tidak sesuai keinginan kita, ada 10000000000000000001 bahkan lebih nikmat dari Allah SWT yang terkadang bahkan tidak kita sadari.  

sedangkan unsur energy psychology yang perlu dipenuhi antara lain:

A. teknik yang benar dan tepat.  

B. ketepatan akar masalah dalam set-up.  sering kali, apa yang dirasakan bukanlah akar permasalahan yang sebenarnya tetapi merupakan gejala semata. Akar masalah seringkali merupakan masalah-masalah emosi.  

2. Kurangnya kerja sama dengan terapis SEFT, baik dalam memenuhi unsur-unsur spiritual atau energy psychology: Untuk memaksimalkan efek terapi SEFT, terapis dan klien perlu bekerja sama.  Keduanya perlu "men-spiritual-kan" dirinya semaksimal mungkin.  Bila klien kurang "spiritual" maka terapis harus memaksimalkan sisi EFT atau sisi energy psychology agar terapi tetap memiliki efek yang diharapkan, termasuk mencari akar masalah yang sebenarnya.  Apalagi jika klien merasa apatis sehingga enggan bersama terapis untuk mengucapkan repetitive power words "Ya Allah, saya ikhlas, saya pasrah" pada saat di-tapping.  

3. Background klien, terutama para peserta yang berasal dari lingkungan menengah ke bawah.  Erich Fromm menyebut masyarakat seperti ini sebagai receptive society, masyarakat yang lebih suka berharap dari luar, terutama dalam hal materi.  Agama seringkali hanya berkisar pada masalah ritual semata dan bukan pada sisi spiritualitas.  ditambah lagi mereka lebih percaya pada obat-obatan daripada energy therapy.      

4. Adanya godaan dari pihak terapis untuk menggunakan SEFT untuk sarana mendongkrak Ego.  seorang SEFTer bukanlah malaikat yang bersih dan suci.  dia juga manusia biasa yang memiliki keinginan untuk dihargai.  Namun, sudah selayaknya seorang SEFTer selalu berusaha kembali "men-spiritual-kan" dirinya agar efektifitas terapi yang dilakukan selalu meningkat.    

Saya percaya SEFT adalah salah satu media yang efektif untuk membagi cinta pada sesama manusia.  Erich Fromm mengatakan "Jika aku berkata aku mencintaimu, maka sesungguhnya aku mencintaimu dalam diri semua manusia, dalam diri semua yang hidup dan dalam diriku sendiri".  Fromm menyebut cinta seperti ini dengan istilah Brotherly Love.  Bahwa sesungguhnya kekasihmu berada dalam diri setiap manusia dan engkau akan selalu bisa berbuat baik dan memberi kepada kekasihmu melalui diri setiap orang.  Kekasihmu mungkin tidak mengetahui kebaikan-kebaikanmu dengan sesama manusia, mungkin dia tidak akan pernah tahu.  Namun, pancaran energi kebaikan itu cepat atau lambat akan mencapainya, mengetuk lembut pintu hatinya dan bukan tidak mungkin keajaiban demi keajaiban akan terjadi.  Keajaiban yang tidak dapat dijelaskan dengan logika atau kata-kata.  

Semoga bermanfaat  

Inspired by: SEFT, Erich Fromm - The Art of Loving dan The Sane Society,
 
Posting sambil dengerin Ebiet G. Ade - Apakah ada bedanya

Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
Kucoba tuang ke dalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui
Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku
Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli
Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka

 

Kamis, 30 April 2009

[Sahabat Peduli] Life Skill Camp 2009

Assalamualaikum, sekedar menyampaikan amanah 

Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman, Parung - Bogor, Jawa Barat.


18 – 20 JULI 2009 

Lebih 40% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dengan beragam faktor penyebabnya, mulai dari keterbatasan akses, rendahnya pendidikan, budaya dan cara hidup, hingga yang terbaru disebabkan oleh politik. Kemiskinan pun berdampak pada banyak sektor dari kehidupan seseorang, kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi hanyalah satu akibat yang ditimbulkan. 

Permasalahan yang seakan tak kunjung selesai di negeri ini adalah kemiskinan, rendahnya pendidikan, hingga keterbatasan akses dan kesempatan untuk menciptakan perubahan hidup. Permasalahan ini seperti siklus yang terus berputar-putar di tempat yang sama, mengkerangkeng orang-orang yang sama hingga keturunannya. Yang dibutuhkan mereka adalah kekuatan untuk memutus rantai siklus tersebut agar bisa keluar dari keterpurukan, agar tak selamanya berlindung di balik ketidakmampuan atas nama kaum dhuafa dan segera mengubah diri menjadi orang-orang yang tak rela menengadahkan tangan. 

Life Skill Camp (LSC), sebuah program yang digagas Yayasan Sahabat Peduli (SP) untuk membantu anak-anak dengan keterbatasan kesempatan itu agar memiliki mental pemimpin, sikap disiplin dan keinginan kuat untuk mengubah jalur hidupnya ke arah yang lebih baik. Dalam program ini, para peserta yang diambil dari anak-anak yatim, anak jalanan dan kaum dhuafa akan diberikan pelatihan secara singkat tentang kepemimpinan dan kewirausahaan untuk membuka cakrawala baru bagi mereka agar melihat dunia wirausaha sebagai satu alternatif terbaik bagi masa depan mereka. 

Program yang dikemas dalam setting camp ground di alam terbuka untuk melanjutkan tradisi hidup sederhana dan disiplin, bermental kuat serta memiliki visi untuk sebanyak-banyaknya menciptakan peluang bagi dirinya sendiri, acara ini akan menghadirkan para pembicara sesuai kepakarannya dalam kepemimpinan, kewirausahaan dan keterampilan khusus yang bakal menjadi alternatif pilihan setiap peserta untuk berkarya. 

Maka, kami Yayasan Sahabat Peduli (SP), mengajak siapapun untuk bersama-sama memberikan kesempatan terbaik bagi saudara-saudara kita untuk memiliki kekuatan memutus rantai kemiskinannya, agar mampu mengubah jalur hidupnya menjadi lebih baik untuk dirinya dan generasi berikutnya. 

Life Skill Camp (LSC) Angkatan I tahun 2009 ini akan digelar pada tanggal 18 – 20 Juli 2009 bertempat di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman. Jl. Nurul Iman, desa Waru Jaya, Parung, Bogor, Jawa Barat. Target peserta dari angkatan I ini adalah 350 peserta dengan kualifikasi anak usia sekolah SMA atau 17 – 19 tahun dari Jabodetabek. Sahabat Peduli menargetkan sepanjang 2009 bisa menyelenggarakan LSC sampai angkatan ke III dengan target 1.000 peserta. 

Tentu saja, tanpa kerja sama dan sinergi yang baik dari segenap mitra, relawan dan stakeholder strategis program mulia ini akan sulit terwujud. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi program manager LSC, Farida Lukitaning

****

Yayasan Sahabat Peduli merupakan suatu wadah legalitas yang berawal dari kumpulan para relawan yang tergabung di komunitas Relawan Pelangi. 


Visi : Berbagi Peduli Untuk Generasi Mandiri. 

Sekretariat : Jl. Swakarya Bawah no. 23 RT 04/03, 
Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan

Akta Notaris : No. 25, tanggal 19 Februari 2009

Penanggungjawab : Bayu Gawtama (0852 1906 8581)

Email : info@sahabatpeduli.org
sahabat.peduli@yahoo.co.id
Web : www.sahabatpeduli.org

Untuk info lebih lanjut, silahkan bergabung dengan milis Relawan Pelangi

Milis: http://groups.yahoo.com/group/relawan_pelangi/

Rekening Bank: 

Bank Syariah Mandiri a/c 004 016 800 4 atas nama Yayasan Sahabat Peduli

“Sebagian orang hanya bisa menunggu kesempatan, sebagian lagi bisa menciptakan kesempatan, namun sebagian kecil saja yang mau memberi kesempatan” (Gaw)