Tampilkan postingan dengan label kepedulian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepedulian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Mei 2010

Sosial] Motor besar dengan konsekwensi besar

harley Davidson

siapa yang tidak kenal merek motor itu? Walaupun di Indonesia relatif jarang, namun sempat membuat heboh karena motor jenis itu ada yang menjadi upeti dari seorang petugas kepada petugas lainnya.

Saya masih bisa mengingat betapa nge-fans-nya saya pada motor jenis itu.  Setiap kali mau ke daerah Bogor lewat pasar Minggu, saya sudah pasang kuda-kuda di bis metro mini untuk melihat motor jenis itu di sebuah bengkel dalam perjalanan ke pasar minggu.  Terkadang, motor itu saya gambar di whiteboard, walaupun tentu saja sebatas ilustrasi sketsa.  Suatu keingian yang lebih merupakan dorongan eksternal dibandingkan dengan motivasi internal.  Seiring perjalan waktu, keinginan saya untuk memiliki motor besar itu mulai memudar.  Pergaulan dengan teman-teman relawan membuat mata hati saya terbuka akan penderitaan masyarakat di sekitar kehidupan saya.  

Motor besar memang bisa jadi salah satu simbol kegagahan dan keperkasaan, terutama buat kaum Adam.  Dalam iklan-iklan produk jeans, rokok dan sebagainya, bintang iklannya seringkali berpose atau mengendarai motor besar.  Di film-film, motor seperti itu identik dengan kebebasan, bebas lepas menjelajahi benua Amerika nan luas melalui jalan-jalan yang panjang seakan tak berujung.  Dengan tubuh kekar penuh tato, kacamata hitam dan tanpa helm serta aksesoris khas penggemar HD lainnya.  

Mungkin masih terekam dalam ingatan kita serombongan motor besar yang mampir di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar.  Mereka menguras BBM bersubsidi dan menyebabkan banyak pengguna kendaraan yang lain tidak kebagian.  Sehingga banyak pihak yang menganggap hal itu sebagai perampokan BBM bersubsidi.  Kalau mampu beli dan mengendarai motor besar, BBM-nya jangan yang bersubsidi dong, mungkin itu yang ada di benak banyak orang.  Belum lagi berita yang masih cukup hangat betapa motor besar merek HD itu menjadi semacam upeti untuk oknum aparat penegak hukum dari orang yang menggelapkan uang pajak yang dibayar rakyat.  Uang pajak yang dibayarkan dengan suka rela dari tetesan keringat, cucuran air mata dan darah dari rakyat yang bekerja keras dengan cara yang halal dan Insya Allah diridhoi oleh Allah SWT.  Mereka membayar pajak dengan harapan uang itu akan berguna bagi para pembarayarnya.  Namun, uang itu hanya berakhir menjadi gaya hidup mewah para aparat, termasuk motor besar boros bensin itu tadi.

Peradaban yang kalah memang cenderung menyerap simbol-simbol dari peradaban yang menang dan menguasainya.  Dahulu, ketika peradaban Islam dominan di bumi Spanyol, banyak masyarakat non muslim yang meniru gaya hidup orang-orang Islam.  Para perempuan non muslim banyak yang mengenakan busana yang menutup aurat seperti kerudung.  Orang-orang Eropa yang terpengaruh budaya Islam juga ikut menjaga kebersihan, salah satunya dengan cara membersihkan diri dengan air dan sabun.   Namun, saat Barat menguasai panggung kehidupan dunia, masyarakat dunia cenderung meniru dan menyamakan gaya hidup dan budaya mereka dengan peradaban Barat.  Seberapapun mahal harga yang harus dibayar, termasuk korupsi dan penyelewangan amanah atau penggelapan harta.  Tidak peduli betapa banyak saudara seagama, sebangsa setanah air atau sesama manusia yang akan menderita, terdzalimi dan kehilangan hak-haknya.  

Sebagaimana yang pernah saya sampaikan pada siaran KaZI di Radio Islam Sabili beberapa waktu yang lalu, gaya hidup barat adalah gaya hidup yang sangat mahal.  Gaya hidup yang harus dibayar dengan ketimpangan sosial yang akhirnya memperlebar jarak antara orang kaya dan orang miskin.  Gaya hidup yang memanjakan segelintir orang-orang berduit namun menindas mereka yang lain.  Salah satunya adalah dengan motor besar itu tadi.  Revolusi Prancis adalah salah satu konsekwensi mengerikan yang harus dibayar atas ketimpangan sosial tersebut.  

Namun, sejarah menunjukkan bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah.  Mereka menghafal tahuh-tahun  terjadinya peristiwa penting, yang banyak diantaranya adalah peristiwa-peristiwa berdarah.  Mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah.  Tetapi mereka jarang sekali, kalau tidak mau mengatakan tidak pernah, mengambil hikmah dan pelajaran dari sejarah.  Oleh karena itu George Santayana, seorang filsuf, pernah berkata: "Those who forget the past are condemned to repeat it" (mereka yang melupakan sejarah akan dikutuk untuk mengulanginya).   

Barang-barang mahal, termasuk motor besar, memang bisa menjadi simbol status sosial pemiliknya.  Namun, apabila harta tersebut didapat dengan jalan yang tidak halal dan merugikan orang lain, hakikatnya semua itu adalah harta rampokan dari rakyat yang miskin dan tidak berdaya.  Rakyat yang hasil kerja kerasnya tidak bisa mereka nikmati di dunia ini bahkan untuk sekedar mengganjal perutnya yang lapar.  

Getaran-getaran jerit rintih mereka yang miskin dan menderita mungkin terlalu lemah untuk bisa didengar oleh banyak manusia yang terlena oleh kehidupan moderen, oleh yang senantiasa dibanjiri berbagai macam hiburan dan terlena manisnya teknologi.  

Namun, ....... getaran-getaran energi yang lemah itu cepat atau lambat akan mampu mengetuk dan menembus pintu-pintu lagi, dan hanya tinggal masalah waktu saja bagi Allah Al Latif, Allah SWT Yang Maha Lembut, .....................   

.....................  yang mampu menangkap getaran kepedihan betapapun halusnya

.....................  yang pada akhir memberi balasan yang seadil-adilnya bagi semua manusia

"A laisallahu bi ahkamil haakimiin"
"Bukankah Allah seadil-adilnya hakim?"
(Qs. At Thiin 8)

Semoga bermanfaat

Minggu, 03 Januari 2010

KOMUNITAS LIRIH

http://sunaryo-adhiatmoko.blogspot.com/
Sang Ghuroba

sunaryo adhiatmoko

Saya pejalan jauh. Menulis untuk orang-orang kecil dan kehidupan yang selalu timpang.

Komunitas LIRIH

Terima kasih telah mengunjungi dapur saya. Sebuah kehormatan jika Anda berkenan membaca dengan memberikan kritik dan saran. Sebagian besar tulisan ini pernah dimuat di REPUBLIKA kolom DDR di Lembar FILANTROPI, ZISWAF, dan kini DERAS.

Tulisan ini, serpihan serpihan tercecer dari tragedi kemanusiaan, yang saya terlibat langsung di dalamnya. Bencana alam dan kemiskinan. Catatan jelajahi perjalanan kemanusiaan, dari pulau besar, hingga pelosok pulau pulau tak bernama, di persada Nusantara. Membelah laut, darat, dan udara, hingga ke negeri seberang.

Sabtu, 19 Desember 2009

Poster MPers Peduli Palestina




Seharusnya foto ini di-upload dari kemarin2, maaf telat, anyway better late than never

Minggu, 13 Desember 2009

[Kepedulian Sosial] Masih ada jutaan "ibu Prita Mulyasari" di luar sana


Fenomena pengumpulan koin untuk ibu Mulyasari saat ini mendominasi jagat pemberitaan media di negeri kita. Baik media cetak atau elektronik. Baik media konvensional atau internet.

Ibu Prita mulyasari, yang didenda habis2an oleh RS Omni, mendapat dukungan berupa pengumpulan koin oleh masyarakat. Kenal atau tidak kenal, banyak orang mengumpulkan uang receh alias koin untuk membantu. Membantu ibu Prita dengan koin-koin yang kelihatannya kecil dan remeh. Namun, dalam waktu yang relatif singkat, koin-koin itu mencapai jumlah yang fantastis. Total berat koin-koin yang terkumpul itu mencapai Enam Ton menurut situs kantor berita Antara.

Sungguh, begitu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini. Bahkan mungkin lebih banyak daripada jumlah nominal koin-koin itu sendiri.


   1. Sesuatu yang kecil, apabila dikumpulkan dengan tekun dan massive akan menjadi besar. Sedikit demi sedikit, lama lama menjadi bukit, demikian kata pepatah. Koin-koin tersebut telah menjadi bukti, bila ditumpuk pasti akan jadi bukit yang sebenarnya. Secara nominal, kekuatan sebuah koin sangat lemah. sebuah koin 500 rupiah hanya bisa untuk membeli 3 butir permen di warung-warung rokok.
      Namun, bila dikumpulkan dengan sungguh-sungguh, jumlah nominal ratusan juta bisa tercapai. Jumlah yang lebih dari cukup untuk membayar denda Ibu Prita.

   2. Koin-koin itu bisa jadi simbol kekuatan yang timbul apabila yang lemah bersatu. Kebersamaan adalah hal yang penting bagi kita, apapun profesi atau kegiatan yang kita lakukan. Kekuatan sesungguhnya hanya ada pada persatuan yang sinergis. Kita sendirian boleh saja lemah, bagaikan sebutir koin. Namun, saat kita bersatu padu, banyak sekali hal yang bisa kita lakukan. Sebagaimana koin-koin kecil bernominal rendah bisa menolong Ibu Prita.

   3. Koin-koin itu bisa menjadi bukti bahwa kita semua bisa membantu sesama. Kita tidak perlu menunggu sampai kaya raya baru membantu orang lain. Apalagi masih ada ribuan bahkan jutaan "Ibu Prita" di luar sana. Orang-orang yang terzalimi baik oleh institusi kapitalis atau sistem sosial hasil peradaban yang zalim. Orang-orang yang hidupnya terlilit kemiskinan ekstrem. Contohnya seperti dalam kisah-kisah yang pernah saya tulis, antara lain: Almarhumah Ibu Marhumah di desa Jagabita ibu yang meninggal sebelum dapat bantuan dari baksos komunitas MP Indonesia di sana, Pak tua pemungut sampah dan
      Tukang Rabuk. Mereka hanya sedikit dari jutaan orang yang memerlukan dukungan dan bantuan agar bisa keluar dari lilitan kemiskinan.

   4. Koin-koin itu juga bukti bahwa uang receh sesungguhnya punya kekuatan besar. Muhammad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian tahun 2006, mengatakan bahwa kemiskinan sebenarnya bukan karena kemalasan orang-orang miskin. Tetapi lebih merupakan kezaliman dari sistem sosial yang "membonsai" potensi masyarakat miskin tersebut. Dengan uang yang nominalnya kecil tetapi cukup, orang-orang miskin bisa bangkit dan menata kehidupannya lebih baik.

“Untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia, kita tidak perlu mengemis utang kepada IMF atau memerlukan bantuan dari asing. Jika 10% orang terkaya di Indonesia rela memberikan 20% penghasilannya (bukan harta atau asetnya) maka tidak ada lagi orang miskin di Indonesia pada tahun itu.” (H.S. Dillon, Kompas, 17 Oktober 2006)

Kata-kata H.S. Dillon di atas dikutip dari artikel berikut ini.

Kasus Prita mungkin sudah berakhir dengan dicabutnya gugatan terhadap beliau oleh RS Omni. Namun, kita semua masih punya kewajiban untuk membantu sesama. Kewajiban yang tidak akan berakhir selama masih ada hayat di kandung badan dan masih merajalelanya kemiskinan. Baik di negeri tercinta ini atau di mana pun.





Insya Allah kita semua bisa melakukan hal tersebut. kalau tidak, malu dong sama koin ....

Semoga bermanfaat

by Muhammad Nahar

http://kopiradix.multiply.com/
http://naharseft49.multiply.com/
http://perenungancinta.blogspot.com/

Gambar-gambar dari Wikipedia

Minggu, 06 Desember 2009

[Creative Non Fiction] Pak Tua pemungut sampah

Sore itu jalan di kawasan Rasuna Said terlihat agak lengang.  Hari libur membuat jalanan tidak terlalu dipadati kendaraan, tidak seperti hari-hari kerja.  

Aku berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan tersebut.  Langkahku lesu tak bersemangat, dibebani oleh kantong yang hanya terisi sedikit uang.  Yah, uang memang sudah jadi raja saat ini.  Walaupun bukan segala-galanya, namun segala-galanya perlu uang saat ini.  Inilah uniknya kantong, makin sedikit isinya ........ malah makin berat bebannya.

Tiba-tiba mataku bertatapan langsung dengan seorang bapak tua. 

Di tangan kanannya ada sebatang kayu pendek yang dilengkapi besi yang melengkung.  sementara di pundak kirinya, ia memanggul sebuah kantong sampah besar berwarna hitam.  Hitam ...... mungkin sehitam suasana hatinya.

Dia mendekatiku perlahan, dan kuulurkan uang ala kadarnya kepadanya.  Dia lalu bercerita kepadaku, dengan suara yang tidak jelas dan terbata-bata.  Kepedihan tak terkira tergambar di wajahnya.  

"Tuan, ........ minta uang untuk berobat.  kaki perlu diinjek (mungkin maksudnya disuntik) .... uang dari mana tuan?" katanya terbata-bata dibebani emosi yang bergejolak.  Dia lalu memperlihatkan isi kantongnya.  Penuh sampah hasil limbah peradaban moderen seperti gelas pelastik, botol, bungkus rokok dan sebagainya. Peradaban kapitalistik yang memanjakan segelintir mereka punya uang.  Peradaban yang sama, yang menindas dengan kejam orang-orang tersingkirkan, termasuk si bapak yang kutemui saat itu.  

Dia lalu memperlihatkan kepadaku kakinya yang dibalut kain.  Terlihat kain itu tidak lagi steril, lebih mirip baju yang sudah lama tidak dicuci.  "Kata dokter harus dibelek (dioperasi mungkin), ntar gak usah bayar, uang buat obat aja" ceritanya.  "uang dari mana tuan ........" katanya terisak, menyayat hati siapapun yang mendengarnya.  Jika si pendengar masih punya hati yang hidup tentunya.  Yang masih bisa berempati pada sesama manusia, apalagi mereka yang menderita.  

Aku tak kuasa mendengar cerita itu.  Kepedihan hatiku tidak bisa membantu si bapak mungkin tidak seberapa dibandingkan penderitaannya.  Kembali kubuka tas kecilku, pemberian dari sebuah perusahaan pertambangan ternama pada acara Volunteer Gathering yang pernah kuhadiri.  Kuambil lagi sejumlah kecil uang, yang kupunya, kepada si bapak.  Wajah si bapak terlihat lebih baik, walaupun belum cerah.  Dia lalu pergi degan tertatih-tatih, ditopang oleh kedua kakinya.  Kaki yang sebelah sakit dan belum sembuh.  Mungkin tidak akan pernah sembuh.  

Kelelahan dan kelesuanku lenyap sudah.  berganti penyesalan akan betapa lemahnya jiwa ini.  Patah hati yang kualami sesunggunya tidaklah seberapa sakit dibandingkan penderitaan si bapak tua itu.  Tetapi, mengapa begitu mudahnya aku terpukul oleh penolakan gadis yang kuharapkan jadi kekasihku itu? Sungguh suatu kekufuran akan nikmat yang luar biasa.  Semoga Allah SWT masih berkenan mengampuni pengingkaranku tersebut.    

Semoga si bapak diberi ketabahan, dan jikapun kematian datang menjemputnya, itu adalah tanda kasih sayang dari Allah SWT untuk beliau.  Agar mendapat tempat yang layak di sisiNya.  

Kemiskinan memang masih merupakan penyakit kronis yang melanda masyarakat negeri ini.  Negeri yang begitu memanjakan mereka yang kaya raya dan menindas tanpa ampun orang-orang tak berduit.  Seperti bapak tua yang kutemui sore itu.  


Kamis, 30 April 2009

[Sahabat Peduli] Life Skill Camp 2009

Assalamualaikum, sekedar menyampaikan amanah 

Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman, Parung - Bogor, Jawa Barat.


18 – 20 JULI 2009 

Lebih 40% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dengan beragam faktor penyebabnya, mulai dari keterbatasan akses, rendahnya pendidikan, budaya dan cara hidup, hingga yang terbaru disebabkan oleh politik. Kemiskinan pun berdampak pada banyak sektor dari kehidupan seseorang, kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi hanyalah satu akibat yang ditimbulkan. 

Permasalahan yang seakan tak kunjung selesai di negeri ini adalah kemiskinan, rendahnya pendidikan, hingga keterbatasan akses dan kesempatan untuk menciptakan perubahan hidup. Permasalahan ini seperti siklus yang terus berputar-putar di tempat yang sama, mengkerangkeng orang-orang yang sama hingga keturunannya. Yang dibutuhkan mereka adalah kekuatan untuk memutus rantai siklus tersebut agar bisa keluar dari keterpurukan, agar tak selamanya berlindung di balik ketidakmampuan atas nama kaum dhuafa dan segera mengubah diri menjadi orang-orang yang tak rela menengadahkan tangan. 

Life Skill Camp (LSC), sebuah program yang digagas Yayasan Sahabat Peduli (SP) untuk membantu anak-anak dengan keterbatasan kesempatan itu agar memiliki mental pemimpin, sikap disiplin dan keinginan kuat untuk mengubah jalur hidupnya ke arah yang lebih baik. Dalam program ini, para peserta yang diambil dari anak-anak yatim, anak jalanan dan kaum dhuafa akan diberikan pelatihan secara singkat tentang kepemimpinan dan kewirausahaan untuk membuka cakrawala baru bagi mereka agar melihat dunia wirausaha sebagai satu alternatif terbaik bagi masa depan mereka. 

Program yang dikemas dalam setting camp ground di alam terbuka untuk melanjutkan tradisi hidup sederhana dan disiplin, bermental kuat serta memiliki visi untuk sebanyak-banyaknya menciptakan peluang bagi dirinya sendiri, acara ini akan menghadirkan para pembicara sesuai kepakarannya dalam kepemimpinan, kewirausahaan dan keterampilan khusus yang bakal menjadi alternatif pilihan setiap peserta untuk berkarya. 

Maka, kami Yayasan Sahabat Peduli (SP), mengajak siapapun untuk bersama-sama memberikan kesempatan terbaik bagi saudara-saudara kita untuk memiliki kekuatan memutus rantai kemiskinannya, agar mampu mengubah jalur hidupnya menjadi lebih baik untuk dirinya dan generasi berikutnya. 

Life Skill Camp (LSC) Angkatan I tahun 2009 ini akan digelar pada tanggal 18 – 20 Juli 2009 bertempat di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman. Jl. Nurul Iman, desa Waru Jaya, Parung, Bogor, Jawa Barat. Target peserta dari angkatan I ini adalah 350 peserta dengan kualifikasi anak usia sekolah SMA atau 17 – 19 tahun dari Jabodetabek. Sahabat Peduli menargetkan sepanjang 2009 bisa menyelenggarakan LSC sampai angkatan ke III dengan target 1.000 peserta. 

Tentu saja, tanpa kerja sama dan sinergi yang baik dari segenap mitra, relawan dan stakeholder strategis program mulia ini akan sulit terwujud. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi program manager LSC, Farida Lukitaning

****

Yayasan Sahabat Peduli merupakan suatu wadah legalitas yang berawal dari kumpulan para relawan yang tergabung di komunitas Relawan Pelangi. 


Visi : Berbagi Peduli Untuk Generasi Mandiri. 

Sekretariat : Jl. Swakarya Bawah no. 23 RT 04/03, 
Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan

Akta Notaris : No. 25, tanggal 19 Februari 2009

Penanggungjawab : Bayu Gawtama (0852 1906 8581)

Email : info@sahabatpeduli.org
sahabat.peduli@yahoo.co.id
Web : www.sahabatpeduli.org

Untuk info lebih lanjut, silahkan bergabung dengan milis Relawan Pelangi

Milis: http://groups.yahoo.com/group/relawan_pelangi/

Rekening Bank: 

Bank Syariah Mandiri a/c 004 016 800 4 atas nama Yayasan Sahabat Peduli

“Sebagian orang hanya bisa menunggu kesempatan, sebagian lagi bisa menciptakan kesempatan, namun sebagian kecil saja yang mau memberi kesempatan” (Gaw)

Selasa, 10 Februari 2009

[Copas] Yang perlu di perhatikan Relawan MP

Assalamualaikum, ada info nih, copy paste dari MP Mas Roel

Dear sobats MP


Pelakasanaan BAksos MP udah bentar lagi nih...
masih semangat khan yah.....

persiapan semuanya juga insyaAllah udah okey. semoga bisa berjalan dengan lancarr.

nah, sebagai Pijeh ( baca : PJ ) kali ini mau mengeluarkan Fatwa ( baca : himbauan ) kayak MUi aja yah...

maaf sobats MP ini hanya sekedar himbauan dari saya, semoga sobats MP bisa maklum yah
ada beberapa poin himbauan dari saya yang perlu di perhatikan oleh sobats MP :

1. dilarang menggunakan atribut partai pada pelaksanaan Baksos
untuk menjaga ke " netralan " Multiply indonesia dari unsur unsur kampanye dalam  pelakasanaan baksos kali ini, maka para relawan MP TIDAK DIPERKENANkan menggunakan atribut Partai pada saat pelaksanaan baksos dan di area pelaksanaan.
tidak di perkenankan menggunakan / membawa : kaos, pin, topi, jaket,  bendera, rompi dll. himbauan ini juga di sepakati    oleh bapak camat parung panjang.

2. untuk sobats yang merokok, himbauan saya jangan merokok di hadapan / terlihat oleh anak anak
karena kita sedang melakukan aktifitas yang sifatnya memberikan edukasi mengenai " pentingnya hidup sehat "dan secara phsycologis anak anak mudah mencontoh figur yang mereka anggap keren / bagus. untuk itu saya berharap ( tidak    melarang ) " merokoklah dengan bijak", di tempat yang tidak terlihat anak anak.

3. Relawan MP di harapkan memberikan " kesabaran " yang extra.
Kondisi disana pasti akan crowded, untuk itu saya berharap sekali untuk para relawan benar benar menjadi sahabat buat  warga. bisa menjaga perkataan : saya ambil contoh, ini pernah terjadi saat baksos, ketika suasana sudah ramai, warga sudah    membludak antrian tidak teratur, tiba2 relawan bagian pendaftaran berkata " wooi ngantri donk !! bebek aja bisa ngantri    !!". PLAK !! seperti tertampar saya mendengar kalimat tersebut. saya berharap ini tak terjadi pada baksos kita. kondisi    apapun yang terjadi. KITA HARUS BERSABAR.. dan tetap melayani..


mungkin 3 poin itu yang bisa saya sampaikan dan harus di taati bersama...
SERVE ALL, LOVE ALL... yang setuju ngacung ???.....



tetap semangat..........


Regards

Roel


ngambil dari sini

Selasa, 30 Desember 2008

Mari Peduli - Dompet Peduli Palestine !!!

http://peduli.multiply.com/journal/item/151/Dompet_Peduli_Palestine_
ACT siap kirimkan segera Humanity Relief Team bantu rakyat Palestina
2008-12-30 13:39:04

Jakarta, Selasa (30/12). Kalkulasi terakhir lebih dari 367 warga Palestina di Gaza menjadi korban keganasan agresi Israel, sementara lebih dari 1700 orang luka-luka. Agresi Israel yang beruntun mulai dari Sabtu (27/12) hingga hari ini pun telah menuai banyak kecaman dari dunia internasional.

Lebih dari 200 pesawat tempur F 16 Israel meraung-raung di atas langit Gaza. Mereka melancarkan serangan besar-besaran, menewaskan warga sipil Palestina yang tak berdosa.

Kondisi ini diperparah dengan terputusnya aliran listrik di Gaza akibat blokade Israel serta habisnya obat-obatan di sejumlah rumah sakit, mengakibatkan jumlah korban yang jatuh lebih banyak. Sampai saat ini pun rumah sakit di Gaza sudah tidak bisa menampung korban yang berjatuhan.

"Bencana alam bukanlah satu-satunya yang menjadi fokus kepedulian ACT. Tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi di Palestina juga merupakan fokus kepeduliaan ACT sebagai tanggung jawab moral untuk turut membantu rakyat Palestina, oleh karena itu kami akan kirimkan tim untuk bantu rakyat Palestina" ujar Sigit Iko Sugondo, Partnership Sr. Manager ACT.

ACT akan kembali mengiirimkan Humanity Relief Team yang di gawangi oleh Yayat Supriyatna membawa bantuan Anda untuk membantu saudara kita di Palestina yang didera bencana kemanusiaan atas kekejaman Israel.

Saat ini, rakyat Palestina didera penderitaan yang tidak terperi, mulai dari kehilangan rumah, sanak saudara, kekurangan bahan pangan dan kesulitan mendapatkan penanganan kesehatan.

Mari peduli dan bantu rakyat Palestina!

Salurkan bantuan Anda melalui:

Rekening SOS Palestine a.n. Aksi Cepat Tanggap

1. BCA # 676 030 0860
2. BSM # 101 000 5557
3. Permata Syariah #0971 001224
4. Muamalat # 304 0023 015

Contact Person : Sigit Iko Sugondo : 021-7414482 / 081586694809 / 08129665455

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Alternatif Bantuan Lain bisa melalui :

1. KISPA >> Bank Muamalat Cab. Slipi No. 311-018-5622 an Nurdin qq Kispa

2. KNRP >> BCA No. 760-032-5099 an Komite Nasional untuk Rakyat Palestina

3. Dompet Dhuafa Republika >> BCA 2373006343 an Yayasan Dompet Dhuafa Republika

4. Dukung misi Kemanusian MER-C ke Palestina, Ketik : MERC PEDULI kirim ke 7505 untuk memberikan donasi Rp 5000/SMS.(Khusus utk Pengguna TELKOMSEL) Sebarkan !!!

# Jika ada yg kurang jelas, bisa kontak mbak Kosi di HP : 08128510372, YM : anak_ngw / ukhti_kosi, email : ukhti.kosi@gmail.com atau klik : Save Palestine

Senin, 03 November 2008

[SOSIAL] Ojek Payung siapa peduli?












Ojek payung siapa peduli?




Casas de carton - Javier Alvarez



Tadi sore, setelah mengambil kwitansi dan amplop dari Bunda Ardanti di BI, saya mampir ke Plaza Indonesia untuk sholat Ashar dan lihat-lihat buku. Saat menjelang maghrib, ternyata di luar hujan deras. Anak-anak penjaja jasa sewa payung, alias ojek payung sudah berkumpul di sana menanti datangnya setetes rezeki untuk mereka.




Maka, muncullah perbedaan yang kontras dari kesenjangan sosial yang ada di negeri ini. Para ojek payung yang berpakaian lusuh seadanya serta bertelanjang kaki berjuang meraih rezeki yang ada hari itu. Sambil menggigil kedinginan serta menahan lapar, mereka menawarkan jasa ojek payung.




Saya tidak tahu apakah mereka tadi pagi sekolah atau tidak.

Saya tidak tahu apakah tadi siang mereka sudah makan atau belum.

Saya tidak tahu apakah mereka masih sempat istirahat atau tidak.





Bisa jadi dalam hati mereka terbersit rasa iri melihat anak-anak orang lain bisa naik turun mobil, bisa berpakaian bagus. Mereka juga ingin membeli mainan dan makanan yang mereka lihat ditenteng anak-anak orang kaya yang baru keluar dari Mall.




Entah apa lagi perasaan yang ada dalam hati mereka, yang seharusnya juga bisa kita rasakan jika kita punya kepekaan dan empati yang baik.




Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?

Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi?

Kalau bukan kita yang memberdayakan mereka, siapa lagi?





Saya hanya bisa merenungkan hal tersebut sambil menyanyikan lagunya Javier Alvarez berikut ini






Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué triste vive mi gente en las casas de cartón





Viene bajando el obrero casi arrastrando sus pasos

por el peso del sufrir,

mira que mucho ha sufrido, mira que pesa el sufrir





Arriba deja la mujer preñada

abajo está la ciudad y se pierde en su maraña

hoy es lo mismo que ayer, es un mundo sin mañana





Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué triste vive mi gente en las casas de cartón





Niños color de mi tierra, con sus mismas cicatrices

millonarios de lombrices, y por eso

qué triste viven los niños en las casas de cartón





Qué alegres viven los perros en casa del explotador





Usted no lo va a creer pero hay escuelas de perros

y les dan educación pa' que no muerdan los diarios

pero el patrón hace años, muchos años

que está mordiendo al obrero





Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué lejos pasa la esperanza en las casas de cartón




Kamis, 14 Agustus 2008

[Ultah MPID 2008] Foto-Foto Perayaan Ultah MPID dan Baksos di TIM




Berikut foto-foto yang bisa saya dapat dari kamera HP Nokia 6600, sejak dari Busway sampai Ultah MPID.

[ultah MPID 2008] Perjalanan dari Bekasi (Tol Barat dekat MM) ke TIM


Casas de carton - Javier Alvarez

Laporan pandangan mata di sana sudah banyak yang posting, jadi saya posting yang perlu saja ya, yaitu Perjalanan dari Bekasi (tepatnya dari Tol Barat dekat MM) ke TIM.  Sebab, yang posting ultah MPID udah banyak, contohnya yang ini.

Pada acara ultah MPID ke 4 beberapa hari yang lalu, saya dapat tugas menjemput anak-anak dari Bantar Gebang.  Pagi-pagi jam 05:30, saya sudah naik busway ke Kampung Melayu, dilanjutkan dengan naik angkot M26 ke Metropolitan Mall, Bekasi.  

Karena sudah bertahun-tahun tidak ke Bekasi, saya agak keder juga di sana.  Untung keadaan di sana gak banyak berubah.  Lalu saya cari deh Tol Barat, sambil agak muter-muter, he he he.
 
Sebelum ketemu anak-nakan itu, hal-hal yang menyedihkan dari negeri tercinta ini sudah ada di depan mata.  para pengemis sudah hadir di pinggir jalan dan di jembatan Kali Bekasi yang besar itu.  Di antara pusat-pusat perbelanjaan yang berdiri kokoh dengan angkuh :(
 
Sebabnya mungkin karena kita tidak mempercayai mereka dan tidak mau mendorong mereka untuk membantu diri mereka sendiri. tidak, kita memang masih jauh dari sosok seorang Muhammad Yunus, Pendiri Grameen Bank yang berani memberi pinjaman tanpa mensyaratkan jaminan, cukup didasarkan pada niat baik dan kepercayaan semata.  Sebagaimana bisa dibaca di sini (silahkan mampir jika ada waktu)

Dari Muhammad Yunus untuk Kaum Miskin  

Setelah menunggu cukup lama, karena di Bantar Gebang bis yang membawa anak-anak tersebut terjebak macet, akhirnya saya bisa bertemu dengan mereka dan ikut bersama ke TIM.

Yang menarik sekaligus menyedihkan, anak-anak itu, apabila naik truk sampah atau mobil bak terbuka, justru malah merasa nyaman.  Saat naik bis biasa, seperti yang kita biasa naiki, mereka malah mabuk.  Terlihat di dalam bis, ada yang bawa minyak angin segala.
 

bantar gebang 3

Sepanjang perjalanan, terjadilah hal-hal yang cukup mengiris perasaan orang-orang yang masih memiliki hati nurani.  Anak-anak itu sangat terpesona oleh gedung-gedung yang ada di sepanjang jalan tol yang kami lalui.  Tidak henti-hentinya mereka melihat gedung-gedung tersebut dari jendela bis.  Tentu saja disertai komentar-komentar khas anak-anak yang lucu dan sok tahu itu, he he he.  gak tahu mereka bahwa orang-orang di dalam gedung-gedung itu mungkin sedang stress oleh beban pekerjaan yang menumpuk.

 bantar gebang 1

Melihat Busway gandeng saja di Kramat, dekat Senen, mereka terkagum-kagum dan berteriak ribut.

 Bagi kita yang tinggal di kota, gedung-gedung tersebut tentu saja sudah tidak lagi menarik perhatian lagi.  Kita bahkan melewati semua hal tersebut begitu saja tanpa memberikan perhatian sedikitpun.  tetapi bagi mereka??? yang tiap hari hanya melihat sampah-sampah saja?? Tentu merupakan pengalaman yang menggembirakan, yang belum tentu mereka dapatkan sering-sering.

Alhamdulillah, akhirnya kami semua selamat sampai di TIM, tempat acara Ultah MPID ke 4 diselenggarakan.

Sabtu, 03 Mei 2008

Nonton Freedom Writers di NEC

Freedom Writer

Nonton film Freedom Writers di NEC

Hari ini saya dapat kejutan, nonton film Freedom Writers di NEC.  Mbak Menul, tutor Poltek Bahasa di NEC, memutarkan untuk saya dan teman2 sekelas film tersebut di kelas via laptop dan LCD.  Tadinya saya kira bagian dari film seri Dangerous Mind yang pernah saya saksikan di TV.  Saya menyebut diri saya beruntung karena saya bisa mendapatkan bahan untuk meneruskan potongan posting yang belum jadi, yang tadinya ingin saya buat sebagai bagian dari posting yang berjudul refleksi hari buruh, pentingnya amanah dan empati.  Bisa dibilang, posting kali ini masih berhubungan dengan posting sebelumnya.

postingnya begini nih:

Berdasarkan pengalaman, minimal ada 3 hal yang tidak bisa dipaksakan oleh seseorang pada orang lain yaitu:

  1. SUKA : Ini biasanya berhubungan dengan kesamaan hobby, ketertarikan/interest dan kesamaan-kesamaan lainnya.  Bisa juga karena daya tarik fisik, emosional dan hal-hal seperti itu.
     
  2. HORMAT :Kalau yang ini bisaanya berhubungan dengan jabatan atau kompetensi, baik formal atau informal.  Kita sangat mungkin akan hormat sama teman yang punya suatu kompetensi tertentu, apalagi yang jarang dimiliki oleh orang-orang di sekitar kita. Kita juga bisa hormat sama orang yang memiliki otoritas lebih besar dari kita, seperti atasan, boss dll.

  3. PERCAYA: Ini dia yang paling berat, membuat orang lain percaya pada kita.  orang yang suka pada kita  dan yang hormat pada kita belum tentu percaya pada kita.  Kepercayaan ini berhubungan erat dengan karakter kita, apakah kita memiliki karakter orang yang bisa dipercaya atau tidak.
     

Saya percaya bahwa Cinta yang sejati harus memiliki ketiga komponen ini, bila salah satu yang tidak ada maka cinta tersebut tidak bisa dianggap sempurna.  Bahkan, jika cinta hanya dibangun dari rasa suka semata, cinta itu bagaikan rumah berpondasi pasir.  Film Freedom Writer ini menggambarkan ketiga hal tersebut dengan jelas sekali.


Dalam film ini, Erin terlebih dahulu mendapatkan kepercayaan dari anak-anak didik di room 203 sebelum mereka mulai menyukai dan menghormatinya.  Anak-anak tersebut merasakan bahwa Erin dapat dipercaya untuk mendidik mereka berkat usahanya yang tidak kenal lelah untuk berempati dengan mereka.   Walaupun demikian, Erin juga dapat bersikap tegas saat menemukan anak-anak tersebut melakukan hal-hal yang tidak dapat ditoleransi seperti pelecehan rasial dan etnis terhadap teman-teman mereka yang berbeda etnis.  Erin juga terlihat bersikap tegas saat menjelaskan kepada beberapa anak bahwa kematian mereka di tangan para gangster akan sia-sia belaka jika mereka tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat.  Orang-orang akan meneruskan kehidupan tanpa pernah memikirkan apakah mereka pernah ada atau tidak.  Tanpa ragu sedikitpun dia bertanya, apakah jika orang-orang berkulit hitam, orang-orang Asia, orang-orang Kolombia dan etnis-etnis yang lain tidak ada di sini, keadaan akan lebih baik? Lalu dia masuk ke penjelasan mengenai "the most famous Gang in History" -  NAZI.


Mungkin sebagian rekan-rekan ada yang keberatan menerima film ini karena tersirat adanya propaganda mengenai Holocaust yang terjadi pada Perang Dunia ke 2.  Walaupun demikian, kita perlu memahami bahwa hanya itulah referensi yang dimiliki Erin saat dia berusaha membuktikan bahwa anak-anak tersebut memiliki pilihan untuk berubah.
 

Menurut saya pribadi, apa yang dilakukan Erin kepada anak-anak di ruang 203 itu dapat dicontoh tanpa harus terjebak propaganda manapun.  Banyak orang di lingkungan kita yang membutuhkan orang seperti Ibu Guru Erin Gruwell, yang sering kali dipanggil Mrs. G. oleh anak-anaknya.  Kita bisa menjadi salah satu dari orang-orang seperti itu.  Semoga saja.

Freedom Writers Trailer - YouTube EXCLUSIVE!!




reedom Writers
In theaters January 12th, 2007
Starring: Hilary Swank, Scott Glenn, Imelda Staunton, Patrick Dempsey, Mario

"Freedom Writers" is inspired by a true story and the diaries of real Long Beach teenagers after the LA riots, during the worst outbreak of interracial gang warfare. Two-time Academy Award® winner Hilary Swank stars as Erin Gruwell, whose passion to become a teacher is soon challenged by a group of Black, Latino, and Asian gangbangers who hate her even more than each other. When Erin begins to listen to them in a way no adult has ever done, she begins to understand that for these kids, getting through the day alive is enough -- they are not delinquents but teenagers fighting "a war of the streets" that began long before they were born. Erin gives them something they never had from a teacher before -- respect. For the first time, these teens experience a hope that maybe, they might show the world that their lives matter and they have something to say.

Rabu, 06 Februari 2008

Casas de cartón




Dalam urusan dunia, lihatlah ke bawah kepada mereka yang kurang beruntung dan dalam urusan akhirat, lihatlah ke atas kepada mereka yang bersemangat menggapainya. Sebuah tayangan yang akan menggugah kesadaran betapa kita lebih beruntung dari mereka dan membangkitkan kepedulian kita.
Semoga bermanfaat