Tampilkan postingan dengan label relawanpelangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label relawanpelangi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2012

[Berita Duka] Bp. Hasanudin Harefa

Berita Duka dari milis Relawan Pelangi
 
Innalillahi wa inna ilaihi Roji'un,
semoga Allah menerangkan & melapangkan kuburnya, menerima semua amal baik, menghapus segala kesalahannya dan Allah tempatkan ditempat terbaik di sisiNya. Aaamiin. Telah wafat Bp. Hasanudin Harefa pada hari senin, 16 Januari 2012 dini hari jam 05.30 salah seorang yang memfasilitasi dakwah muslim di pedalaman Nias Selatan.

berikut photo waktu membantu pengobatan sekaligus penyerahan program 1000mukena++


Kamis, 30 April 2009

[Sahabat Peduli] Life Skill Camp 2009

Assalamualaikum, sekedar menyampaikan amanah 

Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman, Parung - Bogor, Jawa Barat.


18 – 20 JULI 2009 

Lebih 40% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dengan beragam faktor penyebabnya, mulai dari keterbatasan akses, rendahnya pendidikan, budaya dan cara hidup, hingga yang terbaru disebabkan oleh politik. Kemiskinan pun berdampak pada banyak sektor dari kehidupan seseorang, kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi hanyalah satu akibat yang ditimbulkan. 

Permasalahan yang seakan tak kunjung selesai di negeri ini adalah kemiskinan, rendahnya pendidikan, hingga keterbatasan akses dan kesempatan untuk menciptakan perubahan hidup. Permasalahan ini seperti siklus yang terus berputar-putar di tempat yang sama, mengkerangkeng orang-orang yang sama hingga keturunannya. Yang dibutuhkan mereka adalah kekuatan untuk memutus rantai siklus tersebut agar bisa keluar dari keterpurukan, agar tak selamanya berlindung di balik ketidakmampuan atas nama kaum dhuafa dan segera mengubah diri menjadi orang-orang yang tak rela menengadahkan tangan. 

Life Skill Camp (LSC), sebuah program yang digagas Yayasan Sahabat Peduli (SP) untuk membantu anak-anak dengan keterbatasan kesempatan itu agar memiliki mental pemimpin, sikap disiplin dan keinginan kuat untuk mengubah jalur hidupnya ke arah yang lebih baik. Dalam program ini, para peserta yang diambil dari anak-anak yatim, anak jalanan dan kaum dhuafa akan diberikan pelatihan secara singkat tentang kepemimpinan dan kewirausahaan untuk membuka cakrawala baru bagi mereka agar melihat dunia wirausaha sebagai satu alternatif terbaik bagi masa depan mereka. 

Program yang dikemas dalam setting camp ground di alam terbuka untuk melanjutkan tradisi hidup sederhana dan disiplin, bermental kuat serta memiliki visi untuk sebanyak-banyaknya menciptakan peluang bagi dirinya sendiri, acara ini akan menghadirkan para pembicara sesuai kepakarannya dalam kepemimpinan, kewirausahaan dan keterampilan khusus yang bakal menjadi alternatif pilihan setiap peserta untuk berkarya. 

Maka, kami Yayasan Sahabat Peduli (SP), mengajak siapapun untuk bersama-sama memberikan kesempatan terbaik bagi saudara-saudara kita untuk memiliki kekuatan memutus rantai kemiskinannya, agar mampu mengubah jalur hidupnya menjadi lebih baik untuk dirinya dan generasi berikutnya. 

Life Skill Camp (LSC) Angkatan I tahun 2009 ini akan digelar pada tanggal 18 – 20 Juli 2009 bertempat di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman. Jl. Nurul Iman, desa Waru Jaya, Parung, Bogor, Jawa Barat. Target peserta dari angkatan I ini adalah 350 peserta dengan kualifikasi anak usia sekolah SMA atau 17 – 19 tahun dari Jabodetabek. Sahabat Peduli menargetkan sepanjang 2009 bisa menyelenggarakan LSC sampai angkatan ke III dengan target 1.000 peserta. 

Tentu saja, tanpa kerja sama dan sinergi yang baik dari segenap mitra, relawan dan stakeholder strategis program mulia ini akan sulit terwujud. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi program manager LSC, Farida Lukitaning

****

Yayasan Sahabat Peduli merupakan suatu wadah legalitas yang berawal dari kumpulan para relawan yang tergabung di komunitas Relawan Pelangi. 


Visi : Berbagi Peduli Untuk Generasi Mandiri. 

Sekretariat : Jl. Swakarya Bawah no. 23 RT 04/03, 
Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan

Akta Notaris : No. 25, tanggal 19 Februari 2009

Penanggungjawab : Bayu Gawtama (0852 1906 8581)

Email : info@sahabatpeduli.org
sahabat.peduli@yahoo.co.id
Web : www.sahabatpeduli.org

Untuk info lebih lanjut, silahkan bergabung dengan milis Relawan Pelangi

Milis: http://groups.yahoo.com/group/relawan_pelangi/

Rekening Bank: 

Bank Syariah Mandiri a/c 004 016 800 4 atas nama Yayasan Sahabat Peduli

“Sebagian orang hanya bisa menunggu kesempatan, sebagian lagi bisa menciptakan kesempatan, namun sebagian kecil saja yang mau memberi kesempatan” (Gaw)

Minggu, 12 April 2009

Sahabat Peduli - Ke Jagabita Desa Pabuaran day 2




Kalau yang ini foto-foto saat kami datang lagi hari Sabtu, tanggal 11 April 2009. walaupun relawan yang datang hanya sedikit, tetapi Alhamdulillah pembangunan masih terus berlangsung dengan baik.

Sahabat Peduli - Ke Jagabita Desa Pabuaran




Meskipun kemarin sempat sibuk karena bencana Situ Gintung, kami dari Relawan Pelangi/Sahabat Peduli tetap tidak lupa dengan proyek pembinaan kami di kampung-kampung di desa Jagabita.

Hari Jumat dan Sabtu kami meninjau perkembangan proyek MCK di desa Pabuaran, titik air kedua setelah desa Sarongge.

Berikut foto-foto kegiatan hari Jumat yang dapat saya tangkap dgn kamera HP

Senin, 30 Maret 2009

Situ Gintung




Ahad 29 Maret 2009, saya dan beberapa kawan datang ke Situ Gintung utk bantu2 di sana.

berikut beberapa foto yang berhasil diambil pakai kamera HP, krn sibuk gak bisa potret banyak2 deh. asal-asalan lagi

Yang kami bantu bersihkan kemarin adalah sebuah taman kanak-kanak, gak tahu nama TKnya apa

Senin, 16 Februari 2009

[Social Issues] Firaun di Jagabita?

Sedemikian akrabkah warga desa Jagabita dengan kematian?

Saya sendiri belum menanyakan hal ini pada Ibu Uun atau teman2 relawan lokal yang lain di desa tersebut.  Saya juga belum bertanya kepada warga desa itu.  Namun, mengingat keadaan di sana yang sangat jauh dari berbagai fasilitas dan sarana penunjang kebersihan dan kesehatan, hal itu mungkin saja. 


Hari ini saya mendapat kabar duka dari Mas Roel bahwa Pak Hasan, seorang warga desa Jagabita, tepatnya Kampung jawiyah yang terletak 3 km dari tempat dilaksanakannya baksos Multiply Indonesia.  Beliau menderita penyakit yang berat, yaitu kanker tulang.

Sebelumnya, beberapa hari sebelum baksos, Ibu Marhumah, salah seorang warga yang juga menderita penyakit berat, meninggal dunia.  Ceritanya bisa dibaca di tulisan yang ini.

Penyakit, kemiskinan dan kebodohan bagaikan Fir'aun, Hamman dan Qorun yang menindas kaum Bani israil berabad-abad yang lalu di zaman mesir kuno.  mereka ditugasi oleh Allah SWT membawa kaum Bani Israil keluar dari Mesir untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik dalam keadaan merdeka.  

Namun, tantangan yang dihadapi oleh kedua nabi tersebut ternyata bukan hanya dari luar, yaitu Fir'aun dan pasukannya, tetapi juga dalam diri kaum itu sendiri.  Bani Israil yang sudah lama sekali diperbudak Fir'aun dan penduduk Mesir, enggan untuk menempuh perjuangan untuk hidup merdeka dan terhormat secara mandiri.

Suatu tantangan yang lebih berat daripada menghadapi Firaun dan bala tentaranya

Maka, siapakah diantara kita yang siap untuk berperan menjadi nabi Musa dan Harun bagi mereka, membimbing mereka melalui perjalanan melalui gurun pasir perubahan yang berat, dalam bayang-bayang pasukan Fir'aun yang mengejar dan laut Merah yang menghadang.  

Tantangan yang dihadapi tentu saja bukan saja dari luar orang-orang miskin tersebut.  Sikap mengasihani diri sendiri yang menjangkiti mereka sangat menyulitkan orang-orang yang berperan sebagai Nabi Musa untuk mereka.  Para "juru selamat" itu tidak akan mampu menyelamatkan diri kaum miskin papa itu apabila mereka membangkitkan semangat dalam diri mereka sendiri.

Orang-orang yang mengasihani diri sendiri menganggap diri mereka sebagai korban.  Mereka cenderung menyalahkan segala hal di luar mereka sebagai penyebab kemiskinan hidup mereka.  Sulit sekali membangkitkan jiwa mereka untuk mempersiapkan diri meraih masa depan yang gemilang.  Kira-kira seperti itulah dahulu Nabi Musa menghadapi Bani Israel di Mesir Kuno.  

memang, mungkin tidak semua manusia di dunia ini memiliki keinginan yang kuat menjadi relawan yang dengan suka rela berkorban demi sesama manusia.  Mungkin hanya sebagian kecil manusia di dunia ini yang rela mengorbankan sebagian besar hidupnya membantu orang lain.

Mungkin tidak semua manusia memiliki kemampuan memberi seperti yang digambarkan Kahlil Gibran dalam The Prophet berikut ini

Then said a rich man, "Speak to us of Giving."

And he answered:

You give but little when you give of your possessions.

It is when you give of yourself that you truly give.

For what are your possessions but things you keep and guard for fear you may need them tomorrow?

And tomorrow, what shall tomorrow bring to the over prudent dog burying bones in the trackless sand as he follows the pilgrims to the holy city?

And what is fear of need but need itself?

Is not dread of thirst when your well is full, thirst that is unquenchable?


By Kahlil Gibran in The Prophet

Semoga mereka yang telah memilih jalan hidupnya sebagai relawan, baik sepenuh waktu atau paruh waktu, diberkahi oleh Allah SWT dan diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan mereka. 

Semoga bermanfaat

Untuk teman-teman relawan, ada acara yang bermanfaat pada hari hari Sabtu, 21 Februari 2009.  Info lebih lanjut, silahkan mampir ke jurnal yang satu ini

[Daily Life and social issues] Dari rumah ke Masjid Al Bina

Mau cerita dikit ah,

Hari Sabtu, 14 Februari 2009

Alhamdulillah, setelah lama tertunda, baksos pengobatan gratis yang sudah lama direncanakan di desa Jagabita terlaksana juga.  Lama sebelum hari H, saya sempat mondar-mandir ke kantor beberapa rekan MPers untuk mengambil sumbangan dan perlengkapan yang diperlukan.  Maklum, MPer yang pengangguran kan cuma saya,

Jadi, rumah saya lumayan penuh dengan barang-barang tersebut.  

Masalah timbul saat saya sedang mempersiapkan kendaraan utk berangkat.  Barang-barang yang menumpuk itu tentu saja sulit utk dimasukkan ke dalam mobil mazda MR90 yang sudah tua dan berukuran kecil.  Belum lagi, saya tidak langsung ke lokasi karena sudah janji sama rekan Ani untuk menjemputnya di daerah Setiabudi.  Sekalian bawa barang-barang yang lain.  

Ya sudah, jadilah itu mobil tua di-load dengan segalam macam barang, belum lagi ternyata di Setiabudi masih ada barang2 yang harus diangkut, seperti pakaian layak pakai dan susu.

Pak supir sampai bengong.

Alhamdulillah, setelah diakali dgn berbagai macam cara berhasil juga itu barang2 masuk ke mobil (maaf detilnya lupa).

Yang jelas, saat itu udah gak kondusif lagi untuk merencanakan hal2 yang ingin dilakukan, ya sudah, berangkat aja ke lokasi meeting point.    

Masalah belum selesai ternyata, pintu di senayan banyak yang tertutup.  Terpaksa muter-muter cari jalan ke Masjid Al Bina deh, untung masih ketemu.

Nah, untuk cerita selanjutnya silahkan mampir ke yang lebih lengkap.  Yaitu tulisan yang ini (link2 untuk foto juga ada di sana).

Kamis, 05 Februari 2009

Jumadi's Site ............8 - Ini Rute Ke Lokasi Multiply Care di Jagabita Kec. Parung Panjang Kab Bogor [ayu Gabung!]

http://jsattaubah.multiply.com/journal/item/1102
Rute kendaraan umum ke Desa Jagabita versi mas Jumadi


semoga bermanfaat

Measuring the World... - Jagabita: Yang Masih Kurang...

http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/510
Notulen rapat baksos MP Indonesia, Relawan Pelangi dan Komunitas Lebah di desa Jagabita.

silahkan dikunjungi

Jagabita Map | Indonesia Google Satellite Maps

http://www.maplandia.com/indonesia/jawa-barat/bogor/jagabita/
lokasi jagabita dari Maplandia, mungkin masih agak sulit dilihat

semoga bermanfaat

Sastra Kita: [sekolah-kehidupan] Sharing pengalaman dari Desa Jagabita ttg Ibu Marhumah

http://sastramelulu.blogspot.com/2009/02/sekolah-kehidupan-sharing-pengalaman.html
Alhamdulillah tulisan saya tentang Ibu Marhumah selain dimuat di Warnaislam dot com, juga dimuat di blog yang memuat e-mail dari milis sekolah kehidupan.

saya sendiri tidak keberatan karena tulisan itu memang saya kirim via e-mail ke milis sekolah kehidupan.

Yang di warnaislam link-nya ini:

http://www.warnaislam.com/rubrik/sahabat/2009/2/3/32460/Ibu_Marhumah_Warga_Desa_Jagabita_Malang.htm

semoga lebih banyak lagi yang mengetahui keadaan warga desa Jagabita yang malang itu sehingga banyak yang memberi mereka pertolongan.

Senin, 02 Februari 2009

Alhamdulillah, tulisan saya dimuat di Warnaislam :)

http://warnaislam.com/rubrik/sahabat/2009/2/3/32460/Ibu_Marhumah_Warga_Desa_Jagabita_Malang.htm
Ini pertama kalinya tulisan saya muncul di situs selain blog. Pagi2 dihubungi Pak Bambang dari Warnaislam dot com diminta ngecek situs Warnaislam.

Alhamdulillah tulisan saya dimuat. Saya jadi ingat kalau tidak salah Pak Jonru pernah bilang bahwa kita tidak boleh memvonis tulisan karya kita sendiri. Bisa saja tulisan yang kita anggap asal-asalan ternyata bagus di mata orang lain dan demikian sebaliknya.

[Relawan Pelangi] Ibu Marhumah, salah satu warga yang memerlukan pengobatan di desa Jagabita


Ahad kemarin, saat saya dan teman-teman dari Relawan Pelangi datang ke Desa Jagabita untuk melihat perkembangan  pembangunan dan penyediaan sarana sanitasi dan pompa air bersih untuk desa jagabita. 

Cerita tentang pembangunan
sarana sanitasi dan pompa air bersih tersebut bisa dibaca di tulisan yang ini.

Saat mengunjungi pengeboran salah satu titik air yang terletak di dekat Masjid Jami Al Istigomah, Mas Bayu mengajak kami menjenguk ibu Marhumah.  Seorang wanita tua yang perut dan kakinya sakit dan membengkak.   

Kami belum mengetahui apa penyakit yang diderita ibu Marhumah namun ada yang mengira bahwa penyakit itu ada hubungannya dengan lever/hati.  Waktu kami datang, perutnya sudah relatif kempes.  Beliau menyambut kami dengan ramah dan saat kami tanya bagaimana keadaannya, beliau menjawab bahwa kakinya sakit.  Seorang tetangganya mengatakan bahwa dulu perutnya membengkak.  

Apabila kencingnya tidak lancar, muka Ibu Maunah bengep/bengkak-bengkak.  Ada tetangga yang pernah membelikan beliau Obat untuk melancarkan kencing, namun karena harganya mahal, maka tidak bisa selalu diberikan. 

Ibu Marhunah tinggal di gubuk sederhana yang dibangun atas swadaya warga.  Gubuk itu sangat gelap dan lembab, saya sampai menggunaka Night Mode untuk memotret dengan kamera HP, padahal saat itu belum masuk waktu Ashar. 

Karena tidak bisa berjalan, Ibu Marhumah hanya bisa  di sebuah balai bambu.  Beliau hanya bisa buang kotoran di WC hasil improvisasi, yang sebenarnya hanya kayu triplek yang dibuatkan lubang di atasnya lalu di bawah kayu tersebut diberi kantong plastik (di foto saya beri lingkaran merah).  Seorang tetangga yang bersedia merawat beliau lalu membuang kotoran tersebut. 

Saya benar-benar tidak bisa membayangkan hidup di tempat yang suram, lembab dan gelap seperti itu, apalagi dekat dengan kotoran sendiri yang tentu saja baunya tidak menyenangkan. 

Terbayang diri saya sendiri yang terkadang masih mengeluh padahal keadaan saya jauh lebih baik dan nyaman baik dari Ibu Marhunah. Paling tidak saya masih bisa kemana-mana sendiri dan di rumah masih punya tempat yang layak untuk membuang sisa-sisa pencernaan makanan dari diri saya.  

Saya juga masih bisa tidur di tempat yang cukup nyaman dan tidak berdampingan dengan kotoran sendiri.  Saya juga percaya bahwa para pembaca tulisan ini juga tidak harus hidup berdampingan dengan kotoran sendiri, maklum pengakses internet di Indonesia sebagian besar, jika tidak semua, adalah kalangan menengah ke atas. 

Saya juga kagum dan sedih melihat sang tetangga yang setia merawat beliau padahal tetangga itu sendiri buka orang kaya dan memiliki delapan orang anak.  Suami sang tetangga adalah seorang juru parkir di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. 

Sayang saya lupa menanyakan identitas sang tetangga, karena sudah terlanjur terenyuh melihat keadan Ibu Marhunah. 

Salah satu anak Ibu Marhunah, Ujang, sudah tidak berdaya karena terserang stroke.  Anak-anak beliau yang lain sudah tidak mau membantu, sebab hidup mereka juga susah.  demikian menurut para tetangga beliau. 

Bisa jadi, kitalah yang sesungguhnya menahan atau membendung karunia dan pertolongan Alloh sWT kepada saudara-saudara kita, baik di dalam negeri, seperti desa Jagabita, ataupun luar negeri, seperti di Jalur Gaza, Rohingya atau tempat2 lain.  Banyak cerita inspiratif yang menunjukkan bahwa pertolongan Alloh sebagian besar datang melalui orang lain. 

Banyak diantara kita yang lebih memilih membelanjakan uang hanya untuk kesenangan pribadi semata.  Walaupun uang itu halal hasil jerih payah kita sendiri, hakikatnya itu adalah rezeki dari Allah SWT.  Allah SWT menitipkan harta kepada kita bukan sekedar untuk kita nikmati sendiri, tetapi juga harus menjadi penyambung kehidupan bagi orang lain, terutama orang-orang seperti Ibu Marhunah. 

Perlu kita ingat bahwa Allah SWT Maha mengetahui atas segala sesuatu.  Dialah pencipta kita, tentu Dia lebih mengetahui diri kita daripada kita sendiri apalagi orang lain.  Jika potensi dan energi yang ada pada dalam diri kita tidak kita manfaatkan semaximal mungkin untuk membantu sesama, pasti akan ada balasan yang berat dan mengerikan untuk kita, baik di dunia maupun di akhirat nanti

Jangan sampai kita ragu menjadi perantara kebaikan, walaupun kita juga hidup dalam keterbatasan.  Sesungguhnya, yang kita bantu adalah diri kita sendiri.  Kalau masih ragu, silahkan baca tulisan - tulisan berikut ini:

- Cerita Relawan membantu dalam keterbatasan

- Perantara Kebaikan

Semoga bermanfaat

Insya Alloh komunitas Multiply Indonesia dan Relawan Pelangi akan mengadakan bakti sosial pelayanan kesehatan pada hari Sabtu, tanggal 14 Februari 2009 di Desa Jagabita, info lebih lanjut silahkan lihat

[Relawan Pelangi] Ke Jagabita once again, Ahad 2 Februari 2008




hari Ahad kemarin saya dan kawan2 dari Relawan Pelangi kembali ke jagabita untuk melihat perkembangan pembangunan madrasah sarana sanitasi dan air bersih di sana.

Madrasah yang kemarin dipergunakan untuk mutilasi atau pemotongan daging qurban sudah dipugar rapih, Alhamdulillah.

satu titik air sudah bisa dipergunakan dan yang lain menyusul.

sorenya kami pergi ke titik air yang lain dekat masjid Jami Al Istiqomah.

Dekat masjid itu, ada tempat penampungan air yang lebih tepat disebut kubangan, karena hanya mengandalkan air hujan dan air yang itu-itu saja.

Kami menjenguk Ibu Marhunah yang perutnya bengkak, kemungkinan sakit lever.

Kami sangat berharap rekan-rekan sekalian berkenan untuk bersama-sama membantu mengatasi masalah-masalah yang ada di desa ini, terutama masalah kesehatan dan kemiskinan di sana.

Kamis, 22 Januari 2009

Gaw's! The Life Sharer - [Progres] Program Terpadu Jagabita

http://gawtama.multiply.com/journal/item/435/Progres_Program_Terpadu_Jagabita
Sobats, Assalaamu'alaikum...

Laporan sementara tentang perkembangan pembangunan sarana air bersih, sampai pagi tadi pengeboran air sudah sampai kedalaman 40 meter yang dikerjakan oleh Pak Habib dan team di kampung Sarongge, desa Jagabita.

Lebih lanjut silahkan mampir ke link di atas,

semoga bermanfaat :)

Selasa, 09 Desember 2008

[RELAWAN PELANGI] Qurban di Jagabita

Akhirnya setelah berharap-harap cemas hari H yang dinanti para relawan Pelangi pun tiba.  sesuai kesepakatan yang akhirnya berhasil dicapai 

(stelah beberapa kali berubah-ubah rencana) para relawan spakat berangkat dari Masjid Agung Al Azhar ba'da subuh supaya bisa sholat Id' Adha di Desa jagabita. 

saya sendiri berangkat dari rumah janm 2:30 pagi, krn taxinya sudah sampai duluan, Alhamdulillah.  krn pagi buta, sampai di Al Azhar skitar jam 3 pagi. 

Setelah menunggu, mbak Ari dan mpers (Mbak Izoel, Mbak Yusi, Mbak Yanin dan Mbak Ani) yang lain datang, disusul teman2 dari Relawan Pelangi.

Mas Ready menyusul dari Bogor

krn berangkatnya agak molor, maka kami tidak bisa sholat Id di Jagabita.  Kami sholat Id di daerah BSD.

Walaupun sebelum ini pernah ke desa Jagabita dua kali, saya masih aja keder dengan jalan ke sana.  Teman relawan di sebelah sudah gelisah.  "Tahu kan jalannya" dia tanya beberapa kali.  saya hanya bisa diam dan belagak udah tahu

Untung teman-teman di belakang bisa memberitahu supir arah yang benar.   Sempat telepon-teleponan sama yang sudah sampai duluan.  Jadi deh rezeki para operator seluler

sampai jagabita sekitar jam 9 kurang. 

setelah seremonial oleh pak Lurah dan tokoh masyarakat, acara pemotongan Hewan Qurban pun dimulai. 

Saya sendiri sebenarnya pada awalnya lumayan grogi dengan tugas yang akan dihadapi.  Walaupun sudah memepersenjatai diri dari rumah dengan golok yang mirip kepunyaan para pendekar Betawi, mencincang hewan yang baru dikuliti dan dagingnya masih segar itu tentu bukan perkara mudah. Apalagi ada 3 ekor sapi dan 43 ekor kambing yang harus kami tangani. 

Belum lagi relawan yang lain ada yang hanya mempersenjatai diri dengan pisau dapur yang lebih tepat utk mengupas bawang.  Maklum, bukan profesi.

Lebih grogi lagi waktu tahu lokasi mutilasi atau pencincangan itu adalah madrasah yang akan diperbaiki.  Sudah dialas terpal sih, tapi kan tempatnya tertutup.  Sebab saya sendiri pernah masuk ke tempat jualan daging di pasar dan hampir pingsan dgn aroma di tempat itu.

Namun ternyata Alloh SWT berkehendak lain.  Angin kencang yang berhembus cukup membantu para relawan melaksanakan tugas berat tersebut.  Walaupun tempat itu tertutup, namun ventilasinya cukup memadai. 

Namun, yang namanya kompetensi tentu tidak bisa dibohongi.  Tenaga outsource dari penduduk setempat banyak sekali membantu para relawan menuntaskan tugas tersebut.  Kecepatan dan ketrampilan mereka sangat mengagumkan. 

Lanjutan kisah para tenaga outsource dapat dibaca di tulisan ini

Saya sendiir belum sempat membantu banyak di bagian mutilasi.  Saya harus ke ruangan sebelah utk membantu mbak Icha menghitung kepala2 dan kulit2 hewan yang baru dipotong. 

Alhamdulillah, berkat sistem kerja yang baik dan relawan2 yang amanah, kami terhindar dari larangan menjual kulit dan kepala hewan2 teresebut.

Tukang jagalnya juga sudah profesional, jadi aman deh

Setelah zuhur, kami berhasil menyelesaikan kegiatan mencincang dan mengepak potongan-potongan daging tersebut.  Pembagian daging dipercayakan kepada para pejabat RW dan RT setempat.  Hal ini adalah cara para relawan mendidik aparat2 desa utk peduli pada warga dan memegang amanah. 

Alhamdulillah, walaupun cukup heboh, namun tidak ada kerusuhan atau hal-hal yang tidak diinginkan.  

Acara diakhiri dengan pembubaran panitia, de-briefing sejenak dan foto-foto narsis

*teuteup

Yang ingin tahu lebih banyak tentang relawan pelangi, silahkan bergabung di milis ini

http://groups.yahoo.com/group/relawan_pelangi/

[RELAWAN PELANGI] Foto baksos jagabita (pakai kamera beneran)


pembacaan doa oleh para tokoh masyarakat

Nah, yang ini baru poto2 dgn kamera beneran, bukan kamera HP. yang motret mbak Ari dan mbak Yanin. kamera dapat minjam dari adik saya, he he he

*upload-nya harus dicicil :D

Senin, 08 Desember 2008

[RELAWAN PELANGI] Foto narsis ala tukang jagal




kayaknya seantaro MP belum ada deh poto narsis kaya gini, he he he he

*asli tanpa sotosop atau image editing lainnya :D

*baru tahu ternyata kepala sapi itu berat, he he he