Tampilkan postingan dengan label maaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maaf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2012

[Renungan] DEEP FREEZE

Mungkin banyak dari orang-orang yang suka ke warnet tahu program yang satu ini.  Biasanya, program ini selalu terinstal di komputer-komputer warnet. Program bernama Deep Freeze ini digunakan untuk melindungi komputer warnet dari instalasi program yang tidak diinginkan.  Jika program ini masih aktif, user tidak akan dapat menginstal program apapun.  Walaupun sudah diinstal, begitu komputer di-restart atau dimatikan, setelah dinyalakan lagi maka akan kembali ke setting awal.  Seakan-akan tidak ada program baru yang diinstal di komputer tersebut.  File-file yang di-download, jika tidak dimasukkan ke drive yang tidak terpengaruh program ini, akan hilang jika komputer di-restart atau dimatikan.  JIka ada program yang harus diinstal seperti update dan patch game online atau program lain, maka operator warnet harus melakukan langkah-langkah tertentu untuk mendeaktifasi program Deep Freeze ini.  Barulah program tersebut dapat diinstal dan dipergunakan sebagaimana mestinya.  

Namun, ternyata program seperti ini tidak hanya ada di komputer.  Pada diri manusia, yang merupakan komputer tercanggih yang pernah ada, program ini sudah terinstal sejak lahir.  Bedanya, jika program Deep Freeze pada komputer cenderung pukul rata, Deep Freeze pada manusia cenderung selektif.  Bisa saja seseorang menjadi hangat dan akrab pada teman-temannya namun bersikap dingin dan beku pada oarng tertentu.  Seperti komputer warnet yang dilindungi program Deep Freeze, seperti itulah kondisi orang yang enggan memaafkan orang lain. Apapun yang dikatakan, dilakukan dan diberikan oleh orang yang dikurung dalam Deep Freeze psikologis orang itu tidak akan memberi pengaruh apapun.  Sungguh sangat disayangkan apabila ada persahabatan dan hubungan keluarga yagn sampai terblokir oleh program Deep Freeze psikologis itu.  

Memang, manusia adalah tempat salah dan dosa.  Sebaik-baik mereka yang bersalah dan berdosa adalah mereka yang bertaubat dan berusaha memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.  Namun, terkadang, suatu kesalahan disikapi eengan tidak proporsional.  Orang yang bersalah seakan ditempatkan dalam es sepert tokoh Kay dalam cerita dongeng Ratu Salju karangan Hans Christian Andersen atau tokoh Han Solo dalam Star Wars: Return of the Jedy.  Kay ditempatkan dalam istana Ratu Salju yang dingin membeku dan Han Solo ditempakan dalam peti es carbonite  oleh Jabba The Hutt sang gangster kejam yang bermarkas di Planet Tatooine.  Orang -orang yang ditempatkan dalam "peti es khayalan" itu tidak dapat lagi berkomunikasi dengan efektif dengan orang yang mengurungnya.  Persis komputer yang terproteksi program Deep Freeze, walaupun sudah diinstal program tertentu, ketika di-restart dia akan kembali ke setting-an awal.  Seakan-akan tidak pernah terinstall program apapun kecuali yang memang sudah ada.  

Pribadi yang shalih/salihah adalah yang dapat mengelola emosi menjadi sebuah potensi yang membangun dan bukan merusak, merekatkan dan bukan meretakkan, mengokohkan dan bukan merobohkan serta mudah memberikan toleransi atau maaf pada orang lain. Sifat ini merupakan salah satu kunci kebahagiaan, kebaikan dan kelestarian rumah tangga. Allah berfirman: “dan orang-orang yang menahan amarah (emosi)nya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran:134).  Sehingga, bercermin dari pernyataan di atas, pribadi salih/salihah adalah pribadi yang bisa mengendalikan Deep Freeze psikologis yang ada dalam dirinya.  Dia bisa membuka diri pada hal-hal yang baik, termasuk memberi maaf kepada mereka yang bersalah padanya namun dia juga bisa waspada dan jika perlu memblokir hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang berbahaya bagi jiwa dan agamanya.  

Semoga bermanfaat

Gambar minjem dari situs ini

Senin, 13 Juni 2011

[School of Life] Forgiving not Forgetting

Ahad kemarin, saya mengikuti kembali forum School of Life, suatu forum tempat semua peserta berbagi dan saling mengajari serta saling belajar dari sesamanya.  Forum School of LIfe adalah salah satu implementasi prinsip "Jika semua tempat adalah sekolah, maka semua tempat adalah guru".  Dalam forum-forumnya, SOL tidak mengenal pelatih atau pembicara tententu.  Semua peserta adalah pembicara dan semua pembicara adalah peserta.  

Salah satu peserta pernah bekerja sama dengan seorang teman untuk sesi pemotretan sebuah sekolah.  Namun, teman ini sepertinya kurang menjaga amanah jadi proyek sering tertunda pembayarannya.  Uang pembayaran baru diberikan sesudah ada proyek baru.  Peserta tersebut mengatakan bahwa dia coba melupakan dulu peristiwanya, padahal dia belum memaafkan orang tersebut.  Namun, entah kenapa setiap kali ada proyek pemotretan di sekolah, yagn teringat adalah temannya sehingga dia merasa pusing.  ternyata teman yang satu ini sudah banyak terlibat kasus penipuan dalam berbagai proyek.  Dia terpaksa menahan foto-foto yagn sudah dia buat karena belum menerima fee atas foto-foto Yang membuat si peserta merasa kecewa karena dia sudah melindungi si teman agar terjaga nama baiknya. Namun, si teman ini sepertinya tidak terlalu peduli.  Bahkan, dia pernah dikomplain sama sebuah sekolah karena foto-fotonya belum diberikan.  Dia juga sempat menjelaskan pada pihak sekolah atas kejadian dengan si teman tersebut.   Akhirnya, setelah berlalunya waktu, si peserta bisa memaafkan si teman namun dia akan lebih berhati-hati dalam menerima kontrak.  Hikmahnya, si peserta juga mendapat menerima kontrak proyek pemotretan dari sekolah yang semapt dia tahan foto2nya.  Dia juga menceritakan bahwa seorang temannya terlibat sebuah proyek dengan teman yagn lain.  Dia mengingatkan temannya untuk membuat kontrak yang jelas, namun si teman dgn naif mempercayai temannya.  Sudah kenal lama, begitu alasan sang teman. Akhirnya, walau pada awlanya lancar, namun pada bulan2 selanjutnya mulai tersendat.  

Seorang peserta yang lain juga menceritakan kisahnya.  Dia memendam perasaan yang dalam pada teman sesama komunitas yang dia tergabung di dalamnya.  Namun, teman yang sangat dicintainya ini menolaknya dan malah memusuhinya. Dia tidak habis pikir kenapa sampai dimusuhi dan merasa frustasi.  Sudah dicoba untuk minta maaf dan menjalin silaturahim kembali walaupun hanya sbagai teman namun tidak membuahkan hasil.  Dia pun merasa kaget saat mengetahui curhat orang itu yang terluapkan di sebuah blog di internet.  Saat membaca blog itu, dia ada di luar kota, di rumah saudaranya sehingga dia sempat tidak mau pulang ke Jakarta, mau menumpang saja di rumah saudaranya tersebut.  

Suatu ketika, seorang teman memberitahukan si peserta tntang orang tersebut. Profil orang tersebut di sebuah situs jejaring sosial di-hack orang.  Profilnya diganti dengan hal-hal yagn tidak senonoh dan profil itu digunakan untuk komentar yang jelek-jelek.  Terpaksa akun jejaring sosial tersebut di-non aktifkan.  Peserta itu pun mengatakan bahwa apa yang dia rasakan kurang lebih sama dengan apa yang dirasakan orang itu saat dia dimusuhi.  Namun, si peserta tidak berani memastikan apakah itu merupakan "pembalasan" atas orang itu padanya atau tidak.  Si pserta pun memetik hikmah pada kemampuannya membuat tulisan-tulisan inspiratif.  Sekrang ini dia sedang menulis sebuah buku bersama seorang temannya, yang semoga saja segera diterbitkan.

Berbicara tentang jejaring sosial di internet, peserta lain pun menambahkan bahwa seroang  teman di sebuah jejaring sosial tidak lagi jadi temannya.  Saat bertemu, dia pun berkata "Koq saya tidak menemukan profil kamu di FB saya?".  Dia menggunakan bahasa positif dan santun, padahal bisa saja dia merasa reaktif dan langsung bertanya kenapa di-remove.

Peserta lain pun menceritakan bahwa dia sudah terbiasa interospeksi karena menghayati ayat 11 surat 64 dalam Al Quran yang berbunyi "Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah SWT, dan barang siapa beriman keapda Allah SWT, niscaya Allah akan memberi petunjuk pada hatinya.  Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."   .  Dia pernah difitnah menggelapkan uang belasan juta namun dia tetap tenang, dan akhirnya ketahuan siapa yang sesungguhnya menggelapkan uang itu. Dia juga cerita tentang seorang teman yang pernah dianiaya habis-habisan.  Bahkan pernah, maaf, hampir ditelanjangi di depan rekan-rekan kerjanya.  Namun, teman si peserta itu tetap bisa bersabar dan memaafkan.  

Ada juga yang sharing tentang masa kecilnya.  Dia pernah belum bisa memaafkan ayahnya selama sekitar 20 tahun.  Dahulu, saat masih kecil, hidupnya relatif berkecukupan.  Namun, sejak ayahnya meninggalkan dia dan menjual rumah mereka serta membawa hasil penjualan rumah tersbut, hidup keluarganya menjadi miskin.  Mereka terpaksa tinggal di rumah petak yang kecil serta hidup penuh kekurangan.  Yang mengangumkan baginya adalah yang pertama kali memaafkan sang ayah adalah kakaknya. Padahal si kakak inilah yang paling menderita karena seringkali menjadi sasaran kemarahan ayahnya.  Bahkan si kakak pernah ditendang sampai koma.  Kepada si peserta si kakak pernah berkata "Gw yang paling menderita karena bapak, tapi gw bisa maafin.  Kenapa lu enggak?".  Akhirnya, setelah bertahun-tahun si peserta pun bisa memaafkan ayahnya.  Dia berktata "Saya bisa menulis tentang kemiskinan karena peranh jadi orang miskin, saya prnah menulis tentang preman karnea pernah jadi preman, saya bisa menulis tentang anak jalanan karena pernah jadi anak jalanan". Tulisan-tulisan peserta yagn satu ini sudah dibukukan dalam beberapa buah buku yang penuh hikmah.   
 
Dalam forum tersbut, dibahas juga bebarapa mitos yang salah tentang memaaafkan.

Mitos Memaafkan antara lain:

1. Memaafkan = Lemah

Memaafkan justru merupakan tanda kekuatan, memaafkan adalah salah satu rahasia kekuatan dan kesuksesan para orang-orang besar, baik para nabi maupun para pemimpin besar.

2. Memaafkan = Menguak luka masa lalu
Memaafkan adalah menyembuhkan luka-luka yang lalu.  Termasuk juga mengambil hikmah apa yang diinginkan Allah SWT melalui peristiwa yang seringkali berat dan tidak menyenangkan.

3. Memaafkan = melupakan
Memaafkan adalah cara melepaskan beban masa lalu, walaupun peristiwa itu masih bisa diingat, namun tidak lagi membebani kehidupan kita.

4. Memaafkan = kalah
Dengan memaafkan kita tidak dikalahkan atau mengalahakn siapapun kecuali ego pribadi kita sendiri.  Dengan memaafkan kita semakin bisa mengenal diri sendiri dan menggali mutiara-mutiara hikmah yang ada dalam diri kita.

Demikian sharing dari acara forum School of Life

Semoga bermanfaat