Tampilkan postingan dengan label dosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dosa. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juni 2012

Inilah Dampak Salah Gaul Generasi Muda Masa Kini

http://wasathon.com/humaniora/read/inilah_dampak_salah_gaul_generasi_muda_masa_kini/
Secara tak sengaja, saya menemukan sebuah gambar bayi yang dibuang di selokan, di wall FB saya. Bayi ini terbaring kaku dengan ari-ari bersama tali pusar yang masih menempel di anggota tubuhnya. Saat itu hati saya miris, antara sedih, marah, dan ingin rasanya memaki orang yang tega membuang bayi tersebut. Tidakkah ada rasa kasihan sama sekali dengan makhluk mungil ini? . Membuang bayi karena takut miskin, atau untuk menutupi dosa? Bisa jadi salah satu diantaranya. Akan tetapi tetap saja, perbuatan ini adalah sama-sama dosa besar.

selanjutnya sila ke link

Rabu, 01 Februari 2012

[Renungan] DEEP FREEZE

Mungkin banyak dari orang-orang yang suka ke warnet tahu program yang satu ini.  Biasanya, program ini selalu terinstal di komputer-komputer warnet. Program bernama Deep Freeze ini digunakan untuk melindungi komputer warnet dari instalasi program yang tidak diinginkan.  Jika program ini masih aktif, user tidak akan dapat menginstal program apapun.  Walaupun sudah diinstal, begitu komputer di-restart atau dimatikan, setelah dinyalakan lagi maka akan kembali ke setting awal.  Seakan-akan tidak ada program baru yang diinstal di komputer tersebut.  File-file yang di-download, jika tidak dimasukkan ke drive yang tidak terpengaruh program ini, akan hilang jika komputer di-restart atau dimatikan.  JIka ada program yang harus diinstal seperti update dan patch game online atau program lain, maka operator warnet harus melakukan langkah-langkah tertentu untuk mendeaktifasi program Deep Freeze ini.  Barulah program tersebut dapat diinstal dan dipergunakan sebagaimana mestinya.  

Namun, ternyata program seperti ini tidak hanya ada di komputer.  Pada diri manusia, yang merupakan komputer tercanggih yang pernah ada, program ini sudah terinstal sejak lahir.  Bedanya, jika program Deep Freeze pada komputer cenderung pukul rata, Deep Freeze pada manusia cenderung selektif.  Bisa saja seseorang menjadi hangat dan akrab pada teman-temannya namun bersikap dingin dan beku pada oarng tertentu.  Seperti komputer warnet yang dilindungi program Deep Freeze, seperti itulah kondisi orang yang enggan memaafkan orang lain. Apapun yang dikatakan, dilakukan dan diberikan oleh orang yang dikurung dalam Deep Freeze psikologis orang itu tidak akan memberi pengaruh apapun.  Sungguh sangat disayangkan apabila ada persahabatan dan hubungan keluarga yagn sampai terblokir oleh program Deep Freeze psikologis itu.  

Memang, manusia adalah tempat salah dan dosa.  Sebaik-baik mereka yang bersalah dan berdosa adalah mereka yang bertaubat dan berusaha memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.  Namun, terkadang, suatu kesalahan disikapi eengan tidak proporsional.  Orang yang bersalah seakan ditempatkan dalam es sepert tokoh Kay dalam cerita dongeng Ratu Salju karangan Hans Christian Andersen atau tokoh Han Solo dalam Star Wars: Return of the Jedy.  Kay ditempatkan dalam istana Ratu Salju yang dingin membeku dan Han Solo ditempakan dalam peti es carbonite  oleh Jabba The Hutt sang gangster kejam yang bermarkas di Planet Tatooine.  Orang -orang yang ditempatkan dalam "peti es khayalan" itu tidak dapat lagi berkomunikasi dengan efektif dengan orang yang mengurungnya.  Persis komputer yang terproteksi program Deep Freeze, walaupun sudah diinstal program tertentu, ketika di-restart dia akan kembali ke setting-an awal.  Seakan-akan tidak pernah terinstall program apapun kecuali yang memang sudah ada.  

Pribadi yang shalih/salihah adalah yang dapat mengelola emosi menjadi sebuah potensi yang membangun dan bukan merusak, merekatkan dan bukan meretakkan, mengokohkan dan bukan merobohkan serta mudah memberikan toleransi atau maaf pada orang lain. Sifat ini merupakan salah satu kunci kebahagiaan, kebaikan dan kelestarian rumah tangga. Allah berfirman: “dan orang-orang yang menahan amarah (emosi)nya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran:134).  Sehingga, bercermin dari pernyataan di atas, pribadi salih/salihah adalah pribadi yang bisa mengendalikan Deep Freeze psikologis yang ada dalam dirinya.  Dia bisa membuka diri pada hal-hal yang baik, termasuk memberi maaf kepada mereka yang bersalah padanya namun dia juga bisa waspada dan jika perlu memblokir hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang berbahaya bagi jiwa dan agamanya.  

Semoga bermanfaat

Gambar minjem dari situs ini

Kamis, 11 November 2010

[Renungan] Bencana dan Interaksi Energi

Nikola Tesla noted: "A single ray of light from a distant star falling upon the eye of a tyrant in bygone times may have altered the course of his life, may have changed the destiny of nations, may have transformed the surface of the globe, so intricate, so inconceivably complex are the processes in Nature."

Nicola Tesla



Beragam pendapat tentang bencana mewarnai hari-hari kita belakangan ini.  Mulai dari pendapat yang mengatasnamakan agama dengan mengutip dalil-dalil kitab suci sampai yang materialistik murni.  Ada pihak yang mengatatakan bahwa Tuhan menghukum manusia karena dosa-dosa mereka dengan adanya baencana-bencana ini.  Ada pula yang berpendapat bahwa semua ini hanyalah kebetulan semata. Tidak ada hubungan sama sekali dengan dosa dan kesalahan manusia.  Sebagaimana banyak orang, terutama yang tak bertuhan, yang berpendapat bahwa alam semesta ini terjadi secara kebetulan.  Jarang sekali ada orang yang menyadari adanya interaksi energi di dalam kehidupan.  Manusia pada umumnya menganggap dirinya sebagai entitats yang terpisah dari alam dan manusia lainnya.  Erich Fromm menyebut fenomena tersebut sebagi keterasingan atau "alienation".  Secara materi, manusia memang terpisah dari lingkungannya, namun sebagai entitas energi dia tidak terpisahkan sama sekali.  Manusia adalah bagian dari energi yang saling berinteraksi dalam bentuk vibrasi atau getaran. SEbagaimana energi alam mempengaruhi manusia, manusia pun mampu mempengaruhi energi alam melalui semua perbuatan tangannya.

 

Manusia telah mengubah wajah dunia sedemikian rupa selama ratusan bahkan ribuan tahun. Bangunan - bangunan megah dan besar didirikan di berbagai tempat di muka bumi ini.  Sebagian bangunan itu hanya diperuntukkan bagi kesenangan dan kebanggaan semata.  Mulai dari istana megah tempat tinggal para penguasa zalim, piramida raksasa yang hanya digunakan untuk menguburkan jasad sang Firaun sampai dengan Mall-mall megah di kota besar.  Semua itu adalah perangkap energi yang menyebabkan vibrasi energi menjadi terhambat.  Bumi yang semakin tua semakin dibebani beban yang makin berat.

 

Sementara itu, banyak gunung-gunung yang diledakkan dan diambil batu-batunya untuk dibuat jalan dan bangunan. Saat saya dan beberapa teman relawan berkunjung ke suatu daerah miskin yg terletak tidak jauh dari jakarta, seorang relawan lokal bercerita tentang keadaan gunung-gunung di sana.  Kata relawan lokal tersebut kira-kira lima tahun lagi gunung - gunung itu akan habis karena terus menerus diambil bebatuannya. Padahal, gunung-gunung adalah pasak-pasak yang menopang permukaan bumi hingga bisa stabil dan nyaman untuk ditinggali makhluk hidup.  Wajah bumi pun semakin lama sekamakin berubah, jauh dari saat dia pertama kali diciptakan.  Dan perubahan pada wajah bumi itu tentu mempengaruhi keseimbangan energinya hingga makin rentan terhadap bencana alam.  Mungkin, sekali lagi mungkin, rumah tempat tinggal kita berdiri di atas batu-batu gunung tadi.  Batu-batu yang seharusnya tetap menjadi penopang bagi keseimbangan materi dan energi bumi tercinta ini.

 
Setiap kali manusia berbuat kebaikan, maka kebaikan itu akan terseimpan dalam bentuk energi positif. Apabila perbuatan yang dilakukan sebaliknya, maka dia pun akan tersimpan dalam bentuk energi negatif.  Kedua macam energi itu bisa mencair dan kembali pada pemiliknya.  Energi positif dalam bentuk 4TA (harta, tahta, kata dan cinta) dan energi negatif dalam bentuk bencana dan kemalangan. Kita tidak tahu pasti apa sajakah yang pernah terjadi di wilayah bencana tersebut.  Bisa jadi banyak orang yang menabung energi negatif karena menzalimi sesama dan alam semesta.   Sehingga, atas izin Allah SWT, terjadilah pencairan banyak energi negatif sekaligus dalam bentuk bencana.  Kita tentu telah mengetahui bahwa kezaliman telah terjadi hampir di seluruh tempat di muka bumi ini. Ditambah lagi dengan ketidakpedulian orang pada sesama manusia.  Mereka yang berbuat maksiat, zalim dan jahat dibiarkan saja, yang penting tidak mengganggu saya.

Sesungguhnya, dalam setiap kemaksiatan akan selalu ada pihak yang terzalimi.  Ada orang tua yang prihatin pada anak-anaknya kecanduan narkotika atau minuman keras yang dijual bebas.  Ada guru atau pendidik yang kesulitan mendidik dan mengajar anak didiknya karena mereka enggan belajar.   Ada istri yang suaminya  berselingkuh atau lebih suka jajan di tempat-tempat pelacuran dan sebagainya.  Semua itu membuat pencairan energi negatif bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.  Mulai dari kecelakaan kecil yang hanya menyebabkan sedikit korban terluka hingga bencana masif yang melenan ratusan atau bahkan ribuan korban jiwa.  Sehingga, pesan Ebiet dalam lagunya sangat penting untuk kita simak dan ambil hikmahnya ".. yang terbaik hanyalah, segeralah bersujud mumpung kita masih diberi waktu .... "

Allah SWT tidak ingin kita mengeluh dan merintih namun Dia ingin agar kita memaksimalkan apapun yang dianugerahkan kepada kita agar kita bangkit dan berprestasi. Semua yang menjadi kehendakNya adalah pendidikan bagi kita semua. Sebagimana kata Rabb menurunkan kata-kata Tarbiyah atau pendidikan, Murabbi atau pendidik dan Mutarabbi atau peserta didik.  Akal memang tidak selalu bisa mencari penyebab dari semua ini, karena akal yang menuntut untuk dipuaskan adalah akal yang diperbudak ego dan hawa nafsu. Akal yang sehat adalah akal yang selalu mencari hikmah di balik setiap peristiwa dan memanfaatkan peristiwa2 itu demi kebaikan sesama dan pengembangan diri yang optimal.  Akal yang diterangi cahaya nurani yang jernih bersumber dari hati yang selalu berbaik sangka atau khusnudzon kepadaNya.

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al Baqarah:32)

Semoga bermanfaat

Selasa, 08 Desember 2009

[Psikologi Sosial] Membunuh itu mudah

Yah, kata-kata di atas adalah judul sebuah novel tulisan Agatha Christy. Yang jelas, tulisan ini bukan untuk memotivasi kita untuk saling bunuh. Namun, kita perlu ingat akan tabiat manusia itu sendiri.

Entah berapa ratus juta tahun yang lalu Allah SWT akan menciptakan manusia dan menempatkan makhluk tersebut sebagai khalifah di bumi. Para malaikat, yang biasanya patuh tunduk 100 persen, tiba-tiba protes. Mengapa Engkau menciptakan makhluk yang akan menumpahkan darah sesamanya? demikian tanya mereka.

Allah SWT mengatakan pada para malaikat tersebut "Aku lebih mengetahui daripada kalian"

kisah tersebut bisa dibaca selengkapnya di dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah (2): ayat 30 - 34

Saya bukan ahli tafsir, pengetahuan saya tentang Al Quran dan tafsirnya sangat terbatas. Namun, bagi saya bagian yang paling menarik dari ayat di atas adalah mengapa para malaikat mengatakan bahwa manusia akan membunuh dan menumpahkan darah sesamanya. bukan merampas harta sesamanya atau jenis-jenis kejahatan yang lain. Pembunuhan, ya pembunuhan.

Pembunuhan bisa dibilang merupakan puncak kezaliman seorang manusia atas sesamanya. Pembunuhan adalah kejahatan yang paling kejam. Apabila harta seseorang dicuri atau haknya dirampas, setidaknya dia masih hidup. Mungkin dia bisa mencari harta lagi atau memperjuangkan haknya kembali. Namun, apabila dia sudah terbunuh atau dibunuh? Tidak ada jalan untuk kembali ke dunia ini, kecuali Allah SWT menghendaki. Terputus sudah hubungan dengan dunia fana ini, pupus sudah kesempatan beramal sholeh. Tidak lagi bisa menebar manfaaat bagi sesama manusia dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Mungkin para malaikat pada waktu itu berpikir, jika membunuh sesama manusia saja bisa dilakukan, apalagi kejahatan-kejahatan yang lain.

Anton Medan suatu saat pernah diwawancarai oleh suatu TV Swasta dalam acara talkshow tengah malam. Beliau dengan tegas mengatakan bahwa semua orang bisa membunuh. Presenter yang memandu acara keheranan dan bertanya "bener nih pak?". "Iya' jawab Anton Medan dengan lebih tegas.

Saat saya mengikuti Baksos SEFT dan Yayasan Hurin'in di daerah Bongkaran, Jatibunder, Tanah Abang, seorang sahabat yang juga SEFTer menceritakan pengalamannya. Dia men-tapping seorang bapak yang sakit pinggang. Cerita punya cerita, akhirnya si bapak bercerita bahwa dia sudah siap membunuh anaknya dan demikian pula sebaliknya. Anak dan bapak, darah daging sendiri, sudah pasang kuda-kuda. siap untuk saling membunuh. Daerah Bongkaran memang tempat yang sangat mengerikan. Keluarga-keluarga hidup dalam petak-petak kecil yang sumpek dan sempit. Terkadang, ada suami yang membawa perempuan lain ke rumah petaknya dan main gila di sana. Terbayang betapa sakitnya perasaan si istri. Adik dan kakak saling berhubungan sexual sudah biasa di sana. Maklum, daerah itu merupakan tempat lokalisasi pelacuran. Saat mendengar kisah adik kakak yang saling berhubungan sex, saya teringat kembali sebuah hadits Rasul. saya sendir kurang tahu persis haditsnya, namun matan atau isi hadits tersebut menyatakan bahwa anak laki dan perempuan, pada usia tertentu, harus dipisahkan kamarnya. Walaupun adik kakak. Namun, di sana bagaimana mungkin mau dipisah. Wong satu keluarga saja harus tinggal di petak-petak kecil nan sumpek. Sudah tidak perlu lagi dibayangkan, betapa tidak nyaman interaksi sosial antar warga di sana. Segala macam kejahatan bisa terjadi, termasuk pembunuhan.

Jika memang semua orang, tanpa kecuali bisa membunuh, maka benarkah membunuh itu mudah? tergantung siapa yang melakukan. sesuatu menjadi mudah karena dilakukan berulang-ulang. Seseorang memiliki keahlian untuk melakukan sesuatu karena belajar dan berlatih. Perasaan takut dan jijik melihat darah dan organ-organ dalam tubuh manusia adalah "default setting" pada fitrah diri manusia. Namun, bagi orang-orang yang sudah berulang kali melihat hal-hal tersebut, mereka tidak lagi merasa takut atau jijik. Orang-orang seperti dokter ahli bedah atau petugas forensik tentu sudah terlatih melihat hal-hal tersbut.

Demikian juga dengan aktivitas yang namanya membunuh. pada awalnya mungkin, seorang calon pembunuh bayaran atau seseorang yang akan membunuh merasakan takut yang amat sangat. Keringat dingin bercucuran, jantung berdebar keras tak karuan. Namun, lama-kelamaan perasaan itu hilang. Berganti dengan tatapan tajam bak binatang buas saat mengincar calon korbannya. Tangan yang tadinya gemetar berkeringat lama kelamaan mantap memegang senjata. Aliran darahnya yang tadinya berdesir tanda ketakutan, kini mengalir normal seakan tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena itulah, orang yang sudah terlatih dan terbiasa membunuh disebut pembunuh berdarah dingin. Sedingin aliran sungai di pegunungan.

Namun demikian, ada pula orang-orang yang tiba-tiba jadi pembunuh. Contoh paling nyata adalah para TKI yang pergi ke luar negeri. Sebenarnya, mereka di sana untuk mencari nafkah. Mereka adalah orang-orang lugu yang bahkan mungkin tidak pernah berkelahi, paling banter adu mulut. Namun, perlakuan tidak manusiawi dan kejam sebagian majikan menyebabkan mereka sampai nekat melakukan pembunuhan. Koran-koran dan berita-berita kriminal yang tayang tiap hari juga menyajikan kepada kita berita-berita yang sama. Hampir setiap hari kita saksikan seseorang membunuh atau dibunuh orang lain, bahkan terkadang karena sebab-sebab sepele. Seperti berebut lahan parkir, saling ejek, rebutan pacar dan sebagainya. Bila tidak mampu atau tidak berani membunuh padahal kekesalan sudah memuncak, bisa jadi mereka bunuh diri. Bunuh diri juga merupakan pembunuhan, dan dilarang keras dalam agama Islam, sebagaimana membunuh orang lain.

Perilaku anggota masyarakat sudah sedemikian rupa destruktif sehingga mudah terprovokasi. Kehidupan yang serba sulit, kemiskinan yang melilit dan perbedaan yang lebar antara si kaya dan si miskin menyebabkan banyak orang mengalami apa yang oleh Erich Fromm sebagai "Unlived Live". Saya sendiri menerjemahkan "Unived Live" sebagai kehidupan yang kering dan kosong tanpa makna. Erich Fromm mengatakan bahwa "Unlived Live" ini adalah penyebab dari segala macam kecenderungan manusia untuk merusak (destructiveness is the outcome of unlived life). Dan kerusakan apa yang lebih besar daripada pembunuhan?

Semoga bermanfaat

Selasa, 30 September 2008

Menjelang Tengah Malam di Malam Takbiran

Menjelang tengah malam di malam takbiran

Akhirnya malam takbiran yang dinantikan pun datang

masyarakat seakan berpesta pora penuh kemenangan

Lupa Daratan


Sementara, maksiat justru kian merajalela

yang pacaran asyik nonton TV di rumah saja

yang ditayangkan berisi hal sia-sia

buatan setan kapitalis Durjana

yang haus materi dan gila harta


Takbir keliling disertai musik yang menggila

knalpot digeber gak kira-kira

uang dan dana habis sia-sia

fitrah ternoda dan malah menambah dosa


kemenangan yang disangka di depan mata

mungkin sebenarnya sudah menguap sia-sia

"Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi hanya mendapat lapar dan haus saja"

Demikian kata Rasul Tercinta


Sementara itu, di tempat-tempat yang luput dari pengamatan

terdengar gemerincing rantai yang mengikat para setan

mulai terlepas dan berjatuhan

sehingga yang tadinya diikat pun jadi kegirangan


Iblis mempersiapkan bala tentara

setan-setan meregangkan ototnya

siap memulai pertempuran baru dengan manusia

agar mendapat sebanyak mungkin pendamping ke dalam Neraka


Namun yang paling berbahaya

Dajjal telah berkurang lagi rantai ikatannya

dia memang belum bebas sempurna

namun getaran energi fitnahnya sudah terasa

sehingga ke seluruh dunia


Kalau begitu, masihkah kita bangga pada Ramadhan yang telah berlalu?

bila ternyata saat Syawal tiba kita seakan bertingkah tidak tahu malu

Ramadhan bagaikan bayi yang mati dalam kandungan

tinggal dipendam dan diberi batu nisan