| Start: | May 18, '12 09:00a |
| Location: | SAJIAN SUNDA SUMBARA, Jl. Walter Mongonsidi No. 19 Jakarta Selatan |
Tampilkan postingan dengan label schooloflife. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label schooloflife. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 Mei 2012
School of Life tema Manajemen Kecewa
Senin, 13 Juni 2011
[School of Life] Forgiving not Forgetting
Ahad kemarin, saya mengikuti kembali forum School of Life, suatu forum tempat semua peserta berbagi dan saling mengajari serta saling belajar dari sesamanya. Forum School of LIfe adalah salah satu implementasi prinsip "Jika semua tempat adalah sekolah, maka semua tempat adalah guru". Dalam forum-forumnya, SOL tidak mengenal pelatih atau pembicara tententu. Semua peserta adalah pembicara dan semua pembicara adalah peserta.
Salah satu peserta pernah bekerja sama dengan seorang teman untuk sesi pemotretan sebuah sekolah. Namun, teman ini sepertinya kurang menjaga amanah jadi proyek sering tertunda pembayarannya. Uang pembayaran baru diberikan sesudah ada proyek baru. Peserta tersebut mengatakan bahwa dia coba melupakan dulu peristiwanya, padahal dia belum memaafkan orang tersebut. Namun, entah kenapa setiap kali ada proyek pemotretan di sekolah, yagn teringat adalah temannya sehingga dia merasa pusing. ternyata teman yang satu ini sudah banyak terlibat kasus penipuan dalam berbagai proyek. Dia terpaksa menahan foto-foto yagn sudah dia buat karena belum menerima fee atas foto-foto Yang membuat si peserta merasa kecewa karena dia sudah melindungi si teman agar terjaga nama baiknya. Namun, si teman ini sepertinya tidak terlalu peduli. Bahkan, dia pernah dikomplain sama sebuah sekolah karena foto-fotonya belum diberikan. Dia juga sempat menjelaskan pada pihak sekolah atas kejadian dengan si teman tersebut. Akhirnya, setelah berlalunya waktu, si peserta bisa memaafkan si teman namun dia akan lebih berhati-hati dalam menerima kontrak. Hikmahnya, si peserta juga mendapat menerima kontrak proyek pemotretan dari sekolah yang semapt dia tahan foto2nya. Dia juga menceritakan bahwa seorang temannya terlibat sebuah proyek dengan teman yagn lain. Dia mengingatkan temannya untuk membuat kontrak yang jelas, namun si teman dgn naif mempercayai temannya. Sudah kenal lama, begitu alasan sang teman. Akhirnya, walau pada awlanya lancar, namun pada bulan2 selanjutnya mulai tersendat.
Seorang peserta yang lain juga menceritakan kisahnya. Dia memendam perasaan yang dalam pada teman sesama komunitas yang dia tergabung di dalamnya. Namun, teman yang sangat dicintainya ini menolaknya dan malah memusuhinya. Dia tidak habis pikir kenapa sampai dimusuhi dan merasa frustasi. Sudah dicoba untuk minta maaf dan menjalin silaturahim kembali walaupun hanya sbagai teman namun tidak membuahkan hasil. Dia pun merasa kaget saat mengetahui curhat orang itu yang terluapkan di sebuah blog di internet. Saat membaca blog itu, dia ada di luar kota, di rumah saudaranya sehingga dia sempat tidak mau pulang ke Jakarta, mau menumpang saja di rumah saudaranya tersebut.
Suatu ketika, seorang teman memberitahukan si peserta tntang orang tersebut. Profil orang tersebut di sebuah situs jejaring sosial di-hack orang. Profilnya diganti dengan hal-hal yagn tidak senonoh dan profil itu digunakan untuk komentar yang jelek-jelek. Terpaksa akun jejaring sosial tersebut di-non aktifkan. Peserta itu pun mengatakan bahwa apa yang dia rasakan kurang lebih sama dengan apa yang dirasakan orang itu saat dia dimusuhi. Namun, si peserta tidak berani memastikan apakah itu merupakan "pembalasan" atas orang itu padanya atau tidak. Si pserta pun memetik hikmah pada kemampuannya membuat tulisan-tulisan inspiratif. Sekrang ini dia sedang menulis sebuah buku bersama seorang temannya, yang semoga saja segera diterbitkan.
Berbicara tentang jejaring sosial di internet, peserta lain pun menambahkan bahwa seroang teman di sebuah jejaring sosial tidak lagi jadi temannya. Saat bertemu, dia pun berkata "Koq saya tidak menemukan profil kamu di FB saya?". Dia menggunakan bahasa positif dan santun, padahal bisa saja dia merasa reaktif dan langsung bertanya kenapa di-remove.
Peserta lain pun menceritakan bahwa dia sudah terbiasa interospeksi karena menghayati ayat 11 surat 64 dalam Al Quran yang berbunyi "Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah SWT, dan barang siapa beriman keapda Allah SWT, niscaya Allah akan memberi petunjuk pada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." . Dia pernah difitnah menggelapkan uang belasan juta namun dia tetap tenang, dan akhirnya ketahuan siapa yang sesungguhnya menggelapkan uang itu. Dia juga cerita tentang seorang teman yang pernah dianiaya habis-habisan. Bahkan pernah, maaf, hampir ditelanjangi di depan rekan-rekan kerjanya. Namun, teman si peserta itu tetap bisa bersabar dan memaafkan.
Ada juga yang sharing tentang masa kecilnya. Dia pernah belum bisa memaafkan ayahnya selama sekitar 20 tahun. Dahulu, saat masih kecil, hidupnya relatif berkecukupan. Namun, sejak ayahnya meninggalkan dia dan menjual rumah mereka serta membawa hasil penjualan rumah tersbut, hidup keluarganya menjadi miskin. Mereka terpaksa tinggal di rumah petak yang kecil serta hidup penuh kekurangan. Yang mengangumkan baginya adalah yang pertama kali memaafkan sang ayah adalah kakaknya. Padahal si kakak inilah yang paling menderita karena seringkali menjadi sasaran kemarahan ayahnya. Bahkan si kakak pernah ditendang sampai koma. Kepada si peserta si kakak pernah berkata "Gw yang paling menderita karena bapak, tapi gw bisa maafin. Kenapa lu enggak?". Akhirnya, setelah bertahun-tahun si peserta pun bisa memaafkan ayahnya. Dia berktata "Saya bisa menulis tentang kemiskinan karena peranh jadi orang miskin, saya prnah menulis tentang preman karnea pernah jadi preman, saya bisa menulis tentang anak jalanan karena pernah jadi anak jalanan". Tulisan-tulisan peserta yagn satu ini sudah dibukukan dalam beberapa buah buku yang penuh hikmah.
Dalam forum tersbut, dibahas juga bebarapa mitos yang salah tentang memaaafkan.
Mitos Memaafkan antara lain:
1. Memaafkan = Lemah
Memaafkan justru merupakan tanda kekuatan, memaafkan adalah salah satu rahasia kekuatan dan kesuksesan para orang-orang besar, baik para nabi maupun para pemimpin besar.
2. Memaafkan = Menguak luka masa lalu
Memaafkan adalah menyembuhkan luka-luka yang lalu. Termasuk juga mengambil hikmah apa yang diinginkan Allah SWT melalui peristiwa yang seringkali berat dan tidak menyenangkan.
3. Memaafkan = melupakan
Memaafkan adalah cara melepaskan beban masa lalu, walaupun peristiwa itu masih bisa diingat, namun tidak lagi membebani kehidupan kita.
4. Memaafkan = kalah
Dengan memaafkan kita tidak dikalahkan atau mengalahakn siapapun kecuali ego pribadi kita sendiri. Dengan memaafkan kita semakin bisa mengenal diri sendiri dan menggali mutiara-mutiara hikmah yang ada dalam diri kita.
Demikian sharing dari acara forum School of Life
Semoga bermanfaat
Salah satu peserta pernah bekerja sama dengan seorang teman untuk sesi pemotretan sebuah sekolah. Namun, teman ini sepertinya kurang menjaga amanah jadi proyek sering tertunda pembayarannya. Uang pembayaran baru diberikan sesudah ada proyek baru. Peserta tersebut mengatakan bahwa dia coba melupakan dulu peristiwanya, padahal dia belum memaafkan orang tersebut. Namun, entah kenapa setiap kali ada proyek pemotretan di sekolah, yagn teringat adalah temannya sehingga dia merasa pusing. ternyata teman yang satu ini sudah banyak terlibat kasus penipuan dalam berbagai proyek. Dia terpaksa menahan foto-foto yagn sudah dia buat karena belum menerima fee atas foto-foto Yang membuat si peserta merasa kecewa karena dia sudah melindungi si teman agar terjaga nama baiknya. Namun, si teman ini sepertinya tidak terlalu peduli. Bahkan, dia pernah dikomplain sama sebuah sekolah karena foto-fotonya belum diberikan. Dia juga sempat menjelaskan pada pihak sekolah atas kejadian dengan si teman tersebut. Akhirnya, setelah berlalunya waktu, si peserta bisa memaafkan si teman namun dia akan lebih berhati-hati dalam menerima kontrak. Hikmahnya, si peserta juga mendapat menerima kontrak proyek pemotretan dari sekolah yang semapt dia tahan foto2nya. Dia juga menceritakan bahwa seorang temannya terlibat sebuah proyek dengan teman yagn lain. Dia mengingatkan temannya untuk membuat kontrak yang jelas, namun si teman dgn naif mempercayai temannya. Sudah kenal lama, begitu alasan sang teman. Akhirnya, walau pada awlanya lancar, namun pada bulan2 selanjutnya mulai tersendat.
Seorang peserta yang lain juga menceritakan kisahnya. Dia memendam perasaan yang dalam pada teman sesama komunitas yang dia tergabung di dalamnya. Namun, teman yang sangat dicintainya ini menolaknya dan malah memusuhinya. Dia tidak habis pikir kenapa sampai dimusuhi dan merasa frustasi. Sudah dicoba untuk minta maaf dan menjalin silaturahim kembali walaupun hanya sbagai teman namun tidak membuahkan hasil. Dia pun merasa kaget saat mengetahui curhat orang itu yang terluapkan di sebuah blog di internet. Saat membaca blog itu, dia ada di luar kota, di rumah saudaranya sehingga dia sempat tidak mau pulang ke Jakarta, mau menumpang saja di rumah saudaranya tersebut.
Suatu ketika, seorang teman memberitahukan si peserta tntang orang tersebut. Profil orang tersebut di sebuah situs jejaring sosial di-hack orang. Profilnya diganti dengan hal-hal yagn tidak senonoh dan profil itu digunakan untuk komentar yang jelek-jelek. Terpaksa akun jejaring sosial tersebut di-non aktifkan. Peserta itu pun mengatakan bahwa apa yang dia rasakan kurang lebih sama dengan apa yang dirasakan orang itu saat dia dimusuhi. Namun, si peserta tidak berani memastikan apakah itu merupakan "pembalasan" atas orang itu padanya atau tidak. Si pserta pun memetik hikmah pada kemampuannya membuat tulisan-tulisan inspiratif. Sekrang ini dia sedang menulis sebuah buku bersama seorang temannya, yang semoga saja segera diterbitkan.
Berbicara tentang jejaring sosial di internet, peserta lain pun menambahkan bahwa seroang teman di sebuah jejaring sosial tidak lagi jadi temannya. Saat bertemu, dia pun berkata "Koq saya tidak menemukan profil kamu di FB saya?". Dia menggunakan bahasa positif dan santun, padahal bisa saja dia merasa reaktif dan langsung bertanya kenapa di-remove.
Peserta lain pun menceritakan bahwa dia sudah terbiasa interospeksi karena menghayati ayat 11 surat 64 dalam Al Quran yang berbunyi "Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah SWT, dan barang siapa beriman keapda Allah SWT, niscaya Allah akan memberi petunjuk pada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." . Dia pernah difitnah menggelapkan uang belasan juta namun dia tetap tenang, dan akhirnya ketahuan siapa yang sesungguhnya menggelapkan uang itu. Dia juga cerita tentang seorang teman yang pernah dianiaya habis-habisan. Bahkan pernah, maaf, hampir ditelanjangi di depan rekan-rekan kerjanya. Namun, teman si peserta itu tetap bisa bersabar dan memaafkan.
Ada juga yang sharing tentang masa kecilnya. Dia pernah belum bisa memaafkan ayahnya selama sekitar 20 tahun. Dahulu, saat masih kecil, hidupnya relatif berkecukupan. Namun, sejak ayahnya meninggalkan dia dan menjual rumah mereka serta membawa hasil penjualan rumah tersbut, hidup keluarganya menjadi miskin. Mereka terpaksa tinggal di rumah petak yang kecil serta hidup penuh kekurangan. Yang mengangumkan baginya adalah yang pertama kali memaafkan sang ayah adalah kakaknya. Padahal si kakak inilah yang paling menderita karena seringkali menjadi sasaran kemarahan ayahnya. Bahkan si kakak pernah ditendang sampai koma. Kepada si peserta si kakak pernah berkata "Gw yang paling menderita karena bapak, tapi gw bisa maafin. Kenapa lu enggak?". Akhirnya, setelah bertahun-tahun si peserta pun bisa memaafkan ayahnya. Dia berktata "Saya bisa menulis tentang kemiskinan karena peranh jadi orang miskin, saya prnah menulis tentang preman karnea pernah jadi preman, saya bisa menulis tentang anak jalanan karena pernah jadi anak jalanan". Tulisan-tulisan peserta yagn satu ini sudah dibukukan dalam beberapa buah buku yang penuh hikmah.
Dalam forum tersbut, dibahas juga bebarapa mitos yang salah tentang memaaafkan.
Mitos Memaafkan antara lain:
1. Memaafkan = Lemah
Memaafkan justru merupakan tanda kekuatan, memaafkan adalah salah satu rahasia kekuatan dan kesuksesan para orang-orang besar, baik para nabi maupun para pemimpin besar.
2. Memaafkan = Menguak luka masa lalu
Memaafkan adalah menyembuhkan luka-luka yang lalu. Termasuk juga mengambil hikmah apa yang diinginkan Allah SWT melalui peristiwa yang seringkali berat dan tidak menyenangkan.
3. Memaafkan = melupakan
Memaafkan adalah cara melepaskan beban masa lalu, walaupun peristiwa itu masih bisa diingat, namun tidak lagi membebani kehidupan kita.
4. Memaafkan = kalah
Dengan memaafkan kita tidak dikalahkan atau mengalahakn siapapun kecuali ego pribadi kita sendiri. Dengan memaafkan kita semakin bisa mengenal diri sendiri dan menggali mutiara-mutiara hikmah yang ada dalam diri kita.
Demikian sharing dari acara forum School of Life
Semoga bermanfaat
[Catatan Ringan] Tebet
Karena kemarin saya pergi untuk ke sekian kalinya ke daerah Tebet, maka ada sedikit catatan tentang daerah tersebut. Bagi orang yang belum pernah datang ke Tebet, mungkin bakal kebingungan saat mencari rumah seseorang di sana. Tebet adalah salah satu daerah yang ribet. Tebet Timur Dalam dengan Tebet Dalam Timur itu adalah tempat yang berbeda. Belum lagi nomor-nomor yang menandai masing-masing jalan. Daaan, terkadang nomor-nomor rumah di sana tidak berurutan.
Misalnya, Tebet Timur Dalam ada Tebet Timur Dalam I, Tebet Timur Dalam II dan sebagainya. Tebet Timur Dalam I pun masih ada nomornya seperti Tebet Timur Dalam I A, I B, I C dan lain lain. Jadi, bagi mereka yang belum terbiasa, mungkin bakal menjumpai kesulitan yang lumayan di sana. Seperti mencari jarum yang hilang di tengah gurun pasir.
Seperti yang terjadi pada saya saat itu, dari Hutan Kota sudah melewati Warung Ojolali-nya Bunda Fiera, namun kelewatan karena tidak melihat dan hanya berpatokan pada nomor rumah yang ternyata tidak berurutan tadi. Sesama peserta juga ada yang bilang tentang nomor-nomor tersebut. Walaupun sudah pernah ke sana, tetap saja pakai acara nyasar.
Tips menemukan rumah orang di Tebet
1. Jangan sungkan bertanya, baik pada satpam, penjaga warung atau orang yang ada di jalan. Kalau gak mau nanya dijamin bakal kena pepatah "Malu bertanya sesat di Jalan". Apalagi kalau sekalian beli minuman di warung, itung-itung ngasih rejeki ke orang lain.
2. Kalau bisa berbekal peta Jakarta, edisi lama juga enggak apa-apa. Di sana cukup jelas jalan-jalan di Tebet, termasuk jalan2 kecilnya.
3. Kepada yang mengundang / tuan rumah, gak ada salahnya memberi ancer-ancer tempat yang cukup populer di kalangan warga Tebet, seperti Pasar PSPT, Stasiun Tebet, Stasiun Cawang, Hutan Kota, Wartegnya Warmo dll. Restoran, masjid dan rumah makan juga bisa untuk ancer-ancer. Beritahu yang diundang ke mana setelah ancer-ancer tersbut. Jangan sungkan-sungkan nanya sama yang punya rumah di mana lokasi persisnya.
4. Siapkan pulsa secukupnya, siapa tahu perlu menelepon yang mengundang atau yang rumahnya lagi dicari.
Semoga bermanfaat
Senin, 23 Mei 2011
School of Life, “Forgiven, Not Forgotten”
| Start: | Jun 12, '11 08:30a |
| End: | Jun 12, '11 1:00p |
| Location: | RM. Ojolali Jl. Tebet Timur Dalam Raya No. 9 Kav. 81 – Jakarta 12820 Telp. 021-8290044 |
School of Life, “Forgiven, Not Forgotten”
RM. Ojolali
Jl. Tebet Timur Dalam Raya No. 9
Kav. 81 – Jakarta 12820
Telp. 021-8290044
Minggu, 12 Juni 2011, pukul 08.30 WIB s/d 12.30 WIB
Persyaratan:
1. Register ke: schooloflife_indonesia@yahoo.co.id
2. infak Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah),
Info lebih lanjut:
Gaw 082519068581
Bunda Fiera 0811855380
Bunda Danie
Kamis, 10 Maret 2011
School of Life Chapter 1 LIFE NEVER FLAT
| Start: | Apr 2, '11 09:00a |
| End: | Apr 2, '11 12:00p |
| Location: | Kediaman Ibu Devi Noviyanto, Jl. Kelapa Kuning VII Blok H3 No 1, Billymoon, Pondok Kelapa, Jakarta Timur |
LIFE IS NEVER FLAT, School of Life (SOL) 2 April 2011, lets join!
by Gaw Bayu Gawtama on Thursday, March 10, 2011 at 12:39pm
Siapa manusia di muka bumi ini yang tidak pernah punya masalah?
Siapapun pasti pernah punya masalah, baik masalah kecil, menengah maupun masalah yang seakan teramat besar sehingga membuat orang yang mengalaminya putus asa hingga kehilangan akal. Ada masalah pribadi, masalah pekerjaan, masalah rumah tangga, masalah hubungan sosial dan berbagai masalah lainnya yang secara langsung maupun tidak mengganggu perjalalan kita.
Lain orang lain cara memandang dan menghadapi masalahnya. Ada yang menyerah kalah dengan masalah yang menderanya, ada yang jatuh bangun menyelesaikan masalahnya, ada pula yang tetap tenang dan tersenyum menjalani kehidupannya meski bertubi-tubi masalah menghampirinya. Bagaimana bisa demikian berbeda? Bukankah sesungguhnya masalah itu sebuah keniscayaan? Bukankah hidup kita memang harus diuji? Benarkan setiap masalah yang datang merupakan ujian untuk menapaki kehidupan yang lebih baik?
Life is never flat, menjadi tema yang sangat pas untuk dihadirkan dalam forum School of Life (SOL) yang akan diselenggarakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu/ 2 April 2011
Waktu : Pukul 09.00 s/d 12.00 WIB
Tempat : Kediaman Ibu Devi Noviyanto
Jl. Kelapa Kuning VII Blok H3 No 1
Billymoon, Pondok Kelapa, Jakarta Timur
Lifesharer : Bayu Gawtama
Bobby Herwibowo
Ismiradanie Soetadji (Bunda Danie)
Peserta : maksimal 30 orang
Infak : Rp. 50 ribu (charge tempat & operasional)
Dibayarkan pada saat acara
Registrasi : kirim email ke schooloflife_indonesia@yahoo.co.id (paling lambat 31 maret 2011)
Informasi : 0852 190 68581 (gaw), 081389133338 (Dony Aryanto)
----------------------------------------------------------------------------------------
“Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru”
Orang bijak bilang, sering kali masalah timbul dari diri sendiri. Karenanya, sesungguhnya yang paling mengerti bagaimana menyelesaikannya, adalah si pemilik masalah itu sendiri. Namun, kadang seseorang membutukan orang lainnya untuk menyelesaikan masalahnya. Bukan untuk meminta tolong, melainkan untuk sama-sama belajar kepada orang lain, mengingat hampir setiap orang memiliki masalah yang sama, hanya waktu, bentuk, tempat, dan tingkatannya saja yang berbeda. Atas dasar itulah, School of Life diselenggarakan. Anda berminat? Bergabunglah bersama kami di sekolah yang ilmunya, guru dan kelasnya tak terbatas.
Tentang School of Life
School of Life –sekolah kehidupan- adalah sebuah program yang menawarkan kepada masyarakat ruang untuk berbagi, tempat untuk belajar dari orang lain, dan ruang yang terbuka luas tempat Anda mencurahkan segala yang selama ini terpendam. Jika selama ini Anda tak menemukan satu pun ruang dan kesempatan untuk didengarkan, School of Life-lah ruang yang kami sediakan untuk Anda.
School of Life menyajikan materi yang sangat luas, tak butuh kurikulum, modul atau pun buku panduan. Karena semuanya sudah disediakan oleh kehidupan ini, kita hanya tinggal memilih dan mencernanya saja. Sebab itu, tidak ada materi yang baku di setiap chapter –sebutan kami untuk setiap session-, para peserta lah yang menentukan materinya sesuai dengan kebutuhan mereka. Jelas karena kami yakin, para peserta sendiri yang lebih tahu kebutuhan belajar mereka.
School of Life tidak punya ruang belajar dan gedung sekolah. Sesuai dengan motto kami, “Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru”. Jadi, ruang belajar bisa dimana saja, sesuai kesepakatan peserta. Dimana peserta merasa nyaman untuk belajar bersama, disitu kita jadikan ruang belajar. Dimungkinkan selalu berubah lokasi belajarnya, dan sangat dimungkinkan untuk dibuka di banyak tempat dan daerah, termasuk di luar kota dan luar negeri.
• Sekolah yang tidak ada alumninya, sebab belajar tentang kehidupan
hanya akan berakhir bersamaan dengan saat kita mengakhiri kehidupan ini
• Semua peserta adalah guru, begitu pun semua peserta adalah muridnya
• Tidak ada gedung sekolah, ruang kelas tetap, seragam, apalagi peraturan baku
• Tidak ada kurikulum, modul, kertas kerja, dan buku panduan, karena semuanya sudah tersedia oleh kehidupan ini. Peserta cukup memersiapkan diri untuk berbagi (sharing) kepada sesama tentang pelajaran yang akan dibahas.
• Pelajaran yang didapat dari sekolah ini semuanya tentang kehidupan sehari-hari
• Tujuan dari sekolah ini; untuk hidup lebih baik
Metode belajar
• Dynamic Group
• Brainstorming and share story
• Simulation and role play
Pengelola kelas School of Life
1. Bayu Gawtama, penggagas, fasiliator, penulis buku School of Life
2. Bobby Herwibowo
3. Ismiradanie Seotadji (Bunda Danie)
School of Life
LIFE IS NEVER FLAT, School of Life (SOL) 2 April 2011, lets join!
by Gaw Bayu Gawtama on Thursday, March 10, 2011 at 12:39pm
Siapa manusia di muka bumi ini yang tidak pernah punya masalah?
Siapapun pasti pernah punya masalah, baik masalah kecil, menengah maupun masalah yang seakan teramat besar sehingga membuat orang yang mengalaminya putus asa hingga kehilangan akal. Ada masalah pribadi, masalah pekerjaan, masalah rumah tangga, masalah hubungan sosial dan berbagai masalah lainnya yang secara langsung maupun tidak mengganggu perjalalan kita.
Lain orang lain cara memandang dan menghadapi masalahnya. Ada yang menyerah kalah dengan masalah yang menderanya, ada yang jatuh bangun menyelesaikan masalahnya, ada pula yang tetap tenang dan tersenyum menjalani kehidupannya meski bertubi-tubi masalah menghampirinya. Bagaimana bisa demikian berbeda? Bukankah sesungguhnya masalah itu sebuah keniscayaan? Bukankah hidup kita memang harus diuji? Benarkan setiap masalah yang datang merupakan ujian untuk menapaki kehidupan yang lebih baik?
Life is never flat, menjadi tema yang sangat pas untuk dihadirkan dalam forum School of Life (SOL) yang akan diselenggarakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu/ 2 April 2011
Waktu : Pukul 09.00 s/d 12.00 WIB
Tempat : Kediaman Ibu Devi Noviyanto
Jl. Kelapa Kuning VII Blok H3 No 1
Billymoon, Pondok Kelapa, Jakarta Timur
Lifesharer : Bayu Gawtama
Bobby Herwibowo
Ismiradanie Soetadji (Bunda Danie)
Peserta : maksimal 30 orang
Infak : Rp. 50 ribu (charge tempat & operasional)
Dibayarkan pada saat acara
Registrasi : kirim email ke schooloflife_indonesia@yahoo.co.id (paling lambat 31 maret 2011)
Informasi : 0852 190 68581 (gaw), 081389133338 (Dony Aryanto)
----------------------------------------------------------------------------------------
“Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru”
Orang bijak bilang, sering kali masalah timbul dari diri sendiri. Karenanya, sesungguhnya yang paling mengerti bagaimana menyelesaikannya, adalah si pemilik masalah itu sendiri. Namun, kadang seseorang membutukan orang lainnya untuk menyelesaikan masalahnya. Bukan untuk meminta tolong, melainkan untuk sama-sama belajar kepada orang lain, mengingat hampir setiap orang memiliki masalah yang sama, hanya waktu, bentuk, tempat, dan tingkatannya saja yang berbeda. Atas dasar itulah, School of Life diselenggarakan. Anda berminat? Bergabunglah bersama kami di sekolah yang ilmunya, guru dan kelasnya tak terbatas.
Tentang School of Life
School of Life –sekolah kehidupan- adalah sebuah program yang menawarkan kepada masyarakat ruang untuk berbagi, tempat untuk belajar dari orang lain, dan ruang yang terbuka luas tempat Anda mencurahkan segala yang selama ini terpendam. Jika selama ini Anda tak menemukan satu pun ruang dan kesempatan untuk didengarkan, School of Life-lah ruang yang kami sediakan untuk Anda.
School of Life menyajikan materi yang sangat luas, tak butuh kurikulum, modul atau pun buku panduan. Karena semuanya sudah disediakan oleh kehidupan ini, kita hanya tinggal memilih dan mencernanya saja. Sebab itu, tidak ada materi yang baku di setiap chapter –sebutan kami untuk setiap session-, para peserta lah yang menentukan materinya sesuai dengan kebutuhan mereka. Jelas karena kami yakin, para peserta sendiri yang lebih tahu kebutuhan belajar mereka.
School of Life tidak punya ruang belajar dan gedung sekolah. Sesuai dengan motto kami, “Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru”. Jadi, ruang belajar bisa dimana saja, sesuai kesepakatan peserta. Dimana peserta merasa nyaman untuk belajar bersama, disitu kita jadikan ruang belajar. Dimungkinkan selalu berubah lokasi belajarnya, dan sangat dimungkinkan untuk dibuka di banyak tempat dan daerah, termasuk di luar kota dan luar negeri.
• Sekolah yang tidak ada alumninya, sebab belajar tentang kehidupan
hanya akan berakhir bersamaan dengan saat kita mengakhiri kehidupan ini
• Semua peserta adalah guru, begitu pun semua peserta adalah muridnya
• Tidak ada gedung sekolah, ruang kelas tetap, seragam, apalagi peraturan baku
• Tidak ada kurikulum, modul, kertas kerja, dan buku panduan, karena semuanya sudah tersedia oleh kehidupan ini. Peserta cukup memersiapkan diri untuk berbagi (sharing) kepada sesama tentang pelajaran yang akan dibahas.
• Pelajaran yang didapat dari sekolah ini semuanya tentang kehidupan sehari-hari
• Tujuan dari sekolah ini; untuk hidup lebih baik
Metode belajar
• Dynamic Group
• Brainstorming and share story
• Simulation and role play
Pengelola kelas School of Life
1. Bayu Gawtama, penggagas, fasiliator, penulis buku School of Life
2. Bobby Herwibowo
3. Ismiradanie Seotadji (Bunda Danie)
Langganan:
Postingan (Atom)