Tampilkan postingan dengan label mentalitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mentalitas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

[Sosial] Mas, uang rokoknya mana?

"Mas, uang rokoknya mana?" kata si pengirim kepada Syamsudin, si penerima paket. "Emangnya harus pakai uang rokok ya?" tanya Syamsudin dengan nada tinggi dan pandangan tajam ke arah si pengirim. "Ya, enggak sih, kalau ada boleh" kata si petugas pengirim salah tingkah. Syamsudin sendiri terlihat bimbang, di satu sisi dia tidak ingin melewatkan setiap kesempatan sedekah namun di sisi lain dia juga tidak ingin orang jadi pengemis yang suka meminta-minta, rokok lagi. Pemahaman agama Syamsudin memang cukup baik sehingga dia menganggap pemberian seperti itu tidak mendidik. Syamsudin pun hanya diam sambil terus memandangi si petugas pengirim. Petugas itu pun pergi dengan menahan kejengkelan dalam hatinya. Sambil memandangi si petugas yang hilang di belokan jalan, Syamsudin merasakan kesedihan dan kekecewaan yang dalam. Dia sedih dan kecewa terhadap mentalitas bangsanya yang seakan tidak pernah bisa berhenti dari segala macam kerusakan dan kemunafikan.

Selain bon kosong, uang rokok juga salah satu modus mencari tambahan uang yang sering dilakukan orang, terutama kalangan menengah ke bawah. Memang, ada perusahaan-perusahaan tertentu yang memperbolehkan para pegawainya menerima tips, uang rokok atau apapun namanya. Intinya, jika konsumen merasa puas dengan pelayanan yang diterima, mereka boleh saja memberi uang tips. Namun, tentu saja hal ini tidak untuk dipaksakan. Meminta tips, apalagi dengan memaksa, adalah sebuah perbuatan yang sangat buruk dinilai dari sisi etika dan profesionalisme. Dari sudut pandang agama Islam, hal itu bisa dianggap sebagai kezaliman. Konsumen yang tidak memberi uang tips memang bukan lantas berarti tidak puas atas pelayanan yang diberikan. Mungkin mereka tidak terbiasa melakukan hal tersebut atau ada sebab lain yang belum kita ketahui. Yang penting adalah mereka sudah membayar lunas kewajiban pembayaran mereka atas pelayanan yang diterima. Uang yang dibayar konsumen tersebut pada gilirannya akan menjadi gaji yang diterima para pegawai. Kebiasaan buruk tersebut juga sesungguhnya membahayakan mentalitas si pegawai sendiri. Dia akan terbiasa menganggap dirinya miskin dan serba kekurangan. Dia merasa bahwa dirinya harus senantiasa dikasihani, termasuk selalu diberi uang tambahan untuk membeli rokok. Uang tambahan itu sendiri sudah menjadi semacam candu yang tidak kalah berbahayanya dengan rokok bahkan narkotika. Kalau mentalitasnya sudah seperti ini, bagaimana mungkin manusia sepert itu akan bisa meraih kemajuan berarti di masa depan?

Meskipun tidak selalu, uang rokok memang seringkali digunakan untuk membeli rokok. Rokok memang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebagaiman dikutip dari detikHealth.com, Indonesia menempati urutan ketiga dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia setelah China dan India karena pertumbuhan jumlah perokok generasi baru di Indonesia meningkat dengan cepat. YLKI, dalam beberapa situs pemberitaan online, menyatakan bahwa 70 persen perokok berasal dari kalangan keluarga miskin. Banyak diantara mereka yang lebih memilih menggunakan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk memperbaiki gizi dan pendidikan keluarganya. Ada juga yang anaknya sampai tidak sekolah lagi. Ketika mereka ditanya kenapa tidak gunakan uang rokoknya untuk biaya sekolah si anak? banyak yang menjawab, “Lebih baik anak saya tidak sekolah dari pada saya berhenti merokok,”. Tidak mengherankan apabila uang rokok seakan menjadi semacam keharusan dalam berbagai urusan di negeri ini.

Uang rokok, uang tips, uang lelah atau apapun namanya adalah gambaran buram dari mentalitas hedonis dan materialistik dari bangsa Indonesia ini. Bangsa yang penduduknya lebih suka mengeluarkan uang untuk berfoya-foya menikmati hiburan semu hampa makna. Bangsa yang sebagian penduduknya rela mengorbankan etika bisnis dan profesionalisme demi memperoleh sedikit uang tambahan untuk memuaskan kecanduan rokoknya. Melepaskan diri dari mentalitas uang rokok ini memang tidak mudah. Perlu upaya keras, cerdas, ikhlas, sinergis, terstruktur dan sistematis dari semua pihak yang berkepentingan seperti masyarakat, para da'i dan ulama serta aparat pemerintah. Namun, kita bisa memulainya dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita. Sekecil apapun, Insya Allah harapan ke arah yang lebih baik akan selalu ada dengan izinNya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aamiin.

Semoga bermanfaat

dipersembahkan oleh distromuslim dot net

Banyak cara untuk menginspirasi banyak orang baik secara langsung atau tidak langsung.  Salah satu cara mudah untuk menginspirasi orang lain berbagi adalah dengan mengenakan kaos yang berisi tulisan atau citra insiparatif seperi Kaos Sedekah. Kaos ini berisi kata-kata motivasi untuk bersedekah dan berbagi pada sesama dengan cara yang halus dan tidak menggurui. Baik juga untuk hadiah atau souvenir bagi yang dicintai dan dikasihi.  Kaos ini dapat diperoleh di situs distromuslim dot net.

Senin, 22 Agustus 2011

[Transkrip] Mental Kepiting

Jika kita mengambil seekor kepiting dan meletakkanya dalam keranjang, maka si kepiting akan mudah keluar dari keranjang tersebut.  Namun, apabila kita mengambil puluhan kepiting dan meletakkannya dalam keranjang yang sama, maka tidak akan ada satupun yang bisa keluar. Mengapa? karena mereka akan menarik kepiting yang hendak keluar dari keranjang agar kembali ke dalam.  Jika ada kepiting lain yang hendak keluar, maka kepiting2 lain pun akan menariknya kembali.  

Begitu pula dalam kehidupan.  Ada orang yang suka menghalang-halangi orang untuk maju dan mengambil keputusan penting atau langkah besar dalam kehidupan.  Orang-orang bermental kepiting ini takut mereka tersaingi atau egonya tersakiti apabila ada orang lain yang maju.  Ciri orang bermental kepiting adalah menakut-nakuti orang - orang yang hendak mengambil keputusan penting utnuk maju.  

Salah seorang yang pernah berurusan dengan orang-orang bermental kepiting adalah pak Jamil Azzaini, sang Inspirator Sukses Mulia.  Beliau pernah diejek oleh teman sekolahnya karena bercita-cita menjadi insinyur pertanian padahal beliau dari kalangan dhuafa / miskin.  Beliau pun pernah dikatakan tidak punya bakat menulis.  Dan beliau pun pernah dianggap tidak bisa berbisnis hanya karena beliau adalah seorang beretnis Jawa.  Namun sekarang , pak Jamil Azzaini telah menjadi seorang yang bergelar insyinur pertanian.  Beliau pun telah menulis 4 buah buku dan telah memiliki bisnis sendiri.  Salah satu faktor kesuksesan beliau adalah karena beliau tidak mendengarkan dan tidak berusaha menyenangkan orang-orang bermental kepiting yang beliau temui.  

Pak Jamil pun mengajak para pendengar radio Trijaya FM untuk menghindari orang-orang bermental kepiting walaupun teman sendiri. Walau tidak harus dimusuhi namun kita harus tegas terhadap mereka.  Jika kita mengikuti mereka, mereka pun tidak mau dan enggan bertanggung jawab atas kemajuan dan kebaikan kita. Jangankan bertanggung jawab atas kebaikan kita, untuk kebaikan diri mereka sendiripun mereka enggan bertanggungjawab.  Mereka hanya ingin kita berada di dasar keranjang, bersama mereka.

Semoga bermanfaat

Inspired by acara Pitstop di Trijaya FM

Narasumber: Pak Jamil Azzaini.

Gambar hanya ilustrasi, ngambil dari situs ini