Tampilkan postingan dengan label rokok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rokok. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

[Sosial] Mas, uang rokoknya mana?

"Mas, uang rokoknya mana?" kata si pengirim kepada Syamsudin, si penerima paket. "Emangnya harus pakai uang rokok ya?" tanya Syamsudin dengan nada tinggi dan pandangan tajam ke arah si pengirim. "Ya, enggak sih, kalau ada boleh" kata si petugas pengirim salah tingkah. Syamsudin sendiri terlihat bimbang, di satu sisi dia tidak ingin melewatkan setiap kesempatan sedekah namun di sisi lain dia juga tidak ingin orang jadi pengemis yang suka meminta-minta, rokok lagi. Pemahaman agama Syamsudin memang cukup baik sehingga dia menganggap pemberian seperti itu tidak mendidik. Syamsudin pun hanya diam sambil terus memandangi si petugas pengirim. Petugas itu pun pergi dengan menahan kejengkelan dalam hatinya. Sambil memandangi si petugas yang hilang di belokan jalan, Syamsudin merasakan kesedihan dan kekecewaan yang dalam. Dia sedih dan kecewa terhadap mentalitas bangsanya yang seakan tidak pernah bisa berhenti dari segala macam kerusakan dan kemunafikan.

Selain bon kosong, uang rokok juga salah satu modus mencari tambahan uang yang sering dilakukan orang, terutama kalangan menengah ke bawah. Memang, ada perusahaan-perusahaan tertentu yang memperbolehkan para pegawainya menerima tips, uang rokok atau apapun namanya. Intinya, jika konsumen merasa puas dengan pelayanan yang diterima, mereka boleh saja memberi uang tips. Namun, tentu saja hal ini tidak untuk dipaksakan. Meminta tips, apalagi dengan memaksa, adalah sebuah perbuatan yang sangat buruk dinilai dari sisi etika dan profesionalisme. Dari sudut pandang agama Islam, hal itu bisa dianggap sebagai kezaliman. Konsumen yang tidak memberi uang tips memang bukan lantas berarti tidak puas atas pelayanan yang diberikan. Mungkin mereka tidak terbiasa melakukan hal tersebut atau ada sebab lain yang belum kita ketahui. Yang penting adalah mereka sudah membayar lunas kewajiban pembayaran mereka atas pelayanan yang diterima. Uang yang dibayar konsumen tersebut pada gilirannya akan menjadi gaji yang diterima para pegawai. Kebiasaan buruk tersebut juga sesungguhnya membahayakan mentalitas si pegawai sendiri. Dia akan terbiasa menganggap dirinya miskin dan serba kekurangan. Dia merasa bahwa dirinya harus senantiasa dikasihani, termasuk selalu diberi uang tambahan untuk membeli rokok. Uang tambahan itu sendiri sudah menjadi semacam candu yang tidak kalah berbahayanya dengan rokok bahkan narkotika. Kalau mentalitasnya sudah seperti ini, bagaimana mungkin manusia sepert itu akan bisa meraih kemajuan berarti di masa depan?

Meskipun tidak selalu, uang rokok memang seringkali digunakan untuk membeli rokok. Rokok memang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebagaiman dikutip dari detikHealth.com, Indonesia menempati urutan ketiga dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia setelah China dan India karena pertumbuhan jumlah perokok generasi baru di Indonesia meningkat dengan cepat. YLKI, dalam beberapa situs pemberitaan online, menyatakan bahwa 70 persen perokok berasal dari kalangan keluarga miskin. Banyak diantara mereka yang lebih memilih menggunakan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk memperbaiki gizi dan pendidikan keluarganya. Ada juga yang anaknya sampai tidak sekolah lagi. Ketika mereka ditanya kenapa tidak gunakan uang rokoknya untuk biaya sekolah si anak? banyak yang menjawab, “Lebih baik anak saya tidak sekolah dari pada saya berhenti merokok,”. Tidak mengherankan apabila uang rokok seakan menjadi semacam keharusan dalam berbagai urusan di negeri ini.

Uang rokok, uang tips, uang lelah atau apapun namanya adalah gambaran buram dari mentalitas hedonis dan materialistik dari bangsa Indonesia ini. Bangsa yang penduduknya lebih suka mengeluarkan uang untuk berfoya-foya menikmati hiburan semu hampa makna. Bangsa yang sebagian penduduknya rela mengorbankan etika bisnis dan profesionalisme demi memperoleh sedikit uang tambahan untuk memuaskan kecanduan rokoknya. Melepaskan diri dari mentalitas uang rokok ini memang tidak mudah. Perlu upaya keras, cerdas, ikhlas, sinergis, terstruktur dan sistematis dari semua pihak yang berkepentingan seperti masyarakat, para da'i dan ulama serta aparat pemerintah. Namun, kita bisa memulainya dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita. Sekecil apapun, Insya Allah harapan ke arah yang lebih baik akan selalu ada dengan izinNya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aamiin.

Semoga bermanfaat

dipersembahkan oleh distromuslim dot net

Banyak cara untuk menginspirasi banyak orang baik secara langsung atau tidak langsung.  Salah satu cara mudah untuk menginspirasi orang lain berbagi adalah dengan mengenakan kaos yang berisi tulisan atau citra insiparatif seperi Kaos Sedekah. Kaos ini berisi kata-kata motivasi untuk bersedekah dan berbagi pada sesama dengan cara yang halus dan tidak menggurui. Baik juga untuk hadiah atau souvenir bagi yang dicintai dan dikasihi.  Kaos ini dapat diperoleh di situs distromuslim dot net.

Kamis, 31 Mei 2012

Terapi Perokok dengan teknik Emotional Freedom Technique

Jika kita hendak menterapi klien perokok dengan metode EFT atau Emotional Freedom Technique, maka tahapanya adalah sebagai berikut:

1. Menghilangkan rasa nikmat merokok.

Tapping atau pengetukan akan memeperlancar saluran energi yang terhambat sehingga terjadi perubahan fisiologis pada diri si perokok. Rasa nikmat rokok akan berkurang bahkan bukan tidak mungkin hilang sama sekali. Rasa yang ada akan berganti dengan rasa tidak enak, mirip saat si perokok mulai mengenal rokok dan belajar merokok. Terkadang, satu putaran tapping saja bisa klien akan merasa pusing atau tidak nyaman lagi saat merokok.  Namun, terkadang perlu juga diterapi beberapa kali untuk menetralisir perasaan enak saat merokok, terutama bisa klien sudah merokok dalam waktu yang cukup lama.
 
2. Menghilangkan faktor psikologis yang menyebabkan seseorang merokok.

Kecanduan rokok biasanya merupakan puncak gunung es psikologis. Di bawah puncak tersebut terdapat banyak masalah yang rumit, yang seringkali dihindari dan diredam dengan sensasi rokok. Pada tahap ini, diperlukan kerja sama yang baik antara si perokok dengan terapisnya. Faktor-faktor pemicu kebiasaan merokok harus dituntaskan satu demi satu. Pada tahap ini, si perokok juga bisa diajari untuk melakukan terapi pada dirinya sendiri untuk lebih memantapkan hasilnya. Namun, dalam tahap ini, seorang terapis juga harus berhati-hati jangan sampai terjebak menangani kasus yang ada di luar kemampuannya. Motto "Try it on everything" tidak berlaku dalam kasus-kasus trauma yang berat yang seharusnya ditangani tenaga profesional.

3. Menghilangkan efek teman sejati (Rokok yang telah menyertai hidup pecandunya selama ini)

Banyak orang yang sudah merokok selama belasan bahkan puluhan tahun menganggap rokok sebagai teman sejatinya.  Selama seseorang masih hidup, akan selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik daripada dia di masa lalunya. Allah SWT terkadang menyempitkan atau bahkan menutup pintu rezeki dalam rangka mendidik hamba2Nya, namun Dia tidak pernah menutup pintu taubat. Pintu taubat akan terus terbuka siang dan malam untuk hamba2Nya yang pernah berdosa dan melampaui batas namun tetap tidak berputus asa dari Rahmat dan Ampunan-Nya. Maha Suci Allah SWT dari perbuatan zalim sekecil apapun.

teknisnya sebagai berikut:

1. Set Up: Kalimat set-up ini adalah kalimat yang digunakan untuk "memprogram" bawah sadar klien agar siap menjalani terapi.  Bisa berupa sugesti atau afirmasi dan bisa juga diganti dengan doa sesuai keyakinan klien.  Misalnya "Yaa Allah walaupun saya kecanduan merokok tapi saya ikhlas dengan kondisi ini dan saya pasrahkan hilangnya kecanduan merokok saya hanya padaMu".  Kalimat setup ini bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan.

2. Tune In: Merasakan sakit atau perasaan yang ingin dihilangkan.  Jika sakit fisik, rasakan seperti apa sakitnya, di mana letaknya dan berapa intensitasnya (skala 1 - 10 atau dari sakit sekali sampai tidak sakit).  Jika yang dirasakan masalah emosi, bisa dibayangkan semampu klien peristiwa atau kejadian yagn membuatnya merasa tidak nyaman secara emosional.

3. Tapping: Pengetukan titik-titik tertentu pada tubuh klien.

Berikut adalah titik-titik tersebut:

Cr = Crown,Pada titik dibagian atas kepala

EB = Eye Brow,Pada titik permulaan alis mata

SE = Side of the Eye Di atas tulang disamping mata

UE = Under the Eye 2 cm dibawah kelopak mata

UN = Under the Nose,Tepat dibawah hidung

Ch = Chin,Di antara dagu dan bagian bawah bibir

CB = Collar Bone,Di ujung tempat bertemunya tulang dada, collar bone dan tulang rusuk pertama

UA = Under the Arm,Di bawah ketiak sejajar dengan putting susu (pria) atau tepat di bagian tengah tali bra (wanita)

BN = Bellow Nipple2,5 cm di bawah putting susu (pria) atau di perbatasan antara tulang dada dan bagian bahwa payudara

IH = Inside of Hand,Di bagian dalam tangan yang berbatasan dengan telapak tangan

OH = Outside of Hand,Di bagian luar tangan yang berbatasan dengan telapak tangan

Th = Thumb, Ibu jari disamping luar bagian bawah kuku

IF = Index Finger,Jari telunjuk di samping luar bagian bawah kuku (dibagian yang menghadap ibu jari)

MF = Middle Finger, Jari tengah samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari)

RF = Ring Finger,Jari manis di samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari)

BF = Baby Finger, Di jari kelingking di samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari)

KC = Karate Chop,Di samping telapak tangan, bagian yang kita gunakan untuk mematahkan balok saat karate

GS = Gamut Spot,Di bagian antara perpanjangan tulang jari manis dan tulang jari kelingking

Beberapa TIPS yang dapat kita perhatikan sebagai berikut:

1. Lakukan EFT dengan penuh keyakinan bahwa ini merupakan doa kita kepada Allah SWT yang mudah-mudahan akan dikabulkan-Nya.

2. Lakukan setiap langkah dengan penuh kosesntrasi atau betul-betul dinikmati setiap langkah, karena hasil akhir merupakan kesusksesan dari setiap langkah yang kita lakukan dengan sukses.

3. Tetap sabar apabila kita merasa hasilnya belum sesuai dengan harapan kita, toh kalau kita benar-benar sudah mengikhlaskan dan memasrahkan persoalan kita, kita tidak akan ngotot bila hal tersebut belum berhasil.

Note: sebagai tambahan untuk artikel berkaitan dengan Hari Tanpa Tembakau yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2012 bagian pertama dan bagian kedua

Semoga bermanfaat

dipersembahkan oleh Distro Muslim dot net  

Keprihatinan Di Hari Tanpa Tembakau (1)

http://wasathon.com/gaya_hidup/read/keprihatinan_di_hari_tanpa_tembakau_1/
Tulisan dalam rangka menyambut hari tanpa tembakau yang jatuh kemarin, selamat membaca semoga bermanfaat

Jumat, 25 Maret 2011

[Healing] Emotional Freedom Technique

"The cause of all negative emotions is a disruption in the body’s energy system"

Gary Craig

EFT atau Emotional Freedom Technique adalah teknik yang ditemukan oleh Gary Craig yang merupakan penyempurnaan dan penyederhanaan teknik TFT yang digagas Roger Callahan.  EFT bekerja berdasarkan asumsi bahwa gangguan fisik dan emosi berasal dari gangguan pada sistem energi tubuh manusia.  Jika gangguan energi itu dapat diperbaiki dan aliran energi dilancarkan, maka sakit fisik dan masalah emosi dapat diringankan atau bahkan disembuhkan.  

Tubuh manusia terdiri dari materi dan energi yang saling berkaitan.  Energi kehidupan dalam tubuh manusia mengikat sel-sel agar membentuk tubuh yang sempurna dan sinergis ini seperti benang menjahit kain pada pakaian.  Dalam tubuh manusia, energi mengalir dalam saluran yang disebut meridian.  Meridian itu saling berkaitan dan membentuk sistem energi tubuh.  Gangguan emosi seperti trauma dapat menyebabkan gangguan pada sistem energi tersebut.   Aliran energi menjadi tidak lancar dan terhambat seperti saluran air yang dipenuhi sampah.  

Permasalahan fisik dan emosi seringkali bertingkat-tingkat.  Satu masalah biasanya memiliki akar emosional yang dalam dan berlapis-lapis.  Seseorang yang kecanduan rokok bisa dihilangkan rasa nikmat rokoknya dengan satu atau beberapa kali putaran EFT.  Namun, apabila masalah emosional yang menjadi akar kebiasaan buruk itu belum dituntaskan, maka orang itu bisa kembali merokok.  Demikian pula masalah-masalah fisik dan emosional lainnya.  Lebih lanjut tentang masalah kecanduan rokok, teman-teman sekalian bisa membaca jurnal yang satu ini.  

Seorang praktisi pernah menceritakan tentang seorang ibu yang jempolnya terus menerus terasa sakit. Berulang kali diterapi belum juga sembuh sehingga sang praktisi mencari sebab emosional dibalik sakit si ibu.  Ternyata, si ibu sempat bertemu mantan kekasihnya dan sempat saling bertukar SMS.  Sehingga, timbul rasa bersalah yang sangat dalam pada diri ibu itu.  Setelah diterapi agar menerima bahwa si mantan bukan miliknya lagi dan rasa bersalahnya dinetralisir, barulah jempol si ibu itu sembuh.  

Kesabaran untuk mendengarkan adalah modal utama seorang praktisi EFT.  Terkadang, sang praktisi harus mampu menangkap detil-detil tertentu yang dari suatu kejadian yang diceritakan agar dapat menyembuhkan trauma dengan efektif.  Suatu kejadian yang mungkin dianggap sepele bagi banyak orang mungkin merupakan kunci dari penyembuhan pengalaman traumatis seseorang.  Saat si penderita trauma mengalami intensitas emosi yang tinggi, saat itulah kesempatan untuk melakukan terapi.  Saat itulah, energi dari emosi terpendam mencoba mencari jalan keluar untuk dilepaskan. Bentuk pengeluraan energi itu bisa berbentuk sendawa, tangisan atau respon emosional yang lain.  Tidak perlu mendramatisir suasana, biarkan segalanya mengalir dengan wajar apa adanya.  

Teknik EFT/SEFT sendiri, secara lengkap, bisa dilihat di Blog yang satu ini

Bagi yang berminat mempelajari EFT dan teknik-teknik penyembuhan sejenis, dapat mencari di internet.  EFT adalah salah satu subjek paling populer di dunia maya ini

Beberapa situs EFT yang baik untuk dikunjungi antara lain

EFT Universe

TapIntoEFT

Logos Institute

EFT Indonesia

Manual PDF EFT dapat di-download di situs ini atau link yang ini

Semoga bermanfaat

Senin, 25 Oktober 2010

[SEFT] Tentang fatwa haram rokok dan terapi untuk menghentikan kecanduan

Repost dari Notes Facebook saya

Malam semakin larut namun kesibukan bapak-bapak anggota Linmas di bangunan itu tidak juga berhenti. Mereka asyik bermain kartu dengan diiringi musik dangdut bercampur disco yang mengajak siapapun yang mendengar untuk ikut bergoyang. Kepulan asap rokok tidak henti-hentinya memenuhi bangunan tersebut, seiring dengan kepulan uap kopi hitam yang menaburkan aroma yang khas dan familiar. orang-orang itu hendak sejenak melupakan kehidupan mereka nan berat dan sulit karena dililit kemiskinan. Bagaikan ular raksasa yang menghancurkan setiap aspek dan sendi dalam kehidupan mereka dan masih banyak lagi manusia yang kurang beruntung di negeri ini.

Begitulah kira-kira penggambaran saya pada suasana malam menjelang acara pemotongan hewan di desa Bahagia, Muara Gembong yang diselenggarakan yayasan sahabat peduli beberapa waktu yang lalu. Rokok seakan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehdupan masyarakat indonesia, terutama kalangan menengah ke bawah. Bahan perangsang itu telah lama dijadikan sebagai obat pembius yang dapat memberikan relaksasi sejenak bagi mereka. Membawa mereka sejenak ke alam mimpi dan fantasy, namun pada akhirnya mencampakkan mereka kembali tanpa ampun ke dalam dunia nyata yang kejam dan tidak berperikemanusiaan.

 

Fatwa haram merokok yang dikeluarkan sebuah ormas besar Islam sesungguhnya merupakan upaya menanggulangi masalah kronis ini. Namun, sebagaimana kita ketahui sebuah fatwa saja tidak cukup untuk menghilangkan masalah kronis yang sudah berurat dan berakar selama berpuluh tahun. Malah banyak pihak yang menentang fatwa itu, terutama dari kalangan industri rokok baik yang rumahan atau pabrikan, tradisional atau moderen.

Bahaya rokok terhadap kesehatan pribadi dan lingkungan sudah lama diketahui banyak orang. Hampir semua perokok sadar, minimal mengetahui, bahaya apa saja yang terkadung dalam batang-batang maut itu. Minimal mereka mengetahui secara general/umum. Namun, seperti yang kita saksikan sehari-hari, ujung batang-batang itu tetap menyala, sambil mengepulkan asap bagaikan hantu pembunuh yang menari-nari menunggu mangsanya jatuh dalam kebinasaan. Asap maut pembawa malaptetaka itu sesungguhnya hanya merupakan puncak gunugn es yang besar. Di bawah puncak tersebut terpendam persoalan psikologis personal dan sosial yang tidak kalah mengerikan.


Para perokok sebagian besar berasal dari golongan menengah ke bawah alias miskin. Mereka seakan bisa merelakan standar kehidupan mereka tidak juga meningkat asalkan bisa memuaskan kecanduan mereka akan rokok. Anak-anak mereka kurang gizi atau bahkan menderita gizi buruk. Pendidikan anak-anak mereka terlantar dan kesehatan anak-anak tersebut terbengkalai. Bahkan, asap rokok yang setiap hari terhisap oleh anak-anak mereka menyebabkan anak-anak itu jadi mudah sakit atau memang sudah sakit.

 

Informasi tentang rokok dan bahaya yang terkadung di dalamnya biasanya sangat minim dan terlalu umum. Bagi mereka, informasi tersebut hampir tidak ada artinya, tidak menggugah kesadaran mereka. Terkadang, mereka belum juga tergerak untuk berhenti justru pada saat tanda-tanda bahaya mulai terjadi, seperti jantung berdebar lebih keras, nafas sesak dan batuk tak kunjung henti. Baru saat semua terlambat, saat mereka harus berurusan dengan dokter dan paramedis, mereka baru ingin berhenti. Saat itu biaya yang harus mereka keluarkan sudah berlipat ganda karena sebagaimana kita ketahui kesehatan telah menjadi industri. Seakan-akan orang miskin dilarang sakit, karena sakit itu mahal. Sangat mahal.

 

Mereka juga belum mengetahui adanya berbagai terapi yang dapat digunakan untuk menanggulangi kecanduan mereka akan rokok seperti SEFT, EFT, TAT, hypnoteraphy dan sebagainya. Seakan-akan kalau sudah kecanduan rokok, seseorang telah divonis kecanduan seumur hidupnya. Memang, terapi-terapi tersebut bukan jaminan seseorang akan bisa berhenti merokok. Tekad yang kuat tetap diperlukan bagi seseorang untuk bisa berhenti dan meninggalkan kebiasaan buruk apapun.

 

Terapi penyelesaian kecanduan merokok dengan teknik SEFT biasanya memiliki tahapan2 sebagai berikut:

 

1. Menghilangkan rasa nikmat merokok.

Tapping atau pengetukan akan memeperlancar saluran energi yang terhambat sehingga terjadi perubahan fisiologis pada diri si perokok. Rasa nikmat rokok akan berkurang bahkan bukan tidak mungkin hilang dan berganti dengan rasa tidak enak, mirip saat si perokok mulai belajar merokok.

 
2. Menghilangkan faktor psikologis yang menyebabkan seseorang merokok.

Kecanduan rokok biasanya merupakan puncak gunung es psikologis. Di bawah puncak tersebut terdapat banyak masalah yang rumit, yang seringkali dihindari dan diredam dengan sensasi rokok. Pada tahap ini, diperlukan kerja sama yang baik antara si perokok dengan terapisnya. Faktor-faktor pemicu kebiasaan merokok harus dituntaskan satu demi satu.

3. Menghilangkan efek teman sejati (Rokok yang telah menyertai hidup pecandunya selama ini)

Selama seseorang masih hidup, akan selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik daripada dia di masa lalunya. Allah SWT terkadang menyempitkan atau bahkan menutup pintu rezeki dalam rangka mendidik hamba2Nya, namun Dia tidak pernah menutup pintu taubat. Pintu taubat akan terus terbuka siang dan malam untuk hamba2Nya yang pernah berdosa dan melampaui batas namun tetap tidak berputus asa dari Rahmat dan Ampunan-Nya. Maha Suci Allah SWT dari perbuatan zalim sekecil apapun.

Harapan saya, makin banyak praktisi SEFT dan terapi2 yang lain yang bersedia untuk membantu sesama untuk berhenti merokok atau kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya. Bukankah manusia yang paling baik adalah manusia yang banyak manfaatnya bagi sesama, baik kualitas maupun kuantitasnya.


More Information, please visit

Logos Institute 

Kamis, 12 November 2009

BERANI BERHENTI MEROKOK SAAT INI JUGA dengan SEFT

Start:     Nov 22, '09 09:00a
End:     Nov 22, '09 3:00p
Location:     Hotel Harris, Tebet, Jakarta Selatan
LoGOS institute menyelenggarakan one day workshop yang mengambil tema "BERANI BERHENTI MEROKOK SAAT INI JUGA dengan SEFT" yang akan di selenggarakan pada :

Hari/Tanggal : Minggu, 22 November 2009
Pukul : 09.00 - 15.00 WIB
Tempat : Hotel Harris
Jl. Dr.Sahardjo no.191 Tebet
(Dalam Konfirmasi)
Pembicara : Assosiate Trainer LoGOS institute
1. Eko Nugroho
2. Danny Hernowo
3. Endy Fatah Joesoef
4. Tari Agustini
5. Sugeng Hariyanto

Investasi : Rp. 300.000,-
Early Bird Rp. 200.000,-
untuk 50 orang pertama

Informasi dan pendaftaran :

Dina Serly (021 9545 6326) atau
LoGOS Office 021 8660 5151

Kamis, 29 Januari 2009

Tapping pressure points to address all ailments | The Jakarta Post

http://www.thejakartapost.com/news/2009/01/27/tapping-pressure-points-address-all-ailments.html
Berita tentang Bakti Sosial Pengobatan Berhenti Merokok dan Pengobatan Umum berhasil dilaksanakan SEFT Center Bintaro & Logos Institute.

Baksos ini di Lapangan Kecamatan Pondok Aren pada Minggu 18 Januari 2009. Acara ini dalam rangka HUT Tangerang yang dihadiri juga oleh Fuad Baradja - aktifis Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok yang turut melihat dari dekat jalannya pengobatan ini.

Di sana saya juga ketemu Pak Ilyas http://mia4457.multiply.com/

Semoga bermanfaat

More photos, please visit:

http://gerakanstopmerokok.multiply.com/photos/album/5/Foto-Foto_Bakti_Sosial_Berhenti_Merokok

Selasa, 20 Januari 2009

[KOPDAR] Baksos SEFT di Lapangan Pondok Aren Bintaro - Berhenti merokok

Hari Ahad tgl 17 Januari 2009, atas undangan Bapak Ilyas Ahkab , saya pergi ke Lapangan Kecamatan Pondok Aren, Bintaro.  di sana SEFT Center Bintaro dan Logos Institute sedanga mengadakan baksos bagi orang-orang yang mau berhenti merokok.  terus terang, saya sampai pergi jauh-jauh ke Bintaro karena ingin melihat sendiri orang-orang yang bisa segera berhenti merokok setelah diterapi dengan teknik SEFT tersebut.  

Ternyata terapi berhenti merokok dengan SEFT bukan omong kosong belaka!

Diantara para peserta terapi, ada ibu2 penjaga warung yang sudah lama merokok. Setelah diterapi akhirnya dia mau berhenti merokok, pahit katanya.

seorang SPG yang jaga stand salah satu produk sponsor juga diterapi.  Pada mulanya si mbak ini menolak namun karena dipaksa Pak Fuad Baradja, artis yang juga aktifis Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok dia mau juga.  

Setelah diterapi beberapa kali, si mbak yang pakai baju biru muda ini diminta merokok kembali.  Namun dia mengeluh pusing, sehingga berhenti merokok.

Pak Fuad juga menceritakan bahwa di Indonesia ini masalah rokok sudah sangat parah

Buktinya , klinik berhenti merokok yang ada di beberapa instansi , walaupun gratis , nyaris tidak pernah ada pasiennya .

Sementara di Singapura , klinik berhenti merokok bayar 35 dolar singapura per sesi , yang datang antri . Mengapa ? ya itu tadi , karena tidak ada sesuatu yang memotivasi seseorang untuk berhenti merokok .

DI Singapura , Rokok harganya mahal sekali (harga rokok putih umumnya berkisar antara 80 - 100 ribu !! sementara Gudang Garam dijual dengan harga 6-8 ribu !).

Di Singapura orang tidak bebas merokok seperti umumnya disini .

Bagi yang melanggar dendanya juga sangat tinggi , dan ini diterapkan tanpa pandang bulu .

Di Singapura pula , orang merokok dipandang hina dan dilecehkan .

Ini terbukti dengan diberikannya ruang untuk merokok di tempat tempat yang terbuka dan mudah dilihat orang sehingga orang yang merokok merasa seperti pesakitan yang dihinakan .

Itulah hal hal yang membuat orang singapura termotivasi untuk berhenti merokok meskipun harus membayar mahal .

Disini ? alih alih termotivasi untuk berhenti , malah sebaliknya , mereka termotivasi untuk tetap merokok karena selalu dicitrakan keren , cool , macho , modern dan dinamis oleh iklan iklan rokok yang nyaris tanpa kendali .

Cerita pak Fuad dikutip dari sini

Masih banyak lagi peserta yang berhasil menghentikan kebiasaannya merokok dengan bantuan terapi ini.  Seorang wartawan The Jakarta Post yang turut meliput kegiatan tersebut bercerita pada saya bahwa ada seorang penjaga warung yang dia tanya perasaannya.  Bapak itu merasa senang dan wajahnya cerah.  dia bisa berhemat karena sudah tidak merokok lagi.   
Sayang masih banyak yang belum mengenal terapi ini.  bahkan mungkin mengira bahwa terapi ini melibatkan makhluk halus atau Jin. 

Seperti beberapa reply di blog yang ini

Beberapa tokoh agama Islam sudah menyatakan persetujuan mereka terhadap teknik SEFT ini, antara lain Ustadz Didin Hafiduddin dan AA Gym.  Ustadz Didin juga hadir pada acara Terapi Henti Merokok di Gedung Menpora yang bekerja sama dengan BAZNAS.

Mer-C juga pernah mengadakan pelatihan SEFT ini untuk korban tsunami di Aceh.  berirtanya bisa dibaca di situs ini 

 Atau merasa skeptis atau menganggap terapi ini sebagai Pseudoscience karena terapi ini tidak melibatkan unsur-unsur medis atau bahan-bahan kimia/obat.  

Semoga di masa depan tidak ada lagi yang curiga berlebihan terhadap SEFT ini.  

Foto-foto kegiatan tersebut bisa dilihat di album yang ini dan album yang ini