Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2012

Tweet Para Ustadz




apa yang dikatakan para ustadz di Twitter, berikut sebagian screen capture-nya semoga bermanfaat

Senin, 26 Desember 2011

Kapitalisme dan Ritual Hampa Makna

Terlepas dari pro dan kontra mengucapkan selamat hari raya suatu agama oleh penganut keyakinan berbeda, hari-hari raya itu sendiri sudah banyak yang kehilangan makna.   Generasi muda, apalagi yang disebut generasi digital, lebih mementingkan kepentinga ego pribadi dan kepuasan sesaat dibandingkan hal-hal yagn bersifat spiritual keagamaan.  Mereka banyak yang menganggap bahwa libur di hari-hari raya keagamaan adalah kesempatan untuk bersenang-senang dan lepas dari beban tanggung jawab di sekolah atau kuliah.  Ada yang mengisi libur dengan bermain games online berjam-jam di warnet, ada yang jalan-jalan dan seabrek kegiatan lainnya yang fun namun hampa makna dan minim manfaat.  

Peradaban sekuler materialistik telah mereduksi ritual-ritual agama menjadi perayaan hampa makna.  Semua diarahkan untuk belanja yang bersifat konsumtif.  Berbagai macam potongan harga ditawarkan sehingga para konsumen pun seakan sulit untuk mengendalikan diri untuk tidak terlalu banyak belanja.  Semua itu demi terus bergeraknya Mesin ideologis bernama kapitalisme. Menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, para penerbit buku berlomba menerbitkan buku tentang Islam.  Buku-buku agama Islam pun didiskon sekian persen dan sekian persen.  Saat menjelang Natal, giliran buku-buku agama Kristen yang didiskon.  Pemasaran ala kapitalis memang labil dan cenderung mengikuti trend yang berlaku saat itu.  Hari-hari raya keagamaan pun akhirnya tereduksi menjadi trend untuk merancang strategi pemasaran dan melariskan dagangan sebanyak mungkin. 

Dalam situs Voa Islam, terdapat sebuah artikel tentang para karyawan muslim yang merasa keberatan mengenakan atribut suatu agama yang hari rayanya akan segera dirayakan.  Mereka mengadu pada suatu organisasi massa Islam yang langsung mengeluarkan fatwa haram untuk mengenakan atribut tersebut.  Entah fatwa itu didengar dan diperhatikan atau tidak, yang kita lihat di toko-toko masih banyak mengenakan atribut-atribut tersebut.  Entah mereka muslim atau bukan, terpaksa atau suka rela, kita tidak tahu. 

Memang, tidak ada larangan tegas bagi kaum muslimin untuk bekerja pada orang-orang non muslim.  Namun, terkadang timbul konflik antara keyakinan spiritual seseorang dengan peraturan di tempat dia bekerja.  Sebagai contoh, sebuah restoran memiliki kebijakan para pelayannya harus melayani tamu saat jam makan siang, termasuk pada hari Jumat. Padahal karyawan yang muslim wajib untuk sholat Jumat.  Atau jika ada pekerjaan yang mengharuskan seseorang masuk ke "wilayah abu-abu" yang tidak jelas halal-haramnya, terutama dalam hal finansial/keuangan.  Mungkin, karyawan non muslim pun ada yang keberatan apabila harus mengenakan atribut khas muslim seperti peci, baju koko atau sarung (walaupun bukan bagian dari syariat Islam) saat menjelang hari raya Idul Fitri misalnya.  Namun, demi keuntungan material yang hendak diperoleh, semua itu tidak lagi dianggap penting. 

Toleransi memang terkadang terlalu jauh menyentuh aspek-aspek aqidah / keyakinan terdalam dalam kepercayaan seseorang.  Mungkin manusiawi, namun jangan sampai hal itu membuat seseorang harus tertekan hati nuraninya.  Jika berkelanjutan, maka toleransi yang dipaksakan seperti itu bisa menimbulkan depresi dan perasaan bersalah yang mendalam dan sangat menyiksa batin orang-oerang yang masih berusaha memegang teguh keyakinan agamanya. 

Masalah tersebut seharusnya menjadi cambuk bagi kaum muslimin untuk lebih giat lagi membangun kemandirian di bidang ekonomi.  Kaum musimin harus ada yang berani berhijrah dari orang gajian, dalam istilah Pak Valentino Dinsi, menjadi orang-orang yang mampu menggaji saudara-saudaranya yang masih ingin memegang teguh agamanya.  Seorang pengusaha muslim yang baik dan memengang teguh keyakinannya Insya Allah akan berusaha menerapkan Islam semaksimal mungkin di perusahaan yang dia pimpin.  Sholat berjamaah dan ibadah sunnah seperti Sholat Duha akan bisa ditradisikan di dalam perusahaan tersebut.  Yang lebih penting lagi bagi kaum muslimin adalah mengembalikan kembali nilai nilai kesucian dan spiritual yang hilang dari hari-hari raya mereka.  Agar tidak lagi menjadi sekedar ritual hampa makna. 

Semoga bermanfaat, mohon maaf bagi yang kurang berkenan

Senin, 16 Mei 2011

[Renungan] Ikhlas = BAB?

Entah siapa yang memulai, namun kita sering mendengar bahwa perumpamaan ikhlas adalah seperti, maaf, BAB.  Sesudah dikeluarkan, tidak perlu lagi dilihat atau dipikirkan.  Mungkin itulah sebabnya banyak diantara kita yang amalnya sperti orang kebelet untuk ke belakang.  Seperti sholat, saat salam terakhir diucapkan dan kepala ditengokkan ke kiri, saat itu timbul perasaan lega yang luar biasa. Alhamdulillah, sudah selesai.  Itu pun terkadang dikerjakan di menit-menit terakhir, sekitar 30 menit sebelum waktu sholat yang bersangkutan berakhir dan masuk waktu sholat yang baru. Puasa pun demikian, yang penting tidak makan, minum atau berhubungan intim di siang hari.  Sesudah adzan Maghrib berkumandang, rasa lega pun datang, kewajiban sudah tertunaikan.  Sambil menghela nafas panjang, kita pun seperti terlepas dari beban yang sangat berat.  

Paradigma ikhlas yang seperti itu membuat kita beramal dan beribadah secara asal-asalan.  Ibadah ritual tidak kita perhatikan aspek rukun dan sunnahnya.  Sementara amal sholeh kita kerjakan seenak hati kita.   Mirip dengan Qabil, anak nabi Adam yang durhaka.  Dia mempersembahkan qurbannya dengan tanam-tanaman yang sudah membusuk dan tidak layak dimakan.  Pada akhirnya, bukan hanya kepada Allah kita durhaka namun juga kepada sesama manusia dan alam sekitar kita.  Betapa banyak orang yagn seharusnya mendapat manfaat dari amal-amal yang kita lakukan dengan baik, namun kita lakukan dengan asal-asalan.  Kita pun kehilangan kesempatan meraih kebaikan dari orang lain, baik dalam bentuk balasan pertolongan atau doa-doa yang tulus.  

Kalau kita merujuk kepada penjelasan Ibnul Qayyim tentang syarat diterimanya amal, maka sudah semestinya kita memikirkan ulang paradigma ikhlas tadi.  Ibnul Qayyim, mengatakan bahwa amalan itu dikerjakan karena:

1. Ada kecintaan kepada Allah ta'ala.  
2. Ada rasa takut karena azabNya yang Maha Pedih
3. Ada rasa harap, agar amal itu diterima Allah (lebih kita kenal, dengan konsep khauf dan roja).

Maka, ikhlas sesungguhnya adalah seperti kita mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada orang yang kita cintai, raja yang kita hormati atau kepada majikan yg mempekerjakan kita.  Allah SWT adalah Raja, Kekasih sekaligus Majikan kita dalam kehidupan di dunia ini.  Apakah kita rela dan tega mempersembahkan sesuatu yang seharusnya kita buang ke belakang kepada kekasih kita? Apakah kita berani memberikan sesuatu yang serupa dengan yang kitapun jijik melihatnya kepada Raja atau Penguasa yang kita hormati dan takuti? Apakah layak kita menjual sesuatu yang merupakan limbah dari tubuh kita sendiri kepada pembeli barang dagangan yang kita jual?

Al Quran sendiri mengumpamakan Ikhlas seperti susu yang mengalir di antara kotoran dan darah dalam tubuh sapi.  Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS 16 : 66)".  Mungkin kita bisa membayangkan kita berada di sebuah restoran untuk memesan segelas susu murni.  Betapa gusarnya kita apabila saat disuguhi susu murni yang kita pesan, ternyata ada kotoran dan darah di dalamnya.  Bisa jadi kita marah dan komplain kepada pelayan restoran tersebut, atau bahkan kita tidak pernah lagi memesan susu di sana.  Bisa jadi, susu sebelanga yang ada dalam hati kita telah ternodai kotoran dan darah sehingga tidak layak lagi untuk dijual dan dikonsumsi.  Padahal pahala hasil amal sholeh kita, yang dianalogikan sebagai susu itulah bekal kita di akhirat nanti.  Betapa meruginya kita apabila ternyata bekal kita sudah tidak berharga lagi saat perhitungan akhir dilaksanakan di sana.   "... Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu...." (QS. Az Zumar: 65).
 
Seorang sufi mencari penghidupannya dengan menenun kain.  Suatu saat, di pasar, seorang pembeli yang sangat ahli tentang kain mendatanginya.  Sang pembeli menunjukkan kekurangan-kekurangan yang ada pada kain tersebut.  Sang sufi terkejut dan menangis.  "Mengapa anda menangis" tanya si pembeli "Aku akan tetap membeli kain ini".  Sang sufi menjawab "Ketahuilah saudaraku, bukan kain ini yang kutangisi.  Namun, aku takut akan ibadah dan amalanku selama ini. Jika engkau saja bisa mengetahui kekurangan hasil kerja dan amalku, apalagi Dia yang Maha Mengetahui". Hari Moekti, seorang mantan rocker yang sekarang menjadi dai pernah berkata: "Orang yang ikhlas itu tidak takut kaya dan tidak takut miskin. Tidak takut terkenal dan tidak takut tidak terkenal. Saya sering dihina dengan pilihan saya, tetapi saya berbahagia, karena dengan dihina dosa saya terhapus". Pernyataan Kang Hari itu dikutip dari buku Menjadi Pemenang Kehidupan terbitan Leutika Publisher.

Ikhlas adalah rahasia terdalam antara hamba pelaku dengan Allah SWT. Malaikat pencatat dan setan penggoda pun tidak mengetahui tingkat keikhlasan kita.  Bahkan, Allah SWT lebih mengetahui keikhlasan kita dibandingkan diri kita sendiri.  Ikhlas adalah proses belajar yang panjang, bahkan mungkin merupakan pelajaran tersulit dan terberat dari segala pelajaran yang harus kita lalui dalam kehidupan.  Belajar untuk ikhlas adalah dengan beramal itu sendiri, beramal dengan sebaik-baiknya tanpa mengharap apapun dari manusia.  Kita memohon kepada Allah agar bisa beribadah dengan ikhlas untuk-Nya semata, sebagaimana doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam: "... Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat." (QS. al An'aam: 77).

Related links

Ringkasan buku Ikhlas Syarat diterimanya Ibadah

Inginkah anda menjadi orang yang ikhlas

ikhlas itu, ibarat buang air besar (maaf)?