Tampilkan postingan dengan label kapitalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kapitalisme. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2012

Era blog gratis di internet, akankah berakhir?

Multiply telah mengambil langkah untuk menghapus blog-blog para user-nya yang bukan online seller. Mereka akan memfokuskan kegiatan online mereka 100 persen kepada e-commerce. Tidak akan ada lagi para blogger di sana, untuk selama-lamanya. Sangat disayangkan memang karena komunitas penulis blog di Multiply di Indonesia, yang seringkali disebut MPers, telah menghasilkan komunitas yang solid yang disebut Komunitas Multiply Indonesia.

Langkah situs multiply.com itu mengindikasikan kemungkinan berakhirnya era gratisan di internet. Selama ini, banyak pengguna internat yang lebih suka menggunakan fitur-fitur gratisan seperti e-mail, blog, jejaring sosial dan lain sebagainya. Terutama di Indonesia, masih relatif jarang orang yang rela berinvestasi untuk membayar domain dan hosting sendiri. JIka ada yang gratis, kenapa harus bayar? mungkin begitu yang ada di benak banyak orang Indonesia. Namun kini, semua sudah berubah. Ruang server makin sempit dan biaya pemeliharaan server pun makin mahal. Maklum, yang namanya server kan sama dengan komputer yang biasa kita pakai, makan energi juga. Dan harga energi makin lama makin mahal karena ekses dari kapitalisme global. Jadi tidak mengherankan apabila hal-hal gratisan di internet makin lama makin berkurang.

Langkah multiply juga bukan tidak mungkin diikuti oleh blog engine atau blog platfor yang lain. Memang saat ini kita masih bisa menggunakan beberapa blog engine gratis seperti blogger.com, wordpress.com, xanga.com atau yang lainnya. Bahkan, notes facebook pun bisa dipakai jika memang tidak ada atau tidak ingin pindah blog ke tempat lain. Namun, blog-blog gratisan itu pun mungkin bakalannya berakhir juga. Bukan tidak mungkin suatu saat mereka bakal minta bayaran pada para bloggernya yang sudah nitip tulisan2nya di sana dengan gratis.

Kini, bagi mereka yang masih suka menuliskan catatan harian dan ide-idenya melalui blog, harus mempertimbangkan untuk berinvestasi membuat blog di situs yang berbayar. Mau tidak mau, ada post pengeluaran tambahan untuk tetap bisa eksis nge-blog di internet. Dengan adanya pengeluaran tersebut, seorang blogger mau tidak mau harus memastikan postingannya bermanfaat untuk sesama, bukan sekedar curhatan egois semata. Syukur-syukur kalau bisa dikasih iklan, kan biaya hosting bisa tertutupi, minimal sebagian.

Jika situs kopiradix.multiply.com ini beneran tamat riwayatnya, teman2 bisa mampir ke blog saya yang lain, yaitu nahar2710.blogspot.com dan sebagian tulisan saya bisa dibaca di situs wasathon.com

Semoga bermanfaat, mohon maaf lahir batin yang sebesar-besarnya jika selama berinteraksi di MP ini ada hal-hal yang kurang berkenan di hati teman-teman MPers sekalian. 

Senin, 19 Maret 2012

Bahaya Budaya Konsumtif

http://wasathon.com/gaya_hidup/read/bahaya_budaya_konsumtif/
Seberapapun pendapatan yang kita punya, kalau hidup konsumtif yang kita terapkan, semua gaji kita punya tetap tidak mencukupi. Mengikuti handphne merek terbaru, baju-baju keluaran terbaru, sepatu, artistic rumah,atau apapun yang sedang digembar-gemborkan oleh kaum pemilik modal yang dapat menyihir mata.


Kita mungkin masih ingat peristiwa tahun lalu (25/11), ribuan massa mengatre untuk pembelian telepon seluar Blackberry seri terbaru dengan potongan harga tertinggi di Lobi Utara Pasific Place, SCBD, Jakarta Selatan. Massa rela mengantre dengan iming-iming harga murah, sehingga terjadilah aksi berdesak-desakan, aksi dorong-mendorong yang mengakibatkan beberapa orang pingsan, dan satu pengunjung menderita patah tulang (Republika.co.id)

selanjutnya sila ke link di atas :)

Senin, 26 Desember 2011

Kapitalisme dan Ritual Hampa Makna

Terlepas dari pro dan kontra mengucapkan selamat hari raya suatu agama oleh penganut keyakinan berbeda, hari-hari raya itu sendiri sudah banyak yang kehilangan makna.   Generasi muda, apalagi yang disebut generasi digital, lebih mementingkan kepentinga ego pribadi dan kepuasan sesaat dibandingkan hal-hal yagn bersifat spiritual keagamaan.  Mereka banyak yang menganggap bahwa libur di hari-hari raya keagamaan adalah kesempatan untuk bersenang-senang dan lepas dari beban tanggung jawab di sekolah atau kuliah.  Ada yang mengisi libur dengan bermain games online berjam-jam di warnet, ada yang jalan-jalan dan seabrek kegiatan lainnya yang fun namun hampa makna dan minim manfaat.  

Peradaban sekuler materialistik telah mereduksi ritual-ritual agama menjadi perayaan hampa makna.  Semua diarahkan untuk belanja yang bersifat konsumtif.  Berbagai macam potongan harga ditawarkan sehingga para konsumen pun seakan sulit untuk mengendalikan diri untuk tidak terlalu banyak belanja.  Semua itu demi terus bergeraknya Mesin ideologis bernama kapitalisme. Menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, para penerbit buku berlomba menerbitkan buku tentang Islam.  Buku-buku agama Islam pun didiskon sekian persen dan sekian persen.  Saat menjelang Natal, giliran buku-buku agama Kristen yang didiskon.  Pemasaran ala kapitalis memang labil dan cenderung mengikuti trend yang berlaku saat itu.  Hari-hari raya keagamaan pun akhirnya tereduksi menjadi trend untuk merancang strategi pemasaran dan melariskan dagangan sebanyak mungkin. 

Dalam situs Voa Islam, terdapat sebuah artikel tentang para karyawan muslim yang merasa keberatan mengenakan atribut suatu agama yang hari rayanya akan segera dirayakan.  Mereka mengadu pada suatu organisasi massa Islam yang langsung mengeluarkan fatwa haram untuk mengenakan atribut tersebut.  Entah fatwa itu didengar dan diperhatikan atau tidak, yang kita lihat di toko-toko masih banyak mengenakan atribut-atribut tersebut.  Entah mereka muslim atau bukan, terpaksa atau suka rela, kita tidak tahu. 

Memang, tidak ada larangan tegas bagi kaum muslimin untuk bekerja pada orang-orang non muslim.  Namun, terkadang timbul konflik antara keyakinan spiritual seseorang dengan peraturan di tempat dia bekerja.  Sebagai contoh, sebuah restoran memiliki kebijakan para pelayannya harus melayani tamu saat jam makan siang, termasuk pada hari Jumat. Padahal karyawan yang muslim wajib untuk sholat Jumat.  Atau jika ada pekerjaan yang mengharuskan seseorang masuk ke "wilayah abu-abu" yang tidak jelas halal-haramnya, terutama dalam hal finansial/keuangan.  Mungkin, karyawan non muslim pun ada yang keberatan apabila harus mengenakan atribut khas muslim seperti peci, baju koko atau sarung (walaupun bukan bagian dari syariat Islam) saat menjelang hari raya Idul Fitri misalnya.  Namun, demi keuntungan material yang hendak diperoleh, semua itu tidak lagi dianggap penting. 

Toleransi memang terkadang terlalu jauh menyentuh aspek-aspek aqidah / keyakinan terdalam dalam kepercayaan seseorang.  Mungkin manusiawi, namun jangan sampai hal itu membuat seseorang harus tertekan hati nuraninya.  Jika berkelanjutan, maka toleransi yang dipaksakan seperti itu bisa menimbulkan depresi dan perasaan bersalah yang mendalam dan sangat menyiksa batin orang-oerang yang masih berusaha memegang teguh keyakinan agamanya. 

Masalah tersebut seharusnya menjadi cambuk bagi kaum muslimin untuk lebih giat lagi membangun kemandirian di bidang ekonomi.  Kaum musimin harus ada yang berani berhijrah dari orang gajian, dalam istilah Pak Valentino Dinsi, menjadi orang-orang yang mampu menggaji saudara-saudaranya yang masih ingin memegang teguh agamanya.  Seorang pengusaha muslim yang baik dan memengang teguh keyakinannya Insya Allah akan berusaha menerapkan Islam semaksimal mungkin di perusahaan yang dia pimpin.  Sholat berjamaah dan ibadah sunnah seperti Sholat Duha akan bisa ditradisikan di dalam perusahaan tersebut.  Yang lebih penting lagi bagi kaum muslimin adalah mengembalikan kembali nilai nilai kesucian dan spiritual yang hilang dari hari-hari raya mereka.  Agar tidak lagi menjadi sekedar ritual hampa makna. 

Semoga bermanfaat, mohon maaf bagi yang kurang berkenan

Sabtu, 17 Desember 2011

[Sosial] Dilema Superblok Ibu Kota

Suatu ketika saat berada di sebuah perkampungan padat, saya melihat beberapa selebaran yagn ditempel di tembok.  Selebaran itu  berisi fotokopi artikel tentang sebuah Mega Proyek pembangunan sentra bisnis terpadu yang sedang dikerjakan di dekat perkampungan tersebut.  Selain artikel, selebaran itu juga berisi ajakan agar warga yang tanahnya akan dijual menahan harga, jangan sampai dilepas dengan harga terlalu murah.  Pihak penyebar selebaran itu mungkin merasa prihatin dengan ketidakmampuan masyarakat mengakses informasi sehingga tidak mengetahui berapa sebenarnya nilai proyek yang akan dibangun di tanah mereka.  

Mega Proyek itu sangat luar biasa, terdiri dari gedung dan aparement serta sarana-saran penunjang lainnya.  Proyek itu bertujuan memadukan tempat tinggal, tempat kerja dan kegiatan bisnis serta rekreatsi keluarga dalam satu kawasan. Sehingga, para penghuninya akan terhindar dari kemacetan Ibu Kota yang sampai hari ini belum juga teratasi.  Sehingga, banyak waktu yang bisa dihemat dan efisiensi kerja serta bisnis bisa ditingkatkan.  Di situs Vivanew.com dapat kita temukan sebuah artikel yang mengulas profil para pengembang superblock seperti proyek itu.

Namun, tentu saja kita tahu siapa saja yang bisa membeli apartement di sana.  Tentu bukan pegawai-pegawai rendahan yang gajinya pas-pasan, yang untuk hidup sehari-hari masih kerepotan. Kalau bukan level manager ke atas ya orang asing.  Merekalah yang mampu secara finansial menikmati semua fasilitas tersebut demi kenyamanan dan gaya hidupnya. Rakyat kecil yang miskin mungkin hanya bisa berjalan - jalan di sekitar kompleks tersebut tanpa bisa menikmati lebih banyak lagi.

Jika informasi yang ada di selebaran itu benar, maka ganti rugi yang diterima masyarakat tidak seimbang dengan nilai mega proyek yang sedang dikerjakan.  Selebaran itu sepertinya dibuat oleh mereka yang peduli dan prihatin akan besarnya ganti rugi yang diterima masyarakat.  Artikel yang disertakan dalam selebaran itu digunakan untuk memberi informasi agar masyarakat sadar siapakah sesungguhnya yang hendak membeli tanah yang mereka tempati.  Sehingga, mereka menyadari hak mereka untuk mendapat ganti rugi yang layak.  Jangan sampai sesudah mereka rela melepaskan tempat tinggal mereka, ternyata mereka tidak bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak.  Sudah merupakan rahasia umum bahwa penggusuran seringkali melibatkan banyak kepentingan, mulai dari pengusaha, penguasa, pekerja sampai penduduk yang tanahnya digusur.  Sehingga, persoalan penggusuran menjadi salah satu masalah sosial paling kompleks di negeri ini. 

Satu hal yang seringkali terlupakan adalah bahwa orang-orang miskin juga manusia.  Mereka berhak mendapat tempat tinggal yang layak dan berhak pula mendapat kesempatan untuk hidup layak.  Mereka juga perlu makan, pakaian dan tempat tinggal yang layak.  Seharusnya, tidak boleh ada manusia yang tinggal di tempat yagn tidak layak ditempati sperti emperan toko, jembatan penyebarangan atau kolong jembatan.  Rumah-rumah kumuh yang terletak di gang-gang sempit pun seharusnya tidak ada.  Degnan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, baik dalam bentuk bahan tambang atau hasil pertanian, rakyat Indonesia seharusnya tidak ada yang miskin.  "This country shouldn't be poor" begitu kata John Perkins dalam film dokumenter The New Rulers.

Modal utama untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia adalah adanya kemauan dan keberanian.  HS Dillon pernah mengatakan "Untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia, kita tidak perlu mengemis hutang kepada IMF atau memerlukan bantuan dari lembaga asing.Jika 10% orang terkaya di Indonesia memberikan 20% penghasilannya (bukan harta atau asetnya) maka tidak ada lagi orang miskin di Indonesia pada tahun itu."  (H.S. Dillon, KOMPAS; Selasa, 17 Oktober 2006).  Sehingga, asalkan penduduk negeri ini, terutama yang kaya, tidak begitu serakah, maka kemiskinan akan dengan mudah teratasi.  Minimal kaum miskin bisa bertahan hidup dan bisa memenuhi kebututan hidup mereka yang paling mendasar. 

Namun sayang, peradaban kita sekarang ini adalah peradaban yang memanjakan yang kaya serta menindas yang miskin.  Peradaban yang mengedepankan ego, kepentingan duniawi serta kekayaan materi.  Bukan agama, spiritualitas dan kepedulian pada sesama, terutama mereka yang membutuhkan.  Sehingga, mimpi mewujudkan peradaban yang peduli, beradab dalam lindungan keridhoan Allah subhawataala masih jauh dari kenyataan. 

Semgoa bermanfaat


Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana
Demi serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Di depan masjid
Samping rumah wakil pak lurah
Tempat dulu kami bermain
Mengisi cerahnya hari

Namun sebentar lagi
Angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi
Dan tak kan pernah kembali

Ujung Aspal Pondok Gede - Iwan Fals

Jumat, 10 Juni 2011

[Opini] Hormat Bendera setengah hati

Penghormatan terhadap bendera sudah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan sudah terlaksana selama beberapa dekade.  Upacara tersebut diadakan dalam rangka menanamkan kecintaan pada negera dan bangsa pada pesertanya, mulai dari anak -anak sekolah sampai pegawai negeri.  Diharapkan, kecintaan pada negera dan bangsa akan terefleksikan pada kehidupan sehari hari, baik di level personal, interpersonal, sosial maupun profesional.  

Namun, entah kenapa sepertinya upacara-upacara yang seringkali diselenggarakan itu hanya sedikit berdampak pada kehidupan masyarakat, kalau tidak mau dikatakan tak bermanfaat.  Prestasi murid sekolah banyak yang buruk, sementara rasa tanggung jawab banyak pelajar seakan tidak terbentuk.  Silakan berkunjung ke warnet terdekat yang ada game online-nya, perhatikanlah tingkah laku dan bahasa yang digunakan anak-anak di sana.  Nama-nama penghuni kebun binatang mungkin tidak ada yang luput untuk diabsen, dengan intonasi yang keras dan kasar.  Mulut memang seperit moncong  teko, apa yang ada di dalam hatinya, itula yang akan keluar dari mulutnya.  Para pegawai banyak yang kinerjanya tidak memuaskan bahkan tidak sedikit yang  terlibat kasus korupsi.  Baik korupsi uang atau korupsi waktu.  Empati dan kepedulian seakan barang langka yang sulit dicari, dilibas nafsu ingin membangun geudng baru atua beli pesawat pribadi.  Sementara itu, kekayaan negeri ini bagaikan hidangan di atas meja makan yang diperebutkan korporasi-korporasi serakah yang berusaha mengeruk keuntungan dengan bahan baku melimpah dan tenaga kerja murah.  Sebagian fakta itu ditunjukkan oleh John Pilgers dalam film dokumenternya, The New Rulers.  

Walaupun demikian, pengkultusan terhadap simbol-simbol tetap saja terus dilakukan walaupun seakan "gak ngefek" pada kinerja dan prestasi baik akademis maupun profesional.  Upacara-upacara penghormatan bendara, yang terkadang diikuti setengah hati oleh para pesertanya, tetap saja diselenggarakan.  Dahulu, saat masih duduk di bangku SMP, saya termasuk yang seringkali berharap agar Sabtu sore hujan turun, agar tidak ada upacara bendera di lapangan yang diselenggarakan setiap Sabtu sore.

Maka, ketika ada sekolah yang enggan menyelenggarakan penghormatan terhadap bendera, para birokrat pun seperti kebakaran jenggot.  Bahkan ada yang bilang bahwa penghormatan terhadap bendera adalah kewajiban bagi siapapun yang tinggal di tanah ini, meminum airnya, menghirup udaranya dan makan dari hasil buminya.  namun, sepertinya Pak Pajabat yang satu ini lupa bahwa di negeri yang salah urus ini, banyak rakyat yang kelaparan dan terjerat kemiskinan.  Bahkan, di situs kompas, diberitakan seorang pemulung ditemukan meninggal dunia karena kelaparan.  Beberapa waktu sebelumnya, seorang tukang becak ditemukan meninggal di becaknya juga karena kelaparan.  Mereka yang melihat tadinya mengira si tukang becak tidur karena kelelahan, padahal memang sudah tak bernyawa.  Apakah mereka meninggal karena tidak menghormati bendera hingga tidak berhak makanan makanan hasil bumi negeri ini atau memang tidak kebagian, kita tahu jawabannya.

Apalah artinya penghormatan pada simbol-simbol negera kalau negaranya bak Neraka bagi rakyatnya yang sudah apatis dan tak bisa berbuat apa-apa.  Apalah artinya penghormatan pada bendera apabila hak-hak rakyat untuk memperoleh kehidupan yang layak tidak dihormati.  Apalah artinya mencintai bangsa dan negara, apabila negera itu sendiri bagaikan ayah yang zalim atau ibu tiri yang kejam untuk anak-anak bangsanya sendiri.  Jangan salahkan rakyat apabila hanya mencintai bangsa dan negara secara setengah hati karena memang pengurus negaranya banyak yang memperlakukan rakyat setengah hati pula.    

Simbol tinggallah simbol, sesuatu yagn indah terlihat dari luar, agung dan gagah terlihat oleh orang lain.  Namun, apabila esensinya hanya dihayati setengah hati, maka simbol akan menjadi sesuatu yang mati.  Monumen kematian sebuah bangsa yang tidak menghargai rakyatnya sendiri.  Negeri yang bahkan membiarkan sbagian dari mereka mati perlahan-lahan di tengah kekayaan alam yang luar biasa melimpah. Bagai ayam mati di lumbung padi.