Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2012

Ketika Hubungan terlanjur Retak

Interaksi antar manusia biasanya memang lebih diwarnai emosi daripada logika. Kekuatan "rasa" terkadang lebih dalam dan dominan daripada kekuatan pikiran. Sehingga, interaksi antar manusia tidak selalu dirasakan nyaman oleh kedua belah pihak, bahkan seringkali keadaan menjadi tegang, melelahkan dan menyakitkan.

Banyak sekali penyebab kerusakan hubungan yang semuanya membuat orang tidak nyaman secara emosional. Janji yang tidak ditepati, amanah yang tidak ditunaikan atau kurang sempurna, keputusan yang diambil mendadak dan lain sebagainya. Apapun yang membuat orang merasa tidak nyaman secara emosional berpotensi merusak hubungan.

Dengan rentannya sebuah hubungan menjadi rusak, maka apakah yang harus dilakukan seseorang apabila hubungannya dengan orang tertentu, seperti pasangan hidup (suami/istri), anak, orang tua, rekan kerja dan lain sebagainya? Apakah cukup hanya dengan meminta maaf? terkadang iya, namun seringkali tidak. Perasaan yang terluka dan ego yang mendominasi seringkali menghalangi orang untuk memperbaiki suatu hubungan.

Jarang kita menyadari betapa rapuhnya emosi itu. Betapa rentannya emosi menjadi liar tak terkendali bagai api yang melahap hutan atau perumahan atau malah membeku bagai padang es yang dingin menggigit.

Note: Berhubung MP mau ditutup ya nulisnya singkat2 ajah

Rabu, 29 Februari 2012

Kritik Atas Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM

http://wasathon.com/humaniora/read/kritik_atas_program_studi_agama_dan_lintas_budaya_ugm___/
Perlu diketahui, Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religious and Cross-cultural Studies atau CRCS) adalah program S-2 (pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogjakarta, yang didirikan pada tahun 2000. Tiga wilayah studi yang menjadi fokus pengajaran dan penelitian di CRCS adalah hubungan antaragama, agama dan budaya local, serta agama dan isu-isu kontemporer.

selanjutnya, silaka klik link di atas :)

Senin, 26 Desember 2011

Kapitalisme dan Ritual Hampa Makna

Terlepas dari pro dan kontra mengucapkan selamat hari raya suatu agama oleh penganut keyakinan berbeda, hari-hari raya itu sendiri sudah banyak yang kehilangan makna.   Generasi muda, apalagi yang disebut generasi digital, lebih mementingkan kepentinga ego pribadi dan kepuasan sesaat dibandingkan hal-hal yagn bersifat spiritual keagamaan.  Mereka banyak yang menganggap bahwa libur di hari-hari raya keagamaan adalah kesempatan untuk bersenang-senang dan lepas dari beban tanggung jawab di sekolah atau kuliah.  Ada yang mengisi libur dengan bermain games online berjam-jam di warnet, ada yang jalan-jalan dan seabrek kegiatan lainnya yang fun namun hampa makna dan minim manfaat.  

Peradaban sekuler materialistik telah mereduksi ritual-ritual agama menjadi perayaan hampa makna.  Semua diarahkan untuk belanja yang bersifat konsumtif.  Berbagai macam potongan harga ditawarkan sehingga para konsumen pun seakan sulit untuk mengendalikan diri untuk tidak terlalu banyak belanja.  Semua itu demi terus bergeraknya Mesin ideologis bernama kapitalisme. Menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, para penerbit buku berlomba menerbitkan buku tentang Islam.  Buku-buku agama Islam pun didiskon sekian persen dan sekian persen.  Saat menjelang Natal, giliran buku-buku agama Kristen yang didiskon.  Pemasaran ala kapitalis memang labil dan cenderung mengikuti trend yang berlaku saat itu.  Hari-hari raya keagamaan pun akhirnya tereduksi menjadi trend untuk merancang strategi pemasaran dan melariskan dagangan sebanyak mungkin. 

Dalam situs Voa Islam, terdapat sebuah artikel tentang para karyawan muslim yang merasa keberatan mengenakan atribut suatu agama yang hari rayanya akan segera dirayakan.  Mereka mengadu pada suatu organisasi massa Islam yang langsung mengeluarkan fatwa haram untuk mengenakan atribut tersebut.  Entah fatwa itu didengar dan diperhatikan atau tidak, yang kita lihat di toko-toko masih banyak mengenakan atribut-atribut tersebut.  Entah mereka muslim atau bukan, terpaksa atau suka rela, kita tidak tahu. 

Memang, tidak ada larangan tegas bagi kaum muslimin untuk bekerja pada orang-orang non muslim.  Namun, terkadang timbul konflik antara keyakinan spiritual seseorang dengan peraturan di tempat dia bekerja.  Sebagai contoh, sebuah restoran memiliki kebijakan para pelayannya harus melayani tamu saat jam makan siang, termasuk pada hari Jumat. Padahal karyawan yang muslim wajib untuk sholat Jumat.  Atau jika ada pekerjaan yang mengharuskan seseorang masuk ke "wilayah abu-abu" yang tidak jelas halal-haramnya, terutama dalam hal finansial/keuangan.  Mungkin, karyawan non muslim pun ada yang keberatan apabila harus mengenakan atribut khas muslim seperti peci, baju koko atau sarung (walaupun bukan bagian dari syariat Islam) saat menjelang hari raya Idul Fitri misalnya.  Namun, demi keuntungan material yang hendak diperoleh, semua itu tidak lagi dianggap penting. 

Toleransi memang terkadang terlalu jauh menyentuh aspek-aspek aqidah / keyakinan terdalam dalam kepercayaan seseorang.  Mungkin manusiawi, namun jangan sampai hal itu membuat seseorang harus tertekan hati nuraninya.  Jika berkelanjutan, maka toleransi yang dipaksakan seperti itu bisa menimbulkan depresi dan perasaan bersalah yang mendalam dan sangat menyiksa batin orang-oerang yang masih berusaha memegang teguh keyakinan agamanya. 

Masalah tersebut seharusnya menjadi cambuk bagi kaum muslimin untuk lebih giat lagi membangun kemandirian di bidang ekonomi.  Kaum musimin harus ada yang berani berhijrah dari orang gajian, dalam istilah Pak Valentino Dinsi, menjadi orang-orang yang mampu menggaji saudara-saudaranya yang masih ingin memegang teguh agamanya.  Seorang pengusaha muslim yang baik dan memengang teguh keyakinannya Insya Allah akan berusaha menerapkan Islam semaksimal mungkin di perusahaan yang dia pimpin.  Sholat berjamaah dan ibadah sunnah seperti Sholat Duha akan bisa ditradisikan di dalam perusahaan tersebut.  Yang lebih penting lagi bagi kaum muslimin adalah mengembalikan kembali nilai nilai kesucian dan spiritual yang hilang dari hari-hari raya mereka.  Agar tidak lagi menjadi sekedar ritual hampa makna. 

Semoga bermanfaat, mohon maaf bagi yang kurang berkenan

Selasa, 25 Oktober 2011

Sukses Penuh Keberkahan

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Danu Kuswara
"Pancinglah kebaikan dengan melakukan kebaikan" demikian pesan yang dituliskan oleh Kang Danu saat menandatangani buku tulisannya milik saya. Memang, yang namanya kebaikan hanya akan datang pada mereka yang suka berbuat baik. Ibarat memancing, harus ada umpan yang diberikan. Dan umpan untuk memancing datangnya kebaikan harus pula berupa kebaikan, tidak bisa yang lain. Seperti lyric dalam salah satu lagu yang ada dalam film musikal Sound of Music "Nothing comes from nothing, nothing ever could. But somewhere in my youth or childhood, I must have done something good".

Buku ini diberi judul Sukses Penuh Keberkahan. Terkadang ada orang yang sukses luar biasa, berhasil menggapai semua atau sebagian besar keinginannya, kaya raya luar biasa namun keberkahan seakan menguap habis tak bersisa. HIudp senantiasa dirundung kemalangan dan kekecewaan, penuh ketakutan dan kekhawatiran. Kesuksesan yang diraih ternyata tidak memberikan ketentraman dan kebahagiaan, bagai meminum air laut yang asin, diminum malah semakin haus. Harta melimpah dan ketenaran gemerlap hanya menambah beratnya kehampaan dalam hati. Sebaliknya, ada juga orang-orang yang hidupnya berkah dan tenang, namun relatif jauh dari kesuksesan. Walaupun berkah, namun posisi dan jumlah penghasilan yang diinginkan seakan sulit untuk dicapai. Penghasilan bulanan yang diperoleh terus menerus habis tanpa sisa sehingga sulit untuk menabung dan menyisihkan penghasilan. Sehingga, sulit bagi orang-orang seperti itu untuk dikatakan orang sukses. Masalahnya kini adalah, apakah kesuksesan dan keberkahan akan selamanya terpisahkan oleh dinding pemisah yang tebal dan kukuh? Apakah mungkin kedua hal yang sepintas terlihat saling bertentangan itu bisa berjalan beriringan dalam keharmonisan yang indah? Tentu saja, dengan izin dan perkenan Allah SWT, hal itu bisa diwujudkan. Salah satu caranya adalah dengan mempelajari dan menyelami keteladan dan hikmah yang ada dalam buku ini.

Di dalam buku ini, selain ada beberapa kiat sukses yang dapat dipraktekkan dalam kehidupan, juga ada kisah beberapa pribadi inspiratif yang menggugah nurani dan layak untuk diteladani. Sukses, apalagi yang disertainya keberkahan, tidak saja bisa diraih dengan kiat-kiat tertentu. Bagi sebagian orang, kiat-kita itu justru malah membingungkan dan menghambat perjalanan mereka menuju sukses. Manusia seringkali lebih banyak menyerap pelajaran melalui kisah-kisah teladan yang menggugah. Betapa banyak orang yang telah berbuat banyak bagi sesama manusia walaupun harus memeras keringat dan menempun perjuangan yang berat. Mereka, dengan perkecualian Morinho sang pelatih sepak bola, bukanlah orang-orang dari kalangan selebritis atau orang-orang terkenal yang sering muncul di televisi atau media. Mereka justru berasal dari kalangan menengah ke bawah yang bergelut dengan kehidupan sehari-hari. Namun, kisah mereka tidak kalah menggugah daripada yang seringkali kita saksikan di layar perak atau layar kaca.

Salah satu tulisan yang spesial bagi saya adalah kisah Mak Eroh. Mak Eroh adalah seorang perempuan tua yang semangat dan kekuatannya jauh lebih kuat daripada banyak orang-orang muda. Selama dua tahun, beliau berjuang keras melubangi bukit agar air dapat mengalir mengairi sawah. Walaupun dianggap gila, beliau tidak menyerah. Saya sendiri pernah menyaksikan tentang beliau di TVRI di rumah nenek saya bertahun-tahun yang lalu. Memang, sejak kecil saya selalu tertarik pada hal-hal yang berhubungan dengan air, sehingga perjuangan mak Eroh sangat menarik bagi saya. Walaupun tentu saja saya tidak terlalu mengerti karena saat itu masih sangat kecil. Beliung dan palu yang diayunkan mak Eroh tentu lebih membawa manfaat dan keberkahan daripada hal hal sensasional hampa makna yang banyak disajikan di internet, televisi maupun panggung-panggung hiburan. Kisah seorang kepala sekolah yang harus merangkap sebagai pemulung dan seorang suster yang harus menyebarangi pulau demi pulau untuk membantu mereka yang melahirkan juga tak kalah menggugah dan mengharukan. Pendek kata, buku yang berisi materi-materi siaran yang pernah dibawakan Kang Danu di Bahana 101.4 FM dan RRI Pro 2 FM sangat layak untuk disimak. Insya Allah akan ada pencerahan-pencerahan yang akan menjadi tambahan motivasi dan peningkatan spiritualitas dalam diri kita.

Berhubung buku ini tidak dipasarkan melalui toko-toko buku, untuk rekan-rekan yang berminat bisa langsung menuju FB Kang Danu atau Fan Page buku ini di Facebook.

Semoga bermanfaat

Senin, 27 Juni 2011

Jalan Kehidupan | Menelusuri Jalan untuk Meraih Ridha dan Kasih-Nya

http://jalmilaip.wordpress.com/
Blog ini khusus menyajikan tanya jawab tentang berbagai masalah agama dan keberagamaan kita. Jawaban diberikan oleh para pakar di bidangnya. Sajian konsultasi agama ini saya kumpulkan dari kliping beberapa media cetak yang dari pada tercecer lebih baik saya share di sini.

Para ulama yang menjawab berbagai pertanyaan umat ini antara lain :

Ustadz Bachtiar Nasir, Lc
Prof. Dr. Didin Hafidhuddin
Prof. Dr. Miftah Faridl
Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Prof. Dr. Tutty Alawiyah AS
Prof. Dr. KH Achmad Satori Ismail
HM Cholil Nafis, Ph.D
Drs. H. Agus Syihabudin, MA., MBA
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc
Ustadz Imron Rosyadi, Lc
KH Hilman Rosyad Syihab, Lc
KH A. Cholil Ridwan, Lc
KH. M. Shiddiq Al-Jawi, S.Si., MSI
Dr HM Taufik Q Hulaimi, MA, M.Ed.
Ahmad Gozali
Prof. Dr. M. Amin Suma, SH, MA
Erma Pawitasari, M.Ed.
Ust Hafidz Abdurrahman, MA
dll

Jawaban-jawabannya belum tentu memuaskan kita, tapi sekurang-kurangnya akan menambah sedikit wawasan tentang agama dan keberagamaan kita. Oleh karena itu, tanggapan dan tambahan informasi dari Anda akan sangat bermanfaat dan sangat saya harapkan. Untuk itu, terima kasih banyak.

Mari kita menelusuri Jalan Kehidupan ini untuk meraih ridha dan kasih-Nya.

Salam,

Padumukan, 28 Maret 2011 / 23 Rabi’ul Akhir 1432 | 16:17

Kamis, 11 November 2010

[Renungan] Bencana dan Interaksi Energi

Nikola Tesla noted: "A single ray of light from a distant star falling upon the eye of a tyrant in bygone times may have altered the course of his life, may have changed the destiny of nations, may have transformed the surface of the globe, so intricate, so inconceivably complex are the processes in Nature."

Nicola Tesla



Beragam pendapat tentang bencana mewarnai hari-hari kita belakangan ini.  Mulai dari pendapat yang mengatasnamakan agama dengan mengutip dalil-dalil kitab suci sampai yang materialistik murni.  Ada pihak yang mengatatakan bahwa Tuhan menghukum manusia karena dosa-dosa mereka dengan adanya baencana-bencana ini.  Ada pula yang berpendapat bahwa semua ini hanyalah kebetulan semata. Tidak ada hubungan sama sekali dengan dosa dan kesalahan manusia.  Sebagaimana banyak orang, terutama yang tak bertuhan, yang berpendapat bahwa alam semesta ini terjadi secara kebetulan.  Jarang sekali ada orang yang menyadari adanya interaksi energi di dalam kehidupan.  Manusia pada umumnya menganggap dirinya sebagai entitats yang terpisah dari alam dan manusia lainnya.  Erich Fromm menyebut fenomena tersebut sebagi keterasingan atau "alienation".  Secara materi, manusia memang terpisah dari lingkungannya, namun sebagai entitas energi dia tidak terpisahkan sama sekali.  Manusia adalah bagian dari energi yang saling berinteraksi dalam bentuk vibrasi atau getaran. SEbagaimana energi alam mempengaruhi manusia, manusia pun mampu mempengaruhi energi alam melalui semua perbuatan tangannya.

 

Manusia telah mengubah wajah dunia sedemikian rupa selama ratusan bahkan ribuan tahun. Bangunan - bangunan megah dan besar didirikan di berbagai tempat di muka bumi ini.  Sebagian bangunan itu hanya diperuntukkan bagi kesenangan dan kebanggaan semata.  Mulai dari istana megah tempat tinggal para penguasa zalim, piramida raksasa yang hanya digunakan untuk menguburkan jasad sang Firaun sampai dengan Mall-mall megah di kota besar.  Semua itu adalah perangkap energi yang menyebabkan vibrasi energi menjadi terhambat.  Bumi yang semakin tua semakin dibebani beban yang makin berat.

 

Sementara itu, banyak gunung-gunung yang diledakkan dan diambil batu-batunya untuk dibuat jalan dan bangunan. Saat saya dan beberapa teman relawan berkunjung ke suatu daerah miskin yg terletak tidak jauh dari jakarta, seorang relawan lokal bercerita tentang keadaan gunung-gunung di sana.  Kata relawan lokal tersebut kira-kira lima tahun lagi gunung - gunung itu akan habis karena terus menerus diambil bebatuannya. Padahal, gunung-gunung adalah pasak-pasak yang menopang permukaan bumi hingga bisa stabil dan nyaman untuk ditinggali makhluk hidup.  Wajah bumi pun semakin lama sekamakin berubah, jauh dari saat dia pertama kali diciptakan.  Dan perubahan pada wajah bumi itu tentu mempengaruhi keseimbangan energinya hingga makin rentan terhadap bencana alam.  Mungkin, sekali lagi mungkin, rumah tempat tinggal kita berdiri di atas batu-batu gunung tadi.  Batu-batu yang seharusnya tetap menjadi penopang bagi keseimbangan materi dan energi bumi tercinta ini.

 
Setiap kali manusia berbuat kebaikan, maka kebaikan itu akan terseimpan dalam bentuk energi positif. Apabila perbuatan yang dilakukan sebaliknya, maka dia pun akan tersimpan dalam bentuk energi negatif.  Kedua macam energi itu bisa mencair dan kembali pada pemiliknya.  Energi positif dalam bentuk 4TA (harta, tahta, kata dan cinta) dan energi negatif dalam bentuk bencana dan kemalangan. Kita tidak tahu pasti apa sajakah yang pernah terjadi di wilayah bencana tersebut.  Bisa jadi banyak orang yang menabung energi negatif karena menzalimi sesama dan alam semesta.   Sehingga, atas izin Allah SWT, terjadilah pencairan banyak energi negatif sekaligus dalam bentuk bencana.  Kita tentu telah mengetahui bahwa kezaliman telah terjadi hampir di seluruh tempat di muka bumi ini. Ditambah lagi dengan ketidakpedulian orang pada sesama manusia.  Mereka yang berbuat maksiat, zalim dan jahat dibiarkan saja, yang penting tidak mengganggu saya.

Sesungguhnya, dalam setiap kemaksiatan akan selalu ada pihak yang terzalimi.  Ada orang tua yang prihatin pada anak-anaknya kecanduan narkotika atau minuman keras yang dijual bebas.  Ada guru atau pendidik yang kesulitan mendidik dan mengajar anak didiknya karena mereka enggan belajar.   Ada istri yang suaminya  berselingkuh atau lebih suka jajan di tempat-tempat pelacuran dan sebagainya.  Semua itu membuat pencairan energi negatif bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.  Mulai dari kecelakaan kecil yang hanya menyebabkan sedikit korban terluka hingga bencana masif yang melenan ratusan atau bahkan ribuan korban jiwa.  Sehingga, pesan Ebiet dalam lagunya sangat penting untuk kita simak dan ambil hikmahnya ".. yang terbaik hanyalah, segeralah bersujud mumpung kita masih diberi waktu .... "

Allah SWT tidak ingin kita mengeluh dan merintih namun Dia ingin agar kita memaksimalkan apapun yang dianugerahkan kepada kita agar kita bangkit dan berprestasi. Semua yang menjadi kehendakNya adalah pendidikan bagi kita semua. Sebagimana kata Rabb menurunkan kata-kata Tarbiyah atau pendidikan, Murabbi atau pendidik dan Mutarabbi atau peserta didik.  Akal memang tidak selalu bisa mencari penyebab dari semua ini, karena akal yang menuntut untuk dipuaskan adalah akal yang diperbudak ego dan hawa nafsu. Akal yang sehat adalah akal yang selalu mencari hikmah di balik setiap peristiwa dan memanfaatkan peristiwa2 itu demi kebaikan sesama dan pengembangan diri yang optimal.  Akal yang diterangi cahaya nurani yang jernih bersumber dari hati yang selalu berbaik sangka atau khusnudzon kepadaNya.

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al Baqarah:32)

Semoga bermanfaat

Senin, 16 Agustus 2010

Ceramah Singkat

http://ceramahsingkat.blogspot.com/
ada yang diminta kultum atau mengisi pengajian, silahkan cari bahan di situs tersebut. semoga bermanfaat

Kamis, 21 Januari 2010

INSISTS Official Site - Downloads

http://insistnet.com/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=32&Itemid=45
Pluralisme Agama yang dibahas dalam buku ini didasarkan pada satu asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga – karena kerelativannya – maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya lebih benar atau lebih baik dari agama lain; atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar. Bahkan, menurut Charles Kimball, salah satu ciri agama jahat (evil) adalah agama yang memiliki klaim kebenaran mutlak (absolute truth claim) atas agamanya sendiri. Selengkapnya silahkan download, for free. Syukran.