apa yang dikatakan para ustadz di Twitter, berikut sebagian screen capture-nya semoga bermanfaat
Tampilkan postingan dengan label ustadz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ustadz. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 April 2012
Jumat, 30 Maret 2012
[Kultwit] Ustadz by Herry Nurdi
1. Saya kenal seorang ustadz, orangnya tawadhu, dermawan, rendah hati & pengasih. Tapi sifat2 itu juga dimiliki oleh ustadz2 yg lain #ustadz
2. Ada satu sifat & amalannya, yg belum saya temui dilakukan oleh para #ustadz yg pernah saya kenal, ttg perhatiannya pd individu
3. Kalau beliau diundang ceramah bada isya, seringkali jam 8 pagi beliau sudah datang ke tempat acara, awalnya saya heran sama #ustadz ini
4. Jadi praktis, sehari beliau hanya mengajar dan berceramah satu kali. bahkan sering di audience yg sama #ustadz mengajar tiga hari penuh
5. Yang beliau lakukan ketika datang pagi, #ustadz menyambangi rumah2 dan sarapan bersama penduduk desa fan berinteraksi intens sekali
6. Jika diperkampungan dan pedesaan, bahkan #ustadz turun ke bendang/sawah dan membantu penduduk yg sedang mengolahnya
7. Saat siang, atau petang, #ustadz juga bermain bersama anak2 kampung, bahkan ngajari mereka permainan tradisional yg lama dilupakan
8. Bersama ibu-ibu #ustadz juga berinteraksi, bincang dan mencari tahu, apa yg menjadi perbincangan sehari-hari, sederhana saja
9. Jadi, selepas isya saat harus memberi taushiyah #ustadz kurang lebih sudah mengetahui apa keperluan dan apa yg perlu disampaikan, fokus
10. #ustadz tidak bicara muluk tentang teori dunia, demokrasi, atau bahkan ttg fiqih yg njlimet, beliau simple, memberi panduan hidup
11. Sedih sekali krn beliau sdh tidak ada kini. semakin sedih saat melihat #ustadz yg buru2 meninggalkan mad'u dgn alasan sdh ada acara lain
12. Bimbingan mereka masih diperlukan, tapi para #ustadz sudah tidak punya waktu utk mendampingi dan memberikan panduan
13. Tambah sedih ketika mengalami sendiri mengundang #ustadz dikirim surat perjanjian MoU perlengkapan dan syarat mengundang
14. Minta jus alpukat, bisa dinalar. Minta honor, masih bisa dipahami. Tp #ustadz menentukan tarif, standar sound dll beyond my imagination
sumber: twitter ustadz Herry Nurdi
2. Ada satu sifat & amalannya, yg belum saya temui dilakukan oleh para #ustadz yg pernah saya kenal, ttg perhatiannya pd individu
3. Kalau beliau diundang ceramah bada isya, seringkali jam 8 pagi beliau sudah datang ke tempat acara, awalnya saya heran sama #ustadz ini
4. Jadi praktis, sehari beliau hanya mengajar dan berceramah satu kali. bahkan sering di audience yg sama #ustadz mengajar tiga hari penuh
5. Yang beliau lakukan ketika datang pagi, #ustadz menyambangi rumah2 dan sarapan bersama penduduk desa fan berinteraksi intens sekali
6. Jika diperkampungan dan pedesaan, bahkan #ustadz turun ke bendang/sawah dan membantu penduduk yg sedang mengolahnya
7. Saat siang, atau petang, #ustadz juga bermain bersama anak2 kampung, bahkan ngajari mereka permainan tradisional yg lama dilupakan
8. Bersama ibu-ibu #ustadz juga berinteraksi, bincang dan mencari tahu, apa yg menjadi perbincangan sehari-hari, sederhana saja
9. Jadi, selepas isya saat harus memberi taushiyah #ustadz kurang lebih sudah mengetahui apa keperluan dan apa yg perlu disampaikan, fokus
10. #ustadz tidak bicara muluk tentang teori dunia, demokrasi, atau bahkan ttg fiqih yg njlimet, beliau simple, memberi panduan hidup
11. Sedih sekali krn beliau sdh tidak ada kini. semakin sedih saat melihat #ustadz yg buru2 meninggalkan mad'u dgn alasan sdh ada acara lain
12. Bimbingan mereka masih diperlukan, tapi para #ustadz sudah tidak punya waktu utk mendampingi dan memberikan panduan
13. Tambah sedih ketika mengalami sendiri mengundang #ustadz dikirim surat perjanjian MoU perlengkapan dan syarat mengundang
14. Minta jus alpukat, bisa dinalar. Minta honor, masih bisa dipahami. Tp #ustadz menentukan tarif, standar sound dll beyond my imagination
sumber: twitter ustadz Herry Nurdi
Label:
islam,
kasihsayang,
kesederhanaan,
kultwit,
sosial,
ustadz
Rabu, 28 Maret 2012
[Copy Paste] SULITNYA MENEGAKKAN SYARIAT ISLAM DI INDONESIA
Note: ini bukan tulisan saya, tapi copy paste dari Facebook Ustadz Ahmad Sarwat Lc, selamat membaca semoga bermanfaat
SULITNYA MENEGAKKAN SYARIAT ISLAM DI INDONESIA
Umat Islam di Indonesia sudah sejak lama memimpikan tegaknya syariat dan hukum Islam. Bahkan salah satu motivasi kenapa banyak pahlawan gugur di medan perang dalam masa perjuangan fisik di masa lalu, tidak lain tujuannya agar bisa tegaknya syariat Islam.
Ketika sudah merdeka pun, putera-puteri Islam tetap memperjuangkan tegaknya syariat Islam lewat parlemen. Bergantian bentuk-bentuk upaya penegakan syariat itu terus diperjuangkan.
Namun sampai hari ini, sudah lewat enampuluh tahun kita merdeka, ternyata syariat Islam masih belum tegak di negeri kita seperti yang dicita-citakan oleh para ulama dan pendahulu kita di masa lalu.
Pandangan Kalangan Anti Syariah
Kalau dihitung-hitung, sebenarnya yang menjadi penghalang utama kenapa syariat Islam tidak bisa lantas tegak di negeri kita bukan siapa-siapa. Ternyata justru faktor penolakan dari umat Islam sendiri.
Tegaknya syariat Islam malah berhadapan dengan sebagian besar umat Islam. Justru mereka itulah yang dengan sangat gigih berada pada posisi menentang dan sangat anti dengan syariah Islam.
Pokoknya apa pun yang berbau istilah syariah, langsung diveto dan diberi kartu merah, termasuk nasib perda-perda yang dianggap bernuansa syariah di masa sekarang.
Padahal sebenarnya sadar atau tidak sadar, kita sudah menjalankan syariat Islam, bahkan saudara-saudara kita yang 'anti' syariah, tanpa sadar mereka sudah menjalankan syariah Islam.
Buktinya ke mana-mana mereka pakai baju dan celana. Seandainya mereka anti syariah Islam, maka ke mana-mana mereka pasti telanjang bulat, persis kambing dan kerbau.
Buktinya mereka menikah dengan sah, meski sering sinis dengan penegakan syariah. Kalau mereka tidak menjalankan syariah Islam, pastilah mereka tidak menikah tapi kumpul kerbau dan jadi pelanggan rumah bordil.
Buktinya mereka mereka ikut puasa di bulan Ramadhan, meski tetap sinis dengan syariah Islam. Kalau mereka tidak menjalankan syariah Islam, seharusnya mereka makan di siang hari bulanRamadhan.
Dan tanpa sadar, pada hakikatnya kita semua sudah mengakui dan bahkan menjalankan syariah Islam, walaupun masih parsial atau sepotong-sepotong.
Jadi kendala utama kita tinggal menyempurnakan kekurangannya saja, bukan memulai dari awal. Penyadaran seperti ini penting buat shock theraphy kepada saudara-saudara kita yang sok anti penegakan syariah Islam.
Dan problem terbesar dari penegakan syariah Islam memang bersumber dari mereka, yaitu saudara kita sendiri yang sebenarnya masih sujud setidaknya 17 kali sehari semalam kepada Allah SW, di mana dalam doa ifitiah yang baca, ada tersebutkan lafadz, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanya untuk Allah Rabb alam semesta."
Jadi tugas kita sebenarnya tidak terlalu sulit, karena secara prinsip dasar, umat Islam di Indonesia sudah mengakui bahwa dia telah berserah diri kepada Allah SWT. Mana mungkin orang yang sudah menyatakan diri seperti itu, tiba-tiba jadi penentang utama syariah Islam.
Terjebak Jargon
Salah satu kendala utama kenapa oranganti dengan syariah Islam adalah karena 'kalahnya' kita dari kekuatan kafir. Mereka telah dengan efektif berkampanye untuk memperburuk citra syariah Islam.
Hal itu bisa kita buktikan dengan mudah. Berapa banyak umat Islam yang kalau mendengar istilah 'syariah', tiba-tibaseolah tersihir dan merasa phobi, takut, serem, bergidik, dan deg-degan. Soalnya yang langsung terbayang adalah kapak tajam yang akan memenggal kepala manusia ala peradaban kuno.
Tapi itulah yang telah berhasil dilakukan oleh lawan-lawansyariah Islam. Mereka berhasil membuat tulisan, opini, ajakan, dan trend yang ujung-ujungnya membuat orang takut pada istilah syariah.
Maka seharusnya kita juga harus punya strategi yang menarik untuk mencuri perhatian khalayak. Kalau sekarang ini mereka sedang phobi dengan istilah syariah dan sejenisnya, toh kita tidak harus pusing kepala dan marah-marah sendiri. Mungkin tidak ada salahnya kita menggunakan istilah lain. Toh, apalah arti sebuah nama, pinjam celoteh si Shakespiere.
Misal yang sederhana, kita bisa gunakan istilah 'peradaban maju' sebagai ganti dari istilah yang terlanjur sudah membuat orang panas dingin. Kita bisa katakan mari kita bentuk masyrakat yang 'berperadaban maju', dengan tidak menyisakan ruang bagi penipuan, pencurian, termasuk perzinaan yang sangat hewani itu.
Dan yang dimaksud dengan 'peradaban maju' tidak lain adalah tegaknya syariah Islam, yang isinya bukan hanya potong tangan, rajam, cambuk dan penggal kepala, tapi memang sepenuhnya berisi kemajuan, keadilan, kemanusiaan, ketinggian derajat manusia, pemerataan kesejahteraan dan seterusnya. Silahkan teruskan sendiri.
Kecolongan
Dan ada satu hal yang saat ini perlu kita pikirkan bersama, terutama bagi para 'pendekar dan penegak syariah Islam'. Seandainya -ini cuma seandainya saja- seandainya, tiba-tiba para penguasa sekuler itu terguling atau entah dapat hidayah lewat mana, tiba-tiba mereka bilang, "Yah sudah, sekarang kami sudah tobat, ayo kita gunakan hukum Islam", lalu apakah masalah sudah selesai?
Apakah proses penegakan syariah Islam sesederhana itu? Apakah hanya dengan melengserkan para penguasa sekuler dan kemudian diganti jadi negara Islam, atau apa lah istilahnya, masalah sudah selesai?
Sementara kita tahu persis bahwasebenarnya masih banyak kendala utama dan justru esensial sekali, tapi selama ini luput dari perhatian kita. Perhatian kitaselama ini lebih banyak terkuras untuk memperjuangkan syariah Islam di level parlemen. Padahal kalau kita cermati dengan hati lapang dan luas, tetap ada wilayah kerja lain yang sebenarnya jauh lebih sulit untuk diperjuangkan.
Urusan mengegolkan syariah Islam di parlemen mungkin hanya satu dari seribu kendala tegaknya syariah Islam. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada teman-teman yang sedang 'berjuang' di parlemen dengan menyerap begitu banyak sumber daya, tapi harus kita akui pe-er besar kita ternyata bukan di parlemen.
Pe-er besar kita justru ada di tengah diri umat Islam sendiri. Dan kejadian demi kejadian dalam garis lintasan sejarah seharusnya sudah cukup untuk menjadi guru besar kita, bahwa kekuasaan bukan berarti tujuan utama perjuangan. Dan bukan garis finish yang akan kita lewati.
Sebab berapa banyak kekuatan Islam yang pada akhirnya bisa mencapai puncak kekuasaan, tetapi ujung-ujungnya mereka harus menyerah pada kenyataan. Ternyata dengan naiknya sebuah kekuatan Islam ke puncak kekuasaan di suatu negeri, tidak ada kaitanya dengan tegak atau tidak tegaknya syariah Islam di negeri itu.
Bukankah Erbakan pernah menjadi perdana menteri di Turki? Bukankah Muhammad Dhia'ulhaq pernah berkuasa di Pakistan? Bukankah Iran dipimpin oleh para tokoh yang mengaku menegakkan Islam, meski dengan aqidah syi'ah yang banyak dikritik? Dan bukankah beberapa partai Islam juga telah menang di berbagai negeri? Bukankah kemenangan mutlak di pemilu telah pernah diraih FIS di Aljazair dan REFAH di Turki serta Jamiat Islami di Pakistan?
Tanpa mengecilkan peran dan jasa perjuangan mereka, tapi kalau kita amati, ternyata semua itu tidak selalu ekwivalen dengan tingkat penerapan syariah Islam. Setidaknya, kehidupan rakyat masih belum berubah, yang miskin masih miskin dan yang bodoh tetap masih bodoh. Hutang negara itu dan tingkat ketergantungan kepada negara adidaya yang dikuasai lobby yahudi masih tinggi. Produksi dalam negeri negara itu masih saja rendah, mereka masih menjadi negara yang nyaris 100 persen bergantung kepada belas kasihan (baca: jerat) negara adidaya.
Atau kalau kita lihat dari sudut pandang yang lain, misal nyadari sudut hukum hudud, ternyata kita juga tidak lantas menyaksikan hukum potong tangan, rajam, dan cambuk berlaku di negara itu. Mengingat bahwa sebagian teman kita punya pandangan sederhana, bahwa tegaknya syariah Islam cukup diukur dari pelaksanaan hukum hudud.
Lalu apa yang masih kurang? Dan apa yang salah?
Kalau salah sih tidak juga, dan sebenarnya tidak ada yang salah. Segala perjuangan untuk mencapai kekuasaan demi memperjuangkan syariah di level parlemen memang bukan tanpa arti. Kami pun tidak pernah berpikir untuk mengecilkan peran dan prestasi itu.
Tapi ada satu hal yang mungkin kita sering lupa, yaitu kekuatan fundamental di landasan yang menjadi fundamen esensial malah seringkali terlupakan. Fundamen itu adalah penyiapan umat untuk bisa mengenal, mengetahui, merasakan manisnya, dan merindukan tegaknya syariah Islam. Itu yang justru selama ini lepas dan luput dari perhatian kita.
Betapa banyak umat Islam yang belum tahu cara berwudhu, yang lainnya tidak tahu apa saja yang membatalkan shalat. Yang lain masih saja menikah tanpa wali, atau malah asyik berkampanye untuk poligami. Lima belas ribuan pertanyaan yang masih ke database kami cukup untuk membuktikan hal itu.
Janganlah kita bertanya tentang hal-hal yang lebih dalam dari syariah Islam. Bahkan hal-hal yang terlalu fundamental sekalipun masih saja hilang dari daya tahan umat ini. Jadi perang kita ini sebenarnya tidak vis a vis dengan orang kafir yang memushi agama Islam, tapi 'perang' kita ini lebih banyak untuk melawan 'kebodohan' dan 'keawaman' umat Islam dari syariah Islam itu sendiri.
Pelajaran dan kuliah syariah Islam itu boleh dibilang tidak pernah ada di negeri ini. Sebab pesantren kini sudah mulai kehilangan santri. Jumlahnya pun amat terbatas.
Kalau pun pernah belajar syariah, umumnya bangsa kita hanya mendapat porsi yang sangat kecil, yang sama sekali tidak cukup untuk sekedar bekal hidup, itu pun hanya semata kita dapat sewaktu masih kecil mengaji di TPA, dengan para pengajar yang tingkat kelimuannya di bidang syariah yang amat terbatas pula, kalau tidak mau dibilang memprihatinkan.
Walhasil, kendala terbesar kita malahan bukan musuh di luar, tapi justru ada di dalam diri kita masing-masing. Umat ini tidak pernah berupaya melahirkan generasi yang setidaknya 'melek' syariah.
Ketika teman-teman 20-an tahun yang lalu lalu menggagas berdirinya SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), kami kira nantinya siswa-siswi itu akan diajarkan tentang syariah Islam secara intensif. Eh, ternyata kami harus kecewa lagi, karena umumnya tidak ada bedanya dengan SD biasa, kecuali jam pelajarannya ditambah di sana sini, plus baca Iqro dan sedikit tahfizd Quran.
Sehingga otomatis bayarannya juga 'terpaksa' bertambah pula. Sampai ada teman yang memplesetkan singkatan TERPADU menjadi TERpaksa PAkai DUit.
Tapi yang teramat menyedihkan, ternyataSDIT-SDIT itu juga pernah peduli untukmengajarkan bahasa Arab secara serius. Kalau pun ada, hanya sampai hadza dan hadzihi, tidak lebih. Yang jelas, lulus SDIT itu anak-anak kita tetap tidak paham makna bacaan Quran yang dengan fasih dilantunkan, tetapi tidak paham ketika membunyikan tulisan hadits nabawi, juga tetap tidak nyambung kalau berkomunikasi dengan teman-temannya dari negeri Islam di Timur Tengah lewat chat. Apalagi membaca rujukan buku syariah Islam. Bisa-bisa mereka bilang kitab-kitab itu salah cetak.
Terus anak-anak kita mau dibawa ke mana?
Bukan apa-apa, 20 juta komunitas yahudi di dunia ini sudah memastikan bahwa anak-anak mereka mutlak harus bisa bahasa Ibrani, karena pada bahasa itulah mereka bersatu dan memiliki kekuatan. Dan Talmud itu berbahasa Ibrani. Dan mereka bangga dengan bahasa Ibraninya. Dan nyatanya, tidak ada balita yahudi kecuali mereka paham dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Ibrani.
Bagaimana dengan kita?
Jangan tanya, kenapa segitu banyak SDIT yang telah kita bangun, malah tidak mengajarkan bahasa Arab?
Padahal syarat mutlak seseorang bisa mempelajari dan memahami syariah Islam justru ada pada bahasa Arab. Mengingat bahwa Al-Quran itu turun dalam bahasa Arab. Dan mengingat pula bahwaRasulullah SAW tidak pernah berkata-kata kecuali dalam bahasa Arab. Sangat tidak masuk akal kalau hari ini kita teriak-teriak mau menegakkan syariah Islam, tapi kita tidak pernah peduli ketika anak-anak kita tumbuh tanpa bisa berbahasa Arab. Sungguh keterlaluan dan sangat tidak logis.
Kalau generasi terbaik yang kita persiapkan itu sudah sejak awal kita 'sunat' dan 'kebiri', dengan tidak peduli atas pelajaran bahasa Arab, maka sudah dipastikan kita inilah jagal-jagal yang membutakan mereka dari syariah Islam sejak dini.
Akhirnya kita hanya bisa marah-marah dan emosi sendiri, kita tuduh orang lain bersalah karena tidak mau menerapkan syariah Islam, Padahal pada hakikatnya kita sendiri yang telah 'membunuh' syariah Islam itu sejak dini.
Mungkinanda pernah lihat trilogi film hayal ala Hollywood, misalnya Terminator 1, 2 dan 3. Film itu menggambar musuh-musuh di masa mendatang melalui mesin waktu datang ke zaman kita untuk membunuh calon pemimpin masa depan, Jhon Connor. Musuh-musuh yang berupa robot itu merasa kewalahan menghadapi perlawanan sang jagoan di masa mendatang, karena itu untuk membunuh sang jagoan, mereka datang ke zaman sekarang dan ingin membunuh orang tuanya.
Hayalan ala Arnold Schwarzenegger itu itu sebenarnya sudah terjadi sekarang ini. Kitalah yang musuh yang telah 'membunuh' generasi mendatang itu dengan tidak pernah mempersiapkan mereka untuk mengerti syariah Islam. Salah satu cara 'keji' yang tanpa sadar kita lakukan adalah membuat mereka tetap buta dengan bahasa Arab dan pelajaran syariah Islam.
ApalagiSDIT-SDIT yang kita banggakan itu pun masih asyik dengan beragam teori pendidikan ala baratnya, dan nyaris sama sekali tidak punya pengajar bertaraf ulama, yangbisa melahirkan siswa semacam Al-Imam Asy-Syafi'i yang telah hafal Al-Muwaththa' ketika lulus SD.
Boro-boro hafal Al-Muwaththa', lha wong gurunya saja termasuk ummiyin, tidak bisa baca dan tulis Arab. Apalagi bicara dalam bahasa Arab. Kalau pun bisa baca, ya cuma bunyi tapi tidak paham.
Mohon maaf kepada para ikhwah yang punya SDIT atau guru pengajar, mungkin kami agak kasar, tapi mari kita merenung sejenak yuk, kita ini mau ke mana sih sebenarnya? Cintakah kita kepada syariah Islam? Kalau cinta, kenapa kok kita tidak berupaya melahirkan generasi yang mengerti syariah Islam?
Resep Tegaknya Syariah Islam
Jadi resepnya gampang, mari kita dirikan SDIT yang para pengajarnya adalah ulama, sehingga muridnya bisa lulus dengan telah mengantungi ijazah sungguhan, yakni telah membaca dan menelaah sekian puluh kitab-kitab kuning.
Mari kita urus dengan rapi dan profesional majelis-majelis taklim kita, baik di masjid mau pun di kantor-kantor. Carilah ulama yang ahli syariah untuk kita belajar ilmu syariah secara tetap kepada mereka, syukur kalau bisa sambil buka kitab. Setidaknya kajian syariahnya harus lebih padat. Jangan cuma melawak melulu. Segar sih segar, tapi kalau tiap hari melawak melulu, bisa-bisa kita saingan dengan Srimulat.
Semua itu mengerucut pada satu kesimpulan, tegaknya syariat Islam amat bergantung pada seberapa besar porsi ngajisyariah kita lakukan sekarang ini.
Mungkin ada baiknya kalau para ustadz yang terlanjur salah kamar, balik lagi ke masjid dan jamaah pengajiannya untuk mengajar syariah, dari pada mereka tiap hari ketemu dengan koboi-koboi politik di lembaga legislatif yang bikin rambut beruban. Serahkan saja pekerjaan itu pada orang yang ahli di bidangnya, sedangkan para ustadz ini bisa kembali menyapa jamaah pengajiannya. Sungguh semenjak para ustadz ini aktif di politik, banyak jamaah pengajian yang bagai anak ayam kehilangan induknya.
Itu sih sekedar usul, bisa diterima dan boleh saja dicuekin. Namanya juga usul, kadang terdengar usil di telinga.
Wallahu 'alam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Sumber: posting yang ini
SULITNYA MENEGAKKAN SYARIAT ISLAM DI INDONESIA
Umat Islam di Indonesia sudah sejak lama memimpikan tegaknya syariat dan hukum Islam. Bahkan salah satu motivasi kenapa banyak pahlawan gugur di medan perang dalam masa perjuangan fisik di masa lalu, tidak lain tujuannya agar bisa tegaknya syariat Islam.
Ketika sudah merdeka pun, putera-puteri Islam tetap memperjuangkan tegaknya syariat Islam lewat parlemen. Bergantian bentuk-bentuk upaya penegakan syariat itu terus diperjuangkan.
Namun sampai hari ini, sudah lewat enampuluh tahun kita merdeka, ternyata syariat Islam masih belum tegak di negeri kita seperti yang dicita-citakan oleh para ulama dan pendahulu kita di masa lalu.
Pandangan Kalangan Anti Syariah
Kalau dihitung-hitung, sebenarnya yang menjadi penghalang utama kenapa syariat Islam tidak bisa lantas tegak di negeri kita bukan siapa-siapa. Ternyata justru faktor penolakan dari umat Islam sendiri.
Tegaknya syariat Islam malah berhadapan dengan sebagian besar umat Islam. Justru mereka itulah yang dengan sangat gigih berada pada posisi menentang dan sangat anti dengan syariah Islam.
Pokoknya apa pun yang berbau istilah syariah, langsung diveto dan diberi kartu merah, termasuk nasib perda-perda yang dianggap bernuansa syariah di masa sekarang.
Padahal sebenarnya sadar atau tidak sadar, kita sudah menjalankan syariat Islam, bahkan saudara-saudara kita yang 'anti' syariah, tanpa sadar mereka sudah menjalankan syariah Islam.
Buktinya ke mana-mana mereka pakai baju dan celana. Seandainya mereka anti syariah Islam, maka ke mana-mana mereka pasti telanjang bulat, persis kambing dan kerbau.
Buktinya mereka menikah dengan sah, meski sering sinis dengan penegakan syariah. Kalau mereka tidak menjalankan syariah Islam, pastilah mereka tidak menikah tapi kumpul kerbau dan jadi pelanggan rumah bordil.
Buktinya mereka mereka ikut puasa di bulan Ramadhan, meski tetap sinis dengan syariah Islam. Kalau mereka tidak menjalankan syariah Islam, seharusnya mereka makan di siang hari bulanRamadhan.
Dan tanpa sadar, pada hakikatnya kita semua sudah mengakui dan bahkan menjalankan syariah Islam, walaupun masih parsial atau sepotong-sepotong.
Jadi kendala utama kita tinggal menyempurnakan kekurangannya saja, bukan memulai dari awal. Penyadaran seperti ini penting buat shock theraphy kepada saudara-saudara kita yang sok anti penegakan syariah Islam.
Dan problem terbesar dari penegakan syariah Islam memang bersumber dari mereka, yaitu saudara kita sendiri yang sebenarnya masih sujud setidaknya 17 kali sehari semalam kepada Allah SW, di mana dalam doa ifitiah yang baca, ada tersebutkan lafadz, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanya untuk Allah Rabb alam semesta."
Jadi tugas kita sebenarnya tidak terlalu sulit, karena secara prinsip dasar, umat Islam di Indonesia sudah mengakui bahwa dia telah berserah diri kepada Allah SWT. Mana mungkin orang yang sudah menyatakan diri seperti itu, tiba-tiba jadi penentang utama syariah Islam.
Terjebak Jargon
Salah satu kendala utama kenapa oranganti dengan syariah Islam adalah karena 'kalahnya' kita dari kekuatan kafir. Mereka telah dengan efektif berkampanye untuk memperburuk citra syariah Islam.
Hal itu bisa kita buktikan dengan mudah. Berapa banyak umat Islam yang kalau mendengar istilah 'syariah', tiba-tibaseolah tersihir dan merasa phobi, takut, serem, bergidik, dan deg-degan. Soalnya yang langsung terbayang adalah kapak tajam yang akan memenggal kepala manusia ala peradaban kuno.
Tapi itulah yang telah berhasil dilakukan oleh lawan-lawansyariah Islam. Mereka berhasil membuat tulisan, opini, ajakan, dan trend yang ujung-ujungnya membuat orang takut pada istilah syariah.
Maka seharusnya kita juga harus punya strategi yang menarik untuk mencuri perhatian khalayak. Kalau sekarang ini mereka sedang phobi dengan istilah syariah dan sejenisnya, toh kita tidak harus pusing kepala dan marah-marah sendiri. Mungkin tidak ada salahnya kita menggunakan istilah lain. Toh, apalah arti sebuah nama, pinjam celoteh si Shakespiere.
Misal yang sederhana, kita bisa gunakan istilah 'peradaban maju' sebagai ganti dari istilah yang terlanjur sudah membuat orang panas dingin. Kita bisa katakan mari kita bentuk masyrakat yang 'berperadaban maju', dengan tidak menyisakan ruang bagi penipuan, pencurian, termasuk perzinaan yang sangat hewani itu.
Dan yang dimaksud dengan 'peradaban maju' tidak lain adalah tegaknya syariah Islam, yang isinya bukan hanya potong tangan, rajam, cambuk dan penggal kepala, tapi memang sepenuhnya berisi kemajuan, keadilan, kemanusiaan, ketinggian derajat manusia, pemerataan kesejahteraan dan seterusnya. Silahkan teruskan sendiri.
Kecolongan
Dan ada satu hal yang saat ini perlu kita pikirkan bersama, terutama bagi para 'pendekar dan penegak syariah Islam'. Seandainya -ini cuma seandainya saja- seandainya, tiba-tiba para penguasa sekuler itu terguling atau entah dapat hidayah lewat mana, tiba-tiba mereka bilang, "Yah sudah, sekarang kami sudah tobat, ayo kita gunakan hukum Islam", lalu apakah masalah sudah selesai?
Apakah proses penegakan syariah Islam sesederhana itu? Apakah hanya dengan melengserkan para penguasa sekuler dan kemudian diganti jadi negara Islam, atau apa lah istilahnya, masalah sudah selesai?
Sementara kita tahu persis bahwasebenarnya masih banyak kendala utama dan justru esensial sekali, tapi selama ini luput dari perhatian kita. Perhatian kitaselama ini lebih banyak terkuras untuk memperjuangkan syariah Islam di level parlemen. Padahal kalau kita cermati dengan hati lapang dan luas, tetap ada wilayah kerja lain yang sebenarnya jauh lebih sulit untuk diperjuangkan.
Urusan mengegolkan syariah Islam di parlemen mungkin hanya satu dari seribu kendala tegaknya syariah Islam. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada teman-teman yang sedang 'berjuang' di parlemen dengan menyerap begitu banyak sumber daya, tapi harus kita akui pe-er besar kita ternyata bukan di parlemen.
Pe-er besar kita justru ada di tengah diri umat Islam sendiri. Dan kejadian demi kejadian dalam garis lintasan sejarah seharusnya sudah cukup untuk menjadi guru besar kita, bahwa kekuasaan bukan berarti tujuan utama perjuangan. Dan bukan garis finish yang akan kita lewati.
Sebab berapa banyak kekuatan Islam yang pada akhirnya bisa mencapai puncak kekuasaan, tetapi ujung-ujungnya mereka harus menyerah pada kenyataan. Ternyata dengan naiknya sebuah kekuatan Islam ke puncak kekuasaan di suatu negeri, tidak ada kaitanya dengan tegak atau tidak tegaknya syariah Islam di negeri itu.
Bukankah Erbakan pernah menjadi perdana menteri di Turki? Bukankah Muhammad Dhia'ulhaq pernah berkuasa di Pakistan? Bukankah Iran dipimpin oleh para tokoh yang mengaku menegakkan Islam, meski dengan aqidah syi'ah yang banyak dikritik? Dan bukankah beberapa partai Islam juga telah menang di berbagai negeri? Bukankah kemenangan mutlak di pemilu telah pernah diraih FIS di Aljazair dan REFAH di Turki serta Jamiat Islami di Pakistan?
Tanpa mengecilkan peran dan jasa perjuangan mereka, tapi kalau kita amati, ternyata semua itu tidak selalu ekwivalen dengan tingkat penerapan syariah Islam. Setidaknya, kehidupan rakyat masih belum berubah, yang miskin masih miskin dan yang bodoh tetap masih bodoh. Hutang negara itu dan tingkat ketergantungan kepada negara adidaya yang dikuasai lobby yahudi masih tinggi. Produksi dalam negeri negara itu masih saja rendah, mereka masih menjadi negara yang nyaris 100 persen bergantung kepada belas kasihan (baca: jerat) negara adidaya.
Atau kalau kita lihat dari sudut pandang yang lain, misal nyadari sudut hukum hudud, ternyata kita juga tidak lantas menyaksikan hukum potong tangan, rajam, dan cambuk berlaku di negara itu. Mengingat bahwa sebagian teman kita punya pandangan sederhana, bahwa tegaknya syariah Islam cukup diukur dari pelaksanaan hukum hudud.
Lalu apa yang masih kurang? Dan apa yang salah?
Kalau salah sih tidak juga, dan sebenarnya tidak ada yang salah. Segala perjuangan untuk mencapai kekuasaan demi memperjuangkan syariah di level parlemen memang bukan tanpa arti. Kami pun tidak pernah berpikir untuk mengecilkan peran dan prestasi itu.
Tapi ada satu hal yang mungkin kita sering lupa, yaitu kekuatan fundamental di landasan yang menjadi fundamen esensial malah seringkali terlupakan. Fundamen itu adalah penyiapan umat untuk bisa mengenal, mengetahui, merasakan manisnya, dan merindukan tegaknya syariah Islam. Itu yang justru selama ini lepas dan luput dari perhatian kita.
Betapa banyak umat Islam yang belum tahu cara berwudhu, yang lainnya tidak tahu apa saja yang membatalkan shalat. Yang lain masih saja menikah tanpa wali, atau malah asyik berkampanye untuk poligami. Lima belas ribuan pertanyaan yang masih ke database kami cukup untuk membuktikan hal itu.
Janganlah kita bertanya tentang hal-hal yang lebih dalam dari syariah Islam. Bahkan hal-hal yang terlalu fundamental sekalipun masih saja hilang dari daya tahan umat ini. Jadi perang kita ini sebenarnya tidak vis a vis dengan orang kafir yang memushi agama Islam, tapi 'perang' kita ini lebih banyak untuk melawan 'kebodohan' dan 'keawaman' umat Islam dari syariah Islam itu sendiri.
Pelajaran dan kuliah syariah Islam itu boleh dibilang tidak pernah ada di negeri ini. Sebab pesantren kini sudah mulai kehilangan santri. Jumlahnya pun amat terbatas.
Kalau pun pernah belajar syariah, umumnya bangsa kita hanya mendapat porsi yang sangat kecil, yang sama sekali tidak cukup untuk sekedar bekal hidup, itu pun hanya semata kita dapat sewaktu masih kecil mengaji di TPA, dengan para pengajar yang tingkat kelimuannya di bidang syariah yang amat terbatas pula, kalau tidak mau dibilang memprihatinkan.
Walhasil, kendala terbesar kita malahan bukan musuh di luar, tapi justru ada di dalam diri kita masing-masing. Umat ini tidak pernah berupaya melahirkan generasi yang setidaknya 'melek' syariah.
Ketika teman-teman 20-an tahun yang lalu lalu menggagas berdirinya SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), kami kira nantinya siswa-siswi itu akan diajarkan tentang syariah Islam secara intensif. Eh, ternyata kami harus kecewa lagi, karena umumnya tidak ada bedanya dengan SD biasa, kecuali jam pelajarannya ditambah di sana sini, plus baca Iqro dan sedikit tahfizd Quran.
Sehingga otomatis bayarannya juga 'terpaksa' bertambah pula. Sampai ada teman yang memplesetkan singkatan TERPADU menjadi TERpaksa PAkai DUit.
Tapi yang teramat menyedihkan, ternyataSDIT-SDIT itu juga pernah peduli untukmengajarkan bahasa Arab secara serius. Kalau pun ada, hanya sampai hadza dan hadzihi, tidak lebih. Yang jelas, lulus SDIT itu anak-anak kita tetap tidak paham makna bacaan Quran yang dengan fasih dilantunkan, tetapi tidak paham ketika membunyikan tulisan hadits nabawi, juga tetap tidak nyambung kalau berkomunikasi dengan teman-temannya dari negeri Islam di Timur Tengah lewat chat. Apalagi membaca rujukan buku syariah Islam. Bisa-bisa mereka bilang kitab-kitab itu salah cetak.
Terus anak-anak kita mau dibawa ke mana?
Bukan apa-apa, 20 juta komunitas yahudi di dunia ini sudah memastikan bahwa anak-anak mereka mutlak harus bisa bahasa Ibrani, karena pada bahasa itulah mereka bersatu dan memiliki kekuatan. Dan Talmud itu berbahasa Ibrani. Dan mereka bangga dengan bahasa Ibraninya. Dan nyatanya, tidak ada balita yahudi kecuali mereka paham dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Ibrani.
Bagaimana dengan kita?
Jangan tanya, kenapa segitu banyak SDIT yang telah kita bangun, malah tidak mengajarkan bahasa Arab?
Padahal syarat mutlak seseorang bisa mempelajari dan memahami syariah Islam justru ada pada bahasa Arab. Mengingat bahwa Al-Quran itu turun dalam bahasa Arab. Dan mengingat pula bahwaRasulullah SAW tidak pernah berkata-kata kecuali dalam bahasa Arab. Sangat tidak masuk akal kalau hari ini kita teriak-teriak mau menegakkan syariah Islam, tapi kita tidak pernah peduli ketika anak-anak kita tumbuh tanpa bisa berbahasa Arab. Sungguh keterlaluan dan sangat tidak logis.
Kalau generasi terbaik yang kita persiapkan itu sudah sejak awal kita 'sunat' dan 'kebiri', dengan tidak peduli atas pelajaran bahasa Arab, maka sudah dipastikan kita inilah jagal-jagal yang membutakan mereka dari syariah Islam sejak dini.
Akhirnya kita hanya bisa marah-marah dan emosi sendiri, kita tuduh orang lain bersalah karena tidak mau menerapkan syariah Islam, Padahal pada hakikatnya kita sendiri yang telah 'membunuh' syariah Islam itu sejak dini.
Mungkinanda pernah lihat trilogi film hayal ala Hollywood, misalnya Terminator 1, 2 dan 3. Film itu menggambar musuh-musuh di masa mendatang melalui mesin waktu datang ke zaman kita untuk membunuh calon pemimpin masa depan, Jhon Connor. Musuh-musuh yang berupa robot itu merasa kewalahan menghadapi perlawanan sang jagoan di masa mendatang, karena itu untuk membunuh sang jagoan, mereka datang ke zaman sekarang dan ingin membunuh orang tuanya.
Hayalan ala Arnold Schwarzenegger itu itu sebenarnya sudah terjadi sekarang ini. Kitalah yang musuh yang telah 'membunuh' generasi mendatang itu dengan tidak pernah mempersiapkan mereka untuk mengerti syariah Islam. Salah satu cara 'keji' yang tanpa sadar kita lakukan adalah membuat mereka tetap buta dengan bahasa Arab dan pelajaran syariah Islam.
ApalagiSDIT-SDIT yang kita banggakan itu pun masih asyik dengan beragam teori pendidikan ala baratnya, dan nyaris sama sekali tidak punya pengajar bertaraf ulama, yangbisa melahirkan siswa semacam Al-Imam Asy-Syafi'i yang telah hafal Al-Muwaththa' ketika lulus SD.
Boro-boro hafal Al-Muwaththa', lha wong gurunya saja termasuk ummiyin, tidak bisa baca dan tulis Arab. Apalagi bicara dalam bahasa Arab. Kalau pun bisa baca, ya cuma bunyi tapi tidak paham.
Mohon maaf kepada para ikhwah yang punya SDIT atau guru pengajar, mungkin kami agak kasar, tapi mari kita merenung sejenak yuk, kita ini mau ke mana sih sebenarnya? Cintakah kita kepada syariah Islam? Kalau cinta, kenapa kok kita tidak berupaya melahirkan generasi yang mengerti syariah Islam?
Resep Tegaknya Syariah Islam
Jadi resepnya gampang, mari kita dirikan SDIT yang para pengajarnya adalah ulama, sehingga muridnya bisa lulus dengan telah mengantungi ijazah sungguhan, yakni telah membaca dan menelaah sekian puluh kitab-kitab kuning.
Mari kita urus dengan rapi dan profesional majelis-majelis taklim kita, baik di masjid mau pun di kantor-kantor. Carilah ulama yang ahli syariah untuk kita belajar ilmu syariah secara tetap kepada mereka, syukur kalau bisa sambil buka kitab. Setidaknya kajian syariahnya harus lebih padat. Jangan cuma melawak melulu. Segar sih segar, tapi kalau tiap hari melawak melulu, bisa-bisa kita saingan dengan Srimulat.
Semua itu mengerucut pada satu kesimpulan, tegaknya syariat Islam amat bergantung pada seberapa besar porsi ngajisyariah kita lakukan sekarang ini.
Mungkin ada baiknya kalau para ustadz yang terlanjur salah kamar, balik lagi ke masjid dan jamaah pengajiannya untuk mengajar syariah, dari pada mereka tiap hari ketemu dengan koboi-koboi politik di lembaga legislatif yang bikin rambut beruban. Serahkan saja pekerjaan itu pada orang yang ahli di bidangnya, sedangkan para ustadz ini bisa kembali menyapa jamaah pengajiannya. Sungguh semenjak para ustadz ini aktif di politik, banyak jamaah pengajian yang bagai anak ayam kehilangan induknya.
Itu sih sekedar usul, bisa diterima dan boleh saja dicuekin. Namanya juga usul, kadang terdengar usil di telinga.
Wallahu 'alam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Sumber: posting yang ini
Rabu, 21 Desember 2011
Bachtiar Nasir for Indonesia | Sebaik-baik manusia ialah yang mempelajari Al-Qur'an , mengamalkannya dan mengajarkan pada orang lain
http://bachtiarnasir.net/
Situs ustadz Bachtiar Nasir Lc. Pendiri dan pimpinan Ar Rahman Quranic Learning Center
Situs ustadz Bachtiar Nasir Lc. Pendiri dan pimpinan Ar Rahman Quranic Learning Center
Senin, 27 Juni 2011
Jalan Kehidupan | Menelusuri Jalan untuk Meraih Ridha dan Kasih-Nya
http://jalmilaip.wordpress.com/
Blog ini khusus menyajikan tanya jawab tentang berbagai masalah agama dan keberagamaan kita. Jawaban diberikan oleh para pakar di bidangnya. Sajian konsultasi agama ini saya kumpulkan dari kliping beberapa media cetak yang dari pada tercecer lebih baik saya share di sini.
Para ulama yang menjawab berbagai pertanyaan umat ini antara lain :
Ustadz Bachtiar Nasir, Lc
Prof. Dr. Didin Hafidhuddin
Prof. Dr. Miftah Faridl
Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Prof. Dr. Tutty Alawiyah AS
Prof. Dr. KH Achmad Satori Ismail
HM Cholil Nafis, Ph.D
Drs. H. Agus Syihabudin, MA., MBA
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc
Ustadz Imron Rosyadi, Lc
KH Hilman Rosyad Syihab, Lc
KH A. Cholil Ridwan, Lc
KH. M. Shiddiq Al-Jawi, S.Si., MSI
Dr HM Taufik Q Hulaimi, MA, M.Ed.
Ahmad Gozali
Prof. Dr. M. Amin Suma, SH, MA
Erma Pawitasari, M.Ed.
Ust Hafidz Abdurrahman, MA
dll
Jawaban-jawabannya belum tentu memuaskan kita, tapi sekurang-kurangnya akan menambah sedikit wawasan tentang agama dan keberagamaan kita. Oleh karena itu, tanggapan dan tambahan informasi dari Anda akan sangat bermanfaat dan sangat saya harapkan. Untuk itu, terima kasih banyak.
Mari kita menelusuri Jalan Kehidupan ini untuk meraih ridha dan kasih-Nya.
Salam,
Padumukan, 28 Maret 2011 / 23 Rabi’ul Akhir 1432 | 16:17
Blog ini khusus menyajikan tanya jawab tentang berbagai masalah agama dan keberagamaan kita. Jawaban diberikan oleh para pakar di bidangnya. Sajian konsultasi agama ini saya kumpulkan dari kliping beberapa media cetak yang dari pada tercecer lebih baik saya share di sini.
Para ulama yang menjawab berbagai pertanyaan umat ini antara lain :
Ustadz Bachtiar Nasir, Lc
Prof. Dr. Didin Hafidhuddin
Prof. Dr. Miftah Faridl
Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Prof. Dr. Tutty Alawiyah AS
Prof. Dr. KH Achmad Satori Ismail
HM Cholil Nafis, Ph.D
Drs. H. Agus Syihabudin, MA., MBA
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc
Ustadz Imron Rosyadi, Lc
KH Hilman Rosyad Syihab, Lc
KH A. Cholil Ridwan, Lc
KH. M. Shiddiq Al-Jawi, S.Si., MSI
Dr HM Taufik Q Hulaimi, MA, M.Ed.
Ahmad Gozali
Prof. Dr. M. Amin Suma, SH, MA
Erma Pawitasari, M.Ed.
Ust Hafidz Abdurrahman, MA
dll
Jawaban-jawabannya belum tentu memuaskan kita, tapi sekurang-kurangnya akan menambah sedikit wawasan tentang agama dan keberagamaan kita. Oleh karena itu, tanggapan dan tambahan informasi dari Anda akan sangat bermanfaat dan sangat saya harapkan. Untuk itu, terima kasih banyak.
Mari kita menelusuri Jalan Kehidupan ini untuk meraih ridha dan kasih-Nya.
Salam,
Padumukan, 28 Maret 2011 / 23 Rabi’ul Akhir 1432 | 16:17
Rabu, 04 Mei 2011
[Kultwit] Syukur by Ustadz Didin Hafiduddin
Kultwit berikut ini disampaikan oleh Ustadz Didin Hafidhuddin, ketua umum BAZNAS
Insya Allah pagi ini saya akan kultwit tentang #syukur
1. Surat Ar Rahman merupakan surat yang mgambarkan nikmat Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih. #syukur
2. Dari semua nikmat yang ada, nikmat yang paling utama adalah Al-Quran. #syukur
3. Karena dgn Al-Quran, manusia akan tahu mana yg hak & yg batil, mana yg harus dilakukan & yg ditinggalkan, dsb. #syukur
4. “Allah yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.” (QS Ar-Rahman : 1-2). #syukur
5. Dr total 78 ayat dlm QS Ar Rahman, kalimat “Maka nikmat Tuhanmu manakah yg km dustakan?” diulang2 sbnyk 32 kali. #syukur
6. Makna pengulangan ini bertujuan agar manusia & jin dapat meresapi perintah untuk bersyukur ini. #syukur
7. Di dlm ayat lain, "“Dan sesungguhnya Kami tlh menganugerahkan kpd Luqman hikmah,yaitu: Bersyukurlah kpd Allah.." #syukur
8."..Dan brg siapa yg bersyukur (kpd Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur u (manfaat) dirinya sendiri.." (31:12) #syukur
10. "Dan brgsiapa yg bersyukur, mk sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri.." (27:40) #syukur
11. "dan barangsiapa yg kufur (tdk syukur),mk sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tdk butuh ssuatu) lg Mahamulia.” (27:40)
12.“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.." (16:18) #syukur
13. #syukur kpd Allah sec harfiah berarti berterima kasih.
14. #syukur sesungguhnya a memanfaatkan semua nikmat dr Allah swt untuk kebaikan.
15. Misalnya, jika kt punya harta, kita manfaatkan u kebutuhan keluarga, dikeluarkan zakat-infaq-nya. Itulah bukti #syukur
16.Jika punya ilmu, kita manfaatkan ilmu tsb untuk kesejahteraan bersama. Itupun bukti #syukur kpd Allah swt.
17. Karena #syukur harus dibuktikan melalui hati, lisan, dan perbuatan kita.
18. Semoga kita semua termasuk k dlm golongan orang2 yg bersyukur. #syukur
19. Demikian kultwit pagi ini tentang #syukur .. Semoga bermanfaat.
Insya Allah pagi ini saya akan kultwit tentang #syukur
1. Surat Ar Rahman merupakan surat yang mgambarkan nikmat Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih. #syukur
2. Dari semua nikmat yang ada, nikmat yang paling utama adalah Al-Quran. #syukur
3. Karena dgn Al-Quran, manusia akan tahu mana yg hak & yg batil, mana yg harus dilakukan & yg ditinggalkan, dsb. #syukur
4. “Allah yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.” (QS Ar-Rahman : 1-2). #syukur
5. Dr total 78 ayat dlm QS Ar Rahman, kalimat “Maka nikmat Tuhanmu manakah yg km dustakan?” diulang2 sbnyk 32 kali. #syukur
6. Makna pengulangan ini bertujuan agar manusia & jin dapat meresapi perintah untuk bersyukur ini. #syukur
7. Di dlm ayat lain, "“Dan sesungguhnya Kami tlh menganugerahkan kpd Luqman hikmah,yaitu: Bersyukurlah kpd Allah.." #syukur
8."..Dan brg siapa yg bersyukur (kpd Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur u (manfaat) dirinya sendiri.." (31:12) #syukur
10. "Dan brgsiapa yg bersyukur, mk sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri.." (27:40) #syukur
11. "dan barangsiapa yg kufur (tdk syukur),mk sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tdk butuh ssuatu) lg Mahamulia.” (27:40)
12.“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.." (16:18) #syukur
13. #syukur kpd Allah sec harfiah berarti berterima kasih.
14. #syukur sesungguhnya a memanfaatkan semua nikmat dr Allah swt untuk kebaikan.
15. Misalnya, jika kt punya harta, kita manfaatkan u kebutuhan keluarga, dikeluarkan zakat-infaq-nya. Itulah bukti #syukur
16.Jika punya ilmu, kita manfaatkan ilmu tsb untuk kesejahteraan bersama. Itupun bukti #syukur kpd Allah swt.
17. Karena #syukur harus dibuktikan melalui hati, lisan, dan perbuatan kita.
18. Semoga kita semua termasuk k dlm golongan orang2 yg bersyukur. #syukur
19. Demikian kultwit pagi ini tentang #syukur .. Semoga bermanfaat.
Selasa, 18 Agustus 2009
SMS Tausiyah
http://smstausiyah.blogspot.com/
SMS kiriman dari Ustadz Abdul Halim, Ustadz Rofidiun, Ustadz Sambo (tim MSKN)
SMS kiriman dari Ustadz Abdul Halim, Ustadz Rofidiun, Ustadz Sambo (tim MSKN)
Langganan:
Postingan (Atom)