Tampilkan postingan dengan label baniisrail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baniisrail. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

[Dunia Ghoib] Sihir dan Interaksi Energi bagian 1

Salah satu dosa besar yang bisa mencelakan pelakunya di dunia dan akhirat adalah sihir.  Sihir adalah sejenis interaksi energi.  Tidak speerti mukjizat, karamah ataupun maunah, sihir bisa dipelajari, dilatih dan dipraktekkan.  Namun, semua itu tentu ada persyaratan yagn harus dipenuhi dan harga yang harus dibayar.  Orang yang ingi menjadi ahli sihir harus merendahkan dirinya pada para jin yang akan membantunya selama mempraktekkan sihir.  Dengan kata lain, si kandidat penyihir itu harus menyesuaikan vibrasi energinya dengan para jin.  Energi manusia tidak memungkinkan untuk melakukan sihir.  Bahkan, ketidakmampuan manusia melakukan sihir sesungguhnya adalah bukti kemuliaannya sebagai makhluk yang dipilih sebagai khalifah di muka bumi.  Namun, ego dan hawa nafsu manusia yang selalu ingin dipuaskan menyebabkan sebagian manusia bersekutu dengan jin untuk memperoleh keingannnya melalui jalan sihir.  Kalau di Nusantara ini ada istilah pesugihan, maka di Barat ada istilah "sell your soul to the Devil".  Cara merendahkan diri dan vibrasi energi tersebut antara lain membaca mantra-mantra tertentu, menggunakan jimat, melakukan ritual sesat dan lain sebagainya.  Dengan melakukan hal-hal tersebut, seorang calon ahli sihir telah merendahkan dirinya menjadi budak para jin tersebut. "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan." (Al-Jin 72:6)

Salah satu kisah para tukang sihir yang paling terkenal dalam sejarah adalah kisah para tukang sihir Firaun saat berhadapan dengan nabi Musa.  Para tukang sihir tersebut adalah bagian yang paling penting dalam pemerintahan firaun.  Merekalah yang membuat rakyat menganggap Firaun sebagai Tuhan sehingga untuk urusan gaji, tunjangan dan kesejahteraan tentu saja mereka dapat yang paling banyak dan paling menyenangkan.  Namun, sesudah dikalahkan oleh Nabi Musa, melalui mukjizat beliau yang terjadi atas izin Allah SWT, para tukang sihir itu pun tunduk.  Mereka juga menyatakan keimanan mereka pada Allah SWT dan mengakui Musa AS sebagai Nabi. Mereka pun sama sekali tidak takut pada ancaman Firaun.  

Apakah yang menyebabkan mereka serta merta meninggalkan profesi paling bergengsi dalam pemerintahan Firaun tersebut, meninggalkan semua fasilitas mewah yang disediakan dan dengan gagah berani menghadapi hukuman mengerikan yang ditimpakan pada mereka? Di luar faktor hidayah yang memang merupakan hak prerogatif Allah SWT, ada faktor penting yang bisa menjadi motivasi mereka meninggalkan profesi terkutuk tersbut.  Saat berhadapan dengan Nabi Musa, mereka menyadari bahwa yang ditunjukkan Nabi Musa adalah benar mukjizat dan bukanlah sihir.  Mereka bisa merasakan perbedaan energi antara mukjizat Nabi Musa dan sihir mereka sendiri.  Biasanya, orang-orang yang menjadi ahli sihir adalah mereka yang peka terhadap perubahan energi, baik faktor bakat ataupun karena latihan.  Pengunduran diri para ahli sihir tersebut sangat mengguncangkan dan menggoyahkan kekuasaan dan kepercayaan diri Firaun. Ditambah lagi beragam bencana mengerikan yang melanda Mesir, Firaun pun tidak punya pilihan lain kecuali membiarkan Bani Israil meninggalkan negerinya.  

Ironisnya, kaum Bani Israil yang dibela Nabi Musa malah melestarikan sihir tersebut.  Sebagian dari mereka ada yang diam-diam membawa catatan-catatan ilmu sihir tersebut saat meninggalkan negeri Mesir.  Tentu dalam keadaan terburu-buru hendak melarikan diri keluar dari Mesir, Nabi Musa dan Nabi Harun tidak akan sempat melakukan razia terhadap catatan-catatan sihir tersebut.  Mereka harus segera keluar dari Negeri Mesir sebelum Firaun berubah pikiran.  Dan benar memang, setelah beberapa Bani Israil berjalan cukup jauh dari Mesir, Firaun pun memerintahkan tentaranya mengejar mereka.  Allah SWT pun memberikan pertolonganNYa hingga Nabi Musa, Nabi Harun dan Bani Israil selamat menyebarangi laut Merah sementara Firaun dan para tentaranya tenggelam di sana.

Keengganan Bani Israil untuk mengikuti Musa dan Harun serta mental terjajah mereka mulai terlihat saat mereka minta dibuatkan patung untuk disembah. Saat dalam perjalanan, mereka melihat sekelompok orang sedang menyembah berhala dan meminta Musa membuatkan bagi mereka berhala yang serupa.  Nabi Musa sangat marah mendengar permintaan itu. Marahnya seorang Rasul semata-mata karena Allah. Marah karena Tuhannya yang Mahasuci, dan dia cemburu kalau Tuhannya dipersekutukan oleh kaumnya! Maka,diamelontarkan perkataan yang sangat cocok untuk menampik permintaan yang aneh itu.   “Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” (QS. Al-A’raf: 138).  Musa a.s. masih menerangkan kepada kaumnya akan buruknya akibat permintaan mereka itu, dengan menjelaskan akibat buruk yang bakal menimpa kaum yang melihat-lihat sedang menyembah berhala-berhala itu yang hendak mereka ikuti.  “Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akal batal apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 139).  Musa AS pun dengan tegas menolak permintaan tersebut dengan berkata “Musa menjawab, ‘Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” (QS. Al-A’raf: 140).  Namun sayang, bukannya belajar dari teguran Nabi Musa, mereka malah terus berusaha mencari Tuhan selain Allah SWT. Saat Musa AS pergi ke gunung Sinai untuk menerima wahyu, kaumnya malah membuat patung anak sapi yang serupa dengan salah satu dewi pagan Mesir, Hathor.  Setelah selasai dibuat mereka pun bersuka ria, menari berputar-putar dan melampiaskan hawa nafsu mereka.  Akibat perbuatan dosa tersebut, Bani Israil pun selama bertahun-tahun hidup dalam penindasan bangsa-bangsa penyembah berhala seperti Assyiria, Babylonia dan Persia.  Kehidupan mereka menjadi berat dan mengenaskan, lebih dari saat ditindas Firaun di Mesir.  Mereka pun makin jauh tenggelam dalam kesesatan sehingga makin banyak diantara mereka yang menekuni dan mendalami ilmu-ilmu sihir.

Saat Nabi Sulaiman berkuasa sebagai seorang Raja, beliau melarang segala macam bentuk sihir.  Semua kitab sihir disita dan dikuburkan di bawah singgasana beliau sehingga jika ada setan dari golongan jin yang ingin mengambilnya, dia akan mati terbakar.  Selain faktor mukjizat, singgsana yang setiap hari diduduki Nabi Sulaiman tentu mengalami interaksi energi dengan pemiliknya.  Vibrasi energi di singgasana tersebut dan di ruangan tempatnya berada tentu tidak akan kondusif bagi makhluk-makhluk jahat bervibrasi energi rendah seperti jin.  Namun, sesudah Nabi Sulaiman wafat, para tukang sihir di kalangan Bani Israil dengan bantuan kaum jin, bisa mengambil kembali catatan-catatan sihir tersebut dan mengembangkan ilmu sihir di kalangan mereka.  Sihir warisan bangsa Mesir Kuno tersebut dikembangkan sehingga menjadi cikal bakal ajaran Kabbalah, ajaran mistik kaum Bani Israil, yang hingga kini masih dipelajari sebagian kaum Yahudi.  

Bersambung

Minggu, 22 Mei 2011

[Renungan] Indonesia vs Bani Israil

Survey Indobarometer mengindikasikan bahwa sebagian, mungkin sebagian besar masyarakat, menginginkan kembalinya orde baru.  Mereka mengingkan kehidupan yang relatif mudah untuk mendapatkan sandang pangan, yang penting dapur ngebul.  Keinginan tersebut dapat dipahami dengan baik, masyarakat memang sudah muak dengan kehidupan pasca reformasi yang tak kunjung memberi mereka kesejahteraan material yang baik.  Harga-harga terus merambat naik sehingga masyarakat, terutama yang miskin, seakan tak bisa berhenti mengencangkan ikat pinggang.  

Namun, banyak yang lupa atau pura-pura lupa bahwa kesuksesan pembangunan ekonomi di era orde baru sesungguhnya adalah sesuatu yang semu.  Ekonomi berbasis utang luar negeri yang sebanarnya merupakan bom waktu yang bisa meledak setiap saat.  Tumpukan mesiu itu pun meledak saat Indonesia dihantam krisis ekonomi tahun 1997.  Nilai tukar dollar pun melonjak gila-gilaan sampai belasan ribu rupiah per dollar.  Akhirnya, proyek-proyek pembangunan pun mandeg serta banyak orang kehilangan pekerjaan.  Kerusuhan Mei 1998, walaupun oleh banyak pihak dituding sebagai rekayasa Orde Baru untuk bertahan, hakikatnya adalah ledakan dari akumulasi kekecewaan masyarakat atas kemiskinan mereka selama berada di lapisan bawah.  Jadi, klaim bahwa Orde Baru menyejahterakan masyarakat adalah kebohongan belaka.  Kerusakan moral dan akhlaq serta kemiskinan saat ini adalah stadium lanjutan dari kebobrokan dan kebohongan di era Orde Baru.   

Keinginan sebagian masyarakat untuk kembali ke era Orde Baru mengingatkan kita akan tingkah bani Israil yang justru ingin kembali kepada Firaun di Mesir Kuno.  Walaupun mereka sudah lepas dari perbudakan oleh Firaun, namun ternyata jiwa mereka belum lepas dari perbudakan oleh diri mereka sendiri.  Kehidupan di gurun pasir yang berat itu malah melemahkan jiwa mereka, bukan memperkuat.  Padahal, kemerdekaan dan kebabasan mereka dari perbudakan Firaun adalah anugerah besar yang tidak terhingga dari Allah SWT kepada Bani Israil.  

Allah SWT pun telah menganugerahi mereka dengan makanan berupa Manna dan Salwa, sebagaimana tersebut dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat (57) Dan telah Kami teduhi atas kamu dengan awan dan telah Kami turunkan kepada kamu manna dan salwa. Makanlah dari  yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kamu. Dan tidaklah mereka yang menganiaya Kami, akan tetapi adalah mereka menganiaya diri mereka sendiri.  Namun, nikmat Allah SWT berupa makanan Manna dan Salwa tidak juga memuaskan hawa nafsu rendah mereka yang cenderung pada kesenangan dunia.  Mereka merindukan kehidupan di Mesir Kuno, yang walaupun diperbudak, namun cukup terjamin sandang pagannya.  "Dan (ingatlah) seketika kamu berkata : Wahai Musa, tidakiah kami akan tahan atas makanan hanya semacam. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya dikeluarkan untuk kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, dari sayur-sayurannya, dan mentimunnya, dan bawang putihnya, dan kacangnya dan bawang-merahnya. Berkata dia : Adakah hendak kamu tukar yang amat hina dengan yang amat baik ? Pergilah ke satu kota besar, maka sesungguh­nYa di sana akan dapatlah apa yang kamu minta itu ! Dan dipukulkanlah atas mereka kehinaaan dan kerendahan, dan sudah layaklah mereka ­ditimpa kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu ialah karena mereka kufur kepada perintah- perintah Allah dan mereka bunuh Nabi-nabi dengan tidak patut. Yang demikian itu ialah karena mereka telah durhaka dan mereka telah melewati batas." Surat Al Baqarah ayat 60.  Tafsir ayat-ayat tersebut dapat dilihat di situs Tafsir Al Azhar

Kini, sejarah kelam Bani Israil terulang lagi pada bangsa dengan umat Islam terbanyak di dunia, Indonesia.  Orang-orang yang lebih rela diperbudak asal perutnya kenyang dan hidupnya nyaman daripada menderita dalam perjuangan menegakkan kebenaran. George Santayana, seorang filsuf pernah mengatakan "Those who forget the past are condemned to repeat it".  Bung Karno pun mencanangkan semboyan Jas Merah yang artinya "Jangan sekali-kali melupakan sejarah".  Sejarah bukanlah untuk dilupakan tapi juga bukan untuk menghantui kehidupan kita saat ini. Sejarah adalah pelajaran yang harus dipetik hikmahnya, bukan sekedar dihafalkan atau dijadikan monumen bisu tidak bisa berbicara.

Hadits yang diucapkan beberapa abad yang lalu oleh Rasulullah SAW pun terbukti kebenarannya. Umat Islam, termasuk di Indonesia, kini bagaikan hidangan di atas meja makan.  Musuh-musuh mereka siap menyerbu dari berbagai arah.  Penyakit Bani Israil berabad-abad yang lalu kini menjangkiti umat Islam Indonesia, cinta dunia takut pada kematian.  Dan penyakit itu pun melemahkan umat yang seharusnya mengemban amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi.  Padahal Allah sWT telah mengingatkan kepada kaum Bani Israil dan juga kita semua agar senantiasa bersyukur.  "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim:7).  

Lawan dari syukur adalah kufur, meskipun tidak selalu berarti sudah keluar dari agama Islam.  Bisa jadi, kita pun meruapakan bagian dari orang-orang yang tidak bersyukur, yang merupakan kezaliman.  Sebagaimana nabi Yunus berdoa saat berada dalam perut ikan besar yang menelannya, begitu pulalah kita harus kembali kepada Allah SWT mengakui keslaahan dan kezaliman kita selama ini dan kembali ke jalan yang diridhoiNya.  “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88),   

Astaghifirullahal Adzim.  

Referensi

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8434738

http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3224-mustajabnya-doa-dzun-nuun-nabi-yunus.html

http://tafsiralazhar.net46.net/myfile/S-Al-Baqoroh/al-baqoroh_ayat_57-61.htm