Tampilkan postingan dengan label diplomatik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diplomatik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juli 2008

[ARTIKEL] “Jeratan” Neoliberalisme

Rating:★★★★★
Category:Other
Oleh : Elfitra Baikoeni






Ibu, aku tidak punya data komplit
tentang ketidakadilan

Hanya mataku terpaku di hingar jalan raya aspalan
Kendaraan bikinan jepang itali amerika laju
Tetapi abang-abang becak disingkirkan

oleh kebijaksanaan pembangunan, Ibu.



( Wiji Thukul, dalam “Kepada Ibu” )






“Jeratan” Neoliberalisme

Setelah mengalami krisis ekonomi sejak tahun 1998, sampai saat sekarang nampaknya perekonomian kita belum juga pulih seperti sediakala. Setelah berkali-kali berganti presiden, kita masih juga dililit berbagai persoalan seperti tingginya angka pengangguran dan makin meluasnya kemiskinan, inilah bukti bahwa perekonomian kita yang belum juga benar-benar stabil.

Terlepas dari kompleksnya masalah yang terjadi, sebagian masyarakat nampak kecewa dan menilai kinerja dari pemerintah jauh dari harapan. Menurut hemat penulis, faktor utama yang menyebabkan terasa lambannya kinerja pemerintah dalam mengatasi krisis adalah tidak adanya keleluasaan (kemandirian) pemerintah untuk mengambil keputusan (decision making) terhadap persoalan itu terutama yang menyangkut keputusan sosio-ekonomi yang penting. Berbagai kebijakan ekonomi yang akan diambil pemerintah harus disesuaikan dan mendapat “persetujuan” dari lembaga ekonomi internasional seperti IMF dan Bank Dunia.

Indonesia sebagaimana negara-negara dunia ketiga miskin lainnya sudah “terjerat” pada sejumlah perjanjian yang dibuat negara-negara industri maju dalam sebuah ideologi ekonomi yang disebut pasar bebas, globalisasi atau lebih tepatnya neoliberalisme. Seperti yang kita tahu bersama, sejak lama negara kita dalam membangun dan membiayai dirinya tergantung kepada utang dan pinjaman luar negeri yang berasal dari lembaga-lembaga keuangan tersebut.



Neoliberalisme dan Sistem dan Cara Kerjanya

Untuk memahami pengertian umum, neoliberalisme dapat diartikan sebagai cara-cara untuk mengusahakan agar perdagangan antar bangsa menjadi lebih mudah. Maksudnya, mengusahakan barang-barang, sumber daya dan perusahaan-perusahaan lebih bebas bergerak, dalam upaya mendapatkan sumber daya yang lebih mudah, untuk memaksimalkan keuntungan dan efesiensi. (Pradana, 2005 ; Setiawan, 2006).

Adapaun yang menjadi prinsip-prinsip dasar dari pelaksanaan neoliberalisme (Martinez dan Garcia, 1997), adalah sebagai berikut :

1. Aturan Pasar

Membebaskan perusahaan-perusahaan swasta dari setiap keterikatan yang dipaksakan pemerintah. Keterbukaan sebesar-besarnya atas perdagangan internasional dan investasi. Mengurangi upah buruh lewat pelemahan serikat buruh dan penghapusan hak-hak buruh. Tidak ada lagi kontrol harga, sepenuhnya kebebasan total dari gerak modal, barang dan jasa.

2. Memotong Pengeluaran Publik untuk Pelayanan Sosial

Ini ditujukan seperti terhadap sektor pendidikan dan kesehatan, pengurangan anggaran untuk 'jaring pengaman' untuk orang miskin, dan sering juga pengurangan anggaran untuk infrastruktur publik, seperti jalan, jembatan, air bersih, ini juga guna mengurangi peran pemerintah. Di lain pihak mereka tidak menentang adanya subsidi dan manfaat pajak (tax benefits) untuk kalangan bisnis.

3. Deregulasi

Mengurangi paraturan-peraturan dari pemerintah yang bisa mengurangi keuntungan pengusaha (swasta).

4. Privatisasi

Menjual BUMN-BUMN di bidang barang dan jasa kepada investor swasta. Termasuk bank-bank, industri strategis, jalan raya, jalan tol, listrik, sekolah, rumah sakit, bahkan juga air minum. Selalu dengan alasan demi efisiensi yang lebih besar, yang nyatanya berakibat pada pemusatan kekayaan ke dalam sedikit orang dan membuat publik membayar lebih banyak.

5. Menghapus Konsep Barang Publik

Menggantinya dengan “tanggungjawab individual”, yaitu menekankan rakyat miskin untuk mencari sendiri solusinya atas tidak tersedianya perawatan kesehatan, pendidikan, jaminan sosial dan lain-lain; dan menyalahkan mereka atas kemalasannya.

Kalau kita cermati pengertian dan cara kerja dari sistem ekonomi neoliberalisme saat ini, ternyata telah begitu jauh menyimpang dari pemikiran ekonomi liberal klasik. Landasan dasar pemikiran ekonomi liberalisme klasik adalah gagasan anti naturalistik tentang pasar dan kompetisi. Konsep pasar (market) dilihat sebagai salah satu dari berbagai macam model hubungan sosial bentukan manusia.

Pasar bukanlah suatu gejala alami seperti gempa bumi atau musim semi, misalnya. Dalam gejala alami tersebut, bahkan seandainya tidak ada manusia sekalipun hukum-hukum alami itu akan tetap berlaku. Oleh karena pasar bukanlah gejala alami, maka pasar dapat diciptakan dan dibatalkan menurut desain dari kehendak manusia. Tidak ada ekonomi yang terpisah dari politik, sebagaimana tidak ada politik yang terlepas dari ekonomi, sehingga kinerja pasar juga membutuhkan adanya tindakan-tindakan “politik” yang bertugas menciptakan sederet kondisi bagi beroperasinya keadilan dan kompetitif (Pradana, 2005).



Kemiskinan dalam Realita Masyarakat Kita

Kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat kita kebanyakan adalah kemiskinan yang terjadi akibat kebijakan dan sistem ekonomi yang diterapkan pemerintah tidak mampu menyediakan atau mendorong terciptanya lapangan kerja yang layak dan memadai, jadi gejala kemiskinannya bersifat struktural. Menurut Soemardjan (1980) kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat yang karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka.

Prinsip ekonomi pasar bebas secara terang-terangan menolak campur tangan negara, dengan demikian pasar dengan bebas dikendalikan oleh pemilik modal. Sudah bisa diramalkan bahwa kelas bawah, kelompok miskin dan kaum buruh akan dieksploitasi dan nasibnya sangat tergantung kepada kekuasaan kelompok kapitalis

Peran negara sebagai regulator dihilangkan menjadi semata-mata penyedia infrastruktur bagi berputarnya roda-roda perekonomian. Pengeluaran negara untuk subsidi kebutuhan dasar masyarakat dipangkas seperti pendidikan, kesehatan, dan pertanian, menyebabkan beban yang ditanggung kelompok menengah-bawah semakin berat untuk dipikul. Sebagai contoh, dengan dihapuskannya subsidi pupuk dan pestisida bagi petani, menyebabkan biaya yang dikeluarkan tidak lagi sebanding dengan hasil panen yang mereka peroleh.

Belum lagi kebutuhan bagi biaya sekolah anak-anak yang meningkat, menyebabkan jutaan petani kita di perdesaan mengalami penurunan mutu kehidupan atau meningkatnya kemiskinan. Dalam kondisi yang demikian para petani yang hidup dengan pola subsistensi (produsen), lalu berubah menjadi massa konsumsi (konsumen) dan akhirnya membutuhkan barang-barang dan produk impor dari negara-negara maju.

Peran dan tanggung jawab pemerintah untuk layanan pendidikan masyarakat dihilangkan, bukan hanya berdampak semakin tidak terjangkaunya pendidikan bagi orang miskin, tetapi menyebabkan secara permanen pendidikan beralih menjadi lahan baru untuk digarap oleh kaum kapitalis. Penerapan status BHMN di sejumlah PTN menyebabkan kian tingginya biaya kuliah dan semakin tersingkirnya orang miskin dari peradaban dan kemajuan. Di daerah perkotaan, sudah sejak lama adanya keluhan akan gejala komersialisasi pendidikan dengan tinggi tarifnya uang masuk SD, SLTP dan SLTA. Sebuah perubahan dan fenomena ironis dalam dunia pendidikan yang terjadi saat ini, bila dibandingkan dengan zaman Orde Baru, yang justru pernah gencar-gencarnya dengan program “wajib belajar”. Penyelenggaraan pendidikan swasta telah bergeser dari tujuan mencerdaskan bangsa menjadi prilaku bisnis yang mencari keuntungan.

Kebijakan deregulasi dan privatisasi oleh negara-negara dunia ketiga tidak lain bertujuan agar negara-negara maju ikut ambil bagian (investasi dari kelebihan modal yang dimiliki) memperoleh keuntungan. Pada era pemerintahan sebelumnya (Megawati), dengan alasan efesiensi sejumlah BUMN “dilego” kepada investor asing, termasuk diantaranya perusahaan yang mengatur hajat hidup pokok rakyat, seperti listrik, air bersih, telekomunikasi, dan pabrik semen. ***

BAHAN BACAAN :



Alfian (et.al). 1980. Kemiskinan Struktural; Sebuah Bunga Rampai. Jakarta : Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial.

Budiman, Arief. 1990. Sistem Perekonomian Pancasila dan Ideologi Ilmu Sosial di Indonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Gorz, Andre. 2005. Anarki Kapitalisme. Yogyakarta : Resist Book.

Hasan, M. Fadhil. Refleksi: “Masalah Pengangguran dan Kemiskinan”. Jurnal Bisnis & Ekonomi Politik. Volume 7, No. 1 Januari 2006. Jakarta : INDEF.

Martinez, Elizabeth dan Arnoldo Garcia, “What is Neo-Liberalism?”, Third World Resurgence No. 99/1998.

Petras, James. 2004. Jalan Ketiga ; Mitos dan Realitas. Jakarta : IGJ dan Lembaga Pembebasan.

Pradana, Rifky. 2005. “Neo-Liberalisme, Siapakah Dia?”. www.kau.or.id/file/artikel. Diakses tanggal 1 Juli 2006.

Prasetyo, Eko. 2005. Orang Miskin Tanpa Subsidi. Yogyakarta : Resist Book.

Remi, Sutyastie Soemitro. “Korelasi Pembangunan Ekonomi, Manusia, dan Kemiskinan di Indonesia”. Jurnal Bisnis & Ekonomi Politik. Volume 7, No. 1 Januari 2006. Jakarta : INDEF.
Setiawan, Bonnie. 2006. “Ekonomi Pasar Yang Neo-Liberalistik Versus Ekonomi Berkeadilan Sosial”. Makalah diskusi publik Forum Komunikasi Partai Politik dan Politisi untuk Reformasi. Tanggal 12 Juni 2006 di DPR-RI Jakarta.

Shah, Anup. 2001. “Kepentingan Utama Globalisasi”. dalam Neoliberalisme : Memimpikan Penghisapan Tak Henti-Hentinya. Jakarta : IGJ dan Lembaga Pembebasan.

Sumber: http://elfitra.multiply.com/journal/item/13

Minggu, 13 April 2008

Ngapain sih mikirin Palestina, wong hidup kita sekarang aja udah susah?

Berikut ini adalah dialog dua orang anak manusia mengenai masalah Palestina.  Dialog fiktif adalah karangan saya sendiri tetapi mungkin bisa memberi kita inspirasi dalam mendakwahkan masalah Palestina.  

Tanya: Ngapain sih mikirin Palestina, wong hidup kita sekarang aja udah susah?

Jawab: Justru hidup kita jadi susah karena kita tidak memikirkan Palestina.

Tanya: Lho, koq gitu?

Jawab: Iya, pemberi rezeki yang sesungguhnya adalah Alloh SWT.  Mulai dari kutu samapai gajah rezekinya dijamin Alloh SWT.  Khusus manusia, Alloh SWT memberi rezeki melalui sesama manusia.  Coba kita renungkan, Bukankah kita selama ini mendapat segala keperluan kita dari orang lain? Bukankah kita lahir dari rahim Ibu kita yang juga seorang manusia.  Bukankah kita menerima pendidikan dari orang tua dan guru-guru kita yang juga manusia? Bukankah kita juga menerima rezeki melalui sesama manusia (boss, klien, pembeli, dsb)?  Maka, sudah sepantasnya kita memberi bantuan kepada sesama manusia semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita.  Rakyat Palestina juga manusia kan?

Tanya: Terus gimana bantuan pihak Palestina, apa kita harus berangkat perang ke sana? Kita kan punya pekerjaan dan tanggung jawab lainnya di sini.

Jawab: Kalo mas mampu silahkan.  Tetapi masalahnya sudah siap belum, kita kan orang-orang sipil yang tidak terlatih untuk berperang.  Jangankan perang, olah raga aja jarang, padahal Rasulullah sudah menegaskan bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Alloh SWT daripada mukmin yang lemah.  Bukan tidak mungkin apabila kita nekat pergi ke sana, kita bukan terbunuh oleh tentara musuh tetapi malah meninggal karena sakit.  

Belum lagi masalah penggunaan senjata dan bahan peledak.  Para pejuang Palestina kan enggak punya waktu buat melatih kita menggunakan senjata, nanti kita malah menyusahkan dan membuat mereka repot.

Masalah pekerjaan dan tanggung jawab tidak perlu dipertentangkan dengan kepedulian pada masalah Palestina.  Bahkan kita harus punya pekerjaan atau penghasilan supaya bisa menyumbang dana untuk mereka.  

Tanya: Masak harus nyumbang dana segala, gaji sebulan kan enggak seberapa?

Jawab: Yuk kita jujur deh, apakah pengaturan keuangan kita sudah benar-benar baik? Jangan-jangan gaji kita sebulan habisa gara-gara pengeluaran yang enggak perlu, misalnya hiburan-hiburan berlebihan.  Justru kita harus lebih produktif bekerja karena kita memikirkan Palestina.  Kalau perlu, kita harus punya usaha sendiri sebagai tambahan agar kita bisa membantu mereka.  Benar enggak sih kita selama ini sudah bekerja keras, cerdas dan ikhlas serta berusaha memaksimalkan segala potensi dan kemampuan yang kita miliki?

Tanya: Terus mesti dikirim lewat mana? Kasih langsung?

Jawab: Ya enggak dong, memangnya Mas punya kenalan di sana? Kan ada lembaga-lembaga yang bisa kita percaya untuk mengelola dana amanah kita agar sampai ke tangan yang berhak.

Tanya: Mas, saya dengar para pejuang Palestina berjuang dengan bom bunuh diri, kog gitu? Bukankah bunuh diri dilarang dalam Islam.

Jawab: Bunuh diri memang dilarang dalam Islam.  Islam mewajiblan para pemeluknya menyikapi ujian di dunia ini dengan sikap terbaik mereka sesuai dengan petunjuk Al Qur'an dan Sunnah.  Namun, di Palestina, keadaan sudah sedemikian gawat sehingga tidak ada cara lain kecuali dengan bom tersebut.  Insya Alloh mereka tidak melakukan bunuh diiri tetapi syahid dijalan Alloh.  Bahkan bisa jadi kitalah yang menanggung dosa dari penggunaan bom-bom tersebut.

Tanya: Haaaaaaaaaaaaah????!!!!! Mereka yang ngebom koq kita yang dosa????!!! Enak aja!!!!!!!!!!!!*@#!

Jawab: Saya bilang kan mungkin, jadi belum pasti, mudah-mudahan enggak.  Saya tadi bilang bahwa di Palestina keadaannya sudah sampai tinggkat darurat bahkan mungkin gawat darurat sehingga tidak ada pilihan lain kecuali menggunakan bom.  Keadaan seperti itu seharusnya tidak perlu terjadi atau minimal tidak samapai tingkat perjuangan menggggunakan bom bila saudara-saudara mereka peduli.  Peduli yang dimaksud di sini bukan cuma sekedar peduli namun harus sampai pada tingkat tindakan.  

Kita harus meneladani Umar Bin Khattab yang memanggul sendiri gandum untuk rakyatnya yang kelaparan.  Pada saat seorang pembantunya menawarkan diri untuk mengangkut karung gandum tersebut, Umar menolak dan bertanya "Apakah engkau mau menanggung dosaku di akhirat nanti?".   

Ibarat orang sakit, kalau penyakitnya sejak awal bisa didiagnosa, maka tidak perlu ada operasi atau tindakan sejenisnya.  Cukup minum obat atau diterapi saja.  Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kaum Muslimin adalah bagaikan satu tubuh, bila satu bagian sakit, yang lain juga ikut merasakan sakit.

Tanya: Mas, tetapi kalo caranya begitu, bukankah ada penduduk sipil Israel yang kena bom? Bukankah RAsulullah SAW sendiri melarang pasukan Muslim membunuh orang-orang sipil, menebang pepohonan, merusak bangunan dll?

Jawab: Benar sekali mas, Rasulullah SAW memang melarang pasukan Muslim membunuh orang-orang sipil.  Bahkan para rahib dan pendeta juga tidak boleh dibunuh.  Hanya para combatan atau prajurit perang yang melawan saja yang harus dibunuh.  Namun, dalam hal ini masalahnya berbeda.  Tidak ada orang Israel yang warga sipil.  Mereka semuanya tentara, walaupun punya pekerjaan lain seperti kita.  Mereka punya kewajiban militer dan juga dilatih berperang seperti pasukan perang.  

Coba bandingkan dengan kita, jangankan latihan kemiliteran, olah raga saja kita jarang.  Sehingga, tidak perlu menunggu kedatangan musuh, tanpa berperang saja kita sudah tumbang oleh macam-macam penyakit mulai dari masuk angin samapai diabetes, jantung koroner, stroke dan sebagainya.

Tanya: Terus bagaimana dengan di Indonesia sendiri.  Kan masih banyak orang miskin serta masalah-masalah lainnya. Bukankah kita lebih baik memikirkan masalah yang ada di negara kita dulu?

Jawab: Justru masalah Palestina yang harus kita pikirkan.  Kalo masalah yang ada di negara kita bukan untuk dipikiran tetapi dicari jalan keluarnya dengan karya nyata.  Think globally act locally, berpikir global dan bertindak pada masalah-masalah lokal.  Lagipula, benar enggak sih kita memikirkan masalah-maslaah yang ada di negara ini? Jangan-jangan ini cuma alasan untuk lepas tanggung jawab saja.  Mungkin kita selama ini hanya bersenang-senang menikmati hidup tanpa peduli pada lingkungan sekitar kita.

Masalah Palestina justru akan memotivasi kita untuk bergerak dan bertindak mengatasi masalah-masalah yang ada di negeri ini. Usaha kita mengatasi masalah-masalah di negeri ini adalah  jalan yang kita rintis agar kita atau generasi sesudah kita mampu mengatasi masalah-masalah yang terjadi di Palestina.

Tanya: Mas, teman saya ada yang ingin sekali berangkat berjuang ke Palestina.  Apa yang harus Saya sarankan?

Jawab: sarankan pada teman anda agar bersiap sedia untuk berangkat ke sana.  Jangan sampai saat ada kesempatan dia malah lagi sakit sehigga tidak bisa berangkat.  Berangkat ataut idak, latihan yang dia lakukan sudah menjadi amal sholeh yang bisa jadi bekal dia di akhirat nanti.  Kita semua seharusnya selalu bersiap diri untuk berjihad di jalan Alloh. Jadi berangkat atau tidak, persiapan itu sendiri sudah jadi amal sholeh dan tambahan bekal bagi kita di akhirat nanti.

Semoga bermanfaat, Insya Alloh lain kali kita sambung lagi

Senin, 31 Maret 2008

Hati - hati terhadap pemutusan hubungan diplomatik


Penyebaran dan penayangan filem FITNA di internet menyebabkan reaksi keras dari umat Islam di seluruh dunia.  Suatu reaksi yang sudah bisa diperkirakan sebelumnya.

Namun, ternyata ada juga orang-orang yang menuntut pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda.  Sebagai suatu reaksi atas penghinaan dan pelecehan terhadap agama yang mereka yakini, kita bisa memahami.  Namun, apabila pemutusan itu benar-benar dilakukan, maka yang harus kita pertimbangkan adalah kaum muslimin yang ada di negara tersebut.  Dukungan terhadap mereka akan terputus dan bantuan sulit diberikan sehingga mereka merasa sendiri di tengah masyarakat yang terpengaruh propaganda murahan tersebut.  Bukan tidak mungkin mereka merasa dikhianati saudara-saudara sesama muslim sehingga meninggalkan keyakinan agama mereka alias murtad.  Kalau begitu, siapa yang salah?
 
Kalau saya tidak salah, Rasulullah pernah berpesan agar kita tidak membantu setan menyesatkan saudara-saudara kita.  Itu artinya kita harus berhati-hati dalam bertindak agar tidak menghasilkan akibat yang lebih jelek dari pelecehan dan penghinaan itu sendiri. 

Sudah waktunya kita semua sebagai ummat Islam di negeri berpenduduk muslim terbanyak di dunia  menyikapi pelecehan dan penghinaan yang tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat ini dengan sikap lebih proporsional berbekal ilmu dan amal sholeh.  Tidak terlalu keras dan emosional tetapi juga tidak hanya dengan diam dan adem ayem, sehingga termasuk sikap dayyuts (tidak punya rasa cemburu dan solidaritas) sehingga kita jadi termasuk orang-orang yang tidak pantas menghirup aroma Syurga, padahal aroma tersebut bisa dirasakan dari jarak 500 tahun perjalanan (kalau saya tidak salah haditsnya seperti itu).  Nauzubillah

Semoga bermanfaat