Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2011

[Motivasi] Kisah penjual Es Podeng

Cuaca panas siang tadi membuat saya mampir ke seorang penjual es podeng dekat warnet.  Kebetulan, saat menikmati segarnya es tersebut, ada orang yang mengajak si penjual ngobrol.  Si penanya rupanya ingin tahu bagaimana suka duka dan pengalaman si bapak menjual es podeng.

"Saya belajar sama boss es, dia punya counter es di berbagai mall.  Saya dapat ilmu dari bapak saja sudah hutang budi besar pak.  Mau minta modal sama istri gak enak, sama mertua juga gak enak.  Jadi adanya motor ya saya jual." katanya.  "Saya sampai tahu es mana yang benar-benar pakai gula, mana yang cuma mau untung gede.  Kalau cuma mau untung doang bisa, tapi kan kita punya pelanggan" tambah si penjual es itu.

Dahulu, sebelum punya langganan bapak penjual es podeng itu seringkali hanya mendapt sedikit keuntungan.  Pernah seharian jualan, bahakan sampai jam 8 malam, hanya dapat 25 ribu.  Namun, karena sudah punya langganan, sehari gak jualan saja bisa dihubungi terus menerus via telepon dan sms.  Dahulu pernah jualan di blok M, namun keutnungan berkurang karena kontrak naik, di Pluit dan tanah kusir malah diusir tukang es kelapa.  Mungkin mereka tidak suka da saingan.  

"Sempat nganggur 8 bulan saya" kata si bapak.  Saya pun ikut mengangguk2 saja saat mendengar penjelasan si penjual es tersebut.  Ternyata, di balik  kesederhanaan dan kebersahajaan si bapak, ada semangat juang yang luar biasa. Layak diteladani oleh semua orang yang masih produktif.  Semoga saya dan siapapun yang membaca tulisan bisa meneladaninya, aamiin 

Sabtu, 12 November 2011

yang namanya Lela boleh makan gratis

Mungkin jika diantara pembaca tulisan ini ada yang namanya Lela bakal langsung kegirangan.  Gimana tidak, jika di suatu restoran, orang dengan nama Lela boleh makan gratis. Tapi jangan senang dulu sebab yang punya restoran bukan saya.  Jika berminat, cek aja langsung di website-nya Restoran Pecel Lele Lela.  

Yang bilang bahwa yang namanya Lela boleh makan gratis adalah pemilik restoran itu sendiri, pak Rangga Umara.  Saat ditanya oleh Andi F. Noya dalam acara Kick Andy beberapa waktu yang lalu, apakah gratisnya pas makan siang atau malam? pak Rangga bilang makan 3x sehari pun tetap gratis asal namanya Lela.  Pak Andi Noya pun langsung mengecek apakah yang hadir ada yang namanya Lela.  Ternyata ada beberapa orang. Mereka pun langsung dapat souvenir dari pak Rangga.   

Sepintas mungkin strategi ini terkesan bunuh diri.  Bagaimana tidak, hanya dengan nama tertentu saja, itu pun pemberian orang tua yang melahirkan, bisa makan gratis tanpa bayar.  Namun, setelah dipikir-pikir benar juga.  Orang Indonesia seringkali lebih suka makan bareng-bareng teman-teman yang sudah akrab.  Sambil makan, biasanya ada saja hal yang diobrolkan, mulai dari pekerjaan kantor, persiapan baksos dan kegiatan sosial atau sekedar menggosipkan artis.  Dengan pertimbangan demikian, maka orang-orang yang bernama Lela kemungkinan besar tidak datang sendiri.  Orang-orang itu akan datang bersama teman-temannya, keluarganya atau rekan-rekan seprofesinya.  Nah, yang gratis kan hanya si Lela, yang lain tentu saja harus bayar.   Sehingga, entah sadar atau tidak, si Lela telah menjadi seorang marketer handal bagi restoran itu.  Anggap saja makan gratis si Lela itu sebagai marketing fee yang memang harus dikeluarkan sebuah restoran atau perusahaan apapun.

Hal lain yang sebelumnya tidak terpikirkan adalah sifat manusia itu sendiri.  Manusia adalah makhluk yang punya rasa bosan dan rasa malu.  Anggaplah si Lela ini memang penggemar berat pecel lele.  Namun, seberapapun gemarnya si Lela ini sama pecel lele, pasti ada bosannya juga.  Tentu sangat manusiawi jika orang ingin adanya variasi dan perubahan dalam hidup. Termasuk juga dalam urusan makanan.  Walaupun makanan favorit, jika tiap hari ketemu pasti ada bosannya juga.  Bisa saja si Lela ini lagi bosan sama pecel lele lalu beralih ke kebab, burger atau ayam bakar.  Yang tidak kalah pentingnya juga adalah rasa malu.  Mentang-mentang boleh gratis, masak gak malu sih datang terus menerus ke tempat yang sama buat makan? Kedua aspek inilah yang mungkin telah diperhitungkan terlebih dahulu oleh manajemen Restoran Pecel Lele Lela sebelum memutuskan menggunakan strategi pemasaran yang tidak biasa itu.  

Tulisan ini sekedar ingin berbagi pemikiran dan memuaskan rasa penasaran saja.  Buat yang mau baca silakan, gratis dan tidak dipungut bayaran.  Walaupun namanya bukan Lela.  
 
Semoga bermanfaat 

Senin, 09 Agustus 2010

[Sosial] Tangan Kecil dan Sekerat Daging

Hari telah malam saat saya berjalan di sebuah jalan yang banyak dipenuhi penjual makanan dan minuman. Saat melewati seorang pedagang kebab, saya memutuskan untuk makan di sana. Pada saat si pedagang sedang mempersiapkan makanan pesanan saya, tiba-tiba beberapa anak-anak lewat di sana. Beberapa diantara mereka berkerumun dekat si penjual kebab. Tiba-tiba, sebuah tangan mungil terulur dan mengambil sekerat daging yang sedang dipersiapkan si penjual. Rupanya, daging lezat nan berasap itu membuat si anak tidak bisa menahan diri. Suatu kelezatan yang menggoda siapapun yang melihat dan mencium aromanya. Anak-anak yang lain, sambil bercanda, berseru pada si pengambil daging dan menyuruhnya mengembalikan keratan tersebut. Apalagi ditambah teguran keras si penjual sehingga nyali anak itu menciut dan terpaksa mengambilkan keratan daging yang diambilnya. Lalu, dia bergabung kembali dengan teman-temannya dan pergi sambil bercanda ria, menghibur hati yang kecewa karena gagal merasakan sedikit kelezatan duniawi yang menawan itu.

Teringat kembali akan kuliah kerelawanan yang pernah disampaikan  Pak Ahyudin, Presiden ACT, tentang orang-orang di beberapa daerah yang terserang gizi buruk. Apabila kita makan coklat di daerah tersebut, bungkus bekas coklat itu akan jadi rebutan anak-anak. Demikian pula makanan lainnya. Fenomena ini sangat membahayakan. Bisa menjadi ancaman loss generation. Sebuah taruhan bagi harga diri dan eksistensi masa depan bangsa. Apalagi jumlah masyarakat miskin saat ini sangat banyak, tidak kurang dari 60 juta jiwa. Sementara penderita gizi buruk sudah mencapai 13 juta jiwa (WFP, dikutip dari artikel di situs ACT).

Sekelebat kejadian yang mungkin terlihat biasa bagi kebanyakan manusia. Seorang anak miskin yang mengambil makanan yang bukan haknya karena terdorong rasa lapar dan tekanan ekonomi.

Hidup telah menjadi sedemikan berat bagi sebagian besar anak bangsa penghuni zamrud katulistwa ini. Rentangan pulau-pulau yang dipenuhi hasil bumi melimpah dan tanah pertanian nan subur ternyata dihuni jutaan orang miskin yang harus mengerat sisa-sisa peradaban. Peradaban yang sama dengan peradaban yang memanjakan segelintir orang berduit dengan kemewahan, pemborosan dan ketidakpedulian.

Betapa sejarah menunjukkan bahwa manusia hampir tidak pernah belajar dari sejarah itu sendiri. Begitu banyak peristiwa-peristiwa mengerikan, yang berawal dari ketiadaan empati pada sesama, hanya menjadi catatan tanpa ruh yang menggugah dan menggentarkan. Begitu banyak darah yang tertumpah sia-sia seraya membentuk catatan hitam berbau anyir tentang penindasan manusia atas sesamanya. Baik dalam bentuk penjajahan atas bangsa lain maupun penindasan terhadap bangsa sendiri. Revolusi Prancis hanya salah satu diantara kejadian-kejadian tersebut, termasuk juga kerusuhan bulan Mei 1998, seakan lenyap dari ingatan. Sebagaimana lenyapnya rasa kepedulian dan empati pada sesama.

Entah kapan manusia akan menyadari bahwa bisa jadi sebagian bear orang lain adalah anugerah baginya. Sesama manusia adalah kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk menambah timbangan amal kebaikan di akhirat dan energi positif keberuntungan di dunia. Tidak selalu sebagai lawan yang harus dibenci atau musuh yang harus dimusnahkan.

Mungkinkah kita perlu mengikuti saran Om Ebiet G. Ade, yaitu bertanya pada rumput yang bergoyang.

Mungkin Tuhan mulai bosan
melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Semoga bermanfaat

Mari kita jadikan momentum Ramadhan 2010 ini sebagai momen pembentukan pribadi dan pengembangan kepedulian pada sesama. Mohon dimaafkan atas segala kekurangan dan kekhilafan yang terjadi atas kelemahan saya sebagai manusia biasa.