Tampilkan postingan dengan label daging. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daging. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Agustus 2010

[Sosial] Tangan Kecil dan Sekerat Daging

Hari telah malam saat saya berjalan di sebuah jalan yang banyak dipenuhi penjual makanan dan minuman. Saat melewati seorang pedagang kebab, saya memutuskan untuk makan di sana. Pada saat si pedagang sedang mempersiapkan makanan pesanan saya, tiba-tiba beberapa anak-anak lewat di sana. Beberapa diantara mereka berkerumun dekat si penjual kebab. Tiba-tiba, sebuah tangan mungil terulur dan mengambil sekerat daging yang sedang dipersiapkan si penjual. Rupanya, daging lezat nan berasap itu membuat si anak tidak bisa menahan diri. Suatu kelezatan yang menggoda siapapun yang melihat dan mencium aromanya. Anak-anak yang lain, sambil bercanda, berseru pada si pengambil daging dan menyuruhnya mengembalikan keratan tersebut. Apalagi ditambah teguran keras si penjual sehingga nyali anak itu menciut dan terpaksa mengambilkan keratan daging yang diambilnya. Lalu, dia bergabung kembali dengan teman-temannya dan pergi sambil bercanda ria, menghibur hati yang kecewa karena gagal merasakan sedikit kelezatan duniawi yang menawan itu.

Teringat kembali akan kuliah kerelawanan yang pernah disampaikan  Pak Ahyudin, Presiden ACT, tentang orang-orang di beberapa daerah yang terserang gizi buruk. Apabila kita makan coklat di daerah tersebut, bungkus bekas coklat itu akan jadi rebutan anak-anak. Demikian pula makanan lainnya. Fenomena ini sangat membahayakan. Bisa menjadi ancaman loss generation. Sebuah taruhan bagi harga diri dan eksistensi masa depan bangsa. Apalagi jumlah masyarakat miskin saat ini sangat banyak, tidak kurang dari 60 juta jiwa. Sementara penderita gizi buruk sudah mencapai 13 juta jiwa (WFP, dikutip dari artikel di situs ACT).

Sekelebat kejadian yang mungkin terlihat biasa bagi kebanyakan manusia. Seorang anak miskin yang mengambil makanan yang bukan haknya karena terdorong rasa lapar dan tekanan ekonomi.

Hidup telah menjadi sedemikan berat bagi sebagian besar anak bangsa penghuni zamrud katulistwa ini. Rentangan pulau-pulau yang dipenuhi hasil bumi melimpah dan tanah pertanian nan subur ternyata dihuni jutaan orang miskin yang harus mengerat sisa-sisa peradaban. Peradaban yang sama dengan peradaban yang memanjakan segelintir orang berduit dengan kemewahan, pemborosan dan ketidakpedulian.

Betapa sejarah menunjukkan bahwa manusia hampir tidak pernah belajar dari sejarah itu sendiri. Begitu banyak peristiwa-peristiwa mengerikan, yang berawal dari ketiadaan empati pada sesama, hanya menjadi catatan tanpa ruh yang menggugah dan menggentarkan. Begitu banyak darah yang tertumpah sia-sia seraya membentuk catatan hitam berbau anyir tentang penindasan manusia atas sesamanya. Baik dalam bentuk penjajahan atas bangsa lain maupun penindasan terhadap bangsa sendiri. Revolusi Prancis hanya salah satu diantara kejadian-kejadian tersebut, termasuk juga kerusuhan bulan Mei 1998, seakan lenyap dari ingatan. Sebagaimana lenyapnya rasa kepedulian dan empati pada sesama.

Entah kapan manusia akan menyadari bahwa bisa jadi sebagian bear orang lain adalah anugerah baginya. Sesama manusia adalah kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk menambah timbangan amal kebaikan di akhirat dan energi positif keberuntungan di dunia. Tidak selalu sebagai lawan yang harus dibenci atau musuh yang harus dimusnahkan.

Mungkinkah kita perlu mengikuti saran Om Ebiet G. Ade, yaitu bertanya pada rumput yang bergoyang.

Mungkin Tuhan mulai bosan
melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Semoga bermanfaat

Mari kita jadikan momentum Ramadhan 2010 ini sebagai momen pembentukan pribadi dan pengembangan kepedulian pada sesama. Mohon dimaafkan atas segala kekurangan dan kekhilafan yang terjadi atas kelemahan saya sebagai manusia biasa.

Selasa, 09 Desember 2008

[RELAWAN PELANGI] Qurban di Jagabita

Akhirnya setelah berharap-harap cemas hari H yang dinanti para relawan Pelangi pun tiba.  sesuai kesepakatan yang akhirnya berhasil dicapai 

(stelah beberapa kali berubah-ubah rencana) para relawan spakat berangkat dari Masjid Agung Al Azhar ba'da subuh supaya bisa sholat Id' Adha di Desa jagabita. 

saya sendiri berangkat dari rumah janm 2:30 pagi, krn taxinya sudah sampai duluan, Alhamdulillah.  krn pagi buta, sampai di Al Azhar skitar jam 3 pagi. 

Setelah menunggu, mbak Ari dan mpers (Mbak Izoel, Mbak Yusi, Mbak Yanin dan Mbak Ani) yang lain datang, disusul teman2 dari Relawan Pelangi.

Mas Ready menyusul dari Bogor

krn berangkatnya agak molor, maka kami tidak bisa sholat Id di Jagabita.  Kami sholat Id di daerah BSD.

Walaupun sebelum ini pernah ke desa Jagabita dua kali, saya masih aja keder dengan jalan ke sana.  Teman relawan di sebelah sudah gelisah.  "Tahu kan jalannya" dia tanya beberapa kali.  saya hanya bisa diam dan belagak udah tahu

Untung teman-teman di belakang bisa memberitahu supir arah yang benar.   Sempat telepon-teleponan sama yang sudah sampai duluan.  Jadi deh rezeki para operator seluler

sampai jagabita sekitar jam 9 kurang. 

setelah seremonial oleh pak Lurah dan tokoh masyarakat, acara pemotongan Hewan Qurban pun dimulai. 

Saya sendiri sebenarnya pada awalnya lumayan grogi dengan tugas yang akan dihadapi.  Walaupun sudah memepersenjatai diri dari rumah dengan golok yang mirip kepunyaan para pendekar Betawi, mencincang hewan yang baru dikuliti dan dagingnya masih segar itu tentu bukan perkara mudah. Apalagi ada 3 ekor sapi dan 43 ekor kambing yang harus kami tangani. 

Belum lagi relawan yang lain ada yang hanya mempersenjatai diri dengan pisau dapur yang lebih tepat utk mengupas bawang.  Maklum, bukan profesi.

Lebih grogi lagi waktu tahu lokasi mutilasi atau pencincangan itu adalah madrasah yang akan diperbaiki.  Sudah dialas terpal sih, tapi kan tempatnya tertutup.  Sebab saya sendiri pernah masuk ke tempat jualan daging di pasar dan hampir pingsan dgn aroma di tempat itu.

Namun ternyata Alloh SWT berkehendak lain.  Angin kencang yang berhembus cukup membantu para relawan melaksanakan tugas berat tersebut.  Walaupun tempat itu tertutup, namun ventilasinya cukup memadai. 

Namun, yang namanya kompetensi tentu tidak bisa dibohongi.  Tenaga outsource dari penduduk setempat banyak sekali membantu para relawan menuntaskan tugas tersebut.  Kecepatan dan ketrampilan mereka sangat mengagumkan. 

Lanjutan kisah para tenaga outsource dapat dibaca di tulisan ini

Saya sendiir belum sempat membantu banyak di bagian mutilasi.  Saya harus ke ruangan sebelah utk membantu mbak Icha menghitung kepala2 dan kulit2 hewan yang baru dipotong. 

Alhamdulillah, berkat sistem kerja yang baik dan relawan2 yang amanah, kami terhindar dari larangan menjual kulit dan kepala hewan2 teresebut.

Tukang jagalnya juga sudah profesional, jadi aman deh

Setelah zuhur, kami berhasil menyelesaikan kegiatan mencincang dan mengepak potongan-potongan daging tersebut.  Pembagian daging dipercayakan kepada para pejabat RW dan RT setempat.  Hal ini adalah cara para relawan mendidik aparat2 desa utk peduli pada warga dan memegang amanah. 

Alhamdulillah, walaupun cukup heboh, namun tidak ada kerusuhan atau hal-hal yang tidak diinginkan.  

Acara diakhiri dengan pembubaran panitia, de-briefing sejenak dan foto-foto narsis

*teuteup

Yang ingin tahu lebih banyak tentang relawan pelangi, silahkan bergabung di milis ini

http://groups.yahoo.com/group/relawan_pelangi/