Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Mei 2012

Azimah Subagijo: Mengapa Pornografi Bermasalah?

http://wasathon.com/gaya_hidup/read/azimah_subagijo_mengapa_pornografi_bermasalah/
Maraknya pornografi diberbagai media menjadi keprihatinan Azimah Subagijo. Tokoh ini merupakan aktivis Masyarakat Tolak Pornografi (MTP) dan sekarang menjabat sebagai anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).



Dalam Seminar “Tanggungjawab Media Terhadap Anak” di UIN Ciputat (26/5) yang diadakan oleh KAMMI Tangerang Selatan, Azimah memaparkan mengapa pornografi bermasalah dan bagaimana seharusnya masyarakat mewaspadainya dan bersikap yang terbaik untuk menghindarkan diri dari dampak buruk pornografi tersebut.

selanjutnya sila ke link

Senin, 16 April 2012

[Sosial] Generasi Instant Pemuja Kesenangan

"Kita usahakan agar mereka tidak merasa terjajah, baik secara pemikiran maupun tingkah laku.  Sehingga, satu saaat mereka akan sadar uang dan sadar waktu"  demikian kata seorang pengurus Komunitas Anak Langit di Tangerang saat diliput oleh sebuah stasiun TV Swasta.  Komunitas ini memperhatikan dan mengurusi anak-anak jalanan di daerah Tangerang dan sekitarnya.  Mereka bermarkas di bantaran kali Cisadane, dalam bangunan kayu nan sederhana.  Kata-kata yang diucapkan kakak pengurus komunitas tersebut mengingatkan kita pada anak-anak yang seringkali menyambangi warnet-warnet yang ada games online-nya.  Games online seperti Ragnarok, Cross Fire, Counter Strike, Point Blank, Audition Ayodance, Warcraft III dan sebagainya memang sangat digemari oleh anak-anak SD dan SMP, bahkan SMA.  Bahkan ada diantara mereka yang hampir setiap hari menyambangi warnet-warnet tersebut untuk bermain.   Sampai para operator, termasuk yang belum lama bekerja di warnet-warnet itu, bisa segera hafal nama, muka dan karakter mereka.  Tidak tanggung-tanggung pula, terkadang ada diantara mereka yang bisa menghabiskan waktu antara 3 sampai 5 jam sekali main.  Seakan-akan, permainan-permainan online itu telah menjadi kebutuhan paling utama dalam hidup mereka.

Anak-anak itu seakan tidak sabar dan sulit menahan hasrat untuk segera memainkan permainan virtual yang ada di computer-computer tersebut.  Mereka terkadang datang masih dengan pakaian seragam sekolah.  Seakan ada deep and powerfull sense of urgency dalam diri mereka untuk segera melarutkan diri ke dalam "dunia lain" yang ada dalam komputer-komputer tersebut.  Apabila belum kebagian giliran main, mereka terus menerus bertanya pada operator kapan komputer nomor sekian dan sekian selesai.  Tidak peduli apakah si operator sedang senggang sehingga mudah mengecek computer tertentu atau sedang sangat sibuk melayani klien lain yang minta print out dan sebagainya.  Seakan tidak ada sedikitpun tenggang rasa pada operator yang sedang kerepotan dengan permintaan klien warnet yang lain.  Entah apakah yang seperti itu sudah sampai ke tingkat yang sama dengan “sakaw" karena ketagihan narkotika atau belum.

Keluarga dan sekolah bahkan kegiatan ibadah keagamaan serta hal-hal lain yang sesungguhnya lebih bermanfaat seakan-akan tidak menjadi prioritas dalam kehidupan mereka.  Ada yang pagi sebelum masuk sekolah siang sudah tenggelam dalam permainan itu dan sorenya balik lagi ke warnet untuk main lagi.  Ada juga yang sampai bolos dan lebih memilih main games online daripada belajar di sekolah.  Ada pula yang malah main beberapa jam padahal sudah hampir masuk waktu sholat yang relative singkat seperti Maghrib.  Sudah hampir dipastikan, waktu sholat saat itu akan terlewatkan.  Yang lebih menyedihkan lagi, terlewatnya waktu sholat wajib itu seakan akan dilalui tanpa ada rasa berdosa atau bersalah sedikitpun.  Yang penting bagi mereka, main games online jalan terus.  Terkadang, ada orang tua yang bahkan sampai menelepon atau mendatangi warnet-warnet tersebut untuk mencari anaknya.

Yang tidak kalah memperihatinkan adalah adalah tingkah laku dan akhlak mereka.  Entah apakah kekasaran itu karena games-games online yang sebagiannya penuh kekerasan itu atau lebih karena pengaruh lingkungan.  Anak anak itu seakan belum puas kalau belum membodoh-bodohi teman-teman mereka.  Kata-kata kasar seperti (maaf) dongo, bego, goblok dan yang serupa dilontarkan tanpa ada beban moral sama sekali.  Nama-nama penghuni kebon binatang dan nama benda yang (maaf) dibuang orang sebagai sisa metabolisme tubuh seringkali pula terlontar dari mulut kecil mereka.  Semua itu seakan terlontar tanpa beban sama sekali.  Bahkan terkadang ada juga yang sampai berkelahi di dalam atau sekitar warnet.

Bercermin dari refleksi yang dikemukakan kakak pengurus komunitas Anak Langit di awal tulisan ini, anak-anak penggemar game online itu sangat mungkin termasuk mereka yang terjajah baik secara pemikiran maupun tingkah laku.  Mereka bisa jadi termasuk yang terintimidasi baik oleh anak yang lebih besar atau bahkan orang dewasa.  Mereka pun sangat mungkin terintimidasi oleh prestasi akademik mereka sendiri, pada nilai-nilai yang mereka dapatkan di sekolah.  Tentu sulit bagi kita mengharapkan mereka akan mampu berkonsentrasi dan menyerap pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah.  Sangat mungkin saat berada di kelas, pikiran dan jiwa mereka justru terpatri di warnet.  Mereka mungkin lebih memikirkan bagaimana agar bisa memenangkan permainan-permainan elektronik itu daripada berkonsentrasi dan menyimak pelajaran di sekolah.

Hal itu bisa menyebabkan terjadinya vicious circle atau lingkaran setan yang tidak berkesudahan.  Saat prestasi akademis mereka menurun, mereka pun semakin merasa tertekan baik oleh sekolah, keluarga maupun masyarakat.  Dan pelarian dari ketidaknyamanan emosional akibat perasaan terjajah itu apa lagi jika bukan permainan games online yang biasa mereka mainkan.  Saat bermain itulah mereka merasakan kelegaan sesaat dari berbagai tekanan.  Baik yang timbul tuntutan atas prestasi akademik atau dari berbagai intimidasi mereka yang lebih dewasa.  Dalam dunia yang "lain" itu mereka dapat menjadi tentara-tentara yang gagah dengan senjata mematikan di tangan.  Kehidupan sehari-hari, yang mungkin kurang menyenangkan bagi mereka, terlupakan sudah saat tenggelam dalam permainan itu.  Mungkin hanya di "dunia lain" itulah mereka merasa dipahami, dihargai dan diberi cukup apresiasi.

Steven Covey, penulis buku laris The 7 Habits of Highly Effective People dan The 8th Habit, menyatakan bahwa kebutuhan jiwa untuk dipahami secara empatik sama pentingnya seperti oksigen bagi tubuh manusia.  Arvan Pradiyansyah, penulis buku You are not Alone dan beberapa buku laris lainnya, mengatakan bahwa kebutuhan emosional tertinggi manusia adalah dipahami.  Anak-anak yang merasa terjajah dan terintimidasi, yang tidak merasa dipahami dengan baik dan tidak cukup dihargai akan mencari pelarian dan pelampiasan.  Salah satu bentuk pelampiasan itu adalah dengan bermain games online.   

Anak anak adalah cermin, cermin dari kehidupan itu sendiri. Mungkin banyak diantara kita yang masih ingat dengan dongeng Emperor's New Clothes atau Baju Baru sang Kaisar.  Seorang Kaisar yang senang berganti-ganti baju kebesaran suatu ketika ditipu dua orang penipu.  Mereka mengatakan bahwa pakaian yang akan mereka buat hanya bisa dilihat orang pintar dan cerdas.  Pada saat dipamerkan, seorang anak berteriak dan mengatakan bahwa sang Kaisar telanjang.  Tingkah laku anak-anak di warnet itu seakan menelanjangi kita semua akan tingkah laku kita sendiri.  Tinggal kini apakah kita akan jujur dengan apa yang terefleksikan dari cermin cermin kecil itu ataukah kita akan terus bersembunyi di balik sejuta satu dalih yang muncul dari ego dan pikiran kita sendiri.

Children, little children
we've tried to do our best
we are, little children,
we make mistake like all the rest

Repost dari blog yang ini

Rabu, 27 April 2011

[Kultwit] Ibu Kiswanti by MRI Pusat

Kuliah Twitter berikut ini disampaikan oleh MRI Pusat tentang sesosok ibu yang menjadi inspirasi bagai perubahan di kampungnya.  

1. Sedikit akan kultwit bercerita seorang ibu yang menjadi inspirator bagi kaumnya dan juga bagi kita pemerhati dunia kemanusiaan

2. Ada yang pernah mendengar nama seorang ibu berasal dari Kampung Lebak Wangi? #sosok

3. Seorang ibu sederhana namun dengan kesederhanaannya beliau berbuat merubah keadaan kampungnya #sosok

4. Sebuah kampung kecil itu terletak tak jauh dari ibukota Jakarta, sekitar setengah jam dari Jakarta selatan #sosokinspirasi

5. Ya, nama ibu itu adalah Kiswanti, seorang ibu yang mendirikan taman baca bernama WARABAL #sosokinspirasi

6. WARABAL atau (Warung Baca Lebak Wangi) berada di Jl kamboja RT 1/! Kp Lebak Wangi, Ds Pemagarsari, Kec Parung #sosokinspirasi

7. Warung Baca atau taman baca tersebut didirikan oleh Bu Kiswanti di rumah tempat tinggalnya #sosokinspirasi

8. Alasannya, Bu Kiswanti merasa gundah melihat anak kampungnya lebih gemar bermain Play Station dan tayangan tidak mendidik #sosokinspirasi

10. Melihat kondisi tersebut Bu Kiswanti seorang Ibu rumah tangga tergerak hatinya merogoh kocek untuk memberli buku #sosokinspirasi

11. Dan tentu saja, niatnya hanya satu. Agar anak-anak Kampung Lebak Wangi gemar membaca. #sosokinspirasi

12. “Bagaimana kampong ini bias maju, jika anak-anak kami tidak cerdas.” Resah Bu Kiswanti #sosokinspirasi

13. Bu Kiswanti bukanlah orang berada, ia bukanlah sosok orang yg punya banyak harta #sosokinspirasi

14. Sehingga berani mengeluarkan sejumlah uangnya untuk membuat taman bacaan dirumahnya #sosokinspirasi

15. Dilingkungannya Bu Kiswanti dikenal sebagai ibu rumah tangga, namun ada yang berbeda dengan ibu yang lainnya #sosokinspirasi

16. Kegundahan terhadap masa depan anak-anak dan kampung tercintanya menjadi pembeda antara Bu Kiswanti dengan yang lain #soskinspirasi

17. Karena itu, 4 Desember 2003, berdirilah Taman Baca WARABAL, sebuah nama yang sangat sederhana #sosokinspirasi

18. Nama yang dirangkai oleh seorang ibu yang juga sangat sederhana #sosokinspirasi

19. Koleksi bukunya pun tdk banyak, hanya sekitar 180 buku, sebagian mrpkan koleksi pribadinya, sebagian lainnya dibeli dr uangnya sendiri.

20. Bukan hal mudah bagi seorang Kiswanti merintis usaha mulianya mencerdaskan anak-anak kampung Lebak Wangi #sosokinspirasi

21. Mulanya, Taman Baca-nya tak dilirik sama sekali oleh anak-anak. Namun Kiswanti pantang menyerah #sosokinspirasi

22. jika d kampungnya tdk banyak yg mau mmbaca, maka ia brsepeda belasan kilometer setiap hari utk bertandang k kampung lainya #sosokinspirasi

23. Setiap hari, di sore hari Kiswanti mengayuh sepeda dan singgah di berbagai kampung. #sosokinspirasi

24. Yang ditawarkan hanya satu, buku-buku yang disusun di rak sepedanya. #sosokinspirasi

25. Sbg seorang manusia, tentu saja ia punya rasa lelah. Terlebih bila tidak banyak anak yg mau membaca buku yg dibawanya. #sosokinspirasi

26. Padahal, ia harus menggadaikan banyak hal untuk melakukan perjuangan mulia tersebut. #sosokinspirasi

27. Namun, senyum Kiswanti langsung mengembang tatkala ada satu-dua anak yang menghampiri sepedanya untuk membaca-baca. #sosokinspirasi

28. Ya, mulanya hanya satu-dua anak saja di setiap kampung yang dikunjunginya #sosokinspirasi

29. itulah yg senantiasa mjdi energi tambahan perempuan sederhana ini utk terus mengayuh hingga puluhan kilometer stiap hari.#sosokinspirasi

30. Kerja kerasnya berbuah hasil. Dari 180 koleksi bukunya, kini Taman Baca WARABAL sudah mengoleksi 1714 buku. #sosokinspirasi

31. Buku yang terdiri dari buku bacaan anak, komik, majalah dan beberapa bentuk mainan anak-anak. #sosokinspirasi

32. Semuanya ia usahakan sendiri, bekerja sama dg Komunitas 1001buku dan berbagai pihak donatur yg terkesan dg perjuangannya #sosokinspirasi

33. Memang, Kiswanti tidak pernah berhenti meminta bantuan siapa pun yg tergerak untuk menyumbangkan buku utk taman bacanya. #sosokinspirasi

34. "Anak-anak yang baca, tidak satu pun yang dimintai bayaran. Semuanya gratis," tegas Kiswanti $sosokinspirasi

35.Hingga hari ini, Kiswanti masih trus mngayuh sepeda belasan km tiap hari utk singgah di kampung lain yg jauh dari taman bacanya.

37. "Ada sekitar 60-an anak, tapi saya kasihan sama anak-anak kampung lain yang tidak bisa datang ke sini.#sosokinspirasi

38. Makanya saya masih harus terus membawakan buku ke kampung mereka," tambahnya. #sosokinspirasi

39. Terakhir ketemu di event #odekampung #rumahdunia, Bu Kiswanti sedang mengajak ibu kampung untuk belajar menjahit #sosokinspirasi

40. Sementara Bu Kiswanti sendiri tidak bisa menjahit. "di buku kita dapat belajar menjahit." Ujarnya. #Sosokinspirasi

41. Memang baru sekedar membuat keset. Namun beliau juga bersedia untuk menjajakan hasil karya ibu-ibu kampung #sosokinspirasi

42. Bu Kiswanti juga mengajak ibu kampung membuat kue kering, dan Bu Kiswanti juga tidak punya basic disana. #sosokinspirasi

43. Jawaban yang diterima tetap sama "Dibuku kita busa belajar mmbuat apa saja." ketika ditanya kenapa berani mengajak orang #sosokinspirasi

44. Itulah cerita singkat Bu kiswanti sebagai #sosokinspirasi untuk kita yang ingin berbuat bagi orang lain.

Senin, 09 Agustus 2010

[Sosial] Tangan Kecil dan Sekerat Daging

Hari telah malam saat saya berjalan di sebuah jalan yang banyak dipenuhi penjual makanan dan minuman. Saat melewati seorang pedagang kebab, saya memutuskan untuk makan di sana. Pada saat si pedagang sedang mempersiapkan makanan pesanan saya, tiba-tiba beberapa anak-anak lewat di sana. Beberapa diantara mereka berkerumun dekat si penjual kebab. Tiba-tiba, sebuah tangan mungil terulur dan mengambil sekerat daging yang sedang dipersiapkan si penjual. Rupanya, daging lezat nan berasap itu membuat si anak tidak bisa menahan diri. Suatu kelezatan yang menggoda siapapun yang melihat dan mencium aromanya. Anak-anak yang lain, sambil bercanda, berseru pada si pengambil daging dan menyuruhnya mengembalikan keratan tersebut. Apalagi ditambah teguran keras si penjual sehingga nyali anak itu menciut dan terpaksa mengambilkan keratan daging yang diambilnya. Lalu, dia bergabung kembali dengan teman-temannya dan pergi sambil bercanda ria, menghibur hati yang kecewa karena gagal merasakan sedikit kelezatan duniawi yang menawan itu.

Teringat kembali akan kuliah kerelawanan yang pernah disampaikan  Pak Ahyudin, Presiden ACT, tentang orang-orang di beberapa daerah yang terserang gizi buruk. Apabila kita makan coklat di daerah tersebut, bungkus bekas coklat itu akan jadi rebutan anak-anak. Demikian pula makanan lainnya. Fenomena ini sangat membahayakan. Bisa menjadi ancaman loss generation. Sebuah taruhan bagi harga diri dan eksistensi masa depan bangsa. Apalagi jumlah masyarakat miskin saat ini sangat banyak, tidak kurang dari 60 juta jiwa. Sementara penderita gizi buruk sudah mencapai 13 juta jiwa (WFP, dikutip dari artikel di situs ACT).

Sekelebat kejadian yang mungkin terlihat biasa bagi kebanyakan manusia. Seorang anak miskin yang mengambil makanan yang bukan haknya karena terdorong rasa lapar dan tekanan ekonomi.

Hidup telah menjadi sedemikan berat bagi sebagian besar anak bangsa penghuni zamrud katulistwa ini. Rentangan pulau-pulau yang dipenuhi hasil bumi melimpah dan tanah pertanian nan subur ternyata dihuni jutaan orang miskin yang harus mengerat sisa-sisa peradaban. Peradaban yang sama dengan peradaban yang memanjakan segelintir orang berduit dengan kemewahan, pemborosan dan ketidakpedulian.

Betapa sejarah menunjukkan bahwa manusia hampir tidak pernah belajar dari sejarah itu sendiri. Begitu banyak peristiwa-peristiwa mengerikan, yang berawal dari ketiadaan empati pada sesama, hanya menjadi catatan tanpa ruh yang menggugah dan menggentarkan. Begitu banyak darah yang tertumpah sia-sia seraya membentuk catatan hitam berbau anyir tentang penindasan manusia atas sesamanya. Baik dalam bentuk penjajahan atas bangsa lain maupun penindasan terhadap bangsa sendiri. Revolusi Prancis hanya salah satu diantara kejadian-kejadian tersebut, termasuk juga kerusuhan bulan Mei 1998, seakan lenyap dari ingatan. Sebagaimana lenyapnya rasa kepedulian dan empati pada sesama.

Entah kapan manusia akan menyadari bahwa bisa jadi sebagian bear orang lain adalah anugerah baginya. Sesama manusia adalah kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk menambah timbangan amal kebaikan di akhirat dan energi positif keberuntungan di dunia. Tidak selalu sebagai lawan yang harus dibenci atau musuh yang harus dimusnahkan.

Mungkinkah kita perlu mengikuti saran Om Ebiet G. Ade, yaitu bertanya pada rumput yang bergoyang.

Mungkin Tuhan mulai bosan
melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Semoga bermanfaat

Mari kita jadikan momentum Ramadhan 2010 ini sebagai momen pembentukan pribadi dan pengembangan kepedulian pada sesama. Mohon dimaafkan atas segala kekurangan dan kekhilafan yang terjadi atas kelemahan saya sebagai manusia biasa.

Selasa, 10 Februari 2009

[Daily Life and Social Issues] Anak cacat



Assalamualaikum, rekan-rekan sekalian.

Terkadang banyaknya masalah dalam kehidupan membuat kita enggan untuk bersyukur.  Kita seringkali lupa bahwa masih ada orang-orang yang lebih menderita dari kita.  mereka terjerat kemiskinan, kebodohan dan penyakit, baik fisik ataupun mental.  

Belum lagi yang menderita cacat tubuh seperti gambar di atas.  Anak itu harus ditarik di atas papan untuk bisa bergerak.  

Mari kita bergandeng tangan bersama meringankan penderitaan mereka. 

semoga bermanfaat.

gambar diambil di daerah Pancoran, Jl. M.T. Haryono

[Daily Life and Social Issues] Pengamen naik bergantian

Kulangkahkan kakiku yang rapuh
Tinggalkan sepi kota asalku

Saat pagi buta
Sandang gitar usang
Ku coba menantang
Keras kehidupan

Iwan Fals - Kupaksa Untuk Melangkah

Kemarin siang, saat saya hendak berangkat untuk mengajar, bis yang saya tumpangi dimasuki pengamen.  Tidak tanggung-tanggun, satu pengamen selesai manggung dan turun dari bis, yang lain naik dan mulai memamerkan aksi panggungnya.  Total saat berangkat ada 4 pengamen yang manggung, baik solo ataupun group.  

Pas pulang, seingat saya ada dua pengamen lagi, 1 solo yang lain group.  

Saya jadi berpikir, berapa kira-kira jumlah uang yang mereka dapat sehari.  

Perhitungan kasar aja ya

500 x 10 = 5000 - 5000 x 10 naik turun bis = 50000 rupiah x 20 hari ngamen per bulan = 1 juta rupiah

hmmm, Jumlah yang lumayan bukan, untuk masa krisis seperti sekarang ini

Apalagi, dengan melihat penampilan mereka yang amsih muda-muda itu, kemungkinan besar mereka masih single alias belum menikah.  Tentu banyak kesempatan bagi mereka untuk membina masa depan yang cerah, dunia dan akhirat.

Namun, tentu saja jumlah tersebut masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi mereka.  Belum lagi karena background pendidikan yang kurang memadai, mereka memiliki kesadaran yang rendah akan nilai uang. Mereka juga belum mampu membedakan antara kebutuhan dengan keinginan.  sehingga, uang yang terkumpul dalam jumlah yang lumayan itu kemungkian besar habis untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum dan tentunya hal-hal yang sebenarnya bukan kebutuhan, seperti merokok.  Saya sendiri tidak tahu apakah mereka harus menyetor pendapatan mereka ke boss preman atau tidak.  jika iya, sungguh malang nasib mereka.

Pola hidup boros itu mereka jalani karena ketidaktahuan mereka, dan hal itu  membuat mereka untuk enggan berubah.   Hal yang demikian terjadi pula kepada orang-orang yang lain, seperti supir bis dan kernet, pedagang asongan, pengemis dan lain-lain.  

Yah, mungkin seperti Bani Israel yang memilih hidup dalam cengkeraman Firaun di zaman Mesir Kuno daripada dimerdekakan oleh Nabi Musa A.S.  Hanya saja, zaman sekarang ini Fir'aunnya diganti boss-boss mafia preman yang mencengkram mereka.  

Tentu saja para mafia preman itu tidak akan membiarkan ladang rezeki mereka, yang diperoleh dengan jalan memeras orang lain, hilang perlahan-lahan.  Mereka akan mempertahankan pendapatan mereka itu dengan sgala cara, biasanya dgn kekerasan.  

Padahal, jika saja orang-orang miskin tidak dicengkram mafia, pendapatan mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.  Sisa dari pendapatan mereka bisa ditabung untuk digunakan membina masa depan yang lebih baik.

Pertanyaannya sekarang, siapa yang akan berperan sebagai Nabi Musa bagi mereka.  Orang yang berani menghadapi para boss preman itu demi membebaskan orang-orang miskin tersebut.   Dia bersedia membantu mereka keluar dari zona nyaman mereka (yang sesungguhnya tidak nyaman sama sekali) bagaikan Nabi Musa meyakinkan Bani Israil keluar dari Negeri Mesir menuju kebebasan dan kemerdekaan.

Tantangan yang dihadapi tentu saja bukan saja dari luar orang-orang miskin tersebut.  Sikap mengasihani diri sendiri yang menjangkiti mereka sangat menyulitkan orang-orang yang berperan sebagai Nabi Musa untuk mereka.  Para "juru selamat" itu tidak akan mampu menyelamatkan diri kaum miskin papa itu apabila mereka membangkitkan semangat dalam diri mereka sendiri.

Orang-orang yang mengasihani diri sendiri menganggap diri mereka sebagai korban.  Mereka cenderung menyalahkan segala hal di luar mereka sebagai penyebab kemiskinan hidup mereka.  Sulit sekali membangkitkan jiwa mereka untuk mempersiapkan diri meraih masa depan yang gemilang.  Kira-kira seperti itulah dahulu Nabi Musa menghadapi Bani Israel di Mesir Kuno.  

Para trainer dari Institut Kemandirian (Bang Jay, Pak Supardi Lee, Mbak Niek dan lainnya) selalu menekankan bahwa hidup ini memang untuk menjalani yang susah-susah.  Itulah syarat yang diperlukan untuk meraih kesuksesan, baik di dunia ataupun akhirat.  


Tulisan terkait: Mengasihani diri sendiri (kisah sedih dari Pilkada)

Semoga bermanfaat



Senin, 03 November 2008

[SOSIAL] Ojek Payung siapa peduli?












Ojek payung siapa peduli?




Casas de carton - Javier Alvarez



Tadi sore, setelah mengambil kwitansi dan amplop dari Bunda Ardanti di BI, saya mampir ke Plaza Indonesia untuk sholat Ashar dan lihat-lihat buku. Saat menjelang maghrib, ternyata di luar hujan deras. Anak-anak penjaja jasa sewa payung, alias ojek payung sudah berkumpul di sana menanti datangnya setetes rezeki untuk mereka.




Maka, muncullah perbedaan yang kontras dari kesenjangan sosial yang ada di negeri ini. Para ojek payung yang berpakaian lusuh seadanya serta bertelanjang kaki berjuang meraih rezeki yang ada hari itu. Sambil menggigil kedinginan serta menahan lapar, mereka menawarkan jasa ojek payung.




Saya tidak tahu apakah mereka tadi pagi sekolah atau tidak.

Saya tidak tahu apakah tadi siang mereka sudah makan atau belum.

Saya tidak tahu apakah mereka masih sempat istirahat atau tidak.





Bisa jadi dalam hati mereka terbersit rasa iri melihat anak-anak orang lain bisa naik turun mobil, bisa berpakaian bagus. Mereka juga ingin membeli mainan dan makanan yang mereka lihat ditenteng anak-anak orang kaya yang baru keluar dari Mall.




Entah apa lagi perasaan yang ada dalam hati mereka, yang seharusnya juga bisa kita rasakan jika kita punya kepekaan dan empati yang baik.




Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?

Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi?

Kalau bukan kita yang memberdayakan mereka, siapa lagi?





Saya hanya bisa merenungkan hal tersebut sambil menyanyikan lagunya Javier Alvarez berikut ini






Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué triste vive mi gente en las casas de cartón





Viene bajando el obrero casi arrastrando sus pasos

por el peso del sufrir,

mira que mucho ha sufrido, mira que pesa el sufrir





Arriba deja la mujer preñada

abajo está la ciudad y se pierde en su maraña

hoy es lo mismo que ayer, es un mundo sin mañana





Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué triste vive mi gente en las casas de cartón





Niños color de mi tierra, con sus mismas cicatrices

millonarios de lombrices, y por eso

qué triste viven los niños en las casas de cartón





Qué alegres viven los perros en casa del explotador





Usted no lo va a creer pero hay escuelas de perros

y les dan educación pa' que no muerdan los diarios

pero el patrón hace años, muchos años

que está mordiendo al obrero





Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón

qué lejos pasa la esperanza en las casas de cartón




Jumat, 18 Juli 2008

Hari Tanpa TV - 20 Juli 2008

Rating:★★★★★
Category:Other
Ajakan Koalisi Nasional HTT:
Ikuti "HARI TANPA TV 2008"
"Sebagian besar anak Indonesia menonton TV sekitar 1.600 jam setahun, padahal hanya 740 jam mereka belajar di bangku sekolah"

TV memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. TV dapat menjadi sumber informasi dan edukasi yang sangat handal. Namun TV juga dapat menjadi sumber hiburan yang tiada henti. Aktivitas menonton telah TV memangkas waktu interaksi dalam keluarga, menimbulkan dampak negatif berupa peniruan dan penanaman nilai pada anak-anak dan remaja, berkontribusi pada gaya hidup yang tidak sehat, konsumtif, dsb.

Fungsi siaran TV sebagai hiburan jauh lebih menonjol dibanding dengan fungsi yang seharusnya bisa diperankan berupa informasi dan edukasi. Keluarga yang mengalokasikan waktu yang lebih sedikit untuk menonton TV, akan mempunyai lebih banyak waktu untuk aktivitas-aktivitas yang lebih posistif, interaktif dan mempererat hubungan kekeluargaan.

Penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game. Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja. Dalam setahun, jumlah jam menonton TV ini mencapai lebih dari 1.600 jam. Bandingkan dengan jumlah jam belajar di sekolah dasar negeri selama setahun yang hanya sekitar 740 jam untuk kelas rendah.

Secara umum dapat dikatakan bahwa ketergantungan anak pada tayangan TV sudah sangat tinggi dan mencapai titik yang mengkhawatirkan. Ada beberapa fakta yang dapat menggambarkan betapa mengkhawatirkannya ketergantungan itu:

Pertama, belum terbentuk pola kebiasaan menonton TV yang sehat. TV masih menjadi hiburan utama keluarga yang dikonsumsi setiap hari dalam waktu yang panjang tanpa seleksi yang ketat terhadap pilihan acara yang mereka tonton.

Kedua, kebanyakan isi acara TV kita tidak aman dan tidak sehat untuk anak. Banyak acara TV dengan kandungan materi untuk orang dewasa yang ditayangkan pada jam-jam anak biasa menonton dan kemudian disukai dan ditiru oleh anak-anak. Contoh yang ekstrim, peniruan adegan laga dalam tayangan TV oleh anak telah menimbulkan beberapa korban jiwa.

Ketiga, lemahnya peraturan bidang penyiaran dan penegakannya. Sejak indutri televisi berkembang pesat, permasalahan yang terkait dengan isi tayangan makin membesar. Hingga kini masalah tersebut belum dapat diatasi dengan efektif.

Oleh karena itu, Koalisi Nasional HARI TANPA TV 2008 menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk mematikan pesawat televisi selama sehari penuh pada hari MINGGU 20 JULI 2008.

Dengan mematikan TV selama sehari penuh dan mengajak anak-anak untuk memiliki kegiatan lain selain menonon TV, dapat menjadi langkah awal kita untuk mengurangi ketergantungan anak pada televisi. Dengan bersedia mematikan TV seharian, maka hal itu menjadi bukti bahwa kita sadar mengenai perlunya pengaturan dalam menonton TV bagi anak-anak kita.

Selain itu, perlu dilakukan upaya bersama seluruh komponen masyarakat untuk mendesak dan mempengaruhi industri penyiaran agar lebih memperhatikan isi tayangan dan pola penyiaran yang memperhatikan perlindungan terhadap anak. Tekanan yang paling efektif bagi industri televisi adalah apabila masyarakat secara bersama-sama tidak menonton TV sama sekali, atau secara selektif tidak menonton acara tertentu dalam waktu yang panjang.

Dukungan masyarakat akan disampaikan kepada industri penyiaran, Komisi Penyiaran Indonesia, Departemen Komunikasi dan Informatika, Komisi I DPR-RI, dan berbagai pihak terkait.
Sampaikan dukungan anda melalui e-mail ke haritanpatv@kidia.org;
SMS ke nomor 0812-1002.4009;
dan fax: 021-8690.5680; website http://www.kidia.org

Jakarta, 11 Juli 2008

Guntarto,
Ketua SC Koalisi Nasional HTT 2008