Tampilkan postingan dengan label peradaban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peradaban. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2011

[Sosial] Dilema Superblok Ibu Kota

Suatu ketika saat berada di sebuah perkampungan padat, saya melihat beberapa selebaran yagn ditempel di tembok.  Selebaran itu  berisi fotokopi artikel tentang sebuah Mega Proyek pembangunan sentra bisnis terpadu yang sedang dikerjakan di dekat perkampungan tersebut.  Selain artikel, selebaran itu juga berisi ajakan agar warga yang tanahnya akan dijual menahan harga, jangan sampai dilepas dengan harga terlalu murah.  Pihak penyebar selebaran itu mungkin merasa prihatin dengan ketidakmampuan masyarakat mengakses informasi sehingga tidak mengetahui berapa sebenarnya nilai proyek yang akan dibangun di tanah mereka.  

Mega Proyek itu sangat luar biasa, terdiri dari gedung dan aparement serta sarana-saran penunjang lainnya.  Proyek itu bertujuan memadukan tempat tinggal, tempat kerja dan kegiatan bisnis serta rekreatsi keluarga dalam satu kawasan. Sehingga, para penghuninya akan terhindar dari kemacetan Ibu Kota yang sampai hari ini belum juga teratasi.  Sehingga, banyak waktu yang bisa dihemat dan efisiensi kerja serta bisnis bisa ditingkatkan.  Di situs Vivanew.com dapat kita temukan sebuah artikel yang mengulas profil para pengembang superblock seperti proyek itu.

Namun, tentu saja kita tahu siapa saja yang bisa membeli apartement di sana.  Tentu bukan pegawai-pegawai rendahan yang gajinya pas-pasan, yang untuk hidup sehari-hari masih kerepotan. Kalau bukan level manager ke atas ya orang asing.  Merekalah yang mampu secara finansial menikmati semua fasilitas tersebut demi kenyamanan dan gaya hidupnya. Rakyat kecil yang miskin mungkin hanya bisa berjalan - jalan di sekitar kompleks tersebut tanpa bisa menikmati lebih banyak lagi.

Jika informasi yang ada di selebaran itu benar, maka ganti rugi yang diterima masyarakat tidak seimbang dengan nilai mega proyek yang sedang dikerjakan.  Selebaran itu sepertinya dibuat oleh mereka yang peduli dan prihatin akan besarnya ganti rugi yang diterima masyarakat.  Artikel yang disertakan dalam selebaran itu digunakan untuk memberi informasi agar masyarakat sadar siapakah sesungguhnya yang hendak membeli tanah yang mereka tempati.  Sehingga, mereka menyadari hak mereka untuk mendapat ganti rugi yang layak.  Jangan sampai sesudah mereka rela melepaskan tempat tinggal mereka, ternyata mereka tidak bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak.  Sudah merupakan rahasia umum bahwa penggusuran seringkali melibatkan banyak kepentingan, mulai dari pengusaha, penguasa, pekerja sampai penduduk yang tanahnya digusur.  Sehingga, persoalan penggusuran menjadi salah satu masalah sosial paling kompleks di negeri ini. 

Satu hal yang seringkali terlupakan adalah bahwa orang-orang miskin juga manusia.  Mereka berhak mendapat tempat tinggal yang layak dan berhak pula mendapat kesempatan untuk hidup layak.  Mereka juga perlu makan, pakaian dan tempat tinggal yang layak.  Seharusnya, tidak boleh ada manusia yang tinggal di tempat yagn tidak layak ditempati sperti emperan toko, jembatan penyebarangan atau kolong jembatan.  Rumah-rumah kumuh yang terletak di gang-gang sempit pun seharusnya tidak ada.  Degnan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, baik dalam bentuk bahan tambang atau hasil pertanian, rakyat Indonesia seharusnya tidak ada yang miskin.  "This country shouldn't be poor" begitu kata John Perkins dalam film dokumenter The New Rulers.

Modal utama untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia adalah adanya kemauan dan keberanian.  HS Dillon pernah mengatakan "Untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia, kita tidak perlu mengemis hutang kepada IMF atau memerlukan bantuan dari lembaga asing.Jika 10% orang terkaya di Indonesia memberikan 20% penghasilannya (bukan harta atau asetnya) maka tidak ada lagi orang miskin di Indonesia pada tahun itu."  (H.S. Dillon, KOMPAS; Selasa, 17 Oktober 2006).  Sehingga, asalkan penduduk negeri ini, terutama yang kaya, tidak begitu serakah, maka kemiskinan akan dengan mudah teratasi.  Minimal kaum miskin bisa bertahan hidup dan bisa memenuhi kebututan hidup mereka yang paling mendasar. 

Namun sayang, peradaban kita sekarang ini adalah peradaban yang memanjakan yang kaya serta menindas yang miskin.  Peradaban yang mengedepankan ego, kepentingan duniawi serta kekayaan materi.  Bukan agama, spiritualitas dan kepedulian pada sesama, terutama mereka yang membutuhkan.  Sehingga, mimpi mewujudkan peradaban yang peduli, beradab dalam lindungan keridhoan Allah subhawataala masih jauh dari kenyataan. 

Semgoa bermanfaat


Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana
Demi serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Di depan masjid
Samping rumah wakil pak lurah
Tempat dulu kami bermain
Mengisi cerahnya hari

Namun sebentar lagi
Angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi
Dan tak kan pernah kembali

Ujung Aspal Pondok Gede - Iwan Fals

Rabu, 05 Mei 2010

Sosial] Motor besar dengan konsekwensi besar

harley Davidson

siapa yang tidak kenal merek motor itu? Walaupun di Indonesia relatif jarang, namun sempat membuat heboh karena motor jenis itu ada yang menjadi upeti dari seorang petugas kepada petugas lainnya.

Saya masih bisa mengingat betapa nge-fans-nya saya pada motor jenis itu.  Setiap kali mau ke daerah Bogor lewat pasar Minggu, saya sudah pasang kuda-kuda di bis metro mini untuk melihat motor jenis itu di sebuah bengkel dalam perjalanan ke pasar minggu.  Terkadang, motor itu saya gambar di whiteboard, walaupun tentu saja sebatas ilustrasi sketsa.  Suatu keingian yang lebih merupakan dorongan eksternal dibandingkan dengan motivasi internal.  Seiring perjalan waktu, keinginan saya untuk memiliki motor besar itu mulai memudar.  Pergaulan dengan teman-teman relawan membuat mata hati saya terbuka akan penderitaan masyarakat di sekitar kehidupan saya.  

Motor besar memang bisa jadi salah satu simbol kegagahan dan keperkasaan, terutama buat kaum Adam.  Dalam iklan-iklan produk jeans, rokok dan sebagainya, bintang iklannya seringkali berpose atau mengendarai motor besar.  Di film-film, motor seperti itu identik dengan kebebasan, bebas lepas menjelajahi benua Amerika nan luas melalui jalan-jalan yang panjang seakan tak berujung.  Dengan tubuh kekar penuh tato, kacamata hitam dan tanpa helm serta aksesoris khas penggemar HD lainnya.  

Mungkin masih terekam dalam ingatan kita serombongan motor besar yang mampir di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar.  Mereka menguras BBM bersubsidi dan menyebabkan banyak pengguna kendaraan yang lain tidak kebagian.  Sehingga banyak pihak yang menganggap hal itu sebagai perampokan BBM bersubsidi.  Kalau mampu beli dan mengendarai motor besar, BBM-nya jangan yang bersubsidi dong, mungkin itu yang ada di benak banyak orang.  Belum lagi berita yang masih cukup hangat betapa motor besar merek HD itu menjadi semacam upeti untuk oknum aparat penegak hukum dari orang yang menggelapkan uang pajak yang dibayar rakyat.  Uang pajak yang dibayarkan dengan suka rela dari tetesan keringat, cucuran air mata dan darah dari rakyat yang bekerja keras dengan cara yang halal dan Insya Allah diridhoi oleh Allah SWT.  Mereka membayar pajak dengan harapan uang itu akan berguna bagi para pembarayarnya.  Namun, uang itu hanya berakhir menjadi gaya hidup mewah para aparat, termasuk motor besar boros bensin itu tadi.

Peradaban yang kalah memang cenderung menyerap simbol-simbol dari peradaban yang menang dan menguasainya.  Dahulu, ketika peradaban Islam dominan di bumi Spanyol, banyak masyarakat non muslim yang meniru gaya hidup orang-orang Islam.  Para perempuan non muslim banyak yang mengenakan busana yang menutup aurat seperti kerudung.  Orang-orang Eropa yang terpengaruh budaya Islam juga ikut menjaga kebersihan, salah satunya dengan cara membersihkan diri dengan air dan sabun.   Namun, saat Barat menguasai panggung kehidupan dunia, masyarakat dunia cenderung meniru dan menyamakan gaya hidup dan budaya mereka dengan peradaban Barat.  Seberapapun mahal harga yang harus dibayar, termasuk korupsi dan penyelewangan amanah atau penggelapan harta.  Tidak peduli betapa banyak saudara seagama, sebangsa setanah air atau sesama manusia yang akan menderita, terdzalimi dan kehilangan hak-haknya.  

Sebagaimana yang pernah saya sampaikan pada siaran KaZI di Radio Islam Sabili beberapa waktu yang lalu, gaya hidup barat adalah gaya hidup yang sangat mahal.  Gaya hidup yang harus dibayar dengan ketimpangan sosial yang akhirnya memperlebar jarak antara orang kaya dan orang miskin.  Gaya hidup yang memanjakan segelintir orang-orang berduit namun menindas mereka yang lain.  Salah satunya adalah dengan motor besar itu tadi.  Revolusi Prancis adalah salah satu konsekwensi mengerikan yang harus dibayar atas ketimpangan sosial tersebut.  

Namun, sejarah menunjukkan bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah.  Mereka menghafal tahuh-tahun  terjadinya peristiwa penting, yang banyak diantaranya adalah peristiwa-peristiwa berdarah.  Mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah.  Tetapi mereka jarang sekali, kalau tidak mau mengatakan tidak pernah, mengambil hikmah dan pelajaran dari sejarah.  Oleh karena itu George Santayana, seorang filsuf, pernah berkata: "Those who forget the past are condemned to repeat it" (mereka yang melupakan sejarah akan dikutuk untuk mengulanginya).   

Barang-barang mahal, termasuk motor besar, memang bisa menjadi simbol status sosial pemiliknya.  Namun, apabila harta tersebut didapat dengan jalan yang tidak halal dan merugikan orang lain, hakikatnya semua itu adalah harta rampokan dari rakyat yang miskin dan tidak berdaya.  Rakyat yang hasil kerja kerasnya tidak bisa mereka nikmati di dunia ini bahkan untuk sekedar mengganjal perutnya yang lapar.  

Getaran-getaran jerit rintih mereka yang miskin dan menderita mungkin terlalu lemah untuk bisa didengar oleh banyak manusia yang terlena oleh kehidupan moderen, oleh yang senantiasa dibanjiri berbagai macam hiburan dan terlena manisnya teknologi.  

Namun, ....... getaran-getaran energi yang lemah itu cepat atau lambat akan mampu mengetuk dan menembus pintu-pintu lagi, dan hanya tinggal masalah waktu saja bagi Allah Al Latif, Allah SWT Yang Maha Lembut, .....................   

.....................  yang mampu menangkap getaran kepedihan betapapun halusnya

.....................  yang pada akhir memberi balasan yang seadil-adilnya bagi semua manusia

"A laisallahu bi ahkamil haakimiin"
"Bukankah Allah seadil-adilnya hakim?"
(Qs. At Thiin 8)

Semoga bermanfaat

Selasa, 02 September 2008

INSISTS Official Site - Halaman Depan

http://insistnet.com/index.php?option=com_frontpage&Itemid=1
INSISTS
Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations.


I. Latar belakang
Upaya pembaruan pemikiran keagamaan (tajdid) merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh kaum Muslim, sesuai sabda Nabi Muhammad saw (Sunan Abu Dawud), bahwa di setiap penghujung abad, akan muncul seseorang yang memperbaharui (pemikiran) keagamaan Islam. Pembaruan - dalam arti tajdid - adalah suatu siklus alami dalam pemikiran keagamaan Islam. Di sepanjang sejarah Islam, memang terdapat pemikir-pemikir besar yang berilmu tinggi, serius, Ikhlas, yang memberikan kontribusi besar dalam perkembangan khazanah pemikiran dan keilmuan Islam, dan disebut pembaharu. Sebut saja, nama-nama Umar ibn Abdul Aziz, Imam Syafii, al-Ghazali, Ibn Taimiyah, dan sebagainya.



Mereka tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Islam, karena kesungguhan, keikhlasan, dan kedalaman serta keluasan ilmu mereka. Sebagai pembaru selain menggali, mendalami, dan menekuni dengan serius ilmu-ilmu keislaman - al-Quran, hadits, tafsir, sejarah Islam, dan sebagainya - mereka juga menguasai pemikiran dari peradaban lain, seperti Filsafat Yunani, Teologi Kristen dan ilmu-ilmu lain yang berkembang masa itu. Akan tetapi para ulama masa itu tidak silau dan terjebak ke dalam "worldview" lain yang berentangan dengan "worldview Islam"; mereka mampu memfilter dan menempatkan pemikiran dan konsep-konsep dari "peradaban asing" itu dalam kerangka "worldview" Islam.



Dalam sejarah kebudayaan ummat manusia proses tukar-menukar dan interaksi (intermingling) atau pinjam meminjam konsep antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain memang senantiasa terjadi, seperti yang terjadi antara kebudayaan Barat dan peradaban Islam. Dalam proses ini selalu terdapat sikap resistensi dan akseptansi. Namun dalam kondisi dimana suatu kebudayaan itu lebih kuat dibanding yang lain yang tejadi adalah dominasi yang kuat terhadap yang lemah. Istilah Ibn Khaldun, "masyarakat yang ditaklukkan, cenderung meniru budaya penakluknya".

Ketika peradaban Islam menjadi sangat kuat dan dominan pada abad pertengahan, masyarakat Eropa cenderung meniru atau "berkiblat ke Islam". Kini ketika giliran kebudayaan Barat yang kuat dan dominan maka proses peniruan itu juga terjadi. Terbukti sejak kebangkitan Barat dan lemahnya kekuasaan politik Islam, para ilmuwan Muslim belajar berbagai disiplin ilmu termasuk Islam ke Barat dalam rangka meminjam. Hanya saja karena peradaban Islam dalam kondisi terhegemoni maka kemampuan menfilter konsep-konsep dalam pemikiran dan kebudayaan Barat juga lemah.

Tidak heran, jika saat ini, banyak yang cenderung melihat Barat sebagai "kiblat pemikiran" tidak saja dalam sain-teknologi tapi juga dalam bidang keagamaan (religious studies). Pemikiran dan kebudayaan Barat yang berakar pada filsafat Yunani, tradisi Judeo-Christian, dan konsep-konsep tribalisme berbagai suku di Eropa, telah banyak memukau banyak pemikir Muslim. Banyak yang kemudian berpikir, agar Muslim maju tidak ada jalan lain kecuali dengan menjiplak Barat, sampai hal-hal yang bersifat fisik - seperti yang dilakukan Kemal Attaturk di Turki.

Disaat kebudayaan Barat semakin dominan timbul suatu pemikiran bahwa jika peradaban Barat lahir dan berkembang melalui alam pikiran, tradisi dan pandangan hidup Barat sendiri, maka adalah sesuatu yang a fortiori untuk memandang Islam sebagai peradaban yang lahir, berkembang dan dapat terus berkembang melalui pandangan hidup dan tradisinya sendiri. Dalam artian bahwa peradaban Islam berkembang dan hanya dapat berkembang oleh karena pandangan hidup Islam sendiri. Bahkan menurut Professor Alparslan, seorang pakar filsafat Islam dari Turki, tidak ada peradaban yang berkembang karena peradaban lain, jika pun ada unsur-unsur peradaban asing dalam suatu peradaban, ia tidak dominan.

Jika konsep-konsep pemikiran dari peradaban asing diterapkan kedalam pemikiran Islam secara tidak kritis maka akibatnya konsep-konsep pemikiran asing itu akan menjadi dominan dan dapat menghancurkan peradaban Islam. Adopsi konsep-konsep Barat kedalam pemikiran Islam dengan cara itu kini telah mengakibatkan kerancuan (con-fusion) pemikiran.

Dan jika usaha pembaruan keagamaan hanya mengadopsi konsep-konsep Barat, maka bukan tidak mungkin akan berkembang menjadi proses Westernisasi. Terbukti ketika para orientalis menulis tentang Islam dengan framework mereka sendiri, maka banyak ditemui pandangan mereka yang negatif tentang pribadi Nabi saw, ide pemisahan hadith dari al-Qur'an, ide yang mempersoalkan otoritas Tafsir para ulama, penafian adanya filsafat Islam, shari'at Islam, hak wanita dan lain-lain.

Memang, kaum Muslimin wajib menguasai bidang sains dan teknologi yang berkembang pesat di Barat. Tetapi, pandangan hidup Barat yang bersifat sekularistis-liberalistis-hedonistis tidak seyogyanya diadopsi dan dijadikan sebagai "worldview" untuk memandang Islam, dengan anggapan kaum Muslim akan maju jika konsep-konsep Islam disubordinasikan ke dalam pola berpikir Barat.

Tradisi pemikiran dalam Islam adalah cermin dari pandangan hidup Islam (worldview) yang dinamik, teratur dan rasional yang dipancarkan oleh konsep Islam sebagai Din. Secara teori, pandangan hidup ini tercipta dari adanya konsep ilmu pengetahuan dan pengembangannya yang dibentuk dari kerangka kerja sistim metafisika Islam yang terutamanya meliputi pengertian tentang kebenaran dan realitas yang mutlak.

Dalam perspektif pandangan hidup inilah dapat diketahui apakah suatu pemahaman atau penafsiran tentang Islam yang berupa ilmu pengetahuan, filsafat, sains dan lainnya itu benar-benar sesuai dengan Islam dan sejalan dengan pernyataan dan kesimpulan umum Kebenaran yang Diwahyukan (Revealed Truth). Jika terdapat penafsiran atau pemahaman yang tidak sejalan maka perlu dikoreksi ulang (Islah) dengan apa yang disebut dengan Perubahan Paradigma (paradigm shift), yang berarti perubahan pandangan hidup dan sistim metafisikanya.

Dalam tradisi pemikiran Islam aktifitas koreksi ulang ini dapat berarti tajdid dan hakekatnya selalu berorientasi pada pemurnian (refinement) yang sifatnya kembali kepada ajaran asal dan bukan adopsi pemikiran asing. Kembali kepada ajaran asal tidak bisa difahami sebagai kembali kepada corak fisik kehidupan di zaman Nabi dan generasi salaf al-Salih, tapi harus dimaknai secara konseptual dan kreatif. Maka, sesuai dengan makna Islam itu sendiri, tajdid atau Islah mempunyai implikasi membebaskan, artinya membebaskan manusia dari belenggu tradisi magis, mitologis, animistis dan kultur chauvinis yang bertentangan dengan Islam; pembebasan manusia dari pengaruh pemikiran sekuler terhadap pikiran dan bahasanya, atau pembebasan manusia dari dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil kepada fitrah atau hakekat kemanusiaannya yang benar. (al-Attas)

Proses pembebasan ini sekarang dikenal dengan sebutan "Islamisasi". Dalam konteks zaman sekarang, proses ini memerlukan pengetahuan tentang paradigma dan pandangan hidup Islam yang tercermin di dalam al-Qur'an dan Sunnah serta pendapat-pendapat para ulama terdahulu yang secara ijma' dianggap Islah. Selain itu juga dituntut untuk memahami pengetahuan tentang kebudayaan asing dengan pemikiran yang menjadi asasnya. Disini jelas bahwa pembaharuan atau Islamisasi tidak bersifat evolusioner tapi lebih bermakna devolusioner, sehingga produk yang dihasilkan tidak berbeda dari bentuk asalnya. Pembaharuan dalam Islam tidak "membongkar" konsep-konsep asasi yang telah dijelaskan Nabi dan dielaborasi oleh para ulama terdahulu, tetapi memperjelas dan mempertajam konsep-konsep itu dalam konteks masa kini.
Pembaharuan atau Islamisasi tidak mengindikasikan bahwa ajaran asasi agama Islam itu usang dan perlu diperbaharui agar sesuai dengan keadaan zaman yang terus menerus berubah, pembaharuan (tajdid) diperlukan karena pemahaman ummat Islam terhadap ajaran Islam telah semakin jauh dari bentuk dan sifat aslinya yang disebabkan oleh kondisi ilmu pengetahuan dan ulama di masyarakat. Maka dari itu setiap usaha pembaharuan (tajdid) selalu merujuk kepada kebenaran yang mutlak, yang permanen, yang termaktub dalam al-Qur'an dan Sunnah. Ia bukan penafsiran Islam dengan pikiran bebas yang menolak otoritas ulama, bukan pula suatu bentuk pencarian kebenaran yang tiada henti dan tiada pegangan serta petunjuk yang mutlak dan pasti, seperti tradisi pemikiran dalam kebudayaan Barat.

Berdasarkan pada rationale diatas maka didirikanlah INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought & Civilization), yang berusaha untuk menghadirkan wajah pemikiran Islam yang lebih bersifat konseptual dengan berpijak pada pandangan hidup Islam, berpegang pada tradisi intelektual dan otoritas para ulama serta committed pada kebenaran dengan tetap memperhatikan masalah-masalah kontemporer. INSIST adalah lembaga non-profit yang bergerak dalam bidang pengkajian pemikiran dan peradaban Islam secara professional akademis. Didirikan oleh cendekiawan muda Muslim yang sebagian besar sedang menempuh program Post-graduate mereka di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University (ISTAC-IIUM), Malaysia.



II. Nama Website: www.insistnet.com

III. Motto: Committed to the Truth

IV. Misi dan tujuan:

Missi dan tujuan INSISTS adalah:

Mengkaji, mengklarifikasi dan atau mereformulasi konsep-konsep dan metodologi penting dalam khazanah pemikiran dan peradaban Islam yang relevan dengan problem-problem yang dihadapi umat Islam saat ini seperti problem keilmuan (falsafah, epistemologi, etika, dan sebagainya), pendidikan, sejarah, peradaban, politik, ekonomi, sosial dan lain-lain.
Mengembangkan dan menghadirkan framework pemikiran Islam yang lebih konseptual yang berangkat dari konsep pandangan hidup Islam yang tidak terhegemoni oleh paradigma liberal-sekular.
Menyiapkan respon-respon Islam terhadap pemikiran keislaman yang dibawa oleh arus kebudayaan, aliran pemikiran, dan ideologi non-Islam.



V.Kontributor makalah:

Kontributor makalah di Website INSISTS terdiri dari:

Cendekiwan Muslim yang menguasai bahasa Arab, Inggris, dan bahasa-bahasa lain dan yang lebih penting adalah menguasai pemikiran dan peradaban Islam dan juga Barat.

Cendekiwan Muslim yang memiliki kemampuan untuk mengkaji teks-teks asli dan memahaminya dengan baik. Para dosen dalam berbagai disiplin ilmu.