http://wasathon.com/humaniora/read/mewaspadai_perangkap_pikiran/#.T2qcCFilrW4.twitter
“Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.”. Kata-kata itu mudah dicerna dan sepertinya ringan saja. Tapi, apakah pemahaman kita seringan pernyataan tersebut? Kita sering berdebat atau mengkaji soal keimanan dengan memosisikannya sebagai wilayah batiniah, perasaan, atau hal-hal spiritual yang tidak ada hubungannya dengan ranah syariah—sikap kita terhadap kehidupan dan bagaimana kita menyikapinya, khususnya dalam rangka kita bersyukur terhadap Allah.
Tampilkan postingan dengan label pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pikiran. Tampilkan semua postingan
Rabu, 21 Maret 2012
Rabu, 29 Juni 2011
[Transkrip] Memulai Bisnis Sampingan
Beratnya tuntutan kehidupan seringkali membuat orang membuka bisnis sampingan selain bekerja sebagai karyawan.
Berikut tips dari Pak Supardi Lee tentang bisnis sampingan
1. mempersiapkan modal yang dibutuhkan. Sebaiknya jumlah modal memadai tapi tidak terlalu menyakitkan jika habis
2. menentukan jenis bisnis yang diminati, termasuk belajar mengenai bisnis tersebut.
3. perhitungan, opportunity and risk
4. merekrut karyawan. merekrut karyawan memang merupakan titik kritis dari bisnis karena sangat berhubungan dengan kepercayaan dan kompetensi. Para karyawan inilah yang akan melaksanakan operasional bisnis harian, namun keputusan-keputusan penting tetap saja pada pemilik bisnis.
5. mulai berbisnis sambil terus belajar tentang bisnis tersebut.
Setiap bisnis memang memiliki resiko kegagalan, namun hal itu bisa diminimalisir dengan belajar. Apalagi kita bisa belajar dari mentor bisnis yang sudah terlebih dahulu merasakan apa dan bagaimana bisnis tersebut. Kegagalan itu sendiri merupakan proses belajar untuk meningkatkan kualitas diri kita sendiri
bisnis sampingan bisa menjadi ajang pembelajaran bisnis tanpa meninggalkan pekerjaan utama. Banyak orang yang terlalu terburu buru untuk berbisnis sehingga langsung meninggalkan pekerjaan utama. Walaupun ada yang berhasil namun banyak juga yang gagal.
Orang yang ingin berbisnis harus bersikap proporsional, berani tapi tidak nekat, penuh perhitungan tapi tetap memulai. Jebakan bisnis juga harus diwaspadai. Jebakan tersebut terdiri dari dua macam emosi yaitu rasa takut dan keserakahan. Takut untuk memulai dan apabila sudah mulai seringkali seseorang terjebak dalam keserakahan meraup segala peluang yang ada.
Semoga bermanfaat
Narasumber: Pak Supardi Lee
Berikut tips dari Pak Supardi Lee tentang bisnis sampingan
1. mempersiapkan modal yang dibutuhkan. Sebaiknya jumlah modal memadai tapi tidak terlalu menyakitkan jika habis
2. menentukan jenis bisnis yang diminati, termasuk belajar mengenai bisnis tersebut.
3. perhitungan, opportunity and risk
4. merekrut karyawan. merekrut karyawan memang merupakan titik kritis dari bisnis karena sangat berhubungan dengan kepercayaan dan kompetensi. Para karyawan inilah yang akan melaksanakan operasional bisnis harian, namun keputusan-keputusan penting tetap saja pada pemilik bisnis.
5. mulai berbisnis sambil terus belajar tentang bisnis tersebut.
Setiap bisnis memang memiliki resiko kegagalan, namun hal itu bisa diminimalisir dengan belajar. Apalagi kita bisa belajar dari mentor bisnis yang sudah terlebih dahulu merasakan apa dan bagaimana bisnis tersebut. Kegagalan itu sendiri merupakan proses belajar untuk meningkatkan kualitas diri kita sendiri
bisnis sampingan bisa menjadi ajang pembelajaran bisnis tanpa meninggalkan pekerjaan utama. Banyak orang yang terlalu terburu buru untuk berbisnis sehingga langsung meninggalkan pekerjaan utama. Walaupun ada yang berhasil namun banyak juga yang gagal.
Orang yang ingin berbisnis harus bersikap proporsional, berani tapi tidak nekat, penuh perhitungan tapi tetap memulai. Jebakan bisnis juga harus diwaspadai. Jebakan tersebut terdiri dari dua macam emosi yaitu rasa takut dan keserakahan. Takut untuk memulai dan apabila sudah mulai seringkali seseorang terjebak dalam keserakahan meraup segala peluang yang ada.
Semoga bermanfaat
Narasumber: Pak Supardi Lee
Sumber: Power of Life 30 Juni 2011
Minggu, 26 Juni 2011
[Transkrip] 3 Filter Pikiran
Era digital yang seakan tanpa batas menyebabkan kita dibanjiri informasi yang melebihi kemampuan ktia mencernanya. Kemajuan teknologi tidak diimbangi dengan kualitas berita dan informasi yang disampaikan. Kekerasan, pornografi dan konsumerisme memenuhi hari-hari kita tanpa pernah berhenti. Terkadang, pikiran sadar kita tidak mampu menyaring limpahan informasi tersebut sehingga banyak yang masuk ke bawah sadar kita. Informasi yang tersimpan di bawah sadar itu sangat mempengaruhi keputusan dan tindakan-tindakan kita dalam hidup. Tidak mengherankan, banyak orang di Indonesia ini yang egois, mudah tersinggugn, boros dan cepat marah.
Walaupun demikian, kita tetap bertanggungjawab atas pikiran, perasaan dan tindakan-tindakan kita. Kita memerlukan filter untuk menyaring informasi apa saja yang masuk ke dalam pikiran, terutama pkiran bawah sadar kita.
3 filter pikiran
1. apakah informasi ini benar atau tidak, apakah ini me rupakan fakta, opini atau bahkan gosip
2. apakah informasi ini baik untuk saya atau tidak. Filter ini berhubungan dengan karakter, emosi dan spiritualitas kita.
3. apakah informasi ini berguna bagi saya atau tidak. Filter ini berhubungan dengan komptensi dan profesionalitas kita.
Apabila informasi tersebut tidak lolos dari filter-filter tersebut, kita jangan terlalu mudah menyerapnya.
Mungkin ada yang berpikiri bahwa filter pikiran ini membuat orang tidak peduli pada keadaan masyarakat. Jawabannya, kepedulian bukan ditunjukkan oleh pengetahuan kita tapi oleh tindakan kita. Pengetahuan kita mungkin terbatas, namun hal itu tetap tidak mengurangi dan menghalangi kepedulian kita bagi sesama. Agar tetap bisa peduli, kita perlu menjaga pikiran agar tetap waras dan tubuh agar tetap sehat.
Sumber: Mutiara Pagi - The Power of Life
Narasumber: Bang Zainal "Teroris" Abidin
Semoga bermanfaat
Walaupun demikian, kita tetap bertanggungjawab atas pikiran, perasaan dan tindakan-tindakan kita. Kita memerlukan filter untuk menyaring informasi apa saja yang masuk ke dalam pikiran, terutama pkiran bawah sadar kita.
3 filter pikiran
1. apakah informasi ini benar atau tidak, apakah ini me rupakan fakta, opini atau bahkan gosip
2. apakah informasi ini baik untuk saya atau tidak. Filter ini berhubungan dengan karakter, emosi dan spiritualitas kita.
3. apakah informasi ini berguna bagi saya atau tidak. Filter ini berhubungan dengan komptensi dan profesionalitas kita.
Apabila informasi tersebut tidak lolos dari filter-filter tersebut, kita jangan terlalu mudah menyerapnya.
Mungkin ada yang berpikiri bahwa filter pikiran ini membuat orang tidak peduli pada keadaan masyarakat. Jawabannya, kepedulian bukan ditunjukkan oleh pengetahuan kita tapi oleh tindakan kita. Pengetahuan kita mungkin terbatas, namun hal itu tetap tidak mengurangi dan menghalangi kepedulian kita bagi sesama. Agar tetap bisa peduli, kita perlu menjaga pikiran agar tetap waras dan tubuh agar tetap sehat.
Sumber: Mutiara Pagi - The Power of Life
Narasumber: Bang Zainal "Teroris" Abidin
Semoga bermanfaat
Langganan:
Postingan (Atom)