Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2012

Ketika Hubungan terlanjur Retak

Interaksi antar manusia biasanya memang lebih diwarnai emosi daripada logika. Kekuatan "rasa" terkadang lebih dalam dan dominan daripada kekuatan pikiran. Sehingga, interaksi antar manusia tidak selalu dirasakan nyaman oleh kedua belah pihak, bahkan seringkali keadaan menjadi tegang, melelahkan dan menyakitkan.

Banyak sekali penyebab kerusakan hubungan yang semuanya membuat orang tidak nyaman secara emosional. Janji yang tidak ditepati, amanah yang tidak ditunaikan atau kurang sempurna, keputusan yang diambil mendadak dan lain sebagainya. Apapun yang membuat orang merasa tidak nyaman secara emosional berpotensi merusak hubungan.

Dengan rentannya sebuah hubungan menjadi rusak, maka apakah yang harus dilakukan seseorang apabila hubungannya dengan orang tertentu, seperti pasangan hidup (suami/istri), anak, orang tua, rekan kerja dan lain sebagainya? Apakah cukup hanya dengan meminta maaf? terkadang iya, namun seringkali tidak. Perasaan yang terluka dan ego yang mendominasi seringkali menghalangi orang untuk memperbaiki suatu hubungan.

Jarang kita menyadari betapa rapuhnya emosi itu. Betapa rentannya emosi menjadi liar tak terkendali bagai api yang melahap hutan atau perumahan atau malah membeku bagai padang es yang dingin menggigit.

Note: Berhubung MP mau ditutup ya nulisnya singkat2 ajah

Selasa, 22 Mei 2012

Selipkan Rasa Syukur, Apapun Kondisi Kita

http://wasathon.com/kisah_inspirasi/read/selipkan_rasa_syukur_apapun_kondisi_kita/
Pada suatu sore, saya menemukan seorang anak kecil. Usianya sekitar 3 tahun. Ia berkeliling mengitari sepeda motor yang sedang berhenti di prapatan lampu merah, jalan raya kalimalang Bekasi. Tangan anak itu menengadah meminta-minta kepada setiap pengendara motor. Dalam hati saya berkata, anak sekecil itu sudah diajarkan untuk meminta-minta. Mungkin saja ia tidak ingin, akan tetapi keadaanlah yang memaksanya. Begitu pikir saya waktu itu. Dalam hati saya berkata, ternyata saya masih bersyukur masih bisa menikmati masa kanak-kanak dengan baik. Bisa bermain dengan teman sebaya tanpa dibebani oleh mencari nafkah untuk keluarga.

Selanjutnya sila ke link, semoga bermanfaat :)

Rabu, 21 Maret 2012

Mewaspadai Perangkap Pikiran

http://wasathon.com/humaniora/read/mewaspadai_perangkap_pikiran/#.T2qcCFilrW4.twitter
“Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.”. Kata-kata itu mudah dicerna dan sepertinya ringan saja. Tapi, apakah pemahaman kita seringan pernyataan tersebut? Kita sering berdebat atau mengkaji soal keimanan dengan memosisikannya sebagai wilayah batiniah, perasaan, atau hal-hal spiritual yang tidak ada hubungannya dengan ranah syariah—sikap kita terhadap kehidupan dan bagaimana kita menyikapinya, khususnya dalam rangka kita bersyukur terhadap Allah.

Sabtu, 17 Maret 2012

[Kultwit] Mengasihi oleh Arvan Pradiyansyah

1.Teman,untuk dapat mengasihi orang lain,kita perlu bayangkan orang lain sebagai diri sendiri. #The7LawsofHappinessBook

2.Bayangkan kita ada di posisi orang tersebut. #The7LawsofHappinessBook

3.Maukah kita diperlakukan tidak sepatutnya? #The7LawsofHappinessBook

4.Maukah kita disepelekan oleh orang lain? #The7LawsofHappinessBook

5.Kalau Anda menjawab tidak berarti orang lain pun akan menjawab tidak. #The7LawsofHappinessBook

6.Namun,Anda akan menjadi orang yg sangat luhur jika mampu mengasihi tnpa menuntut u dkasihi trlebih dulu #The7LawsofHappinessBook

7.Selamat berakhir pekan, teman. Salam dari taman samping. rumah
 #The7LawsofHappinessBook

Sumber: Twitter Arvan Pradiyansyah

Selasa, 14 Juni 2011

[Mosquelife Social Campaign] Menjaga amanah lingkungan


(Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan menjadikan jalan-jalan diatasnya bagimu, dan yang menurunkan air (hujan) dari langit. "Kemudiab Kami tumbuhkan dengannya (air hujan itu) berjenis-jenis aneka macam tumbuh-tumbuhan itu."
(Q.S. T?h? : 53).


Repost dari situs mosquelife dot com

Suatu ketika, saya sedang menunggu sholat Subuh berjamaah di sebuah musholla.  Karena musholla itu terletak di tingkat dua sebuah bangunan, saya bisa melihat ke sekeliling dengan lebih baik.  Tiba-tiba saya melihat seorang perempuan di sebuah jembatan di atas sungai dekat musholla.  Perempuan itu membawa sebuah kantong plastik kresek berisi sampah dan melemparkannya ke sungai.  Memang, sungai tersebut terlihat kotor dan penuh sampah walaupun airnya masih mengalir deras.  Kejadian di atas merupakan sebuah kejadian yang menjadi contoh kecil betapa abainya manusia terhadap kelestarian alam dari bumi yang diamanahkan kepadanya.  Hal-hal kecil yang buruk tersebut bisa menyebabkan kerusakan dan bencana walaupun tidak terjadi secara langsung.  

Manusia seringkali menyalahkan fenomena alam.  Bahkan mreka yang mengaku ahli pun seringkali mengesampingkan ulah tangan manusia yang sesungguhnya merupakan faktor utama kerusakan alam.  Hujan menjadi kambing hitam dari banjir yang melanda berbagai daerah di negeri ini.  Padahal, hujan adalah anugerah dari Allah SWT kepada semua hambaNya dan makhlukNya di dunia ini.  Apalah artinya bumi ini jika tidak ada siklus hujan yang menyuburkan tanam-tanaman di atasnya.  Tentu dia hanya akan menjadi planet yang mati dan tak akan mampu menunjang kehidupan di atasnya.  

Kita masih beruntung masih ada orang-orang yang bersedia mengolah sampah, baik organik atau anorganik menjadi barang-barang bermanfaat.  Ada juga yang bersedia menyingsingkan lengan baju untuk memunguti sampah dari sungai, pantai dan tempat-tempat lainnya.  Namun, jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan jumlah sampah yang menggunung, yang dihasilkan masyarakat setiap hari.  

Ya Allah Ya Rabb, jadikanlah kami hamba-hamba yg selalu bersyukur terhadap semua nikmat yang Engkau berikan, dan menjaga bumi ini dari segala kerusakan.

Aamiin

Semoga bermanfaat

Yang mau mendukung Social Campaign ini silakan ke situs ini

Sabtu, 01 Januari 2011

[Posting pertama 2011] Hanya sebuah renungan

5 .. 4 .. 3 .. 2 .. 1 .. orang-orang berteriak ramai - ramai

DONG ... DONG .. DONG ..
Jarum pun menunjukkan pukul 00.00

Hari pun berganti, tahun yang lama pun berlalu

DUAR ... DUAR .. DUAR

Kembang api pun menerangi langit malam dan petasan membahana mengaungkan suara yang menggelegar

Orang - orang pun bergembira menyambut tahun baru yang baru saja tiba di dunia ini, mereka hilir mudik ke sana ke mari, ada yang bergoyang mengikuti alunan lagu ada juga yang hanya duduk mengamati situasi.  Hampir semua orang bergembira menikmati malam pergantian tahun itu. Karena rasa adalah segalanya, mungkin demikian semboyan hidup mereka.  

Keesokan paginya, saat pesta berakhir, hanya tampak segelintir manusia yang bertugas menjaga kebersihan kota.  Mereka memunguti sampah dan menyapu jalanan agar jalan itu segera bersih dan bisa digunakan lagi keesokan harinya.  

Beberapa hari kemudian, kita akan menyaksikan jalan tersebut kembali dilalui berbagai kendaraan dengan tujuan masing-masing.  Tidak ada sedikitpun bekas pesta di sana.  Mungkin, jika ada orang baru yang datang ke Jakarta, mungkin tidak tahu bahwa tempat itu suka dibuat hura-hura di tahun baru dengan kesia-siaan yang melampaui batas.  

Demi sebuah sensasi rasa, apapun dilakukan, sejauh apapun didatangi ...

Sungguh disayangkan memang, banyak yang tidak menyadari bahwa bergantinya tahun adalah berkurangnya jatah kontrak hidup di dunia ini.  Manusia hidup di dunia ini tidaklah selamanya, akan ada masanya dia meninggalkan dunia fana.  Entah kematian yang penuh keindahan dan keharuan walaupun tetap meninggalkan kesedihan bagi yang ditinggalkan.  Atau berakhir sebagai sebuah kematian yang mengerikan pertanda habisnya suatu kehidupan yang penuh dosa dan keingkaran.  

Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau tahun telah berganti, namun apakah kita sudah menajdi manusia baru yang lebih baik dari sebelumnya?

Semoga ...