http://wasathon.com/event/read/kajian_publik_bedah_tuntas_ruu_kkg/
Gender dan Feminisme seakan-akan tak habis-habisnya menjadi perdebatan publik. Apalagi akan digulirkan kebijakan baru yang masih berbentuk rancangan undang-undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). Melihat fenomena ini, bagaimana Islam memandang kebijakan tersebut? Bagaimana peran serta orang-orang liberal yang turut andil dalam menggoalkan kebijakan tersebut? Ikuti kegiatan berikut ini:
Tampilkan postingan dengan label liberal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liberal. Tampilkan semua postingan
Senin, 18 Juni 2012
Minggu, 17 Juni 2012
Membiarkan Papua merdeka?
Berita mengejutkan tayang di situs Indonesia Today. Ulil Abshar Abdalla bilang "Biarkan Saja Papua Merdeka". Tokoh yang pernah menjadi orang nomor satu dan icon Jaringan Islam Liberal ini dengan enteng mengatakan "biar saja Papua meredeka". Seakan pengorbanan para pahlawan yang berjuang merebut Irian Barat (sebagaimana disebut saat itu) tidak ada arti dan harganya sama sekali dalam pandangan orang tersebut.
Siapapun yang pernah mempelajari sejarah kemerdekaan Indonesia pasti tahu, minimal secara umum, perjuangan merebut Irian Barat. Betapa banyak pahlawan yang gugur dalam beberapa operasi militer seperti operasi Trikora dan Pertempuran Laut Aru yang mengakibatkan hancurnya KRI Matjan Tutul. Apakah layak seorang liberal dengan enteng melontarkan pendapat "biarkan saja Papua lepas dari Indonesia" tanpa memperhitungkan pengorbanan para pahlawan tersebut?
Permasalahan Papua memang rumit, namun akarnya sudah jelas, ketidakadilan di berbagai bidang terutama ekonomi. Perusahaan-perusahaan penambangan asing dengan enaknya mengeruk kekayaan alam Papua sementara rakyat di sana masih berbaku hantam dalam bentuk Perang Antar Suku. Rakyat Papua hingga hari ini masih banyak yang terbelakang, miskin dan primitif. Mungkin tradisi perang antar suku itu memang sengaja dipelihara agar kekayaan alam Papua bisa dikeruk dengan mudah. Ketidakadilan itu sendiri berawal dari lemahnya ketegasan pemerintah dalam menghadapi intervensi asing, terutama dari Barat khususnya Amerika Serikat. Ditambah lagi dengan merajalelanya korupsi di berbagai bidang, termasuk di tubuh partai si Ulil sendiri. Semua itu semakin membenarkan kebenaran pepatah lama di Indonesia, "Kuman di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak tampak". Orang-orang liberal yang mulutnya berbusa-busa menyerukan kebebasan ternyata malah menjerumuskan Indonesia ke dalam penjajahan moderen yang jauh lebih mengerikan daripada penjajahan era kolonial. Jika benar Papua merdeka dan lepas dari NKRI, apakah rakyatnya bakal sejahtera? Belum tentu. Bahkan mungkin malah semakin menderita karena kapitalis pengeruk sumber daya alam di sana jelas bukan kaum filantropis yang peduli pada sesama. Mereka hanya peduli pada kepentingan ekonominya sendiri, masa bodo pada kesejahteraan dan kepentingan orang lain.
Entah kenapa sepertinya salah satu ciri khas orang liberal adalah menggampangkan masalah dan meremehkan orang lain. Betapa pedihnya perasaan para pahlawan yang sudah berjuang berdarah-darah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari bangsa-bangsa penjajah jika mereka tahu betapa entengnya lisan orang liberal melecehkan dan menghinakan perjuangan mereka. Lontaran-lontaran pendapat khas orang-orang liberal itu memang sangat pas dengan definisi Rasulullah tentang kesombongan. “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)
Semoga bermanfaat
Siapapun yang pernah mempelajari sejarah kemerdekaan Indonesia pasti tahu, minimal secara umum, perjuangan merebut Irian Barat. Betapa banyak pahlawan yang gugur dalam beberapa operasi militer seperti operasi Trikora dan Pertempuran Laut Aru yang mengakibatkan hancurnya KRI Matjan Tutul. Apakah layak seorang liberal dengan enteng melontarkan pendapat "biarkan saja Papua lepas dari Indonesia" tanpa memperhitungkan pengorbanan para pahlawan tersebut?
Permasalahan Papua memang rumit, namun akarnya sudah jelas, ketidakadilan di berbagai bidang terutama ekonomi. Perusahaan-perusahaan penambangan asing dengan enaknya mengeruk kekayaan alam Papua sementara rakyat di sana masih berbaku hantam dalam bentuk Perang Antar Suku. Rakyat Papua hingga hari ini masih banyak yang terbelakang, miskin dan primitif. Mungkin tradisi perang antar suku itu memang sengaja dipelihara agar kekayaan alam Papua bisa dikeruk dengan mudah. Ketidakadilan itu sendiri berawal dari lemahnya ketegasan pemerintah dalam menghadapi intervensi asing, terutama dari Barat khususnya Amerika Serikat. Ditambah lagi dengan merajalelanya korupsi di berbagai bidang, termasuk di tubuh partai si Ulil sendiri. Semua itu semakin membenarkan kebenaran pepatah lama di Indonesia, "Kuman di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak tampak". Orang-orang liberal yang mulutnya berbusa-busa menyerukan kebebasan ternyata malah menjerumuskan Indonesia ke dalam penjajahan moderen yang jauh lebih mengerikan daripada penjajahan era kolonial. Jika benar Papua merdeka dan lepas dari NKRI, apakah rakyatnya bakal sejahtera? Belum tentu. Bahkan mungkin malah semakin menderita karena kapitalis pengeruk sumber daya alam di sana jelas bukan kaum filantropis yang peduli pada sesama. Mereka hanya peduli pada kepentingan ekonominya sendiri, masa bodo pada kesejahteraan dan kepentingan orang lain.
Entah kenapa sepertinya salah satu ciri khas orang liberal adalah menggampangkan masalah dan meremehkan orang lain. Betapa pedihnya perasaan para pahlawan yang sudah berjuang berdarah-darah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari bangsa-bangsa penjajah jika mereka tahu betapa entengnya lisan orang liberal melecehkan dan menghinakan perjuangan mereka. Lontaran-lontaran pendapat khas orang-orang liberal itu memang sangat pas dengan definisi Rasulullah tentang kesombongan. “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)
Semoga bermanfaat
Rabu, 21 Maret 2012
Mewaspadai Perangkap Pikiran
http://wasathon.com/humaniora/read/mewaspadai_perangkap_pikiran/#.T2qcCFilrW4.twitter
“Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.”. Kata-kata itu mudah dicerna dan sepertinya ringan saja. Tapi, apakah pemahaman kita seringan pernyataan tersebut? Kita sering berdebat atau mengkaji soal keimanan dengan memosisikannya sebagai wilayah batiniah, perasaan, atau hal-hal spiritual yang tidak ada hubungannya dengan ranah syariah—sikap kita terhadap kehidupan dan bagaimana kita menyikapinya, khususnya dalam rangka kita bersyukur terhadap Allah.
“Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.”. Kata-kata itu mudah dicerna dan sepertinya ringan saja. Tapi, apakah pemahaman kita seringan pernyataan tersebut? Kita sering berdebat atau mengkaji soal keimanan dengan memosisikannya sebagai wilayah batiniah, perasaan, atau hal-hal spiritual yang tidak ada hubungannya dengan ranah syariah—sikap kita terhadap kehidupan dan bagaimana kita menyikapinya, khususnya dalam rangka kita bersyukur terhadap Allah.
Rabu, 29 Februari 2012
Kritik Atas Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM
http://wasathon.com/humaniora/read/kritik_atas_program_studi_agama_dan_lintas_budaya_ugm___/
Perlu diketahui, Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religious and Cross-cultural Studies atau CRCS) adalah program S-2 (pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogjakarta, yang didirikan pada tahun 2000. Tiga wilayah studi yang menjadi fokus pengajaran dan penelitian di CRCS adalah hubungan antaragama, agama dan budaya local, serta agama dan isu-isu kontemporer.
selanjutnya, silaka klik link di atas :)
Perlu diketahui, Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religious and Cross-cultural Studies atau CRCS) adalah program S-2 (pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogjakarta, yang didirikan pada tahun 2000. Tiga wilayah studi yang menjadi fokus pengajaran dan penelitian di CRCS adalah hubungan antaragama, agama dan budaya local, serta agama dan isu-isu kontemporer.
selanjutnya, silaka klik link di atas :)
Minggu, 11 Mei 2008
Ring in RED -- HOAX atau beneran?
Percaya enggak kalau SMS nomornya warna merah, yang buka bisa mati? Kalau saya percaya, soalnya yang buka ada di jalanan dan gak lihat kiri-kanan sehingga ketabrak truk, he he he *maaf, becanda*
Memang beberapa hari ini kita dihebohkan dengan adanya berita-berita seperti itu. Dalam era informasi sekarang ini, yang katanya dimulai dari runtuhnya Tembok Berlin, informasi seakan tak terbedung, sehingga sulit bagi kita semua untuk menyaring informasi mana yang benar atau mana yang HOAX (kebohongan tingkat parah). Namun, bila kita paham prinsip-prinsip dasarnya, Insya Alloh hal seperti itu tidak perlu terlalu merisaukan kita.
1. Islam mengajarkan pada para pengikutnya untuk mempercayai hal-hal yang ghoib seperti setan, jin, sihir dan sebagainya namun Islam tidak mengajarkan para pengikutnya untuk takut secara berlebihan terhadap hal-hal tersebut.
2. Pertahanan diri yang paling efektif untuk membentengi diri dari hal-hal tersebut adalah dengan mendekatkan diri kepada Alloh SWT dengan cara menambah kualitas dan kuantitas ibadah kita seperti sholat, shaum atau puasa, dzikir dll.
3. Hal-hal seperti Ring in RED tadi dapat kita gunakan sebagai ujian bagi keimanan kita sendiri. Apabila kita masih takut tentu saja ada yang salah dengan keimanan kita. Mungkin kita kurang ilmu, terlalu banyak maxiat atau ibadah kita kurang baik.
Pertanyaan selanjutnya, apakah zaman teknologi canggih seperti sekarang ini setan-setan masih gentayangan? Pertanyaan seperti itu bisa dijawab dengan beberapa hal berikut ini:
1. Setan dari golongan jin tentu saja gak peduli sekarang ini zaman batu atau zaman teknologi canggih. Mereka hanya peduli pada tugas-tugas yang diberikan sang Maharaja segala setan yaitu Iblis Laknatullah. Si Iblis ini ingin agar semua manusia masuk neraka menemani dia disiksa selama-lamanya. Para setan itu sendiri terbagi menjadi berbagai peringkat atau pangkat. Pangkat-pangkat mereka dijelaskan di sini:
http://kopiradix.multiply.com/journal/item/31/Jenis-Jenis_Setan_kritik_untuk_film_Horor_Indonesia
2. Orang yang tidak percaya pada mereka sama rentannya dengan orang yang takut pada mereka secara berlebihan. Kedua jenis manusia tersebut bisa jadi sasaran empuk setan-setan dari golongan jin ini. Yang sama sekali tidak percaya bisa jadi atheist, liberal dan materialistik, gak peduli halal-haram, pahala-dosa. Yang takut berlebihan bisa jadi klien para dukun, paranormal dan kyai gadungan, serta mengoleksi jimat dari ujung rambut sampai ujung kaki.
3. Setan dari Golongan Manusia ternyata jauh lebih mengerikan dari yang berasal golongan Jin. mereka bukan apa-apa dibandingkan Adolf Hitler, Benito Mussolini, Stalin, Ariel Sharon, George W. Bush dan diktator-diktator lainnya. Mereka juga bukan apa-apa dibandingkan kaum Kapitalis yang merampok harta benda dan uang rakyat di negara-negara berkembang. Setan-setan Jin enggak bisa bikin perang dunia seperti Perang Dunia Pertama dan Kedua. Jin-jin itu juga tidak bisa bikin penjara-penjara seperti Abu Ghuraib dan Guantanamo. Paham mereka dijelaskan dalam tulisan ini
http://kopiradix.multiply.com/journal/item/47/KONSEP_RAS_UNGGUL
Semoga bermanfaat, jangan sampai kita tertipu oleh hal-hal kecil seperti Ring in RED tadi dan melupakan musuh-musuh kita yang sebenarnya.
Memang beberapa hari ini kita dihebohkan dengan adanya berita-berita seperti itu. Dalam era informasi sekarang ini, yang katanya dimulai dari runtuhnya Tembok Berlin, informasi seakan tak terbedung, sehingga sulit bagi kita semua untuk menyaring informasi mana yang benar atau mana yang HOAX (kebohongan tingkat parah). Namun, bila kita paham prinsip-prinsip dasarnya, Insya Alloh hal seperti itu tidak perlu terlalu merisaukan kita.
1. Islam mengajarkan pada para pengikutnya untuk mempercayai hal-hal yang ghoib seperti setan, jin, sihir dan sebagainya namun Islam tidak mengajarkan para pengikutnya untuk takut secara berlebihan terhadap hal-hal tersebut.
2. Pertahanan diri yang paling efektif untuk membentengi diri dari hal-hal tersebut adalah dengan mendekatkan diri kepada Alloh SWT dengan cara menambah kualitas dan kuantitas ibadah kita seperti sholat, shaum atau puasa, dzikir dll.
3. Hal-hal seperti Ring in RED tadi dapat kita gunakan sebagai ujian bagi keimanan kita sendiri. Apabila kita masih takut tentu saja ada yang salah dengan keimanan kita. Mungkin kita kurang ilmu, terlalu banyak maxiat atau ibadah kita kurang baik.
Pertanyaan selanjutnya, apakah zaman teknologi canggih seperti sekarang ini setan-setan masih gentayangan? Pertanyaan seperti itu bisa dijawab dengan beberapa hal berikut ini:
1. Setan dari golongan jin tentu saja gak peduli sekarang ini zaman batu atau zaman teknologi canggih. Mereka hanya peduli pada tugas-tugas yang diberikan sang Maharaja segala setan yaitu Iblis Laknatullah. Si Iblis ini ingin agar semua manusia masuk neraka menemani dia disiksa selama-lamanya. Para setan itu sendiri terbagi menjadi berbagai peringkat atau pangkat. Pangkat-pangkat mereka dijelaskan di sini:
http://kopiradix.multiply.com/journal/item/31/Jenis-Jenis_Setan_kritik_untuk_film_Horor_Indonesia
2. Orang yang tidak percaya pada mereka sama rentannya dengan orang yang takut pada mereka secara berlebihan. Kedua jenis manusia tersebut bisa jadi sasaran empuk setan-setan dari golongan jin ini. Yang sama sekali tidak percaya bisa jadi atheist, liberal dan materialistik, gak peduli halal-haram, pahala-dosa. Yang takut berlebihan bisa jadi klien para dukun, paranormal dan kyai gadungan, serta mengoleksi jimat dari ujung rambut sampai ujung kaki.
3. Setan dari Golongan Manusia ternyata jauh lebih mengerikan dari yang berasal golongan Jin. mereka bukan apa-apa dibandingkan Adolf Hitler, Benito Mussolini, Stalin, Ariel Sharon, George W. Bush dan diktator-diktator lainnya. Mereka juga bukan apa-apa dibandingkan kaum Kapitalis yang merampok harta benda dan uang rakyat di negara-negara berkembang. Setan-setan Jin enggak bisa bikin perang dunia seperti Perang Dunia Pertama dan Kedua. Jin-jin itu juga tidak bisa bikin penjara-penjara seperti Abu Ghuraib dan Guantanamo. Paham mereka dijelaskan dalam tulisan ini
http://kopiradix.multiply.com/journal/item/47/KONSEP_RAS_UNGGUL
Semoga bermanfaat, jangan sampai kita tertipu oleh hal-hal kecil seperti Ring in RED tadi dan melupakan musuh-musuh kita yang sebenarnya.
Jumat, 29 Februari 2008
Bahaya Islam liberal, Jaringan Islam liberal
http://www.nojil.8m.net/index.html
Apabila anda ingin mengkritik atau mengoreksi pandangan orang-orang JIL atau orang-orang Liberal pada umumnya, kunjungi link ini.
Apabila anda ingin mengkritik atau mengoreksi pandangan orang-orang JIL atau orang-orang Liberal pada umumnya, kunjungi link ini.
Langganan:
Postingan (Atom)