Rabu, 03 Agustus 2011

Edufasting 1432 H

Start:     Aug 20, '11
End:     Aug 21, '11
Location:     Asrama Haji Pondok Gede
Apa itu Edufasting ?
Sebuah kegiatan penggalian dan pemahaman pribadi yang diperuntukkan bagi remaja khususnya dhuafa (anak jalanan & yatim), yang dikemas dalam nuansa islami untuk mengisi bulan Ramadhan secara cerdas dan positif.

Bertujuan untuk menggali inspirasi dan mendorong setiap peserta yang kebetulan adalah anak-anak dengan tingkat sosial ekonomi rendah, agar mereka berani bercita-cita setinggi mungkin, dan yakin akan kemampuan mereka untuk meraih mimpinya, dengan segala potensi kreatif yang dimiliki.

Yuuk...om om, tante tante, dan kakak kakak semua, kita bantu mereka untuk mengejar mimpi melalui kegiatan ini.

"The future belongs to those who believe in the beauty of their dream"
-Eleanor Roosevelt.

Yup... mimpi itu milik mereka juga.

Komunitas Lebah membuka ladang amal sebesar2nya bagi om, tante, kakak, dan sahabat semua yang ingin menjadi donatur dengan menyalurkan infaq dan sedekahnya ke dalam kegiatan ini. Bersama berbagi peduli di bulan suci, dimana segala kebaikan dilipatgandakan balasannya oleh Allah Yang Maha Kaya (Al Mughni).

Donasi dapat ditransfer ke rekening Komunitas Lebah :
BCA : 554 036 8459 an. Fitriana Damayanti
Mandiri : 102 000 4636863 an. Rossy Dwi Wiryanti
(mohon melakukan konfirmasi melalui sms ke nomor : 0818875554 dgn menyebutkan nama, jumlah, dan rekening salah satu diatas)

Untuk informasi kegiatan dapat menghubungi nomor 081510186165.

Jazakumullah khairan katsira.


Wassalammualaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Komunitas Lebah
"Bersama Berbagi Peduli"

Seburuk apapun masa lalu seseorang, masa depannya masih suci - Mario Teguh

Seburuk apapun masa lalu seseorang, masa depannya masih suci - Mario Teguh

Selasa, 02 Agustus 2011

Untrusted Connection di FB




mau login facebook, yang muncul ini, kenapa ya, ada yang tahu sebabnya, terima kasih sebelumnya

Senin, 01 Agustus 2011

Pertengkaran di awal Ramadhan dan hikmah pelajaran di baliknya

Malam itu adalah malam terakhir bulan Syaban tahun 1432 Hijriyah.  Saat itu ummat Islam Indonesia mulai menunaikan sholat tarawih di masjid-masjid.  Malam itu saya tidak dapat menunaikan sholat tarawih di masjid dekat rumah karena sedang dalam perjalan pulang dari daerah Depok.  Saat berada di daerah Pancoran, hari sudah malam dan saat itu sudah memasuki waktu Isya. Saya pun turun dari Metromini dan menunaikan sholat Isya dan tarawih di salah satu masjid.  Sesudah menunaikan sholat Isya dan tarawih, saya pun pulang kembali ke arah Manggarai.

Dalam perjalanan pulang, Metromini yang saya tumpangi berhenti di antara jalan Raya Pasar Minggu dengan jalan Saharjo.  Saat itulah, entah kenapa, terjadi pertengkaran antara supir dan kernet Metromini yang saya tumpangi dengna Metromini yang lain dengan nomor dan jurusan sama.  Mungkin mereka sedang berebut penumpang karena mereka harus memenuhi target setoran hari itu.  Saat metromini yang saya tumpangi hendak meninggalkan areal dekat Patung Pancoran tersebut, Metromini lawannya selalu menghalang-halangi.  Akhirnya, metromini yang saya tumpangi ber sama penumpang lain yang cukup banyak jumlahnya itu pun mundur agak jauh ke belakang, dan tiba-tiba berbelok ke jalan lalu langsung ngebut ke arah jalan Saharjo.  Supir dan kernet metromini lawannya pun memaki-maki, namun semua itu tidak dihiraukan oleh metromini yang langsung pergi itu.  Entahlah apa yang akan terjadi kalau mereka bertemu lagi, baik di pangkalan atau di jalanan.  

Memang memprihatinkan keadaan jalan-jalan di ibukota Jakarta dan berbagai kota lainnya di Indonesia ini.  Seakan hukum tidak lagi berlaku di sana dan digantikan hukumnya sendiri, yang lebih mirip hukum rimba. Hampir setiap hari kita dengar berita-berita tentang kejahatan yang terjadi di jalanan.  Baik pencopetan, penodongan atau bahkan yang sampai merenggut korban jiwa.  Kemiskinan sudah membutakan mata hati banyak manusia sehingga menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.  Ego kebinatangan manusia pun terusik hingga manusia jatuh ke tingkat kecerdasan EGO yang merupakan kecerdasan terendah dalam konsep Se7en Energy Intelligence.  Suatu kecerdasan yang tingkatannya sama dengan binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi hingga manusia tidak bisa menggunakan telinga, mata dan hatinya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.  "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al A'raf ayat 179)

Yang lebih memperihatinkan lagi adalah saat itu akan memasuki bulan mulia nan penuh berkah bernama Ramadhan.  Bulan nan suci itu seakan tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap perbaikan akhlaq dan moral para pengemudi tersebut.  Setoran pada pemilik kendaraan adalah yang utama, yang harus didapatkan bagaimanapun caranya walaupun harus berseteru dengan kawan sendiri.  Setoran tersebut, bagi mereka, adalah perkara hidup dan mati sehingga harus diperjuangkan mati-matian.  

Sebagai penumpang, tentu saja saya merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti itu.  Saya yakin para penumpang lain pun juga merasakan ketidaknyamanan yang sama.  Namun, saya pun mungkin akan berlaku seperti mereka apabila saya merasakan tekanan yang sama.  Betapa uang setoran harus mencapai target karena berhubungan dengan operasional perusahaan secara keseluruhan.  Target setoran yang tidak tercapai tentu akan menyebabkan pemilik kendaraan tidak senang dan mungkin akan marah pada si pengemudi.  Jika si pengemudi sering menunggak setoran, bukan tidak mungkin dia dipecat dan bakal kesulitan mencari pekerjaan lain.  

Memang selama ini, dengan tidak mengecilkan hasil dan perbaikan yang sudah dilakukan, peran pemerintah dalam membina akhlak dan moral masyarakat masih rendah efektifitasnya.  Solusi-solusi dan program-program yang dibuat seringkali masih bersifat instruksional dan masih kurang dipahami oleh masyarakat.  Masyarakat sendiri pun masih belum merasakan kehadiran pemerintah yang memahami, melindungi dan mengayomi mereka.  Masyarakat bagaikan orang-orang yang tersesat di hutan belantara buas yang dipenuhi serigala-serigala lapar yang bisa memangsa mereka setiap saat.    

Padahal, menurut pak Masril Koto, sebagaiman dirangkum mas Eko BS di jurnalnya yang ini,  membantu masyarakat harus mengenal mereka, tidur bersama mereka, hidup bersama mereka untuk mengetahui apa tantangan yang mereka hadapi. Tidak bisa kita melihat suatu masyarakat, lalu membantu dengan solusi-solusi yang top-down.  Solusi harus disusun oleh mereka sendiri ... dengan kita membantu merealisasikannya.  Membawa program-program pemberdayaan ke masyarakat secara top-down, tidak akan menjadikan program-program tersebut sustainable, berkelanjutan ... Begitu dana untuk program tersebut habis, program akan layu dengan sendirinya.

Ladang amal pemberdayaan masyarakat masih terbentang luas.  Semua itu menjadi bisa peluang emas bagi kita yang mau menggarapnya dengan baik dan benar serta penuh kesungguhan.  Namun, semua itu bisa juga berubah menjadi hutan belantara liar yang dipenuhi makhluk-makhluk buas apabila dibiarkan begitu saja tanpa perbaikan yang berarti.  Dan, kita sendirilah sebagai bagian dari masyarakat yang akan menanggung akibat pembiaran itu, baik di dunia maupun di akhirat.  Semoga Ramadhan kali ini bukan hanya dimaknai sebagai ajang pengumpulan pahala sebanyak-banyaknya, tetapi juga dimaknai sebagai bagian dari motivasi kita untuk lebih peduli pada sesama, mengasah empati dan memberi lebih banyak lagi semaksimal mungkin yang kita mampu.  

Semoga bermanfaat.      

Related posts

KULTUM 10 - HAL YANG MENYEBABKAN MANUSIA MASUK NERAKA

Siapa bilang orang miskin dilarang puasa Ramadhan

Pak Masril Koto, William Easterly dan Irwan Prayitno

Mengenal Se7en Energy Intelligence

Beberapa Tips menulis

Siapa bilang orang miskin dilarang puasa Ramadhan

Sebuah tulisan dengan judul provokatif muncul di blog platform Kompasiana.  Tulisan itu berjudul Kenapa Orang Miskin Dilarang Puasa Ramadhan?.  Intinya sih, si penulis mempertanyakan apakah orang miskin masih perlu puasa di bulan Ramadhan, padahal hampir setiap bulan dalam setahun mereka terus menerus puasa.  Tulisan itu memang lebih dari cukup untuk membuat orang yang punya ghirah / kecemburuan pada agamanya walau hanya sedikit mendidih dalam emosi.  Nmaun, bila kita cermati lebih jauh, ada kritik membangun yang bisa kita manfaatkan walaupun penulisnya memang sudah mengakui bahwa dirinya adalah setan.  Mungkin salah satu setan yang ada dalam Al Quran yang berwujud manusia yang disebutkan dalam surat ke 114, An Naas.

Puasa atau shaum Ramadhan adalah kewajiban kaum muslimin, baik miskin ataupun kaya.  Jadi tentu tidak ada alasan bagi kita untuk melarang orang miskin puasa.  Yang harus diperbaiki adalah paradigma kita tentang puasa itu sendiri. Sebagaimana ibadah-ibadah yang lain, puasa pun telah terdegradasi menjadi ritual hampa makna yang datang setahun sekali.  Apabila sudah mampu menahan lapar dan haus dari pagi sampai adzan maghrib berkumandang, sudah dianggap lunas hutang, gugur kewajiban dan pahala sudah di tangan.  Sehingga, sudah entah berapa kali Ramadhan bertandang setiap tahun, hampir tidak ada perubahan berarti yang terjadi di negeri ini.  

Di sisi lain, kemiskinan adalah masalah umat Islam yang tidak bisa dipandang sebelah mata.  Meskipun ghirah untuk berbagi dan bersedekah sudah mulai menggema, namun semua masih jauh dari harapan pengentasan kemiskinan. Masih banyak diantara jamaah dan organisasi Islam yang kurang memperhatikan masalah kemiskinan umat ini.  Pak AM Waskito, penulis buku Republik Bohong, menyebutkan hal itu dalam blog beliau di bagian pemikiran.   Padahal, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 2, salah satu ciri orang bertaqwa adalah suka membagi rezeki yang diperoleh dengan jalan halal kepada mereka yang membutuhkan.  Tentu yan dimaksud dalam ayat tersebut termasuk pula ijtihad untuk menentukan ke mana harta tersebut disalurkan agar pembagiannya efektif.  Islam sangat mengecam orang-orang yang bakhil dan mengangkangi harta mereka sehingga peredarannya menjadi terbatas.   Dalam as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi menuturkan pernyataan tegas Ali bin Abi Thalib ra, “Allah telah mewajibkan kepada orang-orang kaya agar memberikan hartanya sebanyak yang dapat mencukupi kebutuhan orang-orang miskin. Karena itu, jika orang-orang miskin itu kelaparan, tidak berpakaian dan menderita, maka penyebabnya adalah orang-orang kaya itu enggan memberi. Allah pasti akan menghisab dan mengazab mereka karena sikapnya itu.”  Namun, seringkali orang mengatakan bahwa ancaman adzab itu sebagai omong kosong dan dongengan belaka.  Sebagaimana kaum-kaum terdahulu mengatakan kepada para nabi mereka "Datangkanlah adzab itu jika engkau termasuk orang yang benar".    

Persoalan kemiskinan diperparah lagi dengan kinerja lembaga-lembaga keuangan international yang lemah kinerjanya.  Banyak pihak yang mencurigai bahwa lembaga-lembaga itu adalah perpanjangan tangan pengusaha kapitalis dan imprealis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya di negeri-negeri dunia III yang miskin.  Salah satu pihak yang mengkritik kinerja lembaga-lembaga tersebut adalah Muhammad Yunus dalam buku autobiografinya, Bank Kaum Miskin.  Yunus menganggap lembaga-lembaga keuangan interational itu terlalu sombong untuk belajar dari orang-orang miskin agar dapat memberi solusi yang efektif dari permasalahan mereka.  Tepat sekali sesuai dalam buku 'THE WHITE MAN'S BURDEN' karya William Easterly, profesor di New York University yang juga mengatakan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat harus tumbuh dari SEARCHER yang mencari solusi yang membumi, yang sesuai dengan keadaan di lapangan bukan dari PLANNER yang menyusun program, cetak biru berdasarkan teori-teori yang sudah ada.   

Namun, terkadang orang miskin pun memanfaatkan kelemahan mereka untuk memperoleh apa yang mereka inginkan secara gratis.  Mereka lebih suka meminta-minta daripada berusaha untuk memenuhi kebutuha mereka sendiri.  Banyak orang yang masih sehat lebih suka meminta-minta di jalanan daripada mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan mereka.  Bahkan saat bencana melanda sekalipun, para relawan yang akan membantu malah dibebani oleh mereka sendiri.  Mereka malah minta upah saat diminta membantu para relawan mengangkat mayat atau menurunkan barang bantuan dari kendaaraan.  Saat menjelang pemilu dan pilkada, mendadak uang dibagi-bagikan kepada masyarakat untuk mempengaruhi mereka agar memilih partai atau calon tertentu.  Tidak mengherankan apabila yang naik ke panggung kekuasaan di negeri ini adalah orang-orang yang gila harta dan haus kekuasaan.

Dalam salah satu hadits, diriwayatkan bahwa Malaikat Jibril pernah mengatakan kepada Rasulullah SAW tentang kehidupan ini.  Dari Sahal bin Sa’ad r.a., ia berkata, “Malaikat Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW. lalu berkata, ‘Wahai Muhamad, hiduplah sebebas-bebasnya, akhirnya pun kamu akan mati. Berbuatlah semaumu, pasti akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau, pasti kamu akan berpisah. Kemuliaan orang mukmin dapat diraih dengan melakukan shalat malam, dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak (terlalu sering) minta-minta pertolongan orang lain.’”

Allah SWT menegaskan bahwa shaum Ramadhan diwajibkan agar kaum muslimin menjadi orang-orang yagn bertaqwa.  Hahkan dalam hadits qudsi, Allah SWT menegaskan bahwa balasan pahala seseorang yang berpuasa ditentukan sendiri oleh Allah SWT. Bisa jadi, sesudah berpuasa seseorang mendapat balasan yang luar biasa dan dihapuskan dosanya hingga kembali pada fitrahnya sebagai seorang manusia. Bisa juga dia tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan haus semata. Hal itu hanya dapat diketahui saat semua manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar saat semua amalnya diperiksa dan apa saja yang dilakukan saat hidup di dunia dipertanggungjawabkan.  Namun, masih jauhnya hasil dari pengentasan kemiskinan dari harapan bisa dijadikan indikasi betapa rendahnya kualitas puasa Ramadhan kita selama ini.  Maka, tidak mengherankan apabila orang-orang seperti penulis tulisan di atas seakan bebas menulis dan menerbitkan tulisan-tulisannya tanpa ada keseganan pada kaum muslimin Indonesia.  Mereka seakan-akan bebas menghujat dan menghina keyakinan kaum muslimin tanpa ada konsekwensi hukum sama sekali.  

Ghirah boleh saja mendidih, bahkan memang seharusnya seperti itu.  Orang yang tidak merasakan gejolak emosi saat keyakinannya diobok-obok orang lain, seperti penulis tulisan menyakitkan itu, tentu perlu diragukan keimannannya.  Tetapi, yang namanya kepala harus tetap dingin dan harus tetap mampu berpikir.  Seperti quote yang disebutkan Bruce Lee dalam filmnya, Enter the Dragon, yang dirilis tahun 1973 "I said Emotional Content, not Anger".  Orang yang bijak adalah orang yang bisa menjadikan semua orang, bahkan orang yang memusuhinya, sebagai guru-gurunya.  Sebagaimana digagas dalam motto School of Life, "Jika semua tempat adalah sekolah, maka semua orang adalah guru".  Jadi, siapa bilang orang miskin dilarang puasa.  Yang harus dilakukan adalah perbaikan kualitas puasa dari orang-orang yang berpuasa itu sendiri, baik yang miskin ataupun kaya.  

Referensi

Bank Kaum Miskin, autobiografi Muhammad Yunus, terbitan Marjin Kiri

situs

Kenapa orang miskin dilarang puasa Ramadhan

Mengentaskan kekayaan

Manhaj Pemahaman

Pak Masril Koto, William Easterly dan Irwan Prayitno