Jumat, 06 Juli 2012

[Senyumku untuk Berbagi] Aksi Peduli Suriah dan Rohingya

tanggal: Jumat 29 Juni 2012, lokasi Bundaran HI

Malam sebelumnya dapat info dari mas Andika dari ACT untuk kumpul di Bundaran HI dalam rangka aksi damai peduli tragedi Rohingya dan Suriah. Akhirnya, pagi-pagi sekali saya pun berangkat ke sana, untung gak jauh dari rumah.

Acaranya sendiri mulai sekitar jam 7 lewat, bersama teman-teman relawan seperti mas Andips, mas Dony Aryanto, Muhammad Luthfi Zawawi, Kang Luthfi relawan dari Tegal Gundil, dan teman-teman Punk Muslim, Gebu Cinta dan Teater Kantong Permen.

Daan, demi memeriahkan lomba yang satu ini, inilah salah satu foto saya yang sedang bantu bawa spanduk gede supaya bisa terbaca pesannya oleh orang-orang yang melintas di Bunderan HI pagi itu. Kami beraksi kira-kira jam 8 pagi sampai jam 10, tidak bisa terlalu siang karena siangnya sholat jumat.



Senyum di sini adalah karena ada kesempatan untuk berpartisipasi dalam rangka mengingatkan publik atas tragedi di Suriah dan Rohingya. Karena mereka adalah saudara-saudara kita yang tidak seharunsya kita lupakan begitu saja penderitannya.

Yang mau lihat foto lainnya mampir aja ke albumnya mbak armyofroses.multiply.com

Diposting untuk ikutan lombanya kaklist yang satu ini

untung fotonya ada yang lagi senyum

Kamis, 05 Juli 2012

[Sosial] Kesolehan sosial yang terlupakan

"Kehidupan sehari-hari kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya."
Khalil Gibran.

Masyarakat kita pada umumnya masih menganggap tujuan dari ibadah ritual adalah mengumpulkan pahala sebanyak mungkin. Oleh karena itu, dalam banyak pengajian, para ustadz pengajar seringkali ditanya kalau sholat Duha pahalanya bagaimana, kalau sholat ini atau sholat itu pahala berapa dan sebagainay. Banyak juga diantara mereka yang mudah tergiur oleh amalan-amalan yang dianggap berpahala besar walaupun berdasarkan hadits-hadits yang masih diragukan kesahihannya. Bahkan para ulama banyak yang mengatakan bahwa hadits-hadits yang mendasari amalan-amalan itu adalah maudhu atau palsu adanya. Sehingga tidak layak untuk dijadikan dalil pelaksanaan suatu amalan. Akibatnya, setelah amalan selesai dilaksanakan, mereka pun pulang dengan penuh kepuasan karena merasa sudah berbuat kebaikan yagn banyak.

Akibat dari kesalahan pemahaman seperti itu, kemiskinan seakan tidak bisa dihapuskan dari negeri-negeri kaum muslimin, terutama yang ada di benua Asia. Kesenjangan sosial antara yang kaya dan yamg miskin seakan tak pernah terjembatani. Pemahaman itu membuat orang-orang yang miskin merasa tidak perlu menambah upaya mereka agar bisa keluar dari kemiskinan. Mereka sudah merasa bahwa mereka tidak akan bisa meraih penghidupan lebih baik lagi di masa depan. Kehidupan mereka sampai kapanpun, dari generasi ke generasi, akan tetap miskin seperti itu. Pemahaman seperti itu juga membuat banyak orang yang sesungguhnya mampu enggan bersedekah dan berbagi lebih banyak. Mereka mengira bahwa pahala mereka beribadah siang dan malam sudah menjamin mereka akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti. Kalaupun mereka mengeluarkan harta, mereka sekedar menunaikan kewajiban zakat atau sekedar menyumbang ala kadarnya.  

Padahal, sekitar 70-75% kandungan Alquran berbicara tentang kehidupan sosial ekonomi, bahkan melebihi tentang kandungan Alquran soal ibadah (mahdhah). Al Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengabdi kepada Allah SWT dalam arti ayng seluas-luasnya. Termasuk bagaimana mendistribusikan harta kekayaan kepada sebanyak mungkin manusia agar mereka bisa merasakan manfaatnya. ” Agar supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kalian saja “ demikian disebutkan dalam Al Quran Surat Al-Hasyr : 7. Rasulullah pun bersabda "Barangsiapa yang sedang memenuhi kebutuhan saudaranya, berarti Allah tengah memenuhi kebutuhannya, Barangsiapa memudahkan kesulitan seorang Muslim, berarti Allah akan memudahkan Kesulitan di hari Kiamat" (HR. Bukhari, Muslim). Dalam hadits yang lain, beliau bersabda "Barangsiapa yang sedang memenuhi kebutuhan saudaranya, berarti Allah tengah memenuhi kebutuhannya, Barangsiapa memudahkan kesulitan seorang Muslim, berarti Allah akan memudahkan Kesulitan di hari Kiamat" (HR. Bukhari, Muslim). Ayat dan hadits-hadits diatas, serta masih banyak yang lain, dapat kita anggap sebagai indikasi betapa pentingnya kesalehan sosial dalam Islam.

Kesalehan sosial itu pada akhirnya akan memunculkan kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial dapat didefinisikan sebagai kepekaan dan kemampuan merespon terhadap masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat. Dalam buku berjudul Social Enterprise yang ditulis Bapak Ahmad Juwaini, disebutkan bahwa "Semakin tinggi kecerdasan sosial yang dimiliki oleh seseorang, semakin banyak pula wujud tindakan social entrepreneurship yang dijalankan dalam kehidupannya" (halaman 65). Orang dengan kesolehan dan kecerdasan sosial yagn tinggi akan menjadi rahmat bagi sesama manusia di sekitarnya. Dia tidak akan bisa merasa tenang dan senang apabila masih ada orang-orang yang hidupnya sengsara, baik oleh karena kemiskinan atau sistem sosial yang zalim. Sebagaimana dicontohkan oleh pendiri Grameen Bank di Bangladesh, Muhammad Yunus.

Alangkah indahnya apabila orang-orang kaya lebih memprioritaskan sedekah dan berbagi pada sesama yang membutuhkan daripada membeli barang-barang mewah. Dan akan lebih indah lagi apabila orang-orang miskin tetap memelihara harga dirinya dari meminta-minta dan selalu semangat untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan mereka. Itulah sesungguhnya fungsi harta dalam Islam, untuk dimanfaatkan seadil-adilnya dan sebanyak-banyaknya demi kepentingan hajat hidup manusia sebanyak mungkin. Sehingga, kita sebenarnya berpeluang lebih besar meraih pahala melimpah justru dari interaksi sosial dan amal sholeh kita sehari-hari, baik moril maupun materil.

Semoga bermanfaat

Rabu, 04 Juli 2012

[Fiksi] Ketika Sang Pangeran Berguru bagian 2

Sambungan dari posting yang ini

Sang Raja, ayah dari Pangeran yang pernah ditampar itu pun sakit keras dan akhirnya meningga dunia. Setelah upacara pemakaman sang Raja selesai dilaksanakan, sang Pangeran yang dulu pernah berguru pada Guru bijak pun akhirnya dilantik menjadi Raja. Raja baru itu pun segera memerintahkan pengawalnya menjemput sang Guru yang pernah menamparnya dan meninggalkannya di hutan. Para pengawal pun segera mendatangi gubuk sang Guru. Sang Guru dengan tenang berkata "Aku tahu kalian akan datang untuk membawaku menghadap Raja baru itu. silakan". Tanpa basa basi lagi, mereka pun membawa sang Guru dan membawanya menghadap sang Raja di Ruang Singgasana Istana. Sang Raja, yang sudah menantikan kehadiran sang Guru, menatapnya dengan pandangan penuh kemarahan dan kebencian. Namun, ternyata pandangan itu sama sekali tidak berarti bagi Sang Guru. Dia tetap tenang memandang sang Raja seakan tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa. Sang Raja pun makin murka, "Berlutut" bentaknya, namun Sang Guru tetap tegak berdiri. "Pengawal" perintah sang Raja "Buat dia berlutut dihadapanku". "Baik Yang Mulia" kata dua orang pengawal bersamaan. Mereka pun segera memegang bahu sang Guru dan menekannya ke bawah sehingga beliau pun terpaksa berlutut. Namun, walau dalam keadaan berlutut, sang Guru sama sekali tidak merasa gentar, beliau tetap tenang.  

"Aku tahu selama ini kau tidak sabar menantikan pelantikanmu sebagai seorang raja karena ingin membalas perlakuanku padamu. Aku juga yakin kau akan sangat penasaran ingin mengetahui apa maksudku menamparmu dengan keras dan meninggalkanmu di hutan malam itu hingga kau letih, kedinginan dan kelaparan" kata sang Guru sambil tersenyum mengejek, sepertinya dia ingin mempermainkan emosi sang Raja yang baru bertahta itu. "Yang Mulia, izinkan hamba memenggal kepala petapa kurang ajar ini, dia malah mempermainkan Paduka" seorang pengawal menyela. "Diam kamu!!" bentak Raja "aku ingin tahu apa maksud dia menamparku malam itu". Sambil menahan amarah, Raja pun berkata "Tentu saja aku ingin tahu kenapa kamu menamparku padahal aku tidak berbuat kesalahan yang berarti selama aku menjadi muridmu". "Baiklah" kata Sang Guru sambil tiba-tiba bangkit berdiri tanpa diminta sang Raja "akan aku jelaskan". "Wahai kau, Raja yang sekarang sedang berkuasa, sungguh akan tiba masanya kau akan merasa mampu melakukan apa saja yang kau inginkan" kata sang Guru dengan suara yang menggelegar bagi guntur, menggetarkan jiwa siapapun yang mendengarnya di ruang singgasana istana tersebut. "Para pengawal setiamu, seperti yang baru saja ingin memenggal kepalaku, dapat kau perintah untuk menzalimi siapapun yang kau kehendaki. Terlalu mudah bagimu untuk berbuat aniaya pada sesama manusia dan makhluk-makhluk lainnya." Sang Guru meneruskan kata-katanya sambil menatap sang Raja dengan tatapan yang tajam "Oleh karena itu, aku berikan sedikit rasanya dizalimi dan dianiaya orang lain. Aku sengaja membuatmu merasakan sedikit perasaan tak berdaya, tak berharga dan tak berarti apa-apa. Aku sengaja berbuat demikian agar saat berkuasa engkau tidak seenaknya menggunakan kekuasaan yang kau miliki untuk berbuat tidak adil. Sungguh, jika engkau berbuat tidak adil dan membuat para pengawalmu menganiaya sesama manusia, perasaan mereka akan jauh lebih sakit daripada yang pernah kau rasakan karena tamparanku. Aku juga sengaja membuatmu merasakan lapar, dingin, letih dan kepayahan agar kau dapat memahami perasaan rakyatmu. Banyak diantara mereka yang merasakan penderitaan yang jauh lebih berat daripada keletihan dan kelaparan yang kau rasakan malam itu. Itulah alasanku melakukan semua itu". Sang Guru terdiam sejenak, mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, setelah itu dia berkata dengan tenang "Sekarang, setelah semuanya jelas, berikan keputusanmu yang seadil-adilnya. Apakah kau akan memerintahkan para pengawalmu untuk memenggal kepalaku? Silakan".

Sang Raja yang tadinya penuh kesombongan dan arogansi tiba tiba menggigil ketakutan. Wajah penguasa negeri itu mendadak pucat pasi dan tubuhnya berkeringat dingin. Lalu dengan spontan dia berlutut dan memeluk kaki sang Guru sambil menangis tersedu-sedu. "Tuan Guru yang terhormat, sungguh engkau telah memberiku pelajaran paling berharga yang tidak semua penguasa mendapatkannya. Jikapun ada, mereka tidak bisa memahami pelajaran itu karena teramat berat dan pahit serta sulit untuk diterima" kata Sang Raja sambil terisak-isak bagai anak kecil kehilangan mainannya. "Bangkitlah, dan ingatlah pelajaran saat kau menerima tamparan dan saat kau mengetahui alasannya. Semoga kau selalu mengingatnya selama kau berkuasa" jawab sang Guru. Sang Raja pun melepaskan kaki sang Guru, namun beliau tetap berlutut dan memerintahkan semua yang hadir untuk turut berlutut di hadapan sang Guru. Para pengawal, pejabat istana dan semua yang hadir kebingungan dan akhirnya ikut berlutut di hadapan sang Guru bersama Raja mereka. "Sudikah tuan Guru tinggal bersama kami di Istana ini? Sungguh kami yang bodoh dan zalim ini masih ternyata masih memerlukan nasihat dan wejangan bijak Tuan Guru" kata Raja terbata-bata. "Anakku, muridku yang baik" Sang Guru berkata dengan lembut "Ketahuilah bahwa kehidupan istana yang serba nyaman dan mewah ini sesungguhnya adalah ujian yang jauh lebih berat daripada kehidupanku yang sederhana di tepi hutan. Saat masih berkuasa sebagai seorang raja, ayahmu sudah berulang kali menawarkan padaku untuk tinggal di istana. Namun, aku selalu menolaknya. Aku sadar, aku tidak akan kuat menahan godaan untuk memperturutkan segala keinginanku yang dengan mudah bisa diperoleh karena kedekatanku pada penguasa, yaitu ayahmu. Bagiku, apa yang sudah kumiliki di tepi hutan sana sudah lebih dari cukup." Sang Raja pun bangkit kembali dan duduk di singgasananya, setelah itu dia berkata "Meskipun demikian, apa yang bisa kami berikan untuk tuan Guru?". "Kalian semua tidak perlu memberiku apapun, yang kuminta hanya satu. Ingatlah pelajaran hari ini agar kalian semua selamat di kemudian hari" kata sang Guru "kini aku hanya ingin pulang ke gubukku di tepi hutan sana. Permisi". Sang Guru pun meninggalkan Ruang Singgasana dan pergi keluar dari Istana, untuk kembali ke gubuknya yang sederhana di tepi hutan.  TAMAT

Ternyata malam ini malam Nisyfu Sya'ban

Selasa, 03 Juli 2012

[Fiksi] Ketika Sang Pangeran Berguru

Seorang Raja mengirim putranya yang kelak akan menggantikannya menjadi penguasa kerajaannya kepada seorang guru yang bijaksana. Guru yang juga pernah menjadi pendekar tangguh tak terkalahkan itu tinggal di sebuah gubuk sederhana di tepi hutan. Raja sudah lama mengenal sang guru dan sangat mempercayai beliau. Walaupun bukan penasihat resmi kerajaan, sang Raja sering meminta saran dan nasihat sang guru. Sang guru mengajukan syarat bahwa selama belajar bersamanya, putra mahkota tidak boleh didampingi pengawal atau pelayan dan harus mau membantunya melakukan pekerjaan kasar seperti mengangkut kayu bakar, memasak dan sebagainya. Sang Guru mengatakan bahwa itulah cara yang akan beliau gunakan untuk mendidik putra mahkota. Walaupun agak merasa berat, sang Raja pun akhirnya menyetujui usul tersebut.

Saat untuk mulai belajar pun tiba, Pangeran itu diantar para pengawal hingga ke tepi hutan. Sang Guru pun menyambut sang Pangeran dan meminta para pengawal agar pergi kembali ke istana Raja. Para pengawal terlihat ragu untuk meninggalkan Sang Pengeran bersama sang Guru. Sang Guru pun berkata dengan tegas "kalau kalian tidak mau mengikuti syarat yang kuajukan, silakan bawa kembali Pangeranmu itu". Sang Pangeran pun segera meminta para pengawal untuk meninggalkannya "Ayahku sudah memerintahkan kalian meninggalkan aku di sini. Kembalilah ke Istana dan laporkan pada ayah aku siap untuk belajar bersama Tuan Guru". Sang Pangeran pun hidup bersama sang Guru dalam kehidupan yang sangat bersahaja dan penuh kesederhanaan. Jangankan standar istana, kehidupan Guru yang bijaksana itu jauh di bawah standar kehidupan rakyat jelata pada umumnya. Awalnya, sang Pangeran seringkali mengeluh karena selama ini terbiasa dengan kehidupan istana yang serba mewah dan nyaman. Sang guru pun sama sekali tidak keberatan, "Kamu boleh kembali ke Istana kapan saja kamu mau, tapi ingat, kalau kau gagal maka kau akan dianggap pecundang dan rakyatmu dan kau akan kehilangan banyak pelajaran berharga".

Hari pun berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan pun berganti tahun. Setelah beberapa tahun tinggal bersama sang Guru, sang Pangeran sudah dianggap cukup menguasai semua pelajaran yang diberikan. Sang Guru pun mengirim surat pada Sang Raja untuk memintanya para pengawal menjemput sang pangeran kembali ke Istana. Namun, pada malam menjelang kepulangan sang Pangeran, tiba-tiba sang Guru mengajaknya pergi ke dalam hutan. "Aku akan memberikan pelajaran terakhir padamu" kata sang Guru "pelajaran ini adalah pelajaran terpenting, yang hanya kuberikan pada murid pilihan sepertimu". Hujan lebat yang turun malam itu membuat suasana hutan menjadi dingin dan mencekam.  Namun, karena penasaran dan ingin menerima pelajaran penting tersebut, sang Pangeran tetap mengikuti langkah sang Guru. Pelajaran macam apa yang akan diberikan di dalam hutan yang dingin, gelap dan becek seperti ini, pikir sang Pangeran. Mereka pun sampai di tempat yang licin, penuh lumpur dan genangan air. "Berhenti" kata sang Guru "pejamkan matamu". Sang Pangeran yang penasaran pun memejamkan matanya, menanti pelajaran apa yang akan diberikan. Tiba-tiba, PLAAAAKKKKK , sebuah tamparan keras mendarat di pipi sang Pangeran. Pangeran tersebut terkejut dan terhuyung-huyung, mencoba mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Namun, karena tempatnya licin dan becek, dia tidak dapat melakukannya dan jatuh terjerembab di lumpur. "Kurang ajar" umpat sang Pangeran dalam hati "pelajaran apa ini, aku malah ditampar dan dibuat berlumuran lumpur yang kotor".  Dengan penuh rasa kesal dan marah, sang Pangeran pun berusaha kembali ke gubuk tempatnya tinggal bersama sang Guru. Setelah berjalan dengan susah payah menerobos hutan, sang Pangeran pun sampai ke Gubuk dalam keadaan lelah, lapar dan kedinginan. Namun, ternyata sang Guru tidak ada di gubuk tersebut dan yang lebih parah lagi, tidak ada makanan dan pakaian ganti di sana. Sang Pangeran pun terpaksa melewatkan malam itu dalam keadaan letih, lapar dan kedinginan dengan pakaian yang masih basah dan kotor. Untunglah, pagi-pagi sekali para pengawal kiriman ayahnya sudah sampai di sana dan langsung membawa sang Pangeran kembali ke istana.

Bersambung

Note: ini bukan cerita karangan saya,
saya hanya menceritakan ulang dari cerita yang sudah ada
Sumber asli dari buku berjudul Karung Mutiara Al Ghazali terbitan KPG Gramedia