Rabu, 28 Juli 2010

peluncuran buku terjemahan "Islam dan Sekularisme" karya Prof. Syed Naquib al-Attas..

Start:     Aug 8, '10 08:00a
End:     Aug 8, '10 12:00p
Location:     Auditorium FPIPS, gedung FPIPS Lantai 6 Universitas Pendidikan Indonesia jalan Setiabudi 299 Bandung
Kami Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung, mengundang sahabat-sahabat dalam peluncuran buku terjemahan "Islam dan Sekularisme" karya Prof. Syed Naquib al-Attas..

PENDAHULUAN
Hubungan Islam dan Barat ternyata cukup rumit untuk digambarkan, apalagi setelah munculnya beberapa tesis yang mengandaikan wujudnya konflik yang berterusan antara keduanya. Tak pelak lagi Islamofobia dibalas dengan xenofobia, liberalisme dibalas dengan radikalisme dan ekstrimisme. Di tengah-tengah kegalauan dunia masa ini maka wajarlah kita merenung kembali ranah pemikiran Islam masa kini dan mencari wacana yang segar dan serius, juga menelaah gagasan yang konstruktif dan cerdas. Jika Huntington muncul dengan teori clash of civilizations-nya, ternyata jauh sebelumnya al-Attas telah mengutarakan wujudnya benturan pemikiran antara Islam dan Barat dengan apa yang disebut sebagai ”the perpetual clash of worldviews between Islam and the West” (pertembungan kekal antara pandangan alam Islam dan Barat). Lalu apakah yang dimaksudkan dengan clash of worldviews? Bagaimanakah seharusnya umat Islam menyikapinya? Apakah kaidah untuk memenangi pertembungan pandangan alam ini? Semua persoalan ini dan banyak lagi akan coba dikupas oleh para pemateri di dalam seminar ini. Dalam seminar ini juga akan diadakan peluncuran buku terjemahan Islam dan Sekularisme karya Prof. Muhammad Naquib al-Attas yang sangat penting dalam ranah pemikiran Islam kontemporer.

Seminar bertajuk "Benturan Pandangan Alam (Clash of Worldviews) Antara Islam dan Barat" ini menghadirkan:

1. Prof. DR. Wan Mohd Nor Wan Daud
2. DR. Khalif Muammar
3. DR. Adian Husaini
4. DR. Endis Firdaus

Kegiatan akan dilaksanakan di Auditorium FPIPS, gedung FPIPS Lantai 6 Universitas Pendidikan Indonesia jalan Setiabudi 299 Bandung

Infaq Masuk : Rp 25.000 (umum), Rp 10.000 (mahasiswa nama lengkappekerjaanlembaga

Selasa, 27 Juli 2010

[Renungan] Tabrak Lari dan kezaliman

Al-Qashah, 28:77. … berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Sore ini saya mendengar kabar duka, seorang supir dari tetangga meninggal dunia karena tabrak lari.  Sebagaimana namanya, tabrak lari adalah suatu tindakan yang tidak bertanggung jawab.  Semua orang yang mendengar kata tabrak lari tentu menyalahkan si pengendara kendaraan tersebut, baik roda dua, empat atau berapapun rodanya.

Namun, sebenarnya apakah ada orang yang sengaja ingin melakukan tabrak lari? Memang, mungkin metode ini bisa jadi merupakan teknik membunuh yang cukup baik karena semua orang pasti akan menganggapnya sebagai kecelakaan.  Tetapi tentu saja sebagian besar pengguna kendaraan di, mulai dari jalan tol sampai jalan kampung bukankah pembunuh sadis berdarah dingin.  Mereka adalah manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan.  Sama-sama manusia berjasad dan memiliki jiwa dan emosi.  Bisa saja saat mengendarai mobil, mereka dalam keadaan lelah, tertekan dan sibuk dengan pekerjaan yang tidak mengenal waktu dan perasaan.

Terkadang, korban atau keluarga korban itulah yang menzalimi pelaku penabrakan secara berlebihan.  Karena merasa diri sebagai korban, mereka menuntut pelaku penabrakan secara berlebihan.  Pengendara kendaraan pelaku penabrakan bisa jadi memang bersalah.  Pelaku memang harus mengganti kerugian dan kerusakan yang timbul akibat perbuatannya. Namun, ganti rugi yang tidak proporsional dan tidak memperhitungkan kondisi dan kemampuan pelaku juga merupakan kezlaiman tersendiri.  

Memang, orang-orang yang terbentuk dari peradaban dengan sistem sosial yang zalim akan cenderung menzalimi sesama.  Segala kejadian diekspoitasi agar menguntungkan diri sendiri walaupun dalam jangka pendek semata.  

Sesungguhnya, kezaliman apapun pasti akan kembali kepada yang melakukannya.  Islam mengajarkan penganutnya apabila dizalimi untuk membalas seadil-adilnya dan/atau memaafkan.  Islam mengajarkan bahwa di atas kebaikan yang setara ada kebaikan yang lebih tinggi.  Kebaikan ini disebut ihsan, artinya berbuat kebaikan kepada mereka yang tidak pantas diberi kebaikan, bahkan yang menzalimi kita.  

Bisa jadi timbul pertanyaan, apakah itu artinya kita memberi terlalu banyak pada mereka yang zalim pada kita? Mungkin sepintas terlihat seperti itu, namun sesungguhnya semua kebaikan kembali kepada yang melakukannya.  Dan yang paling penting, kita tentu ingin agar Allah SWT berbuat Ihsan pada kita. Apabila Dia menegakkan keadilanNya dengan seadil-adilnya, bukan tidak mungkin peluang kita untuk masuk surga selamat dari neraka akan tertutup rapat bagai pintu besi yang dilas sehingga hampir tidak bisa dibuka.

Dari Jarir bin Abdullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah tak bakalan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi manusia." (HR. Bukhari)

Al-Baqarah, 2:224. Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Semoga bermanfaat dan kita terhindar dari kezaliman dan menzalimi orang lain

Related post: Berbuat baiklah sebagaimana Allah SWT telah berbuat baik kepadamu

Rabu, 14 Juli 2010

Rabu, 07 Juli 2010