Tampilkan postingan dengan label flashfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flashfiction. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2011

[Flash Fiction] Apartement

Di sebuah ruang tamu sebuah suite suatu apartemen mewah, beberapa anak muda berusia belasan tahun tampak sedang berkumpul.  "Begini nih hidup di apartemen.  Security-nya terjaga selama 24 jam penuh, aman.  Gak kaya di kawasan kumuh di belakang sekolah kita tuh, yang banyak kejahatan kaya pengedar narkoba, tukang palak dan lain - lain" kata Roy, anak seorang direktur utama yang menyewa sebuah suite di apartemen mewah tersebut pada teman-temannya.  Dia pun mengambil remote untuk menyalakan televisi multimedia canggih berlayar lebar yang ada di ujung ruangan.

Seorang pembaca berita pun muncul di layar TV dan membacakan berita:

Polisi telah berhasil menangkap beberapa buronan yang selama dicari-cari di sebuah apartemen mewah yang banyak disewa warga negara asing.  Mereka ditengarai sebagai bagian dari sindikat narkoba international yang sering menggunakan apartemen-apartemen mewah di ibukota ini sebagai basis operasi mereka.     

Minggu, 15 Mei 2011

[Flash Fiction] Sebuah Undangan Perayaan

"Gimana nih Fer, mau gak hadir gak enak.  Kalau hadir, wah lebih gak enak lagi" kata Ahmad kebingungan.  

"Iya nih si Benny.  Udah aku jelaskan panjang lebar tentang Zionisme gak ngerti juga dia" jawab Ferry sambil menatap undangan sebuah pesta perayaan di suatu hotel di Puncak.  

---------------------------------------------------------------

Malam yang dinantikan pun tiba.  Bendera putih biru bergambar dua segitiga sama sisi yang saling menindih tertambat di salah satu sudut ruangan. Sementara itu, sebuah tempat lilin bercabang tujuh berada di tengah meja yang penuh hidangan lezat.  Benny meletakkan Blackberry-nya dan berkata "Tenang, sebentar lagi mereka datang".  

Tak lama kemudian kedua orang yang dinanti pun tiba.  Bukannya gembira, Benny malah meradang, wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa malu. Teman-teman Benny pun memandang kedua lelaki itu dengan perasaan marah.  "Apa -apaan ini!" bentak Benny.

"Iya Ben, aku kan sudah bilang bahwa aku bakal datang sebentar. Gak enak sama kamu kalau sampai gak datang.  Kebetulan hari ini kami juga mau latihan drama di tempat teman. Daripada harus repot-repot ganti baju, lebih baik sekalian aja kan." Kata Ferry santai  "Lagian kamu sih pakai maksa-maksa aku hadir segala".  

"Keluar kamu!!!" bentak Benny "Pokoknya mulai detik ini kita sudah bukan teman lagi!".

"Iya iya, kami pergi. Gitu aja koq repot" kata Ferry lagi.

Kedua lelaki berpakaian ala perwira SS NAZI itu pun meninggalkan ruang pesta. Mereka pun kembali ke mobil mereka yang diparkir di luar hotel.    

Kamis, 13 Januari 2011

[Flash Fiction] Sudah merelakan

Rani tampak gelisah di ruang rias pengantin.  Sebenarnya dia sangat bahagia karena Firman akhirnya meminangnya sebagai istrinya.  Namun, saat ini dia sedang menunggu kabar dari Anton, orang yang selama ini sangat mencintainya.  Rani ingin memastikan bahwa Anton rela melepaskannya bersanding dengan Firman. "Anton memang lelaki yang baik, namun Firman adalah pilihan hatiku" kata Rani dalam hati.

Tiba tiba ponsel Rani berbunyi, pertanda ada pesan pendek yang masuk.  Rani segera meraih ponselnya dan melihat isi pesan tersebut.  "Mbak Rani, Insya Allah kak Anton sudah rela mbak dipersunting oleh Mas Firman.  Liza, adik Anton".  Rani pun bernafas lega.

Di tempat yang cukup jauh dari sana, di sebuah rumah sakit, Liza menatap jalanan yang basah karena baru saja diguyur hujan.   Rintik hujan seakan mengiringi linangan air mata Liza.  Di tempat tidur di ruangan itu terbaring Anton, kakaknya, yang baru saja menghembuskan nafasnya yang penghabisan.  

Rabu, 12 Januari 2011

[Flash Fiction] Ruang ICU

"Saya terima nikah dan kawinnya Rani binti Abdul Kodir dengan Firman bin Mahmudin dengan mas kawin emas 20 kg tunai" kata pak penghulu

"Saya terima nikah dan kawinnya Rani binti Abdul Kodir dengan Firman bin Mahmudin dengan mas kawin emas 20 kg tunai" kata Firman

"Bagaimana, sah?" kata pak Penghulu.  "Sah" kata saksi

"Dengan demikian, kalian berdua resmi menjadi suami istri" kata pak penghulu lagi.  

Saat itu waktu menunjukkan jam 11 siang.  Pada saat yang sama, seorang lelaki yang terbaring di ruang ICU pun menghembuskan nafasnya yang penghabisan.  Monitor penunjuk denyut nadi kehidupan berwarna hijau itu tidak lagi berdenyut, hanya garis lurus yang ditampilkannya.  

Selasa, 11 Januari 2011

[Flash Fiction] Ambulans Curian

Klang - klang, terdengar suara pisau lipat model Butterfly itu terdengar seakan bunyi lonceng kematian

Aku memutar - mutar pisau yang kurampas dari seorang preman yang mati dalam perkelahian di penjara beberapa waktu yang lalu.  Beberapa lama di penjara membuatku cukup terampil mempermainkan senjata yang satu itu.

Namun, yang membuatku mau melakukan hal ini ada di hadapanku.  Di tempat orang sakit biasa terbaring, tergeletak seorang perempuan cantik.  Perempuan yang  sudah lama aku dambakan, bahkan telah menjadi obsesiku selama ini.  Akhirnya ...  

"Udah, senang-senangnya nanti aja" kata Sagat.  Aku memandang dia dengan mata melotot. Mau senang sedikit masa gak boleh, demikian kataku dalam hati.

Si botak bermata satu memang tidak suka orang senang.  Kalau saja tidak butuh dukungan mereka, mana mau aku berurusan dengan orang - orang ini.

Sementara itu, Balrog, si mantan petinju yang gemar membunuh lawan di atas ring masih berkonsentrasi menyetir ambulans curian itu. Mobil itu pun menembus malam, menuju  tempat yang ditentukan untuk bertemu Vega dan Jendral Bison, serta antek-antek mereka.

Entah bakal dapat pekerjaan kotor apa kali ini, yang penting bayaran sudah di tangan .. demikian pikirku.    

Senin, 10 Januari 2011

[Flash Fiction] Terapi patah hati

"Ya Allah .. walaupun rasa rokok ini mulai pahit .. namun masih ada keinginan merokok .. saya ikhlas .. saya pasrah" kata lelaki yang sedang merokok itu.  Rahman, si terapis, masih mengetuk-ngetuk titik  - titik tertentu pada tubuh si perokok.  Sementara itu, rekannya sesama terapis yang lebih senior, Arifin, sedang mengamati kedua lelaki tersebut.

Tak lama kemudian Rahman pun memberi sedikit nasihat pada si perokok "Mas, coba setiap kali merokok ingat istri mas yang meminta pada saya untuk menterapi mas.  Banyak lelaki yang mengharpakan cinta perempuan yang sekarang menjadi istri mas Gatot. Namun, Vina sudah menjatuhkan pilihan sama mas Gatot, maka cintailah dia dengan berhenti merokok mas, bisa kan?"

"Iya mas, Insya Allah ..." kata mas Gatot.  Tak lama kemudian, datanglah seorang perempuan cantik yang bertubuh tinggi ramping.  "Gimana mas" tanya perempuan itu pada Mas Gatot.  "Insya Allah keinginan untuk merokok sudah berkurang. Kalau perlu nanti saya hubungi mas Rahman lagi" kata mas Gatot seraya berpaling ke mas Rahman.

Rahman pun tersenyum.  Gatot pun bersalaman memeluk Rahman dan ARifin.  Setelah kedua pasangan itu berlalu, Rahman pun kembali terduduk, air mata mengalir perlahan melalui pipinya.

Arifin melihat keganjilan itu dan berkata "Ada apa Man?" Rahman pun menjawab "Salah satu orang yang naksir berat sama Vina itu aku mas".  Suara Rahman bergetar menahan emosi yang bergejolak.

"Ya udah Man, kamu relakan saja Vina sama Gatot.  Mungkin itu ujian bagi kamu" kata Arifin.  "kamu masih mau bantu aku kan" tanya Rahman penuh harap.  "Iya, buat kamu aku akan bantu"

Dan Ariifin pun mulai menterapi Rahman agar bisa ikhlas melepaskan Vina bersanding dengan Gatot.  Sang Terapis senior itu mulai mengetuk-ngetuk titik2 di tubuh Rahman, untuk melepaskan emosi yang terpendam dalam tubuhnya.  
 

 

Kamis, 30 Desember 2010

[Flash Fiction] Sandal Jepit

Para karyawan yang biasa sholat di mushola lantai parkir gedung megah itu tampak bingung.  Mereka bingung bukan karena kekurangan sandal jepit namun justru karena kelebihan.  Jumlah sendal jepit melebihi jumlah pemakai mushola, sehingga banyak sendal yang menganggur.  Padahal, banyak mushola di beberapa gedung tetangga sering kekurangan sendal sehingga harus dipakai bergantian oleh para jamaah.  Para jamaah mushola tersebut sebenarnya ingin memberikan sebagian sandal ke mushola lain, namun tidak berani karena para pengurus mushola pun tidak tahu asal muasal kelebihan sendal itu.  

Karena penasaran, beberapa jamaah yang juga karyawan sebuah perusahaan yang menyewa lantai di sana pun sepakat untuk menyelidiki keganjilan tersebut.  Setelah mengintai beberapa lama, mereka pun akhirnya mengetahui bahwa salah satu direktur perusahaan tersebut selalu meninggalkan sepasang sendal jepit setiap kali sholat maghrib sebelum pulang kerja.  

Sang direktur, setelah mengetahui bahwa ulahnya diketahui para karyawan, mempersilakan apabila ada yang ingin menyumbangkan sendal ke mushola-mushola yang lain.  Ternyata dia melakukan hal itu untuk membantu tetangganya yang membuka usaha warung kelontong namun sepi pembeli.  

Selasa, 07 Desember 2010

[Flash Fiction] Tiga pemuda dan lagu lama

Tiga orang pemuda datang ke suatu pesta pernikahan orang yang pernah mereka cintai.  Ketiganya pernah mencintai sang mempelai perempuan yang sayangnya tidak mencintai siapapun diantara mereka.  

Saat menyumbangkan suara pun tiba dan ketiga pemuda penggemar lagu-lagu djadoel pun maju satu per satu.

Pemuda pertama bernyanyi:

Senyum dan tawa hanya sekedar saja .. Sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara .. Kucoba bertahan mendampingi dirimu .. Walau kadangkala tak seiring jalan .. Kucari dan selalu kucari jalan terbaik .. Agar tiada penyesalan dan air mata

Pemuda kedua bernyanyi:

Selamat menempuh hidup baru dengan kasihmu ... Aku relakan nasibku sudah begini ... Terimalah seuntai bunga sebagai tanda kasih ... Kasih yang suci padamu sayang

Pemuda ketiga bernyanyi:

Cinta yang kuberi .. sepenuh hatiku .. entah yang kuterima .. aku tak peduli ..

Apakah ada bedanya ketika kita bertemu ... dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat ..Tinggal bagaimana kita menghayati .. di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan ..  dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka .....


Dan tahulah si perempuan yang duduk di pelaminan, pemuda mana yang sudah rela melepaskannya bersanding dengan pilihannya sendiri ..

Rabu, 06 Oktober 2010

[Flash Fiction] Ilmuwan anak petani

Wajah para petani itu tampak murung. Cuaca yagn tidak menentu menyebabkan hasil panen seringkali gagal atau tidak sesuai yang diharapkan.  Perubahan cuaca sangat extrem, terkadang panas menyengat terkadang hujan badai menderu membuat mereka sulit menentukan masa tanam dan masa panen.  Hidup menjadi semakin berat bagi mereka.   

Sementara itu, nun jauh di seberang lautan, di sebuah lokasi terpencil di bawah kekuasaan sebuah negara adidaya.  Seorang ilmuwan baru saja menyelesaikan tugas yang diberikan.  Jenderal yang bertanggungjawab terhadap proyek itu pun memasuki ruang kerja sang ilmuwan.

"Bagaimana" kata sang Jendral?

"Siap pak, semua sistem telah diperiksa dengan baik"

"Baik, kita akan uji coba sekali lagi" ujar sang Jendral "Bersiaplah"

"Baik pak"

Sang Jendral pun berlalu, meninggalkan ilmuwan yang berhasil mencapai puncak karirnya di proyek pengendalian cuaca tersebut. Karir yang diperolehn sang ilmuwan berkat pendidikan yang dibiayai hasil panen orang tuanya yang petani. Para petani yang sama dengan yang sekarang sedang murung karena cuaca yang tidak menentu.


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan - tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

QS. Ar-Rum (30) ayat 41

Terinspirasi dari artikel Wikipedia yang ini


Jumat, 20 Agustus 2010

[Flash Fiction] Sepasang Pedang Kayu

Kedua lelaki berbeda usia itu saling berhadapan, mereka berdua masing-masing memegang sebilah pedang kayu.   Mereka seakan tak peduli deburan ombak yang menghiasi pantai malam itu.  Keduanya saling bertatap tajam,

Tiba-tiba, teriakan keras seakan memecah sunyi malam itu, mengalahkan deburan ombak pantai tersebut.  Kedua lelaki itu saling menyongsong satu sama lain dengan pedang kayu mereka.  Sekejap kemudian, suara kayu beradu terdengar silih berganti, memecah kehingan malam di pantai tersebut.  

Sang pemuda, walaupun lebih muda dan kuat, tidak bisa mengimbangi permainan lelaki tua itu.  Beberapa kali sang pemuda terpukul pedang kayu lawannya, masih untung bukan bagian yang vital.  Si tua rupanya tidak ingin menyakiti sang pemuda lebih daripada yang diperlukan.  Orang tua itu ingin mendidik si pemuda, bukan membunuhnya.  Namun, benturan pedang kayu orang tua itu sepertinya sudah cukup untuk melumpuhkan perlawanan si pemuda.  

"Jahe tua memang pedas rasanya ...." kata si pemuda sambil memuntahkan darah seraya berlutut. Gumpalan darah itu pun larut ke dalam pasir pantai.  

Si pemuda bangkit kembali walau dengan susah payah dan bersiap meneruskan pertarungan.  Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya.  

“Bangun” kata petarung yang lebih tua “kau belum siap”

“Tapi ayah …. “ protes si pemuda.  

Emotional content .. not anger” kata ayahnya “Remember that

“Apa perbedaan antara kedua hal tersebut?” kata si pemuda sambil menghapus darah di bibirnya?

“Sulit untuk dijelaskan .. kau akan mengerti saat dewasa nanti” kata sang ayah.

Si pemuda pun membisu, sehening malam di pantai itu.  

----------------------------------------------------------

Cerita ini ditulis untuk mengikuti lomba Flash Fiction di MP mbak Intan.
dengan Tema: Ayah dan Anak

Yang ingin tahu apa itu Flash Fiction, silahkan mampir ke situs ini

Cerita ini terinspirasi oleh  film silat djadoel berjudul Enter The Dragon yang dibintangi Bruce Lee dan sebuah drama Korea, judulnya lupa ...  serta komik silat karya Tony Wong, Long Hu Men alias Perguruan Naga Harimau