Tampilkan postingan dengan label kejahatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kejahatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

[Sosial] Bon Kosong dan Kerentanan Sosial

Sebut saja namanya Udin.  Seorang pemuda yang hanya lulusan SMP ini beruntung mendapat pekerjaan sebagai seorang office boy di sebuah kantor.  Salah satu tugas Udin adalah memfotokopi berkas-berkas dari kantor.  Memang, selain gaji bulanan, Udin juga dapat uang makan dan tunjangan lainnya walau tidak terlalu besar.  Namun, karena banyaknya dokumen yang harus difotocopy, Udin kadang terpaksa menggunakan uangnya sendiri terlebih dahulu untuk membayar biaya fotokopi untuk kemudian ditagihkan ke bagian keuangan di kantornya.  Untuk bisa mendapat penggantian itu, Udin harus memberikan bukti berupa bon dari kios fotokopi langganan kantor.  Namun, karena pengaruh lingkungan yang kurang baik dan kecanduannya akan rokok, Udin mulai berbuat curang.  Saat melaksanakan tugasnya untuk memfotocopi dokumen-dokumen kantor, dia meminta pada operator dibuatkan bon kosong. Bon itu dia isi sendiri agar ada uang lebih yang bisa dia kantongi.  Udin memang seorang sudah lama menjadi seorang perokok sehingga dengan uang mark-up itu dia bisa membeli rokok tanpa harus mengurangi gaji dan uang makan. Manipulasi tersebut berlangsung lancar dalam waktu cukup lama. Namun, seperti kata pepatah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, terjadilah sesuatu yang ada di luar perhitungan Udin.  Ibu Ani, kepala bagian keuangan di kantor tersebut, menemukan sebuah bon kosong yang benar-benar kosong.  Tidak ada sedikitpun angka yang tertera di sana.  Karena curiga, Ibu Ani pun memanggil Udin dan menanyakan perihal bon kosong itu.  Udin tidak bisa mengelak dan terpaksa mengakui perbuatannya. Udin pun dipecat dari pekerjaannya dan sampai sekarang dia masih menganggur.  Ijazahnya yang hanya sampai SMP dan kredibiltasnya yang sudah tercoreng gara-gara markup bon kosong yang dilakukannya membuat Udin kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.

Lain lagi dengan Raihan. Pemuda yang sudah lama menganggur itu suatu saat melihat pengumuman penerimaan pegawai di salah satu warnet yang menjadi langganannya.  Raihan pun menemui pemilik warnet dan mengatakan ingin bekerja di sana.  Setelah diwawancarai dan diuji kemampuannya mengoperasikan komputer, Raihan pun diterima di sana.  Memang, mula-mula Raihan merasa enjoy bekerja di sana walaupun pekerjaannya tidak terlalu bergengsi. Yang penting kantongnya terisi uang lagi walau tidak terllau tebal. Namun sayang seribu sayang, setelah beberapa lama bekerja, Raihan mulai merasakan adanya sesuatu yagn tidak beres.  BAnyak para pelanggan yang meminta dibuatkan bon kosong.  Termasuk orang-orang yang bekarja di sebuah proyek Superblok yang sedang berlangsung di dekat warnet tempat Raihan bekerja.  Raihan memang dapat memahami bahwa para pekerja tersebut mengganggap meminta dibuatkan bon kosong bukanlah kejahatan serius.  Toh para pemilik modal di Mega Proyek Superblok itu masih punya banyak uang, begitu pikir mereka.  Namun, yang paling menyiksa batin Raihan adalah rasa berdosa yang timbul setiap kali dia terpaksa melakukan hal buruk tersebut.

Sebagai seorang pemuda yang cukup memahami ajaran agamanya yaitu Islam, Raihan tahu bahwa memberikan kesaksian palsu, termasuk dalam bentuk bon kosong, adalah dosa besar.  Tidak peduli apakah selisih antara jumlah uang yang tertera dalam bon tersebut dan jumlah sebenarnya sedikit atau banyak.  Apakah selisihnya hanya 5000 rupiah atau 5 juta rupiah, keduanya sama-sama dosa besar.  Memang, kadang Raihan berhasil menolak membuatkan bon kosong itu walaupun dengan perjuangan yang alot, namun terkadang dia gagal.  Dengan berat hati, dia pun terpaksa menandatangani sebagian bon kosong tersebut, apalagi saat si klien sudah mengancam.  Akhirnya, dengan berat hati Raihan pun menemui pemilik warnet dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.  Raihan pun kini terpaksa kembali mengisi hari harinya dengan perjuangan mencari pekerjaan yang sesuai.

Kedua ilustrasi di atas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia ini masih budaya meremehkan hal-hal buruk yang dianggap kecil.  Kita seringkali lupa bahwa bencana dan kerusakan besar selalu dimulai dari hal-hal yang kecil.  Pak Ahyudin, presiden Aksi Cepat Tanggap, sebuah lembaga sosial yang biasa menangani bencana-bencana yang terjadi di Indonesia, mengatakan bahwa bencana sebesar apapun berawal dari kerentanan, baik kerentanan alam ataupun kerentanan sosial. Jika kerentanan-kerentanan itu dianggap remeh dan tidak segera diatasi, bencana dan kerusakan yang lebih besar akan menanti.  Korupsi kecil-kecilan dengan modus bon kosong seperti pada beberapa ilustrasi di atas adalah contoh kerentanan sosial yang seringkali diremehkan.  Kejahatan seperti itu pada akhirnya membawa bencana kepada si pelaku dan orang-orang yang dekat dengannya.  Ada pula yang akhirnya dipecat dan ada pula yang mengundurkan diri karena tidak tahan menahan rasa sakit hati dan perasaan berdosa yang dalam. Banyak pula yang sampai terjerumus ke dalam dunia hitam kejahatan karena sudah terlalu sakit hati, frustasi dan putus asa.  

Budaya korupsi memang sudah menjangkiti negeri ini sampai ke tingkat strata sosial terendah.  Jika seorang office boy saja bisa melakukan korupsi dan manipulasi dengan modus bon kosong seperti pada kisah-kisah di atas, apalagi yang tingkatnya lebih tinggi. JIka seorang office boy bisa memanipulasi tagihan dengan segala cara, termasuk dengan bon kosong, maka seoerang pejabat tinggi bisa lebih leluasa lagi melakukan kejahatan seperti itu.  Hanya dengan coretan tanda tangannya, proyek yang sebenarnya bermasalah atau diragukan urgensinya untuk kepentingan masyarakat bisa lolos dan dilaksanakan.  Akibatnya, beban keuangan yang ditanggung negara makin berat, rakyat makin banyak yang miskin dan kerentanan sosial yang berpotensi menimbulkan bencana makin meluas. Sudah saatnya masyarakat bangkit dan melawan budaya korup, markup dan bon kosong seperti yang terjadi selama ini agar tidak menimbulkan bencana-bencana yang besar dan menimbulkan kerugian berat di kemudian hari.

Semoga bermanfaat

Referensi:

Tarbiyah Finansial, Dwi Swiknyo, Diva Press
Pemimpin Negeri Bencana  

Jumat, 13 Mei 2011

Ironi Perayaan kemerdekaan Zionis di Indonesia Part 2

Perayaan berdirinya Negara Israel di Indonesia jelas merupakan tamparan keras bagi kaum muslimin.  Bagaimana tidak? sebuah negara kaya raya dengan populasi muslim terbesar di dunia bisa hampir kecolongan.  Kaum muslimin indonesia, yang kalau tidak mau dibilang seratus persen, 90 persen lebih sangat anti zionis, walaupun pengetahuan mereka tentang hal itu sangat minim.  
 
Entah motivasi apa yang membuat komunitas nekat melakukan perayaan itu:

Cari sensasi? ya mungkin saja.  Bukankah zaman sekarang ini orang doyan sekali yang namnya sensasi. TErbukti dengan adanya fenomena selebritis dadakan yang ngetop lewat video sharing Youtube. Zaman yang penuh gemerlap kepalsuan ini membuat orang haus akan popularitas, apalagi ditambah kecanggihan berbagai situs tempat berbagi foto dan video di internet. Semakin besar peluang orang untuk ngetop walaupun tidak ada jaminan popularitasnya akan bertahan. 

Cari duit? sangat mungkin.  Sudah terbukti sejak zaman dahulu kala, yang namanya Yahudi paling lihai kalau dalam urusan duit dan harta benda.  Bahkan bisa jadi itulah obsesi mereka dalam kehidupan di dunia.  dalam buku Holocaust Industry dikisahkan saat pemerintah Jerman pasca Nazi hendak memberi kompensasi ganti rugi, banyak sekali orang Yahudi yang menuntut sehingga penulis buku itu menjelaskan sebenarnya Nazi dan Hitler membantai siapa? Mereka juga pasti tahu, kemana duitnya sebaiknya dialirkan, yaitu ke tempat-tempat yang menguntungkan mereka baik secara finansial ataupun politis. 

Cari perhatian asing? mengapa tidak. bukan rahasia lagi negeri kaya nan berlimpah sumber daya alam ini, perusahaan-perusahaan asing berlomba menanamkan investasi mereka.  Mereka berharap untung luar biasa besar dengan biaya semurah-murahnya.  John Pilgers, pembuat film dokumenter The New Rulers menyajikan kehidupan para buruh yang bekerja keras membuat sepatu dan celana pendek.  Mereka hanya mendapatkan beberapa ribu atau beberapa puluh ribu rupiah per item yang dihasilkan.  Mereka harus tinggal di pemukiman kumuh yang rawan penyakit, seperti malaria, diare dan sejenisnya.  Bahkan seorang pegolf profesional dibayar lebih tinggi daripada gaji para buruh bila dijumlahkan. Bahkan transaksi dagang dengan negeri zionis itu sudah lama terjadi, walaupun luput dari pemberitaan media mainstream. 

Test case? Of course, why not.  Dua petarung pada saat awal - awal pertarungan tentunya saling menjajal kemampuan lawan terlebih dahulu. Demikian juga mereka.  Aksi mereka kali ini bisa jadi sudah dimonitor tuan besarnya di Israel sana.  Dengan kecanggihan teknologi, si tuan besar bisa memperkirakan dan memetakan reaksi masyarkaat Indonesia.   Untuk menentukan langkah-langkah mereka selanjutnya. 

Masih ada kemungkinan lain?

Bersambung .... 

Kamis, 12 Mei 2011

Ironi Perayaan kemerdekaan Zionis di Indonesia Part 1

Berita yang cukup sensasional menyebar di dunia maya, saat sekelompok orang hendak merayakan hari kemerdekaan negara Zionis di Jakarta.  BAnyak kecaman dan ungkapan kemarahan menyebar laksana api melahap rumput kering namun ada juga yang adem ayem saja.  Isu Zionisme memang isu paling kontroversial dan paling sensitif bagi kaum muslimin Indonesia. Merayakan kemerdekaan negara biang segala teror, kerusakan dan kejahatan super kejam itu di Jakarta tentu merupakan suatu langkah yang sangat berani dan sensional kalau tidak mau dikatakan gila dan edan.  

Negara Zionis yang mencatut nama seorang Nabi itu didirikan tahun 1948, namun sejarahnya sudah merentang jauh entah berapa ribu tahun di masa silam.  Saat awal penciptaan manusia, Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada manusia partama saat itu yaitu Nabi Adam AS.  Namun, Iblis laknatullah menolak dan mengklaim bahwa dia lebih baik daripada Adam krn dicipta dari Api.  Allah SWT mengutuk Iblis, yang meminta perpanjangan waktu sampai hari kiamat.  Akan aku sesatkan sebanyak mungkin hambaMu, kata Iblis.  

Hasil kerja keras Iblis pun terlihat dalam sejarah, baik yang tercantum dalam Al Quran ataupun sumber-sumber lain.  Manusia tenggelam dalam penghambaan dan penindasan antar seama manusia dalam bentuk pertempuran berdarah antar bangsa.     Bangsa -bangsa penyembah berhala pun bergantian hadir di muka bumi.  Setiap kali seorang nabi tidak berhasil mendakwahi mereka agar kembali ke jalan yang benar, maka Allah SWT pun menurunkan bencana kepada mereka.  Seperti banjir bandang yang melanda kaum nabi Nuh, hujan batu api yang melanda kaum nabi Luth yang memperaktekkan homosexual dan masih banyak lagi.  Namun, ajaran penyembahan berhala dan segala macam variasinya tidak pernah pudar dari muka bumi. Bahkan ajaran itu telah berbuah menjadi ajaran yang mempertuhankan berhala-berhala hidup dalam bentuk penguasa tiran yagn zalim dan diktator speerti Firaun dan Namrudz.  

Bani Israil, saat nabi Yusuf AS masih menjabat sebagai pejabat keuangan di Mesir, mendapat perlakuan yang baik dari orang-orang Mesir.  Namun, setelah Nabi Yusuf dan saudara-saduaranya meninggal dunia, Bani Israil pun diperbudak oleh Firaun dan orang-orang Mesir.  Setelah bertahun-tahun, Allah SWT pun mengutus Nabi Musa untuk mendakwahi Firaun dan memimpin Bani Israil untuk membebaskan diri mereka.  Nabi Musa pun sempat berkonfrontasi langsung dengan para penyihir Firaun.  Berkat pertolognan Allah SWT, para penyihir dapat dikalahkan dan mereka pun beriman pada ajaran Nabi Musa. Firaun sangat murka dan mengancam para tukang sihir tersebut, namun mereka tidak takut pada ancaman sang tiran. "Engkau hanya mampu menyiksa kami di dunia ini saja" demikian para penyihir yang telah bertaubat pada Firaun.  

Keengganan Firaun untk bertaubat dan menyembah Allah SWT menyebabkan Mesir Kuno dilanda berbagai bencana.  Allah SWT pun memerintahkan Musa untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir.  Firaun, yang tadinya mengizinkan Bani Israil keluar dari Mesri pun berubah pikiran.  Penguasa zalim itu pun mengejar Bani Israil besama pasukannya.  Namun, Allah SWT memberi pertolongan dengan mukjizat terbelahnya laut Merah.  Musa dan kaumnya selamat samapi ke seberang, sementara Firaun dan pasukannya tenggelam ditelan lautan yagn menyatu kembali saat mereka masih ditangah jalan.  

Walaupun Bani Israil selamat dari kejaran tentara firaun, namun iman dan akidah mereka sudah tidak bersih lagi.  Mereka terlalu lama berada di lingkungan Mesir Kuno yang penuh penyembahan terhadap berhala.  Saat Nabi Musa berada di gunung Sinai selama 40 hari, BAni Israil malah membaut patung anak sapi dari emas yang dilebur dari perhiasan kaum wanita mereka. Mereka malah menyembah patung tersebut.   Saat Nabi Musa mendapat perintah dari Allah SWT untuk memimpin Bani Israil untuk memerangi suatu kaum, mereka malah berkata "Pergilah engkau wahai Musa bersama Tuhanmu yang gagah perkasa itu, kami duduk saja di sini. Kami akan datang kalau kau dan Tuhanmu sudah memenangkan pertempuran".

Bani Israil memang pernah merasakan kejayaan di bawah kekuasaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, yang juga merupakan raja mereka.  Nabi Sulaiman, yang dianugerahi mukjizat bisa menguasai hewan, jin dan angin, melarang penggunaan sihir di wilayah kekuasaan beliau.  Semua kitab dan catatan tentang ilmu sihir disimpan di bawah singgasanan beliau. Setiap kali ada jin yang mencoba mengambil catatan tersebut, jin itu akan mati terbakar. Kitab-kitab dan catatan tentang ilmu sihir itu adalah warisan dari tukang-tukang sihir Firaun di Mesir.  Setelah Nabi Sulaiman meninggal dunia, para jin dan tukang sihir di kalangan bani Israil itu bisa kembali mengakses catatan sihir mereka sehingga mereka pun kembali mempraktekkan sihir.  Sihir bani Israil ini menjadi cikal bakal sebuah kepercayaan mistik kaum Yahudi bernama Kabbalah.   Ironis memang, saat para tukan sihir mesir kuno bertaubat, Bani Israil malah mempelajari sihir dan menghormati para tukang sihir di kalangan mereka.  

Sepeninggal kedua Nabi tersebut terjadi perebutan kekuasaan diantara mereka sendiri.  Sehingga, kerajaan mereka pun terbelah dua menjadi yaitu Kerajaan Israel dan Kerajaan Judah. Kerajaan Israel terletak di utara dan teridir dari 10 suku, sementara Judah terletak di selatan yang terdiri dari 2 suku.  Kerajaan Israel dan kerajaan Judah pun menjadi bulan-bulanan bangsa-bangsa pagan kuno seperti Babylonia, Persia dan Romawi.  Salah satu peristiwa yang paling mengerikan saat mereka berada di bawah kekuasaan Romawi adalah peristiwa jatuhnya Benteng Masada.  Saat itu, kaum Yahudi yang bertahan di sana memilih untuk saling membunuh agar tidak jatuh ke tangan Romawi.  Peristiwa Masada terukir erat di benak bawah sadar kaum Zionis Yahudi hingga saat ini hingga mereka terus menerus curiga dan memusuhi bangsa lain.  

Kaum Yahudi, yang konon merupakan keturunan Yehuda, salah satu putra Nabi Yaqub dan saudara nabi Yusuf, mewarisi ajaran-ajaran syirik dari kaum Bani Israil. Pasukan Negara Zionis sekarang pun adalah pengembangan dari kelompok-kelompok teroris Yahudi zaman perang dunia kedua sperti Stern Gang dan sebagainya.  Zionisme adalah ideologi yang dibentuk dari kebanggaan rasial yang palsu ala bangsa pagan dicampur dengan dendam kesumat atas seajrah kelam Bani Israil.  Kombinasi tersebut menghasilkan suatu ideologi yang memproduksi mesin - mesin pembunuh tanpa hati yang setiap hari mencari mangsa. Apapun agama dan bagnsanya, Zionisme adalah musuhnya.  

Jadi, sangat ironis apabila ada yang merayakan kemerdekaan negara Zionis yang justur merupakan penjajah tanah Palestina dan menyebarkan kehahatan dan kerusakan ke seluruh dunia.  

Insya Allah bersambung .....
 

Selasa, 11 Januari 2011

[Flash Fiction] Ambulans Curian

Klang - klang, terdengar suara pisau lipat model Butterfly itu terdengar seakan bunyi lonceng kematian

Aku memutar - mutar pisau yang kurampas dari seorang preman yang mati dalam perkelahian di penjara beberapa waktu yang lalu.  Beberapa lama di penjara membuatku cukup terampil mempermainkan senjata yang satu itu.

Namun, yang membuatku mau melakukan hal ini ada di hadapanku.  Di tempat orang sakit biasa terbaring, tergeletak seorang perempuan cantik.  Perempuan yang  sudah lama aku dambakan, bahkan telah menjadi obsesiku selama ini.  Akhirnya ...  

"Udah, senang-senangnya nanti aja" kata Sagat.  Aku memandang dia dengan mata melotot. Mau senang sedikit masa gak boleh, demikian kataku dalam hati.

Si botak bermata satu memang tidak suka orang senang.  Kalau saja tidak butuh dukungan mereka, mana mau aku berurusan dengan orang - orang ini.

Sementara itu, Balrog, si mantan petinju yang gemar membunuh lawan di atas ring masih berkonsentrasi menyetir ambulans curian itu. Mobil itu pun menembus malam, menuju  tempat yang ditentukan untuk bertemu Vega dan Jendral Bison, serta antek-antek mereka.

Entah bakal dapat pekerjaan kotor apa kali ini, yang penting bayaran sudah di tangan .. demikian pikirku.    

Selasa, 08 Desember 2009

[Psikologi Sosial] Membunuh itu mudah

Yah, kata-kata di atas adalah judul sebuah novel tulisan Agatha Christy. Yang jelas, tulisan ini bukan untuk memotivasi kita untuk saling bunuh. Namun, kita perlu ingat akan tabiat manusia itu sendiri.

Entah berapa ratus juta tahun yang lalu Allah SWT akan menciptakan manusia dan menempatkan makhluk tersebut sebagai khalifah di bumi. Para malaikat, yang biasanya patuh tunduk 100 persen, tiba-tiba protes. Mengapa Engkau menciptakan makhluk yang akan menumpahkan darah sesamanya? demikian tanya mereka.

Allah SWT mengatakan pada para malaikat tersebut "Aku lebih mengetahui daripada kalian"

kisah tersebut bisa dibaca selengkapnya di dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah (2): ayat 30 - 34

Saya bukan ahli tafsir, pengetahuan saya tentang Al Quran dan tafsirnya sangat terbatas. Namun, bagi saya bagian yang paling menarik dari ayat di atas adalah mengapa para malaikat mengatakan bahwa manusia akan membunuh dan menumpahkan darah sesamanya. bukan merampas harta sesamanya atau jenis-jenis kejahatan yang lain. Pembunuhan, ya pembunuhan.

Pembunuhan bisa dibilang merupakan puncak kezaliman seorang manusia atas sesamanya. Pembunuhan adalah kejahatan yang paling kejam. Apabila harta seseorang dicuri atau haknya dirampas, setidaknya dia masih hidup. Mungkin dia bisa mencari harta lagi atau memperjuangkan haknya kembali. Namun, apabila dia sudah terbunuh atau dibunuh? Tidak ada jalan untuk kembali ke dunia ini, kecuali Allah SWT menghendaki. Terputus sudah hubungan dengan dunia fana ini, pupus sudah kesempatan beramal sholeh. Tidak lagi bisa menebar manfaaat bagi sesama manusia dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Mungkin para malaikat pada waktu itu berpikir, jika membunuh sesama manusia saja bisa dilakukan, apalagi kejahatan-kejahatan yang lain.

Anton Medan suatu saat pernah diwawancarai oleh suatu TV Swasta dalam acara talkshow tengah malam. Beliau dengan tegas mengatakan bahwa semua orang bisa membunuh. Presenter yang memandu acara keheranan dan bertanya "bener nih pak?". "Iya' jawab Anton Medan dengan lebih tegas.

Saat saya mengikuti Baksos SEFT dan Yayasan Hurin'in di daerah Bongkaran, Jatibunder, Tanah Abang, seorang sahabat yang juga SEFTer menceritakan pengalamannya. Dia men-tapping seorang bapak yang sakit pinggang. Cerita punya cerita, akhirnya si bapak bercerita bahwa dia sudah siap membunuh anaknya dan demikian pula sebaliknya. Anak dan bapak, darah daging sendiri, sudah pasang kuda-kuda. siap untuk saling membunuh. Daerah Bongkaran memang tempat yang sangat mengerikan. Keluarga-keluarga hidup dalam petak-petak kecil yang sumpek dan sempit. Terkadang, ada suami yang membawa perempuan lain ke rumah petaknya dan main gila di sana. Terbayang betapa sakitnya perasaan si istri. Adik dan kakak saling berhubungan sexual sudah biasa di sana. Maklum, daerah itu merupakan tempat lokalisasi pelacuran. Saat mendengar kisah adik kakak yang saling berhubungan sex, saya teringat kembali sebuah hadits Rasul. saya sendir kurang tahu persis haditsnya, namun matan atau isi hadits tersebut menyatakan bahwa anak laki dan perempuan, pada usia tertentu, harus dipisahkan kamarnya. Walaupun adik kakak. Namun, di sana bagaimana mungkin mau dipisah. Wong satu keluarga saja harus tinggal di petak-petak kecil nan sumpek. Sudah tidak perlu lagi dibayangkan, betapa tidak nyaman interaksi sosial antar warga di sana. Segala macam kejahatan bisa terjadi, termasuk pembunuhan.

Jika memang semua orang, tanpa kecuali bisa membunuh, maka benarkah membunuh itu mudah? tergantung siapa yang melakukan. sesuatu menjadi mudah karena dilakukan berulang-ulang. Seseorang memiliki keahlian untuk melakukan sesuatu karena belajar dan berlatih. Perasaan takut dan jijik melihat darah dan organ-organ dalam tubuh manusia adalah "default setting" pada fitrah diri manusia. Namun, bagi orang-orang yang sudah berulang kali melihat hal-hal tersebut, mereka tidak lagi merasa takut atau jijik. Orang-orang seperti dokter ahli bedah atau petugas forensik tentu sudah terlatih melihat hal-hal tersbut.

Demikian juga dengan aktivitas yang namanya membunuh. pada awalnya mungkin, seorang calon pembunuh bayaran atau seseorang yang akan membunuh merasakan takut yang amat sangat. Keringat dingin bercucuran, jantung berdebar keras tak karuan. Namun, lama-kelamaan perasaan itu hilang. Berganti dengan tatapan tajam bak binatang buas saat mengincar calon korbannya. Tangan yang tadinya gemetar berkeringat lama kelamaan mantap memegang senjata. Aliran darahnya yang tadinya berdesir tanda ketakutan, kini mengalir normal seakan tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena itulah, orang yang sudah terlatih dan terbiasa membunuh disebut pembunuh berdarah dingin. Sedingin aliran sungai di pegunungan.

Namun demikian, ada pula orang-orang yang tiba-tiba jadi pembunuh. Contoh paling nyata adalah para TKI yang pergi ke luar negeri. Sebenarnya, mereka di sana untuk mencari nafkah. Mereka adalah orang-orang lugu yang bahkan mungkin tidak pernah berkelahi, paling banter adu mulut. Namun, perlakuan tidak manusiawi dan kejam sebagian majikan menyebabkan mereka sampai nekat melakukan pembunuhan. Koran-koran dan berita-berita kriminal yang tayang tiap hari juga menyajikan kepada kita berita-berita yang sama. Hampir setiap hari kita saksikan seseorang membunuh atau dibunuh orang lain, bahkan terkadang karena sebab-sebab sepele. Seperti berebut lahan parkir, saling ejek, rebutan pacar dan sebagainya. Bila tidak mampu atau tidak berani membunuh padahal kekesalan sudah memuncak, bisa jadi mereka bunuh diri. Bunuh diri juga merupakan pembunuhan, dan dilarang keras dalam agama Islam, sebagaimana membunuh orang lain.

Perilaku anggota masyarakat sudah sedemikian rupa destruktif sehingga mudah terprovokasi. Kehidupan yang serba sulit, kemiskinan yang melilit dan perbedaan yang lebar antara si kaya dan si miskin menyebabkan banyak orang mengalami apa yang oleh Erich Fromm sebagai "Unlived Live". Saya sendiri menerjemahkan "Unived Live" sebagai kehidupan yang kering dan kosong tanpa makna. Erich Fromm mengatakan bahwa "Unlived Live" ini adalah penyebab dari segala macam kecenderungan manusia untuk merusak (destructiveness is the outcome of unlived life). Dan kerusakan apa yang lebih besar daripada pembunuhan?

Semoga bermanfaat