Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

[Sosial] Bon Kosong dan Kerentanan Sosial

Sebut saja namanya Udin.  Seorang pemuda yang hanya lulusan SMP ini beruntung mendapat pekerjaan sebagai seorang office boy di sebuah kantor.  Salah satu tugas Udin adalah memfotokopi berkas-berkas dari kantor.  Memang, selain gaji bulanan, Udin juga dapat uang makan dan tunjangan lainnya walau tidak terlalu besar.  Namun, karena banyaknya dokumen yang harus difotocopy, Udin kadang terpaksa menggunakan uangnya sendiri terlebih dahulu untuk membayar biaya fotokopi untuk kemudian ditagihkan ke bagian keuangan di kantornya.  Untuk bisa mendapat penggantian itu, Udin harus memberikan bukti berupa bon dari kios fotokopi langganan kantor.  Namun, karena pengaruh lingkungan yang kurang baik dan kecanduannya akan rokok, Udin mulai berbuat curang.  Saat melaksanakan tugasnya untuk memfotocopi dokumen-dokumen kantor, dia meminta pada operator dibuatkan bon kosong. Bon itu dia isi sendiri agar ada uang lebih yang bisa dia kantongi.  Udin memang seorang sudah lama menjadi seorang perokok sehingga dengan uang mark-up itu dia bisa membeli rokok tanpa harus mengurangi gaji dan uang makan. Manipulasi tersebut berlangsung lancar dalam waktu cukup lama. Namun, seperti kata pepatah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, terjadilah sesuatu yang ada di luar perhitungan Udin.  Ibu Ani, kepala bagian keuangan di kantor tersebut, menemukan sebuah bon kosong yang benar-benar kosong.  Tidak ada sedikitpun angka yang tertera di sana.  Karena curiga, Ibu Ani pun memanggil Udin dan menanyakan perihal bon kosong itu.  Udin tidak bisa mengelak dan terpaksa mengakui perbuatannya. Udin pun dipecat dari pekerjaannya dan sampai sekarang dia masih menganggur.  Ijazahnya yang hanya sampai SMP dan kredibiltasnya yang sudah tercoreng gara-gara markup bon kosong yang dilakukannya membuat Udin kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.

Lain lagi dengan Raihan. Pemuda yang sudah lama menganggur itu suatu saat melihat pengumuman penerimaan pegawai di salah satu warnet yang menjadi langganannya.  Raihan pun menemui pemilik warnet dan mengatakan ingin bekerja di sana.  Setelah diwawancarai dan diuji kemampuannya mengoperasikan komputer, Raihan pun diterima di sana.  Memang, mula-mula Raihan merasa enjoy bekerja di sana walaupun pekerjaannya tidak terlalu bergengsi. Yang penting kantongnya terisi uang lagi walau tidak terllau tebal. Namun sayang seribu sayang, setelah beberapa lama bekerja, Raihan mulai merasakan adanya sesuatu yagn tidak beres.  BAnyak para pelanggan yang meminta dibuatkan bon kosong.  Termasuk orang-orang yang bekarja di sebuah proyek Superblok yang sedang berlangsung di dekat warnet tempat Raihan bekerja.  Raihan memang dapat memahami bahwa para pekerja tersebut mengganggap meminta dibuatkan bon kosong bukanlah kejahatan serius.  Toh para pemilik modal di Mega Proyek Superblok itu masih punya banyak uang, begitu pikir mereka.  Namun, yang paling menyiksa batin Raihan adalah rasa berdosa yang timbul setiap kali dia terpaksa melakukan hal buruk tersebut.

Sebagai seorang pemuda yang cukup memahami ajaran agamanya yaitu Islam, Raihan tahu bahwa memberikan kesaksian palsu, termasuk dalam bentuk bon kosong, adalah dosa besar.  Tidak peduli apakah selisih antara jumlah uang yang tertera dalam bon tersebut dan jumlah sebenarnya sedikit atau banyak.  Apakah selisihnya hanya 5000 rupiah atau 5 juta rupiah, keduanya sama-sama dosa besar.  Memang, kadang Raihan berhasil menolak membuatkan bon kosong itu walaupun dengan perjuangan yang alot, namun terkadang dia gagal.  Dengan berat hati, dia pun terpaksa menandatangani sebagian bon kosong tersebut, apalagi saat si klien sudah mengancam.  Akhirnya, dengan berat hati Raihan pun menemui pemilik warnet dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.  Raihan pun kini terpaksa kembali mengisi hari harinya dengan perjuangan mencari pekerjaan yang sesuai.

Kedua ilustrasi di atas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia ini masih budaya meremehkan hal-hal buruk yang dianggap kecil.  Kita seringkali lupa bahwa bencana dan kerusakan besar selalu dimulai dari hal-hal yang kecil.  Pak Ahyudin, presiden Aksi Cepat Tanggap, sebuah lembaga sosial yang biasa menangani bencana-bencana yang terjadi di Indonesia, mengatakan bahwa bencana sebesar apapun berawal dari kerentanan, baik kerentanan alam ataupun kerentanan sosial. Jika kerentanan-kerentanan itu dianggap remeh dan tidak segera diatasi, bencana dan kerusakan yang lebih besar akan menanti.  Korupsi kecil-kecilan dengan modus bon kosong seperti pada beberapa ilustrasi di atas adalah contoh kerentanan sosial yang seringkali diremehkan.  Kejahatan seperti itu pada akhirnya membawa bencana kepada si pelaku dan orang-orang yang dekat dengannya.  Ada pula yang akhirnya dipecat dan ada pula yang mengundurkan diri karena tidak tahan menahan rasa sakit hati dan perasaan berdosa yang dalam. Banyak pula yang sampai terjerumus ke dalam dunia hitam kejahatan karena sudah terlalu sakit hati, frustasi dan putus asa.  

Budaya korupsi memang sudah menjangkiti negeri ini sampai ke tingkat strata sosial terendah.  Jika seorang office boy saja bisa melakukan korupsi dan manipulasi dengan modus bon kosong seperti pada kisah-kisah di atas, apalagi yang tingkatnya lebih tinggi. JIka seorang office boy bisa memanipulasi tagihan dengan segala cara, termasuk dengan bon kosong, maka seoerang pejabat tinggi bisa lebih leluasa lagi melakukan kejahatan seperti itu.  Hanya dengan coretan tanda tangannya, proyek yang sebenarnya bermasalah atau diragukan urgensinya untuk kepentingan masyarakat bisa lolos dan dilaksanakan.  Akibatnya, beban keuangan yang ditanggung negara makin berat, rakyat makin banyak yang miskin dan kerentanan sosial yang berpotensi menimbulkan bencana makin meluas. Sudah saatnya masyarakat bangkit dan melawan budaya korup, markup dan bon kosong seperti yang terjadi selama ini agar tidak menimbulkan bencana-bencana yang besar dan menimbulkan kerugian berat di kemudian hari.

Semoga bermanfaat

Referensi:

Tarbiyah Finansial, Dwi Swiknyo, Diva Press
Pemimpin Negeri Bencana  

Jumat, 23 Maret 2012

SURAT TERBUKA UNTUK PARA KANDIDAT PESERTA PILKADA 2012

Bapak-Bapak sekalian, sebentar lagi Bapak-Bapak semua akan berlaga di ajang Pilkada DKI Jakarta di tahun 2012 ini.  Tentu saja Bapak-Bapak sekalian sudah mengetahui bahwa sesungguhnya kekuasaan itu adalah amanah dan tanggung jawab disamping tentu saja merupakan nikmat dan anugerah.  Kekuasaan adalah juga merupakan ujian dan fitnah yang sangat berat.  Sebagaimana semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa, begitu pula kekuasaaan.  Kekuasaan juga bisa menjadi bumerang yang akan menghancurkan pemegangnya sebagainya telah dibuktikan dalam rentang sejarah yang amat panjang.  Bahkan, bukan tidak mungkin kekuasaan itu adalah caraNya menghinakan dan menghancurkan para penguasa zalim seperti Firaun, Namrudz dan banyak tiran lainnya.

Bapak-bapak sekalian, kota Jakarta ini telah lama menjelma menjadi SODOM DAN GOMORAH modern yang dipenuhi dengan dosa, maksiat, dendam dan kejahatan.  Bangunan-bangunannya seperti MENARA BABEL yang angkuh menentang kekuasaan Tuhan.  Dalam bangunan-bangunan itu, segala macam kejahatan seperti perzinaan, korupsi, manipulasi dan sebagainya terjadi.  Tuhan hanya disembah sebentar di ruang-ruang tertentu nan suci sementara setelah itu dihina, dilecehkan dan dicampakkan ajaranNya dalam kehidupan sehari-hari.  Banyak diantara bangunan-bangunan megaproyek itu hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya berharta melimpah.  Entah halal entah haram yang penting mereka mampu dan mau membayar segala fasilitas tersebut.  Sedangkan untuk mereka yang miskin dan lemah ekonomi, silakan hanya memandang penuh rasa iri dan dengki pada mereka yang bisa menikmati surga dunia fana seperti itu.    

Apakah Bapak-Bapak sekalian mengetahui bahwa korupsi dan manipulasi telah menjadi penyakit kronis yang menjangkiti seluruh lapisan masyarakat.  Budaya merusak itu bukan hanya di kalangan pejabat saja namun juga sudah dilakukan para office boy dan orang-orang suruhan.  Mereka seringkali meminta para operator fotocopy, rental komputer atau warnet untuk membuatkan bon kosong agar dapat diisi sendiri jumlahnya sesuai dengan keinginan.  Lumayan untuk membeli rokok, cemilan atau minuman ringan tanpa harus mengurangi gaji atau uang makan.  Mereka sama sekali tidak peduli jika kantor atau tempat mereka bekerja harus menanggung beban keuangan yang lebih berat daripada yang seharusnya.  Mereka juga tidak peduli apabila si operator yang terpaksa membuat bon kosong itu tertekan batinnya dan tersiksa hati nuraninya oleh perasaan bersalah yang sangat dalam.  Entah karena goisme dan ketamakan sudah mengusai jiwa mereka atau karena memang sudah apatis dengan kehidupan yang serba sulit ini.  


Pemalsuan dokumen pun sudah tidak terhitung lagi banyaknya.  Sertifikat yang seharusnya menjadi bukti bahwa seseorang itu kompeten dalam melakukan suatu pekerjaan ternyata bisa dipalsukan.  Di warnet atau rental yang menyediakan jasa pengetikan, banyak orang meminta untuk dibuatkan sertifikat-sertifikat palsu seperti itu.  Mereka sangat berambisi mendapatkan dokumen-dokumen palsu seperti itu demi mendapatkan pekerjaan.  Entah karena mereka memang terpaksa karena harus bertahan hidup atau memang tergiur akan besarnya penghasilan yang bisa didapat dari pekerjaan tersebut.  Mereka lupa bahwa sertifikat itu hanyalah selembar kertas tak berguna apabila orang yang namanya tercantum di kertas itu memang tidak kompeten sama sekali.  Tidak mengherankan apabila jalan-jalan banyak yang rusak, jembatan banyak yang ambruk dan entah berapa banyak lagi kerusakan dan kehancuran yang telah, sedang dan akan terjadi.  Slip gaji palsu pun dengan mudah bisa dibuat agar si pembuat bisa mengambil kredit motor atau barang-barang yang lain.  Perkara nanti yang mengambil kredit terpaksa berurusan dengan debt kolektor atau ngemplang sekalian, itu bisa diatur belakangan.  Ini bisa diatur, itu urusan belakang memang ciri khas bangsa Indonesia yang lucu namun tidak lucu ini.  Padahal yang katanya bisa diatur belakangan itu sama sekali tidak sederhana, bahkan bisa jadi sangat rumit dan mengerikan.  Sangat amat mengerikan.    

Tulisan ini hanyalah sedikit gambaran dari manusia-manusia yang akan Bapak-Bapak sekalian pimpin, bimbing dan ayomi.  Sungguh tidak sulit untuk meraup suara dari orang-orang seperti itu.  Asal ada cukup dana, kaos dan merchandise untuk dibagi-bagi, serta para korlap yang terampil mengendalikan massa, hal itu sudah cukup.  Tebarkan saja pesona dan sensasi serta  janji-janji manis setinggi langit seluas bumi.  Biarkan mereka mabuk kesenangan saat pesta demokrasi berlangsung serta menikmati uang lelah atas kesediaan mereka memeriahkan kampanye yang Bapak-Bapak selenggarakan.  Dan, suara pun akan mengalir memenuhi pundi-pundi politik Bapak-Bapak sekalian sehingga muluslah jalan menuju tahta dan kekuasaan.  Itulah mekanisme demokrasi di negeri yang rakyatnya sama sekali tidak siap untuk berdemokrasi.   Masalah dan perjuangan sebenarnya baru dimulai saat ada diantara Bapak-Bapak yang sudah berhasil meraih kekuasaan.  Janji-janji surgawi yang telah ditebarkan tentu harus dipenuhi, meskipun para pemilih yang pendek ingatan serta mudah dikelabui mungkin sudah tidak ingat lagi.  

Surat ini adalah ungkapan keprihatinan seorang rakyat kecil yang mengalami sendiri penderitaan batin akibat kecurangan dan korupsi yang terjadi persis di depan mata kepalanya.  Surat ini bukan untuk mengajak pembacanya untuk "Golput" atau tidak menjatuhkan pilihan pada para kandidat tersebut.  Namun, juga bukan untuk mendukung salah satu calon.  Tidak lebih hanya untuk renungan dan interospeksi, baik untuk penulisnya sendiri atau siapapun yang membaca.  

Semoga bermanfaat, mohon maaf untuk yang tidak atau kurang berkenan.

Rabu, 21 Maret 2012

Kisah Antasari Tentang Denny Indrayana

http://wasathon.com/humaniora/read/kisah_antasari_tentang_denny_indrayana/
Ada kisah menarik tentang Denny Indrayana yang suatu ketika diceritakan Antasari Azhar kepada saya. Baru saja sebulan menjadi Ketua KPK, Antasari datang ke Yogya. TVRI Yogya mengadakan talkshow dan beberapa penelpon memuji tekad Antasari memberantas korupsi. Namun, Denny Indrayana yang tampil dalam dialog, dengan wajah dingin, mengatakan tidak.

selanjutnya sila ke link :)

Minggu, 30 November 2008

[LIRIK LAGU] Nasihat Pengemis - menyambut Hotel Atlantis Palm di Dubai


Nasehat Pengemis Untuk Istri - Ebiet G. Ade

Istriku,
Marilah kita tidur
Hari telah larut malam
Lagi sehari kita lewati
Meskipun nasib semakin tak pasti


semanggi, pengemis

Lihat,
anak kita tertidur menahankan lapar
Erat memeluk bantal dingin
Pinggiran jalan
Wajahnya kurus, pucat
Matanya dalam


Istriku,
marilah kita berdoa
Sementara biarkan lapar terlupa
Seperti yang pernah ibu ajarkan


Tuhan bagi siapa saja
Meskipun kita pengemis pinggiran jalan
Doa kita pun pasti dia dengarkan
Bila kita pasrah diri, tawakkal


railroad
Gambar dari sini

Esok hari perjalanan kita
Masih sangatlah panjang
Mari tidurlah, lupakan sejenak
Beban derita, lepaskan


La la la la la la la dengarkanlah nyanyi
La la la la la la la dari seberang jalan
La la la la la la la usah kau tangisi
La la la la la la la nasib kita hari ini


atlantis, dubai, hotel
Gambar dari sini

Tuhan, selamatkanlah istri dan anakku
Hindarkanlah hati mereka
Dari iri dan dengki
Kepada yang berkuasa dan kenyang
Di tengah kelaparan

jagabita, ayu

Oh! hindarkanlah mereka dari iri dan dengki
Kuatkanlah jiwa mereka
Bimbinglah di jalanMu
Bimbinglah di jalanMu.


Posting spesial untuk menyambut dibukanya Hotel Altantis Palm di Dubai, semoga Alloh SWT membuka hati mereka yang selama ini keras membeku karena terlena gaya hidup mewah yang berasal dari Barat

Kamis, 24 Juli 2008

36 Tokoh Iklan Freedom Institute | Berita Tokoh Indonesia

http://www.tokohindonesia.com/berita/berita/2005/01/freedom.shtml
berita tentang

36 Tokoh Iklan Kenaikan Harga BBM

[ARTIKEL] Daftar Nama Pendukung Kenaikan Harga BBM

Rating:
Category:Other
Berikut nama-nama pendukung kenaikan harga BBM tahun 2005 yang mencapai 125%. Mereka memasang iklan dukungan kenaikan harga BBM di berbagai media massa. Bahkan LPEM FEUI membuat “studi Ilmiah” yang menyatakan kemiskinan berkurang jika harga BBM dinaikkan.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang berulangkali menaikan harga BBM ternyata di zaman Megawati juga menaikan harga BBM.

Semoga intelektual kita lebih memihak kepada rakyat. Berikan BBM dengan harga yang terjangkau kepada rakyat. Bukan harga Internasional.

Dukung Pemerintah

36 Tokoh Iklan Kenaikan Harga BBM

Jakarta 8/3/2005: Sebanyak 36 tokoh diiklankan Freedom Institute sebagai pendukung pemerintah mengurangi subsidi BBM (menaikkan harga BBM). Sebagian mereka mempertaruhkan kredibilitas yang sebelumnya sudah sangat diakui oleh masyarakat sebagai tokoh intelektual yang berpihak kepada kepentingan umum dalam profesinya masing-masing.

Mereka di antaranya berprofesi sebagai akademisi, peneliti, pemerhati sosial, rohaniwan, seniman, pengusaha, advokat, ekonom, politisi dan wartawan. Tampilnya nama-nama sebagian tokoh diiklan Freedom Institute ini menjadi sorotan publik yang dinilai sebagai kurang pantas dilakukan oleh tokoh intelektual yang tadinya dianggap berpihak kepada kepentingan umum. Namun rupanya, para tokoh itu mempunyai alasan sendiri bersedia ditampilkan sebagai tokoh iklan kenaikan harga BBM itu.

Iklan untuk mendukung kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM itu diterbitkan di media massa tanggal 26 Februari 2005, beberapa hari sebelum pemerintah menaikkan harga BBM dalam negeri rata-rata 29 persen tanggal 1 Maret 2005. Kebijakan menaikkan harga BBM ini mendapat penolakan dari berbagai pihak yang dampaknya dirasakan sangat memberatkan rakyat kecil.

Nama-nama tokoh yang tampil sebagai bintang iklan pendukung kenaikan harga BBM bersama-sama dengan Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal, itu antara lain rohaniwan Franz Magnis Suseno, tokoh pers dan pendiri Tempo Gunawan Muhammad dan Fikri Jufrie, pengacara kondang pembela hak-hak asasi manusia Todung Mulya Lubis, dan tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar-Abdalla.

Nama-nama lain yang menjadi bintang iklan Freedom Institute, itu adalah Agus Sudibyo, Anggito Abimanyu (ekonom), Anton Gunawan, Ayu Utami (senimawati), Bimo Nugroho (praktisi televisi), Dana Iswara (praktisi televisi), Dodi Anbardi, Hadi Soesastro (ekonom), Hamid Basyaib, Ichsan Loulembah (anggota DPD dari Sulawesi Tengah), dan Jeffrie Geovanie (Direktur Kampanye Calon Presiden HM Amien Rais).

Juga Jeannette Sdjunadi, Lin Che Wei (ekonom), Luthfi Assyaukenie, M. Chatib Basri (ekonom), M Ikhsan (ekonom), M Sadli (ekonom), Mohammad S Hidayat (pengusaha, Ketua Kadin 2004-2008), Nirwan Dewanto (pengusaha), Nong Darol Mahmada, Nono Anwar Makarim (advokat senior), Raden Pardede (ekonom), Rahman Tolleng (politisi Golkar dari Bandung), Rizal Mallarangeng (adik Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Andi Mallarangeng), Rustam F Mandayun, Saiful Mujani (peneliti pada sejumlah polling-polling), Sofyan Wanandi (pengusaha), Sugiarto Chandra dan Thee Kian Wie.

Iklan full-colour satu halaman penuh itu memuat data, bahwa dengan harga minyak dunia saat ini, subsidi BBM akan mencapai Rp 70 trilyun. Artinya, negara harus menghabiskan Rp 200 miliar setiap hari hanya untuk menyangga harga BBM.

ôBerapa sekolah dan puskesmas yang dapat kita bangun setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan, dengan dana sebesar itu? petikan iklan Freedom Institute, institusi yang disebut independen dan pendiriannya diprakarsai Aburizal Bakrie itu.

Ditampilkan pula grafik hasil perhitungan LPEM-FEUI, yang jika diiringi dengan program kompensasi tertentu pengurangan subsidi BBM justru mengurangi jumlah kaum miskin. Menurut LPEM-FEUI itu, dampak kenaikan BBM dari jumlah penduduk miskin Indonesia kondisi awal adalah sejumlah 16,25%, dengan kenaikan BBM 30% jumlah penduduk miskin Indonesia menjadi 16,43%. Dan sesudah kompensasi jumlah penduduk miskin menurut LPEM-FEUI akan turun menjadi hanya 13,87%.

Program kompensasi ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti beasiswa pendidikan, perbaikan sarana kesehatan, dan bantuan beras murah. ôKita harus berani memilih: bersembunyi dibalik kekeliruan masa lalu, atau menghadapi persoalan sekarang untuk menyiapkan masa depan bersama yang lebih baik,ö demikian bunyi terakhir iklan yang akhirnya menuai beragam kontroversi di masyarakat, bahkan mempertanyakan ketokohan para bintang iklan yang selama ini kredibiltasnya sesungguhnya sudah pernah diakui oleh masyarakat sebagai tokoh yang baik-baik. *ti/ht

http://www.tokohindonesia.com/berita/berita/2005/01/freedom.shtml

Nama Pendukung Kenaikan Harga BBM Berdasarkan Abjad

Agus Sudibyo

Andi Mallarangeng

Anggito Abimanyu

Anton Gunawan

Ayu Utami

Bimo Nugroho

Dana Iswara

Dino Patti Djalal

Dodi Anbardi

Fikri Jufrie

Franz Magnis Suseno

Gunawan Muhammad

Hadi Soesastro

Hamid Basyaib

Ichsan Loulembah

Jeannette Sdjunadi

Jeffrie Geovanie

Lin Che Wei

Luthfi Assyaukanie

M Ikhsan

M Sadli

M. Chatib Basri

Mohammad S Hidayat

Nirwan Dewanto

Nong Darol Mahmada

Nono Anwar Makarim

Raden Pardede

Rahman Tolleng

Rizal Mallarangeng

Rustam F Mandayun

Saiful Mujani

Sofyan Wanandi

Sugiarto Chandra

Thee Kian Wie

Todung Mulya Lubis

Ulil Abshar-Abdalla

Sumber: http://infoindonesia.wordpress.com/2008/07/24/daftar-nama-pendukung-kenaikan-harga-bbm-tahun-2005/#comment-554

Minggu, 20 Juli 2008

Hari Tanpa TV - Berhasilkah???

UntitledAssalamualaikum,

bagaimana hari tanpa TV kemarin, sukses enggak, he he he

Saat saya lihat pro dan kontra dari ajakan tersebut di situs detiknews dot com, kayaknya koq lebih banyak yang kontra ya.  Tanya kenapa??????????????

Sebagaimana kita ketahui, ketergantungan masyarakat pada hiburan, terutama TV sudah sampai tahap yang mengkhawatirkan.  Hal ini sudah berlangsung lama sekali, mengingat pengalaman saya waktu SD dan SMP seringkali bolos sekolah dan pura-pura sakit agar bisa nonton film kartun yang berseri-seri.  Obrolan di sekolah pada waktu itu juga berkisar tentang film-film kartun di televisi, bukan masalah pelajaran, he he he.

Kekhawatiran orang tua dan guru tentu saja dapat dimengerti dan dipahami.  Mereka tidak ingin anak-anak dan murid-muridnya tidak berhasil dalam menempuh pendidikan sehingga tidak dapat membina masa depan dengan baik.  Acara televisi sering kali sambung menyambung sehingga tidak memberi kesempatan pada anak-anak untuk melakukan hal-hal lain.  Mungkin stasiun TV A saat melihat jadwal siaran Stasiun TV B berpikir, "kalau film kartun ini saya setel jam sekian, pasti bentrok sampa punya TV B dan bisa kalah rating.  Kalau gitu saya setel setengah jam sesudahnya aja deh."

Pemsukan stasiun TV memang dari Iklan, jadi bagaimanapun hancur lebur acaranya, apabila ratingnya tinggi ya akan tetap dipertahankan mati-matian.  Namun, saya pernah dengar bahwa pada rating itu  sendiri terjadi salah kaprah, yang di-rating kan acara TV-nya bukan iklannya.  Kalau orang-orang yang suka nonton TV ditanya, "Bapak-bapak, ibu-ibu, mas, mbak, adik dll kalau pas ada iklan, channel TV-nya diganti enggak" Kemungkinan 90 sekian persen akan menjawab "Digantiiiiiiiiiiiiii". Jadi, bisa dibilang persis dengan apa yang dikatakan Bapak Tung Desem Waringin, para pemasang iklan itu menyebarkan uang di kawah gunung berapi.  Alias buang-buang duit :(

Padahal, bukankah Alloh SWT sudah menjanjikan bahwa Dia akan menjamin rezeki setiap makhluk ciptaan-Nya? Coba kita baca Surat Hud Ayat 6. (Dan tidak ada suatu binatang melata dimuka bumi ini melainkan Allah yang memberi rizqinya).  Tuh, benar kan?
  
Selama manusia belum yakin bahwa Alloh SWT menjamin rezeki setiap hamba-hamba dan makhluk-makhluk ciptaanNya, maka hal-hal seperti itu akan terus terulang sampai kapanpun.  Namun, saya pernah mendengar salah satu editorial radio SMART FM.  Dalam editorial tersebut dikatakan bahwa:
  1. Masyarakat yang terus menerus disuguhi tontonan tidak bermutu akan hilang minat bacanya. 
  2. Masyarakat yang kehilangan minat baca akan bodoh jadinya. 
  3. Masyarakat yang bodoh akan miskin. 
  4. Masyarakat yang miskin akan lemah daya belinya dan tidak bisa beli apa-apa. 
  5. Masyarakat yang lemah daya belinya tentu tidak akan mampu membeli produk-produk yang dipromosikan melalui iklan-iklan di TV.  
  6. Apabila masyarakat tidak bisa membeli produk-produk tersebut, perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk-produk tersebut tentu akan mengalami kesulitan keuangan. 
  7. Apabila perusahaan-perusahaan itu mengalami kesulitan keuangan, bisa-bisa ada PHK massal dan yang paling dahulu kena adalah buruh dan para pekerja kasar.  Mereka pada umumnya kurang berpendidikan dan miskin, sehingga mudah jadi sasaran empuk PHK.
  8. Banyaknya PHK akan menimbulkan lebih banyak pengangguran.
  9. Lebih banyak penggangguran artinya akan lebih banyak tindak kejahatan merajalela di lingkungan kita.
  10. Pada akhirnya kualitas hidup masyarakat akan menurun secara keseluruhan, termasuk penyakit yang merajalela karena sulit bagi masyarakat miskin untuk memelihara kebersihand an menjaga kesehatan, contohnya di  Desa Jagabita, Parung Panjang Tanggerang, alias Kampung Pesakitan.  Foto-fotonya bisa dilihat di sini
  11. Bukan tidak mungkin semua hal yang disebutkan di atas akan memicu krisis yang lebih besar lagi, mungkin seperti Revolusi Prancis atau peristiwa-peristiwa lainnya yang serupa dengan itu.
     

Nauzubillah min dzalik, semoga Alloh SWT melindungi kita semua, Amiiiin


Nah, apakah kita masih meremehkan dampak negatif Televisi dalam kehidupan kita??

Semoga bermanfaat, maaf jika tidak berkenan.

 

Senin, 30 Juni 2008

Foto-foto hasil Survey ke Parung Panjang - Desa Jagabita (desa pesakitan)








Untitled



Casas de Carton - Los Guaraguaos




temans, ini sedikit foto dari saya..
maaf kalau belum menambahkan keterangan,
diwakilkan dengan tulisan Ari disini yah



Hasil Survey Baksos MPID Tim Jagabita



More photos, please visit



desa_Jagabita_desa_pesakitan_parung_panjang




dibawah ini info dari mas Bayu



Sedikit cerita tentang desa Jagabita



Pernah dengar Kampung Pesakitan? Pasti belum. Karena nama kampung ini memang tidak ada dalam wilayah manapun di negeri ini. Sebutan Kampung Pesakitan bukan nama sebenarnya, hanya sebuah nama yang dilabeli oleh relawan ACT yang Selasa lalu (8/4) lalu mendatangi beberapa kampung dan desa di Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.



Sebagai contoh adalah Desa Jagabita. Perekonomian yang carut marut membuat masyarakat sangat tak berdaya untuk sekadar bertahan hidup secara normal. Yang dimaksud normal disini yakni makan tiga kali sehari, pendidikan berjalan lancar, dan kesehatan terjaga. Jika tiga hal ini menjadi patokan standar kehidupan normal, maka nyaris seluruh warga di desa ini bisa dibilang berkehidupan tak normal.



Ella misalnya, gadis 18 tahun ini menderita sakit kaki gajah sejak usianya masih sekitar dua tahun. Ukuran kakinya saat ini sudah benar-benar seukuran kaki gajah dan tak pernah diobati sama sekali. Hanya sekali dibawa ke puskesmas untuk mendapat pemeriksaan, yakni pada saat Ella berusia dua tahun. Sejak saat itu Ella tidak lagi mendapat pengobatan, padahal kakinya terus membesar.



Usan (47 tahun), Ayah Ella, mengaku tidak punya uang untuk mengobati penyakit anaknya. Sehari-harinya Usan hanya bekerja sebagai buruh serabutan membuat anyaman topi pramuka dari bambu. Setiap hasil anyaman topi itu Usan hanya mendapat upah lima ratus rupiah, dan dalam sepekan ia hanya sanggup membuat tidak lebih dari 20 topi. Itu artinya, penghasilan Usan hanya berkisar sepuluh ribu rupiah. Dengan uang sekecil itulah ia menghidupi isteri dan ketujuh anaknya. “Buat makan saja nggak ada pak, apalagi buat ke dokter”, aku Usan kepada relawan ACT.



Ibu Uun, relawan ACT yang menemani tim ACT ke desa tersebut pun menjelaskan, bahkan untuk ongkos ojeg ke puskesmas pun mereka tidak punya. Kini Ella sudah tidak bersekolah, selain karena terlalu berat membawa-bawa kakinya yang membesar, ia juga malu karena sering diejek teman-temannya. Gadis yang bercita-cita masuk pesantren agar bisa menjadi guru ngaji itu sehari-harinya berdiam diri di kamar dan malu keluar rumah.



Selain Ella, ada juga Rohilah, siswi kelas 2 SD yang mulai terkena kaki gajah. Kaki kanan gadis kecil berusia sepuluh tahun ini memang belum terlihat besar karena baru beberapa bulan menderita kaki gajah. Tetapi dari waktu ke waktu kakinya akan terus membesar jika tidak diobati.



Tidak jauh dari rumah Ella, Mas’ud, 50 tahun, sudah tiga tahun tidak bisa berjalan karena ada benjolan di lututnya. Ia tidak pernah memeriksakan kakinya ke puskesmas karena tidak punya biaya. “Jauh pak, harus naik ojeg. Pulang pergi naik ojeg tidak cukup sepuluh ribu…,” keluhnya.



Gizi Buruk


Tim relawan ACT juga menemui banyak kasus gizi buruk di desa itu. Sebut saja Mamay, 3,5 tahun yang hanya memiliki bobot 8,5 kilogram. Perutnya buncit, matanya sayu serta kulitnya yang layu. Anak-anak seusianya sudah mampu berlari, sedangkan Mamay masih digendong ibunya, Linda (22 tahun) karena belum sanggup berdiri. Ternyata, Mamay masih punya adik yang berusia enam bulan. Total anak Linda berjumlah enam, sementara suami Linda hanya bekerja sebagai guru ngaji.



“Mamay dikasih makan apa bu?” tanya relawan ACT. “Nggak mau makan, paling-paling ASI bareng sama adiknya. Soalnya saya nggak punya uang buat beli susu pak,” ujar Linda.




Rafli, 2 tahun, bobotnya hanya 8 kg. Ikrima, anak kelima dari lima bersaudara berusia 2,5 tahun, berat badannya pun tak lebih dari 9,5 kg. Adalagi Khaerul, bocah berusia tujuh tahun, selain bongkok, ia pun menderita gizi buruk karena berat badannya tidak lebih dari 13 kg. Anak yatim ini tidak terurus karena ayahnya sudah meninggal sedangkan ibunya hanya berdagang asongan di pasar. Khairul yang bongkok ini pun sering menjadi bahan olok-olok teman-temannya.



Tidak berbeda nasib dengan yang lain adalah Anisa. Ketika ditemui gadis berusia dua tahun ini sedang bermain di kubangan lumpur. Eli, sang ibu yang buta sejak kecil, tidak tahu kalau anaknya bergelimang lumpur. Berat badan Anisa hanya 5,5 kg dengan perut membuncit. Anisa tidak pernah mengenal Ayahnya, karena sang Ayah kabur saat gadis itu baru dilahirkan.



Hari sudah gelap, padahal menurut ibu Uun masih banyak yang harus dikunjungi. Selain jumlah balita gizi buruk yang sudah didata sampai diangka 100, anak-anak dan warga dengan penyakit lainnya pun sangat banyak. Ada yang sakit hernia, cacat mental, tumor kulit, TBC paru-paru, dan masih banyak lagi sehingga cukup pantas menamakan wilayah ini sebagai kampung pesakitan.



Ketidakberdayaan ekonomi, ketidaktahuan (baca: kebodohan), juga ketidakadilan sistem kehidupan menjadi penyebab utama kondisi memprihatinkan beberapa desa di wilayah Parung Panjang ini. Bahkan, sebagian warga di Parung Panjang harus tinggal di atas tanah yang bukan milik mereka sendiri, karena tanah-tanah itu sudah menjadi milik orang kota.



Beberapa desa di kecamatan ini bisa dikategorikan sebagai desa tertinggal, untuk bertahan hidup pun mereka harus bersusah payah mengurangi frekuensi makan yang biasanya tiga kali menjadi dua kali, bahkan sekali makan dalam sehari. Kesehatan seperti mimpi terindah yang takkan pernah mereka rasakan, sebab untuk membuat kartu GASKIN (keluarga miskin) pun mereka harus mengeluarkan sejumlah uang yang tak sedikit. Padahal kartu GASKIN inilah satu-satunya harapan mereka bisa mendapat perawatan kesehatan secara gratis. Adakah yang masih peduli?



Kampung Pesakitan, pasti bukan hanya di Parung Panjang. Di banyak wilayah di negeri ini terdapat kampung sejenis, dengan ketidakberdayaan ekonomi, ketertinggalan akses informasi, keterbatasan pengetahuan, serta ketidakadilan system yang mengkerangkeng kehidupan masyarakat bangsa ini. Lihatlah, berapa banyak anak-anak menderita gizi buruk di negeri ini? (Gaw)



Informasi: Bayu Gawtama, 02132855165, 085219068581





Senin, 03 Maret 2008

Wortel segede-gede gini, koq masih kelaparan




Waktu nonton berita, ada berita tentang ibu-ibu pengungsi menolak jatah makan dihentikan oleh Pemda, sampe pada demo segala. Eh, tiba-tiba adik saya datang dari Jonggol bawa wortel gede-gede satu ember. Kata dia, boss-nya beli wortel lebih banyak lagi, wong sekilonya cuma seceng alias seribu rupiah. Ada apa sih, dengan negeri tercinta ini?

Kamis, 11 Oktober 2007

Do'a Penghujung Ramadhan

QS 55:38. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Do’a di penghujung bulan Ramadhan

Ya Allah, Robb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Di penghujung bulan yang mulia ini, bulan Ramadhan, Perkenankanlah kami memohon ampunan kepadaMu.

Ya Allah, Robb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ampunilah ketidakberdayaan dan ketidakberanian kami sehingga kami menjadi hamba-hambaMu yang lemah, yang tidak mampu menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, malah menjadi hamba-hamba yang telah turut pula menikmati kebebasan melampaui batas yang diakibatkan oleh iklim liberalisme dan hedonisme yang melanda negeri yang Engkau amanahkan kepada kami.

Ya Allah, Robb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ampunilah ketidakberdayaan dan ketidakberanian kami sehingga kami biarkan negeri amanah Engkau yang indah dan elok dipandang mata ini dirampok habis-habisan, baik oleh orang-orang asing ataupun orang-orang dari dalam negeri kami sendiri, dalam bentuk korupsi, illegal lodging dan lain sebagainya

Ya Allah, Robb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ampunilah kami yang telah menelantarkan orang-orang lemah diantara kami. Orang-orang yang seharusnya kami bimbing dan berdayakan, kami bantu untuk bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan, bukan kami biarkan tertipu dengan janji-janji kosong para penipu yang seringkali disebut politisi atau menjadi orang-orang yang berpindah keyakinan dan meninggalkan agamaMu hanya karena materi duniawi.

Ya Allah, Robb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ampunilah ketidakberdayaan dan ketidakberanian kami menegur saudara-saudara kami yang masih bergelimang dosa dan maksiat, yang masih melakukan aktivitas-aktivitas yang membuat mereka mendekati zina, yang seringkali disebut pacaran dan pergaulan bebas.

Ya Allah, Robb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ampunilah ketidakberdayaan dan ketidakberanian kami membangun kembali tradisi emas keilmuan para Nabi, shahabat, tabiin, dan para ulama sehingga kami dan saudara-saudara kami harus hidup dalam kegelapan tanpa petunjuk yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian di dunia dan akhirat.

Ya Allah, Robb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ampunilah ketidakberdayaan dan ketidakberanian kami, sehingga kami tidak mampu menjaga kesehatan yang engkau amanahkan pada kami dan saudara-saudara kami. Ampunilah kami yang terlalu banyak merusak tubuh amanahMu dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang kehalalannya kurang meyakinkan dan banyak mengandung zat-zat beracun yang membahayakan tubuh kami. Ampuni pula ketidakseriusan kami dalam menggali khazanah Thibbun Nabawi dan ilmu-ilmu pemeliharan kesehatan yang Engkau berikan melalui perantaraan RasulMu.

Ya Allah, Robb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ampunilah ketidakberdayaan dan ketidakberanian kami, sehingga kami hanya bisa menjerit minta tolong kepadaMu atas segala bencana dan kerusakan moral yang terjadi di negeri amanahMu ini, namun belum juga mampu menegakkan syari’at yang sesungguhnya merupakan syarat datangnya pertolonganMu.

Kami memang bukan hamba-hambaMu yang pantas mendapat ridlo dan syurgaMu, namun kami juga tidak akan mampu menanggung siksa nerakaMu. Ampunilah kami, Ya Allah.