Tampilkan postingan dengan label mck. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mck. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 April 2011

Bazaar Sembako Murah dan Peresmian MCK

Start:     Apr 22, '11 09:00a
End:     Apr 22, '11 1:00p
Location:     Desa Dago, Parung Panjang, Bogor
Desa Dago memiliki masalah sanitasi yang sangat serius. Penduduk desa tidak memiliki fasilitas MCK yang memadai untuk mandi dan membersihkan diri. Komunitas Lebah telah menyelesaikan sebuah fasilitas MCK sederhana yang dapat dipergunakan warga untuk keperluan sanitasi mereka.



Fasilitas MCK ini akan diresmikan tanggal 22 April 2011 dengan diadakannya Bazaar Sembako Murah untuk warga desa. Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian para relawan yang tergabung dalam Komunitas Lebah kepada sesama yang membutuhkan. Terima kasih tak terhingga kami ucapkan kepada para donatur dan relawan, semoga MCK tersebut bermanfaat bagi warga setempat dalam memenuhi kebutuhan air bersih maupun beraktifitas sehari-hari. Jazakumullah khairan katsira.

Informasi lebih lanjut bisa didapatkan di:

* Blog: http://beezzone.blogspot.com/
* Twitter account: http://twitter.com/komunitas_lebah
* Facebook group: http://www.facebook.com/group.php?gid=78925828677
* e-mail: komunitaslebah1@gmail.com

Minggu, 12 April 2009

Sahabat Peduli - Ke Jagabita Desa Pabuaran day 2




Kalau yang ini foto-foto saat kami datang lagi hari Sabtu, tanggal 11 April 2009. walaupun relawan yang datang hanya sedikit, tetapi Alhamdulillah pembangunan masih terus berlangsung dengan baik.

Sahabat Peduli - Ke Jagabita Desa Pabuaran




Meskipun kemarin sempat sibuk karena bencana Situ Gintung, kami dari Relawan Pelangi/Sahabat Peduli tetap tidak lupa dengan proyek pembinaan kami di kampung-kampung di desa Jagabita.

Hari Jumat dan Sabtu kami meninjau perkembangan proyek MCK di desa Pabuaran, titik air kedua setelah desa Sarongge.

Berikut foto-foto kegiatan hari Jumat yang dapat saya tangkap dgn kamera HP

Kamis, 19 Februari 2009

Jagabita - Tour of Duty di Kampung Dago

Hari Rabu kemarin, saya bersama Mas Rudy dan Bunda Elly pergi lagi ke Jagabita.  Kami janjian sama ibu Uun di warung bakso.  Sekalian makan bakso deh, ada juga yang makan mie ayam, he he he

Perbincangan di warung itu termasuk tentang kesulitan suatu yayasan pengobatan paru-paru yang menyelenggarakan pengobatan penyakit paru secara gratis.  Maklum, lalu lintas truk-truk pengangkut material (batu, pasir dsb) menimbulkan awan debu yang pekat sehingga warga rentan terserang penyakit paru.  Ibu Uun juga mengungkapkan keinginan beliau untuk memilik tabung oxygen sendiri.  sebab tabung yang di Puskesmas tidak pernah ada isinya.  kasihan sekali kalau ada yang sakit dan memerlukan bantuan pernafasan. 

Ibu Uun mengajak kami ke kampung Dago (bukan Dago yang di Bandung ya), suatu kampung yang terletak cukup jauh dari tempat baksos kemarin.  Kampung itu sangat indah sebetulnya.  Hembusan angin yang cukup kencang menerpa dedaunan bambu membuat saya mengira bahwa kami saat itu berada dekat sungai pegunungan yang jernih dan berair deras.  

Namun, ternyata perkiraan saya salah.  Tidak ada di sana sungai yang mengalir deras, dingin dan menyejukkan di sana.  Yang ada hanya balongan atau kubangan air yang menggenang, yang airnya itu-itu saja.  Itupun hanya bisa dipakai pada musim hujan.  Untuk buang hajat, warga hanya bisa melakukannya di kebon/semak-semak.  

Suasana di sana mirip dalam film2 perang Vietnam yang dulu sempat ngetop di Bioskop atau TV. 

Alternatif lain yang tersedia hanya satu sungai kecil, yang lebih tepat disebut anak sungai.  Pada musim kemarau, puluhan orang mandi dan mencuci di sana.  Bisa dibayangkan betapa tidak sehatnya keadaan di sana.  

Ada dua hal yang mengherankan bagi saya, tidak tahu bagi yang lain, he he he
Beberapa waktu yang lalu, saya menulis tulisan tentang perbandingan antara keadaan di Jagabita dengan keadaan kaum Bani Israil zaman Mesir kuno dulu.

Nah, apa yang saya lihat dan dengar kemarin? ini dia

1. Di sana banyak pembuatan batu bata sedangkan salah satu pekerjaan yang ditugaskan kepada Bani Israil oleh rezim Firaun di zaman mesir kuno adalah membuat batu bata untuk keperluan pembangunan gedung-gedung dan bangunan-bangunan lainnya.

2. Ibu Uun cerita saat dia mengantar anak-anak sekolah dasar desa Pinku (mudah2an nulisnya gak salah) ke Gandhi Memorial School.  Salah satu acara yang digelar tuan rumah untuk anak-anak desa tersebut adalah drama pertunjukan.  Namun, karena memakai bahasa Inggris, anak2 itu cuma bisa bengong.  Ibu Uun menjelaskan bahwa itu cerita nabi Musa.

Apakah ini cuma kebetulan, atau .................???

Foto-foto bisa dilihat di album yang ini


Wallahualam  

Sayang kemarin belum mengucapkan terima kasih, padahal diam-diam saya mencoba untuk belajar keteguhan hati dari Ibu Uun.  Beliau tetap tegar saat sang suami mendapat kecelakaan nun jauh di sana.  Secara tidak langsung, Ibu Uun telah menularkan kekuatan dan keteguhannya kepada saya. 



Memang, kekuatan dan keteguhan hati itulah yang saat ini sedang saya butuhkan.
 
Benar-benar saya butuhkan