Tampilkan postingan dengan label jagabita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jagabita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Februari 2011

Hari ini dua tahun yang lalu

hari ini dua tahun yang lalu, saat itu adalah hari H dari sebuah acara yang akan diselenggarakan komunitas Multiply Indonesia.  Saat itu bertepatan dengan hari Sabtu, hari favorit para MPers untuk mengadakan acara sosial, sepeti baksos.  Yah, saat itu kami hendak mengadakan baksos pelayanan kesehatan di desa Jagabita, sebuah desa yang dikenal sebagai kampung pesakitan.  Banyak warganya menderita beragam penyakit seperti ISPA, kanker, TBC, kaki gajah dan lain sebagainya.  Anak-anak mereka banyak sekali yang menderita gizi buruk.

Saya sendiri waktu itu tidak langsung ke lokasi, maklum janjian dulu sama teman sesama MPers di daerah Setiabudi.  Sudahlah dari rumah bawa barang sebegitu banyak, di sana masih ada lagi tambahannya.  Untunglah, dengan mobil kecil yang pas-pasan itu, saya, pak supir dan rekan tersebut, beserta barang2 masih bisa masuk.  Memang, ada teman yang ngerjain sehingga saya bisa berangkat bareng rekan yang itu, udah gitu ngerjainnya mendadak lagi, untung masih bisa tertanggulangi.  

he he he.   

Singkat cerita, sampailah kami di lokasi pemberangkatan yaitu masjid Al Bina.  Sayang, pas berangkat ke Jagabita tidak bisa bersama rekan yang dijemput di Setiabudi tadi, karena dia ikutan mobil yang lain.  ya sudahlah

Karena sehari sebelumnya sudah mampir ke Jagabita bareng teman naik mobil, jalan ke sana lumayan hafal hingga gak nyasar.  SEtiba di lokasi kami disambut tenda pink, entah krn warga mengasosiasikan dgn valentine atau krn belum ada partai yang pakai warna pink kurang tahu juga.  Selain MPID, ada juga teman-teman dari komunitas Lebah dan relawan pelangi.  Walaupun cukup sibuk, namun akhirnya kami mampu juga menuntaskan baksos tersebut.  Menjelang sore, kami sudah bisa pulang dan saat maghrib kami sudah kembali di Jakarta.  

Efek positifnya, ada beberapa rekan MPers yang jadi langganan untuk men-support acara-acara sosial yang diadakan Yayasan Sahabat Peduli dan komunitas lebah.  Semoga semuanya jadi amal, Insya Allah amiin

curhatan gak jelas di tengah malam, teringat akan baksos dua tahun yang lalu di desa Jagabita  




Jumat, 02 Oktober 2009

[Baksos MPID] Episode Desa Gintung Cilejet




Assalamualaikum,

sebelumnya mohon maaf kalau album ini upload-nya telat dan memotretnya asal-asalan, maklum bukan fotografer dan pakai kamera HP pula .. :)

Muhammad Nahar
SEFTer angkatan 49

Minggu, 12 April 2009

Sahabat Peduli - Ke Jagabita Desa Pabuaran day 2




Kalau yang ini foto-foto saat kami datang lagi hari Sabtu, tanggal 11 April 2009. walaupun relawan yang datang hanya sedikit, tetapi Alhamdulillah pembangunan masih terus berlangsung dengan baik.

Sahabat Peduli - Ke Jagabita Desa Pabuaran




Meskipun kemarin sempat sibuk karena bencana Situ Gintung, kami dari Relawan Pelangi/Sahabat Peduli tetap tidak lupa dengan proyek pembinaan kami di kampung-kampung di desa Jagabita.

Hari Jumat dan Sabtu kami meninjau perkembangan proyek MCK di desa Pabuaran, titik air kedua setelah desa Sarongge.

Berikut foto-foto kegiatan hari Jumat yang dapat saya tangkap dgn kamera HP

Kamis, 19 Februari 2009

Jagabita - Tour of Duty di Kampung Dago

Hari Rabu kemarin, saya bersama Mas Rudy dan Bunda Elly pergi lagi ke Jagabita.  Kami janjian sama ibu Uun di warung bakso.  Sekalian makan bakso deh, ada juga yang makan mie ayam, he he he

Perbincangan di warung itu termasuk tentang kesulitan suatu yayasan pengobatan paru-paru yang menyelenggarakan pengobatan penyakit paru secara gratis.  Maklum, lalu lintas truk-truk pengangkut material (batu, pasir dsb) menimbulkan awan debu yang pekat sehingga warga rentan terserang penyakit paru.  Ibu Uun juga mengungkapkan keinginan beliau untuk memilik tabung oxygen sendiri.  sebab tabung yang di Puskesmas tidak pernah ada isinya.  kasihan sekali kalau ada yang sakit dan memerlukan bantuan pernafasan. 

Ibu Uun mengajak kami ke kampung Dago (bukan Dago yang di Bandung ya), suatu kampung yang terletak cukup jauh dari tempat baksos kemarin.  Kampung itu sangat indah sebetulnya.  Hembusan angin yang cukup kencang menerpa dedaunan bambu membuat saya mengira bahwa kami saat itu berada dekat sungai pegunungan yang jernih dan berair deras.  

Namun, ternyata perkiraan saya salah.  Tidak ada di sana sungai yang mengalir deras, dingin dan menyejukkan di sana.  Yang ada hanya balongan atau kubangan air yang menggenang, yang airnya itu-itu saja.  Itupun hanya bisa dipakai pada musim hujan.  Untuk buang hajat, warga hanya bisa melakukannya di kebon/semak-semak.  

Suasana di sana mirip dalam film2 perang Vietnam yang dulu sempat ngetop di Bioskop atau TV. 

Alternatif lain yang tersedia hanya satu sungai kecil, yang lebih tepat disebut anak sungai.  Pada musim kemarau, puluhan orang mandi dan mencuci di sana.  Bisa dibayangkan betapa tidak sehatnya keadaan di sana.  

Ada dua hal yang mengherankan bagi saya, tidak tahu bagi yang lain, he he he
Beberapa waktu yang lalu, saya menulis tulisan tentang perbandingan antara keadaan di Jagabita dengan keadaan kaum Bani Israil zaman Mesir kuno dulu.

Nah, apa yang saya lihat dan dengar kemarin? ini dia

1. Di sana banyak pembuatan batu bata sedangkan salah satu pekerjaan yang ditugaskan kepada Bani Israil oleh rezim Firaun di zaman mesir kuno adalah membuat batu bata untuk keperluan pembangunan gedung-gedung dan bangunan-bangunan lainnya.

2. Ibu Uun cerita saat dia mengantar anak-anak sekolah dasar desa Pinku (mudah2an nulisnya gak salah) ke Gandhi Memorial School.  Salah satu acara yang digelar tuan rumah untuk anak-anak desa tersebut adalah drama pertunjukan.  Namun, karena memakai bahasa Inggris, anak2 itu cuma bisa bengong.  Ibu Uun menjelaskan bahwa itu cerita nabi Musa.

Apakah ini cuma kebetulan, atau .................???

Foto-foto bisa dilihat di album yang ini


Wallahualam  

Sayang kemarin belum mengucapkan terima kasih, padahal diam-diam saya mencoba untuk belajar keteguhan hati dari Ibu Uun.  Beliau tetap tegar saat sang suami mendapat kecelakaan nun jauh di sana.  Secara tidak langsung, Ibu Uun telah menularkan kekuatan dan keteguhannya kepada saya. 



Memang, kekuatan dan keteguhan hati itulah yang saat ini sedang saya butuhkan.
 
Benar-benar saya butuhkan
 

Jagabita - Episode Tour of Duty




Sebenarnya album ini hanya tambahan dari albumnya Mas Rudy yaitu di album yang ini..

Maaf kalau fotonya kebanyakan rimbunan pepohonan sebab saya sekalian mengenang film serial favorit saya jaman SMP yaitu Tour of Duty.

Sebab tempat itu mirip sekali dengan lokasi shooting film2 perang Vietnam yang dulu sering ngetop baik di bioskop atau TV

*posting sambil nyanyi lagu Paint in Black-nya Rolling Stones*

Senin, 16 Februari 2009

[Social Issues] Firaun di Jagabita?

Sedemikian akrabkah warga desa Jagabita dengan kematian?

Saya sendiri belum menanyakan hal ini pada Ibu Uun atau teman2 relawan lokal yang lain di desa tersebut.  Saya juga belum bertanya kepada warga desa itu.  Namun, mengingat keadaan di sana yang sangat jauh dari berbagai fasilitas dan sarana penunjang kebersihan dan kesehatan, hal itu mungkin saja. 


Hari ini saya mendapat kabar duka dari Mas Roel bahwa Pak Hasan, seorang warga desa Jagabita, tepatnya Kampung jawiyah yang terletak 3 km dari tempat dilaksanakannya baksos Multiply Indonesia.  Beliau menderita penyakit yang berat, yaitu kanker tulang.

Sebelumnya, beberapa hari sebelum baksos, Ibu Marhumah, salah seorang warga yang juga menderita penyakit berat, meninggal dunia.  Ceritanya bisa dibaca di tulisan yang ini.

Penyakit, kemiskinan dan kebodohan bagaikan Fir'aun, Hamman dan Qorun yang menindas kaum Bani israil berabad-abad yang lalu di zaman mesir kuno.  mereka ditugasi oleh Allah SWT membawa kaum Bani Israil keluar dari Mesir untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik dalam keadaan merdeka.  

Namun, tantangan yang dihadapi oleh kedua nabi tersebut ternyata bukan hanya dari luar, yaitu Fir'aun dan pasukannya, tetapi juga dalam diri kaum itu sendiri.  Bani Israil yang sudah lama sekali diperbudak Fir'aun dan penduduk Mesir, enggan untuk menempuh perjuangan untuk hidup merdeka dan terhormat secara mandiri.

Suatu tantangan yang lebih berat daripada menghadapi Firaun dan bala tentaranya

Maka, siapakah diantara kita yang siap untuk berperan menjadi nabi Musa dan Harun bagi mereka, membimbing mereka melalui perjalanan melalui gurun pasir perubahan yang berat, dalam bayang-bayang pasukan Fir'aun yang mengejar dan laut Merah yang menghadang.  

Tantangan yang dihadapi tentu saja bukan saja dari luar orang-orang miskin tersebut.  Sikap mengasihani diri sendiri yang menjangkiti mereka sangat menyulitkan orang-orang yang berperan sebagai Nabi Musa untuk mereka.  Para "juru selamat" itu tidak akan mampu menyelamatkan diri kaum miskin papa itu apabila mereka membangkitkan semangat dalam diri mereka sendiri.

Orang-orang yang mengasihani diri sendiri menganggap diri mereka sebagai korban.  Mereka cenderung menyalahkan segala hal di luar mereka sebagai penyebab kemiskinan hidup mereka.  Sulit sekali membangkitkan jiwa mereka untuk mempersiapkan diri meraih masa depan yang gemilang.  Kira-kira seperti itulah dahulu Nabi Musa menghadapi Bani Israel di Mesir Kuno.  

memang, mungkin tidak semua manusia di dunia ini memiliki keinginan yang kuat menjadi relawan yang dengan suka rela berkorban demi sesama manusia.  Mungkin hanya sebagian kecil manusia di dunia ini yang rela mengorbankan sebagian besar hidupnya membantu orang lain.

Mungkin tidak semua manusia memiliki kemampuan memberi seperti yang digambarkan Kahlil Gibran dalam The Prophet berikut ini

Then said a rich man, "Speak to us of Giving."

And he answered:

You give but little when you give of your possessions.

It is when you give of yourself that you truly give.

For what are your possessions but things you keep and guard for fear you may need them tomorrow?

And tomorrow, what shall tomorrow bring to the over prudent dog burying bones in the trackless sand as he follows the pilgrims to the holy city?

And what is fear of need but need itself?

Is not dread of thirst when your well is full, thirst that is unquenchable?


By Kahlil Gibran in The Prophet

Semoga mereka yang telah memilih jalan hidupnya sebagai relawan, baik sepenuh waktu atau paruh waktu, diberkahi oleh Allah SWT dan diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan mereka. 

Semoga bermanfaat

Untuk teman-teman relawan, ada acara yang bermanfaat pada hari hari Sabtu, 21 Februari 2009.  Info lebih lanjut, silahkan mampir ke jurnal yang satu ini

[Daily Life and social issues] Dari rumah ke Masjid Al Bina

Mau cerita dikit ah,

Hari Sabtu, 14 Februari 2009

Alhamdulillah, setelah lama tertunda, baksos pengobatan gratis yang sudah lama direncanakan di desa Jagabita terlaksana juga.  Lama sebelum hari H, saya sempat mondar-mandir ke kantor beberapa rekan MPers untuk mengambil sumbangan dan perlengkapan yang diperlukan.  Maklum, MPer yang pengangguran kan cuma saya,

Jadi, rumah saya lumayan penuh dengan barang-barang tersebut.  

Masalah timbul saat saya sedang mempersiapkan kendaraan utk berangkat.  Barang-barang yang menumpuk itu tentu saja sulit utk dimasukkan ke dalam mobil mazda MR90 yang sudah tua dan berukuran kecil.  Belum lagi, saya tidak langsung ke lokasi karena sudah janji sama rekan Ani untuk menjemputnya di daerah Setiabudi.  Sekalian bawa barang-barang yang lain.  

Ya sudah, jadilah itu mobil tua di-load dengan segalam macam barang, belum lagi ternyata di Setiabudi masih ada barang2 yang harus diangkut, seperti pakaian layak pakai dan susu.

Pak supir sampai bengong.

Alhamdulillah, setelah diakali dgn berbagai macam cara berhasil juga itu barang2 masuk ke mobil (maaf detilnya lupa).

Yang jelas, saat itu udah gak kondusif lagi untuk merencanakan hal2 yang ingin dilakukan, ya sudah, berangkat aja ke lokasi meeting point.    

Masalah belum selesai ternyata, pintu di senayan banyak yang tertutup.  Terpaksa muter-muter cari jalan ke Masjid Al Bina deh, untung masih ketemu.

Nah, untuk cerita selanjutnya silahkan mampir ke yang lebih lengkap.  Yaitu tulisan yang ini (link2 untuk foto juga ada di sana).

Selasa, 10 Februari 2009

[Info Penting] Meeting point relawan Baksos MPID - Masjid Al Bina


masjid Al Bina ditandai lingkaran merah.

masuk dari jalan sudirman, yang ada lapangan softball (ditandai kaca pembesar)

Assalamualaikum, rekan2 sekalian, info penting nih

menurut pak PJ meeting point kita pindah ke Masjid Al Bina, seberang hotel atlit century park.

yang paling nyaman masuknya dari jalan sudirman, yang dari blok M bisa langsung kalau arah balik harus muter dulu dkt patung yang bawa api.

masuknya dari lapangan softball

masjidnya besar dan mudah ditemukan :)

bagi yang mau lebih jelas, silahkan mampir ke link ini

http://www.panoramio.com/photo/2238454

[Copas] Yang perlu di perhatikan Relawan MP

Assalamualaikum, ada info nih, copy paste dari MP Mas Roel

Dear sobats MP


Pelakasanaan BAksos MP udah bentar lagi nih...
masih semangat khan yah.....

persiapan semuanya juga insyaAllah udah okey. semoga bisa berjalan dengan lancarr.

nah, sebagai Pijeh ( baca : PJ ) kali ini mau mengeluarkan Fatwa ( baca : himbauan ) kayak MUi aja yah...

maaf sobats MP ini hanya sekedar himbauan dari saya, semoga sobats MP bisa maklum yah
ada beberapa poin himbauan dari saya yang perlu di perhatikan oleh sobats MP :

1. dilarang menggunakan atribut partai pada pelaksanaan Baksos
untuk menjaga ke " netralan " Multiply indonesia dari unsur unsur kampanye dalam  pelakasanaan baksos kali ini, maka para relawan MP TIDAK DIPERKENANkan menggunakan atribut Partai pada saat pelaksanaan baksos dan di area pelaksanaan.
tidak di perkenankan menggunakan / membawa : kaos, pin, topi, jaket,  bendera, rompi dll. himbauan ini juga di sepakati    oleh bapak camat parung panjang.

2. untuk sobats yang merokok, himbauan saya jangan merokok di hadapan / terlihat oleh anak anak
karena kita sedang melakukan aktifitas yang sifatnya memberikan edukasi mengenai " pentingnya hidup sehat "dan secara phsycologis anak anak mudah mencontoh figur yang mereka anggap keren / bagus. untuk itu saya berharap ( tidak    melarang ) " merokoklah dengan bijak", di tempat yang tidak terlihat anak anak.

3. Relawan MP di harapkan memberikan " kesabaran " yang extra.
Kondisi disana pasti akan crowded, untuk itu saya berharap sekali untuk para relawan benar benar menjadi sahabat buat  warga. bisa menjaga perkataan : saya ambil contoh, ini pernah terjadi saat baksos, ketika suasana sudah ramai, warga sudah    membludak antrian tidak teratur, tiba2 relawan bagian pendaftaran berkata " wooi ngantri donk !! bebek aja bisa ngantri    !!". PLAK !! seperti tertampar saya mendengar kalimat tersebut. saya berharap ini tak terjadi pada baksos kita. kondisi    apapun yang terjadi. KITA HARUS BERSABAR.. dan tetap melayani..


mungkin 3 poin itu yang bisa saya sampaikan dan harus di taati bersama...
SERVE ALL, LOVE ALL... yang setuju ngacung ???.....



tetap semangat..........


Regards

Roel


ngambil dari sini

Kamis, 05 Februari 2009

Jumadi's Site ............8 - Ini Rute Ke Lokasi Multiply Care di Jagabita Kec. Parung Panjang Kab Bogor [ayu Gabung!]

http://jsattaubah.multiply.com/journal/item/1102
Rute kendaraan umum ke Desa Jagabita versi mas Jumadi


semoga bermanfaat

Measuring the World... - Jagabita: Yang Masih Kurang...

http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/510
Notulen rapat baksos MP Indonesia, Relawan Pelangi dan Komunitas Lebah di desa Jagabita.

silahkan dikunjungi

Jagabita Map | Indonesia Google Satellite Maps

http://www.maplandia.com/indonesia/jawa-barat/bogor/jagabita/
lokasi jagabita dari Maplandia, mungkin masih agak sulit dilihat

semoga bermanfaat

Sastra Kita: [sekolah-kehidupan] Sharing pengalaman dari Desa Jagabita ttg Ibu Marhumah

http://sastramelulu.blogspot.com/2009/02/sekolah-kehidupan-sharing-pengalaman.html
Alhamdulillah tulisan saya tentang Ibu Marhumah selain dimuat di Warnaislam dot com, juga dimuat di blog yang memuat e-mail dari milis sekolah kehidupan.

saya sendiri tidak keberatan karena tulisan itu memang saya kirim via e-mail ke milis sekolah kehidupan.

Yang di warnaislam link-nya ini:

http://www.warnaislam.com/rubrik/sahabat/2009/2/3/32460/Ibu_Marhumah_Warga_Desa_Jagabita_Malang.htm

semoga lebih banyak lagi yang mengetahui keadaan warga desa Jagabita yang malang itu sehingga banyak yang memberi mereka pertolongan.

Rabu, 04 Februari 2009

[Multiply Indonesia] Rencana Baksos Multiply Indonesia

Rencana baksos multiply indonesia yang sudah lama tertunda, kini mendekati H-7. dan semoga kita ( multiplyers ) bisa ikut berpartisipasi dalam pelakasanan baksos kali ini.

Baksos Mpers kali ini melibatkan bebarapa komunitas antara lain :
1. Relawan Dokter
2. Komunitas lebah
3. Relawan Pelangi.

Rencana kegiatan baksos kali ini meliputi :

1. Pelayanan kesehatan
 pelayanan yang akan melayani +/- 400 pasien dengan penyakit umum.

2. Pelayanan kesehatan lanjutan
pelayanan ini menindaklanjuti pelayanan kesehatan yang pernah dilakukan di pelayanan kesehatan sebelumnya pada tanggal 8 desember 2008

3. pelayanan kesehatan Gigi
pelayanan pemeriksaan gigi dan penyuluhan mengenai perawatan gigi untuk anak anak.

4. Pelayanan kesehatan Ibu hamil
pelayanan dan pemeriksaan ibu hamil juga di sertai penyuluhan terhadap ibu ibu hamil.

5. Pembagian paket makanan sehat untuk anak anak dan pasien yang hadir
paket makanan yang kami kumpulkan dari hasil donasi sobats MPers.
6. Pembagian pakaian Layak pakai.

untuk kegiatan kegiatan di atas kami sangat membutuhkan banyak Relawan multiply untuk bisa hadir dan membentu kami


juga di harapkan bantuan dari sobats MP, Donasi dalam bentuk apapun akan kami terima.

bisa di lihat di sini :

http://srisariningdiyah.multiply.com/calendar/item/10051/Open_Recruitment_Jagabita_14_Feb_2009?replies_read=33

sesuai kesepakatan di harapkan untuk setiap MPers bisa mendonasikan Rp. 50.000 ( lima puluh ribu ) yang nantinya akan di gunakan untuk membantu kegiatan baksos pelayanan kesehatan ini, baik berupa pembelian makanan sehat, pembelian obat obatan ataupun untuk biaya lain lainnya.

Berbagai donasi bisa dilihat di bawah ini

Rekening baksos MPers:
1. Bank Mandiri Depok, No. 129-00-0496405-8
2. BCA Depok, No.421-232-6813
3. BNI Pasar Minggu, No. 0151-071365
atas nama: Sri Sarining Diyah

Pos Bantuan (baju layak pakai & buku bacaan):

Ari, Ani, Nahar, Izoel, mas Rudi, dengan alamat:
1. Izoel: Jl. Kecak 2 No. 238, Depok 2 Tengah. HP: 0812.8786077
2. Ari: Radio DFM, Jl. Mimosa I No. A7, Buncit Indah, Pejaten, Jakarta Selatan 12510. HP. 0818 848499


SEKILAS RUNDOWN ACARA:

05.00 Kumpul di Parkir Timur Senayan
06.00 Berangkat ke Jagabita
08.30 Sampai di tujuan
09.00 Pembukaan (Sekda, MP), baca doa
09.20 mulai kegiatan layanan kesehatan untuk 400 orang
12.00 istirahat, sholat, makan (kalau banyak dokter-nya, shift)
13.00 mulai kegiatan kembali
15.00 selesai.


( kami menyediakan BUS untuk rekan rekan yang ingin bergabung , Kumpul di parkir Timur senayan )

satu hal lagi buat sobats MP yang ingin membantu Potluk makanan, kami juga siap menerima.

Konsumsi --> ada yang mau bawa/POTLUCK:

1. Snack pasien (@400): Roti, Bolu, lontong, Risol, air mineral, susu UHT/bantal,
2. Snack panitia (@100): idem (tanpa susu)
3. Makan siang panitia (@100): nasi box (nasi, ayam, telur, capcay, jerukl)
4. Minum (3 x): air mineral 600ml (12 box)
5. Lain lain.



besar harapan rangkaian acara ini bisa berjalan dengan baik, terima kasih sobats MPers..
jika ada yang ingin di tanyakan silahkan menghubungi saya.


regards

Roel

sumber: dari sini

Senin, 02 Februari 2009

Alhamdulillah, tulisan saya dimuat di Warnaislam :)

http://warnaislam.com/rubrik/sahabat/2009/2/3/32460/Ibu_Marhumah_Warga_Desa_Jagabita_Malang.htm
Ini pertama kalinya tulisan saya muncul di situs selain blog. Pagi2 dihubungi Pak Bambang dari Warnaislam dot com diminta ngecek situs Warnaislam.

Alhamdulillah tulisan saya dimuat. Saya jadi ingat kalau tidak salah Pak Jonru pernah bilang bahwa kita tidak boleh memvonis tulisan karya kita sendiri. Bisa saja tulisan yang kita anggap asal-asalan ternyata bagus di mata orang lain dan demikian sebaliknya.

[Relawan Pelangi] Ibu Marhumah, salah satu warga yang memerlukan pengobatan di desa Jagabita


Ahad kemarin, saat saya dan teman-teman dari Relawan Pelangi datang ke Desa Jagabita untuk melihat perkembangan  pembangunan dan penyediaan sarana sanitasi dan pompa air bersih untuk desa jagabita. 

Cerita tentang pembangunan
sarana sanitasi dan pompa air bersih tersebut bisa dibaca di tulisan yang ini.

Saat mengunjungi pengeboran salah satu titik air yang terletak di dekat Masjid Jami Al Istigomah, Mas Bayu mengajak kami menjenguk ibu Marhumah.  Seorang wanita tua yang perut dan kakinya sakit dan membengkak.   

Kami belum mengetahui apa penyakit yang diderita ibu Marhumah namun ada yang mengira bahwa penyakit itu ada hubungannya dengan lever/hati.  Waktu kami datang, perutnya sudah relatif kempes.  Beliau menyambut kami dengan ramah dan saat kami tanya bagaimana keadaannya, beliau menjawab bahwa kakinya sakit.  Seorang tetangganya mengatakan bahwa dulu perutnya membengkak.  

Apabila kencingnya tidak lancar, muka Ibu Maunah bengep/bengkak-bengkak.  Ada tetangga yang pernah membelikan beliau Obat untuk melancarkan kencing, namun karena harganya mahal, maka tidak bisa selalu diberikan. 

Ibu Marhunah tinggal di gubuk sederhana yang dibangun atas swadaya warga.  Gubuk itu sangat gelap dan lembab, saya sampai menggunaka Night Mode untuk memotret dengan kamera HP, padahal saat itu belum masuk waktu Ashar. 

Karena tidak bisa berjalan, Ibu Marhumah hanya bisa  di sebuah balai bambu.  Beliau hanya bisa buang kotoran di WC hasil improvisasi, yang sebenarnya hanya kayu triplek yang dibuatkan lubang di atasnya lalu di bawah kayu tersebut diberi kantong plastik (di foto saya beri lingkaran merah).  Seorang tetangga yang bersedia merawat beliau lalu membuang kotoran tersebut. 

Saya benar-benar tidak bisa membayangkan hidup di tempat yang suram, lembab dan gelap seperti itu, apalagi dekat dengan kotoran sendiri yang tentu saja baunya tidak menyenangkan. 

Terbayang diri saya sendiri yang terkadang masih mengeluh padahal keadaan saya jauh lebih baik dan nyaman baik dari Ibu Marhunah. Paling tidak saya masih bisa kemana-mana sendiri dan di rumah masih punya tempat yang layak untuk membuang sisa-sisa pencernaan makanan dari diri saya.  

Saya juga masih bisa tidur di tempat yang cukup nyaman dan tidak berdampingan dengan kotoran sendiri.  Saya juga percaya bahwa para pembaca tulisan ini juga tidak harus hidup berdampingan dengan kotoran sendiri, maklum pengakses internet di Indonesia sebagian besar, jika tidak semua, adalah kalangan menengah ke atas. 

Saya juga kagum dan sedih melihat sang tetangga yang setia merawat beliau padahal tetangga itu sendiri buka orang kaya dan memiliki delapan orang anak.  Suami sang tetangga adalah seorang juru parkir di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. 

Sayang saya lupa menanyakan identitas sang tetangga, karena sudah terlanjur terenyuh melihat keadan Ibu Marhunah. 

Salah satu anak Ibu Marhunah, Ujang, sudah tidak berdaya karena terserang stroke.  Anak-anak beliau yang lain sudah tidak mau membantu, sebab hidup mereka juga susah.  demikian menurut para tetangga beliau. 

Bisa jadi, kitalah yang sesungguhnya menahan atau membendung karunia dan pertolongan Alloh sWT kepada saudara-saudara kita, baik di dalam negeri, seperti desa Jagabita, ataupun luar negeri, seperti di Jalur Gaza, Rohingya atau tempat2 lain.  Banyak cerita inspiratif yang menunjukkan bahwa pertolongan Alloh sebagian besar datang melalui orang lain. 

Banyak diantara kita yang lebih memilih membelanjakan uang hanya untuk kesenangan pribadi semata.  Walaupun uang itu halal hasil jerih payah kita sendiri, hakikatnya itu adalah rezeki dari Allah SWT.  Allah SWT menitipkan harta kepada kita bukan sekedar untuk kita nikmati sendiri, tetapi juga harus menjadi penyambung kehidupan bagi orang lain, terutama orang-orang seperti Ibu Marhunah. 

Perlu kita ingat bahwa Allah SWT Maha mengetahui atas segala sesuatu.  Dialah pencipta kita, tentu Dia lebih mengetahui diri kita daripada kita sendiri apalagi orang lain.  Jika potensi dan energi yang ada pada dalam diri kita tidak kita manfaatkan semaximal mungkin untuk membantu sesama, pasti akan ada balasan yang berat dan mengerikan untuk kita, baik di dunia maupun di akhirat nanti

Jangan sampai kita ragu menjadi perantara kebaikan, walaupun kita juga hidup dalam keterbatasan.  Sesungguhnya, yang kita bantu adalah diri kita sendiri.  Kalau masih ragu, silahkan baca tulisan - tulisan berikut ini:

- Cerita Relawan membantu dalam keterbatasan

- Perantara Kebaikan

Semoga bermanfaat

Insya Alloh komunitas Multiply Indonesia dan Relawan Pelangi akan mengadakan bakti sosial pelayanan kesehatan pada hari Sabtu, tanggal 14 Februari 2009 di Desa Jagabita, info lebih lanjut silahkan lihat

[Relawan Pelangi] Ke Jagabita once again, Ahad 2 Februari 2008




hari Ahad kemarin saya dan kawan2 dari Relawan Pelangi kembali ke jagabita untuk melihat perkembangan pembangunan madrasah sarana sanitasi dan air bersih di sana.

Madrasah yang kemarin dipergunakan untuk mutilasi atau pemotongan daging qurban sudah dipugar rapih, Alhamdulillah.

satu titik air sudah bisa dipergunakan dan yang lain menyusul.

sorenya kami pergi ke titik air yang lain dekat masjid Jami Al Istiqomah.

Dekat masjid itu, ada tempat penampungan air yang lebih tepat disebut kubangan, karena hanya mengandalkan air hujan dan air yang itu-itu saja.

Kami menjenguk Ibu Marhunah yang perutnya bengkak, kemungkinan sakit lever.

Kami sangat berharap rekan-rekan sekalian berkenan untuk bersama-sama membantu mengatasi masalah-masalah yang ada di desa ini, terutama masalah kesehatan dan kemiskinan di sana.