Tampilkan postingan dengan label baksos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baksos. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 April 2011

Bazaar Sembako Murah dan Peresmian MCK

Start:     Apr 22, '11 09:00a
End:     Apr 22, '11 1:00p
Location:     Desa Dago, Parung Panjang, Bogor
Desa Dago memiliki masalah sanitasi yang sangat serius. Penduduk desa tidak memiliki fasilitas MCK yang memadai untuk mandi dan membersihkan diri. Komunitas Lebah telah menyelesaikan sebuah fasilitas MCK sederhana yang dapat dipergunakan warga untuk keperluan sanitasi mereka.



Fasilitas MCK ini akan diresmikan tanggal 22 April 2011 dengan diadakannya Bazaar Sembako Murah untuk warga desa. Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian para relawan yang tergabung dalam Komunitas Lebah kepada sesama yang membutuhkan. Terima kasih tak terhingga kami ucapkan kepada para donatur dan relawan, semoga MCK tersebut bermanfaat bagi warga setempat dalam memenuhi kebutuhan air bersih maupun beraktifitas sehari-hari. Jazakumullah khairan katsira.

Informasi lebih lanjut bisa didapatkan di:

* Blog: http://beezzone.blogspot.com/
* Twitter account: http://twitter.com/komunitas_lebah
* Facebook group: http://www.facebook.com/group.php?gid=78925828677
* e-mail: komunitaslebah1@gmail.com

.:: Komunitas Lebah ::.

http://beezzone.blogspot.com/
Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan informasi tentang Komunitas Lebah dan kegiatan-kegiatan sosial mereka, silakan berkunjung ke blog ini

semoga bermanfaat

Minggu, 13 Februari 2011

Hari ini dua tahun yang lalu

hari ini dua tahun yang lalu, saat itu adalah hari H dari sebuah acara yang akan diselenggarakan komunitas Multiply Indonesia.  Saat itu bertepatan dengan hari Sabtu, hari favorit para MPers untuk mengadakan acara sosial, sepeti baksos.  Yah, saat itu kami hendak mengadakan baksos pelayanan kesehatan di desa Jagabita, sebuah desa yang dikenal sebagai kampung pesakitan.  Banyak warganya menderita beragam penyakit seperti ISPA, kanker, TBC, kaki gajah dan lain sebagainya.  Anak-anak mereka banyak sekali yang menderita gizi buruk.

Saya sendiri waktu itu tidak langsung ke lokasi, maklum janjian dulu sama teman sesama MPers di daerah Setiabudi.  Sudahlah dari rumah bawa barang sebegitu banyak, di sana masih ada lagi tambahannya.  Untunglah, dengan mobil kecil yang pas-pasan itu, saya, pak supir dan rekan tersebut, beserta barang2 masih bisa masuk.  Memang, ada teman yang ngerjain sehingga saya bisa berangkat bareng rekan yang itu, udah gitu ngerjainnya mendadak lagi, untung masih bisa tertanggulangi.  

he he he.   

Singkat cerita, sampailah kami di lokasi pemberangkatan yaitu masjid Al Bina.  Sayang, pas berangkat ke Jagabita tidak bisa bersama rekan yang dijemput di Setiabudi tadi, karena dia ikutan mobil yang lain.  ya sudahlah

Karena sehari sebelumnya sudah mampir ke Jagabita bareng teman naik mobil, jalan ke sana lumayan hafal hingga gak nyasar.  SEtiba di lokasi kami disambut tenda pink, entah krn warga mengasosiasikan dgn valentine atau krn belum ada partai yang pakai warna pink kurang tahu juga.  Selain MPID, ada juga teman-teman dari komunitas Lebah dan relawan pelangi.  Walaupun cukup sibuk, namun akhirnya kami mampu juga menuntaskan baksos tersebut.  Menjelang sore, kami sudah bisa pulang dan saat maghrib kami sudah kembali di Jakarta.  

Efek positifnya, ada beberapa rekan MPers yang jadi langganan untuk men-support acara-acara sosial yang diadakan Yayasan Sahabat Peduli dan komunitas lebah.  Semoga semuanya jadi amal, Insya Allah amiin

curhatan gak jelas di tengah malam, teringat akan baksos dua tahun yang lalu di desa Jagabita  




Rabu, 27 Oktober 2010

Kunjungan ke Penjaringan tanggal 26 Oktober 2010




Sesudah melaksanakan KKR 1 alias Kuliah Kerja Relawan di sekolah Don Bosco Pulomas, saya dan teman-teman Universitas Kerelawanan angkatan 1, salah satu program edukasi kerelawanan dari Aksi Cepat Tanggap, mampir ke Penjaringan untuk menyumbangkan susu UHT ke sebuah taman bacaan dan TK di sebuah tempat di daerah Penjaringan, dekat tempat pelelangan ikan. Saat itu, daerah sana sedang dilanda banjir sehingga seluruh jalan menjadi "genangan air", kata ahlinye Jakarte nyang bekumis itu.

berikut foto2 yang berhasil ditangkap kamera HP saya, Insya Allah ceritanya segera menyusul.

Semoga bermanfaat untuk membangkitkan kepedulian kita pada sesama, amiin

Sabtu, 19 Desember 2009

Poster MPers Peduli Palestina




Seharusnya foto ini di-upload dari kemarin2, maaf telat, anyway better late than never

Jumat, 02 Oktober 2009

[Komunitas Lebah] Sahur bareng ojek sepeda di Museum Mandiri




Pada rangkaian acara baksos MPID kemarin, saya tidak ikut Sahur on the road karena ingin ikut acara yang satu ini. Di sana saya ketemu

Teh Fifi Moestarika dan teman-teman dari Komunitas Lebah

Mas Rudy dan Mbak Ibet juga ikut.

Kami sampai kira-kira lewat tengah malam, lalu mempersiapkan tempat di Museum Bank Mandiri, lalu acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, termasuk dari ketua dan pendiri KHI,Mas Asep Kambali

Acara dilanjutkan dengan jalan-jalan malam di kota tua dipandu mas Asep dan diteruskan dengan naik sepeda onthel beramai-ramai keliling kota tua.

Asyik dan seru deh pokoknya ... :)

Selain berkeliling, kita juga mampir ke jembatan Kota Intan.

setelah puas berkeliling, kami kembali ke Museum Bank Mandiri untuk istirahat dan sahur.

Acara diakhir dengan Sholat Subuh berjamaah dan pembagian bingkisan untuk para sahabat kami tukang-tukang ojek sepeda.

btw, ada loh seorang tukang ojek sepeda yang bisa membiayai anaknya sampai lulus kuliah, Subhanallah

posted by: Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49

[Lomba Menulis Baksos MPID] Pagi-pagi sudah TOUR OF DUTY

Pagi itu, walaupun sudah hari H rangkaian acara baksos MPID, saya masih saja mengantuk, namun tiba tiba sekitar jam 7 pagi (lewat berapa lupa? pokoknya sekitar jam segitu deh) saya ditelepon mbak Ari, diminta ikut ke baksos yang ke Gintung Cilejet, Parung Panjang.  

"saya diperlukan atau enggak nih, kalau diperlukan boleh. Tapi bilang bunda Elly dulu ya?" kata saya.  Yang tadinya kepingin merem sebentar karena tidak tidur semalaman (mengerjakan terjemahan sekalian browsing2 gak jelas) akhirnya langsung berangkat, untung ada yang mengantar sampai ke Radio D FM.  Sekalian ajak keponakan jalan2

karena teringat lagi dengan kunjungan ke kampung Dago beberapa waktu yang lalu, bersama Mas Rudy dan Bunda Elly, sepanjang saya bersiap-siap sampai berangkat tidak lupa mendendangkan lagu favorit, soundtrack-nya Tour of Duty, apalagi kalau bukan Paint It Black-nya Rolling Stones.   

kayaknya lagu itu bakal terus2-an jadi soundtrack saya kalau mau ke Parung Panjang nih ..

Samapai di sana ternyata masih nunggu, pagi-pagi ketemu mbak Noem dan Mas Heri.  Setelah menunggu beberapa lama sambil ngobrol, datanglah mbak Ari dan mbak Yelli. setelah itu barulah berdatangan yang lain, seperti mbak Ndaru dan mbak Dian dan teman-teman yang lain (belum begitu hafal dan kenal, kalau ada yang ingat minta tolong ditambah di kotak reply ya)

Akhirnya, setelah semua lengkap, berangkatlah kami semua ke Parung Panjang lewat tol BSD.  Pas waktu keluar dari tol sempat nyasar, namun alhamdulillah semua kembali ke jalurnya yang benar.  Setelah keluar dari tol, kami melewati jalan yang biasa dilalui saat ke Desa Jagabita, namun kali ini kami melewati kompleks Parung Permai. 

Sebelum masuk kompleks Parung Permai, kami menjemput relawan yang biasa membantu kami di sana yaitu Ibu Uun di puskesmas Parung Panjang.

Kami melewati kompleks Parung Permai yang benar-benar permai.  Yang dimaksud permai di sini adalah banyak sekali rumah kosong, pokoknya mirip sekali dengan kota-kota hantu jaman kuda gigit besi, yaitu kota-kota yang ditinggal pemiliknya.  Pak Irwan, supir yang bawa mobil yang kami tumpangi, mengatakan bahwa rumah-rumah di kompleks tersebut banyak yang hanya dijadikan investasi oleh pemiliknya.  Jika suatu saat mereka perlu uang, rumah-rumah itu kan bisa dijual, mungkin begitu menurut realitas subjektif (baca: pikiran) mereka.  

Tetapi siapa juga yang mau tinggal di kompleks yang kaya kota mati seperti itu, jangan-jangan rumah tetangga yang disangka kosong ternyata jadi tempat ngumpet resividis, bromocorah (baca: penjahat) atau bahkan teroris.  Nah lo, berabe kan kalau sampai seperti itu

Setelah dari kota hantu eh, kompleks tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Gintung Cilejet.  perjalanan kami cukup berat mengingat medan yang harus kami tempuh mirip keadan di film-film perang Vietnam, persis film jaman saya SMP dulu, Tour of Duty.  Ceritanya perjalanan dari Kota Saigon alias Ho Chi Minh City ke markasnya tentara Viet Cong,

Rute yang harus kami lalui termasuk jalan tanah sempit yang berada di pinggir sebuah sungai yang cukup besar dengan airnya yang mengalir deras bercampur lumpur.  Selain itu, kami juga harus melewati sebuah jembatan kayu yang ada di atas sungai tersebut.  Saat dilewati mobil, terdengar jembatan kayu itu berderak-derak seakan-akan memprotes beratnya beban yang melintas di atasnya. 



Desa Gintung Cilejet sendiri adalah salah satu desa yang ada di Parung Panjang, semuanya ada 11 desa yaitu:

   1. Cibunar
   2. Cikuda
   3. Dago
   4. Gintung Cilejet
   5. Gorowong
   6. Jagabaya
   7. Jagabita
   8. Kabasiran
   9. Lumpang
  10. Parung Panjang
  11. Pingku

(nyontek dari Wikipedia Indonesia)

Sesudah sampai tujuan, mulailah kami bergerilya membagikan barang-barang sumbangan kepada mereka yang membutuhkan.  Beberapa tempat bahkan tidak dapat dicapai mobil sehingga kami ada yang harus mempergunakan sepeda motor atau berjalan kaki.  Bisa dibayangkan betapa terisolirnya penduduk desa Gintung Cilejet ini dari peradaban moderen.  Seakan-akan mereka adalah penduduk suatu pulau yang berada nun jauh di tengah samudra.

Kondisi geografis dan fasilitas sarana jalan yang sangat tidak memadai itu pulalah yang menyebabkan masyarakat di desa tersebut,  termasuk juga di desa-desa lain di Parung Panjang, enggan untuk datang ke puskesmas yang terletak di jalan raya.  Ongkos berobat di puskesmas mungkin murah namun perjalanan ke sana memakan ongkos yang jauh lebih mahal.  Sehingga saat terpaksa dibawa ke puskesmas, keadaan orang yang sakit sudah terlalu parah.

Apa yang kami lakukan di desa Gintung Cilejet itu memang masih sangat kurang memadai dibandingkan dengan keadaan mereka di sana.  Masih banyak sekali kebutuhan masyarakat desa tersebut yang belum terpenuhi, terutama kebutuhan yang bersifat non-materi, seperti semangat menghadapi kehidupan, optimisme dan ilmu pengetahuan.  Sangat disayangkan para penduduk tersebut, sebagaimana sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia, masih termasuk dalam apa yang oleh Erich Fromm sebagai "Receptive Society" alias masyarakat yang lebih banyak pasif menunggu bantuan datang pada mereka.   

Mereka adalah orang-orang yang mengasihani diri sendiri dan menganggap diri mereka sebagai korban.  Mereka cenderung menyalahkan segala hal di luar mereka sebagai penyebab kemiskinan hidup mereka.  Sulit sekali membangkitkan jiwa mereka untuk mempersiapkan diri meraih masa depan yang gemilang.  

Walapun demikian, jangan sampai kita hanya menjadi berkah bagi orang-orang yang kita kenal, orang-orang yang memang mencintai kita atau baik kepada kita.  Kita juga harus berusaha semaksimal mungkin menjadi berkah bagi sebanyak mungkin manusia.  Kita hidup hanya satu kali di atas muka bumi ini, maka jangan sia-siakan dengan tidak berbagi dengan yang lain.

Rekan-rekan sekalian,

Getaran-getaran jerit rintih mereka yang miskin dan menderita mungkin terlalu lemah untuk bisa didengar oleh banyak manusia yang terlena oleh kehidupan moderen, oleh yang senantiasa dibanjiri berbagai macam hiburan dan terlena manisnya teknologi.  

Namun, ....... getaran-getaran energi yang lemah itu cepat atau lambat akan mampu mengetuk dan menembus pintu-pintu lagi, dan hanya tinggal masalah waktu saja bagi Allah Al Latif, Allah SWT Yang Maha Lembut, .....................   

.....................  yang mampu menangkap getaran kepedihan betapapun halusnya

.....................  yang pada akhir memberi balasan yang seadil-adilnya bagi semua manusia

"A laisallahu bi ahkamil haakimiin"
"Bukankah Allah seadil-adilnya hakim?"
(Qs. At Thiin 8)

Semoga bermanfaat,

by Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49

Foto-foto kegiatan tersebut bisa dilihat di album yang satu ini

Posting sambil dengerin Ebiet G. Ade - Apakah ada bedanya

    Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
    dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
    Kucoba tuang ke dalam kanvas
    dengan garis dan warna-warni yang aku rindui

    Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
    Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
    Cintamu telah membakar jiwaku
    Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku

    Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
    Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
    Di menara langit halilintar bersabung
    Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
    Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
    Entah yang kuterima aku tak peduli,
    aku tak peduli, aku tak peduli

    Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
    dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
    Tinggal bagaimana kita menghayati
    di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
    dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka 

[Baksos MPID] Episode Desa Gintung Cilejet




Assalamualaikum,

sebelumnya mohon maaf kalau album ini upload-nya telat dan memotretnya asal-asalan, maklum bukan fotografer dan pakai kamera HP pula .. :)

Muhammad Nahar
SEFTer angkatan 49

Selasa, 04 Agustus 2009

[SEFT] Baksos SEFT dan Yayasan Hurin'In di daerah Jatibunder, Tanah Abang




Baksos ini diselenggarakan oleh LPPI Hurin'In dan Logos Institute di daerah Jatibunder, Bongkaran Tanah Abang.

baksos ini bertujuan untuk mulai memutus regenerasi PSK agar keturunan mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Selasa, 30 Juni 2009

[SEFT] Baksos SEFT di Lapas Narkotika Cipinang

Assalamualaikum,

maaf baru posting lagi sekarang sebab baru keluar nih dari Penjara, beneran :D

emang salah apa, koq harus masuk penjara?

 He he he, bukan itu masalahnya.  Kemarin pagi saya mengikuti baksos penyembuhan gratis dengan teknik SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang diselenggarakan oleh Logos Institute dan para alumni pelatihan SEFT di Lapas Narkoba di Cipinang, Jakarta Timur.

Saat itu adalah pengalaman pertama saya masuk ke dalam penjara.  Malam sebelumnya, saya harus menginap di rumah nenek saya sehingga pagi-pagi agak buru-buru pulang dulu ke rumah.  Untung sampai rumah masih jam 7 kurang sehingga masih ada waktu yang cukup untuk ke lokasi.

Sampai di Cipinang, saya turun di seberang penjara.  Saat itu saya cukup keder dan gugup melihat dinding kelabu penjara Cipinang yang berdiri kokoh dan angkuh, lengkap dengan kawat berduri yang melingkar kuat di atasnya.  Saya juga bingung mau masuk dari mana, karena saya sama sekali tidak menyangka bangunannya begitu panjang, dari ujung ke ujung.  

Akhirnya, setelah memberanikan diri dan melakukan tapping untuk mengurangi rasa gugup, saya bertanya pada petugas yang sedang berjaga di depan.  Pak Satpam bilang bahwa Lapas Narkotika terletak di sebelah gedung yang saya masuki.  

Akhirnya, di tempat yang tepat, saya ketemu sama mbak Dina, salah satu staff Logos Institute yang juga koordinator alumni pelatihan.  Lalu, satu demi satu alumni pelatihan SEFT berdatangan, termasuk pak Fuad Baradja, yang dulu pernah jadi bintang sinetron djadoel Jin dan Jun, yang jadi bapaknya Syahrul Gunawan (kalau gak salah, he he he).  

Acara belum dimulai saja Pak Fuad sudah beraksi.  Korbannya petugas kebersihan yang sedang bertugas di lobby (tepatnya sih ruang tunggu, he he he).  Si petugas ini benar-benar ingin berhenti merokok sehingga langsung diterapi di tempat oleh Pak Fuad. 




Pak Fuad juga menggunakan kesempatan saat kami menunggu acara dimulai dengan menceritakan hal-hal yang beliau ketahui tentang rokok.  Kata beliau, Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang belum meratifikasi Pengenalian Tembakau.  Cukai rokok seharusnya tinggi sehingga harganya jadi mahal dan tidak terjangkau masyarakat menengah ke bawah dan anak-anak.  Pak Fuad juga bilang bahwa devisa negara bisa banyak dari rokok sebenarnya mitos semata.  

Lobby tersebut cukup bersih dan ada hasil karya para warga binaan (narapidana) berupa asbak yang ada patungnya dan kaligrafi dari bahan kayu.  

Karena masih banyak alumni yang baru sekali ini mengikuti kegiatan ini, termasuk saya maka kami di-briefing dulu.  Briefing dilaksanakan di salah satu ruang pendidikan oleh mbak Dina dan Mbak Wiwien, salah satu petugas LP  

Setelah briefing selesai, kami memasuki ruangan tempat acara diselenggarakan.  Di sana sudah ada layar dan LCD untuk menayangkan materi pelatihan yang dibawakan oleh salah satu co-trainer SEFT yaitu Pak Eko Nugroho.  

Acara dimulai dengan presentasi oleh Pak Eko.  Selama presentasi tersebut, Pak Eko juga berinteraksi dengan para peserta, menanyakan keluhan mereka, baik fisik maupun emosional.  

Selama peresentasi, ada juga demo praktek SEFT yang dilakukan sebagian alumni, termasuk saya.  Walaupun tadinya sempat ragu, namun saya akhirnya memberanikan diri melakukan terapi SEFT pada salah satu narapidana.  Keluhan si narapidana adalah bahwa dia ingin berhenti merokok.  Itu adalah kasus rokok pertama yang saya tangani.  Setelah tapping satu putaran lengkap dia mencoba untuk merokok.  Rasa rokoknya sudah tidak seenak sebelum terapi.  Ditambah satu putaran singkat, si napi mengatakan bahwa rokoknya sekarang terasa hambar.  Saya sendiri cukup takjub melihat hasil terapi tersebut, mengingat saya belum lama menjadi praktisi SEFT dan kurang rajin menterapi orang lain. 

Saat demo terapi itu berakhir, dan si napi berterimakasih pada saya, saya sempatkan diri memeluknya.  Saat itu, terus terang saya merasa sangat terharu sehingga saya tidak dapat menahan derasnya linangan air mata. 

Mungkin itu sebabnya banyak praktisi SEFT yang “ketagihan” membantu orang lain dengan terapi ini.  

Setelah presentasi dan demo selesai, kini saatnya para narapidana tersebut mempraktekkan sendiri teknik SEFT.  Praktek bareng-bareng ini dipimpin oleh pak Eko.  Para alumni bertindak sebagai pendamping mereka dan bertugas mengoreksi kesalahan-kesalahan dalam melakukan SEFT.  Kelihatannya para peserta cukup mampu melakukan teknik SEFT tersebut dengan baik, walaupun memang perlu pengulangan dan pendalaman praktek.  

Setelah sesi praktek bareng berakhir disertai tanya jawab, tiba saatnya para peserta dibagi dalam kelompok.  Satu kelompok terdiri dari dua orang.  Satu bertindak sebagai SEFTer dan yang lain jadi klien, begitu seterusnya bergantian.  Para alumni bertindak sebagai fasilitator.  

Saya kebagian 2 orang yang harus saya fasilitasi.  Yang satu ingin berhenti merokok dan yang lain insomnia.  Saya cukup bingung juga karena rokok yang disediakan ada  di depan, sehingga untuk yang ingin berhenti merokok cukup saya minta mengukur intensitas keinginannya dan disebutkan dalam kalimat set-up.  Untuk yang insomnia, saya arahkan agar dia menangani rasa takut tidak bisa tidur nanti jam 9 malam.  Sekalian saya pesankan agar nanti malam jika dia tidak bisa tidur, lakukan saja SEFT pada dirinya sendiri.  Para alumni yang lain juga sibuk dengan tugas masing-masing.

Acara baksos pelatihan SEFT for Healing itu diakhiri dengan do'a bersama yang dipimpin oleh Pak Fuad dan diakhiri dengan saling bersalaman antara para alumni SEFT dan staff Logos Institute dangan para peserta.  Suasana mengharukan tidak dapat dihindari lagi sehingga banyak yang meneteskan air mata.  

Semoga acara dari pagi sampai siang itu bermanfaat untuk para pesertanya.  Semoga mereka bisa mendapatkan tambahan ilmu dan kterampilan yang bermanfaat untuk kehidupan mereka selama di Lapas Narkotika dan masa depan mereka sesudah keluar dari tempat itu

Hari ini saya merasa mendapat manfaat dan kesempatan yang luar biasa untuk membantu sesama.  Selama hidup saya tidak pernah menyangka akan pernah menterapi dan memeluk seorang narapidana.  Suatu pengalaman berharga yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Mohon maaf  gak bisa poto-poto karena kamera, HP dan tanda pengenal (KTP, SIM dll) ditahan petugas di bagian penerimaan, hiks

Sahabat-sahabat sekalian, perkenanlah cerita ini saya tutup dengan mengutip pesan Mas Faiz dalam buku SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) halaman 157 sebagai berikut:

“…. sampai sekarang saya meyakini bahwa kebahagiaan apapun yang kita dapatkan yang tidak bersumber dari motivasi dasar untuk “mencintai-Nya, melayani sesama dan memperbaiki diri” sifatnya hanya sementara dan semu belaka.  Saya tidak tahu apakah anda sepakat dengan saya atau tidak   Tetapi jika Anda punya visi yang sama dengan saya, saya ucapkan “Welcome to the Club” mari kita lakukan sesuatu bersama-sama untuk mewujudkan visi ini menjadi kenyataan hidup sehari-hari.”


Semoga bermanfaat
 

Minggu, 12 April 2009

Sahabat Peduli - Ke Jagabita Desa Pabuaran day 2




Kalau yang ini foto-foto saat kami datang lagi hari Sabtu, tanggal 11 April 2009. walaupun relawan yang datang hanya sedikit, tetapi Alhamdulillah pembangunan masih terus berlangsung dengan baik.

Sahabat Peduli - Ke Jagabita Desa Pabuaran




Meskipun kemarin sempat sibuk karena bencana Situ Gintung, kami dari Relawan Pelangi/Sahabat Peduli tetap tidak lupa dengan proyek pembinaan kami di kampung-kampung di desa Jagabita.

Hari Jumat dan Sabtu kami meninjau perkembangan proyek MCK di desa Pabuaran, titik air kedua setelah desa Sarongge.

Berikut foto-foto kegiatan hari Jumat yang dapat saya tangkap dgn kamera HP

Jumat, 27 Maret 2009

Mari Peduli - Tsunami Kecil di Situ Gintung Ciputat, AyoBantu Segera !!!

http://peduli.multiply.com/journal/item/158
Situ Gintung Ciputat, Jum'at (27/3) pukul 04.30 jebol dan menyebabkan banjir bandang. Sedikitnya 100 rumah tenggelam, sebagian besar hancur tak tersisa. Diduga puluhan korban masih hilang dan hingga pukul 08.00 baru 12 orang yang ditemukan. Kebanyakan korban dari kalangan anak-anak dan kaum wanita karena pada saat kejadian sebagian besar warga tengah terlelap.

Ratusan jiwa lainnya masih terjebak di rumah-rumah mereka yang terendam banjir setinggi hingga 2 meter dan belum dievakuasi. Kondisi rumah-rumah yang hancur dan tenggelam di Cirendeu - Ciputat ini boleh dibilang mirip dengan tsunami di Aceh. Sangat memprihatinkan, memilukan dan masyarakat memerlukan banyak pertolongan.

Selain relawan, diperlukan tidak sedikit bantuan berupa alat-alat evakuasi, logistik untuk dapur umum, tim medis dan obat-obatan, tenda darurat, pakaian, selimut, makanan instan -bukan mie instant- berupa biskuit, susu balita, dan lain sebagainya.

Bersama Sahabat Peduli, bagi yang hendak mengulurkan bantuannya bisa langsung kontak beberapa person di bawah ini;

Bayu Gawtama : 0852 19068581
Kosi : 08128510372

atau melalui rekening :

- Muamalat no. 9000.251877 an. Kosirotun
- Bank Mandiri, No. 122.000.4418870 an. Kosirotun
- BNI Cab. Bekasi No. 001-558-7547 an Kosirotun
- BCA no. 267.1065401 atas nama Moh. Heriyadi Arifin

Note : Mohon tulisan ini dilink atau disebarkan ke rekan atau milis yang lain. Terima kasih...
Tags: ulurkantangan

Selasa, 03 Maret 2009

MENUJUBENINGHATI... - [iklan] beli Kaos-nya, raih Pahala-nya

http://dik2.multiply.com/photos/album/56/iklan_beli_Kaos-nya_raih_Pahala-nya?replies_read=12
Assalamu'alaikum,

InsyaAlloh, Komunitas Sekolah Kehidupan akan mengadakan bakti sosial di Lapas Anak Tangerang akhir Maret ini dengan tema "Lets Build Up Your Dream". Sebuah acara yang dikemas khusus untuk meningkatkan motivasi dan kreativitas anak-anak Lapas.

Untuk itu, kita menyebar peluang pahala pada rekan-rekan yang mau berdonasi, dengan membeli kaos ini. Bukan hanya baju yang di dapet jika rekan-rekan membelinya, tapi juga pahala, insyaAlloh...

Peminat silahkan mampir ke link di atas

Kamis, 19 Februari 2009

Jagabita - Tour of Duty di Kampung Dago

Hari Rabu kemarin, saya bersama Mas Rudy dan Bunda Elly pergi lagi ke Jagabita.  Kami janjian sama ibu Uun di warung bakso.  Sekalian makan bakso deh, ada juga yang makan mie ayam, he he he

Perbincangan di warung itu termasuk tentang kesulitan suatu yayasan pengobatan paru-paru yang menyelenggarakan pengobatan penyakit paru secara gratis.  Maklum, lalu lintas truk-truk pengangkut material (batu, pasir dsb) menimbulkan awan debu yang pekat sehingga warga rentan terserang penyakit paru.  Ibu Uun juga mengungkapkan keinginan beliau untuk memilik tabung oxygen sendiri.  sebab tabung yang di Puskesmas tidak pernah ada isinya.  kasihan sekali kalau ada yang sakit dan memerlukan bantuan pernafasan. 

Ibu Uun mengajak kami ke kampung Dago (bukan Dago yang di Bandung ya), suatu kampung yang terletak cukup jauh dari tempat baksos kemarin.  Kampung itu sangat indah sebetulnya.  Hembusan angin yang cukup kencang menerpa dedaunan bambu membuat saya mengira bahwa kami saat itu berada dekat sungai pegunungan yang jernih dan berair deras.  

Namun, ternyata perkiraan saya salah.  Tidak ada di sana sungai yang mengalir deras, dingin dan menyejukkan di sana.  Yang ada hanya balongan atau kubangan air yang menggenang, yang airnya itu-itu saja.  Itupun hanya bisa dipakai pada musim hujan.  Untuk buang hajat, warga hanya bisa melakukannya di kebon/semak-semak.  

Suasana di sana mirip dalam film2 perang Vietnam yang dulu sempat ngetop di Bioskop atau TV. 

Alternatif lain yang tersedia hanya satu sungai kecil, yang lebih tepat disebut anak sungai.  Pada musim kemarau, puluhan orang mandi dan mencuci di sana.  Bisa dibayangkan betapa tidak sehatnya keadaan di sana.  

Ada dua hal yang mengherankan bagi saya, tidak tahu bagi yang lain, he he he
Beberapa waktu yang lalu, saya menulis tulisan tentang perbandingan antara keadaan di Jagabita dengan keadaan kaum Bani Israil zaman Mesir kuno dulu.

Nah, apa yang saya lihat dan dengar kemarin? ini dia

1. Di sana banyak pembuatan batu bata sedangkan salah satu pekerjaan yang ditugaskan kepada Bani Israil oleh rezim Firaun di zaman mesir kuno adalah membuat batu bata untuk keperluan pembangunan gedung-gedung dan bangunan-bangunan lainnya.

2. Ibu Uun cerita saat dia mengantar anak-anak sekolah dasar desa Pinku (mudah2an nulisnya gak salah) ke Gandhi Memorial School.  Salah satu acara yang digelar tuan rumah untuk anak-anak desa tersebut adalah drama pertunjukan.  Namun, karena memakai bahasa Inggris, anak2 itu cuma bisa bengong.  Ibu Uun menjelaskan bahwa itu cerita nabi Musa.

Apakah ini cuma kebetulan, atau .................???

Foto-foto bisa dilihat di album yang ini


Wallahualam  

Sayang kemarin belum mengucapkan terima kasih, padahal diam-diam saya mencoba untuk belajar keteguhan hati dari Ibu Uun.  Beliau tetap tegar saat sang suami mendapat kecelakaan nun jauh di sana.  Secara tidak langsung, Ibu Uun telah menularkan kekuatan dan keteguhannya kepada saya. 



Memang, kekuatan dan keteguhan hati itulah yang saat ini sedang saya butuhkan.
 
Benar-benar saya butuhkan
 

Senin, 16 Februari 2009

[Daily Life and social issues] Dari rumah ke Masjid Al Bina

Mau cerita dikit ah,

Hari Sabtu, 14 Februari 2009

Alhamdulillah, setelah lama tertunda, baksos pengobatan gratis yang sudah lama direncanakan di desa Jagabita terlaksana juga.  Lama sebelum hari H, saya sempat mondar-mandir ke kantor beberapa rekan MPers untuk mengambil sumbangan dan perlengkapan yang diperlukan.  Maklum, MPer yang pengangguran kan cuma saya,

Jadi, rumah saya lumayan penuh dengan barang-barang tersebut.  

Masalah timbul saat saya sedang mempersiapkan kendaraan utk berangkat.  Barang-barang yang menumpuk itu tentu saja sulit utk dimasukkan ke dalam mobil mazda MR90 yang sudah tua dan berukuran kecil.  Belum lagi, saya tidak langsung ke lokasi karena sudah janji sama rekan Ani untuk menjemputnya di daerah Setiabudi.  Sekalian bawa barang-barang yang lain.  

Ya sudah, jadilah itu mobil tua di-load dengan segalam macam barang, belum lagi ternyata di Setiabudi masih ada barang2 yang harus diangkut, seperti pakaian layak pakai dan susu.

Pak supir sampai bengong.

Alhamdulillah, setelah diakali dgn berbagai macam cara berhasil juga itu barang2 masuk ke mobil (maaf detilnya lupa).

Yang jelas, saat itu udah gak kondusif lagi untuk merencanakan hal2 yang ingin dilakukan, ya sudah, berangkat aja ke lokasi meeting point.    

Masalah belum selesai ternyata, pintu di senayan banyak yang tertutup.  Terpaksa muter-muter cari jalan ke Masjid Al Bina deh, untung masih ketemu.

Nah, untuk cerita selanjutnya silahkan mampir ke yang lebih lengkap.  Yaitu tulisan yang ini (link2 untuk foto juga ada di sana).

Selasa, 10 Februari 2009

[Info Penting] Meeting point relawan Baksos MPID - Masjid Al Bina


masjid Al Bina ditandai lingkaran merah.

masuk dari jalan sudirman, yang ada lapangan softball (ditandai kaca pembesar)

Assalamualaikum, rekan2 sekalian, info penting nih

menurut pak PJ meeting point kita pindah ke Masjid Al Bina, seberang hotel atlit century park.

yang paling nyaman masuknya dari jalan sudirman, yang dari blok M bisa langsung kalau arah balik harus muter dulu dkt patung yang bawa api.

masuknya dari lapangan softball

masjidnya besar dan mudah ditemukan :)

bagi yang mau lebih jelas, silahkan mampir ke link ini

http://www.panoramio.com/photo/2238454